Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH PCD

SWAMEDIKASI I

DisusunOleh:

1. Erni Marliana (1740343751)

2. Erni Sukmawati Kaderi (1740343752)

KELOMPOK 5

PROFESI APOTEKER

UNIVERSITAS SETIA BUDI

SURAKARTA

2017
RHINITIS ALERGI

A. Definisi
Rinitis alergik adalah inflamasi membrane mukosa hidung disebabkan paparan
oleh materi alergenik yang terhirup yang mengawali respon imunologik spesifik,
diperantarai oleh immunoglobulin E (Ig E) (ISO Farmakoterapi). Rhinitis alergi terjadi
ketika alergen merupakan pencetus untuk menimbulkan gejala pada hidung.
Penyababnya belum bisa dipastikan, namun dampaknya ada kaitan dengan
meningkatnya polusi udara, populasi dust mite, kurangnya ventilasi dirumah atau kantor,
dll. Penyebab rinitis alergi berbeda-beda bergantung pada apakah gejalanya musiman,
perenial, ataupun sporadik/episodik. Beberapa pasien sensitif pada alergen multipel, dan
mungkin mendapat rinitis alergi perenial dengan eksaserbasi musiman. Ketika alergi
makanan dapat menyebabkan rinitis, khususnya pada anak-anak, hal tersebut ternyata
jarang menyebabkan rinitis alergi karena tidak adanya gejala kulit dan gastrointestinal.
Untuk rinitis alergi musiman, pencetusnya biasanya serbuksari (pollen) dan spora
jamur. Sedangkan untuk rinitis alergi perenial pencetusnya bulu binatang, kecoa, tikus,
tungau, kasur kapuk, selimut, karpet, sofa, tumpukan baju dan buku-buku.
Alergen inhalan selalu menjadi penyebab. Serbuksari dari pohon dan rumput,
spora jamur, debu rumah, debris dari serangga atau tungau rumah adalah penyebab yang
sering. Alergi makanan jarang menjadi penyebab yang penting. Predisposisi genetik
memainkan bagian penting. Kemungkinan berkembangnya alergi pada anak-anak adalah
masing-masing 20% dan 47%, jika satu atau kedua orang tua menderita alergi.

B. Patofisiologi
1. Reaksi awal terjadi ketika allergen di udara memasuki hidung selama inhalasi dan
kemudian diproses oleh limfosit, yang menghasilkan antigen spesifik IgE. Hal ini
menyababkan sensitisasi pada orang yang secara genetic rentan terhadap allergen
tersebut. Pada saat terjadi paparan ulang melalui hidung, IgE yang berikatan dengan
mast berinteraksi dengan allergen dari udara, dan memicu mediator inflamasi.
2. Reaksi segara terjadi dalam hitungan menit, yang menyebabkan pelepasan cepat
mediator yang terbentuk sebelumnya serta mediator yang baru dibuat melalui jalur
asam arakidonat. Mediator hipersensitivitas segera meliputi histamine, leukotrien,
prostaglandin, triptase dan kinin. Mediator ini menyebabkan vasodilatasi, peningkatan
permeabilitas vascular, dan produksi sekresi nasal. Histamin menyebabkan rinorea,
gatal, bersin dan hidung tersumbat.
3. Dari 4 hingga 8 jam setelah paparan terhadap allergen pertama kali, dapat terjadi
reaksi fase lambat, yang diperkirakan disebabkan oleh sitokin yang dibebaskan
terutama oleh sel mast dan limfosit helper yang berasal dari timus. Respon inflamasi
ini dapat menjadi penyebab gejala kronik yang menetap termasuk kongesti hidung
(ISO Farmakoterapi).

