Anda di halaman 1dari 8

Kelompok 2 Kelas Transfer BPKP:

Bio Audi Hanantio


Luluk Lutfiana
Newin Ananta Aji S.

STANDAR AUDIT INTERNASIONAL DAN


PERKEMBANGANNYA
International Standards on Auditing adalah suatu standar kompetensi bagi
profesional yang bekerja di bidang auditing. ISA diterbitkan oleh International
Auditing and Assurance Standards Boards (IAASB) melalui International Federation
of Accountant (IFAC) pada tahun 2009. Dalam aktanya ditulis, International
Standards on Auditing (ISAs) are professional standards that deal with the
independent auditor's responsibilities when conducting an audit of financial
statements. ISAs contain objectives and requirements together with application and
other explanatory material. The auditor is required to have an understanding of the
entire text of an ISA, including its application and other explanatory material, to
understand its objectives and to apply its requirements properly, lebih jelas
lagi,auditor diharuskan untuk mengerti ISA, termasuk penerapannya dan isi
materinya, serta tujuannya. ISA memperbarui 20 standar lama juga menambah 1
standar baru.

ISA dibuat dengan tujuan meningkatkan kualitas bukti-bukti audit yang pada
akhirnya meningkatkan kualitas hasil audit.

International Standards on Auditing amat terkait dengan International Standard on


Quality Control. International Standards on Auditing ini mempunyai 5 bagian, yaitu :

1. Introduction mencakup tujuan, ruang lingkup, dan subjek materi;


2. Objective menjelaskan kepentingan auditor;
3. Definitions yang menjelaskan pengertian yang dibakukan ISA; Requirements
dalah bagian yang menjelaskan bagaimana auditor seharusnya..dan
4. Application and Other Explanatory Material menjelaskan bagaimana
pelaksanaan berikut prosedur serta penjelasan hal lain yang masih terkait.

Secara garis besar, ISA terdiri dari beberapa hal pokok, yaitu:

1. Tanggungjawab (responsibilities)
2. Perencanaan Audit (Audit planning)
3. Pengendalian Internal (Internal Control)
4. Bukti Audit (Audit evidence)
5. Penggunaan oleh Ahli (Using work of other experts)
6. Kesimpulan Audit dan Laporan Audit (Audit conclusions and Audit report)

International Auditing and Assurance Standards Board (IAASB) adalah merupakan


badan yang dibentuk oleh International Federation of Accountants (IFAC) sebagai
badan pembuat standar auditing dan assurance.
Di lingkup global, pada awalnya sebenarnya ada dua badan penyusun standar yang
berkaitan dengan praktik akuntansi secara internasional. Badan-badan itu adalah
The International Accounting Standards Committee (IASC) dan The International
Federation of Accountant (IFAC).

Kesepakatan pembentukan IASC terjadi pada Juni 1973 di Inggris yang diwakili
oleh organisasi profesi akuntansi dari sembilan negara, yaitu Australia, Canada,
Prancis, Jerman Barat, Jepang, Mexico, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat.
Sedangkan IFAC didirikan oleh badan profesi akuntan dari 63 negara pada bulan
Oktober 1977.

