Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Keluarga berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri


untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang
memang sangat diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu
saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan jumlah anak
dalam keluarga (Suratun, 2008).
Paradigma baru program Keluarga Berencana Nasional telah diubah visinya dari
mewujudkan NKKBS menjadi visi untuk mewujudkan Keluarga Berkualitas tahun
2015. Keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri,
memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggungjawab, harmonis
dan bertaqwa kepada Tuhan YME. Dan dalam paradigma baru program ini misinya
sangat menekankan pentingnya upaya menghormati hak-hak reproduksi, sebagai upaya
integral dalam meningkatkan kualitas keluarga. Karena keluarga adalah salah satu
diantara kelima matra kepentingan kependudukan yang sangat mempengaruhi
perwujudan penduduk yang berkualitas.
Berdasarkan visi dan misinya program Keluarga Berencana nasional mempunyai
kontribusi penting dalam upaya peningkatan kualitas penduduk. Salah satu kunci dalam
rencana strategi nasional Indonesia 2010 adalah bahwa setiap kehamilan harus
merupakan kehamilan yang diinginkan. Untuk mewujudkan pesan kunci tersebut
keluarga berencana merupakan upaya pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar
dan utama. Untuk mengoptimalkan keluarga berencana bagi kesehatan, pelayanannya
harus digabungkan dengan pelayanan kesehatan reproduksi yang telah tersedia.
Keluarga berencana menurut Undang-Undang no 10 tahun 1992 (tentang
perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya
peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia
perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan
kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera (Arum, 2008).
Secara umum keluarga berencana dapat diartikan sebagai suatu usaha yang
mengatur banyaknya kehamilan sedemikian rupa sehingga berdampak positif bagi ibu,
bayi, ayah serta keluarganya yang bersangkutan tidak akan menimbulkan kerugian
sebagai akibat langsung dari kehamilan tersebut. Diharapkan dengan adanya
perencanaan keluarga yang matang kehamilan merupakan suatu hal yang memang
sangat diharapkan sehingga akan terhindar dari perbuatan untuk mengakhiri kehamilan
dengan aborsi (Suratun, 2008).
Menurut World Population Data Sheet 2016, Indonesia merupakan negara ke-
5 di dunia dengan estimasi jumlah penduduk terbanyak, yaitu 250 juta. Diantara negara
ASEAN, Indonesia dengan luas wilayah terbesar tetap menjadi negara dengan
penduduk terbanyak, jauh di atas 9 negara anggota lain. Dengan angka Fertilitas atau
Total Fertility Rate (TFR) 2,6. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun
2016 jumlah penduduk Indonesia sebanyak 253.157,7 ribu orang yang terdiri dari
126.423,2 laki-laki dan 126.734,5 perempuan. Rata-rata laju pertumbuhan penduduk
tahun 2010-2016 sekitar 1,50 persen per tahun. Diperkirakan penduduk Indonesia akan
berjumlah 337 juta jiwa di tahun 20150.
Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
menunjukkan bahwa pada tahun 2013 ada 8.500.247 PUS (Pasangan Usia Subur) yang
merupakan peserta KB baru, dan hampir separuhnya (45,6%) menggunakan metode
kontrasepsi suntikan, 26,6% menggunakan metode kontrasepsi Pil, 9,23%
menggunakan metode kontrasepsi implan, 7,75% menggunakan metode kontrasepsi
IUD, 6,09% menggunakan metode kontrasepsi kondom, 1,52% menggunakan metode
kontrasepsi MOW, dan sebanyak 0,25% menggunakan metode kontrasepsi MOP.

Provinsi Jambi mempunyai jumlah penduduk 3.168.637 jiwa. Angka ini


diperoleh dari pendataan yang dilakukan BKKBN Provinsi Jambi tahun 2016 lau.
Untuk Kabupaten Tanjung Jabung Timur sendiri memiliki jumlah penduduk sekitar
211.892 jiwa. Pada tahun 2016 jumlah pemakai alat kontrasepsi sebanyak 12.150 jiwa
peserta KB baru.

Berdasarkan deskripsi data sebagaimana tersebut di atas, maka penelitian ini


akan meneliti mengenai distribusi frekuensi penggunaan KB suntik pada masyarakat di
Kecamatan Mendahara Ilir.
1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana distribusi frekuensi pengguna kontrasepsi KB suntik di Puskesmas


Mendahara Ilir bulan januari-September 2017?

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Mengetahui distribusi frekuensi pengguna kontrasepsi KB suntik di Puskesmas


Mendahara Ilir bulan januari-September 2017.

1.3.2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui prevalensi pengguna kontrasepsi KB suntik di Puskesmas


Mendahara Ilir bulan januari-September 2017.
b. Mengetahui distribusi frekuensi pengguna kontrasepsi KB suntik berdasarkan
usia.
c. Mengetahui distribusi frekuensi pengguna kontrasepsi KB suntik berdasarkan
paritas.
d. Mengetahui distribusi frekuensi pengguna kontrasepsi KB suntik berdasarkan
pekerjaan.
e. Mengetahui distribusi frekuensi pengguna kontrasepsi KB suntik berdasarkan
status ekonomi.
1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambar mengenai distribusi


frekuensi pengguna kontrasepsi KB suntik di Puskesmas Mendahara Ilir serta
dapat memberikan informasi pada masyarakat dan berguna untuk penelitian- penelitian
selanjutnya.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Keluarga Berencana

2.1.1.Pengertian Keluarga Berencana

Menurut World Health Organisation (WHO) expert committee 1997: keluarga


berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari
kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang sangat
diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran
dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan jumlah anak dalam
keluarga.
Keluarga berencana menurut Undang-Undang no 10 tahun 1992 (tentang
perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya
peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia
perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan
kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Keluarga berencana adalah suatu
usaha untuk menjarangkan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.
Secara umum keluarga berencana dapat diartikan sebagai suatu usaha yang
mengatur banyaknya kehamilan sedemikian rupa sehingga berdampak positif bagi ibu,
bayi, ayah serta keluarganya yang bersangkutan tidak akan menimbulkan kerugian
sebagai akibat langsung dari kehamilan tersebut. Diharapkan dengan adanya
perencanaan keluarga yang matang, kehamilan merupakan suatu hal yang memang
sangat diharapkan sehingga akan terhindar dari perbuatan untuk mengakhiri kehamilan
dengan aborsi.
Sasaran utama dari pelayanan KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS). Pelayanan
KB diberikan di berbagai unit pelayanan baik oleh pemerintah maupun swasta dari
tingkat desa hingga tingkat kota dengan kompetensi yang sangat bervariasi. Pemberi
layanan KB antara lain adalah Rumah Sakit, Puskesmas, dokter praktek swasta, bidan
praktek swasta dan bidan desa.
2.1.2. Tujuan Keluarga Berencana
Tujuan umum adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial
ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh suatu
keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tujuan lain meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan,
peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.
Kesimpulan dari tujuan program KB adalah: Memperbaiki kesehatan dan
kesejahteraan ibu, anak, keluarga dan bangsa; Mengurangi angka kelahiran untuk
menaikkan taraf hidup rakyat dan bangsa; Memenuhi permintaan masyarakat akan
pelayanan KB dan KR yang berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka
kematian ibu, bayi, dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi.
Tujuan KB berdasarkan RENSTRA 2005-2009 meliputi:
1. Keluarga dengan anak ideal
2. Keluarga sehat
3. Keluarga berpendidikan
4. Keluarga sejahtera
5. Keluarga berketahanan
6. Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya
7. Penduduk tumbuh seimbang (PTS)
Tujuan keluarga berecana menurut BKKBN adalah :
1. Meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak serta keluarga dan
bangsa pada umumnya.
2. Meningkatkan martabat kehidupan rakyat dengan cara menurunkan angka kelahiran
sehingga pertambahan penduduk tidak melebihi kemampuan untuk meningkatkan
reproduksi.
Tujuan akhir KB adalah tercapainya NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia
dan Sejahtera) dan membentuk keluarga berkualitas, keluarga berkualitas artinya
suatu keluarga yang harmonis, sehat, tercukupi sandang, pangan, papan, pendidikan
dan produktif dari segi ekonomi.

2.1.3. Sasaran Program Keluarga Berencana


1. Sasaran Langsung
Pasangan usia subur, yaitu pasangan yang wanitanya berusia antara 15 - 49 tahun
karena kelompok ini merupakan pasangan yang aktif melakukan hubungan seksual
dan setiap kegiatan seksual dapat mengakibatkan kehamilan. PUS diharapkan secara
bertahap menjadi peserta KB yang aktif lestari sehingga memberi efek langsung
penurunan fertilisasi.
2. Sasaran Tidak Langsung
Kelompok remaja usia 15 - 19 tahun, remaja ini memang bukan merupakan
target untuk menggunakan alat kontrasepsi secara langsung tetapi merupakan
kelompok yang berisiko untuk melakukan hubungan seksual akibat telah berfungsinya
alat-alat reproduksinya, Sehingga program KB disini lebih berupaya promotif dan
preventif untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan serta kejadian
aborsi.
Organisasi-organisasi, lembaga-lembaga kemasyarakatan, instansi-instansi
pemerintah maupun swasta, tokoh-tokoh masyarakat (alim ulama, wanita, dan
pemuda), yang diharapkan dapat memberikan dukungannya dalam pelembagaan
NKKBS. Sasaran wilayah dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi.

