Anda di halaman 1dari 7

1 Bale Papelik

2 Gedong Sari
3 Bale Pasamuan
4 Bale Sakulu
5 Bale Gedong
6 Bale Agung
7 Pamedal

PURA BANUA KAWAN


Pura Banua Kawan terletak di sebelah timur jalan raya yaitu di timur parkir kendaraan
menghadap ke selatan. Di sini diistanakan Batari Sri dan hari piodalannya jatuh pada
hari Sukra Umanis Kelawu. dahulunya di sebelah timur pura ini agak ke selatan terdapat
sebuah lumbung padi untuk tempat menyimpan sebagian dari padi hasil sawah druwe Pura
Besakih. Sekarang lumbung ini sudah tidak ada dan akan diusahakan untuk dibangun
kembali. Dengan adanya lumbung ini diharapkan sebagai sarana permohonan
untuk penginih-inih, artinya segala yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan
dapatlah dipenuhi, meskipun sederhana tetapi cukup.

Makna di Balik Simbol Pura Banua

Pura Banua merupakan salah satu kompleks Pura Besakih yang berisi simbol-simbol sakral
yang dapat kita gali nilai-nilai simbolisnya. Ada nilai-nilai penuh makna di balik simbol yang
berada di Pura Banua tersebut. Secara umum Pura Banua itu adalah sebagai media
pemujaan pada Tuhan untuk memohon kekuatan spiritual agar umat mampu mengelola
kekayaan alam ciptaan Tuhan itu secara produktif dan efisien. Seperti apa Pura Banua itu?

Sesungguhnya manusia lahir ke bumi ini telah dibekali kekayaan berupa naluri untuk
mempertahankan dan mengembangkan hidupnya. Dalam Atharvaveda.VII.115.3
menyatakan bahwa sesungguhnya manusia lahir dengan bekal kekayaan yang ada dalam
dirinya. Kekayaan itu berupa naluri untuk hidup dan berkembang. Hal itu tergantung pada
manusia itu sendiri. Manusia hendaknya berusaha untuk mengelola hidupnya dan
menyingkirkan naluri yang buruk dan mengembangkan naluri yang baik. Maksudnya upaya
mencari kekayaan itu hendaknya dibatasi untuk mengembangkan jati diri sebagai makhluk
hidup ciptaan Tuhan.

Sebagai ciptaan Tuhan manusia memiliki kemampuan untuk menguasai dirinya agar tidak
terjebak oleh gejolak indrianya. Indria yang dapat dikuasai akan dapat menjadi kekuatan
untuk menguatkan eksistensi diri konsisten berjalan di atas jalan dharma.

Upaya untuk mengembangkan naluri hidup yang positif dan mencegah naluri yang negatif
tidak mudah dilakukan tanpa tuntutan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apalagi
mengelola sumber daya alam yang tergantung pada hukum Rta. Untuk melindungi naluri
yang positif itu Tuhan dipuja sebagai Batari Sri sebagai Sakti Dewa Wisnu pelindung
kekayaan. Adanya Pelinggih Gedong sebagai sarana pemujaan Batari Sri sebagai media
untuk mengembangkan spirit dalam bentuk berbagai ide dan gagasan-gagasan untuk
membangun kemakmuran bersama.

Ide maupun gagasan-gagasan tersebut bersumber dari pengembangan spiritual dari proses
pemujaan pada Batara Sri sebagai manifestasi Tuhan. Dengan demikian ide maupun
gagasan tersebut bersifat strategis jangka panjang. Artinya ide dan gagasan tersebut tidak
akan sampai merusak alam itu sendiri sebagai sumber mengembangkan kemakmuran.
Kalau dari awal pengembangan kemakmuran itu dengan pendekatan spiritual maka upaya
mencari kemakmuran itu tidak akan bergeser dari kemakmuran untuk hidup bukan
kemakmuran untuk mengembangkan keserakahan.

Karena kalau rakus dasarnya maka kemakmuran itu akan membawa malapetaka bagi
manusia. Akan muncul ketidakadilan. Dari ketidakadilan itu akan muncul permusuhan di
antara sesama manusia. Karena keserakahan itu muncul dari pengembangan naluri yang
tidak baik. Atharvaveda tersebut menyatakan agar manusia berusaha untuk membuang
naluri-naluri kotor. Dengan berkonsentrasi pada pemujaan pada Batari Sri itu sebagai media
religius untuk membendung dan membuang naluri kotor tersebut.

