Anda di halaman 1dari 35

REFERAT

PENANGANAN JALAN NAPAS

Pembimbing :

dr. Ratna Anggraeni Sp.An

Disusun oleh:

Noca Arianti, S.Ked

030.13.240

KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BEKASI
PERIODE 24 JULI 2017-26 AGUSTUS 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan izinnya
penyusun dapat menyelesaikan referat dengan judul Penanganan Jalan Nafas ini tepat pada
waktunya. Referat ini disusun guna memenuhi tugas kepanitraan klinik Ilmu Anestesi di Rumah
Sakit Umum Daerah Bekasi.

Pada kesempatan ini, penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
dr. Langgeng Sp.An, dr. Ratna, Sp.An, dr. Randy, Sp.An, yang telah membimbing penyusun
dalam mengerjakan rederat ini serta semua pihak yang telah memberi dukungan dan bantuan
kepada penyusun.

Penyusun menyadari bahwa dalam dalam penyusunan referat ini masih terdapat banyak
kekurangan, baik isi maupun format penyusunan. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik
dan saran yang membangun untuk perbaikan di masa mendatang.

Akhir kata, saya selaku penyusun berharap referat mengenai Penanganan Jalan Napas
ini dapat berguna dan memberikan manfaat bagi kita semua.

Jakarta, Agustus 2016


Penyusun

Noca Arianti
030.13.240

i
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................................ 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................................ 2

2.1 DEFINISI ............................................................................................................................................ 2

2.2 ANATOMI ............................................................................................................................................ 3

2.3 AIRWAY MANAGEMENT ............................................................................................................... 5

A. TINDAKAN PENGUASAAN JALAN NAPAS DARURAT (TANPA ALAT) ................................ 5

B. PENGELOLAAN JALAN NAPAS (AIRWAY MANAGEMENT) DENGAN ALAT ................... 7

1. ORAL & NASAL AIRWAY ............................................................................................................ 7

2. TEKNIK & BENTUK FACEMASK ............................................................................................... 8

3. TEKNIK & BENTUK LMA .......................................................................................................... 11

4. ESOPHAGEAL-TRACHEA COMBITUBE (ETC) ..................................................................... 13

5. PIPA TRAKEA ............................................................................................................................... 13

6. RIGID LARINGOSCOPE ............................................................................................................. 15

7. LARINGOSKOP KHUSUS ........................................................................................................... 17

8. TEKNIK LARINGOSKOP & INTUBASI ................................................................................... 18

9. TEKNIK EKSTUBASI ................................................................................................................... 22

10. KOMPLIKASI LARINGOSKOP & INTUBASI ....................................................................... 24

BAB III KESIMPULAN .......................................................................................................................... 28

BAB IV DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................ 29

ii
iii
BAB I

PENDAHULUAN

Pengelolaan jalan nafas menjadi salah satu bagian yang terpenting dalam suatu tindakan
anestesi. Karena beberapa efek dari obat-obatan yang dipergunakan dalam anestesi dapat
mempengaruhi keadaan jalan nafas untuk berjalan dengan baik. Ketidakmampuan menjaga jalan
nafas dapat menimbulkan kondisi yang mengancam jiwa pada pasien.

Salah satu usaha untuk menjaga jalan napas pasien adalah dengan melakukan tindakan
intubasi endotracheal, yakni dengan memasukkan suatu pipa ke dalam saluran perafasan bagian
atas dan tindakan pemasangan Laryngeal mask airway (LMA), yakni dengan memasukkan ke
dalam hipofaring membentuk sekat kedap udara di sekeliling laring untuk memberikan ventilasi
tekanan positif atau pernafasan spontan. Karena syarat utama yang harus diperhatikan dalam
anestesi umum adalah menjaga agar jalan napas selalu bebas dan napas dapat berjalan dengan
lancer serta teratur. Tahap akhir dari pelaksanaan intubasi adalah ekstubasi. Dalam pelaksanaan
ekstubasi dapat terjadi gangguan pernapasan yang merupakan komplikasi yang sering kita temmui
pasca anestesi. Komplikasi bias terjadi setelah dilaksanakannya ekstubasi seperti : pengeluaran
sekret dari mulut yang menyumbat jalan napas, edema laring, dan bisa terjadi spasme laring.
Komplikasi pernapasan pasca anestesi bisa menyebabkan hipoventilasi dan hipoksemia.

Gejala komplikasi kadang-kadang datangnya tidak diduga kendatipun tindakan anestesi


sudah dilaksanakan dengan baik.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Airway Manajement ialah memastikan jalan napas terbuka. tindakan paling penting untuk
keberhasilan resusitasi adalah segera melapangkan saluran pernapasan. Dengan tujuan untuk
menjamin jalan masuknya udara ke paru secara normal sehingga menjamin kecukupan oksigenase
tubuh.

Menurut The Commite on Trauma: American College of Surgeon (Yayasan


EssentiaMedica, 1983: 20; Hendrotomo, 1986: 497) tindakan paling penting untuk keberhasilan
resusitasi adalah segera melapangkan saluran pernapasan, yaitu dengan cara:

a. Triple manuver
Pada Triple Airway Manuever terdapat tiga perlakuan yaitu
Kepala ditengadahkan dengan satu tangan berada di bawah leher, sedangkan tangan yang
lain pada dahi. Leher diangkat dengan satu tangan dan kepala ditengadahkan ke belakang
oleh tangan yang lain.
Menarik rahang bawah ke depan, atau keduanya, akan mencegah obtruksi hipofarings oleh
dasar lidah. Kedua gerakan ini meregangkan jaringan antara larings dan rahang bawah.
Menarik / mengangkat dasar lidah dari dinding pharyinx posterior

b. Manuver Heimlich

Manuever Heimlich (The Committee on Trauma: American College of Surgeon) ini


merupakan metode yang paling efektif untuk mengatasi obstruksi saluran pernapasan atas akibat
makanan atau benda asing yang terperangkap dalam pharynx posterior atau glottis.

2
2.2 Anatomi

Ada dua gerbang untuk masuk ke jalan nafas pada manusia yaitu hidung yang menuju
nasofaring (pars nasalis), dan mulut yang menuju orofaring (pars oralis). Kedua bagian ini
dipisahkan oleh palatum pada bagian anteriornya, tapi kemudian bergabung dibagian posterior
dalam faring. Faring berbentuk U dengan struktur fibromuskuler yang memanjang dari dasar
tengkorak menuju kartilago krikoid pada jalan masuk ke esophagus. Bagian depannya terbuka ke
dalam rongga hidung, mulut, laring, nasofaring, orofaring dan laringofaring (pars laryngeal).
Nasofaring dipisahkan dari orofaring oleh garis imaginasi mengarah ke posterior. Pada dasar lidah,
secara fungsional epiglottis memisahkan orofaring dari laringofaring (atau hipofaring). Epiglotis
mencegah terjadinya aspirasi dengan menutup glottis pada saat menelan. Laring adalah suatu
rangka kartilago yang diikat oleh ligament dan otot. Laring disusun oleh 9 kartilago yaitu tiroid,
krikoid, epiglottis dan sepasang arytenoid, kornikulata dan kuneiforme.

