Anda di halaman 1dari 20

ASPEK KEPERILAKUAN PADA PERSYARATAN PELAPORAN DAN ETIKA

AKUNTAN

Tugas Kelompok

Untuk Memenuhi Tugas Akuntansi Perilaku

Disusun oleh:

1. Febiasty Nur Maharani (F0314073)


2. Iis Khairun Nisa (F0314044)
3. Ivo Herlina P. (F0314050)
4. Niken Ayu Wulandari (F0314073)
5. Resi Alam Bestari (F0314083)

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2016
ASPEK KEPERILAKUAN PADA PERSYARATAN PELAPORAN

A. Syarat-Syarat Pelaporan

Persyaratan pelaporan ialah persyaratan untuk melaporkan informasi kepada orang lain
tentang siapa atau apa kita, bagaimana kita menjalankan hidup, bagaimana kita mengerjakan
pekerjaan, bagaimana keadaan dari orang dan benda untuk mana kita bertanggung jawab dan
seterusnya. Kebanyakan riset akuntansi keperilakuaan mengenai dampak informasi telah
memfokuskan pada bagaimana penerima menggunakan informasi yang dilaporkan guna
membuat penilaan dan atau keputusan. Istilah pelapor danpengirim akan digunakan
secara bergantian dan mengacu pada individu, organisasi, atau kelompok yang diharuskan
untuk melaporkan informasi.

Intisari dari proses akuntansi adalah komunikasi atas informasi yang memiliki implikasi
keuangan atau manajemen. Karena pengumpulan dan pelaporan informasi mengonsumsi
sumber daya, biasanya hal tersebut tidak dilakukan secara sukarela kecuali pelapor yakin
bahwa hal ini akan mempengaruhi si penerima untuk berperilaku sebagaimana yang
diinginkan oleh pelapor.

Informasi yang dilaporkan adalah bagian yang penting dari proses pengelolaan dan
pengendalian organisasi. Tanpa informasi, manajer, kreditor, dan pemilik tidak dapat
mengatakan apakah segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana atau apakah tindakan
korektif diperlukan. Persyaratan pelaporan dikenakan dan dipaksakan oleh beraneka ragam
orang dan organisasi dengan cara yang beraneka rupa.

B. Bagaimana Persyaratan Pelaporan Memengaruhi Perilaku


Persyaratan pelaporan dapat mempengaruhi perilaku pelapor dalam beberapa cara.
Bentuk lain dari pengukuran yang digunakan dalam organisasi seperti audit dan pengamatan
langsung juga memilik banyak dampak yang sama terhadap persyaratan pelaporan, selain
dampak spesifiknya sendiri.
1) Antisipasi Penggunaan Informasi
Pengirim menggunakan persyaratan pelaporan itu sendiri bersama sama dengan
informasi lainnya untuk mengantisipasi bagaimana penerima bereaksi terhadap informasi
yang dilaporkan. Karena orang pada umumnya bereaksi dengan cara-cara yang mereka
yakin akan mengarah pada hasil yang mereka inginkan, pengirim informasi tersebut
mencoba untuk menyimpulkan bagaimana penerima informasi akan menggunakan dan
bereaksi terhadap informasi yang disediakan. Jika pengirim mengantisipasi adanya suatu
reaksi yang tidak menyenangkan terhadap informasi mengenai perilaku mereka sekarang,
mereka mungkin akan memodifikasi perilaku mereka sedemikian rupa, sehingga informasi
yang dilaporkan akan menimbulkan reaksi yang lebih diinginkan.
Dalam konteks manajemen, pengirim seringkali dianggap bertanggungjawab untuk
mengendalikan hal-hal yang juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor lain yang tidak dapat
dikendalikan oleh si pengirim.
2) Prediksi si Pengirim mengenai Penggunaan si Pemakai
Terkadang, seseorang merasa pasti mengenai bagaimana penerima akan
menggunakan informasi, sementara pada waktu-waktu lain seseorang tidak merasa
mengenai bagaimana informasi tersebut digunakan. Jika setiap orang selalu jelas dan jujur
mengenai bagaimana mereka akan menggunakan informasi yang dilaporkan, maka akan
terdapat lebih sedikit masalah, tetapi masih tetap ada kemungkinan bahwa informasi
tersebut akan kemudian digunakan dalam cara-cara yang tidak dimaksudkan ketika
pertama kali informasi tersebut diminta.
Dalam kasus ini pelapor memiliki pekerjaan yang sulit untuk menebak kapan dan
bagaimana informasi tersebut akan digunakan. Mereka kemungkinan besar akan
berdasarkan prediksi mereka pada bagaimana informasi yang dilaporkan digunakan dalam
situasi yang serupa dalam pengalaman mereka, atau bagaimana mereka akan
menggunakan jika mereka ada pada posisi si peminta informasi, bersama-sama dengan
informasi apapun yang tersedia mengenai bagaimana laporan ini akan digunakan.
Bahkan ada pula ketika orang menyatakan dengan jelas mengenai rencana mereka
dalam menggunakan informasi yang dilaporkan, namun kenyataannya mereka
menggunakan informasi tersebut dengan cara yang mereka indikasikan atau janjikan tidak
akan digunakan. Hal ini menyebabkan timbulnya potensi penyalahgunaan informasi
tertentu yang berkaitan dengan privasi.
3) Insentif atau Sanksi
Kekuatan dan sifat dari kekuasaan terhadap pengirim adalah penentu yang penting
mengenai seberapa besar kemungkinan bahwa si pengirim akan mengubah
keperilakuannya. Semakin besar potensi yang ada bagi si penerima untuk memberikan
penghargaan atau sanksi kepada si pengirim semakin hati-hati pula si pengirim akan
bertindak dalam memastikan bahwa informasi yang dilaporkan dapat diterima oleh si
penerima.
4) Penentuan Waktu
Waktu adalah faktor yang penting apakah persyaratan pelaporan akan meyebabkan
perubahan dalam perilaku pengirim atau tidak. Supaya persyaratan pelaporan dapat
menyebabkan si pengirim mengubah perilakunya, ia harus mengetahui persyaratan
pelaporan tersebut sebelum ia bertindak. Jika persyaratan pelaporan hanya terjadi setelah
pengirim telah bertindak maka tidak akan ada peluang untuk mengubah perilaku masa
lalu. Tetapi kebanyakan persyaratan pelaporan repetitif dalam konteks manajemen
sehingga bahkan jika persyaratan pelaporan yang pertama dikenakan setelah perilaku yang
dilaporkan terjadi pelapor akan mengetahui didepan bahwa laporan berikutnya harus
dibuat.
5) Strategi Respons Iterative
Ketika suatu persyaratan pelaporan baru dikenakan, strategi yang paling murah adalah
untuk terus beperilaku seperti biasa, melaporkan sejujurnya perilaku tersebut, dan
menunggu respon dari penerima. Jika tidak ada respon maka strategi tersebut dapat
diteruskan. Umpan balik negatif dari penerima yang mengindikasikan bahwa perilaku apa
yang diinginkan oleh penerima dan bagaimana ia akan merespon.
Kemungkinan pelapor mengubah perilakunya dalam menanggapi persyaratan
pelaporan saja bergantung paling tidak sebagian pada :
Seberapa jelas apa yang diinginkan oleh penerima untuk terjadi
Seberapa jelas untuk apa informasi yang dilaporkan tersebut akan digunakan oleh
penerima
Penghargaan atau sanksi apa yang dapat diberikan oleh penerima kepada pengirim
Penghargaan atau sanksi manakah yang mungkin digunakan oleh penerima
Seberapa besar perubahan dalam perilaku pada suatu dimensi dapat memengaruhi
kinerja pada dimensi-dimensi penting lainnya
6) Pengarah Perhatian
Dampak mengarahkan perhatian dapat dianggap sebagai dampak dari pencatatan dan
bukannya dampak dari pelaporan informasi karena dampak tersebut timbul dari
kepentingan pengirim itu sendiri dan tidak bergantung pada informasi yang dilaporkan
kepada siapapun. Tetapi, dampak tersebut,dipertimbangkan dapat terjadi sebagai respon
terhadap persyaratan pelaporan dari luar meskipun hal tersebut juga dapat terjadi tanpa
adanya persyaratan tersebut.
C. Dampak dari Persyaratan Pelaporan