2.1.4. Manfaat Keluarga Berencana

Berikut ini merupakan manfaat dari adanya program Keluarga Berencana (KB),
yaitu:
1. Menurunkan angka kematian maternal dengan adanya perencanaan kehamilan
yang aman,sehat dan diinginkan.
2. Mencegah terjadinya kanker uterus dan ovarium dengan mengkonsumsi pil
kontrasepsi.
3. Memberikan kontribusi bagi pembangunan berkelanjutan yang berwawasan
kependudukan.Proggram keluarga berencana nasional adalah program untuk
membantu keluarga termasuk individu anggota keluarga untuk merencanakan
kehidupan berkeluarga yang baik sehingga dapat mencapai keluarga berkualitas.
Dengan terbentuk keluarga berkualitas maka generasi mendatang sebagai sumber
daya manusia yang berkualitas akan dapat melanjutkan pembangunan.
Program keluarga berencana dalam pembangunan berkelanjutan yang
berwawasankependudukan dapat memberikan kontribusi dalam empat hal, yaitu :
a. Mengendalikan jumlah penduduk dan pertumbuhan penduduk juga dengan
peningkatan kualitas penduduk.
b. Peningkatan kualitas penduduk sebagai sumber daya yang handal dilakukan
dengan mengarahkan pembangunan pada penurunan kematian ibu dan bayi dengan
menurunkan kelahiran atau kehamilan melalui penggunaan kontrasepsi.
2.1.5. Akseptor Keluarga Berencana
A. Pengertian
Akseptor KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang salah seorang dari padanya
menggunakan salah satu cara atau alat kontrasepsi dengan tujuan untuk pencegahan
kehamilan baik melalui program maupun non program Sedangkan menurut kamus besar
bahasa Indonesia (2001) dalam Setiawan dan Saryono (2010) Akseptor adalah orang yang
menerima serta mengikuti dan melaksanakan program keluarga berencana.

B. Jenis-jenis Akseptor KB
Menurut Handayani (2010) jenis akseptor KB sebagai berikut:
1) Akseptor KB baru
Akseptor KB baru adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang pertama kali
menggunakan kontrasepsi setelah mengalami kehamilan yang berakhir dengan
keguguran atau kelahiran.
2) Akseptor KB lama
Akseptor KB lama adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang melakukan kunjungan
ulang termasuk pasangan usia subur yang menggunakan alat kontrasepsi kemudian
pindah atau ganti ke cara atau alat yang lain atau mereka yang pindah klinik baik
menggunakan cara yang sama atau cara (alat) yang berbeda.
3) Akseptor KB aktif
Peserta KB aktif adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang pada saat ini masih
menggunakan salah satu cara atau alat kontrasepsi.
4) Akseptor KB aktif kembali
Perserta KB aktif kembali adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang telah berhenti
menggunakan selam tiga blan atau lebih yang tidak diselingi oleh suatu kehamilan
dan kembali menggunakan alat kontrasepsi baik dengan cara yang sama maupun
berganti cara setelah berhenti atau istirahat paling kurang tiga bulan berturut-turut dan
bukan karena hamil.

2.2. Kontrasepsi
2.2.1. Pengertian Kontrasepsi
Asal kata kontra berarti mencegah atau melawan dan konsepsi yang berarti

pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan

Kontrasepsi adalah usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usaha-usaha itu

dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen.


Efektivitas kontrasepsi adalah keunggulan carakontrasepsi tertentu dalam

mencegah kehamilan dalam kenyataan penggunaan sehari-hari daya guna kontrasepsi

terdiri atas daya guna teoritis atau fisiologik (theoretical effectiveness), daya guna

pemakaian (use effectiveness) dan dayaguna demografik (demografic effectiveness).

2.2.2. Akseptor KB Menurut Sasarannya

a. Fase menunda kehamilan

Masa menunda kehamilan pertama sebaiknya dilakukan oleh pasangan yang istrinya

belum mencapai usia 20 tahun.Karena usia di bawah 20 tahun adalah usia yang

sebaiknya menunda untuk mempunyai anak dengan berbagai alasan.Kriteria

kontrasepsi yang diperlukan yaitu kontrasepsi dengan pulihnya kesuburan yang tinggi,

artinya kembalinya kesuburan dapat terjamin 100%. Hal ini penting karena pada masa

ini pasangan belum mempunyai anak, serta efektifitas yang tinggi. Kontrasepsi yang

cocok dan yang disarankan adalah pil KB, AKDR.

b. Fase mengatur / menjarangkan kehamilan

Periode usia istri antara 20 - 30 tahun merupakan periode usia paling baik untuk

melahirkan, dengan jumlah anak 2 orang dan jarak antara kelahiran adalah 2 - 4

tahun.Ktiteria kontrasepsi yang perlukan yaitu efektifitas tinggi, reversibilitas tinggi

karena pasangan masih mengharapkan punya anak lagi.Kontrasepsi dapat dipakai 3 - 4

tahun sesuai jarak kelahiran yang direncanakan.

c. Fase mengakhiri kesuburan / tidak hamil lagi

Sebaiknya keluarga setelah mempunyai 2 anak dan umur istri lebih dari 30 tahun tidak

hamil. Kondisi keluarga seperti ini dapat menggunakan kontrasepsi yang mempunyai

efektifitas tinggi, karena jika terjadi kegagalan hal ini dapat menyebabkan terjadinya

kehamilan dengan resiko tinggi bagi ibu dan anak. Di samping itu jika pasangan
akseptor tidak mengharapkan untuk mempunyai anak lagi, kontrasepsi yang cocok dan

disarankan adalah metode kontap, AKDR, implan, suntik KB dan pil KB (Pinem,

2009.).

2.2.3. Syarat-syarat Kontrasepsi

Sebagai usaha untuk mencegah kehamilan hendaknya kontrasepsi memiliki


syarat-syarat sebagai berikut :

a. aman pemakaiannya dan dapat dipercaya.

b. efek samping yang merugikan tidak ada.

c. lima kerjanya dapat diatur menurut keinginan.

d. tidak mengganggu hubungan persetubuhan.

e. tidak memerlukan bantuan medik atau control yang ketat selama pemakaiannya.

f. cara penggunaannya sederhana.

g. harganya murah supaya dapat dijangkau oleh masyarakat luas.

h. dapat diterima oleh pasangan suami istri.

2.2.4. Jenis Kontrasepsi

A. Kontrasepsi Sederhana

1. Kondom
Kondom merupakan selubung/sarung karet tipis yang dipasang pada penis
sebagai tempat penampungan sperma yang dikeluarkan pria pada saat senggama
sehingga tidak tercurah pada vagina. Cara kerja kondom yaitu mencegah pertemuan
ovum dan sperma atau mencegah spermatozoa mencapai saluran genital wanita.
Sekarang sudah ada jenis kondom untuk wanita, angka kegagalan dari penggunaan
kondom ini 5-21%.
Keuntungan
a. Murah, mudah di beli
b. Mudah dipakai sendiri
Kerugian
a. Selalu harus ada persediaan
b. Mengganggu kenyamanan senggama
c. Kadang-kadang menimbulkan alergi
2. Coitus Interuptus
Coitus interuptus atau senggama terputus adalah menghentikan senggama
dengan mencabut penis dari vagina pada saat suami menjelang ejakulasi. Kelebihan
dari cara ini adalah tidak memerlukan alat/obat sehingga relatif sehat untuk digunakan
wanita dibandingkan dengan metode kontrasepsi lain, risiko kegagalan dari metode ini
cukup tinggi.
3. KB Alami
KB alami berdasarkan pada siklus masa subur dan tidak masa subur, dasar
utamanya yaitu saat terjadinya ovulasi. Untuk menentukan saat ovulasi ada 3 cara,
yaitu : metode kalender, suhu basal, dan metode lendir serviks.