IASC lebih berkonsentrasi untuk menyusun International Accounting Standards


(IAS). Sedangkan IFAC lebih memfokuskan pada upaya pengembangan
International Standard Audits (ISA), kode etik, kurikulum pendidikan, dan kaidah-
kaidah bagi akuntan dalam berbisnis.
Standar yang diterbitkan oleh IAASB terbagi dalam tiga kategori. Pertama, standar
audit dan review informasi keuangan historis. Standar ini terdiri dari dua standar
yaitu : International Standard on Auditings (ISAs), dan International Standard on
Review Engagement (ISREs). Selanjutnya, untuk membantu penerapan standar
auditing, IAASB mengeluarkan International Auditing Practice Statement (IAPSs).
IAPS ini merupakan pedoman interpretasi dan bantuan praktis di dalam menerapkan
standar auditing. Dan untuk penerapan standar review, IAASB juga telah
mengeluarkan pedoman interpretasi dan batuan praktisnya. Pedoman ini diberi
nama International Review Engagement Practice Statement (IREPSs).
Kategori kedua, standar untuk penugasan assurance selain audit atau review
laporan keuangan historis. Untuk kategori kedua ini, IAASB mengeluarkan
International Standard Assurance Engagements (ISAEs). Dan untuk penerapan lebih
praktisnya, IAASB telah menerbitkan International Assurance Engagement Practice
Statements(IAEPS). IAEPS ini merupakan pedoman interpretasi dan bantuan praktis
didalam menerapkan standar assurance.
Kategori terakhir adalah standar untuk jasa lainnya. Untuk kategori ketiga ini, IAASB
menerbitkan International Standard on Related Services (ISRSs). Standar ini harus
diterapkan pada penugasan kompilasi, pengolahan informasi, dan jasa penugasan
lain. Untuk penerapannya, IAASB juga telah mengeluarkan pedoman interpretasi
dan bantuan praktis yang diberi nama International Related Service Practice
Statements (IRSPSs).
Selain mengeluarkan standar untuk pekerjaan auditor, IAASB juga mengeluarkan
standar untuk memberikan mutu pelayanan yang baik. Standar ini
dinamakan International Standard on Qualitiy Controls (ISQCSs).

IFAC dan Pronouncements-nya


IFAC didirikan pada tanggal 7 Oktober 1977 di Munich, Jerman.

Misi IFAC: Mendorong dan melanjutkan upaya konvergensi standar-standar secara


internasional.

A. Pembuat Standar di IFAC


1. The International Auditing and Assurance Standards Board (IAASB)
2. The International Accounting Education Standards Board (IAESB)
3. The International Ethics Standards Board for Accountants (IESBA)
4. The International Public Sector Accounting Standards Board (IPSASB)

B. Himpunan Pernyataan IFAC


ISAs
ISREs
ISAEs
ISRSs
ISQCs

C. Sistematika Pernyataan IFAC


1. Audit atas informasi keuangan historis
2. Audit dan reviu atas informasi keuangan historis
3. Penugasan asurans yang bukan merupakan audit atau reviu atas informasi
keuangan historis
4. Jasa-jasa terkait
5. Standar internasional mengenai pengendalian mutu
Menyongsong Adopsi ISA
A. Dari Harmonisasi Menuju Konvergensi
Dalam berbagai forum yang berkaitan dengan kegiatan akuntansi internasional
seperti IFRS, dikenal kedua istilah ini: harmonisasi dan konvergensi. Secara
sederhana, harmonisasi adalah upaya menyelaraskan standar-standar
(akuntansi, pengauditan, dan lain-lain) yang beraneka ragam. Periode
harmonisasi berlangsung sekitar tahun 1970-an sampai dengan 1990-an. Di
Indonesia, harmonisasi standar ini menjadi masukan dalam penyusunan standar
(standar setting) selama hampir seperempat abad.
Secara sederhana dunia akuntansi (standar setting, enforcement, dan accounting
governance) terbagi dalam 2 tradisi, yaitu tradisi Anglo-Saxon dimana negara
penganutnya disebut Anglo-Saxon countries dan tradisi Daratan Eropa dimana
negara penganutnya disebut Continental European countries.
Terdapat kajian-kajian yang menunjukkan adanya transformasi di negara-negara
besar, diantaranya kajian oleh Zimmerman, Werner, dan Volmer yang melihat
adanya transformasi di tiga negara, yaitu:
1. Amerika Serikat yang mengungguli Anglo-Saxon countries;
2. Jerman yang mengungguli Continental European countries;
3. Inggris mewakili Anglo-Saxon countries dan Jerman mengalami fase peng-
Eropanisasi-an (Europanization).

