Anda di halaman 1dari 16

PENDAHULUAN

A. Latar Belakanng
Suatu Negara yang baik adalah negara yang diperintah dengan konstitusi dan
berkedaulatan hukum. Aristoteles berpendapat bahwa yang memerintah dalam Negara
bukanlah manusia tetapi pikiran yang adil, dan kesusilaanlah yang menentukan baik-
buruknya suatu hukum. Berdasarkan hal tersebut, maka esensi dari Negara hukum
menurut Sjahran Basah adalah, kekuasaan tertinggi didalam suatu negara terletak pada
hukum atau tiada kekuasaan lain apapun, terkecuali kekuasaan hukum semata yang dalam
hal ini bersumber pada pancasila selaku sumber dari segala sumber hukum.
Terkait dengan hal tersebut, maka Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai
Negara hukum juga harus menempatkan hukum sebagai pedoman dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Keberadaan Indonesia sebagai Negara Hukum dapat ditemukan
dalam Dalam penjelasan UUD 1945 sebelum amandemen disebutkan bahwa Indonesia
ialah negara yang berdasar atas hukum (Rechtsstaat), yang berarti Indonesia berdasarkan
hukum dan tidak berdasarkan pada kekuasaan semata (machtsstaat). Hal tersebut,
kembali dipertegas pada amandemen UUD NRI Tahun 1945 dalam Pasal 1 ayat (3) yang
menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. Berdasarkan ketentuan
Konstitusi tersebut, maka negara Indonesia diperintah berdasarkan hukum yang berlaku,
termasuk penguasa pun harus tunduk pada hukum yang berlaku.
Akan tetapi, hukum di Indonesia saat ini menggambarkan bahwa implementasi
konsep negara hukum hanya sebatas formalitas belaka. Dimana, pada satu sisi, muncul
berbagai kecendrungan perilaku anggota masyarakat yang sering menyimpang dari
berbagai aturan yang dihasilkan oleh Negara. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya
kriminalitas, dan yang mencemaskan ialah bahwa meningkatnya kriminalitas bukan
hanya dalam kuantitas saja, tetapi juga dalam kualitas atau intensitas. Kejahatan-
kejahatan lebih terorganisir, lebih sadis serta di luar peri kemanusiaan: perampokan-
perampokan yang dilakukan secara kejam terrhadap korban-korbannya tanpa
membedakan apakah mereka anak-anak atau perempuan, pembunuhan-pembunuhan
dengan memotong-motong tubuh korban.
Selain itu, banyaknya kasus korupsi yang kata orang sudah membudaya di
Indonesia, serta praktek suap tidak terbilang banyaknya, sehingga sudah
dikatakanmembudaya juga, sehingga orang mengikuti saja apa yang dilakukan oleh
orang lain asal tercapai tujuannya.
Sementara itu, pada sisi yang lain praktek penegakan hukum yang terjadi di
negeri ini juga mengalami penyakit yang serius. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya
isu yang dialamatkan kepada aparat penegak hukum, baik itu polisi, jaksa maupun hakim.
misalnya, tentang banyaknya para koruptor yang dibebaskan oleh pengadilan, dan
kalaupun dihukum hanya sebanding dengan hukuman pencuri ayam. Kenyataan yang
berbeda terjadi pada masyarakat biasa, dimana orang miskin akan sangat kesulitan
mencari keadilan diruang pengadilan. Dengan demikian, dapat dihasilkan kesimpulan
bahwa praktek hukum di Indonesia berjalan dengan diskriminatif dan seakan-akan hanya
memihak golongan tertentu saja. Orang berduit akan begitu mudah mendapatkan keadilan
sedangkan sebaliknya masyarakat biasa begitu jauh dari keadilan. Dengan kata lain
bahwa putusan pengadilan dapat diukur dengan uang, karena yang menjadi parameter
untuk keringanan hukuman dalam peradilan lebih pada pertimbangan berapa jumlah uang
untuk itu daripada pertimbangan hukum yang bersandar pada keadilan dan kebenaran.
Dampaknya kehidupan hukum menjadi tidak terarah dan terpuruk. Keterpurukan hukum
di suatu negara, akan berdampak negatif yang mempengaruhi sektor kehidupan lain
misalnya kehidupan ekonomi, politik dan budaya. Bagaimanapun upaya para pakar
ekonomi maupun politik dalam mengatasi masalah dan ketimpangan ekonomi dan politik,
akan sia-sia belaka jika keterpurukan hukum masih terjadi. Untuk itu, hendaknya hukum
menjadi panglima dalam setiap dimensi kehidupan bernegara.
Dalam kehidupan bernegara, HAM diatur dan dilindungi oleh perundang-
undangan RI, dimana setiap bentuk pelanggaran HAM baik yang dilakukan oleh
seseorang, kelompok atau suatu instansi atau bahkan suatu Negara. Kasus tersebut, akan
diadili dalam pelaksanaan peradilan HAM, pengadilan HAM menempuh proses
pengadilan melalui hukum acara peradilan Manusia, sejak lahir di dunia belahan
manapun, secara hukum sudah memiliki hak asasi untuk hidup. Pemberlakuan Hak asasi
Manusia (HAM), tidak memandang tingkatan ekonomi, pendidikan, jenis kelamin, ras
dan lainnya. Menurut G.J. Wolhoff HAM adalah sejumlah hak yang seakan-akan
berakar dalam tabiat setiap oknum pribadi manusia justru karena kemanusiaannya, yang
tak dapat dicabut oleh siapapun juga, karena apabila dicabut hilang juga
kemanusiaannya.
Berbagai hal tersebut kemudian menimbulkan persoalan bagaimana implementasi
penegakan hukum dan HAM di Indonesia, mengingat NKRI adalah Negara hukum yang
wajib memberikan perlindungan terhadap seluruh masyarakatnya secara menyeluruh
tanpa adanya pengecualian.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi dari Hukum?
2. Bagaimana konsep Negara hukum diindonesia?
3. Apakah definisi dari Hak Asasi Manusia?
4. Apa saja jenis- jenis Hak Asasi Manusia?
5. Bagaimana konsep Hak Asasi Manusia?
6. Bagaimana Hak Asasi Manusia di Tengah Masyarakat Indoneisa?
7. Bagaimana Agar Hukum dan HAM Bekerja Dengan Baik?

