Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM KESETIMBANGAN KIMIA

ANALISIS DAN PENENTUAN KONSTANTA DISOSIASI ASAM DENGAN


TITRASI pH YANG DIKONTROL DENGAN KOMPUTER

Nama : Sovia Masfuri W.S


NIM : 151810301044
Kelompok : 5
Asisten : Andriana Nur Aini

LABORATORIUM KIMIA FISIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2017
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ilmu analisis di dalam kimia terus dikembangkan menjadi lebih canggih seiring
dengan teknologi yang semakin pesat. Ilmu yang terus dikembangkan salah satnya ada
dalam bidang analisis kuantitaif yang berdasarkan pengukuran sifat larutan analit sebagai
bagian dari elektrokimia adalah elektroanalisis. Teknik pengukuran dalam elektroanalisis
adalah menggunakan teknik potensiometri. Potensiometri merupakan metode analisis
kimia secara kuantitatif yang didasarkan pada hubungan antara potensial elektroda relatif
dengan konsentrasi larutan dalam suatu sel kimia. Titrasi potensiometri merupakan salah
satu jenis potensiometri tidak langsung yang digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi.
Pengembangan dari teknik analisis potensiometri berawal dari penggantian elektroda
indikator dengan penggunaan dua elektroda pembanding (Hendayana, 1994).
Asam dan basa di alam dengan jenis yang bervariasi memiliki tingkat keasaman yang
bervariasi juga. Konstanta disosiasi asam (Ka) adalah tetapan kesetimbangan dari suatu
asam dan basa konjugatnya dalam larutan berair. Konstanta inilah yang menyatakan
tingkat keasaman bahan tersebut. Konstanta disosiasi berhubungan dengan derajat ionisasi
sehingga derajat ionisasi tidak bisa digunakan untuk menyatakan kekuatan asam atau basa
tanpa menyatakan kondisi-kondisi saat pengukuran. Klasifikasi asam kuat dan lemah bisa
diindentifikasi dari nilai Ka atau pKa. Semakin besar nilai Ka atau semakin kecil nilai pKa
maka tingkat keasaman akan bertambah (Syukri 1999).
Pengaplikasian reaksi asam basa pada kehidupan sehari-hari diantaranya
adalahpembuatan sabun cuci, pasta gigi, asam pada vitamin C, dan juga reaksi penetralan
sakit maag dengan obat antasida. Penggunaan senyawa bersifat asam atau basa banyak
digunakan oleh masyarakat luas pada kehidupan sehari-hari. Percobaan kali ini mengenai
analisis dan penentuan konstanta disosiasi asam dengan titrasi pH yang dikontrol dengan
komputer diperlukan agar masyarakat mengetahui kekuatan asam atau basa yang
digunakan dari nilai Ka setiap senyawa (Syukri, 1999).
1.2 Tujuan

Mengukur konstanta ionisasi dua asam dengan menggunakan teknik titrasi


potensiometrik
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 MSDS (Material Safety Data Sheet)


2.1.1 Akuades (H2O)
Akuades disebut juga Aqua Purificata (air murni) dengan rumus molekul H2O yang
dihasilkan dengan cara distilasi. Air tidak menyebabkan iritasi apabila terkena mata,
terhirup, dan tertelan. Tindakan pertolongan pertama jika terjadi kontak mata, kulit,
terhirup, atau tertelan pada air tidak berlaku karena air tidak berbahaya. Korban jika terjadi
iritasi segera dibawa ke pihak medis. Air pada umumnya tidak mudah terbakar dan
meledak sehingga data api dan ledakannya juga tidak ada. Air dapat bereaksi keras dengan
beberapa spesifik bahan. Hindari kontak dengan semua bahan sampai investigasi
menunjukkan substansi kompatibel. Akuades ini memiliki allotrop berupa es dan uap. Air
dihasilkan dari pengoksidasian hidrogen dan banyak digunakan sebagai bahan pelarut bagi
kebanyakan senyawa dan sumber. Akuades merupakan cairan tidak berwarna dan tidak
berbau. Derajat keasaman (pH) dari akuades adalah netral yaitu 7,0. Titik didih dan titik
lebur dari akuades berturut-turut adalah 100 oC dan 0 oC. Tekanan uap dari akuades pada
suhu 20 oC adalah 17,5 mmHg. Massa jenis dari akuades adalah 1,00 gram/cm3 dengan
berat molekul 18,0134 gram/mol (Anonim, 2017).

2.1.2 Asam Fosfat (H3PO4)


Asam fosfat dikenal sebagai asam ortofosfat atau fosfat (V) asam yang merupakan
mineral anorganik asam dengan rumus kimia H3PO4. Asam fosfat merupakan asam tidak
berwarna dan tidak berbau dengan titik leleh 21C dan titik didih 158C. Asam fosfat
bersifat korosif yang menyebabkan luka bakar. Asam fosfat berbahaya jika tertelan dan
kontak dengan kulit. Asam fosfat berbahaya melalui inhalasi, merusak selaput lendir,
saluran pernapasan, mata dan kulit. Penanganan awal yang dapat dilakukan yaitu segera
basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit, kelopak mata bawah dan atas
diangkat dan segera mendapatkan perlakuan medis. Asam fosfat ketika kontak dengan kulit
segera bilas kulit dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit dan sebaiknya
melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Korban perlu ditangani oleh dokter
dan cuci pakaian sebelum digunakan kembali(Anonim, 2017).
2.1.3 Natrium Hidroksida (NaOH)
NaOH (Natrium Hidroksida) berwarna putih, berbentuk pellet, serpihan, atau batang.
Natrium hidroksida termasuk basa yang sangat kuat, keras, dan rapuh. NaOH jika
dibiarkan di udara akan cepat menyerap karbondioksida karena bersifat higroskopis.
Kelarutannya mudah larut dalam air dan etanol tetapi tidak larut dalam eter. Titik lelehnya
sebesar 318C dan titik didihnya sebesar 1390C. NaOH membentuk basa kuat bila
dilarutkan dalam air, NaOH murni merupakan padatan berwarna putih, densitas NaOH
adalah 2,1 gram/mL. Senyawa ini sangat mudah terionisasi membentuk ion natrium dan
hidroksida.Natrium hidroksida bersifat berbahaya jika berkontak langsung dengan organ
tubuh seperti mata dan kulit karena akan menimbulkan iritasi. Kasus kontak dengan mata,
dapat menyebabkan luka bakar yang dapat mengakibatkan penurunan permanen
penglihatan, bahkan kebutaan. Mata dibasuh dengan banyak air selama minimal 15 menit,
angkat kelopak mata bawah dan atas dan segera mendapatkan perlakuan medis. NaOH
kontak dengan kulit dapat menyebabkan iritasi atau luka bakar dan bekas luka dengan
eksposur yang lebih besar. Kulit segera dibilas dengan banyak air sekurang-kurangnya 15
menit dan sebaiknya melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Segera panggil
dokter dan cuci pakaian sebelum digunakan kembali (Anonim, 2017).

