Anda di halaman 1dari 23

Madinah Al-Munawwarah merupakan kota yang sangat

bersejarah dalam perkembangan agama Islam dan salah dari dua


kota suci bagi orang Islam. Orang yang beragama selain Islam tidak
diperkenankan masuk ke dalam kota Medinah dan Mekah.
Sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke tempat ini, Medinah
bernama Yastrib. Sebagian Al-Qur'an diturunkan di tempat ini,
sebagian lainnya diturunkan di Mekah. Makam Nabi Muhammad
SAW dan beberapa sahabat (misalnya Abu Bakar dan Umar bin
Khattab) dimakamkan di kota Medinah.
Kota Medinah mempunyai beberapa keistimewaan yang tidak
dipunyai oleh kota lainnya, seperti disebutkan dalam Al-Bayan,
diantaranya:
1) Didasarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah
ra. bahwa Rasulullah saw bersabda: "Pada setiap lubang
Madinah itu terdapat malaikat. Penyakit Tha`un dan juga Dajjal
tidak akan bisa masuk padanya" (Al-Bayan: 778).
2) Hadits riwayat Jabir bin Abdullah ra. bahwa Rasulullah saw
bersabda: "Sesungguhnya Medinah itu seperti cerobong dapur. Ia
mengeluarkan asap kotorannya tetapi memurnikan aromanya"
(Al-Bayan: 780).
3) Hadits riwayat Sa'ad bin Abu Waqqash ra. ia berkata: Rasulullah
saw. bersabda: "Barangsiapa yang bermaksud jahat terhadap
penduduk Medinah, maka Allah akan menghancurkannya seperti
garam yang hancur dalam air". (Al-Bayan: 782).
4) Hadits riwayat Abu Hurairah ra. Dari Nabi saw. beliau bersabda:
"Medinah itu tanah haram. Barangsiapa yang melakukan suatu
perbuatan dosa atau mendukung orang yang melakukan
perbuatan nista tersebut, maka dia akan terkena laknat Allah,
para malaikat dan seluruh manusia. Pada hari kiamat kelak,
Allah tidak mau menerima taubat dan fidyahnya". " (Al-Bayan:
776).

Beberapa doa Nabi Muhammad SAW terhadap kota


Medinah, diantaranya adalah:

1.

M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 1



:





Artinya: Hadits riwayat Anas bin Malik ra. ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: "Ya Allah, limpahkanlah berkah bagi
Medinah dua kali lipat dari yang Engkau limpahkan pada
Mekah" (Al-Bayan: 774).
2.

:







Artinya: Hadits riwayat Abdullah bin Zaid bin `Ashim ra. bahwa:
Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya Ibrahim telah
memuliakan (mengharamkan) Mekah dan mendoakan kepada
penduduknya, maka sesungguhnya akupun memuliakan
(mengharamkan) Medinah sebagaimana Ibrahim telah
memuliakan (mengharamkan) Mekah. Dan sesungguhnya aku
juga mendo`akan keberkahan makanan (Medinah),
sebagaimana yang pernah didoakan oleh Ibrahim bagi
penduduk Mekah" (Al-Bayan: 772).

Medinah terletak pada ketinggian 631 m dari permukaan air laut,


keadaan cuaca kota Medinah dalam kurun waktu 5 tahun terakhir
ditunjukkan dalam Tabel 1.
Medinah menyandang 95 nama lain, di antaranya adalah
Tayyibah, Al-Ashimah, Baitu Rasulillah, Al-Muslimah Al-
Muhabbabah, Darul Fath, Haramu Rasulillah, Dzatu Al-Nahl,
Sayyidatul Buldan, Al-Barrah, Al-Jabirah, Qubbatul Islam, Qalbul
M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 2
Iman, Al-Mukhtarah, Darul Abrar, Al-Mukminah, Darus Sunah,
Darul Akhyar, Darul Hashinah, Dzatul Hararah, Al-Mubarakah, dan
lain-lain.
Di kota ini dan sekitarnya banyak terjadi peperangan antara
orang-orang Islam dan orang kafir, diantaranya adalah Perang Badar,
Perang Uhud, Perang Khandak (Parit) dan lain-lain.

