Anda di halaman 1dari 19

Implementasi Supervisi Pengawas Pendidikan Agama Islam

Pada SMA Negeri Di Kota Banjarmasin

ASMAWATI
Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin
Program Studi Pendidikan Agama Islam Konsentrasi Supervisi

Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh implementasi supervisi yang


dilakukan oleh pengawas Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di Kota
Banjarmasin pada tahap perencanaan program, pelaksanaan, evaluasi dan
tindaklanjut. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field reseach) yang
bersifat kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan data-data yang
diperoleh dari lapangan maupun literatur yang berkaitan dengan pembahasan.
Untuk mendapatkan data digunakan teknik pengumpulan data melalui
wawancara, dan dokumentasi. Keseluruhan data dianalisis dengan tahapan: 1.
Mereduksi data, 2. Menyajikan data, dan 3. Menyimpulkan hasil penelitian.
Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan mengadakan triangulasi,
pengecekan anggota (member chek) dan diskusi teman sejawat. Hasil temuan
penelitian ini menggambarkan bahwa implementasi supervisi pada tahap
perencanaan program, pengawas Pendidikan Agama Islam telah menyusun
program tahunan, program semester, rencana program akademik berdasarkan
hasil rapat koordinasi Pokjawas Kota Banjarmasin. Hasil penelitian ini juga
menunjukan bahwa pengawas Pendidikan Agama Islam telah membuat
instrumen yang dikembangkan bersama-sama dalam rapat koordinasi tersebut.
Pada tahap pelaksanaan supervisi di temukan bahwa pengawas Pendidikan
Agama Islam menggunakan teknik perseorangan (individual) dan teknik
kelompok dalam melakukan bimbingan dan binaan terhadap guru. Temuan dari
penelitian ini juga menujukan bawa dari dua teknik di atas, pengawas lebih
banyak menggunakan teknik individual. Pendekatan yang digunakan lebih
dominan menggunakan pendekatan tidak langsung (non direktif) dibandingkan
pada pendekatan langsung (direktif) dan model supervisi yang dilaksanakan
banyak menggunakan model tradisional (konvensional). Pada tahap evaluasi
pengawas Pendidikan Agama Islam melaksanakan penilaian dengan
menganalisis instrumen administrasi perencanaan dan instrumen perencanaan
pelaksanaan pembelajaran. Untuk bentuk tindak lanjut supervisi yang
dilaksanakan oleh pengawas Pendidikan Agama Islam lebih banyak
menggunakan pembinaan tidak langsung dengan memberikan kesempatan
kepada guru Pendidikan Agama Islam untuk melaksanakan proses
pembelajaran dengan memberikan dukungan (supporting) serta semangat dan
dorongan (motivation) agar melaksanakan pembelajaran lebih baik lagi.

Kata Kunci : Implementasi Supervisi, Pengawas Pendidikan Agama Islam,


Pendidikan Agama Islam.

1
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah sebuah proses yang dirancang dengan sadar untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Proses ini akan menumbuhkembangkan potensi-potensi pribadi manusia
secara utuh untuk menjadi lebih baik, Oleh karena itu pendidikan telah menjadi
kebutuhan pokok (basic needs) manusia dalam menjalani proses kehidupannya dan
menentukan tingkat kedudukannya diantara sesamanya. Dengan demikian sudah
menjadi keharusan adanya proses pemerataan kesempatan pendidikan (education
for all) bagi seluruh lapisan masyarakat. Proses pembangunan pemerataan
kesempatan pendidikan ini pada akhirnya meningkatkan kualitas pendidikkan
(education explotion). Efeknya akan meningkatkan mutu secara signifikan dalam
pengembangan sumber daya manusia bagi suatu bangsa. Penyelenggaraan
pendidikan di Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cara
meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia seutuhnya sebagai modal
dasar pembangunan.1
Guna tercapainya tujuan pendidikan spiritual untuk siswa maka Pendidikan
Agama di Sekolah sebaiknya dikelola oleh tenaga ahli yang memiliki
profesionalitas tinggi dan kompeten dalam bidang pendidikan, jika tidak tunggulah
kehancurannya. Allah SWT berfirman dalam QS. Al Anam(6) ayat 135, yang
berbunyi :

..
Ayat di atas menjelaskan bahwa, untuk mencapai hasil yang baik harus
dikerjakan oleh orang yang memilki keahlian dalam hal ini juga berlaku bagi sistem
pendidikan nasional, sehingga menuntut tenaga kependidikan untuk senantiasa
melakukan berbagai peningkatan mutu di bidang pendidikan, karena pendidikan
yang bermutu, sangat membutuhkan tenaga kependidikan yang profesional dan

