Anda di halaman 1dari 27

URGENSI ILMU PENGETAHUAN

Pengetahuan merupakan pintu untuk membuka


disegala dimensi waktu dan ruang kehidupan, yang
menghubungankan kita dari berbagai koneksitas dunia,
luasnya cakrawala dan koleksitas dinamika dunia,
memberikan kita ruang gerak dengan elastis, sehingga dunia
memang sesuatu yang benar-benar luas dalam sudut
pandang dan persepsi kita, bukan suatu yang cupek, sempit
dan begitu banyak hal yang membatasi sehingga
menyulitkan kita dalam berfikir serta berkreasi dalam
mengukir coretan seni of life. Dalam perguruan tinggi sering
disebut dengan universitas yang mempunyai akar kata yang
sama dengan universal yang berarti mendunia, diibaratkan
kampus ialah gambaran dunia yang sebenarnya, beberapa
fakultas, jurusan dan komponen yang membangun di
dalamnya, adalah bernuansakan dunia nyata yang terdiri
dari beberapa bidang, Fakultas kehidupan mulai dari
pendidikan, ekonomi, politik, kebudayaan Dll. Sehingga
menciptakan relasi berbagai bidang untuk membangun
keharmonisan kehidupan, bukan dijadikan sebagai sekat,
dan pagar miring yang membatasi kita dalam satu bidang
saja, tanpa memperhatikan dan mempelajari bidang yang
lain, tetapi itu hanyalah sebuah pintu dari berbagai pintu
jurasan dan fakultas yang menghubungkan satu dengan
yang lain untuk membangun keharmonisan peradaban
kehidupan yang luas.
ilmu penting untuk hidup dan kehidupan kita
sebagaimana yang disabdakan oleh baginda Nabi SAW
barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia maka
hendaknya dengan ilmu barang siapa yang menginginkan
kehidupan ahirat maka hendaknya dengan ilmu barang siapa
yang menginginkan keduanya maka hendaknya dengan
ilmu, ini merupakan isyarat dari nabi bahwa ilmu adalah
kunci untuk gudang kebahagiaan dunia dan ahirat jikalau
kunci itu tidak kita miliki lalu apa daya mempunyai seribu
gudang emas tapi tak bisa untuk membukanya, maka
langkah awal ialah memiliki hal yang berkaitan antar kunci
gudang beserta elemen-elemen lainnya. Lihat nasihat Imam
Ghozali berikut ini
Mengingat kedudukannya yang penting itu, maka
menuntut ilmu adalah ibadah, memahaminya adalah wujud
takut kepada Allah, mengkajinya adalah jihad,
mengajarkannya adalah sedekah dan mengingatnya adalah
tasbih. Dengan ilmu, manusia akan mengenal Allah dan
menyembah-Nya. Dengan ilmu, mereka akan bertauhid dan
memuja-Nya. Dengan ilmu, Allah meninggikan derajat
segolongan manusia atas lainnya dan menjadikan mereka
pelopor peradaban.
Dalam kitab Sirojuttolibin, bab ilmu menepati
stasiun pembahasan yang pertama, kitab karangan syekh
ihsan jampes ini mengasumsikan bahwa ilmu yang diiringi
ibadah adalah hal yang penting dalam jalan menuju Allah.
Diibaratkan keduanya ialah mutiara indah yang berharga
dan mahal deposito dan investasinya, siapa yang tidak ingin
memilikinya? hanya anak kecil yang tak tau menau yang
enggan mendapatkan dan memilikinya. Bak Mutiara indah
selalu menawarkan perhiasan yang indah dan anggun untuk
dipakai dan penjadi penghias bagi pemakainya, keduanya
merupakan hal yang patut untuk dicari dan dimiliki, tetapi
banyak manusia yang merasakan ketenangan ditengah
kebodohan dan ketidaktauan dirinya, tak menyadari bahwa
dirinya dilahirkan dalam keadaan ketidaktauan apapun,
dalam kedungguan dan kebingungan ditengah perjalanan
kehidupan yang senantiasa selalu membutuhkan petunjuk
dan arahan. Akan Tetapi kita malah tidak menyadari semua
itu. semua berjalan sekedar hidup, yang penting hidup, dan
terus hidup, tanpa mencari apa itu hidup? apa tujuan fungsi
dia hidup? bagaimna dia tetap pada kehidupan nya??
Dalam unsur simantika kebahasaan ada yang
disebut dengan analogi atau tasybih(perumpamaan),
manusia di ibaratkan seorang musaffir yang sedang
bepergian disuatu daerah tertentu, bagi yang tau dan
mengetahui arah dan jalan maka ia akan tenang dan santai
di dalam perjalanannnya karena pengetahuannya menuntun
dia menuju tujuan yang hendak dicapai, begitu pula
sebaliknya bagi musaffir yang tidak tau jalan dan arah,
hendak kemana kaki melangkah jika taka tau arah, yang ada
adalah kebingungan dalam diri dan kegelisahan, maka solusi
terbaik adalah bertanya, mencari arah dan penunjuk jalan.
hidup bagaikan perjalanan alquran dan
sunnah rasul ialah sebagai pedoman dan petunjuk jalan
hidup, bagi yang tau dan mengerti dia akan santai dan tidak
mudah gelisah dalam menghadapi gelombang hidup dan
kehidupan, dan bagi yang tak tau isi dan makna alquran,atau
tidak bertanya orang yang kompeten dalam penunjuk jalan
kehidupan, stres demi stres akan menerpa dirinya ditengah
gelombang problematika kehidupan. ketiada tertataan,
keteraturan kehidupan, semua berlalu dengan
kesemerautan, kebingungan menjadi teman baik mengiringi
sejarah kehidupanya, lalu apakah kehidupan seperti ini yang