Tabel 1. Keadaan Cuaca Kota Medinah Sepanjang Tahun (oC)

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec

Suhu rata-rata 18 20 22 28 32 36 36 37 35 30 23 20
suhu maksimum
24 26 29 35 39 42 42 43 42 37 30 26
rata-rata
suhu minimum
11 13 16 21 25 27 28 30 27 22 17 13
rata-rata
Hari hujan
0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0
Rata-rata
Hari bersalju
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
rata-rata

I. Masjid Nabawi
Masjid Nabawi terletak di kota Medinah. Pemilihan lokasi
masjid Nabawi di kota Medinah ini agak khusus, yaitu ketika
Rasulullah SAW hijrah dari Mekah menuju ke Medinah (Yastrib)
tidak sedikit kaum Anshar yang mempersilahkan Rasulullah untuk
singgah ke tempat mereka, akan tetapi Rasulullah SAW menolak
dengan halus dan mengatakan bahwa biarkan untanya berjalan
menuju ke suatu tempat karena ia dituntun. Unta itu berjalan terus
sehingga berhenti di tanah tempat penjemuran kurma milik dua anak
yatim Sahal dan Suhail, keduanya putra Amr yang diasuh oleh
Mu'adz bin Afra' Sahl.
Dalam buku Sirah Nabawiyah disebutkan bahwa setelah
unta beliau berhenti, lalu Rasulullah SAW memerintahkan kepada
kaum Anshar dan Muhajirin untuk membangun sebuah masjid.
Selama pembangunan masjid, Rasulullah SAW menetap di rumah
Abu Ayyub hingga selesai. Di rumah Ayyub ini Rasulullah tinggal
di lantai bawah, sedang Abu Ayyub dan isterinya tinggal di lantai
M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 3
atas, sehingga Abu Ayyub merasa segan terhadap Rasulullah SAW.
Ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sangat menghargai tuan
rumah dan sifat tawadu' beliau.
Kaum muslimin dari Anshar dan Muhajirin bersungguh-
sungguh membangun masjid ini bersama Rasulullah,


:







Artinya: Hadits yang diriwayatkan oleh Sahal bin Sa`ad ra ia
berkata bahwa Rasulullah saw datang kepada kami saat tengah
menggali parit dan memikul pasir di atas pundak-pundak kami. Lalu
Rasulullah saw bersabda: "Tidak ada kehidupan sama sekali kecuali
kehidupan akhirat. Ampunilah para shahabat Muhajirin dan
shahabat Anshar". (Al-Bayan: 1051)
Masjid Nabawi merupakan salah satu dari tiga masjid yang
sangat dianjurkan untuk mengunjunginya, seperti telah disebutkan
dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.


:








Artinya: Hadits riwayat Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. pernah
bersabda: "Tidak dianjurkan bepergian kecuali ke tiga masjid, yaitu
masjidku ini (Masjid Madinah), Masjidil Haram (Masjid Mekah)
dan Masjidil Aqsha". (Al-Bayan)

Keistimewaan lain masjid Nabawi adalah bila kita shalat


dalam masjid Nabawi, maka pahalanya seribu kali lebih banyak
dibanding shalat di tempat lainnya. Ini berdasar kepada

M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 4



:







Artinya: Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. bahwa
Nabi SAW bersabda: "Melakukan shalat sekali saja di masjidku ini
lebih utama daripada melakukan shalat seribu kali di masjid yang
lain kecuali di Masjidil Haram di kota Mekah". ((Al-Bayan: 789)
Masjid Nabawi mengalami perubahan dan perluasan dari
tahun ke tahun dan dari masa ke masa. Perluasan pertama dimulai
pada masa Khalifah Umar bin Khattab, lalu Usman bin Affan,
kemudian diteruskan pada masa Dinasti Umayyah, Abbasiyah,
Usmani dan Suudi. Selama pemerintahan Suudiyah telah dilakukan
pembangunan dalam beberapa tahap hingga mencapai bentuk dan
ukuran seperti kita lihat sekarang ini. Tabel 2 menunjukkan
perkembangan pembangunan masjid Nabawi.
Bentuk Masjid Nabawi sekarang ini adalah empat persegi
panjang, yang panjangnya dari arah utara menuju ke selatan, sedang
lebarnya dari arah timur ke barat, seperti ditunjukkan dalam Gambar
1, sedang Gambar 2 menunjukkan denah masjid Nabawi.
Masjid Nabawi merupakan tempat suci kedua dan masjid
suci kedua dalam Islam, juga merupakan pusat kota Medinah. Jika
kita masuk ke kota Medinah, maka dari kejauhan akan kelihatan
sepuluh buah menara Masjid Nabawi menjulang tinggi menggapai
langit dan sebuah kubah hijau (Green Dome), yang di bawah kubah
itu merupakan makam Nabi SAW seperti ditunjukkan dalam
Gambar 3.

Gambar 1 Masjid Nabawi


M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 5
Tabel 2 Perkembangan Masjid Nabawi
Perluasan
Obyek Jumlah
Sebelum Sesudah
Air Condition (AC) - 20.400 ton 20.400 ton
Daya tampung orang shalat 58.000 orang 642.000 orang 700.000 orang
Detektor Kebakaran - 97 F/A 97 F/A
Eskalator - 4 set 4 set
Generator Listrik - 2,5 MegaWatt
Kamera CCTV - 543 buah 543 buah
Kubah yg dapat bergerak - 27 buah 27 buah
Lampu Fixture - 67.000 bh 67.000 bh
Lampu Gantung - 68 bh 68 bh
Luas Masjid 16.500 m2 148.500 m2 165.000 m2
Menara 4 buah, tinggi 72 m 6 bh, tinggi 104 m 10 buah
Parkir Mobil - 2 lantai menampung 4.500 kendaraan
Pintu biasa 16 buah 65 buah 81 buah
Pintu Utama 7 buah 16 buah 23 buah
Sound System - 206 Amplifier, 600 W, 3.500 speaker
Tangga menuju ke lantai dua - 18 buah 18 buah
Tiang penyangga Lt. Pertama - 550 bh, = 64 cm 550 bh
Tiang penyangga Lantai Dasar - 217 bh, = 64 cm 217 bh
Sumber: Abdul Gani, 2000

Gambar 2 Denah Masjid Nabawi

M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 6


Gambar 3 Kubah Hijau Gambar 4 Posisi Makam

1.1. Makam Rasulullah SAW


Jika kita masuk ke dalam masjid Nabawi lewat pintu Babus
Salam dalam Gambar 2, maka kita akan memasuki bangunan lama
masjid (Kekaisaran Utsmani, Turki). Dalam bangunan lama ini
terdapat rumah (makam) Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar
bin Khattab, yang terletak di bawah kubah hijau. Di situ terdapat
dua tiang yang berwarna cream ivori. Kedua tiang ini berfungsi
sebagai penyangga atap. Dinding rumah Rasulullah SAW dihiasi
oleh tulisan yang dicuplik dari ayat-ayat Al-Qur'an. Bila kita
melanjutkan keluar lewat pintu Baqi' (Gambar 5), maka kita akan
menjumpai makam Baqi'.
Dalam beberapa sumber (buku) ada beberapa letak makam
Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar bin Khattab yang berbeda
antara yang satu dengan lainnya, akan tetapi semuanya sepakat
bahwa ketiga makam itu terletak dalam satu tempat, yaitu di rumah
Nabi SAW. Salah satu posisi masing-masing makam Rasulullah
SAW, Abu Bakar dan Umar bin Khattab ditunjukkan dalam Gambar
4 [Ali Hafidz].
M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 7
Gambar 6 menunjukkan bangunan lama masjid Nabawi.