Pemujaan Batari Sri di samping dengan media Pelinggih Gedong juga dengan media Dewa
Nini yang disimbolkan dengan seikat padi terpilih dengan hiasan ritual khas Hindu di Bali.
Simbol Dewa Nini ini mengandung makna agar ide-ide dan gagasan-gagasan tersebut
diwujudkan dalam tataran fragmatis, sehingga tidak mengawang-awang tanpa wujud.
Simbol Dewa Nini ini diambil dari padi terpilih agar menjadi contoh untuk terus
dikembangkan secara produktif dengan tetap memperhatikan aspek-aspek strategis jangka
panjang.

Simbol stana Dewa Nini ini menggunakan padi sebagai simbolnya mengandung makna
bahwa ide dan gagasan kemakmuran itu benar-benar nyata wujudnya seperti padi dengan
kualitas terpilih itu. Kemakmuran itu hanya angan-angan saja. Dewa Nini ini di stanakan di
bagian hulu dari Jineng sebagai media penghormatan kepada Dewa Nini simbol Pradana
dari Batara Sri tersebut. Pradana adalah lambang wujud meterial sebagai wadah Purusa.

Jineng atau lumbung itu adalah sebagai tempat menyimpan padi bukan beras dan juga
menyimpan sumber bahan makanan yang lainnya seperti jagung dan padi-padian lainnya.
Hal ini melambangkan agar penggunaan hasil kekayaan yang diusahakan dari bumi ini
digunakan secara hemat dan tepat. Menyimpan dalam bentuk padi itu bertujuan untuk
menghemat secara tepat. Agar jangan menggunakan hasil kekayaan bumi ini dengan cara
yang tidak benar.

Dalam Atharvaveda VII.115.4. dinyatakan ada kekayaan yang menguntungkan dan ada
kekayaan yang tidak menguntungkan. Dalam Mantra Veda tersebut disertai dengan suatu
doa semoga kekayaan yang menguntungkan selalu menyertai dan kekayaan yang tidak
menguntungkan menjauh. Hal ini bermaksud agar manusia dalam menggunakan kekayaan
itu tidak hanya menggunakan pendekatan hawa nafsu semata.

Kekayaan itu merugikan karena cara penggunaannya yang tidak menggunakan nilai-nilai
kerohanian. Kekayaan tersebut akan senantiasa menguntungkan kalau penggunaannya
menggunakan pendekatan daya spiritual dan kecerdasan intelektual. Agar daya spiritual itu
berkembang maka dalam mengelola kekayaan itu dilakukan pemujaan pada Dewi Sri Sakti
Dewa Wisnu. Lumbung itu simbol untuk memotivasi umat agar bisa hidup yang hemat
dengan tepat.

Agar pengelolaan kekayaan hasil bumi ini ditiru oleh umat seluruhnya maka Jineng di Pura
Banua ini adalah sebagai induknya Jineng di seluruh Bali. Dalam Rgveda VIII.45.41 ada
suatu doa sbb: Ya Tuhan Yang Mahaesa, semoga melimpahkan kekayaan yang patut kami
ditiru yang tersimpan di pegunungan atau di bawah tanah atau yang terbenam di samudera
yang jumlahnya tak terhingga.

Mantra Rgveda ini dapat kita pahami sebagai suatu doa agar dalam mengelola kekayaan
bumi ini senantiasa mendapat tuntunan Tuhan, sehingga pengelolaan kekayaan di bumi ini
menjadi contoh bagi masyarakat luas. Dewasa ini bumi sudah semakin rusak karena
pengelolaan kekayaan yang tersimpan di dalam bumi ini menggunakan pendekatan
hedonistis. Artinya bumi diolah untuk memenuhi kenikmatan inderawi tanpa kendali.

Adanya balai Pesamuan dengan delapan tiang itu sebagai simbol bahwa dalam mengelola
bumi ini dengan hasil-hasilnya hendaknya dilakukan dengan memperhatikan aspirasi
masyarakat luas. Segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan bersama harus dipikirkan
bersama dengan semangat musyawarah, sehingga tidak ada yang merasa ditinggalkan.
Kekayaan alam yang dikandung bumi ini bukan untuk suatu golongan tertentu saja.
Kekayaan tersebut untuk semua umat manusia, termasuk makhluk hidup lainnya.
Demikianlah nampaknya nilai-nilai yang tersembunyi di balik simbol sakral di Pura Banua
Besakih. * wiana

http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/5/9/bd2.htm

Pura Banua Hulunya Lumbung di Bali


Vaisyah krsivalah karyo-
gopah sasya bhrtvratah,
vartayukto grhopatah-
ksetra palo tha Vaisyah.
(Slokantara, 37)

Maksudnya:
Swakarma vaisya varna adalah bertani, mengembala ternak mengumpulkan padi-padian,
berdagang, mengusahakan rumah penginapan dan menjadi pelindung ladang.