C. Tujuan
1. Mengetahui definisi dari Hukum
2. Mengetahui konsep Negara Hukum diindonesia
3. Mengetahui definisi dari Hak Asasi Manusia
4. Mengetahui jenis- jenis Hak Asasi Manusia
5. Mengetahui konsep HAM di Tengah Masyarakat Indonesia
6. Mengetahui Hak Asasi Manusia di Tengah Masyarakat Indoneisa
7. Mengetahui bagaimana Hukum dan HAM Bekerja Dengan Baik
ISI

A. HUKUM
Definisi
Hukum merupakan peraturan dalam bentuk norma dan sanksi, dibuat dengan
tujuan mengatur tingkah laku manusia, menjaga ketertiban, keadilan, dan mencegah
terjadinya kekacauan. Dengan hukum terjamin kepastian hukum di dalam masyarakat,
oleh sebab itu, setiap masyarat berhak untuk memperoleh pembelaan didepan hukum.
Hukum dapat diartikan sebagai sebuah peraturan atau ketetapan/ketentuan yang
tertulis ataupun yang tidak tertulis untuk mengatur kehidupan masyarakat dan
menyediakan sanksi bagi melanggarnya
Terdapat beberapa sudut pandang yang dapat digunakan untuk melihat hukum,
yang jika disimpulkan yakni sebagai berikut:
a) Hukum dalam arti ketentuan penguasa: hukum diartikan sebagai perangkt peraturan
yang dibuat oleh penguasa dlam hal ini adalah pemerintah. Misalnya UU
b) Hukum dalam arti petugas: hukum dideskripsikan dlam wujud petugas yang
berseragam yang bertugas menegakan hukum
c) Hukum dalam arti sikap tindak: hukum di gambarkan sebagai perilaku yang ajeg atau
sikap tindak yang teratur. Misalnya: A sewa kamar dari B, dengan kewajiban setiap
bulan A membayar uang sewa. Maka secara teratur setiap bulan A membayar sewa
kamar pada B
d) Hukum dalam arti sistem kaedah: hukum digambarkan sebagai perilaku masyarakat
yang menuruti norma atau kaedah yang berlaku dalam masyarakat. Apabila tidak
menaatinya maka dianggap sebagai perilaku yang menyimpang.
Kaedah hukum dibutuhkan dalam memberikan perlindungan yang belum
diberikan oleh kaedah-kaedah sosial yang lainnya, yang ditujukan terutama kepada
pelakunya yang konkret, yaitu pelaku pelanggaran yang nyata-nyata berbuat, bukan untuk
penyempurnaan manusia, melainkan untuk ketertiban masyarakat agar masyarakat lebih
tertib, agar jangan jatuh korban kejahatan, serta agar tidak terjadi kejahatan. Menurut
Soerjono Soekanto, ciri-ciri kaedah hukum pada umumnya adalah;
a. Kaedah hukum mempunyai sifat untuk menciptakan keseimbangan antara
kepentingan-kepentingan orang-orang maupun kelompok-kelompok di dalam
masyarakat, yang memiliki kepentingan yang berbeda-beda.
b. Suatu kaedah hukum dengan tegas mengatur perbuatan-perbuatan manusia yang
bersifat lahiriah
c. Kaedah hukum pada umumnya mengandung sanksi hukum yang teratur, rapi, pasti