1
Fatah Syukur, Manajemen Pendidikan Berbasis pada Madrasah, (Semarang: Pustaka
Rizki Putra, 2011), h. 37

2
pada dasarnya, keberhasilan pelaksanaan pendidikan di lapangan ditentukanoleh
tiga unsur, yaitu pengawas, kepala sekolah dan guru.2
Berkenaan tentang pengawas, menurut Peraturan Pemerintah nomor 74
tahun 2008 tetang guru dinyatakan bahwa pengawas adalah guru yang diangkat
dalam jabatan pengawas satuan pendidikan. Hal ini berarti pengawas tidak pernah
lepas dari sifat keguruan yang mempunyai tugas bersama-sama dengan guru dalam
meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan. Pengawas memilki tugas, fungsi
dan tanggung jawab yang strategis dalam pengembangan pendidikan dan
pengajaran. Peranan pengawas dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan dan
pembelajaran di sekolah bukan saja sebagai seorang supervisor pendidikan namun
ia juga sebagai konselor dan motivator agar dapat menciptakan suasana kondusif
dalam proses belajar mengajar di sekolah dan mampu meningkatan kompetensi dan
profesional guru menuju terselenggaranya pendidikan yang bermutu.
Pengawasan dilakukan dalam rangka menjamin kualitas pendidikan agar
sesuai dengan tujuan Pendidikan. Dalam Keputusan Menteri Agama Nomor 381
tahun1999, disebutkan bahwa pengawas madrasah/ pengawas pedidikan agama
adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang secara
penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan pendidikan di Madrasah dan Pendidikan Agama disekolah umum
dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan
administrasi pada satuanpendidikan pra sekolah, dasar dan menengah.3
Berdasarkan paparan diatas pengawas merupakan bagian terpenting yang
tidak terpisahkan dalam upaya peningkatan prestasi belajar dan mutu sekolah.
Kegiatan supervisi dimaksudkan sebagai kegiatan kontrol terhadap seluruh
kegiatan pendidikan untuk mengarahkan, mengawasi, membina dan
mengendalikan dalam pencapaian tujuan. Kegiatan ini juga mempunyai
tanggungjawab dalam peningkatan mutu pendidikan, baik proses maupun hasilnya,
sehingga kegiatan supervisi, mulai dari tahap perencanaan sampai pada tahap

2
Supandi, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta: Depertemen Agama
Universitas Terbuka, 1996), h. 94
3
Thaib Amin, Standar Supervisi dan Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Ditmapenda, 2005),
h. 5

3
evaluasi yang akan berfungsi sebagai feed back, tindak lanjut dalam rangka
perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan ke arah yang lebih baik. Menurut Piet
Sehertian, supervisi pendidikan merupakan usaha memberikan layanan kepada
stakeholderpendidikan terutama pada guru-guru, baik secara individual maupun
kelompok dalam usaha memperbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran.4
Pengawas sebagai seorang yang bertugas membina lembaganya agar
berhasil mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan harus mampu
mengarahkan dan mengkoordinasi segala kegiatan, tugas demikian tidak lain adalah
tugas supervisi.5 Lebih lanjut Mesaong dalam Supervisi Pembelajaran dan
Pengembangan Kapasitas Guru, menjelaskan tujuan utama pengawasan
pembelajaran meliputi: (1) membimbing dan menfasilitasi guru mengembangkan
kompetensinya, (2) memberi motivasi guru agar menjalankan tugasnya secara
efektif, (3) membantu guru mengelola kurikulum dan pembelajaran, (4) membantu
guru membina peserta didik agar potensinya berkembang secara maksimal.6
Pengawas harus mampu berperan sebagai konsultan dalam manajemen
sekolah, pengembangan kurikulum, teknologi pembelajaran, dan pengembangan
staf. Ia harus melayani kepala sekolah dan guru, baik secara kelompok maupun
individual. Ada kalanya supervisor harus berperan sebagai pemimpin kelompok
dalam pertemuan-pertemuan yang kaitannya dengan pengembangan kurikulum,
pembelajaran atau manajemen sekolah secara umum. Supervisor juga harus
melakukan evaluasi terhadap pengelolaan sekolah dan pembelajaran pada sekolah-
sekolah yang meliputi tugas-tugasnya.7 Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut
pengawas tentu harus dapat menguasai berbagai prinsip, metode, teknik, tipe dan
gaya supervisi sehingga ia dapat menentukan pola, strategi, pendekatan, dan model
yang cocok untuk melaksanakan tugasnya dalam rangka penyelesaian terhadap
suatu permasalahan atau program yang akan diimplementasikan.

4
Piet Sahartean, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 19
5
B. Suryosubroto, Manajemen Pendidikan di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), Cet.
2, h.183
6
Abd. Kadim Masaong, Supervisi Pembelajaran dan Pengembangan Kompetensi Guru,
(Bandung: Alfabeta, 2012), h. 6
7
Olivia Peter F, Supervision For Todays school. (New York:Longman, 1994), h. 19-20

4
Pengawas sekolah sebagai tenaga profesional tentunya mempunyai peran
penting pendukung ketercapaian dunia pendidikan, karena pengawas melakukan
penilaian dan pembinaan dengan melaksanakan fungsi-fungsi supervisi. Supervisi
ini dilakukan secara akademik maupun supervisi manajerial. Tugas lain pengawas
juga melakukkan evaluasi dan monitoring pelaksanaan program sekolah besarta
pengembangan serta melakukan penilian terhadap proses dan hasil program
pengembangan sekolah secara kolaboratif dengan stakeholder sekolah.
Pada pelaksanaan supervisi Pendidikan Agama Islam (PAI), Kementerian
Agama Republik Indonesia sebagai pengelola Pendidikan Agama mengeluarkan
peraturan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No.2
tahun 2012 tentang pengawas Madrasah dan pengawas Pendidikan Agama Islam
pada sekolah. Secara umum disebutkan, bahwa seorang Pengawas Pendidikan
Agama Islamadalah:(1) melakukan pengawasan terhadap pelaksana pendidikan dan
pengembangan Islam dan penyelenggaraannya di sekolah (2) melakukkan
pengawasn terhadap pelaksanaan guru Pendidikan Agama Islam dan guru di
madrasah; (3) melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan
ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam pada tingkat sekolah atau madrasah yang
menjadi tanggung jawabnya.8
Untuk melaksanakan pengawasan dan supervisi yang terarah, teratur dan
berkesinambungan dalam rangka peningkatan kompetensi guru Pendidikan Agama
Islam, maka pengawas Pendidikan Agama Islam memerlukan perencanaan yang
matang sehingga tujuan implementasi supervisi yang dimaksud dapat tercapai
sesuai dengan tujuan yang diharapkan
Dalam manajemen islam, konsep perencanaan ini sangatlah penting
sebagaiamana yang ditegaskan dalam QS. Al Hasyr (59): ayat 18