Saraf sensoris dari saluran nafas atas berasal dari saraf kranial. Membran mukosa dari
hidung bagian anterior dipersarafi oleh divisi ophthalmic (V1) saraf trigeminal ( saraf ethmoidalis
anterior) dan dibagian posterior oleh divisi maxilla (V2) (saraf sphenopalatina). Saraf palatinus
mendapat serabut saraf sensori dari saraf trigeminus (V) untuk mempersarafi permukaan superior
dan inferior dari palatum molle dan palatum durum. Saraf lingual (cabang dari saraf divisi
3
mandibular V3 saraf trigeminal) dan saraf glosofaringeal ( saraf kranial yang ke 9) untuk sensasi
umum pada dua pertiga bagian anterior dan sepertiga bagian posterior lidah. Cabang dari saraf
fasialis (VII) dan saraf glosofaringeal untuk sensasi rasa didaerah tersebut. Saraf glosofaringeal
juga mempersarafi atap dari faring, tonsil dan bagian dalam palatum molle. Saraf vagus (saraf
kranial ke 10) untuk sensasi jalan nafas dibawah epiglottis. Saraf laryngeal superior yang
merupakan cabag dari saraf vagus dibagi menjadi saraf laringeus eksternal yang bersifat motoris
dan saraf laringeus internal yang bersifat sensoris untuk laring antara epiglottis dan pita suara.
Cabang yang lainnya yaitu saraf laryngeal rekuren, mempersarafi laring dibawah pita suara dan
trachea.

Otot laring dipersarafi oleh saraf laringeal rekuren (cabang dari saraf laringeal superior)
dengan pengecualian otot krikotiroid, yang dipersarafi oleh saraf laringeal externa (motoris). Otot
krikotiroid posterior mengabduksi pita suara, serayaotot krikoaritenoid lateral adalah adduktor
utama.

Fonasi merupakan kerja yang simultan dari beberapa otot laring. Kerusakansaraf motoris
yang mempersarafi laring, menyebabkan gangguan bicara. Gangguan persarafan unilateral dari
otot krikotiroid menyebabkan gangguan klinis. Kelumpuhan bilateral dari saraf laringeal superior
bisa menyebabkan suara serak atau suara lemah, tapi tidak membahayakan kontrol jalan nafas.

Paralisis unilateral dari saraf laringeal rekuren menyebabkan paralisis dari pita suara
ipsilateral, menyebabkan kemunduran dari kualitas suara. Pada saraf laringeal superior yang intact,
kerusakan akut saraf laringeal rekuren bilateral dapat menyebabkan stridor dan distress pernafasan
karena masih adanya tekanan dari ototkrikotiroid. Jarang terdapat masalah jalan nafas pada
kerusakan kronis saraf laryngeal rekuren bilateral karena adanya mekanisme kompensasi (seperti
atropi dari otot laringeal)

Kerusakan bilateral dari saraf vagus mempengaruhi kedua saraf laryngeal rekuren dan
superior. Jadi, denervasi vagus bilateral menyebabkan pita suara flasid dan midposisi mirip seperti
setelah pemberian suksinil kolin. Walaupun fonasi terganggu berat pada pasien ini, kontrol jalan
nafas jarang terjadi masalah.

Pasokan darah untuk laring berasal dari cabang arteri tiroidea. Arteri krikoaritenoid berasal
dari arteri tiroidea superior itu sendiri, cabang pertama dari arteri karotis externa dan menyilang

4
pada membran krikotiroid bagian atas, yang memanjang dari kartilago krikoid ke kartilago tiroid.
Arteri tiroidea superior ditemukan sepanjang tepi lateral dari membran krikotiroid. Ketika
merencanakan krikotirotomi, anatomi dari arteri krikoid dan arteri tiroid harus dipertimbangkan
tetapi jarang berefek pada praktek klinis. Teknik paling baik adalah untuk tetap pada garis tengah,
antara kartilago krikoid dan tiroid.

2.3 Airway Management

a. Tindakan penguasaan jalan napas darurat (tanpa alat)

Letakkan pasien pada posisi terlentang pada alas keras ubin atau selipkan papan kalau
pasien diatas kasur. Jika tonus otot menghilang, lidah akan menyumbat faring dan epiglottis akan
menyumbat laring. Lidah dan epiglotis penyebab utama tersumbatnya jalan nafas pada pasien tidak
sadar. Untuk menghindari hal ini dilakukan beberapa tindakan, yaitu

Perasat kepala tengadah-dagu diangkat (head tilt-chin lift manuever)


Perasat ini dilakukan jika tidak ada trauma pada leher. Satu tangan penolong mendorong
dahi kebawah supaya kepala tengadah, tangan lain mendorong dagu dengan hati-hati
tengadah, sehingga hidung menghadap keatas dan epiglotis terbuka, sniffing position,
posisi hit up.

Head-tilt

5
Perasat dorong rahang bawah (jaw thrust manuever)
Pada pasien dengan trauma leher, rahang bawah diangakat didorong kedepan pada
sendinya tanpa menggerakkan kepala leher. Karena lidah melekat pada rahang bawah,
maka lidah ikut tertarik dan jalan nafas terbuka.

Jika henti jantung terjadi diluar rumah sakit, letakkan pasien dalam posisi terlentang,
lakukan manuever triple airway (kepala tengadah, rahang didorong kedepan, mulut dibuka) dan
kalau rongga mulut ada cairan, lendir atau benda asing lainnya, bersihkan dahulu sebelum
memberikan nafas buatan.

Pasien tidak sadar hendaknya diletakan horisontal, tetapi kalau diperlukan pembersihan
jalan nafas maka pasien dapat diletakkan dengan posisi kepala dibawah (head down tilt) untuk
mengeluarkan benda asing cair oleh gravitasi. Jangan meletakkan pasien pada posisi telungkup
karena muka sukar dicapai, menyebabkan sumbatan mekanis dan mengurang kekembungan dada.

Posisi lurus terlentang ditopang dianjurkan utnuk pasien koma diawasi yang memerlukan
resusitasi. Peninggian bahu dengan meletakkan bantal atau handuk yang dilipat dibawahnya
mempermudah ekstensi kepala. Akan tetapi jangan sekali-kali meletakkan bantal dibawah kepala
pasienyang tidak sadar (dapat menyebabkan leher fleksi sehingga menyebabkan sumbatan
hipofaring) kecuali pada intubasi trakea.