Persyaratan pelaporan dapat mempengaruhi perilaku disemua bidang seperti :

1. Akuntansi Keuangan
Badan-badan yang berwenang dalam akuntansi keuangan di Amerika Serikat,
termasuk Securities Exchange Commission (SEC), Financial Accounting Standards
Board (FASB), dan Financial Executive Research Foundation (FERF), telah mengakui
dampak potensial yang dimiliki oleh persyaratan pelaporan terhadap perilaku korporat.
FASB dan FERF baru-baru ini mulai mendorong dan mendukung investigasi mengenai
dampak semacam itu dan mempertimbangkannya secara eksplisit dalam proses penetapan
standar. Awal tahun 1969 diusulkan bahwa prinsip prinsip akuntansi yang diterima
secara umum (GAAP) dapat mempengaruhi perilaku. Hawkins membahas dampak-
dampak yang mungkin terhadap kebijakan operasi manajer mengenai prinsip-prinsip
akuntansi. Sehingga timbullah pernyataan bahwa GAAP yang bagus secara keperilakuan
akan menghambat manajer untuk mengambil tindakan operasi yang tidak diinginkan guna
membenarkan adopsi atas suatu alternatif akuntansi dan menghambat adopsi praktik
akuntansi oleh korporasi yang menciptakan ilusi kerja. Beberapa prinsip akuntansi
kemudian diterapkan setelah diperdebatkan terlebih dahulu mengenai dampak yang akan
ditimbulkan. Beberapa hal yang kontroversial dari pernyataan standar akuntansi tersebut
merupakan contoh mengenai bagaimana prinsip akuntansi mempengaruhi perilaku.
2. Akuntansi Perpajakan
Akuntansi perpajakan keperilakuan merupakan bidang yang relative masih belum di
eksplorasi. Tetapi, bidang tersebut tentu saja merupakan bidang yang sensitive dalam
kaitannya dengan persyaratan pelaporan. Beberapa orang bahkan percaya bahwa
persyaratan pelaporan pajak yang sekarang melanggar hak konstitusional. Umumnya
persyaratan pelaporan dianggap rumit dan sulit bagi pembayar pajak. Kerumitan tersebut
tidak hanya dirasakan pembayar pajak, tetapi orang lain seperti karyawan dengan maksud
agar hukum pajak lebih dipatuhi. Pengetahuan akan informasi trsebut akan dilaporkan ke
kantor pajak oleh orang lain diharapkan oleh pembayar pajak untuk mencoba
menghindari pajak
3. Akuntansi Sosial
Hanya sedikit saja yang diketahui mengenai dampak dari akuntansi sosial terhadap
pengirim informasi. Masih terdapat relative sedikit akuntansi sosial bagi public, dan
kebanyak riset mengenai hal itu berkaitan dengan dampak terhadap penerima dari
informasi yang dilaporkan. Karena akuntansi sosial eksternal masih bersifat sukarela,
maka tidak terdapat dampak apapun terhadap persyaratan pelaporan, meskipun masih
terdapat dampak terhadap pelaporan secara sukarela. Karena akuntansi sosial merupakan
bidang perhatian yang relative baru dan sering kali mengalami konflik dengan kriteria
kinerja yang sudah lebih mapan, maka terutama sangat penting untuk menggabungkan
persyaratan pelaporan dengan pedoman keperilakuan dan sanksi untuk ketidakpatuhan
yang sangat eksplisit.
4. Akuntansi Manajemen
Manajemen dapat memberlakukan persyaratan pelaporan internal apapun yang
diinginkannya kepada bawahan. Pos-pos yang dilaporkan secara internal dapat bersifat
keuangan, operasional, sosial, atau suatu kombinasi. Akan tetapi, hanya terdapat sedikit
data akuntansi manajemen yang tersedia bagi publik karena data tersebut jarang
dilaporkan diluar organisasi. Sangat sulit juga untuk digeneralisasi karena setiap
organisasi memiliki sistem akuntansi manajemen, sekelompok persyaratan pelaporan, dan
hubungan organisasional yang unik.