C. Gejala
Gejala termasuk rinorea, bersin, kongesti hudung, sensasi adanya keluarnya ingus
(postnasal drip), konjungtifitas alergi, dan ruam mata, telinga atau hidung.
- Pasien dapat mengeluh hilangnya penciuman atau pengecapan yang pada banyak
kasus disebabkan oleh sinusitis. Postnasal drip dapat disertai batuk dan serak.
- Gejala rhinitis yang tidak ditangani dapat menyebabkan insomnia, lemas, lelah, dan
memburuk efisiensi kerja atau sekolah.
- Rhinitis alergi merupakan factor resiko asma, sebanyak 78% pasien asma mempunyai
gejala nasal, dan sekitar 38% pasien rhinitis alergi menderita asma.
- Sinusitis berulang dan kronik serta epistkaksis (pendarahan hidung yang hebat)
berulang dan kronik adalah komplokasi dari rhinitis alergi. (ISO Farmaoterapi).

D. Penatalaksanaan Terapi
1. Farmakologi
a. Tujuan Terapi
1) Tujuan akhir penanganan adalah untuk meminimalisasi atau mencegah gejala
dengan tidak ada atau sedikit efek samping dan biaya pengobatan ynag masuk
akal
2) Pasien harus dapat mempertahankan pola hidup normal, termasuk
berpartisipasi dalam kegiatan luar ruangan dan bermain dengan hewan
peliharaan sesuai keinginan (ISO Farmakoterapi)
b. Pilihan terapi untuk rhinitis alergi dari ARIA :
Obat yang digunakan (ISO Farmakoterapi) :
1) Antihistamin
Antihistamin mengantagonis permeabilitas permeabilitas kapiler,
pembentukan bengkak dan rasa panas, serta gatal. Mengantuk adalahb efek
samping yang paling sering terjadi namun menguntungkan pada pasien yang
sulit tidur jarena rinitis alergi. Antihistamin oral dapat dibagi menjadi ua
kategori utama : nonselektif (generasi pertama atau antihistamin sedasi) dan
selektif perifer (generasi kedua atau histamin nonsedasi).
a) Antihistamin non selektif (generasi pertama)
Klorfeniramin maleat
Dewasa : 4 mg tiap 6 jam
6-12 th : 2 mg tiap 6 jam
2-5 th : 1 mg tiap 6 jam
Klorfeniramin maleat, sustained release
8-12 mg sehari waktu tidur atau 8-12 mg tiap 8 jam
6-12 th : 8 mg waktu tidur
<6th: tidak direkomendasi
Klemastin fumarat
1,34 mg tiap 8 jam
6-12 th : 0,67 mg tiap 12 jam
Difenhidramin Hidroklorida
25-50 mg tiap 8 jam
5mg/kg/hr (sampai 25 mg perdosis )
b) Antihistamin selektif perifer (generasi kedua)
Loratadin
10 mg sekali sehari
6-12 th : 10 mg sekali sehari
2-5 th : 5 mg sehari sekali
Feksofenadin
60 mg 2 x sehari atau 180 mg sekali sehari
6-11 th : 30 mg 2x sehari
Setirizin
5-10 mg sekali sehari
>6th : 5 mg sehari sekali
2) Dekongestan
Merupakan zat simpatomimetik yang bekerja pada reseptor adrenergic
pada mukosa hidung menyebabkan vasokonstriksi, menciutkan mukosa yang
membengkak, dan memperbaiki pernafasan.
Pseudoefedrin
60 mg tiap 4-6 jam
6-12 th : 30 mg tiap 4-6 jam
2-5 th : 15 mg tiap 4-6 jam
Pseudoefedrin sustained-release
120 mg tiap 12 jam
Tidak direkomendasi
Dosis Dekongestan Oral yang umum digunakan
3) Kortikosteroid nasal