B. Kontrasepsi Hormonal
1. Kontrasepsi PIL
Kontrasepsi Pil adalah metode kontrasepsi hormonal yang digunakan
wanita,berbentuk tablet. Pada dasarnya kontrasepsi pil terbagi menjadi tiga bagian, yaitu
pil kombinasi, pil yang mengandung progesteron dan pil yang mengandung estrogen.
Kontrasepsi Pil adalah salah satu kontrasepsi yang paling banyak digunakan, kontrasepsi
pil mengandung hormon estrogen dan progesteron serta dapat menghambat ovulasi.
Kontrasepsi pil ini harus diminum setiap hari secara teratur. Jenis jenis pil kombinasi ada
3 macam yaitu :
Monofasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormone
estrogen/progesterone dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon.
Bifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon
estrogen/progesterone dengan dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa
hormon.
Trifasi : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormone
estrogen/progesterone dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa
hormon.
a. Efektivitas
Pada pemakaian yang seksama, pil kombinasi 99 % efektif mencegah
kehamilan. Namun, pada pemakaian yang kurang seksama, efektivitasnya masih
mencapai 93 %.
b. Keuntungan
Keuntungan menggunakan kontrasepsi pil adalah dapat diandalkan jika
pemakaiannya teratur, meredakan dismenorea, mengurangi resiko anemia,
mengurangi resiko penyakit payudara, dan melindungi terhadap kanker endometrium
dan ovarium.
c. Kerugian
Kerugian menggunakan kontrasepsi pil adalah harus diminum secara teratur,
cermat dan konsisten, tidak ada perlindungan terhadap penyakit menular,
peningkatan resiko hipertensi dan tidak cocok digunakan ibu yang merokok pada usia
35 tahun.
d. Indikasi
Indikasi penggunaan kontrasepsi pil adalah usia reproduksi, telah memiliki
anak, Ibu yang menyusui tapi tidak memberikan asi esklusif, ibu yang siklus haid
tidak teratur, riwayat kehamilan ektopik.
e. Kontra indikasi
Kontra indikasi pengguna kontrasepsi pil adalah ibu yang sedang hamil,
perdarahan yang tidak terdeteksi, diabetes berat dengan komplikasi, depresi berat dan
obesitas.
f. Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja pil adalah dengan cara menekan gonadotropin releasing
hormon. Pengaruhnya pada hifofisis terutama adalah penurunan sekresi luitenezing
hormon (LH), dan sedikit folikel stimulating hormon. Dengan tidak adanya puncak
LH, maka ovulasi tidak terjadi. Disamping itu, ovarium menjadi tidak aktif, dan
pemasakan folikel terhenti. Lendir servik juga mengalami perubahan, menjadi lebih
kental, gambaran daun pakis menghilang, sehingga penetrasi sperma menurun.
2. Kontrasepsi Suntik
Kontrasepsi suntik adalah alat kontrasepsi yang mengandung hormon progesteron
dan ekstrogen, kontrasepsi ada ada 2 macam, yaitu suntik yang sebulan sekali ( syclopen )
dan suntik 3 bulan sekali (depo propera ), akan tetapi ibu lebih suka menggunakan suntik
yang sebulan karena suntik sebulan dapat menyebabkan perdarahan bulanan teratur dan
jarang menyebabkan spoting.
3. Kontrasepsi Susuk/Implant
Implant adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam bawah kulit, yang
memiliki keefektivitas yang cukup tinggi, dan merupakan kontrasepsi jangka panjang 5
tahun serta efek perdarahan lebih ringan, tidak menaikan tekanan darah. Sangat efektif
bagi ibu yang tidak boleh menggunakan obat yang mengandung estrogen.
a. Mekanisme kerja
Mekanisme kerja implant adalah dapat menekan ovulasi, membuat getah
serviks menjadi kental, membuat endometrium tidak siap menerima kehamilan.
Dengan konsep kerjanya adalah progesteron dapat mengahalangi pengeluaran LH
sehingga tidak terjadi ovulasi dan menyebabkan situasi endometrium tidak siap
menjadi tempat nidasi.
b. Jenis jenis
Jenis jenis kontrasepsi susuk adalah :
Norplan dari 6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 3,4 cm,
dengan diameter 2,4 mm, yang di isi dengan 36 mg levonolgestrel dengan
lama kerjanya 5 tahun.
Implanon terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kira kira 40
mm, dan diameter 2 mm, yang di isi dengan 68 mg 3 keto-desogestrel dan
lama kerjanya 3 tahun.
Jedena dan indoplan terdiri dari 2 batang yang di isi dengan 75 mg
levonolgester dengan lama kerjanya 3 tahun.
c. Keuntungan
Keuntungan kontrasepsi implant adalah dipasang selama 5 tahun, control
medis ringan, dapat dilayani di daerah pedesaan, penyulit tidak terlalu tinggi, biaya
ringan.
d. Kerugian
Kerugian kontrasepsi implant adalah terjadi perdarahan bercak, meningkatnya
jumlah darah haid, berat badan bertambah, menimbulkan acne dan membutuhkan
tenaga yang ahli untuk memasang dan membukanya.
e. Indikasi
Indikasi kontrasepsi implant adalah wanita usia subur, wanita yang ingin
kontrasepsi jangka panjang, ibu yang menyusui, pasca keguguran.
f. Kontra indikasi
Kontra indikasi kontrasepsi implant adalah ibu yang hamil, perdarahan yang
tidak diketahui penyebabnya, adanya penyakit hati yang berat, obesitas dan depresi.
g. Efek samping
Efek samping kontrasepsi implant adalah nyeri , gatal atau infeksi pada tempat
pemasangan, sakit kepala, mual, perubahan mood, perubahan berat badan, jerawat,
nyeri tekan pada payudara, rambut rontok.
4. Kontrasepsi IUD
IUD adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim yang mengandung
tembaga. Kontrasepsi ini sangat efektif digunakan bagi ibu yang tidak boleh menggunakan
kontrasepsi yang mengandung hormonal dan merupakan kontrasepsi jangka panjang 8 -10
tahun. Tetapi efek dari IUD dapat menyebabkan perdarahan yang lama dan kehamilan
ektopik. Angka kegagalan pada tahun petama 2,2% .
a. Jenis jenis IUD
Jenis IUD ada beberapa macam, yaitu: Lippes lopp yang terbuat dari plastic,
berbentuk huruf S. TCU 380A adalah alat yang berbentuk T, yang dililit tembaga
pada lengan horizontal dan lilitan tembaga memiliki inti perak pada batang. Sof T
adalah IUD tembaga yang berbentuk mirip rongga uterus. Multiload 375, kawat
tembaga yang dililit pada batangnya dan berbentuk 2/3 lingkaran elips. Nova T
mempunyai inti perak pada kawat tembaganya pada batang dan sebuah lengkung
besar pada ujung bawah. Levonogestrel adalah alat yang berbentuk T mempunyai arah
merekat pada lengan vertical.
b. Keuntungan
Keuntungan pemakaian kontrasepsi IUD adalah dapat segera aktif setelah
pemasangan. Metode jangka panjang, tidak mempengaruhi produksi ASI, tidak
mengurangi laktasi, kesuburan cepat kembali setelah IUD dilepas, dapat di pasang
segera setelah melahirkan, meningkatkan kenyamanan hubungan suami istri karena
rasa aman terhadap resiko kehamilan.
c. Efek Samping
Efek samping adalah akibat yang ditimbulkan atau reaksi yang disebabkan
oleh benda asing yang masuk ke dalam tubuh dan tidak diharapkan yaitu haid lebih
banyak dan lama, saat haid terasa sakit, perdarahan spoting, dan terjadinya perdarahan
yang banyak .
d. Indikasi
Menurut Glasier 2005, yang merupakan indikasi pemakaian kontrasepsi IUD
adalah wanita yang menginginkan kontrasepsi jangka panjang, multigravida, wanita
yang mengalami kesulitan menggunakan kontrasepsi lain.
e. Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja IUD adalah mencegah terjadinya pembuahan dengan
penghambatan bersatunya ovum dengan sperma, mengurangi jumlah sperma yang
mencapai tuba fallopi dan menonaktifkan sperma (Saifuddin 2003). Mekanisme kerja
IUD adalah menghambat bersatunya sperma dan ovum, mengurangi jumlah sperma
yang mencapai tuba fallopi, menonaktifkan sperma, menebalkan lendir serviks
sehingga menghalangi pergerakan sperma.
f. Kerugian
Menurut Maryani 2005 kerugian pemakaian kontrasepsi IUD adalah :
Menstruasi yang lebih banyak dan lebih lama. Infeksi dapat terjadi saat pemasangan
yang tidak steril. Ekspulsi (IUD yang keluar atau terlepas dari rongga rahim).
g. Kontra Indikasi
Menurut Saifuddin 2003, yang merupakan kontra indikasi pemakaian
kontrasepsi IUD adalah wanita yang sedang hamil, wanita yang sedang menderita
infeksi alat genitalia perdarahan vagina yang tidak diketahui, wanita yang tidak dapat
menggunakan kontrasepsi IUD, wanita yang menderita PMS, wanita yang pernah
menderita infeksi rahim, wanita yang pernah mengalami pedarahan yang hebat.

