Anda di halaman 1dari 16

BANK DAN LEMBAGA

KEUANGAN
( Mengukur Kesehatan Bank Umum dan BPR )
Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Bank dan Lembaga
Keuangan serta Menambah Wawasan Ilmu Pengetahuan

Oleh :

ANGGUN ANGGRAENI

113401013

EP-A

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SILIWANGI KOTA TASIKMALAYA

2012
LEMBAR PENGESAHAN/PENERIMAAN

Makalah ini telah diterima pada hari tanggal ..


Oleh :
Dosen Bank dan Lembaga Keuangan
Bpk. Budi Wahyu

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah swt. Karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya saya telah mampu menyelesaikan makalah yang berjudul Mengukur
Kesehatan Bank Umum dan BPR . Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
serta untuk menambah wawasan mata kuliah Bank dan Lembaga Keuangan.
Saya menyadari bahwa selama penulisan makalah ini saya banyak mendapat
bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, saya mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bpk Budi Wahyu. selaku dosen mata kuliah yang telah membantu kami
selama menyusun makalah ini.
2. Rekan-rekan seangkatan yang telah memotivasi saya untuk menyelesaikan
penyusunan makalah ini.
3. Semua pihak yang tidak bisa saya sebut satu per satu.

Semoga Allah swt. Memberikan balasan yang berlipat ganda.


Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak
kekurangan, baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisannya.oleh sebab
itu, saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan
makalah ini. Terakhir semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi saya dan bagi pembaca.
Amin.

Tasikmalaya, 14 Oktober 2012

Penulis

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN / PENERIMAAN .. i

KATA PENGANTAR .. ii

DAFTAR ISI .. iii

BAB 1 PENDAHULUAN .. IV

a. Latar Belakang Masalah .. IV

b. Rumusan Masalah .. V

c. Tujuan Makalah .. V

d. Kegunaan Makalah .. V

BAB 2 PEMBAHASAN .. 1

1. Pengertian Bank ( Bank Umum dan BPR ) .. 1

2. Pengertian Tingkat Kesehatan Bank .. 2

3. Penilaian Peningkatan Kesehatan Bank .. 2

BAB 3 PENUTUPAN .. 8

Kesimpulan .. 8

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Menurut undang-undang Pokok Perbankan No.7 Tahun 1992, yang ditegaskan lagi dengan Undang-
undang No.10 Tahun 1998, bank digolongkan menjadi 2 jenis yaitu : Bank Umum dan Bank Pengkreditan
Rakyat (BPR).

Bank adalah badan yang memberikan jasa pada penyimpanan uang, pengiriman uang serta permintaan
dan penawaran kredit. Kredit itu diberikan dan berasal dari modal sendiri maupun yang ditarik dari pihak
ke tiga. Yang pertama dinamakan relasi kredit yang kedua dinamakan perantara kredit.

Bank sebagai badan perantara kredit, baik dari uang sendiri atau uang orang lain yang tak
mempunyai kemampuan memutarkan uangnya sendiri, sebagai badan pembuat uang dan giro, serta sebagai
badan penyelenggara kredit-kredit yakin pembuatan uang dari yang tiada mengharuskan
pembelanjaannya berdasar kebijaksanaan bahwa kredit yang diterima adalah primer sedang
penggunaannya skunder. Hal ini sebagai kebalikan dari pada perusahaan yang membuat barang atau jasa
selain jasa bank.

Selain provisi atau komisi dan subsidi, keikutsertaan Bank dalam perusahaan dengan
menginvertarisasikan sebagai daripada modalnya berupa saham perusahaan, bank menerima deviden yang
merupakan pendapatan terpenting sebagai ganti dari membuangkan uangnya, dalam hal ini bank harus
dapat benar-benar menjaga likuiditas dan solvabilitasnya.

Kebijakan perbankan yang dikeluarkan dan dilaksanankan oleh BANK UMUM pada dasarnya
adalah ditujukan untuk menciptakan dan memelihara kesehatan, baik secara individu maupun perbankan
sebagai suatu sistem. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah seperti apakah bank yang disebut sehat
itu?
iv

B. RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang masalah yang saya uraikan, banyak permasalahan yang saya dapatkan.
Permasalahan tersebut antara lain :

1. Pengertian Bank ( Bank Umum dan BPR )

2. Pengertian tingkat kesehatan Bank

3. Penilaian peningkatan kesehatan Bank

C. TUJUAN MAKALAH

Sejalan dengan rumusan makalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan
mendeskripsikan :