2.1.4 Asam Asetat (CH3COOH)


Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat yang sederhana. Asam ini dapat
disebut juga asam etanoat, asam asetat glasial, asam metanakarboksilat, atau biasa disebut
asam cuka. Asam asetat adalah senyawa yang berupa cairan jernih tidak berwarna, berbau
tajam dan berwarna asam. Rumus molekul dari asam asetat ini adalah C 2H4O2 atau biasa
ditulis CH3COOH. Asam asetat mempunyai titik lebur 16,7oC dan memiliki titik didih
pada 118oC. Asam ini memiliki massa jenis 1,05 gram/mL dengan massa jenis uap sebesar
2,07 gram/L. Tekanan uap dari asam cuka adalah 11 mmHg pada suhu 20oC dan 30 mmHg
pada suhu 30oC. Asam asetat termasuk zat yang stabil. Bahan ini sangat korosif dan
menyebabkan luka bakar yang serius. Zat ini sangat berbahaya jika terkena mata, kulit,
tertelan, dan terhirup. Penanganan awal yang dapat dilakukan yaitu segera basuh mata
dengan banyak air selama minimal 15 menit, kelopak mata bawah dan atas diangkat dan
segera mendapatkan perlakuan medis. Asam asetat ketika kontak dengan kulit segera bilas
kulit dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit dan sebaiknya melepaskan pakaian
dan sepatu yang terkontaminasi. Korban yang tidak bernapas, berikan pernapasan buatan
atau berikan oksigen (Anonim, 2017).
2.2 Dasar Teori
Potensiometri merupakan metode analisis kimia yang didasarkan pada hubungan
antara potensial elektroda relatif dengan konsentrasi larutan dalam suatu sel kimia. Metode
ini digunakan untuk mengukur potensial, pH suatu larutan, menentukan titik akhir titrasi
dan menentukan konsentrasi ion-ion tertentu dengan menggunakan ion selective electrode
(ISE) secara instrumental sebagai pengganti indikator visual. Alat yang digunakan untuk
melakukan percobaan ini yaitu menggunakan potensiometri atau pH meter dengan
elektroda kerja dan referensi yang tercelup dalam larutan yang diukur. Hasil pengukuran
berupa harga potensional elektroda yang dapat dibuat kurva hubungan antara potensial (E)
dan volume pereaksinya (Hendayana, 1994).
Kelebihan metode potensiometrik mencakup biaya yang rendah. Voltmeter dan
elektroda jauh lebih murah daripada instrumen-instrumen saintifik yang paling modern.
Model-model yang cocok untuk potensiometrik langsung di lapangan yang jauh dari
laboratorium harganya tidak mahal, kompak, kuat, dan pemakaiannya mudah.
Potensiometri pada dasarnya bersifat nondestruktif terhadap sampel dalam artian bahwa
penyisipan elektroda tidak mengubah komposisi larutan uji (kecuali untuk sedikit
kebocoran elektrolit dari elektroda acuan). Spesies yang direspon oleh elektroda indikator
jika berpartisipasi dalam kesetimbangan dalam suatu larutan, maka aktivitasnya yang
diukur, tanpa mengganggu kesetimbangan itu sendiri. Potensiometri langsung seringkali
sangat bermanfaat untuk menetapkan tetapan kesetimbangan. Potensial-potensial yang
stabil sering diperoleh dengan cukup cepat, dan tegangan mudah dicatat sebagai fungsi
waktu. Potensiometri terkadang bermanfaat untuk pemantauan yang kontinyu dan tidak
diawasi untuk sampel-sampel seperti sumber air umum, aliran proses industri, limbah cair
yang mengalir untuk pH dan ion-ion lain seperti flourida, nitrat, sulfida, dan sianida.
Beberapa diantara elektroda-elektroda indikator yang tersedia memperhatikan kestabilan
pada kisaran yang luas dari aktivitas analit yang merupakan satu kelebihan penting dari
respons-respons Nerst (Day dan Underwood, 1998).
Potensiometri adalah salah satu cara pemeriksaan fisik kimia yang menggunakan
peralatan listrik untuk mengukur potensial elektroda. Potensial elektroda besarnya
bergantung pada kepekatan ionion tertentu dalam suatu larutan, sehingga untuk
perhitungan secara kuantitatif diperlukan persamaan Nernst :
E = Eo + K log (c) (1)

