Anda di halaman 1dari 99

PERANAN ROHANIWAN ISLAM

DALAM PEMBEKALAN PERKAWINAN ANGGOTA TNI


TERHADAP PEMBENTUKAN KELUARGA SAKINAH
(Studi di Detasemen Angkatan Laut Malang)

SKRIPSI

Oleh
Ratna Susanti
NIM: 03210040

JURUSAN AL-AHWAL AL-SYAKHSIYAH


FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MALANG
2008
PERANAN ROHANIWAN ISLAM
DALAM PEMBEKALAN PERKAWINAN ANGGOTA TNI
TERHADAP PEMBENTUKAN KELUARGA SAKINAH
(Studi di Detasemen Angkatan Laut Malang)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Syariah


Universitas Islam Negeri (UIN) Malang
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam
Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Islam (SHI)

Oleh
Ratna Susanti
NIM: 03210040

JURUSAN AL-AHWAL AL-SYAKHSIYAH


FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MALANG
2008
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Pembimbing penulisan skripsi saudara Ratna Susanti, NIM 03210040, mahasiswa


Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, setelah membaca, mengamati
kembali berbagai data yang ada di dalamnya, dan mengoreksi, maka skripsi yang
bersangkutan dengan judul:

PERANAN ROHANIWAN ISLAM


DALAM PEMBEKALAN PERKAWINAN ANGGOTA TNI
TERHADAP PEMBENTUKAN KELUARGA SAKINAH
(Studi di Detasemen Angkatan Laut Malang)

telah dianggap memenuhi syarat-syarat ilmiah untuk disetujui dan diajukan pada majelis
dewan penguji.

Malang, 16 Januari 2008


Pembimbing

Dr. Saifullah, SH.,M.Hum.


NIP: 150 303 048
PENGESAHAN SKRIPSI

Dewan penguji skripsi saudara Ratna Susanti, NIM 03210040, mahasiswa Jurusan

Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang angkatan 2003, dengan judul:

PERANAN ROHANIWAN ISLAM


DALAM PEMBEKALAN PERKAWINAN ANGGOTA TNI
TERHADAP PEMBENTUKAN KELUARGA SAKINAH
(Studi di Detasemen Angkatan Laut Malang

telah dinyatakan LULUS dan berhak menyandang gelar S.HI

Dewan Penguji:

1. Dra. Jundiani, SH. M.Hum ( _____________________ )


NIP 150 294 455 (Ketua Penguji)

2. Dr. Saifullah, S.H. M.Hum ( _____________________ )


NIP 150 303 048 (Sekretaris)

3. Drs. Fadil SJ. M.Ag ( _____________________ )


NIP 150 252 758 (Penguji Utama)

Malang, 29 Maret 2008


Dekan,

Drs. H. Dahlan Tamrin, M.Ag.


NIP 150 216 425
PERSEMBAHAN

Alhamdulillah...Akhirnya kelar juga tulisanku ini!


Terima kasih ya Allah,
Ku persembahkan karya kecilku ini untuk orang-orang terkasih disekelilingku, bwt:

Kedua Orang Tuaku Tercinta,


Ibunda Sri Puryanti dan Ayahanda Marbani Rifai
yg telah memberikan semuanya, yg terbaik yang pernah kurasakan selama ku hidup di
dunia ini. Yang telah mendampingi aku dengan penuh kesabaran,cinta dan kasih sayang
serta limpahan material dan spiritual mulai dari kecil hingga saat ini
Semoga Gusti Allah senantiasa menjaga keduanya

Kedua saudaraku,
Mbak Nuning + suami Mas Gun, yang telah memberikan banyak masukan dan motifasi
moga Rahman dan RahimNya selalu menaungi keluarga kalian untuk bersama meraih
sakinah, mawaddah, warahmah.
Serta adik kecil Faruq yang senantisa memberikan warna hidup dengan keceriaan
Kalian adalah orang-orang terdekat yang selalu memberiku kebahagiaan

Semua kerabat dan familyku


Yangkong (Alm) H. Muhni Sunandi, beserta Yangtri Hj. Sukartini yang telah
membimbing aku tentang kebenaran dan kesabaran, serta semua keluarga besar dari pihak
ayah maupun bunda yang telah mendampingiku selama ini dan menjadi motivasi
tersendiri bagi kehidupanku.

Semua dosen, guru dan ustadzku


mulai dari kecil sampai sekarang yang tidak mungkin disebut satu persatu, yang telah
memberikan banyak ilmu yang tiada ternilai harganya dan sangat bermanfaat,semua hal
yang pernah kalian berikan takkan pernah lekang oleh waktu.

Sahabat-sahabatku
saat sama-sama mencari ilmu, Anthing, yi2n serta sobatku dirumah Dewi dan Rida.
Kalian telah mengenalkan aku apa arti persahabatan dan seorang teman yang
sesungguhnya.

Serta P2 yang senantiasa memberiku support dengan penuh cinta kasih, pengertian,
kesabaran dan kesetian sebagai motivator keberhasilanku. Keberadaanmu adalah dermaga
keindahan sebagai pengobar semangatku.
Semoga kita selalu dalam ridhoNya, dan moga nantinya Yang diAtas sana menyatukan
kita dalam tali rahmatNya.

Teman-teman + Adek-adek di wisma Gapika yang selalu memberi semangat dan


menemani hari-hari indahku di kota Malang.

Untuk almamaterku tercinta serta seluruh civitas akademika UIN Malang

Terima kasih banyak untuk semuanya.


Moga Allah senantiasa berikan yang terbaik untuk kita. Amien Ya Robbal Alamin...
MOTTO

) +s? $tu 4 MstG$# $t yxn=M}$# ) & )

=& s9)u M=.us? n=t 4 !$$/

Tindakan kemauanku, hanya untuk mencapai ishlah


dengan sekuat usahaku. Dan tiada taufiq bagiku hanyalah dengan
inayah Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakkal
dan hanya kepadaNya aku berserah diri.
(QS.Hud: 88)
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Demi Allah,
Dengan kesadaran dan rasa tanggung jawab terhadap pengembangan keilmuan,
penulis menyatakan bahwa skripsi dengan judul:

PERANAN ROHANIWAN ISLAM DALAM PEMBEKALAN


PERKAWINAN ANGGOTA TNI TERHADAP PEMBENTUKAN
KELUARGA SAKINAH
(Studi di Detasemen Angkatan Laut Malang)

benar-benar merupakan karya ilmiah yang disusun sendiri, bukan duplikasi atau
memindah data milik orang lain. Jika dikemudian hari terbukti bahwa skripsi ini ada
kesamaan, baik isi, logika maupun datanya, secara keseluruhan atau sebagian, maka
skripsi dan gelar sarjana yang diperoleh karenanya secara otomatis batal demi hukum.

Malang, 16 Januari 2008


Penulis

Ratna Susanti
NIM: 03210040
KATA PENGANTAR

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Segala puja dan puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
karya ilmiah berupa skripsi ini, yang merupakan salah satu syarat guna memperoleh gelar
Sarjana Hukum Islam pada Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Malang.
Shalawat serta salam tidak lupa penulis limpahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya sampai hari akhir.
Adalah suatu pekerjaan yang sangat berat bagi penulis yang fakir ilmu dalam
menyelesaikan skripsi ini. Namun Alhamdulillah berkat maunnah Allah SWT dan
bantuan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan. Untuk itu dalam
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada:
1. Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Malang.
2. Drs. H. Dahlan Tamrin, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Syariah UIN Malang.
3. Dr. Saifullah, S.H M.Hum selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan
banyak waktu untuk membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini
dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Terimakasih banyak atas segala
nasehat, petunjuk, dan jerih payahnya selama ini.
4. Bapak Marbani Rifai dan Ibu Sri Puryanti, ayah dan bunda tercinta, tersayang,
terkasih, yang telah memberikan dorongan moril dan materiil kepada penulis
dalam pencarian demi sebuah kemaslahatan. Sehingga penulis mampu melewati
tahapan demi tahapan perjalanan dan dinamika hidup ini.
5. Segenap Bapak dan Ibu dosen Fakultas Syariah UIN Malang yang telah
memberikan ilmu yang bermanfaat dan berguna bagi penulis untuk tugas dan
tanggung jawab selanjutnya. Terkhusus terimakasih buat Ibu Dra. Hj. Tutik
Hamidah, M.Ag, selaku dosen wali atas segala bimbingan dan bantuannya
menyimak hafalan ayat dan hadist ahkam, sampai penulis mampu menyelesaikan
studi ini.
6. Bapak Serma Ttg H. M. Kodim Syafii, S.Pd selaku Rohaniwan Islam Detasemen
Angkatan Laut Malang yang telah tulus ikhlas meluangkan waktunya untuk
mengarahkan, memberi informasi dan ilmunya. Bapak Komandan yang telah
memberi izin penelitian di Denal, Bu Nurum selaku Kepala Kaset, serta semua
pihak yang bersangkutan di Denal Malang, atas waktu dan segenap bantuannya.
7. Teman-temanku di Fakultas Syariah angkatan 2003, yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam proses penulisan skripsi ini
maupun selama berada di bangku kuliah.
8. Seluruh teman-teman dan adek-adek di Wisma Gapika, tempat menumpahkan
segala rasa, tempat berbagi, yang senantiasa memberikan support kepada penulis
untuk segera menyelesaiakan skripsi ini.
9. Sobat-sobat, teman-teman, saudara-saudara, siapapun yang selama ini telah
memberikan dukungan moril dan materiil kepada penulis, terimakasih banyak
untuk inspirasi dan semuanya.
Penulis berharap semoga amal kebaikan semua diterima dan dibalas oleh Allah SWT.
Semoga dicatat sebagai amal yang shaleh dan bermanfaat. Amin...
Walaupun dalam penulisan skripsi ini penulis telah mencurahkan segala kemampuan,
namun penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kekhilafan dalam penyusunan
skripsi ini. Untuk itu, kepada semua pihak yang mendapati ketidaksempurnaan dalam
penyusunan skripsi ini, dengan rendah hati penulis mohon bimbingan dan saran yang
konstruktif untuk kemajuan dimasa mendatang.
Dengan segala keterbatasan pengetahuan dan waktu penulis, sekiranya dengan segala
kelebihan dan kekurangan pada skripsi ini, diharapkan dapat memberikan sumbangan
bagi khazanah ilmu pengetahuan, khususnya bagi pribadi penulis dan Fakultas Syariah
Al-Ahwal Al-Syakhsyiyah, serta semua pihak yang memerlukan.
Akhirnya hanya kepada Allah SWT, penulis senantiasa memohon maghfiroh dan
ridho-Nya atas penyusunan dan penulisan skripsi ini, Amin Ya Robbal Alamiiin...

Malang, 16 Januari 2008

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i


LEMBAR PENGAJUAN...................................................................................... ii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI............................................................... iii
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING....................................................... iv
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI .................................................................. .v
KATA PENGANTAR .......................................................................................... vi
LEMBAR PERSEMBAHAN.............................................................................. viii
LEMBAR MOTTO .............................................................................................. ix
DAFTAR ISI ........................................................................................................ .x
ABSTRAK ........................................................................................................... xii

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ........................................................ 1
B. Rumusan Masalah .................................................................. 8
C. Batasan Masalah .................................................................... 8
D. Definisi Operasional ............................................................... 9
E. Tujuan Penelitian .................................................................... 10
F. Kegunaan Penelitian .............................................................. 10
G. Sistematika Pembahasan ........................................................ 11

BAB II : KAJIAN PUSTAKA


A. Penelitian Terdahulu................................................................ 13
B. Peran Rohaniwan Islam ......................................................... 18
1. Rohaniwan Islam............................................................... 18
2. Syarat-syarat Rohaniwan Islam ................................... 18
C. Pembekalan Perkawinan.......................................................... 21
1. Pengertian Pembekalan Perkawinan ................................ 21
2. Latar Belakang adanya Pembekalan Perkawinan ............ 21
3. Unsur-unsur Pembekalan Perkawinan .............................. 24
4. Tujuan Pembekalan Perkawinan........................................ 24
5. Asas Pembekalan Perkawinan........................................... 26
6. Materi Pembekalan Perkawinan........................................ 26
D. Prosedur Perkawinan TNI Dalam Keputusan Menteri Pertahanan
Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata NO. KEP/01/I/1980
Tentang Peraturan Perkawinan, Perceraian, dan Rujuk Anggota
ABRI ....................................................................................... 28
1. Ketentuan Dasar........... 28
2. Tata Cara Perkawinan.. 30
3. Tata Cara Permohonan Izin Kawin Bagi yang
Beragama Islam 32
E. Keluarga Sakinah... 34
1. Konsep Keluarga Sakinah. 34
2. Kriteria Keluarga Sakinah. 36
3. Indikator Keluarga Sakinah... 38
4. Upaya Mewujudkan Keluarga Sakinah. 42
BAB III : METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ....................................................................... 48
B. Lokasi Penelitian ................................................................... 49
C. Sumber Data............................................................................ 49
D. Teknik Pengumpulan Data ..................................................... 50
E. Teknik Pengolahan Data ......................................................... 52
F. Teknik Analisa Data................................................................ 53

BAB IV : PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA


A. ........................................................................................ Deskri
psi Objek Penelitian ............................................................... 55
B. ........................................................................................ Manfa
at adanya Pembekalan Perkawinan menurut Rohaniwan
Islam ....................................................................................... 58
C. ........................................................................................ Konse
p Keluarga Sakinah Perspektif Rohaniwan
Islam......................................................................................... 69
D. ........................................................................................ Kenda
la dan Solusi bagi Rohaniwan Islam dalam Memberikan
Pembekalan Perkawinan......................................................... 76

BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................ 85
B. Saran ...................................................................................... 88

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
ABSTRAK

Susanti, Ratna. 2008. Peranan Rohaniwan Islam Dalam Pembekalan Perkawinan


Anggota TNI Terhadap Pembentukan Keluarga Sakinah (Studi di
Detasemen Angkatan Laut Malang). Skripsi. Jurusan Al-Ahwal Al-
Syakhsiyah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.
Pembimbing: Dr. Saifullah, S.H M.Hum.

Kata Kunci: Rohaniwan Islam, Pembekalan Perkawinan, TNI, Keluarga Sakinah.

Perkawinan merupakan ikatan antara suami istri berdasarkan ketentuan agama


yang dianut oleh yang bersangkutan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam melangsungkan pekawinan ada prosedur yang harus dilalui khusus untuk
anggota TNI berdasarkan Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/ Panglima
Angkatan Bersenjata No. Kep/01/I/1980. Pada pasal 5 keputusan ini disebutkan
bahwa setiap calon suami/ istri angota TNI harus mendapatkan pembekalan serta
pembinaan perkawinan dari Rohaniwan Islam sebagai pejabat agama di lingkungan
militer.
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah tentang manfaat adanya
pembekalan perkawinan menurut Rohaniwan Islam, konsep keluarga sakinah
perspektif Rohaniwan Islam dan kendala serta solusi bagi Rohaniwan Islam dalam
memberikan pembekalan perkawinan.
Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian studi lapangan dengan
menggunakan pendekatan kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. Sumber data
yang dipakai yaitu sumber data primer yang berupa hasil wawancara, dan data
sekunder yang berupa dokumen resmi serta literatur-literatur yang berkaitan dengan
perkawinan anggota TNI. Sedangkan metode pengumpulan data menggunakan
wawancara dan dokumentasi. Hasil analisis terhadap masalah yang dibahas
dituangkan secara deskriptif dalam analisis data penelitian.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisa data, dapat diketahui bahwa peran
Rohaniwan Islam sangatlah urgen dalam memberikan pembekalan perkawinan. Hal
ini tidak saja karena pembekalan perkawinan merupakan formalitas yang harus dilalui
berdasarkan peraturan sebelum mendapatkan izin kawin dari pejabat yang berwenang,
akan tetapi keberadaannya sangatlah penting untuk memberikan bekal terkait dengan
perkawinan bagi calon suami/ istri anggota TNI. Mengingat banyak hal yang nantinya
akan dilalui termasuk jika istri angota TNI AL ditinggal untuk berlayar dalam jangka
waktu tiga sampai dengan enam bulan, dan maksimal satu tahun. Untuk itu
diharapkan dengan adanya pembinaan awal sebelum perkawinan ini, nantinya para
anggota TNI mampu menempatkan diri sebagai suami maupun istri dalam rumah
tangga, serta benar-benar bisa merealisasikan sebuah keluarga yang sakinah dari
perkawinan yang dilakukan.
ABSTRACT

Susanti, Ratna. 2008. The Role Of Moslem Clergymans In Provisioning TNI


Members Marriage In Forming Keluarga Sakinah (Study at Malang
Detachment Sea Force). Thesis. Al-Ahwal Al-Syakhsiyah Department,
Syariah Faculty, The State Islamic University (UIN) Malang. Advisor: Dr.
Saifullah, S.H M.Hum.

Key Words: The Moslem Clergyman, Marriage Provisioning, TNI, Keluarga Sakinah.

Marriage is a relationship between husband and wife in a marriage treaty based


on the possesed religion and also the legal marriage law. In conducting marriage,
there is a procedure that must be conducted, especially by the TNI members based on
Force Commanders Regulation No. Kep/01/I/1980. Sentence 5 written in this
regulation stated that every husband/ wife to be has to get provisioning and marriage
advice from Moslem Clergyman as religion functionare in the military area.
The main problem that is discussed about the role of Moslem clergymans in
giving marriage provisioning before the marriage licence is given, and this action is
constructed in order to give them enough knowledge in forming keluarga sakinah of
TNI members in Malang Detachment Sea Force.
Research method that used is study research using qualitative approximation
resulting descriptive data. The data is gained through primary data (data that is
obtained trough interview) and secondary data in the forms of legal documents
included references that have close relationship with TNI members marriage.
Moreover, method in collecting data is interview and documentation. The analyzed
result about this problem is explained descriptively in a form of research data
analysis.
According to the result of the research and data analysis, it can be inferred that
the Moslem Clergyman role is urgently needed in giving marriage provisioning. This
marriage provisioning functioned not only as formality getting marriage licence from
entitled functionary but also as an important guidance in getting the connected
provisions marriage for husband/ wife to be as TNI members. Considering some
things that must be passed even if the TNI AL s wife that are left for her husbands
duty in a three unto six months or even at least one year. Therefore, the early
provisioning can be used as the guidance for TNI members as husband/ wife in doing
their roles in a familiy life, hopefully, they also can establish a keluarga sakinah in
their marriage.
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Perkawinan adalah persoalan manusia yang mencakup banyak segi dari seluruh

aspek kehidupan. Perkawinan merupakan fitrah dan aturan hidup. Berdasarkan ayat-

ayat Quran dan hadis nabi, bahwa perkawinan memberi berkah kepada umat manusia

dalam bentuk kehormatan dan kemuliaan. Perkawinan merupakan suatu ketentuan

dari ketentuan-ketentuan Allah di dalam menjadikan dan menciptakan alam ini.

Perkawinan bersifat umum, menyeluruh, berlaku tanpa kecuali baik bagi manusia,

hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Ketentuan-ketentuan ini telah dituangkan dalam

firman Allah SWT, antara lain dalam QS. Ar-Raad: 3 yang artinya: Dan Dia-lah

Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-

sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan,

Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu

terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Setiap orang yang memasuki pintu gerbang kehidupan berkeluarga harus melalui

pintu perkawinan. Hal yang diinginkan dari perkawinan tersebut adalah terciptanya
suatu keluarga atau rumah tangga yang bahagia sejahtera lahir dan batin serta

memperoleh keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Karena dari sini akan terwujud

sebuah masyarakat yang rukun, damai serta makmur, material dan spiritual.

Kehidupan keluarga serta masyarakat semacam inilah yang menjadi cita-cita dan

tujuan pembangunan nasional yang dilaksanakan oleh pemerintah dan rakyat

Indonesia.

Dalam pandangan Islam, perkawinan merupakan sunnah Rasulullah s.a.w yang

antara lain bertujuan untuk melanjutkan keturunan, di samping untuk menjaga

manusia supaya tidak terjerumus dalam perbuatan keji yang sama sekali tidak

diinginkan oleh syara.

Lantaran pentingnya masalah perkawinan tersebut, Islam sangat menaruh

perhatian dan menekankan masalah pembentukan rumah tangga ini. Bahkan dalam

keadaan tertentu malah sampai pada batasan wajib. Ini dapat dilihat dari dua sisi.