Gambar 5 Pintu Baqi' (no. 41)

Gambar 6 Bangunan Lama Masjid Nabawi

Di depan rumah Nabi ini terdapat tiga pintu yang dilapisi


emas dan perak. Jika kita mengintip dari lubang-lubang bulat yang
terdapat di tengah-tengah pintu itu, maka kita dapat melihat makam
Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar bin Khattab seperti
ditunjukkan dalam Gambar 7.
Mengacu kepada Gambar 7, bahwa lubang besar yang paling
besar (nomor 1) menunjukkan lurus dengan makam Rasulullah. Di
sebelah kanan lubang besar itu ada dua lubang kecil (nomor 2), ini
menunjukkan bahwa lubang kecil yang dekat dengan lubang besar
M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 8
adalah lurus dengan makam Abu Bakar, sedang lubang kecil di
sebelah kanan (nomor 3) menunjukkan lurus dengan makam Umar
bin Khattab.

Gambar 7 Pintu Makam Nabi SAW


1.2. Raudlah
Di dalam lingkungan bangunan masjid lama ini juga terdapat
Raudlah, yang terletak antara makam Rasulullah dan mimbar.
Berdasar kepada hadits-hadits

:









Hadits riwayat Abdullah bin Zaid Al Mazini ra. bahwa Rasulullah
saw. bersabda: "Tempat yang berada antara rumahku dan
mimbarku itu adalah termasuk bagian taman surga" (Al-Bayan:
785).



:





M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 9
Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah
saw. pernah bersabda: "Tempat yang berada antara rumahku dan
mimbarku adalah termasuk bagian taman surga. Sedangkan
mimbarku berada di dekat telagaku" (Al-Bayan: 786).
Lokasi Raudlah ditandai dengan lantai yang berkarpet warna
abu-abu, sedang karpet lainnya di luar Raudlah berwarna merah.
Tiang-tiang penyangga atap di kawasan Raudlah berwarna putih
perak dengan garis-garis berwarna emas seperti ditunjukkan dalam
Gambar 8, sedang tiang lainnya dalam kawasan bangunan lama ini
berwarna coklat. Gambar 9 menunjukkan sketsa Raudlah.

Gambar 8 Raudlah

M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 10


Gambar 9 Sketsa Raudlah

Dalam daerah Raudlah ini terdapat


mihrab Nabi yang dulunya biasa
digunakan oleh Rasulullah SAW
sebagai tempat shalat. Mihrab ini
pertama dibangun pada jaman
kekhalifahan Mu'awiyah tahun 91 H
(709 M), yang selanjutnya digunakan
sebagai tempat Imam (pemimpin)
shalat berjamaah. Namun sekarang ini
imam shalat berjamaah berada di jalan
antara pintu Babus Salam dan pintu
Gambar 10 Mihrab Nabi Baqi'. Gambar 10 menunjukkan
Mihrab Nabi.

1.3. Tempat Duduk Ahli Shuffah


Tempat duduk ahli Shuffah adalah tempat yang
diperuntukkan bagi mereka yang datang dari luar kota untuk belajar
kepada Nabi SAW. Mereka tidak mempunyai tempat tinggal yang

M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 11


tetap, jumlah mereka pada saat itu hingga mencapai 600 orang,
salah satu diantaranya adalah Abu Hurairah ra (periwayat hadits).
Tempat ini letaknya di belakang rumah Ali bin Abi Thalib
(Fatimah) antar pintu Jibril dan pintu Nisa', seperti ditunjukkan
dalam Gambar 11. Tempat ini juga disebut dengan Dakkatul
Aghawat yang berarti tempat duduk Khadam (orang yang telah
dikebiri).