6
Pada kasus trauma pertahankanlah kepala-leher-dada pada satu garis lurus. Ekstensikan
kepala sedang, jangan maksimum. Jangan memutar kepala korban kesamping, jangan
memfleksikan kepalanya. Jika korban harus dimiringkan untuk membersihkan jalan nafasnya,
pertahankanlah kepala-leher-dada tetap dalam satu garis lurus, sementara penolong lain
memiringkan korban Posisi mantap dianjurkan utnuk pasien koma bernafas spontan.

b.Pengelolaan Jalan Napas (Airway Management) Dengan Alat

1. Oral & Nasal Airway

Hilangnya tonus otot jalan nafas bagian atas pada pasien yang dianestesi menyebabkan
lidah dan epiglotis jatuh kebelakang kearah dinding posterior faring. Mengubah posisi kepala atau
jaw thrust merupakan teknik yang disukai untuk membebaskan jalan nafas. Untuk
mempertahankan jalan nafas bebas, jalan nafas buatan (artificial airway) dapat dimasukkan
melalui mulut atau hidung untuk menimbulkan adanya aliran udara antara lidah dengan dinding
faring bagian posterior. Pasien yang sadar atau dalam anestesi ringan dapat terjadi batuk atau
spasme laring pada saat memasang jalan nafas artifisial bila refleks laring masih intact.
Pemasangan oral airway kadang-kadang difasilitasi dengan penekanan refleks jalan nafas dan
kadang-kadang dengan menekan lidah dengan spatel lidah. Oral airway dewasa umumnya
berukuran kecil (80 mm/Guedel No 3), medium (90 mm/Guedel no 4), dan besar (100 mm/Guedel
no 5).

Panjang nasal airway dapat diperkirakan sebagai jarak antara lubang hidung ke lubang
telinga, dan kira-kira 2-4 cm lebih panjang dari oral airway. Disebabkan adanya resiko epistaksis,
nasal airway tidak boleh digunakan pada pasien yang diberi antikoagulan atau anak dengan
adenoid. Juga nasal airway jangan digunakan pada pasien dengan fraktur basis cranii. Setiap pipa
yang dimasukkan melalui hidung (nasal airway, pipa nasogastrik, pipa nasotrakheal) harus
dilubrikasi. Nasal airway lebih ditoleransi dari pada oral airway pada pasien dengan anestesi
ringan.

7
2. Teknik dan Bentuk Face Mask
Penggunaan face mask dapat memfasilitasi pengaliran oksigen atau gas anestesi dari sistem
pernafasan ke pasien dengan pemasangan face mask yang rapat. Lingkaran dari face mask
disesuaikan dengan bentuk muka pasien. Orifisium face mask dapat disambungkan ke sirkuit
mesin anestesi melalui konektor. Tersedia berbagai model face mask. Face mask yang transparan
dapat mengobservasi uap gas ekspirasi dan muntahan. Face mask yang dibuat dari karet berwarna
hitam cukup lunak untuk menyesuaikan dengan bentuk muka yang tidak umum. Retaining hook
dipakai untuk mengaitkan head scrap sehingga facemask tidak perlu terus dipegang. Beberapa
macam face mask untuk pediatrik didisain untuk mengurangi dead space.
Ventilasi yang efektif memerlukan jalan nafas yang bebas dan face mask yang rapat/tidak
bocor. Teknik pemasangan face mask yang tidak tepat dapat menyebabkan reservoir bag kempis
walaupun klepnya ditutup, hal ini menunjukkan adanya kebocoran sekeliling face mask.
Sebaliknya, tekanan sirkuit breathing yang tinggi dengan pergerakan dada dan suara pernafasan
yang minimal menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.

8
Bila face mask dipegang dengan tangan kiri, tangan kanan digunakan untuk melakukan
ventilasi dengan tekanan positif dengan memeras breathing bag. Facemask dipasang dimuka
pasien dan sedikit ditekan pada badan face mask dengan ibu jari dan telunjuk. Jari tengah dan jari
manis menarik mandibula untuk ekstensi sendi atlantooccipital. Tekanan jari-jari harus pada
mandibula, jangan pada jaringan lunak yang menopang dasar lidah karena dapat terjadi obstruksi
jalan nafas. Jari kelingking ditempatkan dibawah sudut rahang dan digunakan untuk jaw thrust
manuver yang paling penting untuk dapat melakukan ventilasi pasien.

9
Pada situasi yang sulit, diperlukan dua tangan untuk mendapatkan jaw thrust yang adekuat
dan face mask yang rapat. Karena itu diperlukan seorang asisten untuk memompa bag. Obstruksi
selama ekspirasi dapat disebabkan karena tekanan kuat dari face mask atau efek ball-valve dari
jaw thrust. Kadang-kadang sulit memasang face maks rapat kemuka. Membiarkan gigi palsu pada
tempatnya (tapi tidak dianjurkan) atau memasukkan gulungan kasa ke rongga mulut mungkin
dapat menolong mengatasi kesulitan ini. Ventilasi tekanan normalnya jangan melebihi 20 cm H2O
untuk mencegah masuknya udara ke lambung.

Kebanyakan jalan nafas pasien dapat dipertahankan dengan face mask dan oral atau nasal
airway. Ventilasi dengan face mask dalam jangka lama dapat menimbulkan cedera akibat tekanan
pada cabang saraf trigeminal atau fasial. Disebabkan tidak adanya tekanan positif pada jalan nafas
selama nafas spontan,hanya diperlukan tekanan minimal pada face mask supaya tidak bocor. Bila
facemask dan ikatan masker digunakan dalam jangka lama maka posisi harus sering dirubah untuk
menghindari cedera. Hindari tekanan pada mata, dan mata harus diplester untuk menghindari
resiko aberasi kornea.

3. Teknik dan Bentuk Laryngeal Mask Airway (LMA)


Penggunaan LMA meningkat untuk menggantikan pemakaian face mask dan TT selama
pemberian anestesi, untuk memfasilitasi ventilasi dan pemasangan TT pada pasien dengan jalan
nafas yang sulit, dan untuk membantu ventilasi selama bronchoscopy fiberoptic, juga pemasangan
bronkhoskop. LMA memiliki kelebihan istimewa dalam menentukan penanganan kesulitan jalan
nafas dibandingkan combitube. Ada 4 tipe LMA yang biasa digunakan: LMA yang dapat dipakai
ulang, LMA yang tidak dapat dipakai ulang, ProSeal LMA yang memiliki lubang untuk
memasukkan pipa nasogastrik dan dapat digunakan ventilasi tekanan positif, dan Fastrach LMA
yang dapat memfasilitasi intubasi bagi pasien dengan jalan nafas yang sulit.