dan dijalankan oleh masyarakat sebagai badan-badan pelaksana hukum.
d. Kaedah hukum mempunyai sifat untuk menciptakan keseimbangan antara
kepentingan-kepentingan orang-orang maupun kelompok-kelompok di dalam
masyarakat, yang memiliki kepentingan yang berbeda-beda.
e. Suatu kaedah hukum dengan tegas mengatur perbuatan-perbuatan manusia yang
bersifat lahiriah
f. Kaedah hukum pada umumnya mengandung sanksi hukum yang teratur, rapi, pasti
dan dijalankan oleh masyarakat sebagai badan-badan pelaksana hukum.

Konsep Negara Hukum


Pemikiran mengenai Negara hukum dimulai sejak abad XIX s/d abad XX, pada
hakekatnya Negara hukum berakar dari konsep teori kedaulatan hukum yang pada
prinsipnya menyatakan bahwa kekuasaan tertinggi didalam suatu Negara adalah hukum,
oleh sebab itu seluruh alat perlengkapan Negara apapun namanya termasuk warganegara
harus tunduk dan patuh serta menjunjung tinggi hukum tanpa kecuali.
Dalam teori Negara hukum terdapat dua sistem hukum yaitu rechtstaat dan rule
of law. Burkens, et.al., mengemukakan pengertian Rechtsstaat secara sederhana seperti
yang dikutip A. Hamid S. Attamimi, yaitu negara yang menempatkan hukum sebagai
dasar kekuasaan negara dan penyelenggaraan kekuasaan tersebut dalam segala bentuknya
dilakukan di bawah kekuasaan hukum. Dalam Rechtsstaat, menurutnya adalah ikatan
antara negara dan hukum tidaklah berlangsung dalam ikatan yang lepas atau pun bersifat
kebetulan, melainkan ikatan yang hakiki. Dari pandangan tersebut, mengandung arti
bahwa kekuasaan pemerintahan dalam suatu negara bersumber pada hukum dan
sebaliknya untuk melaksanakan hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan suatu
negara harus berdasarkan kekuasaan.
Syarat-syarat dasar rechtsstaat yang dikemukakan oleh Burkens, et.al., yang
dikutip oleh Philipus M. Hadjon, adalah:
a. Asas legalitas; setiap tindak pemerintahan harus didasarkan atas dasar peraturan
perundang-undangan (wetterlijke grondslag). Dengan landasan ini, Undang-undang
dalam arti formal dan UUD sendiri merupakan tumpuan dasar tindak pemerintahan.
Dalam hal ini pembentuk undang-undang merupakan bagian penting negara hukum;
b. Pembagian kekuasaan; syarat ini mengandung makna bahwa kekuasaan negara tidak
boleh hanya bertumpu pada satu tangan;
c. Hak-hak dasar (grondrechten); hak-hak dasar merupakan sasaran perlindungan
hukum bagi rakyat dan sekaligus membatasi kekuasaan pembentukan undang-
undang;
d. Pengawasan pengadilan Administrasi; bagi rakyat tersedia saluran melalui
pengadilan yang bebas untuk menguji keabsahan tindak pemerintahan
(rechtmatigheids toetsing)

