Anda di halaman 1dari 35

PERUNDANG-UNDANGAN DI BIDANG

SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN

Workshop
Manajemen Fasilitas dan Keselamatan
Rumah Sakit

HANAFI, ST, MT
UNDANG-UNDANG
DI BIDANG SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN
UUD Th 1945
UU No.36/2009 tentang Kesehatan.
UU No.44/2009 tentang Rumah Sakit.
UU No. 8 /1999 tentang Perlindungan Konsumen
UU No. 28 /2001 tentang Bangunan Gedung
UU No. 10/1997 tentang Ketenaganukliran
UU No. 32/2009Tentang Perlindungan &Pengelolaan
lingkungan Hidup.
Undang Undang No.15 Tahun 1985 tentang
Ketenagalistrikan.
Undang-Undang Dasar 1945
Pasal 28 H (Perubahan II 18 Agustus 2000)
(1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan

batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan


lingkungan hidup yang baik dan sehat serta
berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
Pasal 34 (Perubahan II 18 Agustus 2000)
(3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan
fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas
pelayanan umum yang layak.
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009
TTG KESEHATAN

Pasal 1
Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan
untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif,
kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah,
dan/atau masyarakat.

Pasal 5
Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang
aman, bermutu, dan terjangkau.

Pasal 15
Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan lingkungan, tatanan, fasilitas
kesehatan baik fisik maupun sosial bagi masyarakat untuk mencapai derajat
kesehatan yang setinggitingginya.
Pasal 7
(1) Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, sumber
daya manusia, kefarmasian, dan peralatan.

Pasal 8
(1) Persyaratan lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus memenuhi
ketentuan mengenai kesehatan, keselamatan lingkungan, dan tata ruang, serta
sesuai dengan hasil kajian kebutuhan dan kelayakan penyelenggaraan Rumah Sakit.

Pasal 9
Persyaratan bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus memenuhi:
a. persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung pada umumnya,
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
b. persyaratan teknis bangunan Rumah Sakit, sesuai dengan fungsi, kenyamanan dan
kemudahan dalam pemberian pelayanan serta perlindungan dan keselamatan bagi
semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak, dan orang usia lanjut.
Pasal 10
(1) Bangunan Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 harus dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang
paripurna, pendidikan dan pelatihan, serta penelitian dan pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan.
(2) Bangunan rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit
terdiri atas ruang dalam ayat (1) paling sedikit terdiri atas ruang:
a. rawat jalan;
b. ruang rawat inap;
c. ruang gawat darurat;
d. ruang operasi;
e. ruang tenaga kesehatan;
f. ruang radiologi;
g. ruang laboratorium;
h. ruang sterilisasi;
i. ruang farmasi;
j. ruang pendidikan dan latihan;
k. ruang kantor dan administrasi;
l. ruang ibadah, ruang tunggu;
m. ruang penyuluhan kesehatan masyarakat rumah
sakit;
n. ruang menyusui;
o. ruang mekanik;
p. ruang dapur;
q. laundry;
r. kamar jenazah;
s. taman;
t. pengolahan sampah; dan
u. pelataran parkir yang mencukupi.
Pasal 11
(1) Prasarana Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) dapat
meliputi:
a. instalasi air;
b. instalasi mekanikal dan elektrikal;
c. instalasi gas medik;
d. instalasi uap;
e. instalasi pengelolaan limbah;
f. pencegahan dan penanggulangan kebakaran;
g. petunjuk, standar dan sarana evakuasi saat terjadi keadaan darurat;
h. instalasi tata udara;
i. sistem informasi dan komunikasi; dan
j. ambulan.
(2) Prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi standar
pelayanan, keamanan, serta keselamatan dan kesehatan kerja penyelenggaraan
Rumah Sakit
Pasal 11
(4) Pengoperasian dan pemeliharaan prasarana Rumah Sakit sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai
kompetensi di bidangnya.
(5) Pengoperasian dan pemeliharaan prasarana Rumah Sakit sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus didokumentasi dan dievaluasi secara
berkala dan berkesinambungan.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai prasarana Rumah Sakit sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan
Peraturan Menteri.
Pasal 17
Rumah Sakit yang tidak memenuhi
persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10,
Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13, Pasal 14,
Pasal 15, dan Pasal 16 tidak diberikan izin
mendirikan, dicabut atau tidak
diperpanjang izin operasional Rumah
Sakit.
1) Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan RS wajib dilakukan
akreditasi secara berkala minimal 3 (tiga) tahun sekali
2) Akreditasi RS sebagaimana dimaksud pd ayat (1) dilakukan oleh
suatu lembaga independen baik dari dalam/luar negeri berdasarkan
standar akreditasi yg berlaku