Mengingat pentingnya perencanaan dalam implementasi suatu kegiatan,
maka perencanaan harus dirancang dan disusun sedemikian rupa guna pencapaian
tujuan dan target yang telah ditetapkan. Perencanaan supervisi dijabarkan dalam

8
Depertemen Agama RI,Kepengawasan Pendidikan, (Jakarta: 2004), h. 7

5
suatu program supervisi yang berisikan rencana implementasi supervisi dalam
bentuk pemantauan dan pengamatan, kunjungan kelas, pembinaan profesional
guru, tindak lanjut supervisi dan lain-lain.
Upaya meningkatkan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam (PAI)
melalui pembinaan dan peningkatan kualitas pembelajaran yang dilaksanakannya,
tidak lepas dari program supervisi yang telah ditetapkan. Mengingat peran
strategisnya untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan dan akhlakul karimah
kepada siswa.9 Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT pada QS. maryam (19):
ayat 31-32.

Jika supervisi dilaksanakan oleh pengawas, maka ia harus mampu


melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja
tenaga pendidik. Pengawasan dan pengendalian merupakan tindakan preventif
untuk mencegah agar para pendidik tidak melakukan penyimpangan dan lebih
berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaanya.10
Dalam melaksanakan tugasnya seorang pengawas Pendidikan Agama Islam
perlu mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan komponen yang menunjang
peningkatan kualitas seorang guru Pendidikan Agama Islam untuk mengawas
paling tidak harus memiliki program tahunan dan program semester. Kemudian
secara berkala dan kontinuitas melakukan kunjungan sekolah dan kunjungan kelas
untuk melakukan observasi dan wawancara terhadap guru Pendidikan Agama
Islam, sehingga jika ada kesulitan dan permasalahan dilapangan seorang pengawas

9
Nazaruddin, Mgs, Manajemen Pembelajaran (Implementasi, Konsep, Karakteristik dan
Metodologi PAI di Sekolah Umum),(Yogyakarta: Teras, 2007), h.10
10
E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2007), h.112

6
akan lebih membantu memberikan alternatif pemecahan masalah. Pengawas juga
harus senantiasa melakukan kordinasi dengan kepala sekolah untuk menggali
informasi yang berhubungan dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Berdasarkan hasil observasi awal peneliti dan data tentang pendidikan para
pengawas Pendidikan Agama Islam. Observasi yang dilakukan terhadap 6 (enam)
orang Pengawas Pendidikan Agama Islam, 3(tiga) orang Pengawas Pendidikan
Agama Islam berlatar belakang pendidikan sarjana Pendidikan Agama Islam
sedangkan 3 (tiga) orang Pengawas Pendidikan Agama Islam yang lain, tidak
berlatar belakang sarjana Pendidikan Agama Islam, yang mana mereka adalah
1(satu) orang berlatar belakang Sarjana Pendidikan Matematika, 1 (satu) orang
berlatar belakang sarjana Pendidikan Kimia, 1(satu) orang lulusan berlatar belakang
sarjana Pendidikan MIPA, berdasarkanPeraturan Menteri Agama (PMA) RI No.2
tahun 2012, pada bab II tentang rekrutmen Pengawas Pendidikan Agama Islam
pada Sekolah, khusus untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) disebutkan bahwa,
Pengawas Pendidikan Agama Islam minimal Ijazah S1 Pendidikan Agama Islam
(PAI) dan diutamakan S2 Pendidikan Agama Islam pada perguruan tinggi yang
teraktreditasi.Menyikapi peraturan tersebut ada 3 (tiga) orang pengawas Pendidikan
Agama Islam yang belum memenuhi syarat untuk menjadi pengawas Pendidikan
Agama Islam sesuai dengan peraturan rekrutmen pengawas berdasarkan Peraturan
Menteri Agama (PMA) RI No.2 tahun 2012, hal ini tentunya akan sangat
berpengaruh pada implementasi supervisi khususnya yang berkaitan dengan
substansi pelaksanaan pengawasan di sekolah yang mereka bina.
Berdasarkan observasi awal pengawas PendidikanAgama Islam dilapangan
belum memenuhi tugas dan fungsinya secara baik dikerenakan tingkat kehadiran
pengawas ke sekolah belum maksimal, berdasarkan ketentuan buku kerja
pengawas, seorang Pengawas Pendidikan Agama Islam harus datang ke sekolah
binaannya 4 (empat) kali dalam satu semester, 2 (dua) kali kunjungan sekolah dan
2 (dua) kali kunjungan kelas, kenyataan dilapangan pengawas terkadang hanya bisa
melakukan kunjungan ke sekolah binaannya satu semester cuma 2 (dua) kali,
1(satu) kali kunjungan sekolah dan 1 (satu) kali kunjungan kelas bahkan terkadang
mereka hanya bisa melakukan kunjungan 1 (satu) kali saja dalam satu semester dan
terkadang ada sekolah atau guru Pendidikan Agama Islam yang tidak pernah