Gambar 11 Tempat duduk ahli Shuffah

1.4. Mimbar Nabi


Lokasi mimbar berada di bagian akhir dari kawasan
Raudlah. Mimbar digunakan oleh Rasulullah SAW sebagai tempat
khutbah pada hari Jum'at. Pada mulanya mimbar dibuat dari akar
kayu, namun karena beberapa kali masjid Nabawi mengalami
kebakaran, maka beberapa raja dan sultan menghadiahkan mimbar
ini bersamaan dengan renovasi masjid. Gambar 12 menunjukkan
Mmbar Nabi.
Dekat dengan mimbar Nabi SAW terdapat tempat yang digunakan
sebagai tempat adzan (Mukabbariyya) seperti ditunjukkan dalam
Gambar 13, yang sampai sekarang masih digunakan.

M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 12


Gambar 12 Mimbar Nabi Gambar 13 Tempat adzan

1.5. Pilar-pilar Bersejarah


Pilar-pilar atau tiang-tiang yang terdapat di arah kiblat
(bagian selatan) masjid Nabawi dibangun pada saat pemugaran yang
dilakukan oleh Sultan Abdul Majid Al-Usmani di posisi tiang-tiang
yang ada pada masa Raulullah SAW yang terbuat dari batang pohon
kurma. Mereka mencari posisi tiang-tiang ketika melakukan
pembangunan pilar-pilar itu.
Dalam masjid Nabawi lama ada delapan pilar yang bernilai sejarah,
karena tiap pilar itu mempunyai kisah yang berrkaitan dengan
Rasulullah SAW, yaitu

1) Pilar Harum (Al-Mukhallaqah)


2) Pilar Aisyah
3) Pilar Pengampunan (At-Taubah)
4) Pilar Tempat Tidur (Al-Sarir)
5) Pilar Tempat Penjagaan (Al-Khars)
6) Pilar Para Utusan (Al-Wafuda)
7) Pilar Segi Empat Kuburan Nabi (Al-Murabbatul Kubr)
8) Pilar Tahajud

Gambar 14 menunjukkan letak masing-masing pilar


bersejarah, sedang pilar Segi Empat Kuburan Nabi dan Pilar
Tahajud terletak dalam makam Nabi SAW.

M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 13


Gambar 14 Letak Pilar-pilar bersejarah

1.5.1. Pilar Harum (Al-Mukhallaqah)


Pilar ini merupakan tempat shalat Nabi SAW yang dikenal
dengan sebutan Al-Mukhallaqah yang berarti diharumi mewangian.
Musallamah bin Al-Akwa' sering menunaikan shalat di situ. Ketika
ditanya alasannya, ia menjawab bahwa ia menyaksikan Nabi SAW
amat berkeinginan untuk menunaikan shalat di situ. Malik
mengatakan bahwa ia menyukai shalat sunat di tempat pilar Al-
Mukhalaqah. Sekarang, sebagian pilar agak digeser ke arah kiblat
(selatan) dan sebagian dimasukkan ke dalam Mihrab, dan di atas
tiang terdapat tulisan: ( Pilar Al-Mukhallaqah).
Gambar 15 menunjukkan pilar Al-Mukhallaqah.

Gambar 15 Pilar Al-Mukhallaqah (no. 1)

M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 14


1.5.2. Pilar Aisyah
Pilar Aisyah terletak dalam kawasan Raudlah, ia berada di
tiang ketiga dari arah Mimbar Nabi dan ketiga dari arah kubur Nabi,
serta ketiga dari arah selatan. Tiang ini dikenal pula dengan sebutan
Tiang Al-Qur'ah (Undian). Ath-Tabrani dalam bukunya Al-Ausath
meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya dalam masjidku ini ada suatu tempat sebelum tiang
ini, seandainya orang-orang tahu nilai tempat itu, niscaya mereka
tidak menunaikan shalat di situ, kecuali setelah mendapat giliran
melalui undian untuk mendapat tempat shalat di situ, karena
padatnya mereka". Para sahabat bertanya kepada Aisyah tentang
tempat itu, tapi Aisyah enggan menyebutkannya. Lalu Abdullah
mendengarkan komentar dan petunjuk Aisyah. Kemudian Abdullah
berdiri dan menunaikan shalat di tempat yang dinamakan Pilar
Aisyah. Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ibnu Zubair, Amr bin
Abdullah pernah melakukan shalat di tempat itu. Gambar 16
menunjukkan lokasi Pilar Aisyah.