E = sel potensial yang diukur


Eo = konstan selama pemberian suhu
C = konsentrasi yang ditentukan
K = RT log (10) / n F
(Syukri, 1999).
Potensial suatu elektroda tidak dapat diukur sendiri, tetapi dapat ditentukan dengan
menggunakan elektroda indikator dan elektroda pembanding yang hanya memiliki harga
potensial yang tetap selama pengukuran. Elektroda pembanding yang diambil sebagai baku
international adalah elektroda hidrogen baku. Harga potensial elektroda ini ditetapkan nol
pada kesadahan baku (H+) = 1 M, tekanan gas H2 = 1 atm dan suhu 25o C, sedangkan gaya
gerak listrik (GGL) pasangan elektroda itu diukur dengan bantuan potensiometer yang
sesuai, dan sering digunakan peralatan elektronik voltmeter (Petrucci, 1987).
Potensial dalam titrasi potensiometri dapat diukur setelah penambahan sejumlah
kecil volum titran secara berturut-turut atau secara kontinu dengan perangkat otomatis.
Presisi dapat dinaikkan dengan menggunakan sel konsentrasi. Elektroda indikator yang
digunakan dalam titrasi potensiometri tentu saja akan bergantung pada jenis reaksi yang
sedang dilakukan. Suatu titrasi asam basa elektroda indikator dapat berupa elektroda
hidrogen atau elektroda lain yang peka untuk ion hidrogen. Titrasi pengendapan halida
dengan perak nitrat atau perak dengan klorida akan digunakan elektroda perak dan untuk
titrasi redoks besi(II) dengan dikromat digunakan kawat platinum semata-mata sebagai
elektroda redoks (Khopkar, 1990).
Kesetimbangan asam didalam air dapat dinyatakan dengan konstanta kesetimbangan,
konstanta kesetimbangan untuk asam dinyatakan Ka dan konstanta kesetimbangan untuk
suatu basa dinyatakan dalam Kb. Aktivitas air sebagai pelarut dianggap mempunyai nilai
satu. Nilai konstanta keasaman memiliki rentang nilai yang lebar, oleh karena itu akan
lebih mudah jika dinyatakan dalam bentuk logaritmanya (Atkins, 1990).
Asam mengalami disosiasi. Asam kuat seperti asam sulfat, terdisosiasi secara
sempurna. Asam lemah, misalnya asam asetat, hanya sedikit berdisosiasi.
+ + (2)
dimana HA dan adalah pasangan konjugat asam-basa. HA, asam yang tidak
berdisosiasi, dapat melepaskan proton, dan , basa konjugat, dapat menerima proton.
Nilai konstanta disosiasi (Ka) untuk suatu asam lemah mengisyaratkan kecenderungan
asam (HA) kehilangan protonnya dan membentuk basa konjugatnya ( ). Asam yang
lebih kuat memiliki kecenderungan lebih besar mengalami disosiasi sehingga memiliki
konstanta disosiasi yang lebih tinggi daripada asam lemah (Marks, 1996).
Sebuah asam yang hanya memberikan sebuah proton disebut asam monoprotik.
Asam karbonat, H2CO3, memberikan dua ion hidrogen dan disebut asam diprotik. H3PO4
adalah asam triprotik. Asam-asam yang melengkapi dua atau lebih proton disebut asam
poliprotik. Asam fosfat dan beberapa asam amino adalah asam poliprotik yang penting.
Fosfat terlibat sebagai penyangga dalam cairan tubuh sistem kehidupan, dan asam amino
adalah elemen penyusun protein. Perhitungan kesetimbangan asam poliprotik lebih
kompleks dari perhitungan untuk asam monopotik (Day dan Underwood, 1998).
Konstanta disosiasi asam (Ka) merupakan tetapan kesetimbangan untuk reaksi
pemindahan proton dari suatu asam ke air sehingga menghasilkan H3O+. Konstanta
disosiasi erat kaitannya dengan derajat disosiasi. Derajat disosiasi berhubungan dengan
konsentrasi sehingga derajat ionisasi ini tidak bisa dijadikan untuk menyatakan kekuatan
asam atau basa tanpa menyatakan kondisi-kondisi saat pengukuran, namun di sisi lain nilai
kesetimbangan disosiasi tak bergantung pada konsentrasi lebih tepatnya pada keaktifan
asam sehingga dapat memberikan ukuran kuantitatif yang paling memadai dari kekuatan
asam atau basa itu (Svehla, 1990).
Derajat kelarutan asam atau derajat disosiasi asam (pKa) dalam kimia digunakan
sebagai ukuran kelarutan suatu asam atau basa dalam pelarut air dengan kondisi standar (1
atmdan 25 C). Nilai pKa didefinisikan sebagai minus logaritma terhadap konsentrasi ion
H+ dalam larutan. Hal tersebut menyebabkan konsentrasi yang lebih tinggi memberikan
nilai yang lebih rendah. Ukuran kelarutan diukur dari banyaknya ionH+ dalam mol per liter
larutan atau molar terlarut. Air murni memiliki rumus kesetimbangan kelarutan
H2O H+ + OH- (3)
Air dapat terionisasi lemah sehingga pada keadaan ini banyaknya ion H+ sama dengan ion
OH-, yaitu 10-7 mol per liter. Dengan kata lain, pKa = 7 (Syukri, 1999).

pH pada separuh titik ekuivalen dalam titrasi suatu asam monoprotik, secara
sederhana dihubungkan dengan pK. Beberapa asam-basa Bronsted, HA dan A (muatan
dapat diabaikan):
HA H+ + A- (4)
[+][]
K= (5)
[]
Jadi, pada titik ekuivalen, apabila molaritas [A-] sama dengan [HA] pada persamaan (2.2),
maka [H+] sama dengan K. Persamaan ini disebut persamaan Henderson-Hasselbach.
Rumus baru dengan mengambil negatif log dari persamaan diatas dan penyusunan kembali
menghasilkan persamaan berikut ini:
[]
pK = pH = - log [] (6)

Asam poliprotik dengan pKa berturut-turut dapat berbeda tajam, berbagai kelas proton
yang dititrasi secara terpisah dan hal tersebut berlaku sama yaitu pH separuh volume
ekuivalen merupakan perkiraan baik untuk pK1, pH pada tiga perdua dari ekuivalen
pertama merupakan perkiraan baik untuk pK2 dan seterusnya (Tim Kimia Fisik, 2017).
Nilai pK untuk asam poliprotik tidak cukup baik dipisahkan karena lebih dari satu
reaksi kesetimbangan harus dianggap pada setiap titik selama proses titrasi. Proses titrasi
akan ada beberapa pasang asam-basa Bronsted pada konsentrasi yang sesuai dan terlihat
sama. Hal tersebut masih mempertahankan keabsahan beberapa titik dalam titrasi, dimana
satu pasangan konjugat akan mendominasi. pK2 dan pK3 tidak dapat terpisah baik pada
kasus sistein, karena perkiraan awal nilai yang diperoleh baik dari kurva titrasi pada tiga
atau lima paruh dari volume ekuivalen awal asam karboksilat. Hal tersebut dapat
menunjukkan bahwa pK1 adalah yang baik, karena berada pada pH setengah dari volume
ekuivalen (Petrucci, 1987).