Pertama, Islam senantiasa mendukung upaya pembentukan rumah tangga. Kedua,

Islam selalu menekankan upaya menjaga dan melindungi rumah tangga dari berbagai

ancaman dan pengaruh negatif. 1

Syarat utama bagi kelanjutan dan keutuhan perkawinan dan hidup berumah tangga

ialah adanya apa yang disebut sakinah, yaitu ketentraman jiwa yang meliputi hidup

kekeluargaan, dan adanya mawaddah dan rahmah yakni rasa cinta dan kasih sayang

yang mengikat semua anggota keluarga satu sama lain. 2 Keluarga sakinah yang diikat

oleh mawaddah dan rahmah itu dirumuskan oleh firman Allah dalam QS Ar-Rum ayat

21 yang artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan

untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram

1
Ali Qaimi, Menggapai Langit Masa Depan Anak (Bogor: Cahaya, 2002), 5.
2
Abdul Qadir Djaelani, Keluarga Sakinah (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1995), 55.
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya

pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Dari ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam suatu perkawinan itu

terkandung unsur ketentraman dalam rumah tangga sebagai sumber kebahagiaan dan

ketentraman yang dijalin oleh mawaddah dan rahmah.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, perkawinan harus dilaksanakan sesuai

dengan ketentuan syariat Islam dan peraturan perundangan yang berlaku. Perkawinan

dapat dilangsungkan bila seseorang memenuhi syarat-syarat baik secara materiil, yaitu

syarat syarat mengenai diri pribadi calon mempelai maupun syarat-syarat formil, yaitu

syarat-syarat yang menyangkut formalitas atau tata cara yang harus dipenuhi sebelum

dan pada saat melangsungkan perkawinan. 3

Di Indonesia, seorang muslim yang hendak melangsungkan perkawinan

mempunyai beberapa aturan yang terdapat dalam Undang-undang perkawinan dan

hukum perkawinan Islam terkait dengan ketentuan dan peraturan tentang dasar, rukun,

tujuan, dan syarat perkawinan yang terangkum secara jelas dalam UU No.1 Tahun

1974.

Akan tetapi bagi beberapa golongan masyarakat tertentu mempunyai peraturan

khusus yang sifatnya menindaklanjuti UU No.1 Th 1974 dan Peraturan Pemerintah

No.9 Th 1975, sebagai peraturan pelaksanaannya. Karena dalam kedua peraturan

tersebut belum diatur, atau hanya disebutkan secara umum saja. Salah satu golongan

itu yaitu TNI. Terdapat suatu peraturan khusus tentang peraturan perkawinan,

perceraian, dan rujuk, khusus bagi anggota TNI yakni berupa Keputusan Menteri

Pertahanan Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata No. KEP/01/I/1980, yang ini

3
Endang Sumiarni, Kedudukan Suami Istri dalam Hukum Perkawinan (Yogyakarta: Wonderful
Publishing Company, 2004), 6.
sifatnya menindaklanjuti undang-undang yang sudah ada karena dalam undang-

undang tersebut belum diatur atau hanya disebutkan secara umum saja.

Dalam keputusan ini disebutkan bahwa dalam BAB II tentang Ketentuan Dasar,

pasal (5) ayat b, yang berbunyi : Sebelum permohonan izin kawin disampaikan

kepada pejabat yang berwenang, calon suami/ istri diwajibkan menghadap pejabat

agama Angkatan/ Polri untuk menerima petunjuk/ penggembalaan dalam perkawinan

yang akan dilakukan. Serta dalam ayat c disebutkan: Sebelum permohonan izin

kawin disampaikan kepada pejabat yang berwenang, suami/ istri yang bersangkutan

wajib menerima petunjuk/ penggembalaan kerukunan rumah tangga dari pejabat

agama tersebut ayat b. 4

Dari sini dapat diketahui bahwa ada satu peraturan khusus bagi anggota TNI yang

ini tidak dimiliki orang biasa pada umumnya. Dengan adanya pejabat agama, dalam

hal ini Rohaniwan Islam, seseorang yang hendak melakukan permohonan izin kawin

terlebih dahulu harus mendapat bekal, serta petunjuk terkait dengan perkawinan.

Yang dari sini diharapkan nantinya calon suami atau istri tersebut bisa memperhatikan

dan menerapkan apa-apa yang didapat dari Rohaniwan Islam ini dalam kehidupan

berkeluarganya kelak.

Ketika dilihat kembali tentang visi dari TNI itu sendiri yaitu terwujudnya TNI

profesional dan modern, memiliki kemampuan yang tangguh untuk menegakkan

kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik

Indonesia dan menjaga keselamatan bangsa dan negara serta kelangsungan

pembangunan nasional, 5 maka ini jelas bahwa kesemua hal tersebut di atas tidak bisa

lepas dari sebuah keluarga. Karena sesungguhnya awal dari semua harapan itu adalah

adanya kesejahteraan dari masing-masing keluarga yang dibina. Dalam Undang-


4
Lihat Keputusan Menhankam/ Pangab NO. KEP/01/1/1980.
5
Anynomous, UU TNI, http://www.tnial.mil.id (diakses pada 6 Juni 2007).
undang perkawinan disebutkan bahwa seorang suami istri wajib saling cinta-

mencintai, hormat-menghormati, dan memberi bantuan lahir batin antara yang satu

kepada yang lain agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya,

membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual dan material. Hal ini tidak dapat

dipungkiri, bahwa keadaan keluarga sangat mempengaruhi kehidupan termasuk

dalam menjalankan tugas dinasnya. Oleh karena itu peran istri dalam hal ini

sangatlah urgen.

Calon istri dari anggota TNI harus mengikuti pembekalan perkawinan karena

nantinya selain ia berkewajiban sebagai seorang istri, ia juga mempunyai kewajiban

sebagai anggota Jalasenastri, dimana hal ini sudah merupakan suatu peraturan.

Yaitu apabila seseorang telah menikah dengan anggota TNI AL, maka istri dari

anggota TNI tersebut harus menjadi anggota jalasenastri dan mengikuti segala

kegiatan yang ada, baik itu intra maupun ekstra. 6 Anggota jalasenastri harus memberi

contoh pada masyarakat dan menjaga nama baik (harkat-martabat) suami, termasuk

keluarga, dan instansinya, baik langsung maupun tidak langsung.

Sebagai pendamping dari seorang prajurit, istri selayaknya menjadi pendukung

suami dalam menghadapi tugas-tugasnya. Dukungan itu dapat diberikan dalam bentuk

support dengan menciptakan kondisi rumah tangga yang harmonis. Dengan keadaan

rumah tangga yang harmonis, suami tidak terbebani masalah rumah tangga ketika

harus menyelesaikan masalah-masalah di kantor.

Jalasenastri merupakan wadah bagi ibu-ibu TNI AL agar dapat diarahkan menjadi

istri-istri yang dapat membahagiakan keluarga, mendukung tugas-tugas suami yang

diberikan oleh Negara, serta sebagai wadah dalam berorganisasi dan aktualisasi diri.

Setiap istri dari anggota TNI juga harus mengetahui tanggung jawab suaminya selaku

6
Wawancara dengan Serma M. Kodim Syafii di Denal Malang tgl 5 Nopember 2007).
TNI sebagai abdi negara, dimana tugas bela negara harus selalu didahulukan, baru

kemuadian istri dan keluarganya. Semua istri dari anggota TNI mau tidak mau harus

selalu siap ditinggal setiap saat oleh suaminya untuk bertugas, dan harus siap

menerima resiko apapun, bahkan dengan kemungkinan yang paling buruk sekalipun.

Hal inilah yang menjadi pertimbangan kenapa tidak hanya calon suami saja yang

harus mendapatkan pembekalan perkawinan, akan tetapi calon istri dari anggota TNI

juga harus mendapatkan pembekalan terlebih dahulu sebelum melangsungkan

perkawinan.

Satu hal mendasar seperti yang telah disebutkan di depan bahwa yang menjadi

tujuan utama dalam sebuah perkawinan adalah terciptanya keluarga sakinah.

Barangkali meski kata ini sudah tidak lagi asing bagi setiap orang, namun

sesungguhnya tidak sedikit orang yang tidak mengetahui apa hakikat dari keluarga

sakinah itu sendiri.

Sebuah keluarga sakinah dapat diciptakan apabila telah memenuhi lima aspek

pokok kehidupan, yaitu sebagai berikut; 7 terwujudnya kehidupan bersama dan

menciptakan suasana keislaman, adanya pendidikan keluarga yang mantap, kesehatan

yang terjamin, ekonomi keluarga stabil, serta hubungan intern dan antar keluarga yang

harmonis dan terjalin erat.

Tentunya banyak orang yang belum mengenal akan hal tersebut, termasuk calon

suami atau istri dari anggota TNI yang hendak melangsungkan perkawinan. Karena

jarang sekali ada pendidikan tentang pembentukan keluarga sakinah dalam kurikulum,

kecuali memang lembaga yang berkompeten dalam hal ini.

Oleh karenanya peran Rohaniwan Islam ini dirasa sangat penting dalam

memperkenalkan apa itu yang disebut dengan keluarga sakinah, memberi bekal

7
Aziz Musthoffa, Untaian Mutiara Keluarga (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2001), 14.
pengetahuan dan mental bagi calon pengantin pria maupun wanita dalam perkawinan,

memberi petunjuk dan pembinaan yang diperlukan dalam menempuh kehidupan

keluarga supaya nantinya calon suami atau istri tersebut benar-benar bisa

merealisasikan apa yang dinamakan dengan keluarga sakinah, dengan diberi

penjelasan dan penerangan tentang apa-apa yang terkait dengannya sebelum

perkawinan. Karena sesungguhnya satu hal pokok yang paling bisa meminimalisir

percekcokan dalam rumah tangga yaitu ketika suami istri mempunyai bekal kesiapan

ilmu pengetahuan terkait dengan perkawinan secara matang, difahami, serta

diamalkan. Hal ini sangat diperlukan mengingat tugas TNI sebagai abdi negara

sangatlah berat, sehingga TNI sebagai calon suami beserta calon istrinya harus

mendapat pembekalan perkawinan.

Berawal dari opini dan anggapan-anggapan seperti tersebut di atas, maka penulis

berusaha mencari tahu jawaban, bagaimanakah peran pejabat agama, yang dalam hal

ini Rohaniwan Islam dalam pembekalan perkawinan anggota TNI terkait dengan

pembentukan keluarga sakinah, serta apakah sesungguhnya pembekalan perkawinan

yang dilakukan oleh Rohaniwan Islam sebelum izin kawin diberikan dan perkawinan

dilangsungkan ini benar-benar bermanfaat dan ada kaitannya dengan pembentukan

keluarga sakinah para anggota TNI nantinya dalam berkeluarga. Oleh karena itu,

dalam penelitian ini penulis mengambil judul penelitian: Peranan Rohaniwan Islam

dalam Pembekalan Perkawinan Anggota TNI terhadap Pembentukan Keluarga

Sakinah (Studi di Detasemen Angkatan Laut malang)

B. Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang dapat

penulis rumuskan adalah :


1. Apa manfaat adanya pembekalan perkawinan menurut Rohaniwan Islam?

2. Bagaimana konsep keluarga sakinah perspektif Rohaniwan Islam?

3. Apa yang menjadi kendala bagi Rohaniwan Islam dalam menjalankan

tugasnya memberikan pembekalan perkawinan?

C. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini penulis membatasi masalah hanya pada persoalan

perkawinan, khususnya dalam hal prosedur perkawinan anggota TNI, terbatas pada

bagaimana peran Rohaniwan Islam selaku pejabat agama, dalam hal memberikan

pembekalan perkawinan angota TNI terkait dengan pembentukan keluarga sakinah

pada perkawinan anggota TNI Angkatan Laut di Detasemen Angkatan Laut Malang.

D. Definisi Operasional

1. Rohaniwan Islam adalah penyuluh agama atau guru penerang rohani 8 , yang

bertugas memberikan pengarahan, wawasan tentang bagaimana cara berbuat,

berbicara, dan berperilaku serta bergaul terhadap suami maupun istri anggota

TNI yang beragama Islam.

2. Pembekalan Perkawinan adalah bagian dari prosedur perkawinan, sebagai

prasyarat dalam memperoleh izin kawin yang disampaikan oleh pejabat agama

dalam rangka memberi petunjuk dalam perkawinan yang akan dilakukan 9

3. Tentara adalah warga negara yang dipersiapkan dan dipersenjatai untuk tugas-

tugas pertahanan negara guna menghadapi ancaman militer maupun ancaman

bersenjata. 10

8
A Pius Partanto dan Dahlan M Al Barry, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola,1994), 680.
9
Wawancara dengan Serma M. Kodim Syafii di Denal Malang tgl 2 Nopember 2007).
10
Lihat Undang-undang Republik Indonesia No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.
4. Keluarga Sakinah adalah keluarga yang dibina atas dasar perkawinan yang

sah, mampu memenuhi hajat hidup spiritual dan material secara layak dan

seimbang diliputi suasana kasih sayang antar anggota keluarga dan

lingkungannya dengan selaras, serasi, serta mampu mengamalkan, menghayati

dan memperdalam nilai-nilai keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia. 11

5. Detasemen merupakan bagian dari kesatuan pasukan atau penempatan satuan

tentara. 12

E. Tujuan Penelitian

Berdasar pada rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui manfaat adanya pembekalan perkawinan yang diberikan

oleh Rohaniwan Islam.

2. Untuk mengetahui bagaimana konsep keluarga sakinah perspektif Rohaniwan

Islam.

3. Untuk mengetahui hal-hal yang menjadi kendala sekaligus solusi bagi

Rohaniwan Islam dalam menjalankan tugasnya memberikan pembekalan

perkawinan.

F. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut :

1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan

mengenai prosedur perkawinan anggota TNI, khususnya tentang pembekalan

perkawinan yang diberikan oleh pejabat agama dalam hal ini Rohaniwan

11
Tim Penyusun, Membina Keluarga Sakinah (Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan
Penyelengggaraan Haji 2003), 6.
12
Al Barry, Op.Cit., 105.
Islam, sehingga bisa digunakan sebagai bahan acuan bagi peneliti-peneliti

berikutnya.

2. Secara praktis, hasil dari penelitian ini nantinya diharapkan juga dapat

bermanfaat sebagai wacana pengetahuan bagi masyarakat umum, khususnya

para anggota TNI serta calon suami atau istri TNI tentang prosedur

perkawinan terkhusus pada saat pembekalan perkawinan anggota TNI di

Denal Malang dalam pembentukan keluarga sakinah melalui pemahaman dan

penerapan tentang hal-hal yang didapat dari Rohaniwan Islam.

G. Sistematika Pembahasan

Agar penyusunan proposal penelitian ini terarah, sistematis dan saling

berhubungan antara satu bab dengan bab yang lainnya, maka peneliti secara umum

dapat menggambarkan susunannya sebagai berikut:

Bab I sebagai pendahuluan yang mencakup latar belakang masalah, rumusan

masalah, batasan masalah, definisi operasional, tujuan penelitian, kegunaan penelitian,

dan sistematika pembahasan.

Bab II menjelaskan tentang kajian teori terkait dengan judul penelitian yang

digunakan sebagai pijakan awal berfikir. Bab II ini terdiri dari empat bagian, yaitu

yang pertama menjelaskan tentang perkawinan menurut hukum Islam, terkait dengan

prinsip-prinsip perkawinan, tujuan dan hikmah perkawinan, serta syarat sah

perkawinan. Kedua mengenai perkawinan menurut UU No.1 Tahun 1974. Ketiga

menjelaskan tentang prosedur perkawinan TNI yang tercantum dalam Keputusan

Menteri Pertahanan Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata No. KEP/01/I/1980.

Dan terakhir, dalam bagian empat akan dijelaskan tentang keluarga sakinah, yang
meliputi konsep keluarga sakinah, kriteria dan indikator keluarga sakinah, serta

berbagai upaya untuk mewujudkan keluarga sakinah.

Bab III membahas tentang metode penelitian, yang meliputi: jenis penelitian,

lokasi penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik pengolahan data, dan

teknik analisa data.

Bab IV mencakup paparan dan analisis data pembahasan secara menyeluruh

terkait dengan rumusan masalah dalam penelitian.

Bab V merupakan bab terakhir dalam penulisan penelitian, yang sekaligus

merupakan bab penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu diperlukan untuk menegaskan, melihat kelebihan dan

kelemahan berbagai teori yang digunakan penulis lain dalam pengkajian

permasalahan yang sama. Penelitian terdahulu perlu disebutkan dalam penelitian

untuk menegaskan dan mempermudah pembaca melihat dan menilai perbedaan teori

yang digunakan penulis dengan penulis yang lain dalam melakukan pengkajian

permasalahan yang sama. 13

Sebelum penulis melakukan penelitian tentang masalah ini, sesungguhnya

persoalan yang sejenis namun mempunyai titik perbedaan terkait dengan perkawinan

TNI dan pembentukan keluarga sakinah pernah diteliti sebelumnya oleh Nur Laila

13
Tim penyusun, Buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. (Malang: Fakultas Syariah, 2005), 13.
Rizqi Amalia, Ajeng Puspa Rini, Abd Afif, Istiqomah dan Lilik Chalisah dengan hasil

penelitiannya sebagai berikut;

Dari penelitian yang diberi judul Prosedur Perkawinan Anggota Polri dan

Dampaknya Terhadap Rencana Perkawinan (Studi di Polresta Malang) oleh Nur Laila

Rizqi Amalia ini, ditemukan beberapa kesimpulan, bahwa setiap anggota POLRI yang

hendak kawin/ nikah/ menceraikan istrinya/ menjatuhkan talak atas istrinya/ minta

cerai kepada suaminya, diharuskan terlebih dahulu mengajukan permohonan izin

secara tertulis kepada pejabat yang berwenang melalui saluran hirarki menurut

tuntutan agama yang dianut oleh anggota yang bersangkutan dan menurut peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

Dalam hal ini, prosedur itu harus sesuai dengan Juklak/ 09/ XI/ 79, yaitu dengan

tahapan hirarki sebagai berikut :

1. 2 bulan sebelumnya harus mengajukan surat permohonan izin kepada pejabat

yang berwenang

2. Yang bersangkutan harus menghadap Pejabat Agama untuk menerima

bimbingan dalam perkawinan.

3. Kemudian yang bersangkutan harus menghadap kabagmin (Kepala Bagian

Administrasi) untuk pengesahan secara administrasi.

4. Setelah siap semua administrasinya dan lengkap persyaratannya, maka yang

bersangkutan harus mengikuti sidang perkawinan.

Selain prosedur di atas, dijelaskan juga mengenai faktor-faktor penyebab tidak

mendapatkannya izin dari pejabat yang berwenang, yaitu:

a. Masa dinas kurang dari 2 tahun

b. Kelakuan dan reputasi dari yang bersangkutan tidak sesuai dengan norma

kehidupan yang berlaku dalam masyarakat.


c. Kurang memenuhi persyaratan administrasi.

d. Calon suami dari wanita Polwan berstatus masih beristri.

Dengan adanya prosedur perkawinan yang ditentukan bagi anggota POLRI,

ternyata hal ini mempunyai dampak yang bagus, yaitu setiap anggota POLRI akan

lebih bertanggung jawab dalam menjalankan tugas dinasnya. Dan apabila prosedur

tersebut dilaksanakan dengan baik justru akan mendapatkan faedah khususnya bagi

personil maupun bagi istri anggota POLRI. Lain halnya dengan jika tidak

dilaksanakannya prosedur tersebut, maka yang bersangkutan akan dikenai sanksi. 14

Penelitian Nur Laila Rizqi Amalia yang menjelaskan tentang prosedur perkawinan

anggota POLRI ini ternyata diketahui ada banyak persamaan yang ditemukan dengan

prosedur perkawinan anggota TNI. Namun demikian, hal ini tetap beda dengan

penelitian yang peneliti lakukan, karena hal yang dibahas bukanlah prosedur

perkawinannya secara umum, akan tetapi hanya pada bagian pembekalan perkawinan

saja.

Sedangkan dalam skripsi yang berjudul Pemalsuan Surat Izin dari Pejabat

sebagai Alasan Pembatalan Perkawinan Bagi TNI ini, Ajeng Puspa Rini

menyimpulkan hal-hal sebagai berikut: 15

a. Karena surat izin dari pejabat yang merupakan syarat administrasi bagi

angota TNI telah dipalsukan, berarti syarat perkawinannya tidak terpenuhi

sehingga perkawinan dapat dibatalkan berdasarkan pasal 22 UU No. 1 tahun

1974.

b. Anggota TNI yang melakukan pemalsuan surat izin dari pejabat berhak

membatalkan perkawinannya karena statusnya sebagai suami istri menurut

14
Nur Laila Rizqi Amalia, Prosedur Perkawinan Anggota Polri dan Dampaknya Terhadap Rencana
Perkawinan (Studi di Polresta Malang) (Skripsi) (Malang: Fakultas Syariaah UIN Malang, 2004)
15
Ajeng Puspa Rini, Pemalsuan Surat Izin dari Pejabat sebagai Alasan Pembatalan Perkawinan bagi
TNI (Skripsi) (Malang: Fakultas Syariaah UIN Malang, 2006)
hukum Islam, UU No. 1 tahun 1974 dan KHI memperbolehkannya untuk

membatalkan perkawinan.

c. Dasar hukum yang menjadi pertimbangan majelis hakim dalam memutus

perkara ini adalah pasal 22 UU No. 1 tahun 1974 karena syarat sahnya

perkawinan menurut pasal 2 UU No. 1 tahun 1974.