7
dikunjungi oleh pengawas Pendidikan Agama Islam, menurut wawancara awal
peneliti hal ini terjadi dikarenakan banyaknya sekolah binaan yang harus mereka
tangani, sehingga mereka kekurangan waktu untuk melaksanakan tugas dan
fungsinya di sekolah binaan.
Selain masalah diatas, masalah yang sering kali muncul adalah masalah
bentuk hubungan personal dan jabatan anatara supervisor dengan guru Pendidikan
Agama Islam yang kaku, kurang akrab, menempatkan guru bukan sebagai kolega
akan tetapi sebagai bawahan, kadang supervisor bertindak seolah-olah sebagai
atasan yang menjaga jarak dengan guru saat supervisi dilaksanakan. Sehingga guru
merasa takut karena merasa diawasi bukan merasa diberikan bantuan oleh
supervisor. Sebaliknya, hal itu justru berpotensi membuat kesulitan yang dihadapi
guru bersangkutan jadi semakin kronis. Maka, seorang supervisor itu haruslah
profesional. Mereka harus memiliki kompetensi supervisi yang baik.
Berdasarkan hasil observasi awal dan data awal yang didapatkan maka
supervisi pengawas Pendidikan Agama Islam SMA Negeri kota Banjarmasin masih
sangat bervariasi dengan berbagai permasalahan- permasalahan yang di hadapi,
maka peneliti meresa perlu untuk mengungkapkan bagaimana implementasi
Bertolak dari konteks yang ada pada pelaksanaan supervisi Pendidikan Agama
Islam, maka penulis merasakan perlunya penelitian lebih lanjut mengenai
pelaksanaan supervisi pengawas Pendidikan Agama Islam pada guru-guru mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di kota Banjarmasin.
Mengingat sekolah Negeri yang diteliti tersebut akan menjadi tolak ukur
keberhasilan penyelenggaraan Pendidikan Agam Islam (PAI) pada SMA Negeri
dan swasta lain di Kota Banjarmasin. Maka pada kesempatan ini penulis
mengangkat permasalahan tersebut dalam bentuk sebuah laporan hasil penelitian
yang berjudul Implementasi Supervisi Pengawas Pendidikan Agama Islam pada
SMA Negeri di kota Banjarmasin.

TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Dasar Supervisi
Supervisi diartikan sebagai serangkaian usaha bantuan kepada guru terutama
bantuan yang berwujud layanan profesional yang dilakukan oleh kepala sekolah,

8
penilik sekolah dan supervisor serta para pelaku pengawasan lainnya untuk
meningkatkan proses dan hasil belajar.11 Dengan demikian dalam dunia Pendidikan
ada tiga pihak yang berkompeten terhadap kepengawasan, yakni kepala sekolah,
pemilk sekolah dan pengawas sendiri. Supervisi pengawas Pendidikan Agama
Islam adalah kegiatan pembinaan kearah situasi pendidikan secara umum yang
lebih baik dan peningkatan mutu pembelajaran yang dilakukan oleh pengawas
Pendidikan Agama Islam terhadap guru-guru dan tenaga kePendidikan untuk
mencapai mutu pendidikan dan pembelajaran yang maksimal sesuai harapan
seluruh steak holder pendidikan. Dalam hal ini pengawas Pendidikan Agama
Islamberfungsi sebagai supervisor di sekolah yang mempunyai tugas menjalankan
tugas-tugas supervisinya dengan baik, sesuai dengan amanat yang dibebankan pada
dirinya.
Supervisi Akademik
Supervisi akademik adalah pengawasan dalam hal pembelajaran, bentuk
supervisi ini menitik beratkan pada pengamatan supervisor pada masalah akdemik,
yaitu pada hal-hal yang terjadi pada proses pembelajaran serta kegiatan supervisi
ini ditujukan untuk memperbaiki kondisi-kondisi, baik personel maupun materil
yang memungkinkan terciptanya situasi belajar mengajar yang lebih baik demi
tercapainya tujuan pendidikan.12 Supervisi akademik meliputi beberapa hal-hal di
bawah ini dalam kegiatan pelaksanaannya oleh seorang supervisor, yaitu:
1. Perencanaan Program Supervisi Akademik
Perencanaan supervisi akademik adalah penyusunan dokumen perencanaan
pemantauan dalam rangka membantu guru mengembangkan kemampuannya
mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.13 Sebagai
bahan untuk menyusun program pengawasan terlebih dahulu pengawas
melaksanakan identifikasi, mengolah, dan menganalisis hasil pengawasan
sebelumnya. Program tersebut meliputi program tahunan dan program semester.

11
Tim Dosen FIP IKIP Malang, Profesi Keguruan, (IKIP Malang, 1995), h. 112
12
M. Ngalim Porwanto, Administrasi dan supervisi Pendidikan, (PT Remaja Rosdakarya,
Bandung: 1997), h. 89
13
Lantif Diat dan Sudiyono, Supervisi Pendidikan, (Jogyakarta: Gava Media, 2011), h. 96