1. Pengertian konsep Bank ( Bank Umum dan BPR )

2. Penerapan Bank dalam konsep tingkat dan penilaian kesehatan Bank dalam pembelajaran

3. Melatih mahasiswa menyusun makalah dalam upaya lebih meningkatkan pengetahuan dan
kreatifitas mahasiswa

4. Agar mahasiswa lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya tentang Bank serta
pengertian tingkat dan penilaian dalam kesehatan bank khususnya dalam pengukuran Bank Umum
dan BPR

D. KEGUNAAN MAKALAH

Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoritis ataupun secara praktis.
Secara teoritis makalah ini berguna sebagai pengembangan konsep penelitian dan secara praktis makalah ini
diharapkan bermanfaat agar :

1. Saya, sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan khususnya dalam konsep Bank
dan Lembaga Keuangan

2. Pembaca/Dosen, sebagai media informasi tentang pembahasan konsep Bank dan Lembaga
Keuangan, baik secara teorotis maupun praktis.
V

BAB 2
PEMBAHASAN

1. Pengertian Bank ( Bank Umum dan BPR )

Bank adalah suatu badan usaha yang melayani jasa penyimpanan dana (uang) bagi perusahaan, badan-
badan pemerintah atau perseorangan. Dan bukan hanya tempat menyimpan atau menabung tetapi juga
untuk berhutang atau kredit. Dan dengan memberikan kredit berarti bank juga memberikan pelayanan
kebutuhan dana untuk melaksanakan berbagai kegiatan ekonomi.

Menurut undang-undang pokok perbankan No.7 Tahun 1992. Dan ditegaskan lagi dengan undang-
undang No. 10 Tahun 1998, bank digolongkan memjadi duanjenis yaitu : Bank Umum dan BPR.

a. Bank Umum ( commercial Bank )

Bank yang menerima simpanan dalam bentuk Giro dan Deposito dan dalam usahanya yang utamanya
memberikan kredit jangka pendek. Bank umum jga dapat melaksanakan tugas dari pemerintah guna
mengembangkan sektor-sektor perekonomian.

Kegiatan bank-bank umum tidak dapat dipisahkan dari bidang keuangan karenanya, bank merupakan
tempat untuk melayani segala macam kebutuhan keuangan bagi para nasabahnya dengan kegiatan
utamanya yaitu :

Menghimpun dana dari masyarakat ( funding )

Menyalurkan dana ke masyarakat ( lending )

Memberikan jasa-jasa bank lainnya ( services )

Berikut yang termasuk dalam kategori Bank Umum ialah : BNI 1946, BRI, Bank Mandiri, BCA, BII dan
Citibank.

b. Bank Pengkreditan Rakyat ( BPR )

Bank Pengkredita Rakyat ini bank yang hanya menghimpun dana dan menyalurkan dana atau
memberikan kredit dan tidak diperbolehkan melakukan seperti : menerima simpanan berupa Giro, ikut
dalam lali lintas pembayaran, melakukan kegiatan penyertaan modal dan usaha perasuransian. Berikut
kegiatan umum Bank Pengkreditan Rakyat :
Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, tabungan, deposito berjangka
atau bentuk lainnya

1.

Memberikan pelayanan kredit

Menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil sesuai dalam peraturan
pemerintah

Menempatkan dananya dalam bentuk sertifikat Bank Indonesia, deposito berjangka, sertifikat
deposito dan tabungan pada bank lain

Bank Pekreditan Rakyat (BPR) yang merupakan bagian dari sistem Perbankan juga harus sehat supaya
bisa berkontribusi maksimal dalam menggerakan perekonomian secara keseluruhan. Yang menjadi
pertanyaan sekarang adalah bagaimana suatu kesehatan bank di ukur. Kesehatan suatu Bank Perkreditan
Rakyat (BPR) diukur dari lima faktor yaitu Capital, Asset, Management, Earning dan Liquidity yang sering
di singkat menjadi CAMEL.

2. Pengertian Tingkat Kesehatan Bank

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bank yang sehat adalah bank yang dapat menjalankan fungsi-
fungsinya dengan baik. Dengan kata lain, bank yang sehat adalah bank yang dapat menjaga dan memelihara
kepercayaan masyarakat, dapat menjalankan fungsi intermediasi, dapat membantu kelancaran lalu lintas
pembayaran serta dapat digunakan oleh pemerintah dalam melaksanakan berbagai kebijakannya, terutama
kebijakan moneter. Dengan menjalankan fungsi-fungsi tersebut diharapkan dapat memberikan pelayanan
yang baik kepada masyarakat serta bermanfaat bagi perekonomian secara keseluruhan.

Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik, bank harus mempunyai modal yang cukup, menjaga
kualitas asetnya dengan baik, dikelola dengan baik dan dioperasikan berdasarkan prinsip kehati-hatian,
menghasilkan keuntungan yang cukup untuk mempertahankan kelangsungan usahanya, serta memelihara
likuiditasnya sehingga dapat memenuhi kewajibannya setiap saat. Selain itu, suatu bank harus senantiasa
memenuhi berbagai ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan, yang pada dasarnya berupa berbagai
ketentuan yang mengacu pada prinsip-prinsip kehati-hatian di bidang perbankan.

3. Penilaian Peningkatan Kesehatan Bank


Penilaian tingkat kesehatan bank di Indonesia sampai saat ini secara garis besar didasarkan pada faktor
CAMEL (Capital, Assets Quality, Management, Earning dan Liquidity). Seiring dengan penerapan risk
based supervision, penilaian tingkat kesehatan juga memerlukan penyempurnaan. Saat ini BI tengah
mempersiapkan penyempurnaan sistem penilaian bank yang baru, yang memperhitungkan sensitivity to
market risk atau risiko pasar. Dengan demikian faktor-faktor yang diperhitungkan dalam system baru ini
nantinya adalah CAMEL. Kelima faktor tersebut memang merupakan faktor yang menentukan kondisi
suatu bank. Apabila suatu bank mengalami permasalahan pada salah satu faktor tersebut (apalagi apabila
suatu bank mengalami permasalahan yang menyangkut lebih dari satu faktor tersebut), maka bank tersebut
akan mengalami kesulitan.

2.

Sebagai contoh, suatu bank yang mengalami masalah likuiditas (meskipun bank tersebut modalnya
cukup, selalu untung, dikelola dengan baik, kualitas aktiva produktifnya baik) maka apabila permasalahan
tersebut tidak segera dapat diatasi maka dapat dipastikan bank tersebut akan menjadi tidak sehat.

Pada waktu terjadi krisis perbankan di Indonesia sebetulnya tidak semua bank dalam kondisi tidak
sehat, tetapi karena terjadi rush dan mengalami kesulitan likuiditas, maka sejumlah bank yang sebenarnya
sehat menjadi tidak sehat.

Meskipun secara umum faktor CAMEL relevan dipergunakan untuk semua bank, tetapi bobot masing-
masing faktor akan berbeda untuk masing-masing jenis bank. Dengan dasar ini, maka penggunaan factor
CAMEL dalam penilaian tingkat kesehatan dibedakan antara bank umum dan BPR. Bobot masing-masing
faktor CAMEL untuk bank umum dan BPR ditetapkan sebagai berikut :

Tabel Bobot CAMEL :

Bobot
No. Faktor CAMEL
Bank Umum BPR
1. Permodalan 25% 30%

2. Kualitas Aktiva Produktif 30% 30%

3. Kualitas Manajemen 25% 20%

4. Rentabilitas 10% 10%

5. Likuiditas 10% 10%

Perbedaan penilaian tingkat kesehatan antara bank umum dan BPR hanya pada bobot masing-
masing faktor CAMEL. Pelaksanaan penilaian selanjutnya dilakukan sama tanpa ada pembedaan antara
bank umum dan BPR. Dalam uraian berikut, yang dimaksud dengan penilaian bank adalah penilaian bank
umum dan BPR.

Dalam melakukan penilaian atas tingkat kesehatan bank pada dasarnya dilakukan dengan
pendekatan kualitatif atas berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan suatu
bank. Pendekatan tersebut dilakukan dengan menilai faktor-faktor permodalan, kualitas aktiva produktif,
manajemen, rentabilitas dan likuiditas.

Pada tahap awal penilaian tingkat kesehatan suatu bank dilakukan dengan melakukan kuantifikasi
atas komponen dari masing-masing factor tersebut. Faktor dan komponen tersebut selanjutnya diberi suatu
bobot sesuai dengan besarnya pengaruh terhadap kesehatan suatu bank.

Selanjutnya, penilaian faktor dan komponen dilakukan dengan system kredit yang dinyatakan
dalam nilai kredit antara 0 sampai 100. Hasil penilaian atas dasar bobot dan nilai kredit selanjutnya
dikurangi dengan nilai kredit atas pelaksanaan ketentuan-ketentuan yang lain yang sanksinya dikaitkan
dengan tingkat kesehatan bank.