Sementara itu, The rule of law dalam pengertian ini pada intinya adalah common
law sebagai dasar perlindungan bagi kebebasan individu terhadap kesewenang-wenangan
oleh penguasa atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa para pejabat negara tidak
bebas dari kewajiban untuk mentaati hukum yang mengatur warga negara biasa atau dari
yuridiksi peradilan biasa dan menolak kehadiran peradilan administrasi. E.C.S. Wade dan
Godfrey Philips mengidentifikasi lima aspek the rule of law sebagai berikut:
a. Semua tindakan pemerintah harus menurut hukum.
b. Pemerintah harus berprilaku di dalam suatu bingkai yang diakui peraturan
perundang-undangan dan prinsip-prinsip yang membatasi kekuasaan diskresi.
c. Sengketa mengenai keabsahan tindakan pemerintah akan diputuskan oleh pengadilan
yang murni independen dari eksekutif
d. Harus seimbang antara pemerintah dan warga negara.
e. Tidak seorangpun dapat dihukum, kecuali atas kejahatan yang ditegaskan menurut
undang-undang.
Dengan demikian, sebuah Negara dikatakan sebagai Negara hukum adalah
Negara yang mendasarkan berbagai kebijakan dan tindakannya harus berdasarkan hukum
tanpa ada pembatasan berdasarkan golongan, kedudukan, agama, ras, maupun suku
bangsa tertetu.

B. HAK ASASI MANUSIA


Definisi
Menurut Jack Donelly, hak asasi manusia itu melekat pada kodrat manusia
sendiri. Oleh karena itu landasan hak asasi manusia adalah :
1) landasan yang langsung dan yang pertama adalah KODRAT manusia.
2) landasan yang kedua dan yang lebih dalam : Tuhan menciptakan manusia, yang
menghendakinya supaya manusia yang diciptakanNya itu mencapai
kesempurnaannya.