9
2. Pelaksanaan Supervisi Akademik

Pelaksanaan supervisi akademik diarahkan pada sasaran yaitu guru


Pendidikan Agama Islam di sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan, dengan
demikian fungsi pengawasan pada supervisi akademik berkaitan dengan
pelaksanaan tugas pembinaan, pemantauan, penilaian dan pelatihan profesional
guru dalam; (a) merencanakan pembelajaran; (b) melaksanakan pembelajaran; (c)
menilai hasil pembelajaran; (d) membimbing dan melatih peserta didik; dan (d)
melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok yang
sesuai dengan beban kerja guru.14
3. Evaluasi Program Supervisi Akademik
Setelah supervisi akademik dilaksanakan, tentunya harus dilakukan evaluasi
untuk pelaporan dan tindak lanjut pengawas setelah melakukan supervisi. Program
supervisi merupakan program pengembangan, guna memperbaiki sesuatu yang
belum baik dan mengembangkan yang sudah baik menjadi lebih baik. Manfaat dari
evaluasi program ini menurut Suharsimi Arikunto, diantaranya: (a) Fungsi formatif
(merupakan evaluasi yang memberikan balikkan bagi guru, sehingga dapat
memperbaiki hasil pengajarannya); (b) Evaluasi Sumatif (evaluasi yang dilakukan
pada akhir semester terhadap keberhasilan program supervisi); (c) Diagnosis adalah
evaluasi yang mengungkap kesulitan-kesulitan guru dalam melaksanakan proses
pembelajaran dan peserta didik yang mengalami kesulitan mengajar, maka perlu
adanya pembimbingan dan pembinaan dari seorang pengawas atau supervisor.
Sehingga dapat diambil tindak lanjut, apakah program tersebut harus diteruskan
atau dihentikan, atau perlu pengembangan untuk selanjutnya.
4. Tindak Lanjut Supervisi Akademik
Hasil supervisi perlu ditindak lanjuti agar memberikan dampak yang nyata
dan dampak tersebut diharapkan juga dapat dirasakan oleh masyarakat dan para
pelaku pendidikan. Tindak lanjut tersebut berupa: penguatan dan penghargaan yang
diberikan kepada guru yang memenuhi standar, teguran yang sifatnya mendidik
diberikan kepada guru yang belum memenuhi standar, dan guru diberikan

14
Direkorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depertemen Agama RI,
Paduan Tugas Jabatan Fungsional Pengawas Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: 2000), h. 24

10
kesempatan untuk mengikuti pelatihan/ penataran lebih lanjut.15 Tindak lanjut
dari hasil analisis merupakan pemanfaatan hasil supervisi, isi materi pelatihan
tentang tindak lanjut hasil supervisi akan dibahas mengenai pembinaan dan
pemantapan instrumen.

METODE
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
lapangan (field research) dengan menggunakan penelitian kualitatif (qualitative
research). Penelitian kualitatif ini ditujukan untuk mendeskripsikan dan
menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi,
pemikiran orang serta individual maupun kelompok.16 Di samping itu penelitian
kualitatif cenderung menganalisa data secara induktif. Lexy Meleong
mengistilahkan penelitian ini sebagai penelitian kualitatif deskriptif, untuk
mendapatkan data berupa kata-kata, informasi tertulis dan lisan serta keadaan
pelaku yang sedang diteliti.17 Pendekatan ini dilakukan dengan tujuan dapat
memperoleh informasi atau data tentang implementasi supervisi pengawas
Pendidikan Agama Islamdan supervisi pada SMA Negeri di kota Banjarmasin.
Topik ini sehubungan dengan pentingnya peranan pengawas Pendidikan Agama
Islam bagi guru Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di kota Banjarmasin.
Adapun teknik penarikan kesimpulan dalam penelitian ini adalah dengan cara
induktif yakni suatu teknik penarikkan kesimpulan menggunakan fakta-fakta
khusus data-data yang akan diteliti, selanjutnya fakta-fakta tersebut ditarik
kesimpulan secara umum melalui pendekatan yang diarahkan kepada individu dan
latar belakang informan secara menyeluruh (holistik).
Data utama dalam penelitian ini mencakup perkataan atau pernyataan, atau
tindakan- tindakan yang diperoleh dari wawancara dan dokumentasi yang berasal
dari responden yang dianggap peneliti paling mengetahui secara detail dan jelas
mengenai fokus permasalahan yang sedang diteliti, serta dokumen-dokumen

15
Lantif Dian Prasojo dan Sudiyono, Supervisi Pendidikan, h. 120
16
Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikkan, Cet Ketiga, (Bandung
Remaja Rosdakarya, 2007), h.60
17
Lexy J Maleong, Metedologi Penelitian Kualitatif, (Bandung Remaja Rosdakarya, 2000),
h.3

11
penting yang dapat memberikan informasi penting terhadap implementasi
supervisi oleh pengawas Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di kota
Banjarmasin yang terdiri dari : 1) Program penyusunan supervisi oleh pengawas
Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di Kota Banjarmasin; 2) Pelaksanaan
supervisi pengawas Pendidikan Agama Islam padaSMA Negeri diKota
Banjarmasin; 3) Evaluasi hasil supervisi pengawas Pendidikan Agama Islam
padaSMA Negeri diKota Banjarmasin; 4) Tindak lanjut hasil supervisi Pengawas
Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di Kota Banjarmasin.
Dalam penelitian ini teknik analisa data yang digunakan adalah teknik
deskriptif. Analisis data merupakan penelaahan dan penyusunan secara sitematis
terhadap transkrip wawancara, catatan-catatan lapangan dan bahan-bahan
masukkan lainnya yang telah terkumpul untuk memperluas dan menambah
pengalaman serta berusaha untuk mengkomunikasikannya.18 Selanjutnya
disebutkan juga bahwa pada tahap ini melibatkan pekerjaan pengoganisasian data,
pelacakkan pola, penemuan hal-hal penting yang dapat dipelajari serta menemukan
apa yang harus disampaikan pada ornag lain. Sebab data dalam penelitian kualitatif
tidak berbentuk angka melainkan lebih banyak berupa narasi, deskripsi, cerita,
dokumen tertulis dan tidak tertulis (gambar atau foto), atau bentuk non angka
lainnya. Miles dan Huberman berpendapat, bahwa proses analisa data dengan
teknik diskriptif dilakukan dengan tiga alur kegiatan yang berlangsung secara
bersamaan, yakni: (a) reduksi data (data reduction), (b) paparan data atau
penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (conclution verifying).19
Metode yang digunakan dalam analisis data kualitatif adalah pendekatan induktif.
Pendekatan induktif dimaksudkan untuk membantu pemahaman tentang
pemaknaan data yang rumit melalui melalui pengembangan tema-tema yang
diikhtisarkan dari data kasar.20