Kortikosteroid intra nasal secara efektif meredakan bersin, rinorea,
ruam dan kongesti nasal dengan efek samping yang minimal. Obat ini
mereduksi inflamasi dengan menghambat pembebasan mediator, penekanan
kemotaksis neutrofil, menyebabkan vasokonstriksi, dan menghambat reaksi
lambat yang diperantarai oleh sel mast
Beklometason dipropionate
>12 th : 1 inhalasi (42 mcg) per lbang hidung 2-4x sehari (maks 336
mcg/hr)
6-12 th : 1 inhalasi per lubang hidung 3 kali/hr
Beklometason dipropionate, monohidrat
>12 th : 1-2 inhalasi sekali per hari
6-12 th : 1 inhalasi per lubang hidung (42 mcg) dimulai 2 kali sehari
Budenosid
>6 th : 2 semprot (64 mcg) per lubang hidung pagi dan petang atau 4
semprot per lubang hidung pagi (maks 256 mcg)
Flunisolid
Dewasa : 2 semprot (50 mcg) per lubang hidung 2x sehari (maks 400
mcg), Anak : 1 semprot per lubang hidung 3x sehari
Fluticasone
Dewasa : 2 semprot (100 mcg) per lubang hidung sekali sehari, setelah
beberapa hari turunkan jadi 1 semprot per lubang hidung (maks 200 mcg
per hari)
Mometasone furoat
>12 th : 2 semprot (100 mcg) per lubang hidung sekali sehari
Triamsinolon asetonida
>12 th : 2 semprot (110 mcg) per lubang hidung sekali sehari (maks 440
mcg/hr)
4) Kromolyn natrium
Adalah penstabil sel mast, tersedia sebagai obat bebas dalam bentuk
semprot hidung untuk pencegahan gejala dan penanganan terhadap rinitis
alergik. Zat ini mencegah degranulasi sel mast yang dipicu oleh antigen dan
pelepasan mediator, termasuk histamin. Dosis pakai (umur 2 th) adalah satu
semprotan pada tiap nostril 3-4 x sehari dengan interval normal.
5) Ipratropium bromide
Merupakan zat antikolinergik yang berguna dalam rhinitis alergik
parennial. Zat ini bersifat antisekretori ketika diberikan secara local dan
meredakan gejala rinorea yang berkaitan dengan alergi dan bentuk lain rhinitis
kronis. Kadar 0,03 % diberikan sebanyak 2 semprotan 2-3 kali sehari.
6) Montelukast
Merupakan antagonis reseptor leukotrien untuk penanganan rhinitis
alergik musiman. Dosis untuk dewasa dan remaja lebih dari 15 tahun adalah
satu tablet 10 mg per hari. Anak-anak 6-14 tahun 1 tablet kunyah 4 mg.
2. Non Farmakologi
1) Mengurangi & menghindari paparan allergen
Amati benda-benda apa yang menjadi pencetus
Jika perlu, pastikan dengan skin test
Jaga kebersihan rumah, jendela ditutup, hindari kegiatan berkebun
2) Tidak menggunakan karpet, atau bantal yang berdebu
3) Cukup istirahat
4) Gunakan masker
E. Monitoring
1. Monitoring terhadap gejala yang menyertai rhinitis alergi, jika gejalanya terkontrol
tetapi efek samping tidak dapat diterima maka dosis dapat disesuaikan atau diganti
dengan obat lain yang masih satu golongan terapi.
2. Jika gejala tidak terkontrol amati kepatuhan pasien terhadap terapi.
3. Dilakukan monitoring terhadap penggunaan obat selama 3-5 hari. Monitoring gejala
dan ESO.