Hak asasi manusia sebagai hak yang melekat pada kodrat manusia, yang berarti
hak-hak yang lahir bersama dengan eksistensi manusia dan merupakan konsekuensi
hakiki kodratnya, maka sifatnya universal. Hak asasi manusia secara umum dapat
diartikan sebagai hak yang melekat pada sifat manusia yang tampil dengannya, tanpa hak
asasi manusia seseorang tak dapat hidup.
Sementara itu, pengertian hak asasi manusia berdasarkan Undang-Undang
Nomor 39 Tahun 1999 adalah :
Seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai mahluk
Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugrah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung
tinggi dan dilindungi oleh Negara, Hukum, Pemerintah dan setiap orang demi
kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia .
HAM / Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia
sejak awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapa
pun. Sebagai warga negara yang baik kita mesti menjunjung tinggi nilai hak azasi
manusia tanpa membeda-bedakan status, golongan, keturunan, jabatan, dan lain
sebagainya.
Jenis Jenis Hak Asasi Manusia
a. Hak asasi pribadi / personal Right
- Hak kebebasan untuk bergerak, bepergian dan berpindah-pndah tempat
- Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat
- Hak kebebasan memilih dan aktif di organisasi atau perkumpulan
- Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, dan menjalankan agama dan
kepercayaan yang diyakini masing-masing
b. Hak asasi politik / Political Right
- Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan
- Hak ikut serta dalam kegiatan pemerintahan
- Hak membuat dan mendirikan parpol / partai politik dan organisasi politik
lainnya
- Hak untuk membuat dan mengajukan suatu usulan petisi
c. Hak azasi hukum / Legal Equality Right
- Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan
- Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil / pns
- Hak mendapat layanan dan perlindungan hukum
d. Hak azasi Ekonomi / Property Rigths
- Hak kebebasan melakukan kegiatan jual beli
- Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak
- Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa, hutang-piutang, dll
- Hak kebebasan untuk memiliki susuatu
- Hak memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak
e. Hak Asasi Peradilan / Procedural Rights
- Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan
- Hak persamaan atas perlakuan penggeledahan, penangkapan, penahanan dan
penyelidikan di mata hukum.
f. Hak asasi sosial budaya / Social Culture Right
- Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan
- Hak mendapatkan pengajaran
- Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat
Konsep Hak Asasi Manusia
Konsep HAM, dipelopori komisi PBB yang dipimpin Elenor Roosevelt, isteri
Presiden Amerika Serikat, Frangklin D Roosevelt. Melalui pembentukan komisi HAM
PBB tahun 1945, yang dideklarasikan 10 Desember 1948, secara resmi disebut
Universal Declaration of Human Rights atau Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.
Di dalamnya menjelaskan tentang hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan
yang dinikmati manusia di dunia yang mendorong perhargaan terhadap hak-hak asasi
manusia.
Tujuh belas poin HAM yang dinyatakan pada deklarasi PBB tersebut adalah;
bahwa setiap orang mempunyai: 1) hak untuk hidup; 2) kemerdekaan dan keamanan
badan; 3) hak untuk diakui kepribadiannya menurut hukum; 4) hak untuk memperoleh
perlakuan yang sama dengan orang lain menurut hukum; 5) hak untuk mendapat jaminan
hukum dalam perkara pidana, seperti diperiksa di muka umum dan dianggap tidak
bersalah kecuali ada bukti yang sah; 7) hak untuk masuk dan keluar wilayah suatu negara;
8) hak untuk mendapat hak milik atas benda; 9) hak untuk bebas untuk mengutarakan
pikiran dan perasaan; 10) hak untuk bebas memeluk agama, serta mempunyai dan
mengeluarkan pendapat; 11) hak untuk berapat dan berkumpul; 12) hak untuk
mendapatkan jaminan sosial; 13) hak untuk mendapatkan pekerjaan; 14) hak untuk
berdagang; 15) hak untuk mendapatkan pendidikan; 16) hak untuk turut serta dalam
gerakan kebudayaan masyarakat; 17) hak untuk menikmati kesenian dan turut serta dalam
kemajuan keilmuan.
Pendeklarasian atau Perjanjian Universal Declaration of Human Rights telah
diratifikasi pemerintah Indonesia melalui UU no 39 tahun 1999 tentang HAM. Semangat
undang-undang ini, adalah untuk meninggikan harkat, martabat bangsa dengan harapan
jauh dari pelanggaran. Karena sesungguhnya HAM tidak diperjual-belikan, dan tidak
dapat membatasi orang lain di luar koridor hukum yang berlaku. Sesuai pasal 1, UU
39/99 tentang HAM; menyatakan bahwa Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak
yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha
Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi
oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan
harkat dan martabat manusia.
Implementasi hukum dan Hak Asasi Manusia melalui media massa di Indonesia,
banyak terjadi kasus pelanggaran HAM, walaupun Indonesia adalah negara hukum dan
telah mempunyai peraturan sendiri, yang berkenaan dengan pelanggaran HAM,
diantaranya adalah: UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia; UU No. 8 Tahun
1999 tentang Perlindungan Konsumen; UU No. 23 tahun 2003 tentang Perlindungan
Anak, UU no 7 tahun 1984 tentang Penghapusan Semua Bentuk Diskriminasi Terhadap
Perempuan, dan lainnya. Semua UU itu adalah melindungi hak yang terdapat pada diri
seseorang, sebab dengan alasan apapun HAM tidak boleh dilanggar.