18
Bogdan, R.C, Qualitative Reseach Education Introduction to Theory and Methodes,
(Boston, Allyn and Bacon Inc, 1982), h.65
19
Mattehew B. Miles et al, Analisa Data Kualitatif, Buku sumber tentang Metode-Metode
Baru, (terj) Cet 1, (Jakarta UI-Press 1992), h. 16
20
Lexi J Meleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cet ke-3 (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2007), h. 298

12
HASIL PENELITIAN
Implementasi Supervisi Akademik Tahap Perecanaan Program Pengawas
Pendidikan Agama Islam pada SMANegeri di Kota Banjarmasin
Implementasi supervisi akademik pada tahap perencanaan program oleh

Pengawas Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di Kota Banjarmasin.

Berdasarkan temuan peneliti, pengawas (Hb), Pengawas (Hn), dan pengawas (Hw)

dari pengawas Pendidikan Agama Islam yang peneliti jadikan objek penelitian telah

membuat program supervisi akademik berupa program tahunan, program semester,

program Rencana Kepengawasan Akademik. 3 (tiga) orang pengawas tersebut ,

membuat program supervisi akademik dengan format serta isi yang sama kerena

didapatkan dari Rakor Pokjawas. Pengawas (Sm) menyatakan membuat program

supervisi akademik, namun tidak dapat ditemukan bukti fisik untuk semua program

supervisi akademik tersebut. Secara umum para pengawas Pendidikkan Agama

Islam sudah memiliki dan membuat perencanaan program supervisi akademik serta

disusun melalui rapat Pokjawas Kota Banjarmasin secara bersama-sama. Meskipun

masih ada 1 (satu) orang pengawas yang belum ditemukan bukti fisiknya

berkenaan dengan perencanaan program supervisi akademik ini.

Implementasi Supervisi pengawas Pendidikan Agama Islam Tahap


Pelaksanaan pada SMA Negeri di Kota Banjarmasin.
Pada tahap pelaksanaan supervisi pengawas menggunakan dua teknik
supervisi, yaitu teknik supervisi individual dan teknik supervisi kelompok.
Beradasarkan temuan penelitian, pengawas (Hb), pengawas (Hn), pengawas (Hw)
menggunakan teknik individual berupa pertemuan individual langsung dan
wawancara serta diskusi dengan guru Pendidikan Agama Islam serta melakukan
pendelegesian kepada Kepala Sekolah untuk pembinaan yang berkelanjutan. Untuk
teknik kelompok pengawas (Hb), Pengawas (Hn), Pengawas (Hw) dan
pengawas (Sm) menggunakan MGMP sebagai wadah pembinaan. Berkenaan
pendekatan yang digunakan pengawas (Hb), Pengawas (Hn), Pengawas (Hw),

13
pengawas (Sm) menggunakan pengawasan tidak langsung (non direktif) karena
sikap pengawas yang lebih banyak bersikap menjelaskan, mengarahkan, dan
memberikan kesempatan pada guru untuk berusaha belajar berbagai hal tanpa
meminta bantuan kepada pengawas terlebih dahulu, sedangkan model supervisi
yang pengawas Pendidikan Agama Islam lebih banyak menggunakan model
tradisional, hal ini bisa dilihat dari sikap pengawas yang datang ke sekolah masih
mencari kesalahan-kesalahan guru. Berdasarkan paparan data tersebut maka
pengawas Pendidikan Agama Islam mengimplementasikan supervisi akademik
kepada guru Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di Kota Banjarmasin
secara umum sudah terlaksana dengan penggunaan berbagai teknik, pendekatan
serta model yang bervariasi.
Implementasi Hasil Evaluasi Supervisi Pengawas Pendidikan Agama Islam
Pada SMA Negeri di Kota Banjarmasin
Implementasi supervisi akademik pada tahap evaluasi oleh Pengawas
Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di Kota Banjarmasin, berdasarkan
temuan peneliti, berkenaan dengan evaluasi supervisi yang dilakukan oleh empat
orang pengawas Pendidikan Agama Islam, pengawas (Hb) dan (Hw) melaksanakan
evaluasi hasil supervisi dengan menganalisis istrumen administrasi perencanaan
pelaksanaan pembelajaran dan instrumen supervisi akademik, tanpa melakukan
kunjungan kelas. Pengawas (Nh) melaksanakan evaluasi hasil supervisi dengan
menganalisis instrumen dan melaksanakan kunjungan kelas namun pengawas (Nh)
tidak menggunakan observasi langsung saat guru-guru melakukan proses belajar
mengajar di kelas, tetapi, mengamati guru berada di luar kelas. sedangkan
pengawas (Mr) belum melaksanakan evaluasi hasil supervisi di sekolah binaannya,
kerena tidak ditemukan bukti pelaksanaan evaluasi supervisi di lapangan (sekolah
binaan) maupun berupa dokumen yang dilakukan oleh pengawas (Mr).
Implementasi Supervisi Akademik Pada Tahap Tindak Lanjut oleh Pengawas
Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di Kota Banjarmasin.
Implementasi supervisi akademik pada tahap tindak lanjut oleh Pengawas
Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di Kota Banjarmasin. Berkenaan
pelaksanaan tindak lanjut pengawas (Hb), pengawas (Nh), pengawas (Hw) dan
melakukan tindak lanjut berupa pembinaan langsung berupa pemberian motivasi,

14
teguran, pemberian nasihat, dan pemberian catatan berupa saran-saran pada kolum
tindak lanjut, sedangkan untuk pembinaan tidak langsung yang dilakukan oleh 3
(tiga) orang pengawas Pendidikan Agama Islam tersebut, berupa pemberian binaan
melalui MGMP PAI yang dilaksanakan di kota Banjarmasin oleh para guru-guru
Pendidikan Agama Islam. Pada tahap tindak lanjut ini peneliti tidak menemukan
bukti fisik berupa catatan-catatan hasil pelaksanan tindak lanjut, maupun kegiatan
pembinaan yang dilakukan pengawas pada tahap ini secara berkelanjutan.