Titrasi asam basa adalah penambahan secara hati-hati sejumlah larutan basa dengan
konsentrasi yang diketahui ke dalam larutan asam dengan konsentrasi yang tidak diketahui
(atau penambahan asam ke basa) untuk mencapai titik akhir. Titik akhir ditandai dengan
perubahan warna indikator atau kenaikan atau penurunan pH secara tiba-tiba, walaupun pH
campuran reaksi berubah secara kontinu selama proses titrasi asam-basa. Grafik pH lawan
volum dari larutan titrasi V disebut kurva titrasi. Bentuk dari kurva titrasi bergantung
bergantung pada nilai Ka dan konsentrasi asam dan basa yang bereaksi. Konsep
kesetimbangan asam-basa dapat dipakai untuk mencari bentuk yang tepat dari kurva titrasi
bila semua besaran ini diketahui. Konsep yang sama juga dapat digunakan untuk
menghitung Ka dan konsentrasi yang tidak diketahui berdasarkan kurva titrasi dari
percobaan. Titik dalam titrasi dimana jumlah basa yang ditambahkan sama dengan jumlah
asam yang adalah adalah titik ekuivalen. Volume basa yang ditambahkan sampai dengan
titik akhir disebut volume ekuivalen. Titik ekuivalen dalam titrasi asam kuat dengan basa
kuat konsentrasi OH dan 3 + harus sama dan pH sama dengan 7 dikarenakan oleh
autoionisasi air. Suatu garam semata-mata tidak terhidrolisis pada titik ini. Nilai pH akan
sebesar 7 pada titik ekuivalen hanya dalam titrasi asam kuat dengan basa kuat (atau
sebaliknya). Nilai pH pada titik ekuivalen tidak akan sebesar 7 jika asam lemah atau basa
lemah ikut serta dalam titrasi tersebut (Oxtoby, 2001).
BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
- Gelas beaker 250 mL
- Statif dan klem
- Botol infus
- Pipet tetes
- Pipet volume
- Ball pipet
- Gelas ukur
- Elektroda pH
- Komputer
- Magnetic stirrer dan anakan stirrer
3.1.1 Bahan
- Akuades
- NaOH 0,1 M
- Asam fosfat 0,1 M
- Asam Asetat 0,1 M
3.2 Skema Kerja
3.2.1 pK Suatu Asam Asetat

Asam Asetat

diambil 25 ml dan dimasukkan kedalam gelas beaker


dicelupkan elektrodanya dan dititrasi dengan larutan hidroksida
standar.
dialurkan data sebagai pH lawan volume NaOH dan ditetapkan
volume kesetaraan.
dibaca dari kurva pH pada separuh volume yang dibutuhkan mencapai
kesetaraan.
dicari pKa asam hingga mencapai titik ekuivalen.
dilaporkan nilai ini kepada asistan dan diulangi titrasi 2 kali untuk
mengetahui konsentrasi asam Asetat.

Hasil

3.2.2 Titrasi asam fosfat


Asam fosfat
dipipet sebanyak 25 mL dengan konsentrasi 0,1 M dan dimasukkan ke
dalam gelas piala 250 mL.
dicelupkan elektroda-elektrodanya dan dititrasi dengan larutan
hidroksida standar. Harus dijumpai dua patahan dalam kurva titrasi
yaitu sekitar pH 4-5 dan 9-10.
dialurkan kurva titrasi sebagai pH lawan volume titrasi NaOH.
ditetapkan molaritas larutan asam dan nilai pKa1 dan pKa2 asam
fosfat.
dilaporkan kepada asisten.
diulangi prosedur sebanyak 2 kali

Hasil
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Hasil pengamatan


Asam Asetat 0,1 M Asam Fosfat 0,1 M
pH
Pengulangan pH akhir V.Ekuivalen V.Ekuivalen
V.Ekuivalen akhir
titrasi I II
titrasi
1 556 mL 11,94 516 mL 972 mL 11,24

2 256 mL 11,89 316 mL 634 mL 11,33

4.1.2 Hasil pengolahan data


V. V.
Rata- Rata
Bahan Pengulangan Ekuivalen Ekuivalen pKa Ka
nilai Ka
(mL) I (mL) II
1 278 mL - 2,812 1,54 x 10-3
CH3COOH 1,39 x 10-3
-3
2 128 mL - 2,906 1,24 x 10
1,522 3 10-2 Ka1 = 2,6
1 258 mL 486 mL
1,582 2,6 10-2 x 10-2
H3PO4
1,652 2,2 10-2 Ka2=
2 158 mL 317 mL
1,597 2,5 10-2 2,55 x 10-2

4.2 Pembahasan

Praktikum kelima adalah analisis penentuan konsentrasi disoasiasi asam dengan


titrasi ph yang dikontrol dengan komputer. Tujuan dari percobaan ini adalah mengukur
konstanta ionisasi dua asam dengan menggunakan teknik titrasi potensiometrik. Konstanta
ionisasi menunjukkan banyaknya zat yang dapat teruarai menjadi ion-ionnya yang lebih
sederhana, dapat bersifat kuat ataupun lemah. Konstanta ionisasi kuat dimiliki oleh
senyawa elektrolit kuat yang memiliki nilai mendekati 1, sedangkan konstanta ionisasi
lemah dimiliki oleh senyawa elektrolit lemah dengan nilai antara 0 sampai 1. Konstanta
disosiasi dapat diartikan sebagai nilai tetapan kesetimbangan yang menunjukkan
banyaknya zat yang dapat diuraikan menjadi unsur-unsurnya yang lebih kecil dan
sederhana. Konstanta disosiasi diperoleh antara zat yang terdisosiasi, zat yang tidak
terdisosiasi serta komponen-komponennya. Metode titrasi potensiometri adalah teknik
pengukuran konsentrasi ion dalam suatu larutan yang berdasarkan potensial yang
ditimbulkan oleh elektroda pada arus yang sama dengan nol. Potensial dalam titrasi
potensiometri dapat diukur setelah penambahan sejumlah kecil volum titran secara
berturut-turut atau secara berkelanjutan dengan perangat otomatis. Konsentrasi ion yang
diukur pada percobaan ini adalah ion H+ pada larutan yang teruarai menjadi ion H+ dan
anionnya. Konsentrasi ion H+ inilah yang diubah menjadi nilai ph yang menjadi data hasil
pengukuran.