Hak Asasi Manusia di Tengah Masyarakat Indonesia


Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia ditengah
masyarakat semenjak dalam kandungan sampai akhir kematian, yang terkadang
menimbulkan gesekan-gesekan antar individu dalam upaya pemenuhan HAM pada
dirinya sendiri. Hal inilah yang memunculkan pelanggaran HAM seorang individu
terhadap individu lain, atau kelompok terhadap individu, dan sebaliknya. Seperti yang
ditonton di televisi, di dengar di radio, atau dibaca di Koran, pada dekade ini aksi-aksi
kekerasan dan bentuk pelanggaran hak asasi manusia terus berlangsung. Sehingga banyak
terjadi pelanggaran HAM ditengah masyarakat, baik pelanggaran HAM berat ataupun
pelanggaran HAM ringan.
Undang-Undang tentang HAM menyatakan; pelanggaran HAM adalah setiap
perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat Negara baik disengaja maupun
tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hokum ,mengurangi, menghalangi,
membatasi dan mencabut HAM seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh
undang-undang ini dan tidak mendapat atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh
penyelesaian hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.
Pada saat ini, telah menjadi UU No.26/2000 tentang pengadilan HAM yang berbunyi
pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk
aparat negara baik disengaja ataupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum
mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut HAM seseorang atau kelompok
orang yang dijamin oleh Undang-Undang ini, dan tidak didapatkan atau dikhawatirkan
tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang berlaku..
Pelanggaran demi pelanggaran HAM yang terjadi di tengah masyarakat, dengan
penegakan hukum yang lemah, memicu ketidakadilan dan ketimpangan, berdampak
rusuh dan ricuh baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar. Sejalan dengan apa
yang diamanatkan konstitusi, Indonesia berpandangan bahwa pemajuan dan perlindungan
HAM harus didasarkan pada prinsip, bahwa hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial
budaya, dan hak pembangunan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,
baik dalam penerapan, pemantauan, maupun dalam pelaksanaannya.
Sesuai dengan pasal 1 (3), pasal 55, dan 56 Piagam PBB upaya pemajuan dan
perlindungan HAM harus dilakukan melalui sutu konsep kerja sama internasional yang
berdasarkan pada prinsip saling menghormati, kesederajatan, dan hubungan antar negara
serta hukum internasional yang berlaku. Sekaitan dengan itu, dalam rangka
mensejahterakan rakyat di Indonesia pemerintah memiliki Program penegakan hukum
dan HAM meliputi pemberantasan korupsi, antitrorisme, serta pembasmian
penyalahgunaan narkotika dan obat berbahaya. Penegakan hukum dan HAM ini, belum
dilakukan secara tegas, masih diskriminatif dan tidak konsisten. Untuk itu, dalam
penegakan HAM di Indonesia perlu:1) kesadaran rasa kemanusiaan yang tinggi; 2) aparat
hukum yang bersih, dan tidak sewenang-wenang; 3) sanksi yang tegas bagi para
pelanggara HAM; 4) penanaman nilai-nilai keagamaan pada masyarakat. Pada
hakekatnya, penegakan HAM bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah, tetapi
juga tanggungjawab masyarakat sebagai rakyart Indonesia yang mempunyai hak untuk
keadilan dan masyarakat juga dapat memperjuangkannya melalui wakil rakyat di
legislatif.
Implementasi HAM oleh Pemerintah Indonesia dengan meratifikasi perjanjian
PBB tentang Hak Asasi Manusia (HAM) melalui Undang-undang nomor 39 tahun 1999
tentang HAM, membuktikan keseriusan pemerintah Indonesia dengan HAM.
Implementasinya diharapkan juga keseriusan pemerintah melalui penegakan hukum yang
berlaku, tanpa memandang tingkat sosial, ras, agama dan lainnya. Pelanggaran bisa saja
dilakukan oleh pemerintah ataupun masyarakat, baik kelompok maupun secara
perorangan. Kasus pelanggaran HAM dapat dikategorikan dalam dua jenis, yaitu:
I. kasus pelanggaran HAM berat: 1) Pembunuhan masal (genisida); 2) Pembunuhan
sewenang-wenang atau di luar putusan pengadilan; 3) Penyiksaan; 4) Penghilangan
orang secara paksa; 5) Perbudakan atau diskriminasi yang dilakukan secara
sistematis.
II. kasus pelanggaran HAM biasa: 1) Pemukulan; 2) Penganiayaan; 3) Pencemaran
nama baik; 4) menghalangi orang untuk mengekspresikan pendapatnya; 5)
Menghilangkan nyawa orang lain.
Sikap akomodatif pemerintah terhadap tuntutan penegakan HAM, adalah dengan
dibentuknya KOMNAS HAM berdasarkan Kepres Nomor 50 tahun 1993 pada tanggal 7
Juni 1993. KOMNAS HAM menyandang tugas: 1) memantau & menyelidiki pelaksanaan
HAM & memberi saran serta pendapat kepada pemerintah perihal HAM. 2) membantu
pengembangan kondisi-kondisi yang kodusif bagi pelaksanaan HAM sesuai pancasila dan
UUD 1945 (termasuk hasil amandemen UUD NKRI 1945), Piagam PBB, Deklarasi
Universal HAM dan deklarasi atau perundang-undangan lainnya yang terkait dengan
penegakan HAM. KOMNAS HAM berbeda dengan komisi-komisi lembaga Negara
independen lainnya, seperti Komisi Pemilihan Umum, Komisi Penyiaran Indonesia,
Komisi Perlindungan Anak Indonesia, dan lain-lain. Komisi-komisi tersebut lahir setelah
adanya Undang-undang terkait, sementara KOMNAS HAM sudah ada sebelum UU 39
tahun 1999 tentang HAM.
Seperti yang telah diatur dalam UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM tersebut,
bahwa, pihak yang berhak berpatisipasi dalam penegakan HAM adalah: a. individu, b.
kelompok c. organisasi politik, d. organisasi masyarakat, e. LSM atau NGO (Non
Government Organazation), f. Perguruan Tinggi, g. Lembaga Studi, h. Lembaga
Kemasyarakatan lainnya. Diharapkan semua elemen yang tercantum dalam butiran
tersebut mendapatkan tempat yang layak, baik dari pemerintah, maupun dari masyarakat
sendiri dalam dukungan moral dan eksistensinya.