Simpulan dan Saran


Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan serta analisis dapat ditarik simpulan
secara umum bahwa Implementasi Supervisi Pengawas Pendidikan Agama Islam
pada SMA Negeri di Kota Banjarmasin adalah :
1. Implementasi supervisi akademik pada tahap perencanaan program oleh
Pengawas Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di Kota Banjarmasin.
Berdasarkan temuan peneliti, pengawas Pendidikan Agama Islam pada SMA
Negeri di kota Banjarmasin telah membuat perencanaan supervisi Akademik
seperti program tahunan, program semester pengawas, Rencana
Kepengawasan Akademik (RKA), Pembuatan perencanaan program supervisi
akademik tersebut menggunakan format yang sama berdasarkan hasil
kesepakatan rapat kordinasi yang dilaksanakan oleh Pokjawas Kementerian
Agama Kota Banjarmasin. Pengawas PAI juga membuat jadwal kunjungan
sekolah dan guru selama satu semester. Sedangkan instrumen supervisi
akademik yang mereka gunakan untuk supervisi ke sekolah menggunakan
format dari Pokjawas namun pengawas diberikan kebebasan untuk
mengembangkan instrumen tersebut sesuai dengan sekolah dan guru yang
mereka bina.
2. Pada tahap pelaksanaan supervisi pengawas menggunakan dua teknik
supervisi, yaitu teknik supervisi individual dan teknik supervisi kelompok.
Beradasarkan temuan penelitian, secara umum pengawas PAI menggunakan
teknik individual berupa pertemuan individual langsung dan wawancara serta
diskusi dengan guru Pendidikan Agama Islam serta melakukan pendelegesian
kepada Kepala Sekolah untuk pembinaan yang berkelanjutan. Untuk teknik

15
kelompok pengawas menggunakan MGMP sebagai wadah pembinaan yang
bersifat kelompok dan memberikan arahan serta bimbingan secara menyeluruh
kepada guru-guru Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di kota
Banjarmasin. Berkenaan pendekatan supervisi pada tahap pelaksanaan oleh
pengawas PAI pada SMA Negeri di kota Banjarmasin menggunakan
pendekatan tidak langsung (non direktif), hal tersebut telihat dari proses
pengawasan oleh supervisor yang lebih banyak bersikap menjelaskan,
mengarahkan, dan memberikan kesempatan pada guru untuk berusaha belajar
berbagai hal tanpa meminta bantuan kepada pengawas terlebih dahulu,
sedangkan model supervisi yang pengawas Pendidikan Agama Islam lebih
banyak menggunakan model tradisional, hal ini bisa dilihat dari kegiatan
pengawas yang datang ke sekolah masih mencari kesalahan-kesalahan guru
dan tidak bersikap kooperatif dengan guru-guru PAI pada sekolah binaan
mereka. Berdasarkan paparan data tersebut maka pengawas Pendidikan
Agama Islam mengimplementasikan supervisi akademik kepada guru
Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di Kota Banjarmasin secara umum
sudah terlaksana dengan penggunaan berbagai teknik, pendekatan serta model
yang bervariasi.
3. Implementasi supervisi akademik pada tahap evaluasi oleh Pengawas
Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di Kota Banjarmasin, berdasarkan
temuan peneliti, berkenaan dengan evaluasi supervisi yang dilakukan oleh
empat orang pengawas Pendidikan Agama Islam, sebagian pengawas
melaksanakan evaluasi hasil supervisi dengan menganalisis istrumen
administrasi perencanaan pelaksanaan pembelajaran dan instrumen supervisi
akademik, tanpa melakukan kunjungan kelas serta ada pengawas juga
melaksanakan evaluasi hasil supervisi dengan menganalisis instrumen dan
melaksanakan kunjungan kelas serta ada sebagian pengawas mengevaluasi
tidak menggunakan observasi langsung saat guru-guru melakukan proses
belajar mengajar di kelas, serta ada pengawas yang tidak melaksanakan proses
evaluasi pada guru-guru PAI pada SMA di kota Banjarmasin saat
melaksanakan kunjungan ke sekolah maupun terhadap guru binaan mereka.