C. Kontrasepsi Mantap
Kontap adalah kontrasepsi permanen yang digunakan untuk mencegah
kehamilan. Kontap ada 2 macam, yaitu tubektomi yang digunakan pada wanita dan
vasektomi yang digunakan pada pria.
1. Tubektomi
Tubektomi adalah satu satunya kontrasepsi yang permanent pada wanita.
1) Efektivitas
Tubektomi ini mempunyai efektivitas nya 99,4 % - 99,8 % per 100 wanita
pertahun. Dengan angka kegagalan 1 5 per 100 kasus.
2) Keuntungan
Keuntungan tobektomi adalah efektivitas tinggi, permanen, dapat segera
efektif setelah pemasangan.
3) Kerugian
Kerugian tobektomi adalah melibatkan prosedur pembedahan dan anastesi,
tidak mudah kembali kesuburan.
4) Indikasi
Indikasi tubektomi adalah wanita usia subur, sudah mempunyai anak, wanita
yang tidak menginginkan anak lagi.
5) Kontra indikasi
Kontra indikasi adalah ketidak setujuan terhadap operasi dari salah satu
pasangan, penyakit psikiatik, keadaan sakit yang dapat meningkatkan resiko
saat operasi.
6) Efek samping
Efek samping tubektomi adalah jika ada kegagalan metode maka ada resiko
tinggi kehamilan ektopik, merasa berduka dan kehilangan.
2. Vasektomi
Vasektomi adalah pilihan kontrasepsi permanen yang popular untuk banyak
pasangan. Vasektomi adalah pemotongan vas deferen, yang merupakan saluran yang
mengangkut sperma dari epididimis di dalam testis ke vesikula seminalis.
1) Efektivitas
Vasektomi adalah bentuk kontrasepsi yang sangat efektif. Angka kegagalan
langsungnya adalah 1 dalam 1000, angka kegagalan lanjutnya adalah antara 1
dalam 3000.
2) Keuntungan
Keuntungan adalah metode permanen, efektivitas permanen, menghilangkan
kecemasan akan terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan, prosedur
aman dan sederhana
3) Kontra indikasi
Kontra indikasi adalah ketidak mampuan fisik yang serius, masalah urologi,
tiadak didukung oleh pasangan.
4) Efek samping
Efek samping adalah infeksi, hematoma, granulose sperma.

2.2.5. Konsep Dasar Kontrasepsi Suntik


A. Pengertian
Kontrasepsi suntikan adalah cara untuk mencegah terjadinya kehamilan dengan melalui
suntikan hormonal. Kontrasepsi hormonal jenis KB suntikan ini di Indonesia semakin banyak dipakai
karena kerjanya yang efektif, pemakaiannya yang praktis, harganya relatif murah dan aman.Sebelum
disuntik, kesehatan ibu harus diperiksa dulu untuk memastikan kecocokannya.

Kotrasepsi suntik adalah alat kontasepsi yang disuntikan ke dalam tubuh


dalam jangka waktu tertentu, kemudian masuk ke dalam pembuluh darah diserap
sedikit demi sedikit oleh tubuh yang berguna untuk mencegah timbulnya kehamilan.
Kontrasepsi suntik digunakan adalah noretisteron Enentat, Depo Medroksi
Progesteron Asetat (DMPA), cyclofem.salah satu kontrasepsi modern yang sering
digunakan DMPA yang berisi depro medroksi progerteron asetat sebanyak 150 mg
dengan guna 3 bulan.

B. Jenis KB Suntik
1. Suntikan 1 bulan / Kombinasi : contoh : cyclovema.
a. Kandungan
Suntikan kombinasi mengandung hormon esterogen dan progesteron, yang diberikansatu
bulan sekali. jenis suntikan kombinasi ini terdiri dari 25 mg DepoMedroksiprogesteron
Asetat dan 5 mg Estrogen Sipionat yang diberikan injeksi I.Msebulan sekali (Cyclovem).
b. Cara kerja
Pemberian hormon progestin akan menyebabkan pengentalan mukus servikssehingga
menurunkan kemampuan penetrasi sperma. Hormon tersebut jugamencegah pematangan
dan pelepasan sel telur. Endometrium menjadi tipis dan atrofidengan berkurangnya aktifitas
kelenjar. Selain itu akan merangsang timbulnya haidsetiap bulan.

c. Efektifitas
Kontrasepsi suntik adalah kontrasepsi sementara, macam-macam suntikan tersebuttelah
dibuktikan sangat baik, dengan angka kegagalan kurang dari 0,1 % per 100wanita selama
tahun pertama penggunaan.

d. Keuntungan & Kerugian


1) Keuntungan kb suntik 1 bulan
a) Sangat efektif (99,6%)
b) Risiko kesehatan kecil
c) Tidak berpengaruh terhadap hubungan suami isteri
d) Periksa dalam tidak dibutuhkan pada saat pemeriksaan awal
e) Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
f) Tidak mempengaruhi pemberian ASI, kecuali suntikan Cyclofem
g) Reaksi suntik sangat cepat (<24 jam)
h) Dapat digunakan oleh wanita tua (>35 tahun), kecuali Cyclofem
i) Mencegah kehamilan ektopik
j) Jangka panjang
k) Sangat efektif walaupun klien terlambat suntik 1 minggu dari jadwal yangtelah
ditentukan
l) Sangat berguna untuk klien yang tidak ingin hamil lagi, tetapi belum bersediauntuk
mengikuti sterilisasi (tubektomi).
2) Kerugian KB suntik 1 bulan

a. Kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah penghentianpemakaian.


b. Harus kembali ke sarana pelayanan.
c. Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikutnya.
d. Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering
e. Dapat menyebabkan ketidakteraturan masalah haid.
f. Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan penyakit menular
seksual,hepatitis B, atau infeksi HIV.
g. Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan, dan keluhan seperti ini akan hilang
setelah suntikan kedua atau ketiga.
h. Efektivitas berkurang bila digunakan bersamaaan dengan obat-obat epilepsidan
obat tuberklosis.
i. Dapat terjadi efek samping yang serius, seperti serangan jantung, stroke,bekuan
darah pada paru atau otak, dan kemungkinan timbulnya tumor hati.
j. Kemungkinan terlambat pemulihan kesuburan setelah penghentianpemakaian.

e. Indikasi & kontraindikasi


1) Indikasi KB suntik 1 bulan
a) Klien menghendaki pemakaian kontrasepsi jangka panjang atau telahmempunyai cukup
anak sesuai keinginan tetapi belum ingin, belum siap ataubelum bisa ikut tubektomi saat
ini
b) Klien menghendaki pemakaian kontrasepsi yang tidak perlu dipakai setiaphari atau setiap
bersenggama
c) Klien tidak dapat memakai kontrasepsi yang mengandung esterogen, ataukalau
meminumnya maka akan timbul gejala-gejala komplikasi pemakaianesterogen
d) Klien sedang menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai
e) Usia reproduksi
f) Telah memiliki anak, ataupun yang belum memiliki anak
g) Ingin mendapatkan kontrasepsi dengan efektivitas yang tinggi
h) Menyusui ASI pascapersalinan lebih dari 6 bulan
i) Pascapersalinan dan tidak menyusui
j) Anemia
k) Nyeri haid hebat
l) Haid teratur
m) Riwayat kehamilan ektopik
n) Sering menggunakan pil kontrasepsi
2) Kontraindikasi KB suntik 1 bulan
a) Hamil atau diduga hamil
b) Menyusui di bawah 6 minggu pascapersalinan
c) Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
d) Penyakit hati akut
e) Usia lebih dari 35 tahun yang merokok
f) Riwayat penyakit jantung, stroke, atau dengan tekanan darah tinggi (lebihdari 180/110
mmHg)
g) Kelainan pembuluh darah yang menyebabkan sakit kepala atau migraine
h) Keganasan payudara

f. Waktu pemberian
1) Suntikan pertama dapat diberikan dalam waktu 7 hari siklus haid. Tidak diperlukan
kontrasepsi tambahan
2) Bila suntikan pertama diberikan setelah hari ke-7 siklus haid, klien tidak boleh melakukan
hubungan seksual selama 7 hari atau menggunakan kontrasepsi lainuntuk 7 hari.
3) Bila klien tidak haid, suntikan pertama dapat diberikan setiap saat, asal sajadapat dipastikan
ibu tersebut tidak hamil.
4) Bila klien pascapersalinan 6 bulan, menyusui, serta belum haid, suntikan pertama dapat
diberikan, asal saja dapat dipastikan tidak hamil
5) Bila pasca persalinan lebih dari 6 bulan, menyusui, serta telah mendapat haid,maka suntikan
pertama diberikan, asal saja dipastikan tidak hamil.
6) Bila pasca persalinan kurang dari 6 bulan dan menyusui, jangan beri suntikan kombinasi.
7) Bila pasca persalinan 3 minggu, dan tidak menyusui, suntikan kombinasi dapatdiberi.
8) Ibu yang sedang menggunakan kontrasepsi hormonal yang lain dan ingin menggantinya
dengan kontrasepsi hormonal kombinasi. Selama ibu tersebut
9) menggunakan kontrasepsi sebelumnya secara benar, suntikan kombinasi dapat diberikan
tanpa perlu menunggu haid
10) Bila kontrasepsi sebelumnya juga kontrasepsi hormonal, dan ibu tersebut ingin
menggantinya dengan suntikan kombinasi, maka suntikan kombinasi tersebut dapat
diberikan sesuai jadwal kontrasepsi sebelumnya.

g. Manfaat kesehatan

1) Menurunnya jumlah darah haid setiap bulan, menurunkan nyeri perut


2) Mengurangi kemungkinan penyakit kurang darah akibat kekurangan zat besi.
3) Mengurangi tanda atau gejala sindroma haid
4) Dapat melindungi kemungkinan penyakit radang panggul dan kanker indungtelur karena
progestin menyebabkan mukus serviks menebal, sehingga memepersulit penularan infeksi
dari liang senggama atau serviks untuk mencapai saluran telur (penekanan ovulasi akan
menyebabkan berkurangnya stimulasi dari sel epitel ovarium).
5) Mencegah terjadinya kanker endomertrium
6) Dapat digunakan pada wanita yang mempunyai penyakit darah sickle cellanemia
7) Dapat meningkatkan jumlah ASI pada ibu yang menyusui.