Proses titrasi yang dilakukan dengan menggunakan botol infus yang disertai dengan
infusion set dan digantung pada klem dan statif. Proses titrasi dengan menggunakan botol
infus pada percobaan yang dilakukan berbeda dengan titrasi yang menggunakan buret.
Proses titrasi penentuan konstanta ionisasi pada percobaan ini diperlukan penambahan
titran secara konstan agar volum ekuivalen yang diperoleh lebih akurat. Botol infus
dilengkapi dengan infusion set yang terdiri dari regulator. Regulator dalam infusion set
berfungsi untuk mengatur tetesan cairan dari botol infus dan dapat menghasilkan tetesan
dengan volume yang sama. Infus digunakan pada percobaan ini agar penambahan titran
terjadi secara konstan dan diketahui volum ekuivalen untuk mencari nilai Ka asam. Botol
infus yang digunakan harus digantung pada statif dan klem agar cairan dalam botol infus
dapat menetes secara konstan pada larutan yang akan dititrasi, apabila botol infus tidak
digantung maka larutan dalam botol infus tidak dapat menetes sehingga akan berhenti dan
menyumbat. Pengadukan pada larutan setelah ditetesi titran menggunakan magnetic stirrer
yang dilengkapi dengan anakan stirrer dalam gelas beaker berisi larutan yang dititrasi.
Magnetic stirer digunakan dengan tujuan agar larutan apat bercampur secara homogen
pada setiap penambahan titran di segala permukaan larutan dan hasil dari nilai pH yang
dibaca oleh elektroda dapat lebih akurat dan presisi.
Prosedur kerja yang harus dilakukan dalam percobaan ini adalah dua, yaitu
penentuan pKa suatu asam X dan titrasi asam fosfat. Asam X yang digunakan adalah asam
asetat 0,1 M. Asam asetat tergolong dalam asam monoprotik yang bersifat lemah dan asam
fosfat merupakan asam poliprotik lemah.Asam asetat (asam monoprotik) adalah asam yang
terdisosiasi dengan melepaskan satu proton pada setiap molekulnya. Reaksi disosiasi asam
asetat dapat dituliskan sebagai berikut :
CH3COOH(aq) + H2O(l) H3O+(aq) + CH3COO-(aq)

Konstanta disosiasi (Ka) dari asam tersebut dapatditentukan dengan persamaan sebagai
berikut:

[3 + ][CH3 ]
=
[3 ]

Asam asetat hanya memiliki satu nilai Ka, karena dalam ionisasinya asam asetat
hanya menghasilkan satu proton yang didalam air air akan membentuk ion hidronium
(H3O+). Penentuan nilai pKa dapat ditentkan dengan asam asetat 0,1 M dititrasi dengan
larutan NaOH 0,1 M.Asam asetat sebanyak 25 ml dipipet dan dimasukkan kedalam gelas
beaker yang ditambahkan dengan anakan stirrer sebagai pengaduk. Elektroda pH
dicelupkan dalam larutan asam asetat yang telah dihubungkan dengan komputer. Elektroda
pH tidak boleh menyentuh anakan stirer yang berada pada gelas beaker, karena jika
tersentuh maka elektodanya akan pecah. Elektroda pH digunakan untuk menentukan titik
ekivalen larutan yang dititrasi. Aplikasi labview adalah aplikasi yang digunakan untuk
mendeteksi nilai ph. Aplikasi labview tersebut diinstal pada komputer, sehingga komputer
yang terhubung dusah dilengkapi dengan aplikasi tersebut. Nilai ph asam asetat setiap
penambahan titran berupa NaOH dapat diketahui dalam komputer. Aplikasi labview adalah
sebuah software pemrograman seperti bahasa pemrograman lainnya yaitu C++, matlab atau
visual Basic. Labview juga mempunyai fungsi dan peranan yang sama, perbedaannya, yaitu
labview menggunakan bahasa pemrograman berbasis grafis atau block diagram sementara
bahasa pemrograman lainnya menggunakan basis text. Aplikasi dapat dimulai pada saat
pertama kali penambahan larutan NaOH. Data perubahan ph pada setiap penambahan
larutan NaOH dapat diketahui ditampilkan secara rinci, sehingga aplikasi ini sangat
bermanfaat dan memudahkan dalam penentuan nilai pH serta pembuatan kurva titrasi
volum NaOH yang dibutuhkan lawan pH.Titik ekuivalen dapat ditentukan dan terlihat
dngan adanya kurva tersebut.Titik ekuivalen adalah titik dimana jumlah mol asam sama
dengan jumlah mol basa yang ditambahkan begitu juga sebaliknya. Titik ekuivalen dapat
ditunjukkan saat pH larutan mencapai konstan atau perubahan pH relatif kecil. Aplikasi
dapat dihentikan saat pH dari asam asetat pada komputer konstan dan tetesan larutan
NaOH juga dihentikan.
Hasil pembacaan pH dan volume NaOH yang ditambahkan dapat diplotkan pada
grafik sehingga diperoleh kurva berikut ini pada penentuan pKa asam asetat pengulangan
pertama.