16
4. Implementasi supervisi akademik pada tahap tindak lanjut oleh Pengawas
Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di Kota Banjarmasin. Berkenaan
pelaksanaan tindak lanjut, secara umum pengawas melaksanakan tindak lanjut
berupa pembinaan langsung berupa pemberian motivasi, teguran, pemberian
nasihat, dan pemberian catatan berupa saran-saran pada kolum tindak lanjut,
sedangkan untuk pembinaan tidak langsung pengawas Pendidikan Agama
Islam memberian binaan melalui MGMP PAI yang dilaksanakan di kota
Banjarmasin oleh para guru-guru Pendidikan Agama Islam. Pada tahap tindak
lanjut ini peneliti tidak menemukan bukti fisik berupa catatan-catatan hasil
pelaksanan tindak lanjut, maupun kegiatan pembinaan yang dilakukan
pengawas pada tahap ini secara berkelanjutan.
Dari hasil temuan penelitian ini, peneliti menyarankan beberapa hal antara
lain:
1. Untuk Kepala Kantor Kementrian Agama Kota Banjarmasin disarankan dalam
hal pengangkatan pangawas Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di
Kota Banjarmasin agar memperhatikan syarat-syarat rekrutmen pengawas
yang sesuai dengan Peraturan Menteri Agama RI No.2 Tahun 2012 pasal 6
yang berkenaan dengan kualifikasi pengawas Pendidikan Agama Islam. Selain
itu perlu peningkatan pengawasan terhadap pengawas Pendidikan Agama
Islam SMA Negeri Kota Banjarmasin khususnya yang berkenaan dengan
masalah administrasi pengawas.
2. Untuk pengawas Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di Kota
Banjarmasin dalam menjalankan tugas kepengawasannya harus benar-benar
dilaksanakan dengan baik, mulai dari tahap perencanaan program,
pelaksanaan, evaluasi sampai tindak lanjut agar guru binaan merasa dibina,
dibantu dan dibimbing sehingga implementasi supervisi oleh pengawas
Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di Kota Banjarmasin terlaksana
secara lebih optimal.
3. Untuk Guru Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri di Kota Banjarmasin
agar lebih bersikap kooperatif terhadap pengawas, guru sebaiknya mempunyai
pemahaman bahwa supervisi digunakan untuk membantu guru dalam
meningkatkan profesionalismenya.

17
DAFTAR PUSTAKA

Aedi, Nur. Pengawasan Pendidikan (Tinjauan Teori dan Praktik), Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2014

Ametembun, N.A. Supervisi Pendidikan, Bandung, Suri, 1981.

Amin, Thaib. Standar Supervisi dan Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Ditmapenda,


2005

Arikunto, Suharsimi. Evaluasi Program Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.

_________. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka


Cipta, 2004.

Bogdan, R.C. Qualitative Reseach Education Introduction to Theory and


Methodes, Boston: Allyn and Bacon Inc, 1982.

Departemen Pendidikkan Nasional Republik Indonesia. Undang-Undang Republik


Indonesia, Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Jakarta: 2003

Depertemen Agama RI. Kepengawasan Pendidikan, Jakarta: 2004.

Dian, Lantif dan Sudiyono. Supervisi Pendidikan, Jogyakarta: Gava Media, 201.1

Direkorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depertemen Agama RI,


Paduan Tugas Jabatan Fungsional Pengawas Pendidikan Agama Islam,
Jakarta: 2000.

Direktorat Jenderal Pendidikan Agama Islam. Pedoman Pengawas Pendidikkan


Agama Islam, Jakarta: 2012.

Djudju, Sudjana,Evaluasi Program Pendidikan Luar Madrasah, Bandung: PT


Remaja Rosdakarya, 2006.

Kementerian Agama RI Tahun 2012, Pedoman Pengawas Pendidikan Agama Islam


di Sekolah, Jakarta: Kementerian Agama RI, 2012.

Koentjaraningrat. Metode Penelitian Masyarakat, Edisi ke-5, Jakarta: PT Gramedia


Pustaka, 1993.

Kunandar. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan


(KTSP)dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.

Makawimbang, Jerry H. Supervisis Klinis Teori dan Pengembangan( Analisis di


Bidang Pendidikkan), Bandung; Alfabeta, 2013.

18
Maleong, Lexy J. Metedologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya,
2000.

Masaong, Abd. Kadim. Supervisi Pembelajaran dan Pengembangan Kompetensi


Guru, Bandung: Alfabeta, 2012.

Miles, Mattehew B, et al. Analisa Data Kualitatif, Buku sumber tentang Metode-
Metode Baru, (terj) Cet 1, Jakarta : UI-Press 1992.

Mufidah, Luk-Luk Nur. Supervisi Pendidikan, Yogyakarta, Teras, 2009.

Mulyasa, E. Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung: PT Remaja


Rosdakarya, 2007.

Nazaruddin, Mgs. Manajemen Pembelajaran (Implementasi, Konsep, Karakteristik


dan Metodologi PAI di Sekolah Umum), Yogyakarta: Teras, 2007.

Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No. 2 tahun 2012 Tentang Pengawas
Madrasah dan Pengawas Pendidikan Agama Islam pada sekolah

Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan


Pendidikan Keagamaan.

Permendiknas RI No. 12 Tahun 2007, Tentang Standar Pengawas Sekolah/


Madrasah.

Sahertean, Piet A. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.

Suhardan, Dadang. Supervisi Profesional, Bandung: Alfabetha, 2010.

Sukmadinata, Nana Syaodih. Metode Penelitian Pendidikkan, Bandung: Remaja


Rosdakarya, 2007.

Supandi. Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Jakarta: Universitas Terbuka,


1996

Suryosubroto, B. Manajemen Pendidikan di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta, 2010

Syukur, Fatah. Manajemen Pendidikan Berbasis pada Madrasah, Semarang:


Pustaka Rizki Putra, 2011.

Tim Dirjen, Kelembagaan Agama Islam. Pedoman Pengembangan Administrasi


dan Supervisi Pendidikan, Jakarta: Depag RI, 2003.

Tim Dosen FIP IKIP Malang. Profesi Keguruan, Malang : IKIP Malang, 1995.
Penelitian Pendidikan Vol. 13 No. 1, April 2012.

19