10
LMA terdiri dari pipa dengan lubang yang besar, yang di akhir bagian proksimal
dihubungkan dengan sirkuit nafas dengan konektor berukuran 15 mm, dan dibagian distal terdapat
balon berbentuk elips yang dapat dikembangkan lewat pipa. Balon dikempiskan dulu, kemudian
diberi pelumas dan masukan secara membuta kehipofaring, sekali telah dikembangkan, balon
dengan tekanan rendah ada di muara laring. Pemasangannya memerlukan anestesi yang lebih
dalam dibandingkan untuk memasukan oral airway. Walaupun pemasangannya relatif mudah,
perhatian yang detail akan memperbaiki keberhasilan. Posisi ideal dari balon adalah dasar lidah di
bagian superior, sinus pyriforme dilateral, dan spincter oesopagus bagian atas di inferior. Jika
esophagus terletak di rim balon, distensi lambung atau regurgitasi masih mungkin terjadi. Variasi
anatomi mencegah fungsi LMA yang adekuat pada beberapa pasien. Akan tetapi, jika LMA tidak

11
berfungsi semestinya dan setelah mencoba memperbaiki masih tidak baik, kebanyakan klinisi
mencoba dengan LMA lain yang ukurannya lebih besar atau lebih kecil. Karena penutupan oleh
epiglotis atau ujung balon merupakan penyebab kegagalan terbanyak, maka memasukkan LMA
dengan penglihatan secara langsung dengan laringoskop atau bronchoskop fiberoptik (FOB)
menguntungkan pada kasus yangsulit. Demikian juga, sebagian balon digembungkan sebelum
insersi dapat sangat membantu. Pipa di plester seperti halnya TT. LMA melindungi laring dari
sekresifaring (tapi tidak terhadap regurgitasi lambung) dan LMA harus tetap dipertahankan pada
tempatnya sampai reflek jalan nafas pasien pulih kembali. Ini biasanya ditandai dengan batuk atau
membuka mulut sesuai dengan perintah. LMA yang dapat dipakailagi, dapat di autoklaf, dibuat
dari karet silikon (bebas latek) dan tersedia dalam berbagai ukuran.
LMA memberikan alternatif untuk ventilasi selain face mask atau TT. Kontraindikasi
untuk LMA adalah pasien dengan kelainan faring (misalnya abses), sumbatan faring, lambung
yang penuh (misalnya kehamilan, hernia hiatal), atau komplians paru rendah (misalnya penyakit
restriksi jalan nafas) yang memerlukan tekanan inspirasi puncak lebih besar dari 30 cm H2O.
Secara tradisional, LMA dihindari pada pasien dengan bronkhospasme atau resistensi jalan nafas
tinggi, akan tetapi, bukti-bukti baru menunjukkan bahwa karena tidak ditempatkan dalam trakea,
penggunaan LMA dihubungkan dengan kejadian bronkospasme lebih kurang dari pada dengan
TT. Walaupun hal ini nyata tidak sebagai penganti untuk trakeal intubasi, LMA membuktikan
sangat membantu terutama pada pasien dengan jalan nafas yang sulit (yang tidak dapat diventilasi
atau diintubasi) disebabkan mudah untuk memasangnya dan angka keberhasilannya relatif besar
(95-99%). LMA telah digunakan sebagai pipa untuk jalur stylet (gum elastik, bougie), ventilasi
jetstylet, fleksibel FOB, atau TT diameter kecil (6,0 mm). Tersedia LMA yang telah dimodifikasi
untuk memfasilitasi penempatan TT yang lebih besar dengan atau tanpa menggunakan FOB.
Pemasukannya dapat dilakukan dibawah anestesi topikal dan blok saraf laringeal bilateral jika
jalan nafas harus bebas seraya pasiennya sadar.

4. Esophageal Tracheal Combitube (ETC)


Teknik & bentuk pipa pipa kombinasi esophagus tracheal (ETC) terbuat dari
gabungan 2 pipa masing-masing dengan konektor 15 mm pada ujung proksimalnya. Pipa baru
yang lebih panjang ujung distalnya ditutup. Pipa yang transparant berukuran yang lebih pendek
punya ujung distal terbuka dan tidak ada sisi yang perporasi. ETC ini biasanya dipasangkan secara

12
buta melalui mulut dan dimasukkan sampai 2 lingkaran hitam pada batang batas antara gigi atas
dan bawah. ETC mempunyai 2 balon untuk digembungkan, 100 ml untuk balon proksimal dan 15
ml untuk balon distal,keduanya harus dikembungkan secara penuh setelah pemasangan. Pipa yang
bening yang lebih pendek dapat digunakan untuk dekompresi lambung. Pilihan lain, jika ETC
masuk ke dalam trakhea, ventilasi melalui pipa yang bening akan langsung gas ke trachea.
Meskipun pipa kombinasi masih terdaftar sebagai pilihan untuk penanganan jalan nafas yang sulit
dalam algoritma Advanced Cardiac Life Support , biasanya jarang digunakan oleh dokter anestesi
yang lebih suka memakai LMA atau alat lain untuk penanganan pasien dengan jalan nafas yang
sulit.

5. Pipa Trakhea

TT digunakan untuk mengalirkan gas anestesi langsung ke dalam trakea dan mengijinkan
untuk kontrol ventilasi dan oksigenasi. Pabrik menentukan standar TT (American National
Standards for Anesthetic Equipment; ANSI Z-79). TT kebanyakan terbuat dari polyvinyl chloride.
Pada masa lalu, TT diberi tanda ITatau Z-79 untuk indikasi ini telah dicoba untuk memastikan
tidak beracun. Bentuk dan kekakuan dari TT dapat dirubah dengan pemasangan mandren. Ujung
pipa diruncingkan untuk membantu penglihatan dan pemasangan melalui pita suara. Pipa Murphy
memiliki sebuah lubang (mata Murphy) untuk mengurangi resiko sumbatan pada bagian distal
tube bila menempel dengan carina atau trakea.

Tahanan aliran udara terutama tergantung dari diameter pipa, tapi ini juga dipengaruhi oleh
panjang pipa dan lengkungannya. Ukuran TT biasanya dipola dalam milimeter untuk diameter
internal atau yang tidak umum dalam skala Prancis (diameter external dalam milimeter dikalikan
dengan 3). Pemilihan pipa selalu hasil kompromi antara memaksimalkan aliran dengan pipa
ukuran besar dan meminimalkan trauma jalan nafas dengan ukuran pipa yang kecil.