2. Suntikan/3 bulan : contoh : Depo provera, Depogeston

a. Kandungan
Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA), mengandung 150mg DMPA
yangdiberikan tiap 3 bulan dengan cara disuntik Intro Muskuler (di daerah bokong).
Depoprovera atau depo metroxy progesterone asetat adalah satu sintesa progestin
yang mempunyai efek seperti progesterone asli dari tubuh wanita. Obat ini dicoba pada
tahun1958 untuk mengobati abortus habitualis dan endometriosis ternyata pada
pengobatan abortus habitualis seringkali terjadi kemandulan setelah kehamilan berakhir.
Depoprovera sebagai obat kontrasepsi suntikan ternyata cukup manjur dan aman
dalam pelayanan keluarga berencana.
Depo Nonsterat Enontat (Depo Nonsterat) yang mengandung 200mg noratin
dionanontat, diberikan setiap 2 bulan dengan cara disuntik intra muskuler. Norigest
adalah obat yang disuntikkan (secara Depot). 1 ampul Norigest berisi 200 mg
Norethindoreenenthate dalam larutan minyak. Larutannya merupakan campuran benzyl
benzoate dancastor oil dalam perbandingan 4:6. Efek kontrasepsinya terutama mencegah
masuknya sperma melalui lender cervix. Sesudah pengobatan dihentikan, keadaan
fertilitas biasanya kembali dalam waktu beberapa minggu. Karena pada beberapa kasus
mungkinakan terjadi perdarahan-perdarahan yang atypis, maka perlu diberitahukan terlebih
dahulu kepada setiap calon akseptor akan kemungkinan hal ini.

b. Cara kerja
1) Mencegah ovulasi
2) Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma
3) Menjadikan selaput lendir rahim tipis
4) Menghambat pengangkutan gamet oleh tuba

c. Efektifitas
Kontrasepsi suntik progestin memiliki efektivitas yang sangat tinggi, dengan 0,3kehamilan
per 100 perempuan per tahun, asal penyuntikan dilakukan sesuai jadwaldan secara teratur.

d. Keuntungan & kerugian


1) Keuntungan KB suntik 3 bulan
a) Sangat efektif
b) Pencegahan kehamilan jangka panjang
c) Tidak berpengaruh terhadap hubungan seksual
d) Tidak mengandung esterogen sehingga tidak berdampak serius terhadappenyakit
jantung, dan gangguan pembekuan darah
e) Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI
f) Sedikit efek samping
g) Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
h) Dapat digunakan oleh perempuan usia lebih dari 35 tahun sampaiperimenopause
i) Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
j) Menurunkan kajadian penyakit jinak payudara
k) Mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul
l) Menurunkan krisis anemia bulan sabit
2) Kerugian KB suntik 3 bulan
a) Sering ditemukan gangguan haid
b) Siklus haid yang memendek atau memanjang
c) Perdarahan yang banayk atau sedikit
d) Perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak
e) Tidak haid sama sekali
f) Klien sangat bergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan
g) Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikutnya
h) Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering
i) Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual,hepatitis
B, atau infeksi virus HIV
j) Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian
k) Terlambatnya kembali kesuburan bukan karena terjadinya kerusakan ataukelainan
pada organ genitalia, melainkan karena belum habisnya pelepasanobat suntikan dari
deponya.

e. Indikasi
a) Usia reproduksi
b) Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan memiliki efektivitas tinggi
c) Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai
d) Setelah melahirkan dan tidak menyusui
e) Setelah abortus atau keguguran
f) Perokok
g) Tekanan darah kurang dari 180/110 mmHg, dengan masalah gangguan pembekuan darah
atau anemia
h) Menggunakan obat untuk epilepsi atau obat tuberklosis
i) Tidak dapat menggunakan kontrasepsi yang mengandung esterogen
j) Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi
k) Mendekati usia menopause
f. Kontraindikasi
a) Hamil atau dicurgai hamil
b) Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
c) Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid
d) Menderita kanker payudara
e) Diabetes melitus
g. Waktu pemberian

1) Setelah melahirkan : 6 minggu pasca salin


2) Setelah keguguran : segera setelah dilakukan kuretase atau 30 hari setelahkeguguran
(asal ibu belum hamil lagi)
3) Dalam masa haid : Hari pertama sampai hari ke-5 masa haid2.
4) Lokasi penyuntikan IM sampai daerah glutus
5) Daerah bokong/pantat
6) Daerah otot lengan atas

2.3. Karakteristik Ibu


Karakteristik ibu dalam memilih metode kontrasepsi dipengaruhi oleh berbagai karakter di
antaranya adalah :

1. Paritas

Kemungkinan seorang ibu untuk menambah kelahiran tergantung jumlah anak


yang telah dilahirkannya. Seorang ibu mungkin menggunakan alat kontrasepsi
setelah mempunyai jumlah anak tertentu dan juga umur anak yang masih hidup.
Semakin sering seorang ibu melahirkan anak, maka akan semakin memiliki risiko
kemaian dalam persalinan. Hal ini bearti jumlah anak akan sangat mempengaruhi
kesehatan ibu dan dapat meningkatkan taraf hidup keluarga secara maksimal.

2. Pekerjaan

Menurut Glasier dan Gebbie (2004), jadwal harian pemakai dan kemampuannya
menaati rutinitas merupakan parameter penting dalam mengevaluasi pemakai.
Pada wanita yang bekerja dan sering pergi tanpa dapat diperkirakan, maka dalam
menghadapi tenggang waktu untuk memakai alat kontrasepsi dapat menimbulkan
stress.

3. Umur

Umur terkait dengan masa reproduksi atau masa subur yang mempengaruhi pola
seksual. Menurut Glasier dan Gebbie (2004), pola seksual merupakan faktor
penting untuk menentukan metode yang cocok selama fase tertentu dalam
kehidupan reproduksinya. Beberapa pemakai mungkin menginginkan suatu metode
yang tidak atau sedikit memerlukan tindakan dari pemakai.
4. Biaya

Biaya sebagai faktor yang dapat berpengaruh dalam pemilihan alat kontrasepsi KB
dapat diketahui dari pendapat Prawirohardjo (2005), yang menyatakan bahwa
harga obat atau alat kontrasepsi yang terjangkau menjadi faktor yang menentukan
akseptabilitas cara kontrasepsi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kontrasepsi ideal
harus memenuhi syarat-syarat tertentu, diantaranya adalah murah harganya
sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.Biaya dari suatu strategi
keluarga berencana mencakup biaya metode itu sendiri, waktu yang dikorbankan
wanita dan petugas, serta biaya tidak langsung lainnya, termasuk ongkos
berkunjung ke klinik (Glasier dan Gebbie, 2004).

5. Jarak tempat tinggal dengan tempat pelayanan Keluarga Berencana

Menurut Glasier dan Gebbie (2004), pada wanita yang tinggal di tempat terpencil
atau mereka yang sering pergi lebih memilih metode kontrasepsi yang
mengharuskan mereka berkonsultasi secara teratur dengan petugas keluarga
berencana.

6. Efek samping KB

Salah satu keunggulan paling bermanfaat dari metode KB adalah tidak adanya efek
merugikan pada ibu sedang menyusui, dan tidak adanya bukti pengurangan jumlah
atau kualitas ASI (Air Susu Ibu) serta tidak adanya efek pada pertumbuhan dan
perkembangan bayi (Glasier dan Gebbie, 2004).

7. Sikap dan Perilaku Tenaga Kesehatan

Keberhasilan program KB tidak terlepas dari sikap dan perilaku tenaga kesehatan.
Peran dan fungsi bidan dalam pelayanan kebidanan diantaranya adalah
berpartisipasi dalam tim untuk melaksanakan program kesehatan dan sektor lain di
wilayah kerjanya melalui peningkatan kemampuan dukun bayi, kader kesehatan
dan tenaga kesehatan lain yang berada di bawah bimbingan dalam wilayah
kerjanya. Bidan membina hubungan baik dengan dukun, kader kesehatan / PLKB
(Petugas Lapangan Keluarga Berencana) dan masyarakat (IBI, 2007).