Strategi Agar Hukum dan HAM Bekerja Dengan Baik


a. Perbaikan Sistem Hukum
Tawaran perubahan dan pembaharuan dalam bidang hukum terus bergema
dengan kondisi keterpurukan hukum. Baik dilakukan oleh Lembaga Swadaya
Masyarakat, organisasi-organisasi massa rakyat, akademisi dan politisi, yang
kesemuanya prihatin dengan sistem hukum yang ada. Reformasi sistem hukum
menjadi wacana hangat yang patut di sambut baik demi perbaikan kondisi bangsa ini.
Sebab semuanya sepakat hukum menjadi salah satu penentu perbaikan bangsa di atas
moralitas dan kepribadian masyarakat.
Keterpurukan hukum di Indonesia di sebabkan sistem hukum yang bekerja di
dalamnya mengalamai disorientasi gerakan dan tujuan. Sistem hukum yang dimaksud
dan perlu diperbaiki adalah, struktur, substansi dan kultur hukum serta sarana
prasarana.
1) Struktur
Struktur di ibaratkan sebagai mesin yang di dalamnya ada institusi-
institusi pembuat dan penegakan hukum, seperti DPR, Eksekutif, Legislatif,
kepolisian, kejaksaan dan pengadilan. Terkait dengan ini, maka perlu dilakukan
seleksi yang objektif dan transparan terhadap aparatur penegakan hukum.
Selain itu, keanggotaan lembaga pembuat produk peraturan perundang-
undangan juga perlu mendapat perhatian dalam proses pemilihannya, sehingga
kualitasnya dapat memberikan pengaruh terhadap kualitas produk peraturan
perundang-undangan yang akan dibuat.
2) Substansi
Substansi adalah apa yang di kerjakan dan dihasilkan oleh mesin itu, yang
berupa putusan dan ketetapan, aturan baru yang mereka susun, substansi juga
mencakup aturan yang hidup dan bukan hanya aturan yang ada dalam kitab
undang-undang.
Selain itu, substansi suatu peraturan perundang-undangan juga
dipengaruhi sejauh mana peran serta atau partisispasi masyarakat dalam
merumuskan berbagai kepentingannya untuk dapat diatur lebuh lanjut dalam
suatu produk peraturan perundang-undangan.
Partisipasi berarti ada peran serta atau keikutsertaan (mengawasi,
mengontrol dan mempengaruhi) masyarakat dalam suatu kegiatan pembentukan
peraturan, mulai dari perencanaan sampai dengan evaluasi pelaksanaan UU.
Adanya partisipasi masyarakat dalam pembentukan suatu undang-undang
memungkinkan substansi dari suatu undang-undang berasal dari pemikiran atau
ide yang berkembang didalam masyarakat yang akan digulirkan masuk kedalam
lembaga atau badan legislatif, dan didalam lembaga inilah pemikiran atau ide
tersebut kemudian dirumuskan untuk dijadikan sebagai undang-undang.
3) Kultur
Sedangkan kultur hukum menyangkut apa saja atau siapa saja yang
memutuskan untuk menghidupkan dan mematikan mesin itu, serta memutuskan
bagaimana mesin itu digunakan, yang mempengaruhi suasana pikiran sosial dan
kekuatan sosial yang menentukan bagaimana hukum digunakan, dihindari atau
disalahgunakan.
Untuk itu diperlukan membentuk suatu karakter masyarakat yang baik
agar dapat melaksanakan prinsip-prinsip maupun nilai-nilai yang terkandung
didalam suatu peraturan perundang-undangan (norma hukum). Terkait dengan hal
tersebut, maka pemanfaatan norma-norma lain diluar norma hukum menjadi salah
satu alternatif untuk menunjang imeplementasinya norma hukum dalam bentuk