13
Kebanyakan TT dewasa memiliki sistem pengembungan balon yang terdiridari katup,
balon petunjuk (pilot balloon), pipa pengembangkan balon, dan balon (cuff). Katup mencegah
udara keluar setelah balon dikembungkan. Balon petunjuk memberikan petunjuk kasar dari balon
yang digembungkan. Inflating tube dihubungkan dengan klep. Dengan membuat trakea yang rapat,
balon TT mengijinkan dilakukannya ventilasi tekanan positif dan mengurangi kemungkinan
aspirasi. Pipa yang tidak berbalon biasanya digunakan untuk anak-anak untuk meminimalkan
resiko dari cedera karena tekanan dan post intubasi croup.

Ada 2 tipe balon TT yaitu balon dengan tekanan tinggi volume rendah dan tekanan rendah
volume tinggi. Balon tekanan tinggi dikaitkan dengan besarnya iskhemia mukosa trachea dan
kurang nyaman untuk intubasi pada waktu lama. Balon tekanan rendah dapat meningkatkan
kemungkinan nyeri tenggorokan (luas area kontak mukosa), aspirasi, ekstubasi spontan, dan
pemasangan yang sulit ( karena adanya floppy cuff ). Meskipun demikian, karena insidensi rendah

14
dari kerusakan mukosa, balon tekanan rendah lebih dianjurkan. Tekanan balon tergantung dari
beberapa factor

volume pengembangan
diameter balon yang berhubungan dengan trakea
trakea dan komplians balon
dan tekanan intratorak (tekanan balon dapat meningkat pada saat batuk).

Tekanan balon dapat menaik selama anetesi umum sebagai hasil dari difusi dari N2O dari
mukosa trakeal ke balon TT.

TT telah dimodifikasi untuk berbagai penggunaan khusus. Pipa yang lentur, spiral, wire
reinforced TT (armored tubes), TT tidak kinking dipakai pada operasi kepala dan leher, atau pada
pasien dengan posisi telungkup. Jika pipa lapis baja menjadi kinking akibat tekanan yang ekstrim
(contoh pasien bangun dan menggigit pipa), lumen pipa akan tetutup dan pipa TT harus diganti.
Pipa khusus lainnya termasuk pipa mikrolaringeal, RAE tube, dan lubang pipa ganda (double
lumentube). Semua TT memiliki garis yang dilekatkan dan bersifat radio opak yang mengijinkan
dapat dilihatnya ETT pada trakea.

6. Rigid Laryngoscope
Laringoskop adalah instrumen untuk pemeriksaan laring dan untuk fasilitas intubasi trakea.
Handle biasanya berisi baterai untuk cahaya bola lampu pada ujung blade, atau untuk energi
fiberoptic bundle yang berakhir pada ujung blade. Cahaya dari bundle fiberoptik tertuju langsung
dan tidak tersebar.

15
Laringoskop dengan lampu fiberoptic bundle dapat cocok digunakan diruang MRI. Blade
Macintosh dan Miller ada yang melengkung dan bentuk lurus. Pemilihan dari blade tergantung
dari kebiasaan seseorang dan anatomi pasien. Disebabkan karena tidak ada blade yang cocok untuk
semua situasi, klinisi harus familier dan ahli dengan bentuk blade yang beragam.

16
7. Laringoskop Khusus
Dalam 15 tahun terakhir, terdapat 2 laringskop baru yang telah dibuat, untuk membantu
dokter anestesi menjamin jalan nafas pada pasien dengan jalan nafas yang sulit- Laringokop
Bullard dan laringoskop Wu.

Keduanya memiliki sumber cahaya fiberoptic dan blade yang melengkung dengan ujung
yang panjang, dan didisain untuk membantu melihat muara glotis pada pasien dengan lidah besar
atau yang memiliki muara glotis sangat anterior. Banyak dokter anestesi percaya bahwa alat ini
untuk mengantisipasi pasien yang memiliki jalan nafas sulit. Bagaimanapun juga, seperti halnya
alat-alat lain yang digunakan jalan nafas pasien, pengalaman penggunaannya harus dilakukan pada
pasien normal sebelum digunakan pada saat penting dan memergensi pada pasien dengan jalan
nafas sulit.

17
8. Teknik Laringoskop Dan Intubasi
Indikasi Intubasi
Pamasangan TT merupakan bagian rutin dari pemberian anestasi umum. Intubasi bukan
prosedur bebas resiko, bagaimanapun, tidak semua pasien dengan anestesi umum memerlukan
intubasi, tetapi TT dipasang untuk proteksi, dan untuk akses jalan nafas. Secara umum, intubasi
adalah indikasi untuk pasien yang memilik resiko untuk aspirasi dan untuk prosedur operasi
meliputi rongga perut atau kepaladan leher. Ventilasi dengan face mask atau LMA biasanya
digunakan untuk prosedur operasi pendek seperti cytoskopi, pemeriksaan dibawah anestesi,
perbaikan hernia inguinal dan lain lan.
Persiapan Untuk Rigid Laringoskop
Persiapan untuk intubasi termasuk memeriksa perlengkapan dan posisi pasien. TT harus
diperiksa. Sistem inflasi cuff pipa dapat ditest dengan menggembungkan balon dengan
menggunakan spuit 10 ml. Pemeliharaan tekanan balon menjamin balon tidak mengalami
kebocoran dan katup berfungsi. Beberapa dokter anestesi memotong TT untuk mengurangi
panjangnya dengan tujuan untuk mengurangi resiko dari intubasi bronkial atau sumbatan akibat
dari pipa kinking.Konektor harus ditekan sedalam mungkin untuk menurunkan kemungkinan
terlepas, jika mandren digunakan ini harus dimasukan ke dalam TT dan ini ditekuk menyerupai
stik hoki. Bentuk ini untuk intubasi dengan posisi laring ke anterior.Blade harus terkunci di atas
handle laringoskop dan bola lampu dicoba berfungsiatau tidak. Intensitas cahanya harus tetap
walaupun bola lampu bergoyang. Sinyal cahaya yang berkedap kedip karena lemahnya hubungan
listrik, perlu diingat untuk mengganti baterai. Extra blade, handle, TT ( 1 ukuran lebih kecil atau
lebih besar) dan mandren harus disediakan. Suction diperlukan untuk membersihkan jalan nafas
pada kasus dimana sekresi jalan nafas tidak diinginkan, darah, atau muntah.