Konvergensi adalah konsekuensi logis dari globalisasi. Globalisasi dapat


dikatakan sebagai peningkatan dalam integrasi perekonomian dunia. Sehingga,
harmonisasi mengisyaratkan keselarasan, sedangkan konvergensi menuntut
adanya keseragaman.

B. Adopsi ISA dari Perspektif Lembaga Internasional


Report On The Observance Of Standards and Codes (ROSC) adalah laporan
hasil pemantauan dan kemajuan negara-negara anggota IFAC dalam
merencanakan dan mengimplementasikan IFRS dan ISA secara berkala oleh
Bank Dunia dan IMF. ROSC mengulas berbagai hambatan yang dihadapi
profesi, regulator, dan dunia usaha seperti UKM. Beberapa hambatan telah
dijawab dengan terbitnya Undang-Undang Akuntan Publik Nomor 5 Tahun 2011,
namun ada kelemahan yang dicatat dalam ROSC yakni belum seluruhnya diikuti
dengan aturan pelaksanaan dan penegakan hukumnya. ROSC untuk corporate
governance di Indonesia yang selesai pada Agustus 2004, memerinci praktik-
praktik corporate governance dan lingkungan korporasi, namun masih berada di
bawah persyaratan OECD Principles of Corporate Governance. Organization for
Economic Cooperation & Development (OECD) adalah organisasi untuk
kerjasama ekonomi dan pembangunan yang didirikan tahun 1948,
beranggotakan negara berpendapatan tinggi yang dipimpin oleh Amerika
Serikat dan Eropa. IAI mencapai banyak kemajuan dalam upaya konvergensi
dengan IFRS. ROSC terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut:
1. Pengantar (Introduction)
2. Kerangka Institusional (Institutional Framework)
3. Standar Akuntansi yang dirancang dan dipraktikkan (Auditing Standards as
Designed and Practiced).
4. Persepsi Mengenai Mutu Pelaporan Keuangan (Perception on The Quality of
Financial Reporting)
5. Rekomendasi Kebijakan (Policy Recommendations).

Telaahan ROSC menggunakan IFRS dan ISA sebagai acuan berdasarkan


pengalaman internasional dan good practices dalam bidang regulasi akuntansi
dan auditing. IAI telah memutuskan untuk beralih dari PSAK lama ke ISA secara
penuh mulai tahun buku 2007. ROSC mengusulkan perlunya petunjuk-petunjuk
yang memadai dan pelatihan yang mendalam bagi auditor.

Dalam Ringkasan Eksekutif pada ROSC, Indonesia harus beralih pada standar
akuntansi dan audit internasional (konvergensi dengan IFRS dan adopsi ISA)
dengan tujuan:
1. Menstabilkan pasar uang
2. Membina lingkungan yang ramah dalam berinvestasi
3. Meningkatkan transparansi keuangan
4. Meningkatkan praktik akuntansi dan audit
5. Melayani kebutuhan penyedia dan pengguna informasi keuangan

Indonesia sepenuhnya memutuskan sendiri dalam pengadopsian ISA, bukan


keputusan dari Bank Dunia dan IMF. Dalam mengadopsi ISA harus
memperhatikan segi kestabilan dan kemantapan pasar uang, pasar modal, dan
penanaman modal di Indonesia. ROSC AA Indonesia terakhir masih berupa draf
bertanggal 8 Maret 2011 dan belum diunggah pada situs Web IFAC. Termuat
kutipan dari draf ROSC alinea 37 dan 55 yang intinya bahwa telah ada niat IAPI
untuk mengkonvergensikan standar lokal dengan ISA dalam tahun 2011 namun
belum ada rencana rinci untuk setiap tahapan, saat ini masih sebatas jadwal
waktu target-target besar dan agenda.