Kurva titrasi asam asetat pengulangan


pertama
15,000
y = 12.835x + 1425.5
10,000 R = 0.7563
pH

5,000 Series1
Linear (Series1)
0
0 200 400 600 800
Volume NaOH

Gambar 4.1. Kurva titrasi CH3COOH dengan NaOH (pengulangan 1)

Titik ekuivalen dari titrasi asam asetat dengan NaOH dapat diketahui melalui kurva diatas.
Penambahan larutan basa (NaOH) menikkan pH larutan mula-mula secara perlahan. Kurva
saat mencapai titik ekuivalen memiliki bentuk yang hampir lurus (vertikal). Peninggakatan
nilai pH secara tajam saat mendekati titik ekuivalen, dan akan meningkat perlahan setelah
melewati titik ekuivalen dan titrasi dihentikan saat peningkatan pH sudah konstan. Titik
ekuivalen berada pada daerah sekitar pH 7-11. Nilai pH pada titik ekuivalen diperoleh
dengan asumsi bahwa pH pada volume separuh volume titik ekuivalen. Berdasarkan grafik
tersebut volume ekuivalen berada pada 556 ml, sehingga ph pada titik ekuivalennya adalah
pada volume separuh ekuivalen yaitu 278 ml. pH yang terbentuk adalah 2,812. Volume
dari setengah ekuivalen tersebut digunakan karena pada titi tersebut HA dan A memiliki
konsentrasi sama, sehingga nilai ph dan pKa sama. Hal ini sesuai dengan persamaan
Henderson-Haselbach. Nilai Ka asam asetat dari grafik yang digambarkan adalah 1,54 x
10-3. Prosedur penentuan pKa asam asetat dilakukan secara duplo yang bertujuan untuk
mengetahui presisi pengukuran pKa dan untuk meminimalisir kesalahan yang terjadi.

Prosedur pada pengulangan kedua dilakukan sama dengan prosedur penentuan pKa
asam asetat pada pengulangan pertama. pH dan volume NaOH yang diperoleh dari aplikasi
labview pada komputer diplotkan pada sebuah kurva seperti berikut ini
Kurva titrasi asam asetat pengulangan kedua
14,000
12,000
y = 26.874x + 1588.4
10,000 R = 0.743
8,000
pH

6,000 Series1
4,000 Linear (Series1)
2,000
0
0 50 100 150 200 250 300 350
Volume NaOH

Gambar 4.2. Kurva titrasi CH3COOH dengan NaOH (pengulangan 2)

Berdasarkan grafik asam asetat pada pengulangan kedua dapat diketahu titik ekuivalen
berada daerah pH sekitar pH 6 11 sama dengan pengulangan pertama. Volume ekuivalen
berada pada volume 256 dan pH pada titik ekuivalen berada pada setengah volume
ekuivalen yaitu 128 dengan nilai pH 2,906. pH pada titik ekuivalen yang diperoleh pada
pengulangan kedua tidak jauh beda dengan pH ekuivalen pada pengulangan pertama yang
menunjukkan tingkat presisi cukup tinggi. Nilai pH dan pKa yang sama sesuai dengan
persamaan Henderson-Hasselbach dapat diketahui nilai Ka asam asetat pada pengulangan
kedua yaitu sebesar 1,24 x 10-3. Nilai Ka asam asetat pengulangan pertama tidak jauh beda
dengan Ka asam asetat pada pengulangan kedua. Rata-rata nilai Ka pada asam asetat pada
dua kali pengulangan adalah 1,39 x 10-3. Nilai konstanta disosiasi (Ka) asam asetat
berdasarkan literatur yaitu sebesar 1,8 x 10-5. Nilai Ka yang diperoleh pada percobaan
berbeda dengan nilai Ka asam asetat berdasarkan literatur sehingga nilai Ka asam asetat
yang diperoleh tidak sesuai dengan literatur. Hal tersebut kemungkinan terjadi karena laju
penetesan NaOH yang terlalu cepat sehingga penambahan tiap tetes NaOH yang terbaca
kurang maksimal pada aplikasi labview. Reaksi titrasi asam asetat dengan NaOH yaitu
sebagai berikut

CH3COOH(aq) + NaOH(aq) CH3COONa(aq) + H2O(l)

Penambahan NaOH ke dalam asam asetat mengahasilkan garam natrium asetat dan air.
Kedua grafik tersebut menunjukkan pH asam asetat mula-mula sekitar tiga akan terus
menerus naik selama titrasi berlangsung. Hal ini dikarenakan semakin banyak NaOH yang

ditambahkan, semakin banyak ion OH dari NaOH yang bereaksi dengan ion H+
membentuk air sehingga jumlah ion H+ yang berada dalam larutan semakin sedikit. Ion
H+yang dihasilkan semakin sedikit akan mengakibatkan pH larutan semakin besar.

Prosedur kedua yaitu titrasi asam fosfat dengan menggunakan larutan NaOH 0,1 M.
Asam fosfat merupakan asam poliprotik kaerna termasuk asam yang dapat melepaskan
lebih dari satu proton per molekulnya saat mengalami disosiasi sehingga memiliki nilai Ka
lebih dari satu. Reaksi penguraian atau disosiasi asam fosfat dan rumus tetapan
kesetimbangannya adalah sebagai berikut:

Penguraian asam fosfat pertama:

H3PO4(aq) + H2O(l) H3O+(aq) + H2PO4-(aq)

[3 + ][2 4 ]
1 = = 7,5 103
[3 4 ]

Penguraian asam fosfat kedua:

H2PO4-(aq) + H2O(l) H3O+(aq) + HPO42-(aq)

[3 + ][42 ]
2 = = 6,2 108
[2 4 ]

Penguraian asam fosfat yang ketiga:

HPO42-(aq) + H2O(l) H3O+(aq) + PO43-(aq)

[3 + ][43 ]
3 = = 4,8 1013
[42 ]

Nilai Ka dari asam fosfat memiliki korelasi,yaitu nilai Ka3 selalu lebih kecil dari Ka2 dan
Ka2 selalu lebih kecil dari Ka1, secara singkat dapat dituliskan bahwa 3 < 2 < 1 .