peraturan perundang-undangan. Misalnya, pemanfaatan norma agama dan norma
moral dalam melakukan seleksi terhadap para penegak hukum, agar dapat
melahirkan aparatur penegak hukum yang melindungi kepentingan rakyat,
maupun sebagai norma pelengkap dalam rangka menegakkan hukum.
Secara umum, jika ingin keluar dari keterpurukan hukum maka sistem
hukum perlu diperbaiki secara keseluruhan dan diisi oleh komponen yang benar-
benar ingin memperbaiki hukum dan bukannya mencari keuntungan dan
menyalamatkan kepentingan diri dan kelompoknya.
b. Meningkatkan Kesadaran Hukum
Selain persoalan system hukum yang harus diperbaiki, maka kesadaran hokum
juga memiliki peranan dalam proses penegakan hokum dan HAM. Menurut Krabe
hukum tidak bergantung pada kehendak manusia, tapi telah ada pada kesadaran hukum
setiap orang. Kesadaran hukum tidak datang, apalagi dipaksakan dari luar, melainkan
dirasakan setiap orang dalam dirinya. Dengan demikian, kesadaran akan pentingnya
hukum dan HAM dari setiap masyarakat diperlukan untuk mendukung efektifitas
hukum dan HAM.
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sebagai suatu Negara hukum maka sudah selayaknya Indonesia menghormati dan
menerapkan prinsip-prinsip Negara hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tetapi kenyataan yang terjadi adalah banyak terjadi diskriminasi dalam penerapan prinsip-
prinsip Negara hukum yang dilakukan oleh para aparat penegakkan hukum, hal ini
menimbulkan ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja aparat penegak hukum, dan dari
tumpukan kekecewaan tersebut, memunculkan sikap main hakim sendiri di dalam
masyarakat dalam mewujudkan rasa keadilan masyarakat. Hal ini menunjukan bahwa aparat
penegak hukum memegang peranan yang penting dalam menumbuhkan kesadaran
berhukum dalam masyarakat sekaligus menegakkan prinsip-prinsip Negara hukum. Untuk
itu, salah satu factor yang perlu mendapat perhatian serius dalam mengembalikan
kepercayaan masyarakat terhadap hukum melalui kinerja aparat penegak hukum adalah,
perlu adanya pembaharuan perilaku dan moral para petugas penegak hukum dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam menegakkan hukum tanpa adanya
diskriminasi, selain itu, peningkatan kesadaran hukum masyarakat juga perlu ditingkatkan.
DAFTAR PUSTAKA

Achmad Ali, 2009, Menguak Teori Hukum (legal Theory) & Teori Peradilan (Judicialprudence):
Termasuk Interpretasi Undang-undang (Legisprudence), Kencana

Anthonius Cahyadi dan fernando Manullang, 2010, Pengantar ke Filsafat Hukum, Kencana,
Jakarta

Bagir Manan.2001. Perkembangan Pemikiran dan Pengaturan Hak Asasi Manusia Di Indonesia.
Bandung: YHDS.

B. Hestu Cipto Handoyo, Hukum Tata Negara, Kewarganegaraan dan HAM, 2003, Universitas
Atmajaya, Yogyakarta

Davidson, Scott. 1994. Hak Asasi Manusia: Sejarah, Teori dan Praktek dalam Pergaulan
Internasional. Grafiti, Jakarta.

Nimatul Huda, 2005, Negara Hukum, Demokrasi dan Judicial review, UII Press, Yogyakarta

Satjipto Rahardjo, 2010, Penegakan Hukum Progresif, Penerbit Buku Kompas, Jakarta

Soerjono Soekanto, 2010, Faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum, PT Raja


Grafindo Persada, Jakarta