18
Keberhasilan intubasi tergantung dari posisi pasien yang benar. Kepala pasien harus sejajar
atau lebih tinggi dengan pinggang dokter anestesi untuk mencegah ketegangan bagian belakang
yang tidak perlu selama laringoskopi. Rigid laringoskop memindahkan jaringan lunak faring untuk
membentuk garis langsung untuk melihat dari mulut ke glotis yang terbuka. Elevasi kepala sedang
(sekitar 5-10cm diatas meja operasi) dan ekstensi dari atlanto ocipito joint menempatkan pasien
pada posisi sniffing yang diinginkan. Bagian bawah dari tulang leher adalah fleksi dengan
menempatkan kepala diatas bantal.
Persiapan untuk induksi dan intubasi juga meliputi preoksigenasi rutin. Preoksigenasi
dengan beberapa ( 4 dari total kapasitas paru paru) kali nafas dalam dengan 100% oksigen
memberikan ekstra margin of safety pada pasien yang tidak mudah diventilasi setelah induksi.
Preoksigenasi dapat dihilangkan pada pasien yangakan di face mask, yang bebas dari penyakit
paru, dan yang tidak memiliki jalan nafas yang sulit.

19
Setelah induksi anestesi umum, dokter anestesi menjadi pelindung pasien. Karena anestesi
umum menghilangkan reflek proteksi kornea, perlindungan harus dilakukan selama periode ini,
tidak boleh ada cedera pada mata pasien dengan terjadi abrasi kornea tanpa disengaja. Oleh karena
itu mata rutin direkat dengan plester, walaupun telah diberi petrolum atau salep mata.

Intubasi Orotrakeal
Laringoskop dipegang oleh tangan kiri. Dengan mulut pasien terbuka lebar, blade
dimasukan pada sisi kanan dari orofaring dengan hati-hati untuk menghindari gigi. Geserkan lidah
ke kiri dan masuk menuju dasar dari faring dengan pinggir blade. Ujung dari blade melengkung
dimasukkan ke valekula, dan ujung blade lurus menutupi epiglotis. Handle diangkat menjauhi
pasien secara tegak lurus dari mandibula pasien untuk melihat pita suara. Terperangkapnya lidah
antara gigi dan blade serta pengungkitan dari gigi harus dihindari. TT diambil dengan tangan
kanan,dan ujungnya dilewatkan melalui pita suara yang terbuka (abduksi). Balon TT harus berada
dalam trakea bagian atas tapi dibawah laring. Langingoskop ditarik dengan hati-hati untuk
menghindari kerusakan gigi. Balon dikembungkan dengan sedikit udara yang dibutuhkan agar
tidak ada kebocoran selama ventilasi tekanan positif, untuk meminimalkan tekanan yang
ditransmisikan pada mukosa trakea. Merasakan pilot balon bukan metode yang dapat dipercaya
untuk menentukan tekanan balon yang adekuat.

20
Setelah intubasi, dada dan epigastrium dengan segera diauskultasi dan capnograf dimonitor
untuk memastikan TT ada di intratrakeal. Jika ada keragu-raguan tentang apakah pipa dalam
esophagus atau trakea, cabut lagi TT dan ventilasi pasien dengan face mask. Sebaliknya, jika sudah
yakin, pipa dapat diplester atau diikat untuk mengamankan posisi. Walaupun deteksi kadar CO2
dengan capnograf merupakan konfirmasi terbaik untuk menentukan letak TT di trakea, kita tetap
tidak dapat mengabaikan terjadinya intubasi bronkial. Manifestasi dini dari intubasi bronkial
adalah peningkatan tekanan respirasi puncak. Lokasi pipa yang tepat dapat dikonfirmasi dengan
palpasi balon pada sternal notch sambil menekan pilot balon dengan tangan lainnya. Balon jangan
ada diatas level kartilago krikoid, karena lokasi intralaringeal yang lama dapat menyebabkan suara
serak pada post operasi dan meningkatkan resiko ekstubasi yang tidak disengaja. Posisi pipa dapat
dilihat dengan radiografi dada, tapi ini jarang diperlukan kecuali dalam ICU.
Hal yang diuraikan diatas diambil dari pasien tidak sadar. Intubasi lewat mulut ini biasanya
kurang ditoleran pada pasien yang sadar. Jika perlu, dalam kasus terakhir, sedasi intravena,
penggunaan lokal anestetik spray dalam orofaring, regional blok saraf akan memperbaiki
penerimaan pasien.

21
Kegagalan intubasi jangan diikuti dengan pengulangan intubasi kembali karena hasilnya
akan sama. Perubahan harus dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan, seperti mengatur
kembali posisi pasien, penurunan ukuran pipa, pemasangan mandrin, memilih blade yang berbeda,
mencoba lewat hidung. Jika pasien juga sulit untuk ventilasi dengan face mask, pilihan
pengelolaan jalan nafas yang lain (contoh LMA, combitube, krikotirotomi dengan jet ventilasi,
trakeostomi). Petunjuk yang dikembangkan oleh ASA untuk penanganan jalan nafas yang sulit,
termasuk algoritma rencana terapi.

Intubasi Nasotrakeal
Intubasi nasal mirip dengan intubasi oral kecuali bahwa TT masuk lewat hidung dan
nasofaring menuju orofaring sebelum dilakukan laringoskopi. Lubang hidung yang dipilih dan
digunakan adalah lubang hidung yang pasien bernafas lebih gampang. Tetes hidung phenylephrine
(0,5 0,25%) menyebabkan pembuluh vasokonstriksi dan menyusutkan membran mukosa. Akan
tetapi, pemberian tetes hidung phenyleprine yang berlebihan dapat menimbulkan hipertensi,
takikardi dan lain lain. Jika pasien sadar, lokal anestesi secara tetes dan blok saraf dapat digunakan.
TT yang telah dilubrikasi dengan jeli yang larut dalam air, dimasukkan dipergunakan
didasar hidung, dibawah turbin inferior. Bevel TT disisi lateral jauh dari turbin. Untuk memastikan
pipa lewat di dasar rongga hidung, ujung proksimal dari TT harus ditarik ke arah kepala. Pipa
secara berangsur-angsur dimasukan hingga ujungnya terlihat di orofaring, dengan laringoskop,
digunakan untuk adduksi pita suara. Seringnya ujung distal dari TT dapat dimasukan pada trachea
tanpa kesulitan. Jika ditemukan kesulitan memasukkan ujung pipa menuju pita suara mungkin
difasilitasi dengan forcep Magil, yang dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusakkan balon.
Memasukkan TT melalaui hidung atau pemasangan kateter nasogastrik berbahaya pada pasien
dengan trauma wajah yang berat disebabkan adanya resiko masuk ke intracranial.

9. Teknik Ekstubasi
Menentukan saat yang tepat untuk mencabut TT merupakan sebuah seni pada anestesiolog,
yang berjalan sesuai dengan pengalaman. Hal ini merupakan bagian yang sangat penting karena
komplikasi sering terjadi selama dan segera setelah ekstubasi dibandingkan dengan intubasi.
Secara umum, ekstubasi terbaik dilakukan ketika pasien sedang teranestesi dalam atau bangun.
Pasien juga harus pulih sepenuhnya dari pengaruh obat pelemas otot pada saat sebelum ekstubasi.