3.

Berdasarkan kuantifikasi atas komponen-komponen sebagaimana diuraikan di atas, selanjutnya


masih dievaluasi lagi dengan memperhatikan informasi dan aspek-aspek lain yang secara materiil dapat
berpengaruh terhadap perkembangan masing-masing faktor. Pada akhirnya, akan diperoleh suatu angka
yang dapat menentukan predikat tingkat kesehatan bank, yaitu Sehat, Cukup Sehat, Kurang Sehat dan
Tidak Sehat.

Berikut ini penjelasan metode CAMEL :

1. Capital

Kekurangan modal merupakan gejala umum yang dialami bank-bank di negara-negara


berkembang. Kekurangan modal tersebut dapat bersumber dari dua hal, yang pertama adalah karena modal
yang jumlahnya kecil, yang kedua adalah kualitas modalnya yang buruk. Dengan demikian, pengawas bank
harus yakin bahwa bank harus mempunyai modal yang cukup, baik jumlah maupun kualitasnya. Selain itu,
para pemegang saham maupun pengurus bank harus benar-benar bertanggung jawab atas modal yang
sudah ditanamkan.

Berapa modal yang cukup tersebut? Pada saat ini persyaratan untuk mendirikan bank baru
memerlukan modal disetor sebesar Rp. 3 trilyun. Namun bank-bank yang saat ketentuan tersebut
diberlakukan sudah berdiri jumlah modalnya mungkin kurang dari jumlah tersebut. Pengertian kecukupan
modal tersebut tidak hanya dihitung dari jumlah nominalnya, tetapi juga dari rasio kecukupan modal, atau
yang sering disebut sebagai Capital Adequacy Ratio (CAR). Rasio tersebut merupakan perbandingan antara
jumlah modal dengan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR). Pada saat ini sesuai dengan ketentuan
yang berlaku, CAR suatu bank sekurang-kurangnya sebesar 8%.

2. Assets Quality

Dalam kondisi normal sebagian besar aktiva suatu bank


terdiri dari kredit dan aktiva lain yang dapat menghasilkan atau menjadi sumber pendapatan bagi bank,
sehingga jenis aktiva tersebut sering disebut sebagai aktiva produktif. Dengan kata lain, aktiva produktif
adalah penanaman dana Bank baik dalam rupiah maupun valuta asing dalam bentuk pembiayaan, piutang,
surat berharga, penempatan, penyertaan modal, penyertaan modal sementara, komitmen dan kontijensi
pada transaksi rekening administratif. Di dalam menganalisis suatu bank pada umumnya perhatian
difokuskan pada kecukupan modal bank karena masalah solvensi memang penting. Namun demikian,
menganalisis kualitas aktiva produktif secara cermat tidaklah kalah pentingnya. Kualitas aktiva produktif
bank yang sangat jelek secara implisit akan menghapus modal bank. Walaupun secara riil bank memiliki
modal yang cukup besar, apabila kualitas aktiva produktifnya sangat buruk dapat saja kondisi modalnya
menjadi buruk pula. Hal ini antara lain terkait dengan berbagai permasalahan seperti pembentukan
cadangan, penilaian asset, pemberian pinjaman kepada pihak terkait, dan sebagainya. Penilaian terhadap
kualitas aktiva produktif di dalam ketentuan perbankan di Indonesia didasarkan pada dua rasio yaitu:

4.

1) Rasio Aktiva Produktif Diklasifikasikan terhadap Aktiva

Produktif (KAP 1). Aktiva Produktif Diklasifikasikan menjadi Lancar, Kurang Lancar, Diragukan dan
Macet. Rumusnya adalah :

Penilaian rasio KAP dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

Untuk rasio sebesar 15,5 % atau lebih diberi nilai kredit 0 dan
Untuk setiap penurunan 0,15% mulai dari 15,49% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimum 100.

2) Rasio Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif terhadap Aktiva

Produktif yang diklasifikasikan (KAP 2). Rumusnya adalah :

Penilaian rasio KAP untuk perhitungan PPAP dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut untuk
rasio 0 % diberi nilai kredit 0 dan untuk setiap kenaikan 1 % dari 0 % nilai kredit ditambah 1 dengan
maksimum 100.

3. Management
Manajemen atau pengelolaan suatu bank akan menentukan sehat tidaknya suatu bank. Mengingat
hal tersebut, maka pengelolaan suatu manajemen sebuah bank mendapatkan perhatian yang besar dalam
penilaian tingkat kesehatan suatu bank diharapkan dapat menciptakan dan memelihara kesehatannya.