Dari sini dapat diketahui bahwa izin dari pejabat merupakan salah satu syarat

administrasi bagi anggota TNI yang hendak menikah. Dimana dalam penelitian yang

penulis lakukan dijelaskan bahwa salah satu syarat mendapatkan izin kawin dari

pejabat yang berwenang yaitu harus melalui salah satu tahap yang disebut pembekalan

perkawinan. Dan karena surat izin dari pejabat ini dipalsukan, maka syarat

perkawinannya tidak terpenuhi dan ini berakibat dirugikannya anggota yang

bersangkutan karena istri tidak mendapatkan haknya sekaku istri anggota TNI. Oleh

sebab itu perkawinannya dapat dibatalkan berdasarkan pasal 22 UU NO.1 th 1974.

Abd Afif dalam penelitiannya yang berjudul Kafaah sebagai Salah Satu

Indikator Terbentuknya Keluarga Sakinah (Studi Kasus di Desa Warulor Kecamatan

Pacitan Kabupaten Lamongan) ini menjelaskan bahwa salah satu faktor yang bisa

mewujudkan kebahagian dan keharmonisan rumah tangga adalah apabila antara suami

istri memiliki kesepahaman akan makna kehidupan rumah tangga, baik itu mencakup

karakteristiknya, kebutuhan fisik, dan rohani serta pendidikan anak untuk masa depan.

Dalam tulisan Abd Afif tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa, ada beberapa

faktor yang bisa menjadi indikator terbentuknya keluarga sakinah, yaitu sebagai

berikut :

1. Saling pengertian akan posisi masing-masing

2. Saling sabar dalam menghadapi rintangan dan hambatan dalam berumah

tangga
3. Saling menghargai terhadap apa yang dilakukan oleh suami atau istri selama

tidak melanggar ketentuan syariat-syariat islam

4. Adanya kasih sayang pasangan suami istri dalam rumah tangga

5. Adanya sikap keterbukaan dalam sikap dan menyampaikan pendapat, baik

diwaktu senang maupun duka. 16

Terkait dengan penelitian yang dilakukan penulis didapati bahwa ternyata hal-hal

yang ada hubungannya dengan indikator keluarga sakinah dalam tulisan Abd Afif

dijelaskan juga oleh Rohaniawan Islam di Denal Malang dalam rangka memberikan

pembekalan perkawinan.

Istiqomah dalam skripsinya Hubungan Antara Komunikasi Suami Istri dengan

Keharmonisan Rumah Tangga ini menjelaskan bahwa ada hubungan yang positif

yang sangat sifnifikan antara komunikasi suami istri dengan keharmonisan rumah

tangga. Ini disebabkan karena komunikasi suami istri ini sangat penting dan

merupakan salah satu faktor terpenting dalam kehidupan rumah tangga, khususnya

untuk menciptakan rumah tangg yang harmonis. 17 Hal ini senada dengan hasil

penelitian Lilik Chalisah Pengaruh Komunikasi Suami Istri Terhadap Keharmonisan

Rumah Tangga (Kelurahan Perak Utara Kecamatan Cantikon) dimana berdasarkan

hasil angket dapat dijelaskan bahwa semakin banyak/ sering melakukan komunikasi

antara suami istri, maka semakin banyak / semakin tinggi pula tingkat keharmonisan

rumah tangga. 18

16
Abd Afif, Kafaah Sebagai Salah Satu Indikator Terbentuknya Keluarga Sakinah (Studi Kasus di
Desa Warulor Kecamatan Pacitan Kabupaten Lamongan) (Skripsi) (Malang: Fakultas Syariah UIN
Malang, 2004 )
17
Istiqomah, Hubungan Antara Komunikasi Suami Istri dengan Keharmonisan Rumah Tangga
(Skripsi) (Malang: Fakultas Psikologi UIN Malang, 2002 )
18
Lilik Chalisah, Pengaruh Komunikasi Suami Istri terhadap Keharmonisan Rumah Tangga (Skripsi)
(Surabaya: IAIN, Fakultas Syariah, 2002 )
Kedua hasil penelitian ini jika dikaitkan dengan penelitian yang penulis lakukan

yaitu bahwa faktor komunikasi ini memang sangat penting adanya dalam kehidupan

berumah tangga. Dan hal ini dijelaskan oleh Rohaniwan Islam pada saat memberikan

pembekalan perkawinan sebagai upaya dalam rangka mewujudkan keluarga sakinah

anggota TNI AL di Denal Malang.

B. Peranan Rohaniwan Islam

1. Rohaniwan islam

Rohaniwan Islam adalah penyuluh agama atau guru penerang rohani 19 , yang

bertugas memberikan pengarahan, penasehatan, wawasan tentang bagaimana cara

berbuat, berbicara, dan berperilaku serta bergaul terhadap suami maupun istri anggota

TNI yang beragama Islam.

Rohaniwan islam ini bertugas memberikan pembekalan atau bimbingan

perkawinan yang sekaligus juga merupakan lembaga konseling perkawinan bagi

anggota TNI.

2. Syarat-Syarat Rohaniwan Islam

Seorang Rohaniwan Islam selaku penasehat perkawinan harus bersikap

profesional dan sungguh-sungguh dalam setiap pembekalan yang dilakukan. Dia

harus mampu menunjukkkan kepribadian sikap tertentu untuk mendukung tugasnya.

Sikap itu antara lain:

a. Harus peka terhadap hubungan antar manusia. Dia harus selalu

memahami hal-hal yang dikatakan dan dilakukan oleh pasangan calon

pengantin.

19
A Pius Partanto dan Dahlan M Al Barry, op.Cit., 680
b. Harus melihat pasangan calon pengantin sebagaimana adanya tanpa

mengindahkan perasaannya sendiri, keyakinan atau prasangka yang

mungkin mempengaruhinya.

c. Rohaniwan Islam yang baik mempunyai penghargaan yang terus

menerus terhadap calon suami/ istri serta tetap membiarkan calon

suami/ istri tersebut mempunyai kebebasan terhadap dirinya.

Karena pentingnya sikap pribadi dan integritas seorang Rohaniwan Islam, maka

diterapkan syarat-syarat seorang Rohaniwan Islam sebagai berikut: 20

1. Sekurang-kurangnya sudah berusia 25 tahun.

2. Berkelakuan baik dan beramal shaleh terutama dalam kehidupan

berkeluarga.

3. Menyimpan rahasia orang yang berkepentingan.

4. Sudah mendapat latihan pembekalan menurut keperluan.

Muhammad Rasyid Ridha menulis dalam tafsir Al-Manar, bahwa hakamain atau

juru perdamaian itu terdiri dari orangtua yang berpengalaman karena diharapkan

kebijaksanaannya dalam menyelesaikan masalah berdasarkan pemeriksaan yang

dalam dan pengalaman yang luas dibidangnya.

Selain hal tersebut di atas diperlukan 3 syarat penting yaitu:

1. Niat yang benar

2. Kemauan yang kuat

3. Keikhlasan batin.

HSM Nasaruddin Latif, pendiri dan tokoh BP4 menulis: Termasuk faktor yang

penting dalam makna-makna penasehatan yang baik, disamping kepandaian /

kecakapan dalam proses wawancara nasehat perkawinan, harus ada niat yang baik dan

20
Tim Penyusun, Modul Pembinaan Keluarga Sakinah (Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat
Islam dan Penyelengggaraan Haji 2002), 135.
jujur dipihak penasehat sendiri. Niat yang baik itu sungguh besar pengaruhnya dalam

mencapai sukses penasehat yang beroleh taufiq dari Tuhan Yang Maha Esa.

Hanya dengan kemauan yang kuat akan berhasil mencapai pembekalan yang

sebaik-baiknya. Allah berfirman dalam Surat Hud ayat 88 yang artinya: Tindakan

kemauanku, hanya untuk mencapai ishlah dengan sekuat usahaku. Dan tiada taufiq

bagiku hanyalah dengan inayah Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan hanya

kepadaNya aku berserah diri.

Keikhlasan batin ialah hati yang bersih yang memancar kewajah yang cerah, air

muka yang jernih disaat menghadapi calon suami/ istri yang melakukan pembekalan

perkawinan.

Disamping syarat-syarat tersebut di atas, seorang Rohaniwan Islam selaku badan

yang memberikan pembekalan dan bimbingan perkawinan keluarga Islami adalah

merupakan orang mempunyai keahlian profesional di bidang perkawinan. Dengan

kata lain, yang bersangkutan harus memiliki kemampuan keahlian (profesional)

sebagai berikut: 21

1. Memahami ketentuan dan peraturan agama Islam mengenai perkawinan dan

kehidupan berumah tangga.

2. Menguasai ilmu pembekalan dan bimbingan islami.

Selain kemampuan keahlian (profesional) serupa itu tentu saja dari yang

bersangkutan dituntut kemampuan lain yang lazim disebut sebagai kemampuan

kemasyarakatan (mampu berkomunikasi, bergaul, dan bersilaturahmi dengan baik),

serta kemampuan pribadi (beragama Islam dengan menjalankannya, dan memiliki

akhlak mulia).

21
Aunur Rahim Faqih, Bimbingan dan Konseling dalam Islam (Yogyakarta: LPPAI UII Press, 2004),
93.
C. Pembekalan Perkawinan

1. Pengertian Pembekalan Perkawinan

Pembekalan perkawinan adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar

dalam menjalankan perkawinan dan kehidupan berumah tangganya bisa selaras

dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup di

dunia dan akhirat. 22 Pembekalan Perkawinan perspektif anggota TNI lebih spesifik

diartikan sebagai bagian dari prosedur perkawinan, sebagai prasyarat dalam

memperoleh izin kawin yang disampaikan oleh pejabat agama dalam rangka memberi

petunjuk dalam perkawinan yang akan dilakukan. 23

2. Latar Belakang adanya Pembekalan Perkawinan

Ada beberapa hal yang melatar-belakangi mengapa diperlukannya pembekalan

dan bimbingan perkawinan, yaitu: 24

a. Masalah perbedaan individual

Seperti telah diketahui bahwa masing-masing individu berbeda satu dengan

yang lainnya. Akan sulit didapatkan dua individu yang benar-benar sama,

sekalipun mereka merupakan saudara kembar. Masing-masing individu

mempunyai sifat-sifat yang berbeda antara satu dengan yang lain, baik dalam segi

fisiologik maupun dalam hal segi psikologik. Masing-masing individu mempunyai

perasaan, tetapi perasaan satu dengan yang lainnya akan berbeda. Demikian pula

masing-masing individu mempunyai kemampuan untuk berfikir, namun

bagaimana kualitas berpikirnyapun akan berbeda-beda.

Di dalam menghadapi masalah, bagaimana cara individu mencari

pemecahannya, masing-masing individu juga mempunyai kemampuan yang

berbeda-beda. Ada yang dapat memecahkan masalah dengan cepat, tetapi yang
22
Ibid., 86.
23
Wawancara dengan Serma M. Kodim Syafii di Denal Malang tgl 2 Nopember 2007).
24
Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling Perkawinan (Yogyakarta: Andi Yogyakarta, 2002), 7.
lain dengan lambat, sedangkan yang lain lagi mungkin tidak dapat memecahkan

masalah tersebut. Bagi individu yang yang tidak dapat memecahkan masalah yang

dihadapinya, maka ia membutuhkan bantuan orang lain untuk ikut memikirkan

memecahkan masalah tersebut.

b. Masalah kebutuhan individu

Manusia merupakan makhluk hidup yang mempunyai kebutuhan-kebutuhan

tertentu. Kebutuhan merupakan pendorong timbulnya tingkah laku. Tingkah laku

individu ditujukan untuk mencapai sesuatu tujuan yang akan dikaitkan dengan

kebutuhan individu yang bersangkutan. Bertitik tolak bahwa tingkah laku individu

itu merupakan cara untuk memenuhi kebutuhannya, maka dapat dikemukakan

bahwa perkawinan juga merupakan suatu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan

yang ada dalam diri individu yang bersangkutan. Dalam hal perkawinan kadang-

kadang justru sering individu tidak tahu harus bertindak bagaimana. Dalam hal

seperti ini maka individu yang bersangkutan membutuhkan bantuan orang lain,

atau membutuhkan pembekalan dan bimbingan yang berperan membantu

mengarahkan ataupun memberikan pandangan individu yang bersangkutan.

c. Masalah perkembangan individu

Individu merupakan makhluk yang berkembang dari masa ke masa. Akibat

dari perkembangan yang ada pada individu maka individu akan mengalami

perubahan-perubahan. Dengan adanya perubahan-perubahan itu, ini menunjukkan

adanya unsur dinamika dalam diri individu tersebut.

Dalam mengarungi perkembangan ini, kadang-kadang individu mengalami

hal-hal yang tidak dapat dimengerti oleh individu yang bersangkutan khususnya

dalam hubungan antara pria dan wanita. Akibat dari kedaan ini dapat

menimbulkan berbagai macam kesulitan yang menimpa diri individu yang


bersangkutan. Karena itu untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang tidak

diinginkan itu diperlukan bantuan orang lain untuk pengarahannya atau dengan

kata lain dibutuhkan pembekalan dan bimbingan.

d. Masalah latar belakang sosio kultural

Perkembangan keadaan menimbulkan banyak perubahan dalam kehidupan

masyarakat, seperti perubahan dalam aspek sosial, politik, ekonomi, industri,

sikap, nilai dan sebagainya. Keadan ini akan mempengaruhi pula kehidupan

seseorang baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Kalau

dilihat pada waktu sekarang ini, individu dihadapkan pada perubahan-perubahan

yang begitu kompleks, sehingga keadaan ini dapat menimbulkan berbagai macam

tantangan atau tuntutan terhadap kebutuhan individu. Keadaan yang demikian

menuntut individu untuk dapat lebih mampu untuk menghadapi berbagai macam

keadaan yang ditimbulkan oleh keadaan jaman ini.

3. Unsur-Unsur Pembekalan Perkawinan

Sekurang-kurangnya ada lima unsur sebagai persyaratan suatu pembekalan atau

bimbingan perkawinan, yaitu: 25

1. Yang dibekali atau dinasehati, yaitu seorang yang membutuhkan nasehat

baik pria maupun wanita, remaja maupun dewasa yang akan

melangsungkan pernikahan.

2. Masalah atau problem, yaitu kesulitan-kesulitan atau hambatan-hambatan

yang tidak dapat dipecahkan sendiri oleh individu atau pasangan calon

mempelai yang bersangkutan.

3. Penasehat, yaitu perorangan ataupun badan yang melakukan pembekalan

kepada individu atau pasangan yang membutuhkannya.

25
Tim Penyusun, Op Cit., 132.
4. Penasehatan/ pembekalan, yaitu upaya penasehatan atau bimbingan yang

diberikan oleh para penasehat kepada yang dinasehati.

5. Sarana, yaitu perangkat penunjang keberhasilan pembekalan baik fisik

maupun non fisik.

4. Tujuan Pembekalan Perkawinan

Berdasarkan rumusan pengertian pembekalan perkawinan, dapat diketahui bahwa

tujuan pembekalan dan bimbingan perkawinan keluarga Islami adalah untuk: 26

1. Membantu individu mencegah timbulnya problem-problem yang berkaitan

dengan pernikahan, antar lain dengan jalan:

a. membantu individu memahami hakikat pernikahan menurut Islam

b. membantu individu memahami tujuan pernikahan menurut Islam

c. membantu individu memahami persyaratan-persyaratan pernikahan

menurut Islam

d. membantu individu memahami kesiapan dirinya untuk menjalankan

pernikahan

e. membantu individu melaksanakan pernikahan sesuai dengan ketentuan

(syariat) Islam

2. Membantu individu mencegah timbulnya problem-problem yang berkaitan

dengan kehidupan rumah tangganya, antara lain dengan:

a. membantu individu memahami hakikat kehidupan berkeluarga (berumah

tangga) menurut Islam

b. membantu individu memahami tujuan hidup berkeluarga menurut Islam

c. membantu individu memahami cara-cara membina kehidupan berkeluarga

yang sakinah, mawaddah wa rahmah menurut ajaran Islam

26
Aunur Rahim Faqih, Op.Cit., 87.
d. membantu individu memahami melaksanakan pembinaan kehidupan

berumah tangga sesuai dengan ajaran Islam

3. Membantu individu memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan

pernikahan dan kehidupan berumah tangga, antara lain dengan jalan:

a. membantu individu memahami problem yang dihadapinya

b. membantu memahami kondisi dirinya dan keluarga serta lingkungannya

c. membantu individu memahami dan menghayati cara-cara mengatasi

masalah pernikahan dan rumah tangga menurut ajaran Islam

d. membantu individu menetapkan pilihan upaya pemecahan masalah yang

dihadapinya sesuai dengan ajaran Islam

4. Membantu individu memelihara situasi dan kondisi pernikahan dan rumah

tangga agar tetap baik dan mengembangkannya agar jauh lebih baik, yakni

dengan cara:

a. memelihara situasi dan kondisi pernikahan dan kehidupan berumah tangga

yang semula pernah terkena problem dan telah teratasi agar tidak menjadi

permasalahan kembali

b. mengembangkan situasi dan kondisi pernikahan dan rumah tangga menjadi

lebih baik (sakinah, mawaddah, dan rahmah).

5. Asas Pembekalan Perkawinan

Asas-asas pembekalan perkawinan adalah landasan yang dijadikan pegangan atau

pedoman dalam melaksanakan pembekalan dan bimbingan perkawinan. Asas-asas

tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut: 27

1. Asas kebahagiaann dunia dan akhirat

2. Asas sakinah, mawaddah dan rahmah

27
Ibid., 88.
3. Asas komunikasi dan musyawarah

4. Asas sabar dan tawakkal

5. Asas manfaat (maslahat)

6. Materi Pembekalan Perkawinan

Materi pembekalan perkawinan disesuaikan dengan calon mempelai yang

bersangkutan. Materi harus berkembang dan disesuaikan kemajuan perkembangan

masyarakat.

Ada empat kelompok materi yang perlu dikuasai oleh seorang Rohaniwan Islam

selaku penasehat perkawinan, yaitu: 28

1. Undang-undang Perkawinan

a. prinsip-prinsip UUP

b. tata cara nikah dan pencatatannya

c. pemeriksaan nikah dan pengumuman kehendak nikah

d. akad nikah

e. persetujuan, izin dan dispensasi

f. penolakan kehendak nikah

g. pencegahan dan pembatalan pernikahan

h. biaya pencatan nikah

i. formulir nikah

2. Hukum Agama

a. syarat-syarat dan rukun nikah

b. akad nikah / ijab kabul

c. mahram dan tingkatannya

3. Seluk Beluk Perkawinan

28
Tim Penyusun, Op. Cit., 137.
a. makna dan tujuan perkawinan

b. memilih jodoh

c. hak dan kewajiban suami istri

d. masalah cinta

e. pergaulan dalam masyarakat

4. Metode Penasehatan

a. teknik wawancara dan bimbingan

b. jenis konflik dan cara mengatasinya

c. bentuk-bentuk penasehatan

d. syarat-syarat penasehat

e. teknik problem solving

Selain materi diatas, seorang penasehat juga harus menguasai psikologi

perkawinan, sosiologi, sexologi ilmu pendidikan dan pengetahuan lainnya untuk

melengkapi kematangan seorang penasehat.

D. Prosedur Perkawinan TNI Dalam Keputusan Menteri Pertahanan

Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata NO. KEP/01/I/1980 Tentang

Peraturan Perkawinan, Perceraian, dan Rujuk Anggota ABRI

1. Ketentuan Dasar

Ketentuan dasar terkait dengan perkawinan dan perceraian anggota ABRI ini

diatur dalam bab II, pasal 2 sampai dengan pasal 5 sebagai berikut: 29

a. Pada asasnya seorang anggota ABRI pria/ wanita hanya diizinkan mempunyai

seorang isteri/ suami.

29
Abdurrahman, Op.Cit, 304.
b. Menyimpang dari ketentuan tersebut ayat a pasal ini seorang suami hanya

dapat dipertimbangkan untuk diizinkan mempunyai isteri lebih dari seorang

apabila hal itu tidak bertentangan dengan ketentuan agama yang dianutnya dan

dalam hal istri tidak dapat melahirkan keturunan, dengan surat keterangan

dokter.

c. Dalam hubungan ayat b pasal ini, surat permohonannya harus dilengkapi

selain dengan lampiran tersebut dalam Pasal 14 keputusan ini juga dengan

menyertakan:

1) Surat Keterangan pribadi dari calon isteri yang menyatakan bahwa ia tidak

keberatan dan sanggup untuk dimadu.