F. KIE Pasien
1. Memberikan informasi tentang obat kepada keluarga dan pasien, memberikan
pengertian kepada pasien untuk menghindari alergen (debu, bulu binatang, serbuk
bunga) agar rhinitis alergi tidak terjadi.
2. Memberikan informasi, instruksi dan peringatan kepada pasien tentang efek terapi
obat dan efek samping yg mungkin timbul selama pengobatan.

G. Swamedikasi
Pada siang hari di Apotek Sehat Farma datang seorang ibu ingin membeli obat
untuk anaknya..
Apoteker : Selamat siang ibu, selamat datang di apotek Sehat Farma. Perkenalkan saya
Erni apoteker di apotek ini, ada yang bisa saya bantu bu?
Ibu Tanti : Siang mbak, saya mau beli obat untuk anak saya.
Apoteker : Kalau boleh tau, anak ibu sakit apa ya bu?
Ibu Tanti : Begini mbak, anak saya tadi habis berenang terus dia bersin - bersin dan
mengeluh hidungnya tersumbat. Kira-kira itu sakit apa ya mbak?
Apoteker : Ohh.. itu hanya alergi biasa bu, mungkin karena anak ibu terlalu lama
berenang dan kondisi daya tahan tubuhnya itu sedang menurun sehingga
memicu terjadinya alergi yang menyebabkan bersin-bersin dan hidung
tersumbat.Kalau saya boleh tau sebelumnya anak ibu sering berenang atau
tidak bu?
Ibu Tanti : Ohh.. gitu ya mbak. Setahu saya selama ini anak saya tidak punya alergi kok
mbak.Dan ini baru pertama kalinya berenang makanya saya bingung mbak.
Apoteker : Iya ibu, maaf sebelumnya alergi yang saya maksud itu alergi yang
disebabkan karena kedingingan dan adanya zat asing yang berasal dari air
kolam renang yang memicu alergi.
Ibu Tanti : Ohh jadi gitu ya mbak, terus obat yang cocok apa ya mbak?
Apoteker : Kalau boleh tau anak ibu umurnya berapa tahun ya bu?
Ibu Tanti : Anak saya umurnya 6 tahun mbak.
Apoteker : Ohh iya ibu tunggu sebentar saya ambilkan obatnya dulu.
(Apoteker memilihkan obat yang cocok untuk pasien kemudian menghampiri ibu
tersebut)
Apoteker : Ibu ini ada 2 pilihan obat (Rhinos Junior dan Hufagrip Pilek). Keduanya isi
dan khasiat sama yaitu untuk meringankan bersi-bersin dan hidung tersumbat.
Ibu Tanti : Terus bedanya apa ya mbak?
Apoteker : Ini bedanya di harganya bu, yang ini (Rhinos Junior) harganya Rp. 50.200
sedangkan yang ini (Hufagrip pilek) harganya Rp. 15.600, jadi ibu mau yang
mana ya bu?
Ibu Tanti : Oh saya pilih yang ini aja mbak (Rhinos Junior).
Apoteker : Baik ibu jadi yang ini ya (Rhinos Junior), nanti obatnya diminum 3 x sehari
1 sendok takar (5 ml), sendok takarnya sudah ada didalam kotaknya ya bu.
Ibu Tanti : Iya mbak. Jadi minumnya 3 x sehari 1 sendok takar atau ml ya mbak?
Apoteker : Iya bu benar sekali.
Ibu Tanti : Terus Ini obatnya harus diminum sampai habis tidak ya mbak?
Apoteker : Tidak bu, kalau sudah sembuh obat ini bisa dihentikan penggunaan nya.
Ibu Tanti : Oh iya mbak. Tadi harga obatnya Rp. 50.200 ya mbak? Ini uangnya.
Apoteker : Iya bu, sebentar saya ambilkan kembalian nya dulu.
( Apoteker mengambil kembalian kemudian menyerahkan uang kembalian tersebut)
Apoteker : Ini ya bu kembaliannya Rp. 1.800,-
Oh iya ibu, saya lupa. Nanti kalau habis minum obat, anaknya disuruh istirahat
yang cukup ya bu. Minum yang hangat-hangat sama diperhatikan juga asupan
makanannya untuk mengembalikan daya tahan tubuhnya. Terus sebisa
mungkin jangan berenang dulu dalam waktu dekat sampai kondisi tubuhnya
benar-benar baik. Tetapi jika dalam waktu 5 hari kondisi anak ibu masih
bersin-bersin dan hidung tersumbatnya belum membaiksegera bawa anak ibu
kedokter ya bu.
Ibu Tanti : Baik mbak, terimakasih informasinya.
Apoteker : Iya bu sama-sama, semoga anaknya lekas sembuh ya bu.
Ibu Tanti : Iya mbak, terimakasih. Mari mbak, saya permisi dulu. ( sambil berjalan
keluar apotek)