Teknik titrasi yang digunakan pada titrasi asam fosfat sama dengan titrasi pada
asam asetat. Larutan asam fosfat 0,1 M yang telah dicelupkan dengan elektroda pH dititrasi
dengan larutan NaOH 0,1 M hingga pH larutan menjadi konstan pada aplikasi komputer.
Reaksi yang terjadi antara asam fosfat dengan NaOH sesuai dengan pelepasan protonyaitu
:

H3PO4(aq) + NaOH(aq) NaH2PO4(aq) + H2O(l)


NaH2PO4(aq) + NaOH(aq) Na2HPO4(aq) + H2O(l)
Na2HPO4(aq) + NaOH(aq) Na3PO4(aq) + H2O(l)
Reaksinya apabila diringkas yaitu sebagai berikut:
H3PO4(aq) + NaOH(aq) Na3PO4(l) + 3H2O(l)
pH dan volume NaOH yang telah tercatat pada aplikasi labview diolah dengan program
microsoft excel dan diplotkan seperti kurva berikut ini

Kurva titrasi asam fosfat pengulangan pertama


12,000
10,000 y = 9.5873x - 318.74
8,000 R = 0.923

6,000
Series1
pH

4,000
Linear (Series1)
2,000
0
-2,000 0 200 400 600 800 1000 1200
Volume NaOH

Gambar 4.3. Kurva titrasi H3PO4 dengan NaOH (pengulangan 1)

Berdasarkan kurva titrasi asam fosfat tersebut dapat diketahui patahan kurva terdapat 2
bagian yaitu di sekitar pH 3-5 dan juga pH 8-10. Patahan atau lekukan kurva titrasi asam
fosfat ada dua dikarenakan oleh asam fosfat dapat melepaskan maksimal tiga proton
sehingga akan mempunyai Ka1,Ka2, dan Ka3. Kurva titrasi asam poliprotik dengan asam
monoprotik mempunyai perbedaan berupa jumlah patahannya. Asam monoprotik
menghasiilkan satu patahan, sedangkan asam poliprotik meghasilkan dua patahan dalam
kurvanya. Hal tersebut sesuai dengan jumlah proton yang dilepaskan dari masing-masing
asam ketika terjadi titrasi dengan larutan basa. Percobaan kali ini hanya menghitung Ka1
dan Ka2 sehingga kurva titrasi dihentikan sampai terbentuk 2 lekukan saja. Berdasarkan
kurva titrasi tersebut dapat ditentukan titik ekuivalen sebanyak dua titikpada setiap
pelonjakan nilai pH. Volume ekuivalen pertama pada volume NaOH 516 sehingga pH
pada titik ekuivalen berada pada setengah volume NaOH sebesar 258 dengan nilai pH
1,522. Nilai pH yang diperoleh dapat digunakan untuk menentukan nilai Ka melalui
persamaan Henderson-Hasselbach yaitu sebesar3 x 10-2 untuk Ka1asam fosfat. Volume
ekuivalen pertama pada titrasi digunakan untuk menentukan pH pada titik ekuivalen kedua
sehingga pH berada pada 1/2 volume ekuivalen kedua sebesar 486 dengan nilai pH 1,582.
Nilai Ka2asam fosfat yang diperoleh yaitu = 2,6 x 10-2. Nilai Ka1dan Ka2 asam fosfat pada
literatur yaitu 7,5 x 10-3 dan 6,2 x 10-8. Menurut nilai Ka asam fosfat dari literatur, nilai
Ka1dan Ka2 pengulangan pertama kurang sesuai dengan literatur. Hal tersebut mungkin
dikarenakan kurang tepatnya penentuan titik ekuivalen kurva titrasi sehingga nilai Ka
sedikit menyimpang. Kesalahan lain mungkin dikarenakan botol infus terlebih dahulu diisi
NaOH dengan rentang waktu cukup lama diletakkan dalam gelas beaker sehingga NaOH
yang bersifat higroskopis mempengaruhi nilai pH yang diperoleh saat titrasi.

Titrasi asam fosfat dilakukan secara duplo agar diperoleh data yang lebih akurat dan
presisi. Pengulangan kedua titrasi asam fosfat dilakukan dengan prosedur yang sama
dengan pengulangan pertama sehingga diperoleh kurva titrasi sebagai berikut

Kurva titrasi asam fosfat pengulangan


kedua
15,000

10,000 y = 14.589x - 81.241


R = 0.9412
Series1
pH

5,000
Linear (Series1)
0
0 200 400 600 800
-5,000
Volume NaOH

Gambar 4.4. Kurva titrasi H3PO4 dengan NaOH (pengulangan 2)

Berdasarkan kurva titrasi asam fosfat pada pengulangan kedua diperoleh 2 patahan juga
pada pH sekitar 3-5 dan pH 8-10. Volume ekuivalen pertama pada volume NaOH 316
sehingga pH pada titik ekuivalen berada pada setengah volume NaOH sebesar 158 dengan
nilai pH 1,652. Nilai pH yang diperoleh dapat digunakan untuk menentukan nilai Ka
melalui persamaan Henderson-Hasselbach yaitu sebesar 2,2 x 10-2 untuk Ka1asam fosfat.
Volume ekuivalen pertama pada titrasi digunakan untuk menentukan pH pada titik
ekuivalen kedua sehingga pH berada pada 1/2 volume ekuivalen kedua sebesar 317 dengan
nilai pH 1,597. Nilai Ka2asam fosfat yang diperoleh yaitu 2,5 x 10-2. Nilai Ka1dan Ka2
asam fosfat pada literatur yaitu 7,5 x 10-3 dan 6,2 x 10-8. Menurut nilai Ka asam fosfat dari
literatur, nilai Ka1dan Ka2 pengulangan kedua kurang sesuai dengan literatur. Hal tersebut
mungkin dikarenakan kurang tepatnya penentuan titik ekuivalen dan pH kurva titrasi
sehingga nilai Ka sedikit menyimpang. Kesalahan lain mungkin dikarenakan botol infus
terlebih dahulu diisi NaOH dengan rentang waktu cukup lama diletakkan dalam gelas
beaker sehingga NaOH yang bersifat higroskopis mempengaruhi nilai pH yang diperoleh
saat titrasi. Hasil yang tidak sesuai tersebut bisa juga disebabkan karena larutan yang
kurang homogen akibat anak stirrer yang kurang stabil dalam menghomogenkan larutan.
Rata-rata nilai Ka1 dar percobaan yang dilakukan sebesar 2,6 x 10-2, sedangkan nilai Ka2
rata-rata sebesar 2,55 x 10-2. Berdasarkan rata-rata dari Ka1 dan Ka2 yang diperoleh, Ka1
nilai nya lebih kecil daripada Ka2. Hal tersebut tidak sesuai dengan literatur yang ada. Nilai
Ka2 memiliki nilai yang lebih kecil daripada nilai Ka1. Hal ini dikarenakan hilangnya
proton dalam ionisasi pertama yang menyebabkan proton kedua akan terikat lebih kuat,
sehingga menebabkan semakin sulit untuk dilepaskan. Tetapan kesetimbangannya akan
bernilai lebih kecil. Proton (ion hidrogen) dalam air tidak dapat berdiri sendiri, maka akan
membentuk ion hidronium (H3O+).
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan mengenai analisis dan penentuan
konstanta disosiasi asam dengan titrasi pH yang dikontrol dengan komputer dapat diambil
kesimpulan bahwa nilai Ka rata-rata asam asetat pada pengulangan pertama dan
pengulangan kedua sebesar 1,39 x 10-3. Nilai Ka1 dan Ka2 asam fosfat pada pengulangan
pertama sebesar 3 x 10-2 dan 2,6 x 10-2. Nilai Ka1 dan Ka2 asam fosfat pada pengulangan
kedua yaitu 2,2 x 10-2 dan 2,5 x 10-2. Nilai Ka1 dari pengulangan pertama dan kedua
didapatkan rata-rata sebesar 2,6 x 10-2, sedangkan nilai Ka2 rata-rata sebesar 2,55 x 10-2.