2) Surat pernyataan/ persetujuan dari isteri pertama.

3) Surat pernyataan suami yang menyatakan bahwa ia mampu menjamin

kebutuhan isteri-isterinya.

Dalam Pasal 3 disebutkan bahwa Setiap perkawinan, perceraian dan rujuk

dilaksanakan menurut ketentuan/ tuntutan agama yang dianut oleh anggota ABRI

yang bersangkutan dan menurut peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 4 menyebutkan larangan untuk anggota ABRI sebagai berikut:

a. Anggota ABRI tidak diperkenankan :

1) Kawin selama mengikuti pendidikan pembentukan pertama/ pendidikan

dasar baik di dalam maupun di luar negeri.

2) Hidup bersama dengan wanita/ pria sebagai ikatan suami isteri tanpa dasar

perkawinan yang sah.

b. Setiap atasan/ pejabat agama harus menegur, memperingatkan perbuatan

dimaksud ayat a sub 2) pasal ini.


Sedangkan dalam Pasal 5 yang terdiri dari enam ayat ini diatur megenai hal-hal

yang terkait dengan diwajibkannya menghadap kepada Rohaniwan Islam selaku

pejabat agama sebelum permohonan izin kawin. Enam ayat dalam Pasal tersebut

yaitu:

a. Setiap anggota yang hendak kawin/ nikah atau menceraikan isterinya,

menjatuhkan talak atas isterinya/ minta cerai kepada suaminya, diharuskan

terlebih dahulu mengajukan permohonan izin secara tertulis kepada pejabat

yang berwenang.

b. Sebelum permohonan izin kawin disampaikan kepada pejabat yang

berwenang, calon suami/ istri diwajibkan menghadap pejabat agama

Angkatan/ Polri untuk menerima petunjuk/ penggembalaan dalam perkawinan

yang akan dilakukan.

c. Sebelum permohonan izin kawin disampaikan kepada pejabat yang

berwenang, suami/ istri yang bersangkutan wajib menerima petunjuk/

penggembalaan kerukunan rumah tangga dari pejabat agama tersebut ayat b.

d. Dalam hal permohonan izin tersebut dalam ayat a, b, dan c pasal ini ditolak

oleh pejabat yang berwenang, kecuali ditolak oleh Presiden, maka yang

bersangkutan dapat mengajukan permohonan baik banding kepada pejabat

yang yang setingkat lebih tingi dari pejabat tersebut.

e. Putusan atau suatu permohonan naik banding diberitahukan kepada yang

bersangkutan secara tertulis, dan merupakan putusan terakhir.


2. Tata Cara Perkawinan

Dalam bab III Keputusan Menhankam/ Pangab No. KEP/01/I/1980 ini dijelaskan

mengenai tata cara perkawinan secara teknis yang terdiri dari tiga ayat, sebagai

berikut :

Pasal 6

a. anggota ABRI yang akan melaksanakan perkawinan harus mendapat izin

terlebih dahulu dari pejabat yang berwenang.

b. Izin kawin hanya diberikan apabila perkawinan yang akan dilakukan itu tidak

melanggar hukum agama yang dianut oleh kedua belah pihak yang

bersangkutan. Untuk itu perlu adanya pernyataan/ pendapat agama Angkatan/

Polri yang bersangkutan.

c. Izin kawin pada prinsipnya diberikan kepada anggota ABRI yang

bersangkutan jika perkawinan/ pernikahan itu memperlihatkan prospek

kebahagiaan dan kesejahteraan bagi calon suami isteri yang bersangkutan dan

tidak akan membawa pengaruh atau akibat yang merugikan kedinasan.

Pasal 7

a. Surat izin kawin hanya berlaku selama 6 (enam) bulan terhitung mulai tanggal

dikeluarkannya.

b. Dalam hal izin kawin telah diberikan, sedangkan perkawinan tidak jadi

dilakukan, maka yang bersangkutan harus segera melaporkan pembatalan itu

kepada pejabat yang memberikan izin tersebut disertai dengan alasan-alasan

c. Setelah perkawinan dilangsungkan, maka salinan surat izin kawin dari

lembaga yang berwenang, serta salinan surat izin kawin harus diserahkan oleh

yang bersangkutan kepada pejabat personalia di kesatuannya, guna

menyelesaikan administrasi personil keuangan.


Pasal 8

d. Penolakan pemberian izin atas permohonan izin kawin dilakukan oleh pejabat

yang berwenang dengan memberitahukan kepada yang bersangkutan secara

tertulis dengan disertai alasan-alasannya.

e. Penolakan pemberian izin dimaksud ayat a dilakukan apabila:

1) Tabiat, kelakuan dan reputasi calon suami/ isteri yang bersangkutan tidak

sesuai dengan kaidah-kaidah (norma) kehidupan bersama yang berlaku

dalam masyarakat.

2) Ada kemungkinan, bahwa perkawinan itu akan dapat merendahkan

martabat ABRI ataupun Negara baik langsung maupun tidak langsung

3) Persyaratan kesehatan tidak terpenuhi.

3. Tata Cara Permohonan Izin Kawin Bagi yang Beragama Islam

Dalam bab III tersebut di atas diatur mengenai tata cara perkawinan secara umum,

sedangkan dalam bab VI ini diatur mengenai tata cara permohonan izin kawin secara

spesifik khusus bagi calon suami/ isteri yang beragama Islam.

a. Surat permohonan izin kawin diajukan kepada Pejabat yang berwenang

melalui saluran hirarkhi setelah dibubuhi pendapat dari Pejabat Agama yang

bersangkutan dengan disertai lampiran : 30

1) Surat Keterangan tentang nama, tanggal dan tempat lahir, agama/

kepercayaan, pekerjaan dan tempat kediaman suami isteri, apabila salah

seorang atau keduanya pernah kawin, disebutkan juga nama isteri atau

suami terdahulu.

30
Lihat Keputusan Menhankam/ Pangab NO. KEP/01/I/1980.
2) Surat keterangan tentang nama, agama/ kepercayaan, pekerjaan dan tempat

kediaman orang tua mereka.

3) Surat Kesanggupan dari calon istri/ suami untuk menjadi istri/ suami

anggota ABRI.

4) Surat Keterangan dari yang berwenang bahwa calon suami telah mencapai

usia 19 tahun dan calon isteri 16 tahun.

5) Surat persetujuan dari pengadilan atau pejabat yang ditunjuk oleh kedua

orang tua pihak calon suami maupun pihak calon isteri, dalam hal calon

suami istri belum mencapai usia tersebut pada titik 4).

6) Surat Persetujuan ayah/ wali calon istri.

7) Surat Keterangan pejabat personalia mengenai status belum/ pernah

kawian atau masih beristri/ bersuami, dari anggota yang bersangkutan.

8) Surat Keterangan cerai/ kematian suami dari calon isteri atau Surat

Keterangan cerai/ kematian istri dari calon suami apabila mereka sudah

janda/ duda.

9) Surat Keterangan dari Pamong Praja/ Polisi setempat tentang tingkah laku

calon istri/ suami.

10) Surat Keterangan Dokter ABRI mengenai kesehatan anggota yang

bersangkutan dan calon istri/ suami.

11) Dua lembar pasfoto anggota yang bersangkutan dan calon istri/ suami

b. Jangka waktu minimum yang diperlukan sebagai persiapan untuk

menyelesaikan hal-hal yang menyangkut segi keagamaan ialah 15 (lima

belas) hari sebelum tanggal pelaksanaan perkawinan.


E. Keluarga Sakinah

1. Konsep Keluarga Sakinah

Keluarga sakinah terdiri dari dua kata; keluarga dan sakinah. Dalam kehidupan

sehari-hari, kata keluarga dipakai dengan banyak pengertian diantaranya, orang seisi

rumah (masyarakat terkecil) terdiri atas ayah, ibu, dan anak. 31

Sedangkan kata sakinah berasal dari susunan kata, sakana, yaskunu, sakinatan

yang berarti rasa tentram, aman, dan damai. Sakinah yang bermula dari akar kata

sakan, berarti menjadi tenang, mereda, hening, tinggal. Kata sakinah diartikan oleh

Cyril Glasse dengan ketenangan, dan kedamaian. 32 Kata sakinah dijumpai dalam Al-

Quran sebanyak enam kali, yaitu dalam surat al-Baqarah(2): 248; at-Taubah(9): 26,

40, al-Fath(48): 4, 18, 26 dengan makna ketenangan. 33 . Seseorang akan merasakan

sakinah apabila terpenuhi unsur-unsur hajat hidup spiritual dan material secara layak

dan seimbang. 34

Keluarga sakinah pada dasarnya terbangun atas dua dimensi, yaitu dimensi

kualitas hidup dan dimensi waktu, durasi, atau stabilitas. Oleh karena itu, keluarga

dapat digambarkan menjadi empat kelompok.

1. Keluarga yang kualitas hidupnya tinggi dan perkawinan dilakukan selamanya

(muabbad); inilah keluarga sakinah, keluarga yang dibangun atas dasar kasih

sayang dan rahmat.

2. Keluarga yang kualitas hidupnya tinggi, tetapi perkawinan dilakukan dengan

waktu terbatas (terjadi perceraian).

3. Keluarga yang kualitas hidupnya rendah, tetapi perkawinan dilakukan

selamanya, tidak terjadi perceraian. Inilah keluarga awet rajet (Sunda)

31
Tim Penyusun, Op.Cit,4.
32
Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam Ringkas, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999), 5.
33
Jaih Mubarok, Modernisasi Hukum Perkawinan Di Indonesia (Bandung: Pustaka Bani Quraisy,
2005), 17.
34
Tim Penyusun, Op.Cit., 5.
4. Keluarga yang kualitas hidupnya rendah dan perkawinannya dilakukan dengan

waktu yang terbatas 35 .

Gambaran keluarga tersebut menempatkan keluarga sakinah sebagai keluarga

terhormat, yang menjadi cita-cita setiap keluarga muslim karena menyangkut masa

depan pendidikan anak-anaknya. Keluarga sakinah seringkali digambarkan dengan

berbagai istilah yang ideal. Keluarga sakinah adalah istana kehidupan suami istri,

ditandai dengan istri dan anak-anak yang saleh, rumahku adalah surgaku (bayti

jannati), dan rumah tangga berkah. Menurut ajaran Islam mencapai ketenangan hati

dan kehidupan yang aman damai adalah hakekat perkawinan muslim yang disebut

sakinah. Untuk hidup bahagia sejahtera manusia membutuhkan ketenangan hati dan

jiwa yang aman damai. Dengan ketenangan dan keamanan hati, banyak masalah

dalam kehidupan bisa terpecahkan.

M. Quraish Shihab dalam bukunya wawasan Al-Quran yang dikutip oleh Asrofi

dan M.Thohir menjelasakan bahwa keluarga sakinah adalah keluarga yang mampu

menciptakan suasana kehidupan berkeluarga yang tentram, dinamis, dan aktif, yang

asih, asah dan asuh. 36 Dalam keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat

Islam dan Urusan Haji Nomor D/7/1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan

Gerakan Keluarga Sakinah bab III Pasal 3 dijelaskan mengenai pengertian keluarga

sakinah, yaitu: 37

Keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah,

mampu memenuhi hajat hidup spiritual dan material secara layak dan seimbang,

diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya dengan

35
Jaih Mubarok, Op.Cit, 17.
36
Asrofi dan M,Thohir, Keluarga Sakinah dalam Tradisi Islam Jawa (Yogyakarta: Arindo Nusa Media,
2006), 4.
37
Tim Penyusun, Op.Cit, 93.
selaras, serasi, serta mampu mengamalkan, menghayati, dan memperdalam nilai-nilai

keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia.

2. Kriteria Keluarga Sakinah

Dalam program pembinaan keluarga sakinah disusun kriteria-kriteria keluarga

sakinah yang terdiri dari keluarga pra sakinah, keluarga sakinah I, keluarga sakinah II,

keluarga sakinah III, dan keluarga sakinah IV. Dengan uraian masing-masing kriteria

sebagai berikut:

1. Pra Sakinah

a. Perkawinan yang tidak memenuhi ketentuan dan peraturan perundang-

undangan yang berlaku.

b. Tidak mampu melaksanakan sholat.

c. Tidak mamu melaksanakan puasa.

d. Keluarga yang tidak mampu melaksanakan zakat fitrah.

e. Tidak mampu membaca Al-Quran.

f. Tidak memiliki pengetahuan dasar agama.

g. Tempat tinggal yang tidak menetap.

h. Tidak memiliki pendidikan dasar.

2. Keluarga Sakinah I

a. Keluarga tersebut dibentuk melalui perkawinan yang sah berdasarkan

perkawinan yang berlaku atas dasar cinta kasih.

b. Melaksanakan sholat.

c. Melaksanakan puasa.

d. Membayar zakat fitrah.

e. Mempelajari dasar agama.


f. Mampu membaca Al-Quran.

g. Memiliki pendidikan dasar.

h. Ada tempat tinggal.

i. Memilki pakaian.

3. Keluarga Sakinah II

a. Memenuhi kriteria Sakinah I.

b. Hubungan anggota keluarga harmonis.

c. Keluarga menamatkan sekolah sembilan tahun.

d. Mampu berinfaq.

e. Memiliki tempat tinggal sederhana.

f. Mempunyai tanggung jawab kemasyarakatan.

g. Memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

4. Keluarga Sakinah III

a. Memenuhi kriteria sakinah II.

b. Membiasakan sholat jamaah.

c. Pengurus pengajian/ organisasi.

d. Memiliki tempat tinggal layak.

e. Memahami pentingnya kesehatan keluarga.

f. Harmonis.

g. Gemar memberikan shodaqoh.

h. Melaksanakan qurban.

i. Keluarga mampu memenuhi tugas dan kewajibannya.

j. Pendidikan minimal SLTA.

5. Keluarga Sakinah IV

a. Memenuhi kriteria sakinah III.


b. Keluarga tersebut dapat menunaikan ibadah haji.

c. Salah satu keluarga menjadi pimpinan organisasi Islam.

d. Mampu melaksanakan wakaf.

e. Keluarga mampu mengamalkan pengetahuan agama kepada masyarakat.

f. Keluarga menjadi panutan masyarkat.

g. Keluarga dan anggotanya sarjana minimal di perguruan tinggi.

h. Keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai akhlakul karimah. 38

3. Indikator Keluarga Sakinah

Untuk mendapatkan gambaran tentang keluarga sejahtera di Indonesia

dipergunakan beberapa indikator sementara yang disusun dan telah dicoba oleh

beberapa ahli. Indikator tersebut disusun oleh para ahli dari Ikatan Sosiologi

Indonesia (ISI) dan berbagai ahli lainnya, dan sedang terus disempurnakan dengan

beberapa penelitian lapangan. Indikator sementara ini akan diperbaiki kemudian hari

kalau penelitian dalam bidang ini telah selesai. Dalam pendataan ini keluarga

Indonesia akan diklasifikasikan menurut kelompok sebagai berikut: 39

1. Keluarga Pra sejahtera, yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan

dasar minimumnya.

Indikator sederhana keluarga pra sejahtera ini yaitu tidak dapat memenuhi

syarat-syarat keluarga sejahtera I, II, III dan III Plus.

2. Keluarga Sejahtera I, yaitu kalau keluarga itu sudah dapat memenuhi kebutuhan

dasar minimumnya dalam hal sandang, papan, pangan, dan pelayanan kesehatan

yang sangat dasar.

Indikator Keluarga Sejahtera I sebagai berikut :


38
Achmad Sutarmadi, Memberdayakan Keluarga Sakinah (BP-4 bekerjasama dengan BKM Propinsi
Jawa Timur, 1997), 11.
39
Tim Penyusun, Op.Cit, 75.
a. Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan dua kali sehari atau lebih.

b. Seluruh anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk dirumah,

bekerja/ sekolah, dan bepergian.

c. Bagian yang terluas dari lantai rumah bukan dari tanah.

d. Bila anak sakit dibawa ke sarana/ petugas kesehatan atau diberi pengobatan

modern.

3. Keluarga Sejahtera II, yaitu selain keluarga tersebut dapat memenuhi kebutuhan

dasar minimumnya, dapat pula memenuhi kebutuhan sosial psychologisnya, tetapi

belum dapat memenuhi kebutuhan pengembangannya

Indikator Keluarga Sejahtera yaitu kecuali harus memenuhi syarat a sampai d,

maka keluarga tersebut harus pula memenuhi syarat-syarat dibawah berikut:

a. Paling kurang sekali seminggu keluarga menyediakan daging/ ikan/ telur

sebagai lauk pauk.

b. Seluruh anggota keuarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru

setahun terakhir.

c. Luas lantai rumah paling kurang 8 m persegi untuk tiap penghuni rumah.

d. Seluruh anggota keluarga yang berumur dibawah 60 tahun dewasa ini bisa

membaca tulisan latin.

e. Seluruh anak berusia 6-12 tahun bersekolah pada saat ini.

f. Paling kurang satu orang anggota keluarga yang berumur 15 tahun ke atas

mempunyai pekerjaan tetap.

g. Seluruh anggota keluarga dalam satu bulan terakhir dalam keadaaan sehat,

sehingga dapat melaksanakan tugas/ fungsi masing-masing.

h. Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur menurut agama yang

dianut masing. masing- masing.


4. Keluarga Sejahtera III, yaitu keluarga yang dapat memenuhi syarat-syarat

keluarga sejahtera I dan II dan ditambah dengan terpenuhinya syarat-syarat

sebagai keluarga sejahtera III sebagai berikut:

a. Anak hidup paling banyak 2 orang atau bila anak lebih dari 2 orang keluarga

masih memakai kontrasepsi saat ini.

b. Sebagian dari penghasilan keluarga dapat disisihkan untuk tabungan keluarga

c. Keluarga biasanya makan bersama paling sedikit sekali sehari.

d. Keluarga biasanya ikut serta dalam kegiatan masyarakat dalam lingkungan

tempat tinggal.

e. Keluarga mengadakan rekreasi bersama di luar rumah minimal sekali dalam

tiga bulan.

f. Keluarga dapat memperoleh berita dari surat kabar/ radio/ majalah.

g. Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi yang sesuai

dengan kondisi daerah setempat.

h. Upaya keluarga untuk meningkatkan pengetahuan agama.

5. Keluarga Sejahtera III Plus. Apabila keluarga-keluarga itu memenuhi semua

syarat-syarat pada poin keluarga sejahtera I, II, dan III di atas dan juga syarat-

syarat di bawah ini, maka keluarga itu dimasukkan dalam tingkatan keluarga

sejahtera III plus.

a. Keluarga atau anggota keluarga secara teratur memberikan sumbangan bagi

kegiatan sosial masyarakat dalam bentuk materi.

b. Kepala keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan,

yayasan, atau institusi masyarakat lainnya.

Sedangkan indikator keluarga sakinah lain disebutkan dalam sebuah hadis

riwayat Ad-Dailami dari Anas dinyatakan bahwa:


1




( )

Tatkala Allah mengehendaki anggota keluarga menjadi baik, maka Dia

memahamkan mereka tentang agama, mereka saling menghargai; yang muda

menghormati yang tua, Dia memberikan rejeki dalam kehidupan mereka,

hemat dalam pembelanjaan mereka, dan mereka saling menyadari

kekurangan-kekurangan lantas mereka memperbaikinya. Dan apabila Dia

menghendaki sebaliknya, maka Dia meninggalkan mereka dalam keadan

merana (HR. Ad-Dailami dari Anas)

Dari hadis tersebut di atas dapat diketahui bahwa keluarga yang baik (sakinah) itu

memiliki indikator sebagai berikut:

1. Paham dan taat dalam beragama.

2. Harmonis, saling menghargai, yang muda menghormati yang tua, dan sebaliknya

yang tua menghargai yang muda.

3. Tersedianya rejeki dalam kehidupan mereka.

4. Sederhana/ hemat dalam pembelanjaan mereka.

5. Mereka saling menyadari aib (kekurangan-kekurangan) lantas mereka

memperbaikinya.

Apabila sebuah keluarga dapat mewujudkan indikator-indikator ini maka

keluarga tersebut menjadi keluarga sakinah, sebaliknya apabila kehidupan sebuah


keluarga bertolak belakang dengan sejumlah tanda ini maka akan merana, dan jauh

dari nuansa sakinah. 40

4. Upaya Mewujudkan Keluarga Sakinah

Setelah suami istri memahami hak dan kewajibannya, kedua belah pihak masih

harus melakukan berbagai upaya yang mendorong ke arah tercapainya cita-cita

mewujudkan keluarga sakinah.