Penilaian faktor manajemen dalam penilaian tingkat kesehatan bank umum dilakukan dengan
melakukan evaluasi terhadap pengelolaan terhadap bank yang bersangkutan. Penilaian tersebut dilakukan
dengan mempergunakan sekitar seratus kuesioner yang dikelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu
kelompok manajemen umum dan kuesioner manajemen risiko.

5.

Kuesioner kelompok manajemen umum selanjutnya dibagi ke dalam sub kelompok pertanyaan yang
berkaitan dengan strategi, struktur, sistem, sumber daya manusia, kepemimpinan, budaya kerja. Sementara
itu, untuk kuesioner manajemen risiko dibagi dalam sub kelompok yang berkaitan dengan risiko likuiditas,
risiko pasar, risiko kredit, risiko operasional, risiko hukum dan risiko pemilik dan pengurus.

4. Earning

Salah satu parameter untuk mengukur tingkat kesehatan suatu bank adalah kemampuan bank
untuk memperoleh keuntungan. Perlu diketahui bahwa apabila bank selalu mengalami kerugian dalam
kegiatan operasinya maka tentu saja lama kelamaan kerugian tersebut akan memakan modalnya. Bank yang
dalam kondisi demikian tentu saja tidak dapat dikatakan sehat.

Penilaian didasarkan kepada rentabilitas atau earning suatu bank yaitu melihat kemampuan suatu
bank dalam menciptakan laba. Penilaian dalam unsur ini didasarkan pada dua macam, yaitu :

1) Rasio Laba terhadap Total Assets (ROA / Earning 1). Rumusnya adalah :

Penilaian rasio earning 1 dapat dilakukan sebagai berikut untuk rasio 0 % atau negatif diberi nilai
kredit 0, dan untuk setiap kenaikan 0,015% mulai dari 0% nilai kredit ditambah dengan nilai maksimum
100.

2) Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (Earning 2). Rumusnya adalah :
Penilaian earning 2 dapat dilakukan sebagai berikut untuk rasio sebesar 100% atau lebih diberi nilai
kredit 0 dan setiap penurunan sebesar 0,08% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimum 100.

6.

5. Liquidity

Penilaian terhadap faktor likuiditas dilakukan dengan menilai dua buah rasio, yaitu rasio
Kewajiban Bersih Antar Bank terhadap Modal Inti dan rasio Kredit terhadap Dana yang Diterima oleh
Bank. Yang dimaksud Kewajiban Bersih Antar Bank adalah selisih antara kewajiban bank dengan tagihan
kepada bank lain. Sementara itu yang termasuk Dana yang Diterima adalah Kredit Likuiditas Bank
Indonesia, Giro, Deposito, dan Tabungan Masyarakat, Pinjaman bukan dari bank yang berjangka waktu
lebih dari tiga bulan (tidak termasuk pinjaman subordinasi), Deposito dan Pinjaman dari bank lain yang
berjangka waktu lebih dari tiga bulan, dan surat berharga yang diterbitkan oleh bank yang berjangka waktu
lebih dari tiga bulan.

Liquidity yaitu rasio untuk menilai likuiditas bank. Penilaian likuiditas bank didasarkan atas dua
maca rasio, yaitu :

1) Rasio jumlah kewajiban bersih call money terhadap Aktiva Lancar. Rumusnya adalah :

Penilaian likuiditas dapat dilakukan sebagai berikut untuk rasio sebesar 100% atau lebih diberi nilai
kredit 0, dan untuk setiap penurunan sebesar 1% mulai dari nilai kredit ditambah 1 dengan maksimum 100.

2) Rasio antara Kredit terhadap dana yang diterima oleh bank. Rumusnya adalah :
Penilaian likuiditas 2 dapat dilakukan sebagai berikut untuk rasio 115 atau lebih diberi nilai kredit 0
dan untuk setiap penurunan 1% mulai dari rasio 115% nilai kredit ditambah 4 dengan nilai maksimum 100.

7.

BAB 3
PENUTUPAN

KESIMPULAN :

Menurut undang-undang pokok perbankan No.7 Tahun 1992. Dan ditegaskan lagi dengan undang-
undang No. 10 Tahun 1998, bank digolongkan memjadi duanjenis yaitu : Bank Umum dan BPR.