BERTANI dan beternak merupakan mata pencaharian awal dari manusia sebelum adanya
perkembangan industri barang maupun industri jasa. Dari bertani dan beternak itulah
munculnya usaha dagang sebagai lapangan pekerjaan untuk melangsungkan kehidupan.
Orang yang bekerja di sektor ekonomi ini disebut Vaisya Varna dalam sistem profesi untuk
mendapatkan mata pencaharian berdasarkan Weda.

Tugas petani sebagai Vaisya Varna di samping memproduksi hasil-hasil tersebut agar dapat
digunakan sehemat mungkin. Tentunya tidak sampai mengurangi fungsinya untuk
membangun hidup sehat sejahtera lahir batin. Memproduksi sumber-sumber kebutuhan
hidup sehari-hari itu dan juga menggunakannya agar hemat dan tepat guna bukan
pekerjaan yang dapat dilakukan begitu saja.

Pekerjaan itu harus dilakukan dengan ilmu pengetahuan dan juga ketenangan hati.
Membina sikap hidup produktif yang hemat tepat guna dapat dilakukan dengan memulainya
dari pemujaan pada Tuhan. Pemujaan ini untuk menumbuhkan bahwa pemahaman bahwa
Tuhan menghendaki agar semua ciptaan-Nya ini tidak ada yang tersia-siakan. Swami Satya
Narayana menyatakan bahwa ada empat hal yang tidak boleh diboroskan. Empat hal ini
adalah rezeki, makanan, tenaga, dan waktu.

Hidup produktif dan hemat itu ditanamkan juga dalam sistem pemujaan pada Tuhan oleh
umat Hindu di Bali. Karena hidup produktif dan hemat itu salah satu cara untuk membangun
hidup yang sejahtera. Hal itu dikembangkan di salah satu kompleks Pura Besakih yang
disebut Pura Banua. Di pura ini Tuhan dipuja sebagai Dewa Sri, Sakti Dewa Wisnu sebagai
Dewi Kemakmuran.

Pura Banua ini salah satu kompleks Pura Besakih yang juga berkedudukan sebagai hulunya
lumbung di Bali. Pura ini terletak bersebelahan dengan Pura Basukian di kanan jalan
menuju Pura Penataran Agung Besakih. Kata banua dalam bahasa Bali kuno artinya desa
menurut pengertian sekarang. Banua dalam pengertian yang lebih luas adalah suatu
wilayah pemukiman untuk membina kerja sama membangun dan memelihara kesejahteraan
hidup bersama yang produktif dan hemat. Pelinggih atau bangunan suci yang paling utama
di pura ini adalah sebuah pelinggih berbentuk Gedong sebagai stana pemujaan Batari Sri
sebagai sakti atau power-nya Dewa Wisnu sebagai Dewa Kemakmuran.

Di pura ini ada sebuah jineng dalam ukuran besar yaitu lumbung padi menurut tradisi umat
Hindu di Bali. Sayang lumbung yang disebut jineng itu setelah rusak tidak diperbaiki lagi
sehingga bangunan tersebut terhapus. Di lumbung besar itulah hasil-hasil tanah laba Pura
Besakih disimpan.

Umat Hindu di Bali kalau memanen padi di sawah umumnya menyisihkan seikat kecil
padinya terus diupacarai dan distatuskan sebagai simbol Dewa Nini. Dewa Sri yang dalam
hal ini disebut Dewa Nini. Seikat padi yang disimbolkan sebagai Dewa Nini inilah yang
distanakan di bagian hulu atau keluwan di ruangan dalam lumbung yang ada di Pura Banua
tersebut. Mungkin karena kurang paham akan makna jineng atau lumbung itu maka saat
rusak tidak lagi diperbaiki karena saat ini tidak ada lagi orang menyimpan padi dengan cara
tradisi seperti dahulu.