Secara singkat dapat dikemukakan beberapa upaya yang dapat ditempuh guna

mewujudkan cita-cita ke arah tercapainya keluarga sakinah.

Upaya tersebut antara lain: 41

a. Mewujudkan harmonisasi hubungan antara suami-istri.

. Upaya untuk mewujudkan harmonisasi hubungan antara suami-istri ini dapat

dicapai antara lain melalui:

1. Adanya saling pengertian.

Di antara suami-istri hendaknya saling memahami dan mengerti tentang

keadaan masing-masing, baik secara fisik maupun secara mental. Perlu

diketahui bahwa suami-istri sebagai manusia, masing-masing memiliki

kelebihan dan kekurangannya.

2. Saling menerima kenyataan.

Suami-istri hendaknya sadar bahwa jodoh, rejeki, dan mati itu dalam

kekuasaan Allah, tidak dapat dirumuskan secara matematis. Namun kepada

kita manusia diperintahkan untuk melakukan ikhtiar. Hasilnya barulah

merupakan suatu kenyataan yang harus kita terima, termasuk keadaan suami

atau isteri kita masing-masing, kita terima secara tulus ikhlas.


40
Asrofi dan M,Thohir, Op.Cit. 10.
41
Tim Penyusun, Op.Cit., 25.
3. Saling melakukan penyesuaian diri

Penyesuaian diri dalam keluarga berarti setiap anggota keluarga berusaha

untuk dapat saling mengisi kekurangan yang ada pada diri masing-masing

serta mau menerima dan mengakui kelebihan yang ada pada orang lain dalam

lingkungan keluarga.

4. Memupuk rasa cinta

Setiap pasangan suami-isteri menginginkan hidup bahagia. Kebahagiaan hidup

adalah bersifat relatif sesuai dengan cita rasa dan keperluannya. Namun begitu

setiap orang berpendapat sama bahwa kebahagiaan adalah segala sesuatu yang

dapat mendatangkan ketentraman, keamanan dan kedamaian serta segala

sesuatu yang bersifat pemenuhan keperluan mental spiritual manusia.

5. Melaksanakan asas musyawarah.

Dalam kehidupan bekeluarga, sikap bermusyawarah, terutama antara suami

dan isteri merupakan sesuatu yang perlu diterapkan. Hal tersebut sesuai

dengan prinsip bahwa tak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan selama

prinsip musyawarah diamalkan.

6. Suka memaafkan.

Diantara suami-isteri harus ada sikap kesediaan untuk saling memaafkan atas

kesalahan masing-masing. Hal ini penting karena tidak jarang soal yang kecil

dan sepele dapat menjadi sebab terganggunya hubungan suami-isteri yang

tidak jarang dapat menjurus kepada perselisihan yang berkepanjangan.

7. Berperan serta untuk kemajuan bersama.

Masing-masing suami-istri harus berusaha saling membantu pada setiap usaha

untuk peningkatan dan kemajuan bersama yang pada gilirannya menjadi

kebahagiaan keluarga.
b. Membina hubungan antara anggota keluarga dan lingkungan.

Keluarga dalam lingkup yang lebih besar tidak hanya terdiri dari Ayah, ibu

dan anak (nuclear family) akan tetapi menyangkut hubungan persaudaraan yang

lebih besar lagi (extended family), baik hubungan antara anggota keluarga

maupun hubungan dengan lingkungan masyarakat. 42

1. Hubungan Antara Anggota Keluarga.

Karena hubungan persaudaraan yang lebih luas menjadi ciri dari masyarakat

kita, hubungan diantara sesama keluarga besar harus terjalin dengan baik

antara keluarga dari kedua belah pihak. Suami harus baik dengan pihak

keluarga istri, demikian juga istri harus baik dengan keluarga pihak suami.

Firman Allah:

t 4 %tnF{$#u( / 9u!$|s? %!$# !$##)?$#u


Artinya:: Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan)

nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan

silaturrahim. (Q.S. An Nisa:1)

2. Hubungan Dengan Tetangga Dan Masyarakat.

Tetangga merupakan orang-orang yang terdekat yang umumnya merekalah

orang-orang yang pertama tahu dan diminta pertolongannya. Oleh karenanya

sangatlah janggal kalau hubungan dengan tetangga tidak mendapat perhatian.

Dapat kita bayangkan kalau sebuah keluarga yang tidak mau rukun dengan

tetangganya, kemudian mengalami musibah yang memerlukan pertolongan

orang lain, sedangkan tetangganya tidak mau tau urusannya.

Saling kunjung-mengunjungi dan saling mengirimi adalah perbuatan terpuji

lainnya terhadap tetangga. Perbuatan tersebut akan menimbulkan rasa kasih

42
Tim Penyusun, Ibid. 29.
sayang antara yang satu dengan yang lainnya. Begitu pentingnya hubungan baik

dengan semua pihak, karena pada dasarnya manusia itu saling membutuhkan dan

kebutuhan-kebutuhan seorang merupakan tingkatan dan mata rantai yang semakin

memanjang.

c. Melaksanakan pembinaan kesejahtraan keluarga.

Dalam membina kebahagiaan dan kesejahtraan keluarga ada beberapa upaya

yang dapat ditempuh antara lain dengan cara melaksanakan:

1. Sepuluh Program Pokok PKK.

2. Keluarga Berencana.

3. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK).

4. Imunisasi.

5. Bina Keluarga Balita

6. Safe Motherhood

7. Air Susu Ibu (ASI)

d. Membina kehidupan beragama dalam keluarga.

Dalam upaya membentuk keluarga sakinah, peranan agama menjadi sangat

penting. Ajaran agama tidak cukup hanya diketahui dan difahami akan tetapi

harus dapat dihayati dan diamalkan oleh setiap anggota keluarga sehingga

kehidupan dalam keluarga tersebut dapat mencerminkan suatu kehidupan yang

penuh dengan ketentraman, keimanan, dan kedamaian yang dijiwai oleh ajaran

dan tuntutan agama.

Setiap anggota keluarga, terutama orang tua dituntut untuk senantiasa

bersikap dan berbuat sesuai dengan garis-garis yang ditetapkan oleh Allah dan
Rasul-Nya. Oleh sebab itu orang tua berkewajiban untuk memberikan bimbingan

dan contoh konkrit berupa suri tauladan kepada anak-anak bagaimana seseorang

harus melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat

agar mereka dapat hidup selamat dan sejahtera.

Kewajiban itu dinyatakan dalam Al-Quran :

t(#Y$t /3=r&u /3|r& #% (#t#u %!$# $pr't

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api

neraka. (Q.S. At-Tahrim: 6)

Bagi suami-isteri, agama merupakan benteng yang kokoh terhadap berbagai

ancaman yang dapat meruntuhkan kehidupan keluarga. Dalam hal ini agama

berperan sebagai sumber untuk mengembalikan dan memecahkan masalah. Oleh

karena itu perlu bagi suami-isteri memegang dan melaksanakan ajaran agama

dengan sebaik-baiknya dalam arti mau dan mampu melaksanakan kehidupan

beragama dalam kehidupan keluarga, baik dalam keadan suka maupun duka.

Upaya ke arah itu dapat dilaksanakan selain dengan cara gemar memperdalam

ilmu agama juga dapat dilakukan dengan cara suka mendekatkan diri kepada

Allah SWT. 43

43
Tim Penyusun, Ibid., 44
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian studi lapangan (field research)

yang menitikberatkan pada hasil pengumpulan data dari informan yang telah

ditentukan. 44 Berdasarkan pada sifat-sifat permasalahan yang ada dalam rumusan

masalah yang telah peneliti uraikan sebelumnya, maka dapat dinyatakan bahwa

pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitataif yang

menghasilkan data deskriptif, yaitu berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah

yang ada sekarang berdasarkan data-data. Jadi ia juga menyajikan data, menganalisis,

dan menginterpretasi. 45 Penelitian deskriptif bertujuan mengungkapkan atau

mendeskripsikan gejala yang telah ada dan atau sedang berlangsung. 46

44
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung : PT Remaja Rosda Karya, 2002),
135.
45
Cholid Narbuko, H. Abu Achmadi, Metodelogi Penelitian (Jakarta : Bumi Aksara, 2005), 44.
46
Nana Sudjana, Awal Kusumah, Proposal Penelitian di Perguruan Tinggi (Bandung: PT Sinar Baru
Algesindo2000), 86.
Sedangkan pendekatan kualitatif adalah penelitian dimana data yang dikumpulkan

bukan berupa angka-angka melainkan data yang berupa hasil dari wawancara,

dokumen resmi, dan peraturan perundangan.

Dalam penelitian ini peneliti mendeskripsikan tentang obyek yang diteliti dengan

mencatat semua obyek yang terkait dengan penelitian, yaitu tentang peran

Rohaniwan Islam dalam pembekalan perkawinan terhadap pembentukan keluarga

sakinah anggota TNI di Detasemen Angkatan Laut Malang melalui hasil wawancara,

dokumen resmi maupun berdasarkan peraturan perundangan.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian yang penulis lakukan ini adalah sebuah penelitan yang dikhususkan

untuk mengetahui peran Rohaniwan Islam dalam pembekalan perkawinan anggota

TNI di Detaseman Angkatan Laut Malang. Untuk itu lokasi penelitian dibatasi tidak

lebih dari satuan yang ada di Malang. Meskipun tidak dipungkiri bahwa ada informan

yang berada diluar satuan Angkatan Laut di wilayah kota Malang akan tetapi hal ini

tidak terlalu signifikan untuk dipermasalahkan, karena lokasi di Detasemen Angkatan

Laut Malang ini dirasa sudah cukup bisa mewakili, dan sesungguhnya perlu diketahui

bahwa tidak semua daerah mempunyai satuan laut.

C. Sumber Data

Maksud dari sumber data dalam sebuah penelitian menurut Suharsimi Arikunto

adalah subyek dimana data dapat diperoleh. 47

Adapun sumber data ini terdiri dari dua macam, yaitu:

47
Suharsismi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: PT Rineka Cipta,
2002), 96.
1. Data Primer.

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumber pertama

yaitu perilaku masyarakat melalui penelitian di lapangan. 48 Data primer ini juga

merupakan data yang dipakai untuk menjawab rumusan masalah.

Dalam penelitian ini, data primer yang dapat diperoleh peneliti adalah hasil

wawancara dengan seorang informan, yaitu Rohaniwan Islam di Detasemen Angkatan

Laut Malang.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen-dokumen resmi, buku-

buku, hasil penelitian yang berwujud laporan, buku harian dan sebagainya. 49

Data sekunder yang diperoleh peneliti adalah Keputusan Menteri Pertahanan

Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata No. KEP/01/I/1980, Undang-undang No.

34 Tahun 2004 tentang TNI, buku-buku panduan terkait dengan fokus penelitian,

arsip-arsip yang ada di Detasemen Malang, serta berbagai literatur yang relevan

dengan pembahasan penelitian.

D. Teknik Pengumpulan Data

Karena ini merupakan penelitian lapangan, dalam hal ini peneliti menggunakan

dua macam teknik pengumpulan data, yaitu :

1. Metode Wawancara

Wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara

lisan dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung

informasi-informasi atau keterangan-keterangan. 50 Tanpa wawancara ini peneliti

akan kehilangan informasi yang hanya dapat diperoleh dengan bertanya langsung
48
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta: UI Press 1986), 12.
49
Ibid., 12.
50
Ibid., 83.
kepada informan. Jenis wawancara yang digunakan yaitu model wawancara bebas

terpimpin, dimana pewawancara hanya membuat pokok-pokok masalah atau garis

besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan, selanjutnya dalam proses wawancara

berlangsung mengikuti situasi, pewawancara harus pandai mengarahkan yang

diwawancarai apabila ternyata ia menyimpang. 51

Informan dalam hal ini yaitu seorang Rohaniwan Islam di Detasemen Angkatan

Laut Malang. Rohaniwan Islam di Denal Malang yang meskipun jumlahnya hanya

satu yaitu Serma Ttg M. Kodim Syafii, tetapi sudah bisa memaparkan data yang

cukup representatif. Karena disamping beliau telah menjabat sebagai Bintara Rohani

Islam (BaRohIs) selama 12 tahun juga sekaligus menjadi pimpinan sebuah Pondok

Pesantren Tarbiyatul Quran Ar-Rohmah di Codo Wajak Malang. Dan dalam hal ini

Serma Ttg M. Kodim Syafii telah mendapat perintah tugas dari komandan selaku

struktur badan tertinggi di Denal Malang untuk membantu penelitian dengan

memaparkan data-data yang representatif mempertanggungjawabkan dari semua

perwakilan angota TNI, di bawah wewenang komandan.

2. Dokumentasi

Metode dokumentasi menurut Suharsimi Arikunto adalah mencari data mengenai

hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah,

prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. 52

Peneliti menggunakan metode dokumentasi ini untuk mendapatkan data serta

informasi yang diperoleh berdasarkan arsip-arsip yang dimiliki oleh Detasemen

Angkatan Laut Malang terkait dengan fokus penelitian.

Arsip-arsip yang telah peneliti dapatkan yaitu Keputusan Menteri Pertahanan

Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata No. KEP/01/I/1980, Undang-undang No.


51
Cholid Narbuko, H. Abu Achmadi,. Op.Cit., 85.
52
Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM,
1976), 77.
34 Tahun 2004 tentang TNI, dokumen-dokumen yang ada di Detasemen AL Malang

tentang struktur organisasi dan izin perkawinan yang meliputi surat permohonan izin

kawin, surat izin kawin, surat keterangan personalia, surat keterangan dari Rohaniwan

Islam, surat pernyataan kesanggupan (dari calon istri/ suami), serta surat persetujuan

dari bapak/ wali.

E. Teknik Pengolahan Data

Awalnya dengan menganalisa, menelaah, menyeleksi data primer dan sekunder

atau hasil penelitian yang relevan. Setelah data terkumpul dilakukan pemilihan secara

selektif disesuaikan dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian.

Setelah itu, dilakukan pengolahan data dengan proses editing, yaitu memeriksa

daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh para pengumpul data. 53 Selanjutnya

dilakukan koding atau pengklasifikasian jawaban, dimana pengklasifikasian data ini

dicocokkan dengan masalah yang ada, mencatat data secara sistematis dan konsisten

yang selanjutnya dituangkan dalam rancangan konsep sebagai dasar utama dalam

memberikan analisa. Terakhir yaitu tabulating atau pengorganisasian data, yakni

mengelompokkan data dengan cara yang teliti dan teratur, serta mencatat data secara

sistematis dan konsisten. Selanjutnya data yang diperoleh tersebut dituangkan dalam

suatu rancangan konsep untuk kemudian dijadikan dasar utama dalam memberikan

analisa hingga pada akhirnya ditemukan keselarasan antara data dengan analisis serta

terjadi relevansi dengan pokok permasalahan yang dibahas.

53
Cholid Narbuko, H. Abu Achmadi. Op.Cit., 153
F. Teknik Analisa Data

Setelah data terkumpul, maka penulis melakukan analisis. Analisa data adalah

proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan

ide seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan

pada tema dan ide itu. 54

Proses analisis merupakan usaha untuk menemukan jawaban atas pertanyaan

perihal rumusan-rumusan dan pelajaran-pelajaran atau hal-hal yang diperoleh dalam

proyek penelitian. 55

Dalam penelitian ini penulis menganalisa data yang diperoleh dengan cara

deskriptif kualitatif, dimana dalam tipe ini diusahakan untuk memberikan suatu uraian

yang deskriptif mengenai suatu kolektifitas dengan syarat bahwa representatifitas

harus terjamin. 56 Dalam hal ini peneliti lebih cenderung menggunakan deskriptif yang

sifatnya eksploratif, yaitu dengan menggambarkan keadaan atau status fenomena.

Peneliti mendeskriptifkan semua point pada tiap rumusan masalah secara jelas.

Karena peneliti ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan keadaan sesuatu.

Dalam hal ini peneliti ingin mengetahui peranan Rohaniwan Islam dalam memberikan

pembekalan perkawinan.

Peneliti berusaha untuk memecahkan persoalan-persoalan yang ada dalam

rumusan masalah dengan menganalisa data-data yang diperoleh sehingga dapat

diketahui keterkaitan hal-hal dalam judul penelitian untuk mendapatkan kesimpulan.

54
Lexy J Moleong, Op. Cit., 103.
55
Marzuki, Metodologi Riset (Yogyakarta: BPFE-UII, 1997), 87.
56
Abdurrahman, Soejono Metode Penelitian Hukum (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), 23.
BAB IV

PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

A. Deskripsi Obyek Penelitian

Detasemen Angkatan Laut (Denal) Malang yang terletak di Jl Yos Sudarso ini

merupakan sebuah satuan laut yang menjadi Badan Pelayanan Pangkalan Utama TNI

AL V (Lantamal V) yang bertugas pokok melaksanakan dukungan administrasi dan

pengamanan terhadap badan, instasi, personil dan kegiatan TNI AL serta mengurus

berbagai kepentingan TNI AL diwilayahnya. Detasemen Angkatan Laut Malang ini

mempunyai tugas pokok memberikan dukungan pelayanan terhadap badan, instansi

dan kepentingan TNI AL di wilayah Malang dengan berpedoman pada visi dan misi

yang telah ditetapkan

Visi dan misi yang telah ditetapkan tersebut yaitu:


A. VISI: 1). Memberikan pelayanan yang maksimal dan optimal dalam setiap event

baik tingkat daerah maupun tingkat nasional bagi kepentingan TNI AL

maupun kepentingan Pemerintah Daerah Kota Malang

2). Menjadi unsur pelayanan yang ideal di Wilayah Lantamal V

B. MISI: 1). Mewujudkan peningkatan kualitas manajemen internal dan sumber daya

manusia yang profesional dalam rangka memberikan pelayanan yang

optimal.

2) Menyelenggarakan pembinaan kekuatan di kota Malang

Banyak perubahan status nama untuk satuan laut di kota Malang ini. Awal mula

berdirinya serta sejarah perubahan nama Detasemen Angkatan Laut Malang ini bisa

digambarkan sebagai berikut:

1. Pada tahun 1967 sewaktu KODAMAR IV berkedudukan di Semarang,

dibentuklah Perwakilan Angkatan Laut di Malang dengan kekuatan pasukan 1

Ton KKO.

2. Kemudian tanggal 18 januari 1971 diresmikanlah Detasemen Angkatan Laut

Malang

3. Antara bulan april s/d mei 1977 perubahan Denal Malang menjadi PERWAL

(Perwakilan Angkatan Laut) Malang

4. Bulan Oktober 1985 Perwal Malang berubah lagi menjadi Denal Malang

5. Berdasarkan Keputusan Pangab Nomor Kep/09/x/1992 tanggal 05 Oktober 1992

dari Denal Malang menjadi Denal III 22.

6. Berdasarkan Skep Kasal no. Skep/12/vii/1993 tanggal 21 juli 1993 dari Denal III

22 menjadi Lanal Malang klasifikasi Lanal Khusus.

7. Ditegaskan kembali klasifikasi Lanal Malang menjadi Lanal Khusus dengan Kep

Kasal No. Kep/06/II/2001 tanggal 13 Februari 2001.


8. Kemudian pada bulan Nopember tahun 2005 dengan adanya perubahan status

Lanal menjadi Denal dengan dasar Kep Kasal Nomor Kep. 10/XI/2005, maka

pada tanggal 18 Nopember 2005 resmi menjadi Detasemen TNI AL Malang

(Denal Malang)

9. Berdasarkan rencana relokasi Lantamal V Surabaya ke Malang, maka akan

dinaikkan kembali status Denal Malang menjadi Lanal mengacu hasil rapat

pimpinan TNI AL dengan para Asisten pada tanggal 30 bulan Juli tahun 2007

dengan Skep Kasal menyusul.

STRUKTUR ORGANISASI DENAL MALANG

KOMANDAN

PALAKSA

SET

SOPS SINTEL PROGA

SMINLOG SATMA SATANG

DENPOMAL BP
B. Manfaat adanya Pembekalan Perkawinan menurut Rohaniwan Islam

Berdasarkan hasil penelitian penulis melalui wawancara dengan Serma Ttg H. M.

Kodim SyafiI S.Pd selaku Rohaniwan Islam di Denal (Detasemen Angkatan Laut)

Malang didapatkan bahwa setiap perkawinan angota TNI harus berdasarkan pada

Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata No.

Kep/01/I/1980 dengan tetap mengacu pada UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan.

Setiap anggota TNI yang hendak melangsungkan perkawinan terlebih dahulu harus

melalui tahapan prosedural sesuai dengan Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/

Panglima Angkatan Bersenjata No. Kep/01/I/1980 sebagai berikut:

1) Maksimal 6 (enam) bulan sebelum pelaksanaan perkawinan harus mengajukan

surat permohonan izin kawin terlebih dahulu di bagian administrasi/

personalia.