3) Lembaga independen sbgmana dimaksud pd ayat (2) ditetapkan oleh


Menteri

4) Ketentuan lebih lanjut mengenai akreditasi RS sebagaimana


dimaksud pada ayat (1), & ayat (2) diatur dgn Peraturan Menteri
Pasal 3 :
Ayat 3 Rumah sakit wajib mengikuti
akreditasi nasional
Ayat 5 Rumah Sakit yang akan mengikuti
akreditasi internasional harus sudah
mendapatkan status akreditasi
nasional
Ayat 7 Rumah sakit baru yang telah memper-
oleh izin operasional dan beroperasi se
kurang kurangnya 2 tahun wajib meng
ajukan permohonan akreditasi
Sarana prasarana
Tersedia dan berfungsinya sarana dan prasarana pada
rawat jalan, rawat inap, gawatdarurat, operasi/bedah,
tenaga kesehatan, radiologi, ruang laboratorium,
ruang sterilisasi, ruang farmasi, ruang pendidikan dan
latihan, ruang kantor dan administrasi,ruang ibadah,
ruang tunggu, ruang penyuluhan kesehatan
masyarakat rumah sakit;ruang menyusui, ruang
mekanik, ruang dapur, laundry, kamar jenazah,
taman,pengolahan sampah, dan pelataran parkir yang
mencukupi sesuai dengan jenis dan klasifikasinya.
Permenkes 340 tahun 2010 tentang
Klasifikasi Rumah Sakit
Pasal 5
Klasifikasi Rumah Sakit Umum ditetapkan berdasarkan:
a. Pelayanan;
b. Sumber Daya Manusia;
c. Peralatan;
d. Sarana dan Prasarana; dan
e. Administrasi dan Manajemen.
Pasal 25
Klasifikasi Rumah Sakit Khusus ditetapkan berdasarkan:
a. Pelayanan;
b. Sumber Daya Manusia;
c. Peralatan;
d. Sarana dan Prasarana; dan
e. Administrasi dan Manajemen
HAK (PS. 6) KEWAJIBAN (PS. 7)
1. Hak atas kenyamanan, keamanan, 1. Membaca, mengikuti petunjuk, info
keselamatan atas barang dan jasa 2. Beritikad baik dalam transaksi
2. Hak memilih dan mendapatkan 3. Membayar sesuai nilai yang
3. Hak atas info yang benar, jelas, jujur disepakati
mengenai kondisi dan jaminan 4. Mengikuti upaya penyelesaian
barang dan jasa hukum
4. Hak untuk didengar pendapat /
keluhan
5. Hak untuk mendapat advokasi,
perlindungan dan upaya
penyelesaian sengketa
6. Hak untuk diperlakukan / dilayani
secara benar, jujur dan tidak
diskriminatif
7. Hak untuk kompensasi, ganti rugi,
penggantian bila barang tidak sesuai
perjanjian.
HAK (PS. 7) KEWAJIBAN (PS. 7) TANGGUNGJAWAB
(PS. 19)
1. Menerima 1. Itikad baik 1. Memberi ganti rugi
pembayaran yang 2. Memberi info yang atas kerusakan,
sesuai benar, jujur dan jelas pencemaran dan
2. Mendapat 3. Memberi pelayanan kerugian konsumen
perlindungan hukum secara benar, jujur, uang atau barang,
3. Melakukan adil perawatan, santunan)
pembelaan diri 4. Menjamin mutu 2. Waktu penggantian 7
4. Rehabilitasi nama barang dan jasa hari setelah transaksi
baik 5. Membebaskan 3. Tidak menutup
konsumen untuk tuntutan pidana
menguji, menelaah
6. Memberi kompensasi,
ganti rugi akibat
penggunaan dan
ketidaksesuaian
barang
Standar yang terkait
TAHUN PRODUK PERATURAN
1. PERMEN PU No. 19/PRT/M/2006 TTG PEDOMAN TEKNIS RUMAH DAN BANGUNAN GEDUNG TAHAN GEMPA