D. Penilaian Dampak Terhadap Pengirim Informasi

Terdapat banyak cara untuk menilai dampak dari persyaratan pelaporan terhadap
pengirim informasi. Yang paling tersedia adalah pengambilan keputusan deduktif, yang
melibatkan pemikiran secara hati-hati mengenai bagaimana persyaratan pelaporan akan
berinterasksi dengan kekuatan-kekuatan motivasional lainnya guna membentuk perilaku
manajer. Teknik ini sebaiknya selalu digunakan sebelum memberlakukan suatu persyaratan
pelaporan.

Metode lain adalah dengan menanyakan kepada para pelapor mengenai perilaku
mereka. Suatu cara formal untuk melakukan hal ini adalah dengan survey, yang dapat terdiri
atas pertanyaan-pertanyaan sempit dengan kemungkinan tanggapan yang ditentukan atau atas
pertanyaan-pertanyaan sempit dengan kemungkinan tanggapan yang ditentukan atau atas
pertanyaan-pertanyaan sempit dengan kemungkinan jawaban yang terbuka atau atas
gabungan dari keduanya.

Cara untuk memastikan mengenai apakah persyaratan pelaporan mengubah perilaku


pelaporan adalah dengan mngamati peilaku dengan mengamati perilaku dengan dan tanpa
persyaratan pelaporan. Hal ini sebaiknya dilakuakn dalam eksperimen terkendali yang mana
kondisi eksperimen harus cukup serupa dnegan kondisi alamiah. Masalah dalam kondisi
alamiah aadalah bahwa banyak hal lain yang kemungkinan akan berubah pada saat yang
bersamaan dengan persyaratan pelaporan. Hal ini tentu menyulitkan untuk menentukan
apakah penyebab dari perilaku yang diamati adalah karena persyaratan pelaporan atau karena
faktor lain.
ASPEK KEPERILAKUAN PADA ETIKA AKUNTAN

A. Dilema Etika

Akuntan didalam aktivitas auditnya memiliki banyak hal yang harus dipertimbangkan
karena auditor mewakili banyak konflik kepentingan yang melekat dalam proses audit.
Konflik ini akan menjadi sebuah dilema etika ketika auditor diharuskan membuat keputusan
yang menyangkut independensi dan integritasnya dalam imbalan ekonomis yang mungkin
dijanjikan. Dilema etika muncul sebagai konsekuensi konflik audit karena auditor berada
dalam situasi pengambilan keputusan antara yang etis dan tidak etis.

Penalaran Moral

Penalaran moral dan pengembangan memainkan peran kunci dalam seluruh area profesi
akuntansi. Akuntan yang secara kontinu dihadapkan pada dilema berada pada konflik nilai.
Akuntan pajak misalnya, ketika memutuskan kebijakan mengenai metode akuntansi yang
akan dipilih, membutuhkan waktu untuk memutuskan antara metode yang mencerminkan
sifat ekonomi sesungguhnya dari transaksi atau metode yang paling sesuai menggambarkan
perusahaan. Ketika keputusan profesional didasarkan pada keyakiann dan nilai individual,
maka penalaran moral memainkan peranan penting dalam keputusan akhir seseorang.

Arnold dan Ponemon menekankan pentingnya paradigma riset ini karena alasan :

1. Riset tingkat penalaran moral akuntan dapat memberikan pemahaman tambahan


mengenai resolusi konflik etika yang dihadapi oleh akuntan
2. Riset dalam area ini memfasilitasi pengakuan masalah yang ditimulkan oleh
pebedaan kepuusan etika akuntan.