Gambar 16 Lokasi Pilar Aisyah

1.5.3. Pilar At-Taubah


Pilar At-Taubah terletak pada tiang urutan ke-4 dari Mimbar
Nabi dan urutan tiang ke-2 dari kubur Nabi. Tiang ini dikenal
dengan nama tiang Abu Lubabah, karena Abu Lubabah bin Al-
M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 15
Mundzir pernah mengikatkan dirinya pada tiang itu selama
beberapa belas malam setelah ia dikhianati oleh para sekutunya,
orang-orang Yahudi Bani Quraidhah dan ia tidak mengikuti perang
Tabuk.
Pada waktu itu, Abu Lubabah mengikat dirinya di tiang
tersebut dengan rantai yang berat hingga pendengarannya hilang
dan penglihatannya nyaris hilang pula. Ketika itu isterinya
membukakan ikatan tersebut setiap kali waktu shalat tiba atau ia
ingin buang air besar atau kecil. Jika Abu Lubabah sudah selesai
melakukan hal-hal itu, maka isterinya mengikatnya kembali. Saat
itu ia bersumpah tidak akan melepaskan ikatan itu dari dirinya
sampai Rasulullah SAW yang melepaskannya. Kemudian
Rasulullah SAW melepaskan ikatan itu setelah turun ayat Al-Qur'an
(QS At-Taubah 102) tentang penerimaan taubatnya.








"Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa
mereka, mereka mencampur-baurkan pekerjaan yang baik dengan
pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat
mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang". (QS. At-Taubah, 9:102)

Rasulullah SAW sering menunaikan shalat-shalat sunah di dekat


tiang ini. Beliau pergi ke situ setelah selesai shalat Subuh dah
beri'tikaf di balik tiang yang ada setelah arah kiblat.

1.5.4. Pilar Tempat Tidur (Al-Sarir)


Tiang Tempat Tidur ini letaknya menempel pada pagar yang
ada setelah tiang At-Taubah dari arah timur. Nabi SAW pernah
mempunyai tempat tidur yang terbuat dari pelepah dan daun pohon
kurma yang digunakan sebagai tempat berbaring, yang diletakkan di
dekat tiang ini.
Dalam Gambar 17 masing-masing menunjukkan Pilar
Aisyah (nomor 2), Pilar At-Taubah (nomor 3), Pilar Tempat Tidur
M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 16
(nomor 4), dan Pilar Utusan (nomor 5). Pilar Penjagaan tidak
kelihatan dalam Gambar 17.

Gambar 17 (1) Mihrab Nabi, Pilar Aisyah (2), Pilar At-Taubah (3), Pilar Tempat
Tidur (4), dan Pilar Utusan (5)

1.5.5. Pilar Tempat Penjagaan (Al-Hars)


Pilar Tempat Penjagaan terletak di belakang tiang At-
Taubah dari arah utara dan dinamai dengan tiang Ali bin Abi
Thalib, karena beliau sering menunaikan shalat di tempat itu. Ali
juga sering duduk di lantai di bawah tiang itu yang berada sesudah
kubur Nabi setelah pintu rumah Rasulullah untuk menjaga beliau.