2006 2. PERMEN PU No. 29/PRT/M/2006 TTG PEDOMAN PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG

3. PERMEN PU No. 30/PRT/M/2006 TTG PEDOMAN TEKNIS FASILITAS DAN AKSESIBILITAS PADA BG DAN LINGKUNGAN

4. PERMEN PU No. 05/PRT/M/2007 TTG PEDOMAN TEKNIS RUSUNA BERTINGKAT TINGGI

5. PERMEN PU No. 06/PRT/M/2007 TTG PEDOMAN RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

6. PERMEN PU No. 24/PRT/M/2007 TTG PEDOMAN TEKNIS IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN


2007
7. PERMEN PU No. 25/PRT/M/2007 TTG PEDOMAN SERTIFIKAT LAIK FUNGSI

8. PERMEN PU No. 26/PRT/M/2007 TTG PEDOMAN TIM AHLI BANGUNAN GEDUNG

9. PERMEN PU No. 45/PRT/M/2007 TTG PEDOMAN TEKNIS PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA

10. PERMEN PU No. 24/PRT/M/2008 TTG PERAWATAN DAN PEMELIHARAAN BANGUNAN GEDUNG

2008 11. PERMEN PU No. 25/PRT/M/2008 TTG RENCANA INDUK SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN KOTA

12. PERMEN PU No. 26/PRT/M/2008 TTG SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG DAN LINGKUNGAN

2009 13. PERMEN PU No. 20/PRT/M/2009 TTG MANAJEMEN PROTEKSI KEBAKARAN DI PERKOTAAN

14. PERMEN PU No. 16/PRT/M/2010 TTG PEDOMAN TEKNIS PEMERIKSAAN BERKALA BANGUNAN GEDUNG

2010 15. PERMEN PU No. 17/PRT/M/2010 TTG PEDOMAN TEKNIS PENDATAAN BANGUNAN GEDUNG

16. PERMEN PU No. 18/PRT/M/2010 TTG PEDOMAN REVITALISASI KAWASAN

2011 MODEL PERATURAN DAERAH TENTANG BANGUNAN GEDUNG


PERPRES N0.73/2011 TTG PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA
18
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR:
45/PRT/M/2007 TENTANG
PEDOMAN TEKNIS PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG
NEGARA

Pasal 4
(1) Setiap pembangunan Bangunan Gedung Negara yang
dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga harus mendapat
bantuan teknis berupa tenaga Pengelola Teknis dari
Departemen Pekerjaan Umum dalam rangka pembinaan
teknis.

(2) Untuk pelaksanaan pembangunan Bangunan Gedung Milik


Daerah yang biayanya bersumber dari APBD diatur dengan
Keputusan Gubernur/Bupati/Walikota yang didasarkan pada
ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Menteri ini.
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR:
45/PRT/M/2007 TENTANG
PEDOMAN TEKNIS PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG
NEGARA

Pasal 6
(1) Pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan bangunan
gedung negara melakukan pembinaan teknis dan pengawasan
teknis kepada Pengguna Anggaran dan Penyedia Jasa Konstruksi.