B. Model Pengambilan Keputusan Etis


1. Teori Penalaran Moral dari Kohlberg
Landasan dari mayoritas studi akuntansi yang dicurahkan pada perilaku etis akuntan
adalah psikologi moral reasoning. Etika atau moral reasoning berbeda dengan proses
mental lainya dalam tiga aspek yaitu:
a. Kognisi yang didasarkan pada nilai dan bukan pada fakta yang nampak
b. Keputusan yang didasarkan pada beberapa isu yang melibatkan diri sendiri dan orang
lain
c. Keputusan yang dibangun di seputar isu keharusan dan bukan pada peringkat
preferensi atau kesukaan sederhana
Dalam pengembangan psikologi moral oleh Piaget, ia menemukan bahwa individu
secara berurutan mengalami kemajuan ke tingkat atau tahap moral reasoning yang lebih
tinggi sebagai proses dari pertambahan usia.
Dalam teori oleh Kohlberg, ia menyamakan tiga tingkatan dengan tiga jenis hubungan
yang berbeda antara diri, aturan dan harapan masyarakat. Pada tingkat prakonvensional,
individu lebih memperhatikan efek aksi yang dipilih terhadap dirinya. Di tingkat ini,
individu umumnya mengikuti hukum masyarakat dan memenuhi harapan masyarakat
karena hal tersebut menguntungkan. Sedangkan pada tingkat pascakonvensional,
individu mendefinisikan nilai pribadi dalam pengertian individual yang dipilih dari
prinsip-prinsip dan membedakan dirinya dari aturan dan harapan orang lain. Individu
tidak harus berada diatas hukum, melainkan bertindak dengan cara pada umumnya
konsisten dengan hukum masyarakat dan sesuai dengan perhatian masyarakat.
Teori yang dikembangkan Rest, ia mengakui bahwa rangkaian tahap dari Kohlberg
adalah bagian integral dari model kognitif komprehensif pengambilan keputusan etis.
Rest mendefinisikan komponen penentu perilaku moral, yaitu:
a. Sensitivitas moral (pengenalan implikasi moral dari sebuah situasi)
b. Keputusan moral (keputusan mengenai apakah sebuah aksi benar secara moral)
c. Motovasi moral (menempatkan nilai moral diatas nilai lainnya)
d. Karakter moral (mempunyai keyakinan untuk mengimplementasian aksi moral)
Kohlberg menyatakan bahwa individu pada tingkat moral reasoning yang lebih tinggi
maka dapat melakukan tindakan moral yang benar. Kohlberg menyatakan bahwa
wawancaranya semata-mata hanya dilakukan dengan perempuan, sehingga mengabaikan
perbandingan gender atau prespektif feminis.
2. Ukuran Moral Reasoning
Kohlberg dan koleganya mengembangkan sebuah metofe penilaian yaitu wawancara
penilaian moral (moral judgement interview-MJI). Metode tersebut merupakan metode
penilaian elaboratif yang digunakan untuk menganalisis masing-masing protokol erbal
individual terhadap resolusi dari berbagai dilema, sehingga menghasilkan sebuah skor
tunggal.
Alternatif yang dikembangkan oleh Rest, yaitu pengujian definisi masalah (definition
of issue test-DIT) yang berupa kuisioner pilihan ganda yang dikerjakan sendiri guna
memberikan ukuran objektif Eropa dalam memahami distribusi kemampuan etis (bukan
skor tunggal). Jadi dalam merespon konfilk, subjek diminta untuk memilih masalah yang
paling relevan terhadap penyelesaian dilema yang ditampilkan. Sehingga DIT lebih
sederhana untuk dilaksanakan dan dihitung daripada MJI karena poin yang ditentukan
masing-masing respon. Skor DIT P (prinsip) adalah jumlah respon yang berhubungan
dengan tingkat moral reasoning tertinggi dan mengukur presentase respon. DIT P telah
terbukti menjadi ukuran objektif dengan skor validitas dan reabilitas statistik yang sangat
tinggi.
Hanya saja, metode DIT ini masih memiliki kekurangan yakni DIT dinilai kurang
memiliki aspek kualitatif dari protokol yang sudah didasarkan pada MJI dan ukuran sosio
metrik lainnya dan ukuran objektif refleksi sosio moral (SROM). Itu disebabkan karena
pada DIT subjek hanyak perlu untuk memilih diantara justifikasi yang sudah disediakan.
Dalam konsteks domain positif, pengendalian DIT sebagai ukuran kapasitas etis
semakin diperdebatkan, DIT dikritik sebagai ukutan tingkat moral reasoning akuntan
yang buruk. Terdapat asumsi implisit bahwa semakin tinggi DIT semakin baik.
3. Pendekatan Kognitif Lingkungan terhadap Pengambilan Keputusan Etis
Terdapat banyak riset yang menggunakan DIT sebagai perilaku etis individual yang
telah berkembang. Misalnya Skala Etis Multidemensional (SEM) sebagai ukuran
kesadaran moral, untuk focus pada dinamika pengambilan keputusan yang melibatkan
perilaku etis yang belum diselidiki. Delapan Skala Likert bipolar dibagi menjadi 3
dimensi, yaitu keadilan moral, relativisme, dan kontraktualisme. Tujuannya adalah
memvalidasi penggunaan SEM dalam konteks akuntansi. SEM dikritik gagal memasukan
kerangka kerja psikolog.
4. Model Alternatif Pengambilan Keputusan Etis
Terdapat model pengambilan keputusan etis lain yang dikembangkan secara spesifik
untuk profesi akuntansi. Misalnya, untuk lebih memahami situasi dimana auditor
dianggap melanggar kode etik dan perilaku profesional AICPA, Lampe dan Finn
membuat model dari proses keputusan etis auditor sebagai proses keputusan etis auditor
sebagai proses dengan lima elemen, yaitu:
a. Pemahaman keuntungan
b. Pengendalian dampak
c. Keputusan lain
d. Penilaian lain
e. Pengambilan keputusan final
Untuk dibandingkan dengan model yang berbasis kode etik dan perilaku profesional
AICPA.