2) Sebelum izin kawin diberikan, calon suami/ istri harus melakukan cek

kesehatan untuk mengetahui ada tidaknya penyakit yang diderita, dan terlebih

untuk melihat keperawanan calon istri dengan keterangan testimoni.

3) Setelah melalui pemeriksaan kesehatan, calon suami/ istri dihadapkan pada

LITSUS (Penelitian Khusus) untuk mengetahui hal-hal tentang kepribadian

calon istri/ suami sekaligus calon mertua. Terkait dengan keterangan kelakuan

baik, tersangkut atau tidaknya perkara pidana dan atau gerakan terlarang.

4) Setelah lolos dalam litsus, calon suami/ istri diwajibkan menghadap pejabat

agama, dalam hal ini Rohaniwan Islam untuk mendapatkan pembekalan

perkawinan. Yakni pengetahuan dan mental bagi calon suami/ istri yang

diperlukan dalam menempuh kehidupan keluarga. Kemudian setelah meneliti

surat permohonan izin kawin dan melaksanakan pembekalan, Rohaniwan


Islam tersebut memberikan pernyataan tertulis (Surat Keterangan Rohaniwan

Islam).

5) Terakhir kali setelah adanya pernyataan tertulis dari pejabat agama yang

dalam hal ini Rohaniwan Islam, barulah calon suami/ istri mendapatkan izin

kawin yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang, yaitu komandan.

Perizinan bagi anggota TNI oleh pejabat yang berwenang ini bukan

merupakan syarat sahnya perkawinan menurut UU Perkawinan. Akan tetapi

ini merupakan persyaratan administrasi yang sudah ditentukan sesuai dengan

Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata No.

Kep/01/I/1980.

Adapun syarat-syarat administrasi pelaksanaan perkawinan anggota TNI yaitu

harus memenuhi kelengkapan sebagai berikut:

1) Surat permohonan izin kawin

2) Surat izin kawin

3) Surat keterangan personalia

4) Surat keterangan kesehatan

5) Surat tanda kesanggupan dari calon suami/ istri

6) Surat persetujuan dari Bapak/ wali calon istri

7) Pernyataan keterangan pejabat agama (Rohaniwan Islam)

Setelah semua persyaratan administrasi dipenuhi dan mendapatkan izin kawin

dari pejabat yang berwenang, maka pihak yang bersangkutan harus menyampaikan

maksud tentang perkawinanya tersebut pada KUA. Dan dalam hal ini KUA tidak akan

menerima dan melayani anggota TNI tanpa menunjukkan surat izin kawin. Sehingga

bisa dikatakan urgensi dari surat izin kawin tersebut adalah sebagai persyaratan awal

agar dapat dilaksanakannya perkawinan di KUA.


Tahapan-tahapan yang sedemikian rupa tersebut bagi mayoritas anggota TNI

merupakan suatu proses yang semestinya dilalui tanpa merasa adanya kesulitan.

Karena pada umumnya anggota yang hendak menikah sebelumnya sedikit banyak

sudah mengenal bagaimana prosedur perkawinan dari seniornya. Atau kalau tidak,

hal semacam ini bisa juga ditanyakan langsung pada Rohaniwan selaku pejabat agama

yang juga mempunyai wewenang untuk itu. Akan tetapi bagi sebagian calon istri

angota TNI prosuder ini kadang terkesan ribet dan terlalu lama. Prosesnya memang

bisa dibilang agak rumit, akan tetapi banyak juga calon istri anggota TNI yang tidak

merasa disulitkan karena mereka pada umumnya menyadari betul kalau mau menikah

dengan TNI memang banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi.

Salah satu proses yang harus dilalui terakhir kali sebelum mendapatkan izin

kawin tersebut pada poin empat yaitu mengahadap Rohaniwan Islam selaku pejabat

agama untuk menerima pembekalan perkawinan. Banyak hal yang diberikan oleh

Rohaniwan Islam ketika calon suami/ istri menghadap untuk menerima pembekalan

perkawinan tersebut. Dalam pembekalan itu calon suami/ istri mendapatkan

bimbingan dan petunjuk tentang hal-hal yang erat kaitannya dengan perkawinan.

Dengan adanya pembekalan perkawinan ini calon suami maupun calon istri akan

mendapatkan beberapa manfaat, yaitu: 57

a. Anggota TNI beserta calon istri/ suami akan mendapatkan pembinaan awal

tentang perkawinan, diantaranya dijelaskan macam-macam hak dan kewajiban

suami istri, sebagai berikut :

1. Kewajiban Istri yang sekaligus merupakan hak suami

a) Istri tidak boleh meninggalkan rumah tanpa izin suami.

57
Wawancara dengan Serma M. Kodim Syafii di Denal Malang tgl 5 Nopember 2007.
b) Istri tidak boleh memasukkan laki-laki yang bukan muhrim kedalam

rumah baik ketika suami ada di rumah maupun tidak.

c) Istri tidak boleh menjenguk keluarga istri tanpa izin suami.

d) Istri tidak boleh memberikan materi kepada orang tua tanpa seizin suami.

Dan seyogyanya suami selaku menantu yang memberikan kepada mertua

e) Istri senantiasa harus taat pada perintah suami (perintah yang maruf).

Dalam UU TNI disebutkan bahwa istri dilarang untuk kerja ke luar negeri

sebagai TKW.

f) Istri hendaknya bersikap baik dan mengenal sikap suami. Apa yang harus

diberikan dan ditunjukkan pada suami. Termasuk saat pulang kerja, istri

harus menampilkan perangai yang ceria, apapun dan kapanpun.

Beliau menambahkan bahwa kewajiban istri selaku istri dari seorang

anggota TNI yaitu, ketika ditinggal berlayar, sebagai wakil dari suami seorang

istri yang sekaligus ibu harus mampu memimpin anak-anaknya dan mengatur

rumah tangganya dengan baik. Anak-anak pun harus dididik agar dapat

memimpin dirinya sendiri untuk menjadi manusia-manusia yang baik.

2. Kewajiban Suami yang merupakan hak istri.

a) Suami harus memberi nafkah lahir & batin. (Dengan catatan ketika istri

makan, suami juga harus makan).

b) Suami harus memberikan pakaian untuk istri.

c) Mencari ilmu. Sebagai kullukum roin/ kepala rumah tangga, seorang Ayah

harus menguasai ilmu untuk memimpin keluarganya dengan baik.

d) Harus menyediakan papan/ rumah untuk sang istri. Ini hukumnya wajib,

supaya sang suami mempunyai tanggung jawab, dengan harapan bisa

meminimalisir penyelewengan dalam rumah tangga, sekaligus supaya istri


senang tinggal dirumah, dan merasa nyaman sekalipun saat ditinggal

berlayar.

e) Tidak boleh memanggil nama istri dengan nama sesungguhnya (harus

dengan panggilan yang semulia mungkin).

f) Tidak boleh memukul wajah istri dan menceritakan aib istrinya.

Dan satu tambahan untuk keduanya, yaitu ketika ada masalah/

percekcokan keluarga, maka mencari solusinya harus kepada mertua, bukan

kepada orang tua sendiri. Dengan tujuan untuk mendapatkan keadilan yang

obyektif

Selain hal-hal di atas yang menjadi acuan dalam pembekalan perkawinan,

Serma M. Kodim juga menambahkan, bahwa perlu juga sambil mengaca

kanan kiri sekitar. Maksudnya sebagai referensi yang riil yang ada di

lapangan. Ketika ada tetangga yang tidak harmonis dalam rumah tangga, itu

disebabkan apa. Apakah karena faktor ekonomi, akhlak, atau faktor mentalitas

seorang suami/ istrinya yang kurang baik. Yang nantinya ini bisa dijadikan

sebagai pelajaran dalam berkeluarga. Dan sesungguhnya yang menjadi

patokan baik tidaknya sebuah rumah tangga adalah istri. Istri senantisa

samina wa athona. yaitu istri harus senantiasa patuh pada suami, dan

patuhnya istri tersebut merupakan surganya rumah tangga.

b. Anggota TNI beserta calon istri/ suami lebih dahulu mengetahui hikmah dari

perkawinan yang akan dilakukan.

c. Mendukung kelancaran dinas (saling menunjang) antar suami istri karena

perkawinan tersebut mempunyai tujuan yaitu membentuk keluarga sakinah yang

dibina dengan dasar cinta dan kasih sayang (mawaddah wa rahmah). Suami istri

wajib saling mencintai, saling menghormati, setia, dan memberi bantuan lahir
batin, antar yang satu kepada yang lain agar masing-masing dapat saling

membantu untuk mencapai kesejahteraan spiritual dan material.

d. Dikenalkan kewajiban menjadi seorang Jalasenastri

Setiap istri dari anggota TNI AL, selain ia berkewajiban sebagai seorang istri, ia

juga mempunyai kewajiban sebagai anggota jalasenastri. Ini merupakan suatu

peraturan, dimana apabila seorang perempuan telah menikah dengan anggota TNI

AL, maka istri dari anggota TNI tersebut harus menjadi angggota jalasenastri serta

mengikuti segala kegiatan yang ada. Dengan adanya pembekalan awal ini,

diharapkan istri dari anggota TNI, selaku anggota jalasenastri tersebut bisa

mengetahui tugas-tugas dari suaminya dan sanggup menerima dengan sukarela

segala akibat sebagai istri anggota TNI AL.

Dengan demikian, melalui pembekalan oleh Rohaniwan Islam ini diharapkan

setiap anggota keluarga TNI, utamanya istri sudah terbiasa dan mengetahui segala hal

yang bertalian dengan tugas dan kepribadian suaminya. Karena dalam pembekalan

ini, tidak hanya diberikan hal-hal yang terkait dengan hak dan kewajiban suami istri,

serta bagaimana hubungan suami istri saja, akan tetapi juga penjelasan-penjelasan

bagaimana harus bersikap menyangkut kepribadian atau tabiat calon suami atau istri.

Semisal ketika didapati suami yang berwatak tempramen, maka pada saat pembekalan

perkawinan calon istri dan calon suami keduanya sama-sama diberi masukan

bagaimana harus bersikap dan mengantisipasi sifat yang demikian itu supaya

keduanya merasa nyaman, dan tabiatnya tersebut tidak menggangu jalannya rumah

tangga.

Melalui pembekalan ini calon suami dan calon istri diharapkan bisa memperoleh

manfaat yang maksimal. Tentunya dengan memperhatikan dan melaksanakan hal-hal

apa saja yang didapat dari rohaniwan Islam tersebut yang pada akhirnya dibuktikan
bahwa melalui pembekalan di awal perkawinan ini, setiap keluarga TNI, khususnya

anggota TNI AL di Detesemen Angkatan Laut Malang bisa menjalani kehidupan

keluarganya dengan baik, penuh kasih sayang, menjadi keluarga yang sakinah

mawaddah wa rohmah.

Manfaat ini bisa dilihat dari adanya kenyataan minimnya angka perceraian di

Detasemen Angkatan Laut Malang. Meski tidak dipungkiri bahwa proses perceraian

di lingkungan TNI memang sangat dipersulit, akan tetapi ini bisa dikatakan sebagai

bukti dari adanya sedikit percekcokan dalam rumah tanga. Selama kurang lebih dua

belas tahun Serma M. Kodim SyafiI menjabat sebagai Rohaniwan Islam, beliau

menuturkan hanya ada kasus perceraian sebanyak dua kali. Yaitu Sertu Ponco, dan

Koptu Sucipto. Yang itupun keduanya sempat menjalani rujuk terlebih dahulu. Akan

tetapi karena satu dan lain hal akhirnya keduanya sepakat untuk bercerai.

Selain memberikan pembekalan di awal perkawinan, sesungguhnya Rohaniwan

Islam ini juga mempunyai tugas memberikan pembinaan perkawinan, yang waktunya

dijadwal seminggu sekali setiap hari Rabu. Akan tetapi hal ini tidak bisa aktif

dijalankan disebabkan faktor waktu serta minimnya dana. Karena setiap mengadakan

pembinaan biasanya selalu diikuti dengan pengajian dengan mendatangkan

penceramah dari luar. Dan sebagai ganti ditiadakannya pembinaan tersebut

Rohaniwan Islam ini menerima konsultasi keluarga TNI AL selama jam dinas kantor.

Dengan berdasar pada data yang telah dipaparkan di atas, dapat diketahui bahwa

pelaksanaan prosedur perkawinan angota TNI AL di Detasemen Angkatan Laut

Malang sudah sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku bagi kalangan TNI,

yaitu Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata No.

Kep/01/I/1980 tentang peraturan perkawinan, perceraian dan rujuk anggota ABRI.


Dengan mengacu pada Undang-undang perkawinan, yakni UU NO.1 tahun 1974

beserta PP No.9 tahun 1975 sebagai peraturan pelaksananya.

Dengan terlaksananya peraturan tersebut, berarti telah menunjukkan bahwa setiap

anggota TNI AL sudah mengikuti secara tertib pedoman pada peraturan pelaksanaan

perkawinan di lingkungan anggota TNI dengan tanpa merasa terbebani atas ketentuan

yang berlaku tersebut.

Dari keterangan yang ada, didapatkan juga bahwa adanya prosedur perkawinan

bagi anggota TNI ini mempunyai dampak yang positif, yaitu selain setiap anggota

TNI akan lebih bertanggung jawab dalam menjalankan tugas dinasnya, juga angggota

TNI yang hendak menikah tersebut secara tidak langsung memberikan contoh atau

gambaran tentang prosedur perkawinan bagi juniornya yang suatu saat juga akan

menjalani proses tersebut.

Sedangkan banyaknya syarat-syarat administrasi yang harus dipenuhi tersebut

sesungguhnya memang mempunyai tujuan yang cukup urgen diantaranya yaitu:

a. Untuk memberikan kepastian hukum

b. Untuk memberikan ketertiban hukum

c. Sebagai alat bukti, serta untuk memperlancar aktifitas pemerintah dibidang

administrasi kependudukan.

Pembekalan perkawinan yang diberikan oleh pejabat agama, dalam hal ini

Rohaniwan Islam merupakan lembaga penasehatan dan pelestarian perkawinan yang

terbentuk di instansi sendiri yaitu Denal Malang. Fungsi pokok dari lembaga ini

adalah sebagai pemberi bekal perkawinan, terutama pengetahuan dan mental bagi

calon pengantin pria dan wanita yang diperlukan dalam menempuh kehidupan

keluarga. Sesungguhnya akan lebih baik dan maksimal keberadaannya jika

pembekalan ini tidak hanya diberikan pada saat menjelang pekawinan, akan tetapi
harusnya diusahakan bagaimana caranya supaya pembinaan yang mestinya diadakan

tiap minggu sekali ini bisa tetap dijalankan. Lembaga ini bisa dikatakan juga

mempunyai fungsi konseling. Karena Serma M. Kodim SyafiI juga menerima

konsultasi keluarga jika ada anggota TNI AL yang memerlukan untuk konsultasi

masalah keluarga kepada beliau selaku Rohaniwan islam di Denal Malang selama jam

dinas kantor.

Terlepas dari fungsi konseling tersebut, sesungguhnya satu hal khusus manfaat

yang diharapkan dari adanya pembekalan perkawinan yaitu terwujudnya keluarga

yang sakinah, dengan catatan bahwa segala sesuatu yang didapat dari Rohaniwan

Islam benar-benar dilaksanakan. Meski tidak dipungkiri bahwa sesungguhya tidak

hanya cukup dengan faktor itu saja, akan tetapi pembekalan ini memang cukup urgen

keberadaannya.

Banyak hal yang didapat dari pembekalan perkawinan, terutama adalah tentang

hak dan kewajiban suami istri. Hal ini penting untuk disampaikan karena

sesungguhnya apabila suami istri melaksanakan kewajibannya dengan bijaksana,

ikhlas, sebagai teman hidup masing-masing merasa bertanggung jawab atas

kewajibannya, maka suami istri tersebut akan mendapat kebahagiaan yang sempurna,

dan insya Allah keduanya akan hidup dengan keridhaan Alah 58 .

Semua hal yang diberikan saat pembekalan perkawinan terkait dengan hak dan

kewajiban suami istri sesungguhnya sangat sejalan dengan ajaran Islam. Diantaranya

kewajiban istri yang berupa larangan memasukkan laki-laki yang bukan muhrim

kedalam rumah baik ketika suami ada di rumah maupun tidak, sekaligus kewajiban

suami untuk memberikan makan dan pakaian kepada istri. Hal ini senada dengan

perkataan Rasullulah saw sewaktu melaksanakan haji wada dalam sebuah pidatonya.

58
H.S.A. Al Hamdani, Op Cit., 129.
BahwasanyaIngatlah, berilah nasehat kepada kaum perempuan dengan baik,

mereka adalah tawanan-tawananmu, kamu tidak mempunyai hak apapun selain hal

itu, kecuali apabila mereka jelas melakukan kejahatan. Apabila mereka berbuat jahat,

maka jauhi dia dari tempat tidur, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak

melukai. Apabila mereka patuh kepadamu, maka tidak ada jalan bagimu untuk

menghukumnya. Ingatlah, kamu mempunyai hak atas istrimu, dan istrimu mempunyai

hak atas dirimu. Hakmu atas mereka ialah bahwa mereka tidak boleh memasukkan

orang yang tidak kamu sukai ke bilikmu, jangan sampai mereka mengizinkan orang

lain yang tidak kamu sukai. Ingatlah, bahwa hak mereka atasmu ialah kamu berbuat

baik terhadap mereka, memberi pakaian dan makanan untuk mereka. (Riwayat Ibnu

Majah dan Tirmidzi) 59

Tidak hanya sejalan dengan hukum Islam, akan tetapi pembekalan perkawinan

yang diberikan terkait dengan hak dan kewajiban suami istri tersebut juga senada

dengan aturan yang ada dalam UU NO.1 tahun 1974 tentang perkawinan. Dimana

dalam bab VI tentang hak dan kewajiban suami istri yang terdiri dari lima pasal, yaitu

pasal 30 sampai dengan 34 salah satunya disebutkan Suami istri harus mempunyai

tempat kediaman yang tetap (Pasal 31 ayat 1) 60 . Hal ini tidak jauh beda dengan yang

dikatakan oleh Rohaniwan Islam, bahwa seorang suami harus menyediakan papan/

rumah untuk sang istri. Yang ini hukumnya wajib, supaya sang suami mempunyai

tanggung jawab, dengan harapan bisa meminimalisir penyelewengan dalam rumah

tangga, sekaligus supaya istri senang tinggal dirumah, dan merasa nyaman sekalipun

harus ditinggal suami untuk berlayar

Dengan demikian, berdasarkan data yang ada dapat ditarik kesimpulan bahwa

jika semua pihak dari anggota TNI AL yang hendak menikah mematuhi dan

59
Ibid., 184.
60
Lihat UU No.1 tahun 1974
mengikuti segala ketentuan yang ada, selain ini membantu kelancaran dinasnya, juga

akan berpengaruh positif untuk kehidupan keluarga yang akan dijalaninya kelak.

Karena dalam prosedur tersebut, calon suami/ istri keduanya sama-sama mendapatkan

pembekalan perkawinan, yang ini sangat penting dan menentukan bagaimana

nantinya seseorang menempatkan diri sebagai seorang suami maupun istri dalam

berumah tangga.

C. Konsep Keluarga Sakinah Perspektif Rohaniwan Islam

Perkawinan menurut Serma M. Kodim SyafiI yang juga merupakan pimpinan

PPTQA (Pondok Pesantren Tarbiyatul Quran Ar-Rohmah) Codo Wajak Malang ini

adalah penyatuan antara dua kebudayaan keluarga yang berbeda antara suami dan

istri, yang pada akhirnya melalui penyatuan tersebut diharapkan harus bisa mencapai

tujuan pada sebuah keluarga yang sakinah. Tanpa harus dimanipulasi bahwa dengan

adanya saling pengertian, menyadari posisi dan tugas masing-masing maka

kesakinahan dalam keluarga akan muncul dengan sendirinya. 61

Beliau menuturkan bahwa pengertian keluarga sakinah perspektif anggota TNI itu

tidak jauh beda dengan yang sering didengung-dengungkan orang. Bahwa keluarga

yang sakinah itu seperti halnya keluarga yang diajarkan Rasullulah, yaitu keluarga

yang baik, harmonis, saling menghargai, dan tepo sliro.

Akan tetapi yang menjadi titik tekan dalam keluarga sakinah perspektif anggota

TNI, khususnya TNI Angkatan Laut bahwa seorang istri yang meskipun tidak sedang

dalam pengawasan suaminya, yaitu ketika ditingal berlayar harus tetap bisa menjaga

diri dan menjaga kebahagiaan keluarganya.