C. Pengalaman Negara Lain


Terdapat hambatan-hambatan dalam penerapan standar internasional
berdasarkan pengalaman negara lain, diantaranya sebagai berikut:
1. Kesalahpahaman mengenai sifat standar internasional
Contoh: Negara ABC mengklaim bahwa ISA diwajibkan untuk semua
statutory audits, Namun standar-maha penting seperti ISA501, Audit
Evidence Additional Considerations for Spesific Items (mengenai auditing
terhadap segment information) dan ISA550, Related Parties belum
diterapkan.
2. Tidak ada atau minimnya mekanisme yang tepat untuk memberikan otoritas
bagi standar internasional di tingkat nasional
Contoh: Negara ABC dengan tradisi yang mengandalkan hukum dan
peraturan perundang-undangan (bukan standar), belum menerjemahkan ISA
karena memakan banyak waktu.
3. Tidak sejalannya standar internasional dengan kerangka hukum di negara
tersebut
Contoh: Undang-undang perseroan di negara ABC tidak memperkenankan
statutory auditor menolak memberikan pendapat, sedangkan ISA mewajibkan
TMP ketika dampak dari pembatasan lingkup begitu material dan pervasif
sehingga auditor tidak berhasil memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat.
4. Tidak ada atau minimnya keterkaitan antara pelaporan keuangan untuk tujuan
umum dan pelaporan yang ditentukan oleh regulator
Contoh: Di Negara ABC, bank-bank diwajibkan membuat laporan keuangan
statuter sesuai IFRS dan ketentuan akuntansi prudensial. Berdasarkan full
IFRS bank-bank tertentu memutuskan untuk menerbitkan seperangkat
laporan keuangan tambahan dan diaudit sesuai ISA. Namun laporan
tambahan tersebut tidak sejalan dengan ketentuan bank sentral mengenai
sistem telaah mutu.
5. Tidak tepatnya lingkup penerapan standar internasional
Contoh: Ketika menerapkan ISAs untuk mengaudit laporan keuangan dari
entitas yang dikelola pemiliknya dimana potensi terjadi management override
cukup besar, kecenderungan mutu audit pada entitas yang dikelola
pemiliknya tetap rendah sekalipun sudah ada petunjuk (misal IAPS 1005).
6. Tidak dapat diamatinya kepatuhan
Contoh: Di Negara ABC, penurunan nilai diperkenankan sebagai pengurang
pajak. Hasil ROSC menunjukkan bahwa penurunan nilai dimanfaatkan oleh
entitas yang mempunyai laba, sedangkan entitas yang merugi menolak
mengakui penurunan nilai. Auditor umumnya memberikan penekanan opini
masalah audit bukan opini audit yang berkualitas atas ketidakpatuhan.
Pemberian opini audit seperti ini keliru bagi ISA.
7. Hal-hal yang perlu diperbaiki dalam standar yang bersangkutan
Contoh: ROSC mengakui bahwa ada hal-hal yang masih harus diperbaiki dan
disempurnakan, khususnya pada ISAs seperti adanya peluang untuk
kompromi karena standar masih lemah.
8. Ketidaksesuaian antara ketentuan akuntansi dan auditing dengan permintaan
pasar
Contoh: Mekanisme corporate governance sedikit/ tidak bergantung pada
external disclosure, karena pemegang saham pengendali mempunyai akses
atas informasi internal yang tidak diungkapkan keluar.
9. Ketidaksesuaian antara ketentuan akuntansi dan auditing dengan
kemampuan untuk melaksanakannya
10. Ketidaksesuaian antara ketentuan akuntansi dan auditing dengan
kemampuan regulator atau pengawas untuk memaksakannya
Contoh: Regulator atau profesi harus memaksakan anggota profesinya
memenuhi standar atau ketentuan lain, misal ketentuan etika.
11. Peran khusus jejaring kantor akuntan internasional
Ada keinginan atau harapan bahwa jejaring kantor akuntan internasional
dapat mengimbangi kelemahan mutu (pelaporan keuangan) lokal.