(2) Pembinaan teknis dan pengawasan teknis bangunan gedung negara


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh
Departemen Pekerjaan Umum cq Direktorat Penataan Bangunan
dan Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya untuk tingkat
nasional dan wilayah DKI Jakarta; dan Dinas Pekerjaan
Umum/DinasTeknis Provinsi yang bertanggung jawab dalam
pembinaan bangunan gedung untuk wilayah provinsi di luar DKI
Jakarta.
SNI Konstruksi Bangunan dan Gedung
No. Nomor SNI Jenis SNI Penjelasan
1 SNI 03-1726- Tata Cara Standar ini menetapkan ketentuan, perencanaan umum
2002 Perencanaan struktur gedung, perencanaan struktur gedung tak beraturan,
Ketahanan kinerja struktur gedung, pengaruh gempa pada struktur
Gempa Untuk bawal, pengaruh gempa pada unsur sekunder, unsur arsitektur
Rumah dan dan instalasi mesin listrik. Syarat-syarat perencana struktur
Gedung. gedung tahan gempa yang ditetapkan dalam standar ini tidak
berlaku untuk bangunan sebagai berikut: 1)gedung dengan
sistem struktur yang tidak umum atau yang masih
memerlukan pembuktian tentang kelayakannya; 2) gedung
dengan sistem isolasi landasan (hase isolation) untuk meredam
pengaruhi gempa terhadap struktur atas; 3) BangunanTeknik
Sipil seperti Jembatan, bangunan air, dinding, dan dermaga
pelabuhan, anjungan lepas pantai dan bangunan non gedung
lainnya; 4).Rumah tinggal satu tingkat dan gedung-gedung
non-teknis lainnya.
SNI Konstruksi Bangunan dan Gedung
No. Nomor SNI Jenis SNI Penjelasan
2 SNI 03-1728- Tata Cara Pelaksanaan Tata cara ini digunakan untuk memberikan
1989 Mendirikan Bangunan landasan dalam membuat peraturan-peraturan
Gedung mendirikan bangunan di masing-masing daerah,
dengan tujuan menyeragamkan bentuk dan isi
dari peraturan-peraturan bangunan yang akan
dipergunakan di seluruh kota-kota di Indonesia
3 SNI 03-1729- Tata Cara Perencanaan Tata cara ini digunakan untuk mengarahkan
2002 Bangunan Baja Untuk terciptanya pekerjaan perencanaan dan
Gedung pelaksanaan baja yang memenuhi ketentuan
minimum serta mendapatkan hasil pekerjaan
struktur yang aman, nyaman dan ekonomi
4 SNI 03-1735- Tata Cara Perencanaan Tata cara ini digunakan dalam merencanakan
2000 Akses Bangunan dan Akses bangunan dan lingkungannya khususnya dalam hal
Lingkungan Untuk pencegahan terhadap bahaya kebakaran meliputi
Pencegahan Bahaya pengamanan dan penyelamatan terhadap jiwa,
Kebakaran Pada Bangunan harta benda dan kelangsungan fungsi bangunan
Rumah dan Gedung.
Pengelolaan Limbah
UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup
PP no 18 Tahun 1999 Jo No. 85 Tahan 1999 Tentang Pengelolaan Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun.
Kepmen LH No 058/1995 Tentang Baku mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan
Rumah Sakit.
Kep Men Kes No 1204 Tahun 1204 Tentang Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Rumah Sakit.
PP No. 27 tahun 1999 tentang AMDAL
Permeneg LH No. 11 tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau
Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL
Kepmenkes No. 875 tahun 2001 tentang Pedoman Teknis Penyusunan UKL
dan UPL Bagi Rumah Sakit Kelas C
Kepmeneg LH No. 86 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan UKL -
UPL
Undang Undang No 32 tahun 2009
Tentang perlindungan dan pengelolaan LH
Ps. 20 (3) setiap orang diperbolehkan membuang limbah ke media lingk dengan syarat
memenuhi BML dan dapat izin pejabat berwenang
Ps. 22 (1) setiap kegiatan (usaha) berdampak penting besar wajib AMDAL.
Ps. 59 (1) setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan
limbah B3 yang dihasilkannya
Ps. 68 setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib memberikan info
terkait PPLH dengan benar, menjaga keberlangsungan fungsi LH, dan menaati
ketentuan tentang BML.
Ps. 87 (1) Penanggung jawab keg (usaha) wajib membayar ganti rugi atas
pencemaran yg terjadi akibat tindakannya.
Psl. 97 s/d Psl. 123 mengatur ketentuan pidana terkait pengelolaan lingkungan hidup.
PP RI NO. 41 TAHUN 1999
TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA
Pasal 21 : Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan
yang mengeluarkan emisi dan/atau baku tingkat kebauan ke
udara ambien wajib :
Menaati baku mutu
Melakukan pencegahan dan/atau penanggulangan pencemaran udara
akibat usahanya
Memberikan info yang benar kepada masyarakat terkait upaya
pengendalian pencemaran udara yang dilakukannya.
Terkait dengan :
Kepmen LH No. 13 Tahun 1995 tentang Baku Emisi Tak Bergerak
KepGub DKI Jakarta No. 551 Tahun 2001 tentang Baku Mutu Udara Ambien dan
Kebisingan di DKI Jakarta
Dst
PP RI No. 82 Tahun 2001
Tentang pengelolaan kualitas air dan
pengendalian pencemaran air