61
Wawancara dengan Serma M. Kodim Syafii di Denal Malang tgl 5 Nopember 2007
Ketika seorang suami berlayar, yaitu antara tiga bulan sampai enam bulan. Atau

bahkan maksimal selama-lamanya satu tahun, istri yang merupakan seorang Ibu dari

anak-anak harus sekaligus bisa menjadi seorang Ayah. Sehingga dalam hal ini

seorang ibu mempunyai peran ganda. Barangkali ini yang dirasa berat, akan tetapi itu

sudah menjadi resiko sekaligus pilihan bagi seorang jalasenastri. Yang mana dari awal

hal ini sudah dijelaskan yaitu pada saat pembekalan sebelum perkawin.

Serma M. Kodim Syafii menambahkan juga bahwa:

Sejauh ini selama saya menjadi Rohaniwan Islam sejak tahun 1994 belum
pernah ada yang komplain atas bekal yang saya berikan sebelum perkawinan
sehingga berakibat tidak harmonisnya keluarga, untuk itu bekal awal
perkawinan harus benar-benar diterapkan dan terus diingat, bisa melalui
kesatuan maupun melalui teman-temannya 62

Selain hal-hal tersebut di atas, istilah sakinah bagi anggota TNI juga dilukiskan

ketika antara suami istri tidak pernah saling bermusuhan, artinya selalu saling tegur

sapa. Istri juga senantiasa mengingatkan untuk sembahyang, hal ini sebagai upaya

untuk menjaga keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Satu hal lagi

bahwa istri juga harus bisa meredam kemarahan suami, dan hal ini akan dapat

terlaksana jika keduanya saling mengenal dan mengerti kepribadian masing-masing.

Untuk itulah kenapa sesungguhnya yang menjadi patokan pertama pencarian istri

anggota TNI haruslah perempuan yang bermoral baik. Ini sudah merupakan peraturan

khusus meskipun tidak tertulis dalam sebuah Undang-undang. Serma M. Kodim

SyafiI selaku Rohaniwan Islam menuturkan alasan untuk hal ini bahwa karena

nantinya peran ibu itu sangatlah besar terutama untuk mendididk anak. Seorang Ayah

hanya mempunyai andil 10%, sedangkan Ibu 90% dalam hal pengurusan anak. Karena

tidak dipungkiri bahwa Ibu lebih banyak mempunyai waktu bersama anak-anak, ibu

lebih mengerti dan peka dengan apa yang dirasakan anaknya sehingga seorang anak

62
Wawancara dengan Serma M. Kodim Syafii di Denal Malang tgl 13 Nopember 2007.
selalu mempunyai kedekatan lebih pada Ibu daripada kepada Ayah. Oleh karenanya,

anak-anak yang baik hanya akan didapat jika ibunya juga baik. 63

Beliau menegaskan bahwa perempuan yang baik adalah perempuan yang bisa

menjaga harga dirinya, termasuk menjaga kehormatannya. Yang menjadi persoalan

yaitu ketika ternyata calon istri terbukti tidak perawan, yang terdeteksi melalui tes

kesehatan. Dalam hal ini maka calon suami yang merupakan anggota TNI tersebut

diberi banyak masukan dan penjelasan oleh Rohaniwan Islam saat menerima

pembekalan terkait dengan perempuan yang sudah tidak perawan, karena ini

menyangkut perjalanan moral dan akhlak calon istri tersebut. Dan untuk selanjutnya

TNI tersebut tetap diberikan kebebasan penuh untuk memilih, yaitu tetap melanjutkan

permohonan izin kawinnya dengan perempuan tersebut atau tidak.

Dari penjelasan ini dapat difahami bahwa dengan diutamakannya memilih calon

istri yang baik, yang bermoral, maka dengan demikian bentuk keluarga yang sakinah

tersebut akan mudah diwujudkan. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam, dimana faktor

agama hendaknya dijadikan pertimbangan utama dalam memilih pasangan, agar

terhindar dari kerusakan atau kebinasaan dalam membangun rumah tangga. 64

Konsep mengenai keluarga sakinah dalam Keputusan Direktur Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji Nomor D/7/1999 tentang Petunjuk

Pelaksanaan Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah bab III Pasal 3 disebutkan bahwa,

keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu

memenuhi hajat hidup spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi

suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras,

serasi, serta mampu mengamalkan, menghayati, dan memperdalam nilai-nilai

63
Ibid
64
Asrofi dan M,Thohir, Op.Cit, 19.
keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Konsep tersebut merupakan syarat ideal,

dimana sebuah keluarga bisa dikatakan sakinah.

Sedangkan untuk mencapai hal yang dipaparkan tersebut di atas, hal pertama kali

yang harus dilakukan menurut Serma M. Kodim SyafiI adalah mengawali dengan

mencari atau memilih seorang istri atau suami yang baik, dengan harapan nantinya

mendapatkan keturunan yang baik pula. Karena sesungguhnya keluarga itu tidak

hanya seorang istri dan suami saja, akan tetapi keluarga adalah orang seisi rumah

yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak. 65

Demikian halnya untuk dapat merealisasikan tujuan perkawinan yang suci dan

agung tersebut, Islam menetapkan berbagai patokan dan pola yang harus dilalui,

direncanakan dan dilaksanakan semenjak dari memilih jodoh, menentukan siapa yang

boleh dikawini dan yang tidak boleh, sampai dengan penilaian terhadap calon suami

atau istri.

Hal ini sesuai juga dengan ajaran Islam, dimana Islam mengajarkan seseorang

untuk memilih pasangan hidup atas empat perkara, berdasarkan hadis nabi:



. ( )
Perempuan itu lazimnya dikawin karena empat perkara; karena hartanya,

karena keturunanya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah

perempuan yang beragama, engkau akan selamat

Dari hadis ini dapat diketahui bahwa agamalah yang harus di nomor satukan

dalam mencari pasangan hidup. Karena sesungguhnya agama merupakan sesuatu

yang kekal. Berbeda dengan harta dan kecantikan, yang keduanya bisa musnah seiring

dengan berjalannya waktu. Dan berdasarkan agama, seseorang kurang lebih dapat

65
Tim Penyusun , Op.Cit, 4.
dinilai, yaitu jika agamanya kuat, maka bisa diprekdisikan bahwa kepribadiannya juga

baik.

Pemilihan pasangan hidup yang lebih mengutamakan agama dibandingkan

dengan hal yang lain ini pada intinya sama halnya dengan prinsip yang dipakai dalam

peraturan perkawinan anggota TNI AL di Detasemen Angkatan Laut Malang,

meskipun hal ini tidak disebutkan secara tertulis dalam peraturan perundangan. Dalam

mencari calon istri, hal yang pertama kali harus diperhatikan adalah memilih seorang

perempuan yang bermoral. Hal ini menjadi patokan utama karena nantinya dalam

berkeluarga istri yang sekaligus menjadi seorang Ibu dari anak-anak mempunyai

peran yang sangat penting.

Seorang Ibu akan mengasihi dan menyayangi anaknya secara murni dan tanpa

pamrih. Ia mencintai anak-anaknya dari lubuk hatinya yang paling dalam dan benar-

benar bersedia mengorbankan kepentingan pribadinya demi kepentingan anak-

anaknya. Secara ilmiah, memenuhi kebutuhan emosional anak oleh ibunya merupakan

sesuatu yang dapat dilaksanakan. Dan dalam hal ini, tidak seorang pun yang lebih

berpengaruh ketimbang seorang ibu. 66 Ibu menjadi sumber kasih sayang, dan sosok

Ibu merupakan pusat hidup rumah tangga, pemimpin dan pencipta kebahagiaan

anggota keluarganya. Rasulllulah saw bersabda, Dan wanita adalah pemimpin

rumahnya serta bertanggung jawab pada rakyatnya. Seorang Ibu bertanggung

jawab menjaga dan memperhatikan kebutuhan anak, mengelola kehidupan rumah

tangga, memikirkan keadaan ekonomi dan makanan anak-anaknya, memberi teladan

akhlaki serta mencurahkan kasih sayang bagi kebahagiaan sang anak. 67 Itulah alasan

mengapa anggota TNI harus selektif dalam memilih calon istri. Seperti yang

dituturkan oleh Serma Ttg M.Kodim SyafiI, bahwa anak-anak yang baik hanya akan

66
Ali Qaimi, Op.Cit., 118
67
Ali Qaimi, Peran Ganda Ibu dalam Mendidik Anak (Bogor: Cahaya, 2003), 181
didapat dari ibu yang baik. Hal ini sangat rasional, karena pada dasarnya kepribadian

tumbuh kembang seorang anak sangat dipengaruhi oleh ibunya.

Konsep keluarga sakinah menurut keluarga anggota TNI pada dasarnya tidak

jauh berbeda dengan konsep keluarga sakinah pada umumnya, hanya saja yang lebih

ditekankan sakinah perspektif TNI yaitu ketika misalnya suami harus meninggalkan

istri karena tugas Negara untuk berlayar, maka seorang istri harus bisa menjaga

dirinya dan tetap menjaga keutuhan rumah tangganya. Hal ini sejalan dengan ajaran

Islam yang digambarkan sesuai dengan firman Allah surat An-Nisa ayat 34:

x !$#ym $y/ =t=j9 Msym MtGs% Mys=9$$s .....

Perempuan yang saleh, ialah yang taat kepada Allah dan menjaga diri
ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).

Dan untuk mencapai hal yang demikian ini, diperlukan seorang istri yang saleh,

yang bermoral dan bisa menjaga harga dirinya. Yang ini bisa diupayakan semenjak

dari memilih calon istri.

Terkait dengan pemilihan jodoh ini, Imam al-Ghazali dalam bukunya Ihya Ulum

ad-Din menganjurkan supaya memilih istri yang mempunyai delapan kriteria yaitu:

baik agamanya, baik akhlaknya, cantik, ringan maharnya, subur, perawan, baik

nasabnya, dan bukan kerabat dekat,68 yang sebagian besar dari kriteria ini juga telah

dipaparkan oleh Serma M. Kodim SyafiI selaku roahaniwan Islam dalam

memberikan pembekalan perkawinan.

Keluarga sakinah adalah istana kehidupan suami istri, yang ditandai dengan

adanya istri dan anak-anak yang saleh, rumahku adalah surgaku (bayti jannati), serta

rumah tangga penuh berkah. Dan hal ini bisa diwujudkan jika hal-hal tersebut di atas

terpenuhi.

68
Asrofi dan M,Thohir, Op.Cit., 22.
Dalam bab kajian pustaka terdahulu disebutkan bahwa dalam upaya membentuk

keluarga sakinah, peranan agama sangat penting. Ajaran agama tidak cukup hanya

diketahui dan difahami akan tetapi harus dapat dihayati dan diamalkan oleh setiap

anggota keluarga sehingga kehidupan dalam keluarga tersebut dapat mencerminkan

suatu kehidupan yang penuh dengan ketentraman, keimanan, dan kedamaian yang

dijiwai oleh ajaran dan tuntutan agama. Hal ini juga dicerminkan dalam salah satu ciri

keluarga sakinah perspektif TNI yaitu, dimana seorang istri harus selalu

mengingatkan suaminya untuk sembahyang ataupun sebaliknya suami yang

mengingatkan istri, sebagai upaya untuk menjaga keimanan dan mendekatkan diri

kepada Allah SWT.

Pada akhirnya, jika semua aturan dipenuhi, dan semua bekal perkawinan yang

diberikan oleh Rohaniwan Islam benar-benar diperhatikan dan direalisasikan, maka

insya Allah keluarga sakinah dalam lingkungan TNI, khususnya di Detasemen

Angkatan Laut Malang dapat diwujudkan. Hal ini bisa disesuaikan dengan kriteria

dan indikator keluarga sakinah dalam kajian pustaka yang telah dipaparkan didepan,

dimana setiap keluarga anggota TNI mayoritas telah memenuhi kriteria dan indikator

dalam keluarga sakinah tersebut. Meskipun belum sepenuhnya berada pada tingkat

keluarga sakinah IV atau III plus.

D. Kendala dan Solusi bagi Rohaniwan Islam dalam Memberikan Pembekalan

Perkawinan

Serma Ttg M. Kodim SyafiI yang dinas di Detasemen Angkatan Laut Malang

sejak tahun 1994 lalu, dan selama kurun waktu tersebut menjabat sebagai Rohaniwan

Islam tentunya sudah sangat berpengalaman dalam menjalankan tugasnya. Ketika

ditanya tentang kendala apa saja yang dirasakan dalam memberikan pembekalan

perkawinan selama menjabat sebagai rohaniwan Islam beliau menuturkan,


sesungguhnya tidak banyak yang menjadi kendala sepanjang perjalanan tugasnya,

hanya saja ada tiga hal yang menurut beliau ini bisa dikatakan sebagai kendala. Yaitu

yang pertama, ketika yang datang mengurus permohonan izin kawin hanya salah satu

pihak. Misalnya pihak calon istri saja, dikarenakan calon suami sedang dinas luar kota

atau bahkan di luar daerah. Inilah yang menjadi masalah, karena penyampaian bekal

yang hanya pada satu pihak tidak akan maksimal efektif. Meskipun sesungguhnya

calon suami juga mendapatkan pembekalan sendiri di tempat dinasnya, akan tetapi

memungkinkan adanya sesuatu yang berbeda dari penyampaian pihak yang tidak

sama dan tempat yang berbeda pula.

Untuk permasalahan yang seperti ini beliau mendapat solusi dengan menitipkan

pesan bekal untuk calon suami melalui calon istri. Dan dalam hal ini beliau

menegaskan kepada calon istri bahwa titipan pesan-pesan tersebut harus benar-benar

disampaikan kepada calon suaminya, dan tidak boleh tidak. Meskipun ketika

wawancara kemarin beliau sendiri mengakui, bahwa :

Sebenarnya saya khawatir bahwa pesan yang saya titipkan tidak disampaikan
kepada calon suaminya. Karena biasanya calon istri cenderung takut dan
merasa tidak enak ketika harus menyampikan pesan tersebut, nanti khawatir
dianggapnya sebagai istri yang cerewet. Belum apa-apa saja sudah berani
ngasih nasehat.
Akan tetapi untuk kasus yang seperti ini beliau selalu mengatakan pada calon istri

bahwa ketika pesan tersebut tidak disampaikan kepada calon suaminya, beliau

menegaskan, maka istri sendirilah yang akan rugi atas hal tersebut. Karena dengan

tidak disampaikannya pesan-pesan tersebut, suami tidak akan mengetahui secara

detail apa-apa saja yang mestinya harus dilakukan. Dan tidak boleh disalahkan

nantinya jika dalam keluarga terjadi KDRT, atau hal lain yang tidak diinginkan.

Dengan ringan beliau menambahkan, ketika misalnya ada seseorang yang punya

masalah dengan keluarganya dan datang kesaya, maka pertama kali saya akan bilang,
apakah bekal yang saya berikan tidak kamu pakai? 69 Beliau yakin bahwa ketika

semua bekal perkawinan itu diterapkan dengan baik dalam berkeluarga, maka insya

Allah keluarga tersebut akan berjalan dengan baik, dan terwujudlah kesakinahan.

Sedangkan kendala yang kedua bagi beliau yaitu, ketika calon suami/ istri tidak

berada dalam satu kota atau daerah, dan di daerah kediaman calon istri tersebut tidak

ada satuan laut, maka mau tidak mau calon istri harus diikut sertakan saat

permohonan izin kawin. Yang ini berarti bahwa untuk sementara waktu selama

pengurusan surat permohonan izin kawin, calon istri harus mengikuti daerah dimana

calon suami dinas. Lebih dalam beliau menuturkan bahwa yang menjadi

permasalahan yaitu ketika hal seperti ini terjadi, maka dikhawatirkan perjalanan jauh

antara calon suami dan calon istri yang belum ada ikatan ini akan menimbulkan

banyak mudhorot. Untuk itu beliau secara pribadi menyarankan agar keduanya

meninikah sirri terlebih dahulu. Bukan apa-apa, hanya saja dengan begitu akan

menghindari dosa yang menjurus pada zina, tutur beliau kemudian 70 .

Ditambahkan Serma M.Kodim Syafii bahwa mengatakan hal seperti ini bukan

berarti bahwa beliau orang yang menghalalkan nikah siri. Akan tetapi jika ini dirasa

lebih manfaat kenapa tidak? 71 Asalkan dengan catatan bahwa meskipun sudah

menikah sirri belum diperbolehkan melakukan hubungan suami istri dulu. Karena jika

ini dilakukan, nantinya malah akan mempersulit permohonan izin kawin. Ketika

didapati calon istri sudah tidak lagi perawan oleh calon suaminya sendiri, yang

meskipun sebenarnya keduanya sudah mempunyai ikatan nikah sirri.

Ketika terjadi kasus yang seperti tersebut di atas, yaitu calon istri dari anggota

TNI AL tidak perawan yang disebabkan oleh calon suaminya sendiri, maka selain

permohonan izin kawinnya dipersulit, hal ini juga akan mengakibatkan anggota TNI
69
Wawancara dengan Serma M. Kodim Syafii di Denal Malang tgl 5 Nopember 2007.
70
ibid
71
ibid
menerima sanksi atas pelannggaran disiplin militer. Dan untuk hal ini, anggota yang

bersangkutan akan dikenai salah satu dari hukuman disiplin militer dan atau tindakan

administratif sebagai berikut: 72

a. Dalam bidang disiplin militer:

- Hukuman penurunan pangkat bagi yang berpangkat Bintara/ Tamtama.

- Hukuman disiplin militer bagi yang terberat sesuai dengan KUHDT jo. PDT

bagi Perwira.

b. Dalam bidang administratif.

- Penundaan kenaikan pangkat.

- Pemindahan jabatan sebagai tindakan administratif.

- Pengakhiran ikatan dinas.

- Pemberhentian dari dinas ABRI.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, yang menjadi kendala ketiga bagi

Rohaniwan Islam di Denal Malang adalah ketika harus memberikan pembekalan

perkawinan, sementara didapati calon istri dari anggota TNI AL tersebut tidak

perawan dan hal ini tidak diketahui sebelumnya oleh calon suami. Maka serma M.

Kodim SyafiI selaku rohaniwan Islam yang mestinya bersikap netral tidak bisa

menutup-nutupi keburukan, dan harus memberikan pendapat yang ini terkesan

melarang anggota TNI AL menikahi perempuan tersebut. Hal ini dilakukan karena

dikhawatirkan perjalanan rumah tangganya nanti tidak akan berjalan mulus sesuai

dengan yang diharapkan. Saat pembekalan perkawinan seorang Rohaniwan Islam

akan menyebutkan kriteria memilih calon istri yang baik untuk mewujudkan sebuah

keluarga yang bahagia, sakinah mawaddah wa rahmah. Namun jika dari awal saja

72
Lihat Keputusan Menhankam/ Pangab NO. KEP/01/I/1980
anggota TNI tersebut tidak memiliki modal itu, maka untuk selanjutnya kebahagiaan

tersebut bukannya tidak mungkin didapatkan, akan tetapi sulit diwujudkan. 73

Berbeda dengan anggota TNI AL yang laki-laki, KOWAL (Korps Wanita

Angkatan Laut) yang hendak menikah ketika misalnya ternyata didapati tidak

perawan, maka hal ini tidak perlu diberitahukan kepada calon suami. Akan tetapi hal

tersebut langsung disampaikan kepada atasan, dan untuk selanjutnya maka kowal

tersebut harus bisa menentukan pilihan, yaitu tidak diizinkan menikah, atau

diperbolehkan menikah, akan tetapi langsung diberikan surat untuk keluar dari satuan,

yang disebut dengan BDTH : Pemberhentian Dengan Tidak Hormat. 74

Dari sini dapat diketahui betapa disiplinnya peraturan di lingkungan militer,

khususnya TNI AL, bahwa moral seorang angota TNI sekaligus calon pendamping

hidup anggota TNI sangatlah diperhatikan, karena hal ini akan mempengaruhi

kehidupan berkeluarganya kelak.

Pembekalan perkawinan yang merupakan salah satu bagian penting serta

merupakan syarat untuk mendapatkan izin kawin dari pejabat yang berwenang ini

bukan hanya sekedar formalitas semata. Akan tetapi hal ini benar-benar vital

keberadaannya. Mengingat manfaat dari pembekalan ini sangatlah penting, maka

diupayakan bagaimana usaha untuk meminimalisir kendala dalam memberikan

pembekalan perkawinan oleh Rohaniwan Islam tersebut. Meski telah dituturkan oleh

Serma Ttg M. Kodim SyafiI bahwa sejauh ini kendala yang ada dalam memberikan

pembekalan perkawinan hanya tiga hal saja, akan tetapi bagaimana harusnya

menyikapi hal tersebut harus segera diupayakan.