Sesungguhnya adanya jineng itu jangan dilihat dari fungsi nyata (sekala) dewasa ini. Jineng
di Pura Banua itu hendaknya dilihat dari sudut niskala sebagai simbol sakral. Simbol sakral
berupa jineng itu sebagai media untuk menanamkan sikap hidup produktif dan hemat
kepada umat. Ke depan ada baiknya jineng itu dibangun kembali untuk dijadikan media
menanamkan nilai-nilai spiritual kepada generasi penerus agar ia bisa hidup produktif dan
hemat sebagai cara membangun hidup yang makmur secara berkelanjutan.

Untuk masyarakat awam ajaran agama yang abstrak itu divisualisasikan dalam bentuk
simbol. Dengan simbol itulah berbagai hal bisa dijelaskan secara lebih mudah kepada umat
kebanyakan. Apa lagi simbol tersebut terkait dengan pemujaan pada Dewi Sri, Sakti Dewa
Wisnu manifestasi Tuhan sebagai Dewi Kemakmuran. Kehadiran Tuhan sebagai Dewa
Kemakmuran diwujudkan sebagai Dewi Sri di pelinggih Gedong dan sebagai Dewa Nini di
lumbung pura.

Dewi Sri lambang Tuhan dalam spirit kemakmuran, sedangkan Dewa Nini dalam wujud
kongkretnya. Dewi Sri ibarat jiwa atau Purusa-nya, sedangkan Arca Dewa Nini sebagai
wujud fisik atau Pradana-nya. Demikianlah dapat diumpamakan. Karena itu Dewa Nini itu
disimbolkan dengan seikat padi. Padi yang dijadikan simbol Dewa Nini itu tentunya padi dari
pilihan yang terbaik sehingga menjadi contoh produksi untuk diupayakan oleh masyarakat
petani mempertahankan kualitas produknya.

Ini artinya seikat padi terpilih sebagai simbol arca itu, di samping bermakna sebagai simbol
sakral ia juga memiliki nilai sebagai simbol material untuk dijadikan contoh oleh pada petani
dalam mempertahankan dan mengembangkan kualitas produknya.

Di Pura Banua ini di samping ada Gedong dan Jineng stana Dewi Sri dan Dewa Nini ada
juga Balai Pesamuan yang terletak di sebelah kiri Gedong Dewi Sri. Balai Pesamuan ini
bertiang delapan dan dibagi menjadi dua bagian yang disekat dengan sebilah papan. Balai
Pesamuan ini sebagai tempat bertemunya para pemimpin masyarakat Desa Besakih
dengan telah ditentukan tempat duduknya masing-masing.

Balai Pesamuan ini sebagai simbol bahwa dalam membangun kehidupan ekonomi agraris
itu tidak bisa para petani berjalan sendiri-sendiri. Apa lagi kehidupan petani sangat
tergantung pada iklim dan musim yang ditentukan oleh dinamika alam. Para petani harus
mendapat tuntunan dari para akhli dan praktisi astronomi yang dalam ajaran Weda disebut
Jyothisa.