1.5.6. Pilar Para Utusan (Al-Wufuda)


Pilar Para Utusan teletak di belakang tiang penjagaan dari
arah utara. Rasulullah SAW sering duduk di situ menerima para
delegasi Arab yang datang menghadap beliau. Pilar ini juga dikenal
dengan sebutan Majlis Al-Qiladah, tempat duduknya para pemuka
dan tokoh-tokoh para sahabat.
Gambar 18 menunjukkan Pilar Utusan, Pintu Aisyah, dan Pilar
Penjagaan.

M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 17


Gambar 18 (1) Pilar Utusan (2) Pintu Aisyah (3) Pilar Penjagaan

1.5.7. Pilar Segi Empat Kuburan Nabi (Al-Murabbaatul Kubr)


Pilar Segi Empat Kuburan Nabi terletak di jajaran kamar
Nabi SAW di dekat belokan lantainya yang sebelah barat ke arah
utara. Di antara tiang ini dan tiang para utusan ada tiang yang
menempel ke pagar kamar Nabi SAW. Pilar ini juga dikenal dengan
nama Makam Jibril. Tiang ini kini berada dalam makam.
Sulaiman bin Muslim meriwayatkan bahwa pintu rumah Fahimah
Az-Zahrah ada di segi empat itu. Nabi SAW pernah datang ke
rumah itu dan mengucapkan: "Assalamu'alakum wahai para
penghuni rumah, sesungguhnya Allah ingin menghilangkan
kekotoran diri kalian wahai para penghuni rumah dan mensuci-
bersihkan kalian".

1.5.8. Pilar Tahajud


Pilar Tahajud terletak di belakang rumah Fathimah Az-
Zahrah dari arah utara. Kini tiang itu berada dalam pagar makam. Di
situ ada Mihrab yang telah ditutup dengan batu dan dijadikan rak
Al-Qur'an. Jika seorang penunai shalat pergi ke situ, maka tiang itu
berada di sebelah kirinya ke arah Bab Jibril. Rasulullah SAW tiap
malam mengeluarkan tikar jika orang-orang sudah pulang. Beliau
menggelar tikar itu di belakang rumah Ali lalu beliau menunaikan
shalat Tahajud. Kemudian seseorang melihat beliau sedang
menunaikan shalat, maka ia menunaikan shalat ikut Nabi. Lalu
datang orang-orang lain dan menunaikan shalat mengikuti Nabi,
M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 18
sehingga jumlah mereka semakin banyak. Beliau memerintahkan
menggulung tikar itu, lalu masuk ke dalam rumah. Ketika pagi tiba,
para sahabat Nabi itu mendatangi beliau dan bertanya: "Wahai
Rasulullah, tadi malam engkau menunaikan shalat, maka kami
menunaikan shalat mengikuti engkau". Lalu Rasulullah SAW
menjawab: "Sesungguhnya aku takut akan turun perintah kepada
kalian untuk menunaikan shalat malam (tahajud), kemudian kalian
tidak kuat melaksanakannya". (Hafidh Ali. 1998: 43)

1.6. Beberapa Bagian Bangunan Masjid


Dalam bagian ini dijelaskan beberapa bagian masjid Nabawi
yang cukup menarik untuk diinformasikan, bagian-bagian ini
merupakan hasil pembangunan yang dilakukan oleh kekaisaran
Suudi.

1.6.1. Payung Masjid.


Di tengah masjid yang memisahkan antara masjid lama dan
masjid hasil perluasan terdapat ruang terbuka, yang berfungsi
sebagai ventilasi masjid. Ruangan ini ditutupi oleh payung, yang
berfungsi sebagai penutup dan pembuka ruangan. Bila hujan tiba,
maka payung itu akan menutup ruangan, sedang bila matahari
bersinar, payung ini akan terbuka. Gambar 19 menunjukkan payung
yang sedang menutup dan membuka.
Pada tahun 2009 pemerintah Arab Saudi telah memasang
payung-payung yang dapat dibuka dan ditutup di seluruh halaman
Masjid Nabawi, sehingga jamaah yang shalat di halaman tidak akan
kepanasan ketika siang atau tidak kehujanan ketika hujan.
Gambar 20 menunjukkan payung-payung yang terpasang di
halaman masjid Nabawi.