Pasal 24 (1) : Setiap orang yang membuang limbah ke


prasarana dan/atau sarana pengelolaan air limbah yang
disediakan oleh Pemda dikenakan retribusi
Pasal 25 : Setiap usaha dan/atau kegiatan wajib membuat
rencana penanggulangan pencemaran air pada keadaan
darurat dan/atau keadaan yang tidak terduga lainnya
Terkait dengan :
Keputusan Gub DKI No. 582 Tahun 1995 tentang Penetapan
Peruntukan dan Baku Mutu Air Sungai / Badan Air Serta Baku
Mutu Limbah Cair di Wilayah DKI
Kepmenkes No. 1204 Tahun 2004
tentang persyaratan kesehatan lingkungan rs
Persyaratan konstruksi RS
Persyaratan kualitas lingkungan :
Udara ambien : Debu, SO2, NO2, O3, H2S, NH3.
Udara ruang : Debu, jumlah kuman, H2S, NH3.
Kualitas fisik ruangan : Pencahayaan, kelembaban
Intensitas kebisingan
Limbah cair : Suhu, pH, BOD5, COD, TSS, NH3 bebas, PO4, Coliform (MPN), dst
KepmenLH No 58/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair RS
Vektor : Densitas / keberadaan lalat, tikus, nyamuk, kecoa, dan binatang pengganggu
lainnya
Keselamatan radiasi : Nilai Batas Dosis bagi pekerja dan masyarakat
Air bersih : mengacu pada Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat syarat dan
pengawasan kualitas air
Air minum : mengacu pada Kepmenkes No. 907 Tahun 2002 tentang Syarat Syarat
Pengawasan Kualitas Air Minum
Kepmenkes No.1204 th 2004, tentang Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit

Limbah RS adalah semua limbah yang dihasilkan dari


kegiatan RS dalam bentuk padat, cair dan gas.
Setiap RS harus melakukan reduksi limbah dimulai dari
sumber.
Pemilahan limbah harus dilakukan mulai dari sumber
yang menghasilkan limbah.
Limbah padat medis harus dipisahkan dali limbah padat
non medis
Peraturan Pemerintah No.18 th.1999 ttg PENGELOLAAN
LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN :
Pasal 8 (e),limbah medis rumah sakit masuk dalam katagori
limbah B3, karena bisa menyebabkan infeksi.
Pasal 9 (1),Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib
melakukan reduksi,mengolah dan menimbun limbah tsb
Pasal 10 Limbah B3 dapat disimpan selama 90 hari sebelum
diserahkan kepada pihak ketiga, bila limbah B3 < 50 kg/hari
dapat disimpan > 90 hari.
Pasal 34 (1), Pengolahan limbah B3 dapat dilakukan dengan
cara thermal, stabilisasi dan solidifikasi, secara fisika, kimia,
biologi dan/atau cara lainnya sesuai dengan perkembangan
teknologi.
Pasal 40 (1),setiap pengelolaan limbah B3 wajib memiliki izin
KETENTUAN PIDANA DALAM PENGELOLAAN LIMBAH B3
(UU No. 32/2009)

Pelanggaran Dalam Pidana Denda


Pengelolaan Limbah B3 Penjara
Min Maks Min Maks
Pengelolaan Limbah B3 1 thn 3 thn 1 Milyar 3 Milyar
tanpa izin (Pasal 102)
Tidak melakukan 1 thn 3 thn 1 Milyar 3 Milyar
pengelolaan limbah B3
(Pasal 103)
Pejabat berwenang tdk - 1 thn - 500 jt
melakukan pengawasan
(Pasal 112)
Impor Limbah (Pasal 105) 4 thn 12 thn 4 Milyar 12 Milyar
Impor Limbah B3 (Pasal 106) 5 thn 15 thn 5 Milyar 15 Milyar
Radiasi medik
UU No. 10 tentang Ketenaganukliran

Peraturan Pemerintah No:


26/2002 Keselamatan pengangkutan Zat Radioaktif
27/2002 Pengelolaan Limbah Radioaktif
33/2007 Keselamatan Radiasi Pengion & Keamanan Sumber Radioaktif
29/2008 Perizinan Pemanfaatan SRP & Bahan Nuklir
27/2009 PNBP yang Berlaku di BAPETEN

SK/Perka No:
01/1999 Ketentuan Keselamatan Radiasi
21/2002 Program Jaminan Mutu Instalasi Radioterapi
01P/2003 Dosis Panduan Radiodiagnostik
07/2007 Keamanan Zat Radioaktif
15/2008 Persyaratan SIB. & 3 draft perka: uji kesesuaian,
31
SNI Jaringan Listrik
No. Nomor SNI Jenis SNI
1 SNI 04-0225-2000 Persyaratan umum instalasi listrik 2000 (PUIL
2000)
2 SNI 04-3593-1994 Instalasi listrik bangunan. Bagian 2 : Prinsip dasar
SNI Genset
No. Nomor SNI Jenis SNI
1 SNI ISO 8528-1 Generator set arus bolak-balik dengan penggerak
mesin bakar internal sistem torak bolak-balik :
Penggunaan, Pengenal dan kinerja
2 SNI 04-0225-2000 Persyaratan umum instalasi listrik 2000 (PUIL
2000)
SNI Air
No. Nomor SNI Jenis SNI
1 SNI 05-2547-1991 Spesifikasi ini digunakan dalam menilai mutu
meter air yang digunakan untuk keperluan air
bersih.
2 SNI 03-2916-1992 Spesifikasi ini bertujuan memberikan persyaratan
teknis sumur gali sebagai sumber air baku untuk
air bersih yang terlindung dari pencemaran
GAS MEDIK
SNI 03-7011-2004, SISTEM GAS MEDIK DAN VAKUM MEDIK
PADA BANGUNAN RUMAH SAKIT = NFPA 99 C 2002, US
STANDART
AS 2896 1991, AUSTRALIAN STANDART
BS STANDART HTML 2022
JIS STANDART
EN 1057 EUROPEAN STANDART
DIN 1786/1754