Di samping ditentukan oleh musim bertani itu juga ditentukan oleh hari baik atau dewasa
menanam padi. Yang juga amat menentukan adalah manajemen irigasi. Hal-hal inilah yang
akan menjadi pembahasan umat petani dalam mengembangkan kemakmuran bersama.
Hidup bersama itu harus dikembangkan berbagai kebijakan melalui suatu musyawarah agar
semua informasi yang ada dapat ditata sesuai dengan fungsi dan profesi yang dimiliki oleh
masyarakat bersangkutan.* i ketut gobyah
PURA BANUA
Pura Banua/Pura Banua kawan terletak di sebelah timur jalan raya yaitu di timur
parkir kendaraan menghadap keselatan. Di sini diistanakan Batari Sri dan hari piodalannya
jatuh pada hari Sukra Umanis Kelawu. Dahulunya di sebelah timur pura ini agak ke selatan
terdapat sebuah lumbung padi untuk tempat menyimpan sebagian dari padi hasil
sawah druwe Pura Besakih. Sekarang lumbung ini sudah tidak ada dan akan diusahakan
untuk dibangun kembali. Dengan adanya lumbung ini diharapkan sebagai sarana permohonan
untuk penginih-inih, artinya segala yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan
dapatlah dipenuhi, meskipun sederhana tetapi cukup. Pura Banua merupakan salah satu
kompleks Pura Besakih yang berisi simbol-simbol sakral yang dapat kita gali nilai-nilai
simbolisnya. Ada nilai-nilai penuh makna di balik simbol yang berada di Pura Banua
tersebut. Secara umum Pura Banua itu adalah sebagai media pemujaan pada Tuhan untuk
memohon kekuatan spiritual agar umat mampu mengelola kekayaan alam ciptaan Tuhan itu
secara produktif dan efisien.
Pura Banua ini salah satu kompleks Pura Besakih yang juga berkedudukan sebagai
hulunya lumbung di Bali. Pura ini terletak bersebelahan dengan Pura Basukian di kanan jalan
menuju Pura Penataran Agung Besakih. Kata banua dalam bahasa Bali kuno artinya desa
menurut pengertian sekarang. Banua dalam pengertian yang lebih luas adalah suatu wilayah
pemukiman untuk membina kerja sama membangun dan memelihara kesejahteraan hidup
bersama yang produktif dan hemat. Pelinggih atau bangunan suci yang paling utama di pura
ini adalah sebuah pelinggih berbentuk Gedong sebagai stana pemujaan Batari Sri sebagai
sakti atau power-nya Dewa Wisnu sebagai Dewa Kemakmuran. Di pura ini ada sebuah jineng
dalam ukuran besar yaitu lumbung padi menurut tradisi umat Hindu di Bali. Sayang lumbung
yang disebut jineng itu setelah rusak tidak diperbaiki lagi sehingga bangunan tersebut
terhapus. Di lumbung besar itulah hasil-hasil tanah laba Pura Besakih disimpan. Umat Hindu
di Bali kalau memanen padi di sawah umumnya menyisihkan seikat kecil padinya terus
diupacarai dan distatuskan sebagai simbol Dewa Nini. Dewa Sri yang dalam hal ini disebut
Dewa Nini. Seikat padi yang disimbolkan sebagai Dewa Nini inilah yang distanakan di
bagian hulu atau keluwan di ruangan dalam lumbung yang ada di Pura Banua tersebut.
Mungkin karena kurang paham akan makna jineng atau lumbung itu maka saat rusak tidak
lagi diperbaiki karena saat ini tidak ada lagi orang menyimpan padi dengan cara tradisi
seperti dahulu. Sesungguhnya adanya jineng itu jangan dilihat dari fungsi nyata (sekala)
dewasa ini. Jineng di Pura Banua itu hendaknya dilihat dari sudut niskala sebagai simbol
sakral. Simbol sakral berupa jineng itu sebagai media untuk menanamkan sikap hidup
produktif dan hemat kepada umat. Ke depan ada baiknya jineng itu dibangun kembali untuk
dijadikan media menanamkan nilai-nilai spiritual kepada generasi penerus agar ia bisa hidup
produktif dan hemat sebagai cara membangun hidup yang makmur secara berkelanjutan.
Untuk masyarakat awam ajaran agama yang abstrak itu divisualisasikan dalam bentuk
simbol. Dengan simbol itulah berbagai hal bisa dijelaskan secara lebih mudah kepada umat
kebanyakan. Apa lagi simbol tersebut terkait dengan pemujaan pada Dewi Sri, Sakti Dewa
Wisnu manifestasi Tuhan sebagai Dewi Kemakmuran. Kehadiran Tuhan sebagai Dewa
Kemakmuran diwujudkan sebagai Dewi Sri di pelinggih Gedong dan sebagai Dewa Nini di
lumbung pura. Di Pura Banua ini di samping ada Gedong dan Jineng stana Dewi Sri dan
Dewa Nini ada juga Balai Pesamuan yang terletak di sebelah kiri Gedong Dewi Sri. Balai
Pesamuan ini bertiang delapan dan dibagi menjadi dua bagian yang disekat dengan sebilah
papan. Balai Pesamuan ini sebagai tempat bertemunya para pemimpin masyarakat Desa
Besakih dengan telah ditentukan tempat duduknya masing-masing.
Adanya balai Pesamuan dengan delapan tiang itu sebagai simbol bahwa dalam
mengelola bumi ini dengan hasil-hasilnya hendaknya dilakukan dengan memperhatikan
aspirasi masyarakat luas. Segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan bersama harus
dipikirkan bersama dengan semangat musyawarah, sehingga tidak ada yang merasa
ditinggalkan. Kekayaan alam yang dikandung bumi ini bukan untuk suatu golongan tertentu
saja. Kekayaan tersebut untuk semua umat manusia, termasuk makhluk hidup lainnya.
Demikianlah nampaknya nilai-nilai yang tersembunyi di balik simbol sakral di Pura Banua
Besakih.