C. Riset Perilaku Etis Akuntan


1. Studi Pendidikan Etika
Studi pendidikan etika berusaha menentukan efek pendidikan terhadap keahlian moral
reasoning dari para praktisi dan mahasiswwa akuntansi. Berikut merupakan bebera studi
representatis yang membahas masalah ini:
a. M. Armstrong (1987)
Ia membandingkan tingat moral reasoning dari CPA dibandingkan dengan
mahasiswa yang sudah dan belum lulus. Hasilnya, skor DIT rata-rata CPA secara
signifikan lebih rendah daripada mahasiswa yang sudah dan belum lulus tersebut.
Disimpulkan bahwa responden CPA mencapai tingkat kematangan moral orang
dewasa pada umumnya, kebalikan dari tingkat kematangan lulusan kampus. Dengan
kata lain pendidikan kampus mungkin tidak mendorong kelanjutan dari
pertumbuhan moral.
b. Ponemon dan Glazer (1990) serta Jeffrey (1993)
Ponemon dan Glazer memperluas penyelidikan kedalam tingka moral reasoning
akuntan dengan membandingkan mahasiswa dan alumni untuk dua lembaga
pendidikan yang terletak di daerah timur Amerika Serikat. Sampel dipilih
menggunakan perencanaan kelompok sampel (sampling cluster) yaitu kampus seni
liberal swasta jurusan akuntansi dengan American Assembly of Collegiate School
Business (AACSB). Hasilnya menunjukan 3 temuan utama:
1) Skor DIT senior dan alumni rata-rata lebih tinggi dari mahasiswa baru
2) Variasi skor DIT strata alumni secara signifikan lebih rendah daripada variasi
dalam peringkat mahasiswa
3) Siswa dan alumni dari kurikulum seni liberal sedikit lebih maju dalam
pemahaman ukuran DIT
Dapat disimpulkan, etika mahasiswa akuntansi lebih tinggi daripada
perkembangan etika mahasiswa dalam divisi yang lebih rendah dengan mahasiswa
akuntansi senior menampilkan tingkat tertinggi.
c. St Pierre, Nelson, dan Gabbin (1990)
Ia membandingkan mahasiswa senior dari seluruh disiplin ilmu yang berbeda
antara jurusan bisnis dan nonbisnis pada universitas menengah di Amerika Serikat
berkaitan dengan jurusan, gender, dan paparan awal terhadap etika dalam kurikulum
formal. Hasilnya, mahasiswa dalam tiga jurusan non bisnis mempunyai skor DIT
yang tinggi dibandingkan dengan jurusan bisnis. Selain itu, mahasiswi akuntansi
memiliki skor yang lebih tingi dari pada mahasiswa akuntansi. Mahasiswi akuntansi
juga memiliki skor yang lebih tinggi daripada mahasiswa senior dari jurusan lainnya.
Sehingga, paparan terhadap pendidikan etika tidak menunjukkan dampak yang
signifikan.
d. Ponemon (1993a)
Mengkaji pengaruh intervensi etika terhadap perkembangan perilaku etis
mahasiwa akuntansi. Hasilnya menunjukkan, intervensi etika tidak menyebabkan
tingkat ethical reasoning dan tidak membatasi perilaku free riding mahasiswa pada
eksperimen pilihan ekonomi, tetapi mahasiswa dengan tingkat pra dan pasca
konvensional dalam ethnical reasoning paling mungkin untuk melakukan free
riding.
e. M. Armstrong (1993)
Menguji pengembangan moral untuk siswa yang mengikuti mata kuliah etika
dan profesionalisme di universitas yang didukung oleh negara bagian Amerika
Serikat. Mata kuliah profesionalisme dan etis membahas mengenai landasan
toristis,pedoman profesional,investigasi kongres, respon prefesional,Komisi
perdagangan fedreal dan studi kasus.Hasil pengujian ini menunjukkan mahasiswa
yang mengikuti mata kuliah etika dan profesionalisme mengalami kenaikan skor
DIT lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa kelompok kontrol.
f. Lampe (1994)
Menyampaikan hasil dari studi akuntansi longitudinal tingkat mahasiswa
sehubungan dengan moral reasoning di Universitas Southwestern,Amerika.
Hasilnya menunjukkan bahwa ukuran keputusan moral mahasiswa, penalaran dalam
situasi dilema etika, keputusan dan sikap terhadap perilaku tidak berubah.
2. Studi Pengembangan Etika
Studi pengembangan etika mengkaji dampak pendidikan terhadap praktisi mahasiswa
akuntansi, studi ini berfokus pada pengembangan moral reasoning dalam profesi
akuntansi. Berikut beberapa hasil studi pengembangan etika :
a. Ponemon (1990)
Menyelidiki ethical reasoning dan penilaian praktisi aluntansi dalam perusahaan
publik. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat posisi dalam perusahaan dan tingkat
moral reasoning berbanding terbalik.
b. Ponemon (1992a)
Menguji pengaruh sosialisasi kantor akuntan publik terhadap tingkat ethical
reasoning masing masing CPA. Hasil dari pengujian ini menunjukkan budaya
organisasional berhubungan dengan pengembangan moral reasoning auditor dan
kepercayaan pribadi dan tidak ada perbedaan dalam pengambilan keputusan.
c. Shaub (1994)
Shaub menyelidiki perbedaan antara sampel yang terdiri atas atas 207 auditor dan
sampel yang terdiri atas 91 mahasiswa akuntan senior dengan enam variabel
demografis. Hasilnya menunjukkan bahwa usia dan pendidikan idak secara signifikan
berhubungan dengan tingkat moral reasoning kedua sampel.
d. Sweeney (1995)
Menyelidiki asosiasi antara faktor demografis dan organisasioanl dengan tingkat