5.2 Saran
Praktikkan harus memahami prosedur yang akan dilakukan pada percobaan yang
dilakukan. Teknik laboratorium harus dikuasai pada setiap praktikkan untuk meminimalisir
kecelakaan dalam laboratorium. Pembacaan kurva untuk menentukan titik ekuivalen harus
dilakukan dengan teliti agar hasil yang didapatkan maksimal dan mendekati nilai pada
literatur yang ada.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet Akuades. [Serial


online].http://www.scienelab.com/msds/php?msdsld=9927321.[19 Maret 2017].

Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet H3PO4. [Serial online].


http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927393.[19 Maret 2017].

Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet NaOH. [Serial


online].http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9926853.[19 Maret 2017].

Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet CH3COOH. [Serial


online].http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9922769.[19 Maret 2017].

Atkins, P. W.1990. Kimia Fisika Jilid 2 Edisi Keempat. Jakarta: Erlangga.

Day dan Underwood A.L. 1998. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: PT. Gramedia.
Hendayana, S. 1994. Kimia Analitik Instrumen. Semarang: Semarang Press.
Khopkar. S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia Press
Marks, Dawn B., dkk. 1996. Biokimia Kedokteran Dasar. Sebuah Pendekatan Klinis.
Jakarta:EGC

Oxtoby, David W. 2001. Prinsip Prinsip Kimia Modern. Jakarta:Erlangga

Petrucci, R. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Svehla, G. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro Edisi II.
Jakarta: Kalman Media Pustaka.

Syukri, S. 1999. Kimia Dasar Jilid 2. Bandung: ITB.


Tim Kimia Fisik. 2017. Penuntun Praktikum Kesetimbangan Kimia. Jember: Universitas
Jember.
LAMPIRAN

1) Asam Asetat-1

Kurva titrasi asam asetat pengulangan pertama


14,000
12,000
y = 12.835x + 1425.5
10,000 R = 0.7563
8,000
pH

6,000 Series1
4,000 Linear (Series1)
2,000
0
0 200 400 600 800
Volume NaOH

Volume ekuivalen = 556 mL


Volume ekuivalen = 278 mL
pKa = pH setengah volume ekuivalen= 2,812
pKa = - log Ka
Ka = 10-pKa
= 10-2,812
= 1,54 x 10-3
2) Asam Asetat-2

Kurva titrasi asam asetat pengulangan kedua


14,000
12,000
y = 26.874x + 1588.4
10,000 R = 0.743
8,000
pH

6,000 Series1
4,000 Linear (Series1)
2,000
0
0 50 100 150 200 250 300 350
Volume NaOH

Volume ekuivalen = 256 mL


Volume ekuivalen = 128 mL
pKa = pH setengah volume ekuivalen= 2,906
pKa = - log Ka
Ka = 10-2,906
= 10-2,906
= 1,24 x 10-3

Nilai rata-rata dari Ka asam asetat = 1,39 x 10-3


3) Asam Fosfat-1

Kurva titrasi asam fosfat pengulangan pertama


12,000

10,000 y = 9.5873x - 318.74


R = 0.923
8,000

6,000
Series1
pH

4,000
Linear (Series1)
2,000

0
0 200 400 600 800 1000 1200
-2,000
Volume NaOH

Volume ekuivalen I = 516 mL


Volume 1/2 ekuivalen = 258 mL ; pH = 1,522
pKa1 = pH (volume 1/2 ekuivalen)
= 1,522
pKa1 = - log Ka1
Ka1 = 10-1,522
= 3 10-2
Volume ekuivalen II = 972 mL
Volume 1/2 ekuivalen = 486 mL ; pH = 1,582
pKa2 = pH (volume 1/2 ekuivalen)
= 1,582
pKa2 = - log Ka2
Ka2 = 10-1,582
= 2,6 10-2
4) Asam Fosfat-2

Kurva titrasi asam fosfat pengulangan kedua


12,000
10,000 y = 14.589x - 81.241
R = 0.9412
8,000
6,000
Series1
pH

4,000
Linear (Series1)
2,000
0
0 200 400 600 800
-2,000
Volume NaOH

Volume ekuivalen I = 316 mL


Volume 1/2 ekuivalen = 158 mL ; pH = 1,652
pKa1 = pH (volume 1/2 ekuivalen)
= 1,652
pKa1 = - log Ka1
Ka1 = 10-1,652
= 2,2 10-2
Volume ekuivalen II = 634 mL
Volume 1/2 ekuivalen = 317 mL ; pH = 1,597
pKa2 = pH (volume 1/2 ekuivalen)
= 1,597
pKa2 = - log Ka2
Ka2 = 10-1,597
= 2,5 10-2
Rata-rata nilai Ka1 = 2,6 x 10-2

Rata-rata nilai Ka2 = 2,55 x 10-2