Pertama terkait dengan tidak hadirnya salah satu calon suami/ istri saat

permohonan izin kawin, yang ini biasanya disebabkan karena calon suami sedang
73
Wawancara dengan Serma M. Kodim Syafii di Denal Malang tgl 21 Nopember 2007.
74
Ibid.
dinas di luar kota atau di luar daerah. Jika hal seperti ini terjadi maka Serma Ttg M.

Kodim SyafiI selaku Rohaniwan Islam mengupayakan untuk menitipkan pesan bekal

kepada calon yang tidak hadir tersebut melalui calon istrinya. Meskipun cara

menitipkan pesan ini dirasa kurang efektif karena khawatir tidak disampaikan, namun

setidaknya melalui penitipan ini nantinya calon istri merasa mempunyai kewajiban

untuk manyampaikannya. Apalagi Rohaniwan Islamnya dari awal mengatakan, kalau

terjadi sesuatu yang tidak diinginkan disebabkan karena tidak mengertinya suami

terkait dengan bekal perkawinan, maka pihak istrilah yang akan rugi sebagai pihak

yang tidak menyampaikan, sehingga suami tidak tahu apa yang semestinya dilakukan.

Ancaman ini bisa merupakan usaha preventif tidak disampaikannya pesan tersebut.

Hal lain untuk mengupayakan kendala tersebut yaitu ketika memang secepatnya

ada hal yang harus disampaikan atau diketahui oleh salah satu pihak calon suami/

istri, maka Rohaniwan Islam di Detasemen Angkatan Laut Malang bisa langsung

menghubungi Rohaniwan Islam dimana tempat calon suami dinas untuk segera

menyampaikan pesan penting tersebut. Hal ini biasanya dilakukan jika memang

sifatnya mendesak, misalnya setelah cek kesehatan ternyata diketahui calon istri sudah

tidak perawan. Maka secepatnya rohaniwan Islam di tempat dinas suami di beri

wewenang untuk menyampaikan keadaan calon istri kepada calon suaminya.

Kemudian calon suami ditanya apakah sebelumnya sudah mengetahui keadaan calon

istrinya yang sudah tidak perawan tersebut. Yang untuk selanjutnya, sebelum calon

suami yang merupakan anggota TNI AL tersebut diberi kebebasan untuk memilih,

yaitu tetap melanjutkan perkawinannya atau tidak, terlebih dahulu Rohaniwan Islam

memberikan masukan dan pengarahan terkait dengan keberadaan calon istrinya

tersebut supaya nantinya calon suami bisa mengambil keputusan yang bijak dan tidak

menyesal di kemudian hari.


Untuk permasalahan yang seperti ini sifatnya memang sangat penting. Akan

tetapi ketika tidak ada masalah yang mendesak seperti halnya tersebut di atas,

sehingga penyampain pesan hanya dititipkan, dan dirasa pesan yang dititipkan melalui

calon istri tersebut tidak akan sampai pada calon suaminya, maka seharusnya tidak

menutup kemungkinan bahwa semua isi pesan dari pembekalan perkawinan tersebut

dibicarakan terlebih dahulu oleh kedua Rohaniwan Islam setelah meneliti beberapa

keterangan dari data yang ada. Ini merupakan alternatif pertama. Karena dari sana

bisa didapatkan banyak keterangan terkait kepribadian calon suami/ istri. Jika hal

seperti ini dilakukan maka penyampaian pembekalan perkawinan akan lebih efektif,

karena memungkinkan adanya penyampaian hal yang sama meskipun di tempat yang

berbeda. Dan dengan demikian tidak perlu lagi menitipkan pesan kepada calon suami

yang tidak ikut hadir.

Atau jika tidak bisa, sesungguhnya alternatif kedua ini akan lebih maksimal

efektifitasnya. Yaitu jika memang memungkinkan mendatangkan kedua calon

mempelai sekaligus, terutama saat menerima pembekalan perkawinan. Karena dengan

demikian hal-hal yang sekiranya tidak cocok atau kurang pas langsung bisa

dibicarakan. Akan tetapi jika hal ini harus dilaksanakan, sementara tempat dinas

suami sangat jauh dari kediaman istri maka ini juga akan menjadi kendala.

Bagi Rohaniwan Islam Denal Malang hal ini merupakan suatu masalah sebagai

kendala yang kedua. Karena jika hal seperti ini terjadi maka mau tidak mau calon istri

dari anggota TNI tersebut harus mengikuti tempat dimana calon suami mengajukan

permohonan izin kawin. Dari sini, Rohaniwan Islam sebagai orang yang taat

beragama mengkhawatirkan terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Perjalanan jauh

antara dua orang yang bukan muhrim akan menimbulkan banyak mudhorot. Untuk

menyikapi dan mengantisipasi permasalahan yang seperti ini beliau secara pribadi
menyarankan untuk keduanya agar menikah sirri terlebih dahulu dengan catatan

belum boleh melakukan hubungan suami istri.

Disatu sisi tujuan utama dari nikah sirri ini adalah baik, yaitu untuk menghindari

dosa selama mengurusi permohonan izin kawin. Akan tetapi di sisi yang lain tetap

saja yang namanya nikah sirri merupakan perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan,

karena menyalahi aturan dan undang-undang yang ada. Meskipun Islam

menghalalkannya namun pada hakikatnya nikah sirri tidak sejiwa dengan risalah

Islam.

Hal ini merujuk pada kaidah ushul fiqh

Keputusan pemerintah itu mengikat untuk dilaksanakan dan menghilangkan

perbedaan pendapat.

Apalagi nanti kalau ternyata suami atau istri tersebut tidak bisa mengontrol,

sehingga ketika mengurusi permohonan izin kawin, khususnya saat cek kesehatan

didapati calon istri tidak perawan, maka hal ini malah akan mempersulit permohonan

izin kawinnya. Belum lagi nantinya suami tersebut akan mengalami penundaan

kenaikan pangkat selama dua periode sebagai sanksi untuk pelanggaran ini.

Berdasarkan pertimbangan di atas, yaitu ketika memang calon istri harus

dihadirkan saat permohonan izin kawin, yang berarti harus dengan mengikuti tempat

dimana calon suami mengajukan permohonan, maka calon istri tersebut bisa meminta

muhrimnya untuk menemani mengurusi permohonan izin kawinnya sampai selesai.

Hal ini dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, tanpa harus

dengan melaksanakan nikah sirri terlebih dahulu.


Karena TNI sebagai aparatur Negara yang sekaligus merupakan figur yang

menjadi panutan bagi masyarakat tidak seharusnya melakukan hal-hal yang tidak

sesuai dengan norma, apalagi bertentangan dengan Undang-undang.

Sedangkan kendala ketiga yaitu ketika didapati calon istri anggota TNI AL

tersebut tidak perawan. Seorang Rohaniwan Islam yang mestinya bersikap netral

dalam hal ini mau tidak mau harus mengatakan sisi buruk calon istrinya yang sudah

tidak perawan tersebut. Karena dari awal beliau selalu mengatakan bahwa untuk

mewujudkan keluarga yang sakinah, hal pertama kali yang harus dilakukan adalah

mengawali dengan mencari atau memilih seorang istri atau suami yang baik, dengan

harapan nantinya mendapatkan keturunan yang baik pula. Sehingga dari sini dapat

diketahui betapa pentingnya selektif dalam memilih calon istri.

Serma M. Kodim SyafiI selaku rohaniwan Islam harus benar-benar obyektif

memberikan pendapat, terkait dengan sebab tidak perawannya calon istri tersebut.

Karena hal ini akan mempengaruhi keputusan dari anggota TNI AL selaku calon

suami, yaitu tetap menikahi calon istrinya atau tidak. Karena bisa saja hilangnya

keperawanan tersebut disebabkan karena faktor kecelakaan yang tidak disengaja.

Tetapi sebaliknya, jika perempuan itu memang tidak baik, dikhawatirkan setelah

menikah malah akan merugikan pihak suami. Apalagi karena nantinya seorang suami

akan sering tidak berada di rumah untuk tugas berlayar. Dan hal ini berarti akan

membuka peluang retaknya hubungan perkawinan. Jika memang demikan adanya,

dengan konsekuensi yang dari awal sudah dijelaskan oleh Rohaniwan Islam, maka

diharapkan angota TNI tersebut bisa memilih sikap yang bijak untuk menghadapi

persoalan semacam ini.


BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian dengan memperhatikan rumusan

masalah, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Manfaat pembekalan perkawinan menurut Rohaniwan Islam adalah:

a. Anggota TNI beserta calon istri/ suami akan mendapatkan pembinaan

awal tentang perkawinan, diantaranya dijelaskan tentang macam-

macam hak dan kewajiban suami istri, wawasan tentang bagaimana

cara berbuat, berbicara, dan berperilaku serta bergaul terhadap suami

maupun istri anggota TNI


b. Anggota TNI beserta calon istri/ suami lebih dahulu mengetahui

hikmah dari perkawinan yang akan dilakukan

c. Mendukung kelancaran dinas (saling menunjang) antar suami istri

karena perkawinan tersebut mempunyai tujuan yaitu membentuk

keluarga sakinah yang dibina dengan dasar cinta dan kasih sayang

(mawaddah wa rahmah). Suami istri wajib saling mencintai, saling

menghormati, setia, dan memberi bantuan lahir batin, antar yang satu

kepada yang lain agar masing-masing dapat saling membantu untuk

mencapai kesejahteraan spiritual dan material.

d. Dikenalkan kewajiban menjadi seorang Jalasenastri

Setiap istri dari anggota TNI AL, selain ia berkewajiban sebagai

seorang istri, ia juga mempunyai kewajiban sebagai anggota

Jalasenastri. Ini sudah merupakan suatu peraturan, dimana apabila

seorang perempuan telah menikah dengan anggota TNI AL maka istri

dari anggota TNI tersebut harus menjadi angggota Jalasenastri dan

mengikuti segala kegiatan yang ada. Dengan adanya pembekalan awal

ini, diharapkan istri dari anggota TNI selaku anggota jalasenastri

tersebut bisa mengetahui tugas-tugas dari suaminya dan sanggup

menerima dengan sukarela segala akibat sebagai istri anggota TNI AL.

2. Konsep keluarga sakinah perspektif Rohaniwan Islam pada prinsipnya sama

dengan pengertian keluarga sakinah pada umumnya, yaitu keluarga yang baik,

harmonis serta bahagia lahir dan batin. Hanya saja yang menjadi titik tekan

yaitu, keluarga anggota TNI AL dikatakan sakinah apabila ketika suami tidak

berada di rumah karena tugas dinas untuk berlayar yaitu antara tiga bulan

sampai enam bulan, atau maksimal satu tahun. Maka istri yang tidak sedang
dalam pengawasan suami harus bisa menjaga dirinya, menjaga keutuhan

rumah tangga sekaligus bisa menggantikan peran seorang Ayah sampai

dengan suami kembali kerumah. Selain itu juga bagaimana antara suami istri

bisa saling mengingatkan untuk sholat sebagai upaya pendekatan diri kepada

Allah. Karena agama juga memegang peranan yang sangat penting dalam

rangka mewujudkan keluarga sakinah.

3. Kendala dan solusi bagi Rohaniwan Islam dalam memberikan pembekalan

perkawinan sesungguhnya tidak terlalu signifikan. Kendala-kendala dalam

memberikan pembekalan perkawinan tersebut ada tiga hal pokok yaitu,

pertama ketika menghadap pejabat agama, yang dalam hal ini Rohaniwan

Islam untuk menerima pembekalan perkawinan hanya ada satu pihak yang

dihadirkan yaitu suami atau istri saja. Jika hal ini terjadi maka penyampaian

bekal perkawinan tidak akan efektif. Kedua, jika calon suami dinas di luar

kota atau luar daerah sementara di daerah tempat tinggal calon istri tidak ada

satuan Angkatan Laut, maka calon istri harus diikut sertakan saat mengurusi

permohonan izin kawin, dan dalam hal ini kendala yang ada yaitu

dikhawatirkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dari perjalanan jauh

antara kedua calon mempelai yang belum ada ikatan perkawinan. Terakhir

yaitu jika didapati calon istri dari anggota TNI AL tersebut mempunyai

kelemahan, yang ini diketahui pada saat tes keperawanan. Maka Serma

M.Kodim SyafiI merasa agak dibingungkan, karena disatu sisi beliau harus

bersikap netral dalam memberikan pendapat kepada siapapun. Akan tetapi di

sisi lain selaku Rohaniwan Islam beliau juga harus menyampaikan kelemahan-

kelemahan serta akibat yang akan ditimbulkan jika angota TNI AL tersebut

tetap memutuskan untuk menikahi calon istrinya tersebut. Karena dari awal
beliau menegaskan bahwa hanya dengan memilih calon istri yang baik, yang

bermoral, dan mempunyai agama baik, maka sebuah keluarga sakinah akan

mudah diwujudkan. Sementara saat memberikan pembekalan saja orang yang

dihadapai berkebalikan dengan semua itu. Dengan demikian, secara tidak

langsung seorang Rohaniwan Islam telah melarang anggota TNI AL untuk

menikahi perempuan seperti itu, meski pada akhirnya keputusan tetap

dikembalikan kepada anggota TNI AL yang bersangkutan.

B. SARAN

Pada bagian ini peneliti memberikan saran kepada pihak-pihak terkait

sehubungan dengan pembekalan perkawinan Anggota TNI di Detasemen Angkatan

Laut Malang, yaitu :

1. Rohaniwan Islam

Rohaniwan Islam sebagai satu-satunya pejabat agama untuk anggota TNI yang

beragama Islam bisa membantu anggota keluarga TNI dalam persoalan rumah

tangga tidak hanya terbatas sebagai lembaga konseling dan berperan aktif ketika

memberikan pembekalan perkawinan saja. Akan tetapi diharapkan bisa

memberikan pembinaan perkawinan dengan mengadakan pengarahan secara rutin

untuk anggota keluarga TNI. Kalaupun tidak mungkin untuk mengadakannya

seminggu sekali seperti yang sudah terjadwal, setidaknya sebulan sekali, yang

penting tetap diberikan pembinaan terkait dengan perkawinan. Dengan adanya

pembinaan yang secara rutin dan terus-menerus sebagai lanjutan dari pembekalan

awal perkawinan tersebut, maka diharapkan penjelasan-penjelasan terkait dengan

keluarga sakinah akan lebih mudah diingat dan diterapkan dengan didukung

adanya kegiatan resmi dari satuan dinasnya.


2. Anggota TNI AL

Bagi anggota TNI AL yang belum menikah dan belum mengetahui prosedur izin

kawin, hendaknya dari awal sudah mencari tahu tentang bagaimana prosesnya.

Sehingga nanti ketika mau mengurusi permohonan izin kawin segala sesuatunya

akan lebih mudah karena sudah ada persiapan awal. Selanjutnya, ketika

dihadapkan pada pejabat agama, yang dalam hal ini Rohaniwan Islam sebagai

salah satu syarat dalam memperoleh izin kawin tersebut, hendaknya hal ini benar-

benar diperhatikan. Karena sesungguhnya segala sesuatu yang disampaikan oleh

Rohaniwan Islam ini sangatlah penting sebagai modal dalam kehidupan

berkeluarga kelak.

3. Calon istri atau suami dari anggota TNI AL

Bagi siapa saja yang hendak menikah dengan anggota TNI AL hendaknya sedini

mungkin mengetahui bahwa ada banyak syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi

saat permohonan izin kawin untuk mendapatkan surat izin kawin. Jika dari awal

hal ini sudah diketahui, maka diharapkan nantinya calon suami atau istri anggota

TNI AL tidak akan merasa diberatkan ataupun disulitkan dengan segala ketentuan

yang ada. Karena telah menyadari betul bahwa sesungguhnya kesemua itu

merupakan peraturan yang harus dipenuhi.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran al-Hakim dan terjemahannya (2001) Surabaya: CV. Sahabat Ilmu.

Abdurrahman (1986) Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang


Perkawinan. Jakarta: Akademia Pressindo.

Abdul Hakim Khayyal, Muhammad (2005) Membangun Keluarga Qurani. Jakarta:


Amzah.

AL-Hamdani, H.S.A (2002) Risalah Nikah Hukum Perkawinan Islam. Jakarta:


Pustaka Amani.

Arikunto, Suharsimi (1989) Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan. Jakarta: UI Press.

Asrofi, Thohir, M (2006) Keluarga Sakinah dalam Tradisi Islam Jawa. Yogyakarta:
Arindo Nusa Media.

Daly, Peunoh (2005) Hukum Perkawinan Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang.

Djaelani, Abdul Qadir (1995) Keluarga Sakinah. Surabaya: PT Bina Ilmu.

Hadi, Sutrisno (1976) Metodologi Research. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan


Fakultas Psikologi UGM.

Hasan, Ayyub Syaikh (2001) Fikih Keluarga. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Hassan, A (1978) Tarjamah Bulughul Maram Jilid II. Bandung: CV Diponegoro.

Idhamy, Dahlan (1984) Azas-azas Fiqh Munakahat Hukum Keluarga Islam.


Surabaya: AL-Ikhlas.

Marzuki (1997) Metodologi Riset. Yogyakarta: BPFE-UII.

Mazhahiri, Husain (2004) Membangun Surga dalam Rumah Tangga. Bogor: Cahaya.

Moleong, Lexy J (2002) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja


Rosda Karya.

Mubarok, Jaih (2005) Modernisasi Hukum Perkawinan di Indonesia. Bandung:


Pustaka Bani Quraisy.

Muchtar, Kamal (1986) Asas-asas Hukum Islam tentang Perkawinan Jakarta: Bulan
Bintang.

Muhdlor, Ahmad Zuhdi Memahami Hukum Perkawinan (Nikah, Cerai, Talak dan
Rujuk) Menuju Bahagia. Bandung: Al-Bayan.

Mushoffa, Aziz (2002) Untaian Mutiara Buat Keluarga. Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Narbuko, Cholid, H. Abu Achmadi (2005) Metodelogi Penelitian. Jakarta: Bumi
Aksara.

Partanto A Pius, Barry Al Dahlan M (1994) Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arkola.

Prakoso, Joko, I Ketut Mustika (1998) Azas-azas Hukum Perkawinan di Indonesia.


Jakarta: Bina Aksara.

Qaimi, Ali (2002) Mengapai Langit Masa Depan Anak. Bogor: Cahaya.

________ (2003) Peran Ganda Ibu dalam Mendidik Anak. Bogor: Cahaya.

Rahim Faqih, Aunur (2004) Bimbingan dan Konseling Dalam Islam. Yogyakarta:
LPPAI UII Press.

Ramulyo, Idris (2002) Hukum Perkawinan Islam (Suatu Analisis dari Undang-
Undang No.1 Tahun 1974 dan KHI). Jakarta: PT Bumi Aksara.

Saifullah (2006) Metodologi Penelitian (Buku Panduan). Malang: UIN Malang.

Soejono, H. Abdurrahman (2003) Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Rineka Cipta

Soekanto, Soerjono (1986) Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI Press.

Sunggono, Bambang (1997) Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta: PT. Raja


Grafindo Persada.

Tim penyusun (2005) Buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: Fakultas
Syariah.

Tim penyusun (2003) Membina Keluarga Sakinah. Jakarta: Direktorat Jenderal


Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji Depag.

Tim penyusun (2002) Modul Pembinaan Keluarga Sakinah. Jakarta: Direktorat


Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji Depag.

Walgito, Bimo (2002) Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Yogyakarta: Andi


Yogyakarta.

Afif, Abd (2004) Kafaah Sebagai Salah Satu Indikator Terbentuknya Keluarga
Sakinah (Studi Kasus di Desa Warulor Kecamatan Pacitan Kabupaten
Lamongan) (Skripsi) Malang: Fakultas Syariah UIN Malang.

Amalia, Nur Laila Rizqi (2004) Prosedur Perkawinan Anggota Polri dan Dampaknya
Terhadap Rencana Perkawinan (Studi di Polresta Malang) (Skripsi) Malang:
Fakultas Syariaah UIN Malang.

Chalisah, Lilik (2002) Pengaruh Komunikasi Suami Istri terhadap Keharmonisan


Rumah Tangga (Skripsi) Surabaya: Fakultas Syariah IAIN Surabaya.
Istiqomah, (2002) Hubungan Antara Komunikasi Suami Istri dengan Keharmonisan
Rumah Tangga (Skripsi) Malang: Fakultas Psikologi UIN Malang.

Puspa Rini, Ajeng (2006) Pemalsuan Surat Izin dari Pejabat sebagai Alasan
Pembatalan Perkawinan bagi TNI (Skripsi) Malang: Fakultas Syariaah UIN
Malang.

Anynomous (2007) UU TNI. http:// www.tnial.mil.id. Diakses tanggal 6 Juni 2007.