moral reasoning dari auditor. Hasil membuktikan skor DIT menurun seiring
peningkatan tingkat posisi pada perusahaan sampel. Investigasi selanjutnya
menunjukkan bahwa keahlian moral sangat berhubungan dengan orientasi politik
auditor dan gender.
e. Jeffrey dan Weatherhol (1996)
Menyelidiki perbedaan pengembangan etika, komitmen profesional, dan sikap
terhadap aturan antara akuntan KAP Big 6 dengan KAP Fortune 500. Hasilnya tidak
terdapat perbedaan dalam pengembangan etika. Namun terdpat perbedaan lain yaitu
komitmen profesional partner lebih kuat daripada komitmen profesional senior.
Sementara sikap terhadap aturan tidak berbeda.
f. Kite, Louwer, dn Randtke (1996)
Mereka mengkaji perbedaan dalam tingkat moral reasoning antara auditor lingkungan
dengan auditor internal lain dan akuntan publik dengan asumsi bahwa auditor dengan
tingkat moral reasoning yang llebih tinggi kemungkinan akan memilih sendiri
lingkungan penugasan audi mereka. Tetapi setelah pengujian ditemukan hasil bahwa
hipotesis tidak terbukti dan muncul analisi tambahan bahwa auditor yang meminta
posisi di bidang audit lingkungan secara signifikan mempunyai skor DIT lebih tinggi
daripada yang ditentukan oleh perusahaan mereka untuk posisi tersebut.
3. Studi Keputusan Etis
Studi keputusan etis berfokus pada hubungan antara bermacam macam ukuran dan
perilaku spesifik terhadap bidang akuntansi. Bagian berikut menelaah studi representatif
yang mengkaji :
1) Isu Independensi
a. Ponemon dn Gabhart (1990)
Ponemon dan Gabhart melakukan pengkajian dengan melakukan penilitian
yang mana subjek yang harus menyelesaikan DIT dan studi kasus yang melibtkan
dilema hal independensi. Hasilnya menunjukkan bahwa auditor dengan skor DIT
rendah lebih mungkin untuk melanggar aturan independensi dan lebih sensitif
terhadap faktor pinalti eksplisit jika auditor ditangkap. Sedangkan partner dan
manajer dengan skor rendah , penilaian independensi audit bersifat sensitif
terhadap faktor penalti.
b. Windsor dan Ashkanasy (1995)
Mereka mengkaji bagaimana hubungan antara budaya organisasional,
pengembangan moral reasoning, dan kepercayaan dalam dunia mempengaruhi
independensi auditor serta gaya pengambilan keputusan. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa budaya organisasional berhubungan dengan pengambilan
moral reasoning audior dan kepercayaan pribadi, tetapi tidak ada perbedaan di
antara ketiga gaya pengambilan keputusan.
c. Schatzberg, Sevcik, dan Shapio (1996)
Menguji validitas dari tiga kondisi umum yang dianggap penting terhadap
kerusakan independensi. Kondisi tersebut adalah (1) perhatian klien terhadap isu
pelaporan, dimana variasi pelaporan lintas bagian harus ada pada auditor ( 2)
quasi rent harus sesuai dengan auditor periode selanjutnya (3) jika dua kondisi
pertama ada, biaya manfaat ekonomi gabungan dalam situasi multiperiode
seharusnya menghasilkan manfaat ekonomi bersih bagi auditor dari kerusakan
indepnedensi.
d. Shaub dan Lawrance (1996)
Menyelidiki tentang latihan skeptisme profesional auditor sebagai alat untuk
menekan perilaku klien yang mementingkan dirinya sendiri. Mereka
mendefinisikan skptisme sebagai fungsi dari disposisi etis, pengalaman dan
faktor- faktor situsional. Situasi yang menimgkatkan skeptisme meliputi (1)
transaksi yang berhubungan dengan pihak lain (2) keputusan bisnis buruk
sebelumnya yang dilakukan oleh klien (3) ketidakakuratan yang dilakukan oleh
klien sebelumnya (4) komunikasi buruk antara klien dengen auditor.
2) Pelanggaran Lain Kode Etik dan Perilaku Profesional AICPA
a. Lampe dan Finn (1992)
Membuat model atas proses keputusan etis auditor dengan mengembangkan
model lima elemen ( mendapatkan pemahaman, mempertimbangkan keputusan
alternatif, menilai menggunakan nilai lain, mengambil keputusan final) untuk
dibandingkan dengan model berbasis kode etik dan perilaku profesional AICPA.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) model lima elemen mencerminkan
keputusan yang dibuat dibanding dengan model implementasi kode (2) model
lima elemen memberikan pengukuran atas sejauh mana faktor faktor non-kode
lainnya (3) terbukti bahwa proses sosialisasi terjadi setelah seseorang masuk ke
dalam profesi auditing.
b. Shaub, Finn, dan Munter (1993)
Mengkaji tentang orientasi etika, komitmen, dan sensitivitas etika auditor.
Hasilnya menunjukkan bahwa sensitivitas etika auditor dan komitmen profesional
dipengaruhi oleh orientasi etis.
c. Dreike dan Moeckel (1995)
Menganalisis keputusan auditor senior berkaitan dengan situasi dengan
kemungkinan dimensi etika. Hasil analisisnya menunjukkan auditor cenderung
mendefinisikan isu etis secara sempit dalam pengertian kode etik dan peilaku
profesional AICPA.
3) Mendeteksi dan Mengkomunikasikan Kecurangan
a. Arnold dan Ponemon (1991)
Mengkaji persepsi auditor internal terhadap whistle-blowing dalam tingkat
moral reasoning. Hasilnya menunjukkan bahwa auditor eksternal paling mungkin