D. Proyek ISA di Indonesia

Adopsi ISA Konvergensi IFRS

Proyek ISA

Cakupan IFRS sangat luas, melibatkan berbagai macam perusahaan, regulator


(seperti Bapepam-LK, BI) IAI, IAPI, akuntan publik, perguruan tinggi, dan
asosiasi lain yang berurusan dengan perusahaan, manajemen/ Direksi, Dewan
Komisaris, Komite Audit, dan pihak lain yang berkepentingan dan berminat
dengan IFRS.
Cakupan ISA terbatas pada Kantor Akuntan Publik (KAP) dan para praktisinya,
dengan perhatian dari Regulator (PPAJP, Kementerian Keuangan, dan
Bapepam-LK) dan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan/ pelatihan.
IAPI dan DSP IAPI berperan penting dalam Proyek ISA.
IFAC Lembaga internasional pencetus dan pendorong gagasan mengenai ISA
dan IFRS. Keanggotaan Indonesia diwakili oleh IAI.
Kewajiban anggota IFAC disebut Statements of Membership Obligation (SMO),
antara lain:
1. SMO 1 Membuat dan mempublikasi standar pengendalian mutu dan
petunjuk bagi KAP untuk mengimplementasikan sistem pengendalian mutu
sesuai ISQC.
2. SMO 2 Berkenaan dengan standar pendidikan bagi akuntan profesional,
petunjuk mengenai pendidikan bagi akuntan profesional, dan terbitan
mengenai pendidikan bagi akuntan profesional yang diterbitkan oleh EDCOM.
3. SMO 3 Berkenaan dengan standar pengendalian mutu, auditing, dan
asurans untuk anggota (IAPI)
4. SMO 4 Berkenaan dengan kode etik dan pernyataan lainnya yang
diterbitkan oleh the Ethics Committee of IFAC
5. SMO 5 Berkenaan dengan IPSASs dan petunjuk lain yang diterbitkan the
Public Sector Committee of IFAC
6. SMO 6 Berkenaan dengan investigasi dan penjatuhan sanksi dalam
pelanggaran perilaku
7. SMO 7 Berkenaan dengan IFRS yang diterbitkan oleh IASB.
Bank Dunia dan IMF Memonitor kemajuan negara-negara yang
mengimplementasikan IFRS dan ISA.
Faktor pendorong proyek ISA di Indonesia Indonesia sebagai negara anggota
G20 dimana Negara G20 mewakili 85% dari perekonomian dunia dan 67%
penduduk dunia.
Empat kategori negara yang mengadopsi ISA antara lain:
1. Kategori diwajibkan oleh undang-undang atau peraturan
2. Kategori ISA diadopsi Suatu badan atau lembaga yang menetapkan standar
nasional (seperti DSP IAPI) sebagai standar audit yang digunakan di negara
bersangkutan
3. Kategori ISAs adalah standar nasional adanya modifikasi standar namun
tetap sejalan dengan kebijakan modifikasi IAASB
4. Kategori lain-lain standar audit setempat didasarkan pada atau serupa
dengan ISAs. Indonesia masuk dalam kategori 4.

KAP mulai melaksanakan ISA bervariasi antara tahun 2000 2008.

Beberapa hal terkait pelaksanaan ISA:

Keputusan pengimplementasian audit berbasis ISA adalah keputusan


global, bukan keputusan KAP di Indonesia.
Klien Klien Eropa menerapkan ISA

Klien U.S U.S. GAAS


Implementasi ISA dimulai dengan melatih praktisinya

E. Tanggapan Klien atas ISA


1. Fee is not an issue
2. Kehilangan klien sangat jarang terjadi
3. Mendapat klien baru

F. Komunikasi dengan regulator


1. Informasi bahwa rencana dan implementasi ISA sudah dilaksanakan Big Four
2. Bersikap low profile
3. Hubungan dengan regulator adalah bagian tidak terpisahkan dari firm policy
4. Metodologi sudah mengadopsi ISAs
5. KAP tidak mempunyai kebijakan khusus untuk mengkomunikasikan ISA
kepada regulator.