8. Tokoh Masyarakat, Agama dan undang-undang

KB perlu mendapat dukungan masyarakat, termasuk tokoh agama. Walaupun


awalnya mendapat tantangan akhirnya program KB didukung tokoh agama dengan
pemahaman bahwa KB tidak bertentangan dengan agama dan merupakan salah
satu upaya dalam pengaturan masalah kependudukan untuk memerangi
kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan ketidakpedulian masyarakat
sehingga dapat mendukung pembangunan bangsa. Di pihak lain, peserta KB yang
lebih dari 22,5 juta banyaknya juga memerlukan pegangan, pengayoman dan
dukungan rohani yang kuat dan ini hanya bisa diperoleh dari pemimpin agama
(Radita, 2009).
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional deskriptif dengan desain cross
sectional yaitu, penelitian yang bertujuan mengobservasi tanpa melakukan intervensi
apapun dan pengambilan data pada penelitian hanya dilakukan satu kali pada satu saat
tertentu saja.

3.2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Mendahara Ilir. Waktu penelitian pada


bulan Januari-September 2017.

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wanita pengguna kontrasepsi yang
datang ke Poliklinik Kebidanan dan Kesehatan Ibu dan Anak Puskesmas Mendahara
Ilir bulan Januari September 2017.

3.3.2. Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah seluruh wanita usia reproduksi (20-45 tahun)
pengguna KB suntik yang datang ke Poliklinik Kebidanan dan Kesehatan Ibu dan
Anak Puskesmas Mendahara Ilir bulan Januari-September 2017.
3.4. Batasan Operasional

Tabel 3.1. Batasan Operasional Penelitian

Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Hasil Ukur

1 2 3 4

Umur Usia yang telah dimiliki Melihat data 35 tahun


responden pada waktu rekam medik < 35 tahun
penelitian yang dinyatakan
dalam tahun

Paritas Jumlah anak kandung yang Melihat data 2


masih hidup sesuai pernyataan rekam medik <2
responden pada saat dilakukan
penelitian

Pekerjaan Kegiatan yang dilakukan Melihat data IRT / non-


responden untuk memperoleh rekam medik IRT
pendapatan

Status Responden yang mempunyai Melihat data Gakin


Ekonomi kartu jaminan kesehatan rekam medik Non Gakin
3.5. Kerangka Operasional

Populasi

Seluruh wanita pengguna kontrasepsi yang datang ke Poliklinik


Kebidanan dan Kesehatan Ibu dan Anak Puskesmas Mendahara Ilir
bulan Januari-September 2017.

Sampel

Wanita usia reproduksi (20-45 tahun) pengguna KB suntik yang


datang ke Poliklinik Kebidanan dan Kesehatan Ibu dan Anak
Puskesmas Mendahara Ilir bulan Januari-September 2017.

Pengumpulan Data

Data sekunder dari buku catatan pengguna kontrasepsi KB suntik di


Puskesmas Mendahara Ilir bulan Januari-September 2017, dicatat
berdasarkan variabel yang diteliti.

Pengolahan dan penyajian data secara deskriptif


dalam bentuk tabel,diagram,dan narasi.

Hasil dan Kesimpulan

3.6. Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan adalah data sekunder yang diperoleh dari buku catatan
akseptor KB suntik di Puskesmas Mendahara Ilir bulan Januari-September 2017. Dari
data tersebut kemudian dilakukan pencatatan sesuai dengan variabel yang diteliti.

3.7. Cara Pengolahan dan Penyajian Data

Data-data yang telah dikumpulkan, selanjutnya disajikan secara deskriptif dalam


bentuk tabel,diagram,dan narasi.
BAB IV

PROFIL PUSKESMAS MENDAHARA ILIR

4.1. Profil Komunitas Umum

Puskesmas Mendahara Ilir merupakan puskesmas induk di kecamatan Mendahara,


kabupaten Tnjung jabung Timur,provinsi Jambi. Puskesmas Mendahara Ilir telah
berdiri lama, hampir 30 tahun lenih dan menjadi bagian penting dalam pelayanan
kesehatan di masyarakat kecamatan Mendahara.

Tujuan Umum

Mewujudkan puskesmas sebagai Unit Kesehatan Mandiri di wilayah kerjanya


dalam upaya meningkatkan jangkauan pemerataan pelayanan kesehatan yang bermutu
sesuai dengan kebutuhan masyarakat.17

Tujuan Khusus

1. Tersusunnya suatu kebijakan bagi puskesmas masa depan yang sesuai dengan
perkembangan/perubahan di berbagai bidang yang terkait dengan desentralisasi.
2. Berkembangnya peran dan fungsi puskesmas berdasarkan kemitraan dengan
berbagai pihak terkait dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan dan
pemberdayaan masyarakat.
3. Dikembangkannya kemampuan puskesmas sebagai Unit Kesehatan Mandiri
dalam pemberian pelayanan kesehatan terhadap masyarakat.
4. Terselenggaranya berbagai kegiatan di puskesmas yang dapat
dipertanggungjawabkan kepada publik.
5. Meningkatkan peran dan fungsi puskesmas dalam memberi pelayanan kepada
masyarakat dengan memanfaatkan teknologi tepat guna.

Visi, Misi, dan Motto

Hal tersebut di atas sejalan dengan visi puskesmas, yaitu:


Memandirikan masyarakat Kecamatan Mendahara untuk hidup sehat.17
Misi puskesmas, antara lain:17
1. Melaksanakan pelayanan kesehatan yang berkualitas.
2. Menggerakkan masyarakat untuk hidup bersih dan sehat.
3. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan.
4. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam membangun kesehatan.
Motto puskesmas, yaitu: Puskesmas Rawat Inan Mendahara TERSENYUM
(Terdepan Sehatnya Nyaman Untuk Masyarakat Pelayanannya)17

Wilayah kerja

Wilayah kerja Puskesmas Mendahara Ilir terdiri atas tujuh desa/kelurahan, yaitu
kelurahan mendahara ilir, desa sinar kalimantan, desa sungai tawar, desa mendahara
tengah, desa merbau, desa bhakti idaman, dan desa lagan ilir.

Tabel 4.1. Wilayah Keja Puskesmas Mendahara Ilir

No. Kelurahan/Desa Pusat Desa


1. Kelurahan Mendahara Ilir Mendahara Ilir
2. Desa Sinar Kalimantan Sinar Kalimantan
3. Desa Sungai Tawar Sungai Tawar
4. Desa Mendahara Tengah Kampung Lama
5. Desa Merbau Petamit
6. Desa Bhakti Idaman Aliudin
7. Desa Lagan Ilir Lagan Ilir

4.2. Data Geografis

Pukesmas Mendahara Ilir merupakan salah satu puskesmas induk di Kecamatan


Mendahara yang terletak di sebelah utara Kabupaten Tanjung jabung Timur, dengan
luas wilayah mencakup 56,79 km2. Kecamatan Mendahara ini merupakan daeraha
dataran rendah dengan ketinggian sekitar 10 meter dari permukaan laut, juga
merupakan daerah pasang surut dan rawa. Sarana angkutan laut dan sungai cukup
berperan dalam transportasi ke desa-desa/puskesmas pembantu,poskedes,dan polindes
serta hanya terdapat satu jalur darat yang menghubungkan Kecamata Mendahara
dengan Muara sabak, ibu kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Batas wilayah kecamatan Mendahara, yaitu :

1. Sebelah utara berbatasan dengan Kuala Tungkal.

2. Sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Geragai.


3. Sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Kuala Jambi.

4. Sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Mendahara Ulu.

4.3. Data Demogafis

Kecamatan Mendahara pada tahun 2016 terdiri atas 21.780 penduduk yang tersebar
pada tujuh desa, dengan mayoritas suku etnis Bugis dan Melayu dan luas wilayah
56,79 km2. Pada tahun 2014 terdiri atas 21.817 penduduk, tahun 2013 terdiri atas
22.935 penduduk dan tahun 2012 terdiri atas 21.444 penduduk.

Sektor perekonomian di kecamatan ini sebagian besar berasal dari pertanian dan
perikanan, dengan hasil utama pertanian yaitu kelapa sawit dan buah pinang,
sedangkan hasil utama perikanan yaitu udang dan ikan asin.