mengambil tindakan, baru kemudian diikutu oleh auditor internal dan analisis
pasar.
b. Finn dan Lampe (1992)
Membuat model dari keputusan whistle blowing auditor dengan
menambahkan variabel intensitas moral, variabel situasi kontijensi dan individual.
Hasilnya menunjukkan keputusan etis auditor dan keputusan whistle- blowing
berhubungan secara signifikan.
c. Ponemon (1993b)
Menganalisis tentang pentingnya ethical reasoning sebagai determinn auditor
terhadap karakteristik etis dari manajemen klien. Hasil analisis ini menunjukkan
bahwa ethical reasoning auditor dipengaruhi oleh penilaian resiko audit dan
diprediksi berkaitan dengan pendeteksian kesalahan akuntansi yang material.
d. Hooks, Kaplan , dan Schultz (1994)
Menyelidiki tentang satu kemungkinan kesempatan untuk mengurangi
penipuan dalam pengambilan keputusan.
e. Bernardi (1994)
Meneliti tentang hubungan antara ethical reasoning dengan kemampuan
auditor untuk mendeteksi penipuan dalam laporan keuangan. Hasil penelitian
menunjukkan pengalaman ethical reasoning dan konfigurasi pengalaman
mempengaruhi kemampuan auditor untuk mendeteksi dan membuat kerangka
akuntansi yang dipertanyakan.
4) Ketidakpatuhan Pembayar Pajak
a. Ghosh dan Crain (1996)
Mengidentifikasi faktor individual dan situasional yang mempengaruhi
ketidakpatuhan terhadap pajak.Hasilnya menunjukkan bahwa faktor individual
dan situasional secara psikologis merupakan aspek yang menonjol dari keputusan
dalam ketidakpatuhan pajak.
b. Hanno dan Violette (1996)
Menyelidiki pengaruh social dan moral yang mendasari pembayar pajak dalam
usaha mengembangkan model integratif perilaku kepatuhan pajak. Kepatuhan
diukur melalui respons terhadap pertanyaan-pertanyaan langsung dan hipotesis,
serta empat scenario yang melibatkan pihak ketiga. Hasilnya menunjukkan bahwa
niat untuk patuh berhubungan dengan laporan diri dan perilaku kepatuhan
hipotesis.
5) Perilaku Disfungsional Lain
a. Ponemon (1992b)
Menyelidiki interaksi antara tingkat moral reasoningdengan pelaporan dalam
waktu singkat yang digunakan dalam penugasan audit. Hasilnya menunjukkan
bahwa waktu pelaporan paling rendah di kelompok control dan paling tinggi di
kelompok rekan dan sekutu. Auditor dengan skor DIT yang lebih rendah secara
rata-rata membutuhkan waktu pelaporan yang lebih singkat daripada mereka
dengan skor DIT yang lebih tinggi dari ketiga kelompok.
b. Ponemon (1995)
Mengkaji objektivitas akuntan ketika berfungsi sebagai spesialis litigasi dan
saksi ahli dalam kasus hukum. Hasilnya menunjukkan bahwa estimasi atas nilai
kerusakan yang lebih tinggi diperoleh dari individu yang mewakili penggugat
daripada yang mewakili tergugat dalam perkara hukum.
4. Studi Etis Lintas Budaya
a. Ponemon dan Gobhart (1993), Etherington dan Schulting (1995)
Meneliti profesi auditing dari dua kantor akuntan besar dengan praktik di Amerika
Serikat dan Kanada menggunakan DIT dan instrument eksperimental lainnya. Sasaran
utama studi ini menilai dampak dari perbedaan lintas Negara terhadap keputusan etika
dari individu praktisi auditing. Hasilnya membuktikan dengan jelas bermacam-macam
perbedaan antara profesi akuntansi Kanada dengan Amerika Serikat dalam hal skor
rata-rata DIT.
b. Schultz, Johnson, Morris, dan Dynes (1993)
Meneliti kecenderungan manajer perusahaan dan professional untuk melaporkan
tindakan yang dapat dipertanyakan dalam konteks internasional dan domestic.
Hasillnya menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan multinasional dengan divisi
yang terletak di Negara-negara berbeda mungkin perlu mengimplementasikan system
pengendalian yang berbeda untuk mencapai tingkat realibilitas yang serupa.
c. Cohen, Pant, dan Sharp (1995a)
Pengujian empiris pada pernyataan Cohen bahwa kantor akuntan public
multinasional seharusnya secara hati-hati memperhatikan dampak keragaman budaya
internasional terhadap sensitivitas karyawan dan pengambilan keputusan. Studi ini
memasukkan subjek dari Amerika Serikat, Jepang, dan Amerika Latin. Hasilnya
menunjukkan bahwa subjek Amerika Serikat pada umumnya melihat tindakan yang
dijelaskan dalam vignette sebagai tindakan yang lebih etis dibandingkan dengan
subjek Jepang dan Amerika Latin. Namun preiktibilitas dari konstruksi moral untuk
menjelaskan keputusan-keputusan etika tidak berbeda banyak diantara ketiga
kelompok.
d. Cohen, Pant, dan Sharp (1995b)
Menyelidiki perbedaan pengambilan keputusan etika auditor dari negara-negara
yang berbeda. Negara yang berpartisipasi yaitu Amerika Latin Jepang, atau Amerika
Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
antarnegara untuk kemungkinan pertama dan kedua, yaitu mereka atau koleganya
akan melakuka tindakan-tindakan dalam studi, dengan perbedaan yang paling
signifikan antara Amerika Latin dan Amerika Serikat. Ditemukan juga bias keinginan
social (efek halo) pada ketiga kelompok subjek.