22
Jika pelemas otot digunakan, pernapasan pasien akan menggunakan ventilasi mekanik terkontrol,
maka dari itu pasien harus dilepaskan dari ventilator sebelum ekstubasi.
Ekstubasi selama anestesi ringan (masa antara anestesi dalam dan bangun) harus dihindari
karena meningkatnya risiko laringospasme. Perbedaan antaraanestesi dalam dan ringan biasanya
terlihat saat suction/ penyedotan sekret faring :adanya reaksi pada penyedotan (tahan napas, batuk)
menandakan anestesia ringan, dimana jika tidak ada reaksi menandakan anestesia dalam. Pasien
membuka mata atau bergerak yang bertujuan menandakan pasien sudah bangun.
Mengekstubasi pasien yang sudah bangun biasanya berhubungan dengan batuk pada TT.
Reaksi ini meningkatkan denyut nadi, tekanan vena sentral, tekanan darah arteri, tekanan
intrakranial, dan tekanan intraokular. Hal ini juga dapat menyebabkan dehisensi luka dan
perdarahan. Adanya TT pada pasien asma yang sudah sadar dapat memicu bronkospasme.
Meskipun konsekuensi ini dapat diturunkan dengan premedikasi 1,5 mg/kg lidokain intravena 1-2
menit sebelum suction dan ekstubasi, ekstubasi saat anestesia dalam lebih dianjurkan pada pasien
yang tidak dapat mentolerir hal ini. Ekstubasi menjadi kontraindikasi pada pasien yang memiliki
risiko aspirasi atau yang jalan napasnya sulit untuk dikontrol setelah pencabutan TT.
Selain kapan TT dicabut, yakni ketika pasien teranestesi dalam atau sudah sadar, faring
pasien juga sebaiknya disuction terlebih dahulu sebelum ekstubasi untuk mengurangi risiko
aspirasi atau laringospasme. Pasien juga harus diventilasi dengan 100% oksigen sebagai cadangan
apabila sewaktu-waktu terjadi kesulitan untuk mengontrol jalan napas setelah TT dicabut. Sesaat
sebelum ekstubasi, TT dilepas dari plester dan balon dikempiskan. Pemberian sedikit tekanan
positif pada jalan napas pada kantong anestesia yang dihubungkan dengan TT dapat membantu
meniup sekret yang terkumpul pada ujung balon supaya ke luar ke arah atas, menuju faring, yang
kemudian dapat disuction. Pencabutan TT pada saat akhir ekspirasi atau akhir inspirasi mungkin
tidak terlalu penting. TT dicabut dengan satu gerakan yang halus, dan sungkup wajah biasanya
digunakan untuk menghantarkan oksigen 100% sampai pasien menjadi cukup stabil untuk diantar
ke ruang pemulihan. Pada beberapa institusi, oksigen dengan sungkup wajah dipertahankan selama
pengantaran pasien.

23
10. Komplikasi Laringoskopi dan Intubasi
Komplikasi laringoskopi dan intubasi termasuk hipoksia, hiperkarbia, trauma gigi dan jalan
nafas, posisi ETT yang salah, respons fisiologi, atau malfungsi ETT. Komplikasi-komplikasi ini
dapat terjadi selama laringoskopi atau intubasi, saat ETT dimasukkan, dan setelah ekstubasi.

Trauma Jalan Napas


Instrumentasi blade laringoskop berbahan metal dan insersi TT yang kaku sering
menyebabkan trauma pada selaput saluran napas. Meskipun trauma gigi ialah malpraktik
terbanyak yang diklaim terhadap anestesiologis, laringoskopi dan intubasi dapat menyebabkan
berbagai komplikasi, mulai dari sakit tenggorokan sampai stenosis trakea. Hal ini paling banyak
disebabkan karena terlalu lamanya tekanan eksternal pada struktur saluran napas yang sensitif.
Ketika tekanan TT melebihi tekanan arteriolar-kapiler (kurang lebih 30 mmHg), iskemia jaringan
dapat mengakibatkan inflamasi, ulserasi, granulasi, dan stenosis. Pengembangan balon TT pada
tekanan minimum yang membentuk segel selama ventilasi tekanan positif (biasanya minimal 20
mmHg), mengurangi aliran darah trakea sampai 75% pada trakea bagian balon.
Croup post intubasi, disebabkan oleh edema glotis, laring, trakea, merupakan komplikasi
yang serius pada anak-anak. Efektivitas kortikosteroid (deksametason 0,2mg/kg, maksimum 12
mg) dalam mencegah edema jalan napas post ekstubasi masih menjadi kontroversi ; namun dari
pada itu, kortiokosteroid telah diuji coba memang efektif pada anak dengan cropu akibat penyebab
lain. Paralisis pita suara akibat kompresi balon atau trauma lain pada saraf rekuren laringeal, dapat
menyebabkan serak dan meningkatnya risiko aspirasi. Beberapa komplikasi ini dapat dicegah
dengan menggunakan bentuk TT jenis tertentu untuk menyesuaikan anatomi jalan napas
(contohnya, Lindholm Anatomial Tracheal Tube). Insidensi serak post operasi meningkat dengan
adanya obesitas, intubasi sulit, dan durasi lama obat anestesi. Menaruh lubrikan yang larut air atau
anestesi mengandung gel pada ujung atau balon TT tidak menurunkan insidens sakit tenggorokan
atau serak post operasi. TT yang lebih kecil (ukuran 6,5 pada wanita dan ukuran 7,0 pada laki-
laki) berhubungan dengan keluhan sakit teinggorokan post operasi yang lebih sedikit. Penempatan
laringoskopi yang berulang selamaa intubasi yang sulit dapat memicu terjadinya edema periglotik
dan kesulitan untuk ventilasi dengan face mask, yang dapat menimbulkan situasi buruk yang
menyebabkan kematian.

24
Kesalahan Posisi TT
Intubasi pada esofagus dapat menyebabkan hasil katastropik. Pencegahan komplikasi ini
tergantung pada visualisasi langsung pada ujung TT yang melewati pita suara, auskultasi yang
cermat akan adanya suara napas bilateral dan tidak adanya gurgling lambung saat ventilasi dengan
TT, analisis gas ekspirasi untuk menilai adanya CO2 (metode paling reliabel), rontgen dada, atau
penggunaan FOB.
Meskipun telah dipastikan bahwa TT terdapat pada trakea, belum tentu dalam posisi yang
tepat. Insersi berlebihan biasanya mengakibatkan intubasi yang masuk ke bronkus kanan, karena
sudut yang lebih lurus pada trakea kanan. Tanda yang menunjukkan bahwa intubasi mencapai
bronkus, antara lain suara napas unilateral, hipoksia tidak terduga dengan pulse oksimetri (tidak
reliabel dengan konsentrasi oksigen terinspirasi yang tinggi), tidak dapat mempalpasi balon TT
pada sternalnotch selama inflasi balon, dan menurunnya komplian balon-napas (tekanan
inspiratori tinggi).