Tabel 4.2. Jumlah Penduduk pada Masing-masing Desa di Kecamatan Mendahara Ilir
Tahun 2016

No. Kelurahan/Desa Luas Jumlah Penduduk (Jiwa)


Wilayah
(km2)
Laki - laki Perempuan Total
1. Mendahara Ilir 10,5 3.581 3.496 7.077
2. Sinar 6,25 6.14 5.44 1.158
Kalimantan
3. Sungai Tawar 8,53 1.349 1.280 2.629
4. Mendahara 8,75 2.284 1.614 3.898
Tengah
5. Merbau 8,25 1.440 1.392 2.832
6. Bhakti Idaman 7,30 1.330 1.244 2.574
7. Lagan Ilir 6,96 8.31 7.81 1.612
Jumah 56,79 11.429 10.351 21.780

4.4. Sumber Daya kesehatan

Menurut data laporan tahun 2016-2017, upaya kesehatan masyarakat di kecamatan


Mendahara Ilir dijalankan oleh 1 tenaga medis, yaitu 1 orang dokter umum. Yang
berada di puskesmas Mendahar Ilir, dibantu oleh 35 orang tenaga paramedis dan
bidan yang tersebar baik di puskesmas Mendahara Ilir, poskesdes Sinar Kalimantan,
puskesmas pembantu Sungai tawar, puskesmas pembantu Merbau, puskesmas
pembantu Bhakti Idaman, dan puskesmas pembantu Lagan ilir. Upaya kesehatan
masyarakat puskesmas Mendahara Ilir juga dijalan oleh petugas kesehatan lulusan
sarjana kesehatan masyarakat yang berjumlah 2 orang, bidang sanitasi yang berjumlah
2 orang, petugas farmasi berjumlah 2 orang, dan analisis berjumlah 1 orang.

Tabel 4.3. Jumalah Tenaga Kesehatan per Desa Tahun 2016-2017

No. Kelurahan/ Jumlah Tenaga Kesehatan


Desa
Medis Perawat/Bi Sanitasi Kesmas Farmasi Analis
dan
1. Mendahara 1 orang 13 orang 2 orang 2 orang 2 orang 1 orang
Ilir
2. Sinar - 1 orang - - - -
Kalimantan
3. Sungai - 4 orang - - - -
Tawar
4. Mendahara - 4 orang - - - -
Tengah
5. Merbau - 5 orang - - - -
6. Bhakti - 2 orang - - - -
Idaman
7 Lagan Ilir - 6 orang - - - -
Jumlah 1 orang 35 orang 2 orang 2 orang 2 orang 1 orang
Keterangan :

Medis : Dokter,Dokter Gigi

Perawat : Akper/Akbid/Perawat

Kesmas : Sarjana Kesahatan Masyarakat

Pada tahun 2016, upaya kesehatan masyarakat bergerak dalam bidang: 1)


kesehatan keluarga dengan sub KIA,KB,gizi,posyandu dan usila, promosi kesehatan,
UKS, BOK, dan Jamkesmas dan Askes, dan 2) pencegahan dan pemberantasan
penyakit menular (P2M). Masing-masing upaya tersebut dipegang oleh 4 orang bidan,
3 orang perawat, 2 orang lulusan sarjana kesehatan masyarakat, dan 4 orang analis.
Sedangkan upaya kesehatan perorangan bergerak dalam bidang: 1) pengobatan dan
perawatan dan 2) unit penunjang. Masing-masing upaya tersebut dipegang oleh 1
orang dokter umum, 2 orang perawat, 1 orang petugas farmasi, dan 1 orang analis.

4.5. Sarana Pelayanan kesehatan

4.5.1. Jumlah Saranan Kesehatan

Jumlah sarana kesehatan di kecamatan Mendahara Ilir pada tahun 2016-2017


dimana 1 puskesmas hanya terdapat di kelurahan Mendahara Ilir, sedangkan di desa
lain masing-masing memiliki 1 puskesmas pembantu dan 1 polindes/poskesdes,
kecuali desa Sinar kalimantan yang tidak memiliki puskesmas pembantu.

Tabel 4.4. Jumlah Sarana Kesehatan per Desa Tahun 2016-2017

No. Kelurahan/Desa Jumlah Sarana


Puskesmas Puskesmas Polindes/
Pembantu Poskesdes
1. Mendahara Ilir 1 - -
2. Sinar - - 1
Kalimantan
3. Sungai Tawar - 1` 1
4. Mendahara - 1 1
Tengah
5. Merbau - 1 3
6. Bhakti Idaman - 1 2
7 Lagan Ilir - 1 1
Jumlah 1 5 9

4.5.2. Jumlah Posyandu

Jumlah posyandu di kecamatan Mendahara Ilir tahun 2016-2017 sebanyak 25


posyandu, tergolong strata pratama sebanyak 1 posyandu, strata madya sebanyak 10
posyandu, strata purnama sebanyak 11 posyandu, dan strata mandiri sebanyak 3
posyandu.

Tabel 4.5. Jumlah Posyandu per Desa Menurut Strata Tahun 2016-2017

No. Kelurahan/Desa Puskesmas Jumlah Posyandu


Pembantu/
Polindes/
Poskesdes
Pratama Madya Purnama Mandiri
1. Mendahara Ilir 1 1 0 4 1
2. Sinar 1 0 1 1 0
Kalimantan
3. Sungai Tawar 2 0 3 1 1
4. Mendahara 2 0 0 2 1
Tengah
5. Merbau 4 0 3 1 0
6. Bhakti Idaman 3 0 2 0 0
7 Lagan Ilir 2 0 1 2 0
Jumlah 18 1 10 11 3
Tabel 4.6. Strata Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Mendahara Ilir

Kelurahan Mendahara Ilir

No. Posyandu Alamat Strata Posyandu


Posyandu
Pratama Madya Purnama Mandiri
1. Posyandu Jl. Darul
Cermai Abullah
2. Posyandu Jl. Darul
Kasih Ibu Abdullah
3. Posyandu Ros Jl.
Indah Bhayangkara
4. Posyandu Jl.
Melati Batanghari
5. Posyandu Kampung
Kenanga Baru
6. Posyandu Jl. Swadaya
Bougenville
7. Posyandu Parit 5
Kenanga

4.5.3. Upaya Kesehatan

1. Upaya promosi kesehatan

1. Rumah tangga ber-PHBS

2. Desa siaga (Poskesdes)

2. Upaya kesehatan lingkungan

1. Akses air minum berkualitas

2. Penggunaan jamban sehat

3. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

4. Tempat-tempat umum yang memenuhi syarat

5. Tempat pengolahan makan yang memenuhi syarat

3. Upaya KIA serta KB

1. Pelayanan kesehatan ibu: K1-K4, PN, KF1, penanganan komplikasi

2.Pelayanan kesehatan bayi dan anak: KN1, KN lengkap, penanganan


komplikasi,jumlah kunjungan bayi, jumlah kunjungan balita

3. Pelayanan kesehatan anak sekolah dan remaja


4. Pelayanan KB

4. Upaya perbaikan gizi masyarakat

1. Balita ditimbang berat badannya

2. Balita gizi buruk yang mendapat perawatan

3. Balita usia 6-59 bulan yang mendapatkan kapsul vit A

4. Bayi usia 0-6 bulan yang mendapatkan ASI Eksklusif

5. Ibu hamil yang mendapatkan 90 tablet Fe

6. Rumah tangga yang mengkonsumsi garam beryodium

5.P2M dan TM: TB, malaria, kusta, pelayanan imunisasi, diare, ISPA,
DBD,PMS/HIV-AIDS, rabies, filariasis dan skistosomiasis

6. Upaya pengobatan dasar

1. Pengobatan

2. Pemeriksaan Laboratorium

7. Upaya kesehatan pengembangan

1. Upaya Kesehatan Sekolah

2. Upaya Kesehatan Olahraga

3. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat

4. Upaya Kesehatan Kerja

5. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut

6. Upaya Kesehatan Jiwa

7. Upaya Kesehatan Mata

8. Upaya Kesehatan Usia Lanjut

9. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional


BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari penelitian yang telah dilakukan di Puskesmas Mendahara Ilir Kabupaten


Tanjung Jabung Timur, diperoleh data sekunder akseptor KB yang tercatat selama
bulan Januari-September 2017 berjumlah sebanyak 32 orang responden. Dari sampel
yang didapat, dibuat frekuensi karakteristik responden berdasarkan kategori variabel
independen dan hasilnya secara terperinci adalah sebagai berikut :

5.1. Jumlah Akseptor dan Prevalensi Penggunaan KB Suntik

Setelah dilakukan penelitian yang meliputi pengambilan data di Puskesmas


Mendahara Ilir didapatkan bahwa jumlah wanita yang datang ke Poliklinik Kebidanan
dan KIA dan memenuhi kriteria inklusi adalah sebanyak 32 orang. Sampel dibagi
menjadi 2 kategori yaitu akseptor KB suntik dan bukan akseptor (Non-Akseptor KB
suntik). Hasilnya dapat dilihat dalam tabel distribusi frekuensi dibawah ini :

Tabel 5.1. Jumlah Akseptor dan Prevalensi Penggunaan KB Suntik

Jumlah Persentase (%)


Akseptor KB Suntik 19 73,07
Non Akseptor KB Suntik 7 26,92
Total 26 100

Dari hasil distribusi frekuensi di atas dapat dihitung prevalensi akseptor KB suntik
sebagai berikut: Prevalensi akseptor KB suntik di Puskesmas Mendahara Ilir Tanjung
Jabung Timur = jumlah wanita usia subur yang menggunakan KB suntik : total wanita
usia subur (yang diambil sebagai sampel) x 100% = (19:26) x 100% = 73,07%