Bank adalah suatu badan usaha yang melayani jasa penyimpanan dana (uang) bagi perusahaan, badan-
badan pemerintah atau perseorangan.

Bank sebagai badan perantara kredit, baik dari uang sendiri atau uang orang lain yang tak
mempunyai kemampuan memutarkan uangnya sendiri, sebagai badan pembuat uang dan giro, serta sebagai
badan penyelenggara kredit-kredit yakin pembuatan uang dari yang tiada mengharuskan
pembelanjaannya berdasar kebijaksanaan bahwa kredit yang diterima adalah primer sedang
penggunaannya skunder. Hal ini sebagai kebalikan dari pada perusahaan yang membuat barang atau jasa
selain jasa bank.

Sebagai lembaga intermediasai, peran perbankan cukup penting dalam perekonomian. Bila sistem
perbankan sehat maka perekonomian negara akan dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Perbankan yang sehat akan mampu menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi dengan baik, yaitu
dengan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada
masyarakat dalam bentuk kredit. Melalui sistem perbankan yang sehat dana mengalir dari pihak yang
mengalami surplus dana kepada yang membutuhkanya (defisit).

Bank Pekreditan Rakyat (BPR) yang merupakan bagian dari sistem Perbankan juga harus sehat
supaya bisa berkontribusi maksimal dalam menggerakan perekonomian secara keseluruhan. Yang menjadi
pertanyaan sekarang adalah bagaimana suatu kesehatan bank di ukur. Kesehatan suatu Bank Perkreditan
Rakyat (BPR) diukur dari lima faktor yaitu Capital, Asset, Management, Earning dan Liquidity yang sering
di singkat menjadi CAMEL yang meliputi :

1. Capital (Permodalan)
Penilaian Pemodalan dimaksudkan untuk mengevaluasi kecukupan modal bank dalam mengcover eksposur
risiko saat ini dan mengantisipasi eksposur risiko di masa datang. Penilaian terhadap faktor pemodalan
didasarkan pada rasio modal terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) atau yang dikenal
dengan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) atau Capital Adequacy Ratio (CAR).

2. Asset (Asset)

Penilaian asset dimaksudkan untuk mengevaluasi kondisi aset Bank dan kecukupan manajemen risiko
kredit. Penilaian terhadap faktor kualitas asset didasarkan pada 2 (dua) rasio yaitu: rasio Aktiva Produktif
Yang Diklasifikasikan terhadap Aktiva Produktif dan rasio Penyisihan Aktiva Produktif yang dibentuk oleh
Bank terhadap Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang wajib dibentuk oleh Bank.

8.
3. Management (Manajemen)

Penilaian Manajemen dimaksudkan untuk mengevaluasi kemampuan menajerial pengurus Bank dalam
menjalankan usahanya, kecukupan manajemen risiko dan kepatuhan bank terhadap ketentuan yang berlaku
serta komitmen kepada Bank Indonesia.

4. Earning (Rentabilitas)

Penilaian rentabilitas dimaksudkan untuk mengevaluasi kondisi dan kemampuan rentabilitas Bank dalam
mendukung kegiatan operasioanal dan permodalan. Penilaian terhadap faktor rentabilitas didasarkan pada
2 (dua) rasio yaitu rasio Laba sebelum Pajak dalam 12 bulan terakhir terhadap Rata-Rata Volume Usaha
dalam periode yang sama atau yang dikenal dengan istilah Return On Asset (ROA) dan rasio Biaya
Operasional dalam 12 bulan terakhir terhadap Pendapatan Operasional dalam periode yang sama atau yang
dikenal dengan istilah BOPO.

5. Liquidity (Likuiditas)

Penilaian likuiditas dimaksudkan untuk mengevaluasi kemampuan Bank memelihara tingkat likuiditas yang
memadai dan kecukupan manajemen resiko likuiditas. Penilaian terhadap faktor likuiditas didasarkan pada
2 (dua) rasio yaitu rasio alat Likuid terhadap Hutang Lancar atau yang dikenal dengan Cash Ratio (CR) dan
rasio Kredit terhadap Dana Yang Diterima oleh Bank atau yang lebih dikenal dengan Loan to Deposit
Ratio (LDR).
Kelima aspek diatas harus dikelola secara seimbang dan maksimal untuk menciptakan suatu BPR yang
sehat. Bila suatu aspek mengalami gangguan maka hal ini akan merembet ke aspek lainya yang
menyebabkan BPR tidak sehat dan berpengaruh buruk terhadap perekonomian suatu wilayah.
9.