M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 19


Gambar 19 Payung Saat Menutup dan Membuka

Gambar 20 Payung-payung yang Terpasang di Halaman Masjid Nabawi

1.6.2. Kubah yang Dapat Bergerak


Dalam masjid Nabawi terdapat beberapa ruang yang atapnya
ditutupi oleh kubah yang dapat bergerak di saat diperlukan. Pada
saat hujan, ia akan menutup, sedang pada saat panas ia akan
membuka. Kubah yang dapat bergerak itu berjumlah 27 buah,
diameter = 14,70 m, masing-masing beratnya 80 ton, bagian
luarnya ditutupi oleh keramik, sedang bagian dalamnya terbuat dari
kayu. Waktu yang dibutuhkan untuk bergerak dengan menggunakan
motor adalah 1 menit, sedang bila dengan cara manual adalah 30
menit.
Gambar 21 menunjukkan kubah yang dapat bergerak itu. Gambar
22 menunjukkan beberapa lampu hias yang terdapat dalam masjid
Nabawi, sedang Gambar 23 dan Gambar 24 menunjukkan pintu-
pintu utama dan ornamen yang terdapat pada pintu utama masjid
Nabawi.

M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 20


Gambar 21 Kubah yang Dapat Bergerak

Gambar 22 Lampu-lampu Masjid Nabawi

Gambar 23 Pintu yang Berlapiskan Emas Gambar 24 Ornamen Pintu

1.6.3. Pilar atau Tiang


Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah Saudi adalah
dengan membangun bangunan baru yang ditopang oleh barisan
tiang-tiang dengan diameter 62 cm dan dilapisi oleh marmer
mengkilap. Tiang-tiang ini menyangga langit-langit dan atap yang
M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 21
berhiaskan dekorasi dengan lapisan emas. Gambar 25 menunjukkan
barisan tiang-tiang penyangga atap.

Gambar 25 Barisan Tiang-Tiang Penyangga Atap

1.6.4. Halaman Masjid Nabawi


Masjid Nabawi dikelilingi oleh ruang terbuka yang berfungsi
sebagai halaman masjid dan di saat jamaah di dalam masjid penuh,
maka halaman ini juga dipenuhi oleh jamaah shalat dan dapat
menampung 450.000 orang. Hal ini biasanya terjadi pada saat
menjelang dan sesudah haji. Luas halaman masjid ini adalah
235.000 m2, lantainya dipasangi marmer putih yang memberikan
rasa dingin. Halaman ini dibatasi oleh tembok yang berfungsi
sebagai pembatas antara masjid dan pertokoan.
Di kawasan halaman ini terdapat kamar kecil yang
bertingkat ke bawah hingga 4 tingkat. Kamar mandi kamar mandi
masing-masing ini diberi nomor urut mulai dari 1, 2 dan seterusnya,
yang dibedakan untuk wanita dan pria. Untuk menuju ke lantai
bawah kamar kecil disediakan eskalator. Jumlah total tempat wudlu
adalah 6.800 buah, 2.500 kamar kecil dan 560 kran untuk air
minum. Gambar 26 menunjukkan halaman masjid Nabawi.

M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 22


Gambar 26 Halaman Masjid Nabawi

1.6.5 Perpustakaan Masjid Nabawi


Hingga tahun 2006 dalam Masjid Nabawi terdapat
perpustakaan yang terletak di bagian tengah masjid. Di dalamnya
terdapat banyak buku tentang islam. Pada tahun 2007 perpustakaan
ini direnovasi dan dipindahkan ke bagian barat masjid Nabawi dan
ditempatkan di lantai 2. Gambar 27 menunjukkan rak buku yang
terdapat dalam perpustakaan.

Gambar 27 Rak Buku Perpustakaan Masjid Nabawi

M. Julius St: Masjid Nabawi Medinah 23