Total akseptor KB suntik di Puskesmas Mendahara Ilir Tanjung Jabung Timur


adalah sebanyak 19 orang (73,07%), sedangkan wanita usia subur yang bukan
pengguna KB suntik (non-akseptor KB suntik) adalah 7 orang (26,92%).
Prevalensi
27%

Akseptor KB Sunti
Non Akseptor KB Suntik

73%

Gambar 5.1. Prevalensi Akseptor KB Suntik

5.2. Karakteristik Akseptor KB Suntik Berdasarkan Usia

Distribusi frekuensi akseptor KB suntik berdasarkan usia, yang datang ke


Puskesmas Mendahara Ilir selama bulan Januari-September 2017 dapat dilihat pada
tabel di bawah ini :

Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Akseptor KB Suntik Berdasarkan Usia

Usia Jumlah Persentase (%)


< 35 tahun 12 63,15
35 tahun 7 36,84
Total 19 100

Berdasarkan tabel 5.2. dapat dilihat bahwa akseptor KB suntik paling banyak
terdapat pada kelompok usia kurang dari 35 tahun, yaitu sebanyak 12 orang (63,15%).
Sedangkan akseptor KB suntik yang berusia 35 tahun atau lebih berjumlah 7 orang
(36,84%).
Usia

37%

< 35 tahun
35 tahun

63%

Gambar 5.2. Distribusi Frekuensi Akseptor KB Suntik Berdasarkan Usia

5.3. Karakteristik Akseptor KB Suntik Berdasarkan Paritas

Distribusi frekuensi akseptor KB suntik berdasarkan paritas, yang datang ke


Puskesmas Mendahara Ilir bulan Januari-September 2017 dapat dilihat pada tabel
dibawah ini :

Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi Akseptor KB Suntik Berdasarkan Paritas

Paritas Jumlah Persentase (%)


2 6 31,57
>2 13 68,42
Total 19 100

Berdasarkan tabel 5.3. dapat dilihat bahwa akseptor KB suntik paling banyak
terdapat pada kelompok paritas > 2 yaitu sebanyak 13 orang (68,42%). Sedangkan
akseptor KB suntik dengan paritas 2, berjumlah 6 orang (31,57%).
Paritas
32%

2
>2

68%

Gambar 5.3. Distribusi Frekuensi Akseptor KB Suntik Berdasarkan Jumlah Paritas

5.4. Karakteristik Akseptor KB Suntik Berdasarkan Pekerjaan

Distribusi frekuensi akseptor KB suntik berdasarkan pekerjaan yang datang ke


Puskesmas Mendahara Ilir selama bulan Januari-September 2017 dapat dilihat pada
tabel di bawah ini :

Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi Akseptor KB Suntik Berdasarkan Pekerjaan

Pekerjaan Jumlah Persentase (%)


IRT 15 78,94
Non IRT 4 21,05
Total 19 100

Berdasarkan tabel 5.4. dapat dilihat bahwa akseptor KB suntik paling banyak
terdapat pada kelompok IRT yaitu sebanyak 15 orang (78,94%). Sedangkan akseptor
KB suntik pada kelompok non IRT berjumlah 4 orang (21,05%).
Pekerjaan
21%

IRT
Non IRT

79%

Gambar 5.4. Distribusi Frekuensi Akseptor KB Suntik Berdasarkan Pekerjaan

5.5. Karakteristik Akseptor KB Suntik Berdasarkan Status Ekonomi

Distribusi frekuensi akseptor KB suntik berdasarkan status ekonomi yang datang


ke Puskesmas Mendahara Ilir selama bulan Januari-September 2017 dapat dilihat
pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.5. Distribusi Frekuensi Akseptor KB Suntik Berdasarkan Status Ekonomi

Status Ekonomi Jumlah Persentase (%)


Gakin 8 42,10
Non Gakin 11 57,89
Total 19 100

Berdasarkan tabel 5.5. dapat dilihat bahwa akseptor KB suntik paling banyak
terdapat pada kelompok non gakin yaitu sebanyak 11 orang (57,89%). Sedangkan
akseptor KB suntik pada kelompok gakin berjumlah 8 orang (42,10%).
Status Ekonomi
42%

58%
Gakin
Non Gakin

Gambar 5.5. Distribusi Frekuensi Akseptor KB Suntik Berdasarkan Status Ekonomi


BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian mengenai gambaran distribusi frekuensi akseptor KB


suntik di Puskesmas Mendahara Ilir Tanjung Jabung Timur bulan Januari-September
2017 dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Prevalensi akseptor KB suntik di Puskesmas Mendahara Ilir Tanjung Jabung


Timur berjumlah 19 orang (73,07%).
2. Berdasarkan usia, akseptor KB suntik paling banyak ditemukan pada kelompok
usia < 35 tahun, yaitu 12 orang (63,15%).
3. Berdasarkan peritas, akseptor KB suntik paling banyak ditemukan pada kelompok
paritas > 2, yaitu sebanyak 13 orang (68,42%).
4. Berdasarkan pekerjaan, akseptor KB suntik paling banyak ditemukan pada
kelompok IRT, yaitu 15 orang (78,94%).
5. Berdasarkan status ekonomi, akseptor KB suntik paling banyak ditemukan pada
kelompok non gakin, yaitu 11 orang (57,89%).

6.2. Saran
Metode kontrasepsi sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik pemakainya.
Adapun beberapa hal yang perlu dilakukan agar WUS dapat menggunakan metode
kontrasepsi KB suntik yang sesuai karakteristiknya, diantaranya adalah :
1. Perlunya pengetahuan WUS tentang metode kontrasepsi yang sesuai untuk
karakteristiknya sehingga metode kontrasepsi tersebut efektif mencegah kehamilan
dan mengurangi resiko komplikasi bagi WUS.
2. Pentingnya komunikasi antra petugas medis yang ada di Puskesmas dengan WUS
agar WUS mengerti metode apa yang paling sesuai untuknya,
Keterbatasan dari penelitian ini adalah tidak ditelitinya beberapa faktor lain yang
secara teoritis juga berhubungan dengan penggunaan kontrasepsi, antara lain tingkat
pendidikan, lama pemakaian kontrasepsi, pengetahuan dan sikap mengenai
kontrasepsi (khususnya KB suntik), nilai dan persepsi mengenai jenis kelamin anak,
dan jumlah anak yang ideal. Dengan demikian, dibutuhkan penelitian lebih lanjut
dengan jumlah responden yang lebih banyak serta pengumpulan data berupa data
primer agar dapat diteliti faktor-faktor lainnya yang tidak terdapat dalam data
sekunder.
DAFTAR PUSTAKA

1. Hidayati, Ratna. (2009). Metode dan Teknik Penggunaan Alat Kontrasepsi. Jakarta :
Salemba Medika.
2. Everett.(2007). Konsep Dasar Kontrasepsi. Jakarta: Buku Kebidanan.
3. Saifudin,(2003). Macam-macam Alat Kontrasepsi. Jakarta: Buku Kebidanan.
4. Manuaba, (2008). Alat Kontrasepsi. Jakarta: Buku Kebidanan.
5. Glasier, A. & Gabbie, A. (2004). Keluarga Berencana Dan Kesehatan Reproduksi,
Jakarta:EGC.
6. Prawirohardjo, S (1999). Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta : Rineka Cipta.
7. Prawirohardjo, S (2003). Buku Acuan Nasional Pelayanan Maternal Dan Neonatal. Jakarta.
Rineka Cipta.
8. Radita K. (2009). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Jenis Kontrasepsi Yang
Digunakan Pada Pasangan Usia Subur. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Semarang.
9. Kusumaningrum, R.2009.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Jenis
Kontrasepsi. Diunduh dari
URL:http://eprints.undip.ac.id/19194/1/Radita_Kusumaningrum.pdf(Diakses pada 25
Oktober 2017).
10. Suratun,2008.Pelayanan Keluarga Berencana.Jakarta : EGC
11. Balitbang Kemenkes RI.2013.Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS.Jakarta: Balitbang
Kemenkes RI
12. BKKBN.2012 Keluarga Berencana dan Kontrasepsi.Jakarta: Pustaka Sinar harapan
13. Adhayana,L. Program KB di Indonesia. Diunduh dari
URL:http://www.scribd.com/doc/31708276/Program-KB-Di-Indonesia (diakses pada
26 oktober 2017).
14. Hartanto,H. 2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta : Pustaka Sinar
Harapan
15. Dinas Kesehatan Provinsi jambi. 2017. Profil Puskesmas Mendahara 2016. Dinas
Kesehatan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, jambi.

16. http://dwiyulianiadnan27.blogspot.com/2013/11/program-kb-di-indonesia.html (Diakses pada

26 Oktober 2017).
17. http://minirukmini.blogspot.com/2013/05/persepsi-dan-partisipasi-masyarakat.html (Diakses

pada 26 Oktober 2017).

18. http://sofiatussholeha.blogspot.com/2013/06/program-kb-di-indonesia.html (Diakses pada 26

Oktober 2017).
19. Notoatmodjo, S. (2003). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta.

20. BKKBN.2014. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.