25
Sebaliknya, kedalaman yang tidak adekuat akan membuat posisi balon pada laring, yang
menyebabkan trauma laring pada pasien. Kedalaman inadekuat dapat dideteksi dengan
mempalpasi balon diatas kartilago tiroid.
Karena tidak ada teknik yang dapat mencegah semua kemungkinan seperti kesalahan
tempat masuknya TT, tes seperti auskultasi dada, kapnografi rutin, dan palpasi balon, minimal
harus dilakukan.
Jika pasien direposisi, penempatan TT harus dikonfirmasi ulang. Ekstensi leher atau
rotasi lateral memindahkan TT jauh dari karina, dimana fleksi leher dapat mengubah posisi TT
menuju karina.

Respon Fisiologis pada Instrumentasi Jalan Napas.


Laringoskopi dan intubasi trakea mengganggu refleks protektif jalan napas dan
mencetuskan hipertensi dan takikardia. Insersi LMA menimbulkan lebih sedikit perubahan
hemodinamik. Perubahan hemodinamik ini dapat dikurangi dengan administrasi obat intravena
lidokain (1,5 mg/kg) 1-2 menit, remifentanil (1,0mikrogram/kg) 1 menit, alfentanil (10-20
mikrogram/kg) 2-3 menit, atau fentanil(0,5-1,0 mikrogram/kg) 4-5 menit sebelum laringoskopi.
Agen hipotensi, termasuk sodium nitroprusid, nitrogliserin, hidralazin, beta bloker, dan kalsium
channel bloker, dapat mengurangi respon hipertensi yang berhubungan dengan laringoskopi dan
intubasi secara efektif. Disritmia jantung terutama bigeminus ventrikular tidak sering terjadi
selama intubasi dan biasanya mengindikasikan anestesia ringan.
Laringospasme ialah spasme involunter pada otot laring yang disebabkan oleh stimulasi
sensori pada saraf laringeal superior. Hal-hal yang mencetuskan termasuk sekresi faringeal atau
memasukkan TT melewati laring selama ekstubasi. Laringospasme biasanya dicegah dengan
ekstubasi pasien dalam keadaan tidur dalam atau bangun sepenuhnya, meski dapat juga terjadi,
meskipun jarang pada pasien yang sadar. Pengobatan laringospasme yaitu melakukan ventilasi
tekanan positif dengan kantong dan masker anestesi menggunakan 100% oksigen atau
penambahan lidokain intravena (1-1,5 mg/kg). Jika laringospasme menetap danterjadi hipoksia,
suksinilkolin (0,25-1 mg/kg {biasa menggunakan dosis yang lebihrendah}) harus diberikan untuk
merelaksasi otot laring dan dapat terjadi ventilasi terkontrol. Tekanan intratorak negatif yang besar
oleh usaha pasien selama laringospasme dapat menyebabkan terjadinya edema pulmo tekanan
negatif, bahkan pada dewasa muda yang sehat.

26
Dimana laringospasme menunjukkan adanya refleks kesensitivan yang abnormal,
aspirasi dapat terjadi akibat depresi refleks laring saat intubasi dan anestesia umum. Bronkospasme
merupakan respon refleks lainnya dari intubasi dan paling sering terjadi pada pasien asma.
Bronkospasme dapat menunjukkan adanya intubasi bronkus. Efek patofisiologis lainnya termasuk
meningkatnya tekanan intracranial dan intraokular.

Malfungsi TT
TT tidak selalu dapat berfungsi sebagaimana mestinnya. Kerusakan katup atau balon
sering terjadi dan harus dieksklusi sebelum intubasi. Obstruksi TT dapat terjadi dari kinking,
aspirasi benda asing, atau dari sekresi kental pada lumen.

27
BAB III
KESIMPULAN

Ada dua gerbang untuk masuk ke jalan nafas pada manusia yaitu hidung yang menuju
nasofaring (pars nasalis), dan mulut yang menuju orofaring (pars oralis). Hilangnya tonus otot
jalan nafas bagian atas (misalnya kelemahan dari otot genioglosus) pada pasien yang dianestesi
menyebabkan lidah dan epiglotis jatuh kebelakang kearah dinding posterior faring. Pemasangan
oral airway kadang-kadang difasilitasi dengan penekanan refleks jalan nafas dan kadang-kadang
dengan menekan lidah dengan spatel lidah. Alat-alat yang digunakan untuk mempertahankan jalan
nafas diantaranya adalah oral dan nasal airway, face mask, LMA, Esophageal Tracheal
Combitube (ETC), dan Pipa Tracheal (TT). Sedangkan untuk laringoskop nya terdapat berbagai
jenis yaitu Rigid Laryngoscope,Laringokop Bullard dan laringoskop Wu, dan Flexible Fiberoptic
Bronchoscope (FOB).
Teknik intubasi ada 2 macam yaitu intubasi endotrakeal dan intubasi nasotrakeal. Ektubasi
saat anestesi dangkal (keadaan antara anestesi dalam dan sadar) harus dihindari karena
meningkatkan resiko laringospasme. Komplikasi laringoskopi dan intubasi termasuk hipoksia,
hiperkarbia, trauma gigi dan jalan nafas, posisi ETT yang salah, respons fisiologi, atau malfungsi
ETT. Komplikasi-komplikasi ini dapat terjadi slama laringoskopi atau intubasi, saat ETT
dimasukkan,dan setelah ekstubasi.

28
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. Morgan GE et al. Clinical Anesthesiology. 4th edition. New York: Lange MedicalBook.
2014.
2. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Ilmu dasar Anestesi in Petunjuk Praktis
Anestesiologi 2nd ed. Jakarta: FKUI; 2009, 3-8. 2.
3. Roberts F, Kestin I. Respiratory Physiology in Update in Anesthesia 12th ed. 2013.
4. Stock MC. Respiratory Function in Anesthesia in Barash PG, Cullen BF, Stelting RK,
editors. Clinical Anesthesia th ed. Philadelphia: Lippincott William & Wilkins; 2013,
p. 791-811 4.
5. Galvin I, Drummond GB, Nirmalan M. Distribution of blood flow and ventilation in
the lung: gravity is not the only factor. British Journal of Anaesthesia; 2010, 98: 420-
8.

29