D. Implikasi bagi Riset Mendatang

Selanjutnya dalam profesi akuntansi studi pengembangan etis yang mengkaji korelasi
dan tingkat posisi auditor dengan skor DIT telah menemukan bahwa tingkat moral reasoning
tampaknya berhubungan secara terbalik. Konsep sosialisasi etis dalam profesi akuntansi
secara khusus menjadi relevan. Berdasarkan studi keputusan etis, ditemukan bahwa akuntan
dan auditor dengan tingkat moral reasoning lebih rendah lebih mungkin melakukan perilaku
disfungsional. Budaya mungkin berperan mengurangi perilaku pengambilan keputusan etis
akuntan.
MENGEMBANGKAN ETIKA DI KANTOR AKUNTAN PUBLIK:
SEBUAH PERSPEKTIF UNTUK MENDORONG PERWUJUDAN GOOD
GOVERNANCE

Praktik etika dan bisnis semakin berkembang, bisnis merupakan bidang kehidupan yang
rentan pelanggaran moral. Secara khusus pelanggaran atas kode etik terjadi karena ketiadaan
komunikasi antar akuntan pengganti dengan akuntan pendahulu. Permasalahan klasik lainnya
para akuntan ini bersaing secara tidak sehat untuk mendapatkan klien. Contoh kasus yang
terjadi di Indonesia yaitu kasus audit PT. Telkom oleh KAP Eddy Pianto dan Rekan
(Media Akuntansi, 2003). Dalam kasus ini laporan keuangan auditan PT. Telkom tidak diakui
oleh SEC (Pemegang otoritas pasar modal di Amerika Serikat) dan atas peristiwa ini audit
ulang diminta untuk dilakukan oleh KAP lainnya. Wujud pelanggara etika profesi lainnya
adalah pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan, kealpaan dalam penerapan
Sistem Pengendalian Mutu, serta ketidakpatuhan terhadap SPAP.
Masih banyaknya kasus pelanggaran etika di kalangan akuntan menjadi bukti nyata
masih rapuhnya integritas akuntan yang berakibat terjadinya krisis berkepanjangan pada diri
profesi akuntan. Dampak pelanggaran etika mempengaruhi banyak aspek, antara lain
munculnya keraguan publik akan informasi keuangan. Untuk mengembalikan kepercayaan
publik, maka kita harus melakukan reformasi profesi akuntan. Reformasi dilakukan dengan
menerapkan dan memantapkan regulasi diri, menghentikan jasa konsultasi untuk klien audit,
melakukan rotasi tugas auditor pada klien, membatasi infiltrasi auditor ke perusahaan, serta
membersihkan standar akuntansi keuangan dan aturan yang memungkinkan creative
accounting. Aspek kedua, badan pengatur akan semakin ketat mengurusi laporan keuangan
dan KAP. Aspek ketiga, perhatian yang serius atas adanya keharusan untuk pemisahan jasa
konsultasi dan jasa audit.
Akuntan merupakan profesi yang keberadaannya tergantung pada kepercayaan
masyarakat. Kinerja akuntan diukur dari profesionalisme, ketrampilan, pengetahuan dan
karakter. Karakter diri merupakan hal penting yang harus dimiliki seorang akuntan. Pekerjaan
akuntan mengacu pada acuan normatif dan muatan moral, dapat dilihat pada kode etik profesi
akuntan, standar profesional akuntan publik, dan SAK yang dikeluarkan IAI. Keuntungan
dari kode etik ini, yaitu (1) sadar tentang aspek moral (2) acuan yang dapat diakses lebih
mudah (3) dapat diaplikasikan di segala situasi (4) bertindak secara standar ( 5 ) menilai
perilaku anggota dan kebijakan profesi (6) menilai kinerja dirinya sendiri (7) sadar atas
kebijakan-kebijakan etisnya (8) menjustifikasi perilaku jika dikritik. Dalam kode etik terdapat
empat kebutuhan dasar, yaitu kredibilitas, profesionalisme, kualitas jasa, dan kepercayaan.
Sementara dalam kepatuhan terhadap kode etik, tergantung pemahaman dan tindakan
sukarela. Untuk menerapkan prinsip etika profesi dibutuhkan komitmen dan pengorbanan
pribadi. Prinsip etika akuntan meliputi tanggung jawab profesi, kepentingan publik,
integritas, objektivitas, kompetensi dan kehati-hatian profesional, kerahasiaan, perilaku
profesional, dan standar teknis.
Untuk menciptakan sistem organisasi yang etis tidak cukup hanya dengan kode etik,
tetapi dikombinasikan dengan manajemen yang efektif dan pendidikan kepada karyawan.
Kode etik disusun dengan memperhatikan kepentingan intern dan ektern, kepentingan ini
harus merefleksikan standar moral universal, trustworthiness, respect, responsibility,
fairness, caring, citizenship (menurut Schwartz 2001). Namun pada kenyataannya penciptaan
kode etik tidak mengurangi adanya dilema etis. Bahkan perusahaan yang memiliki kode etik
tertulis lebih banyak melakukan tindakan yang menyimpang. Hal ini disebabkan
ketidakadaan pemahaman bagaimana dilema etis terjadi dan mengapa karyawan terdorong
berperilaku tidak etis, juga tidak optimalnya distribusi informasi tentang kode etik itu sendiri.
Kode etik juga belum bisa menjadi penuntun karyawan untuk berperilaku etis. Means,
motivation, dan opportunity merupakan faktor-faktor yang mendorong perilaku tidak etis
dalam organisasi.
Pengembangan etika di KAP dapat dilangsungkan dengan memperhatikan aspek
individual dan organisasional, maka KAP tidak boleh mengesampingkan perhatian dan
pemenuhan sesuatu yang bersifat materi, penguatan personalitas dengan memperhatikan dan
mengembangkan potensi emosional (EQ) dan spiritualitas (SQ). EQ adalah kemampuan
merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya serta kepekaan emosi sebagai
sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh manusiawi. Sedangkan SQ adalah
kecerdasan jiwa yang berkaitan dengan hal-hal tersenden, serta hal yang mengatasi waktu,
dimana dia dapat membantu manusia untuk menyembuhkan dan membangun dirinya secara
utuh.
Dengan memperhatikan pola etika ini anggota KAP akan memiliki karakter yang kuat
dalam memahami dan bisa hidup secara profesional. Pola pengembangan etika yang
komprehensif, termasuk anggota KAP yang memiliki personalitas yang kuat dapat membuat
profesi akuntan menjadi lebih baik dalam penciptaan good governance di Indonesia.