diharapkan, dikembangkan menjadi peradaban kebodohan
yang tak tau menau akan polemik kehidupan, kemunduran
kebudayaan yang melahirkan tunas-tunas bangsa yang tak
berpengetahuan, tanpa tau apa yang dikembangkan dalam
rangka memajukan taraf kehidupan. padanan kata
katidaktahuan yang melahirkan pandangan hidup serba
tidak termeneage inilah yang perlu dikikis habis dalam hebit
masyarakat sehingga tidak menjadi suatu ciri dan
karakteristik masyarkat yang terbelakang dalam sejarah
kehidupan, yang nantinya akan dibaca bahkan mungkin juga
dilanjutkan oleh tonggak estafet generasi peradaban yang
akan datang,
Adanya pengetahuan adalah supaya Kualitas hidup
bisa terupgreade secara real, sedangkan kualitas hidup bisa
dicapai dengan adanya suatu tindakan, yang terealisasikan
pada kehidupan, dimulai dari apa yang dia tau, berproses
menjadi suatu paradikma berfikir lalu melahirkan
pandangan hidup dan prinsip, dari sinilah kualitas diri
seseorang bisa dilihat dalam skala micro pribadi dan
peradapan masyarakat dalam skala luas sampai pada
tatanan masa depan bangsa.
Tindakan dalam cakrawala pengetahuan memiliki
beragam bentuk dan aneka aplikasinya ada yang dengan
memberikan takaran dan tindakan dengan porporsi yang
sama tapi dengan cara dan wujud pengamalan yang berbeda,
ada kalanya termanivestasikan dengan sebuah ketenagan
hati yang dipengarui dari buah pengetahuan, ketika nabi
ibrahim ditanya kenapa masih bertanya tentang kekuasaan
Allah apa kah kau masih blum percaya padaku?? tanya Allah
kepada nabi ibrahim. beliau menjawab'' tidak ya Allah tapi
untuk memberikan ketenangan keyakinan pada hati ku. yang
menjadi pertanyaan adalah apakah nabi ibrahim tidak tau
dan tidak yakin bahwa Allah kuasa terhadap sesuatu???
sudah pasti beliau tau dengan seyakin yakinnya, akan tetapi
kenapa beliau masih ingin ditunjukan akan kekuasaan Allah,
karena ketenangan hati harus dijaga relaxsitas dan
ketetapannya karena sifat dan tabiaat hati adalah dinamis
dan mudah berubah-rubah, untuk itulah kita disunnahkan
untuk membaca doa . Imam Al-
ghozali memberikan suatu diskrip tentang ilmu untuk
bersanding dengan amal, tak sayogyanya kita selalu
berupaya menambah ilmu pengetahuaan tanpa upaya untuk
memperoloh buah pengaamalan realisasi dari ilmu yang
senantiasa kita tambah disetiap waktunya.
Dalam Alquran disinggung bahwa Allah
memerintahkan kita untuk berlomba-lomba dalam
kebaikan. Disini Allah memberikan dorongan dan
memotivasi kita untuk tidak puas dengan kebaikan yang kita
lakaukan, rasa ketidakpuasan yang muncul dari apa yang
kita lakukan ataupun yang kita ketahui, sehingga muncul
continuitas dan semangat baru, maka islam adalah agama
yang mendorong dan memacu kita untuk menjadi manusia
yang berperadaban maju seiring berkembangnya zaman,
tanpa meninggalkan ruh tauhid nilai-nilai esensial relegius.
Salah kiranya jika islam adalah agama yang jumud, stagnan,
dll. Allah menuntun kita membuka fikiran dan melapangkan
hati untuk berinovasi dan berkreasi dalam menghadapi
romantika pahit, manis, asamnya kehidupan.
Apabila dikaitkan dengan waktu dan masa, usia
muda adalah masa keemasan untuk memacu semangat
didalam menperoleh pengetahuan sebanyak-banyaknya.
Sebuah maqolah dikatakan, jika engkau tak tahan lelahnya
belajar maka kau harus tahan akan pedihnya kebodohan:
(Imam Syafii) untaian mutiarah hikmah yang indah serta
mengandung makna untuk muhasabah serta refleksi akan
alpa dan salah yang sering kali kita lakukan baik secara
sadar ataupun tidak sadar akan kewajiban dan peran kita
sebagai pelajar, yakni belajar. kebanyakan kita hanya
menginginkan dan mendambangkan hasil yang memuaskan
tanpa harus bersusah paya dalam prosesnya, secara hukum
sebab akibat atau yang lebih dikenal dengan sunatullah, ada
sebab maka ada akibat, keberhasilan adalah akibat dari
suatu sebab yakni kesungguhan dan kepayahan dalam
berproses, maka jangan membayangkan kita menjadi
milyader tapi tubuh dan badan masih terbaring diatas kasur,
jangan membayangkan pula menjadi Insiyur/profesor jika
kita hanya berpangku tangan tanpa membuka buku dan
belajar. seorang guru, motivator yang mampu bicara 30
menit dalam klisifikasi waktu, menyimpan waktu berjam-
jam dalam membaca dan mengkaji, seorang pemain bola
dibutuhkan waktu ber bulan-bulan bahkan bertahun-tahun
untuk bisa lancar dalam menendang dan mendribel bola.
sebuah statement hikmah yang disampaikan imam asyafiii
adalah point penting menjadikan kepayahan dan kesusahan
dalam menuntut ilmu sebagai kendaraan untuk meraih
pelangi kesuksesan. mujahadah dan usaha adalah syarat
mutlak yang tak bisa ditawar untuk seorang mendapat ilmu
yang bermanfaat dan berkah istilah pesantren (tambahnya
kebaikan)untuk dirinya maupun orang lain.
Yang menjadi PR kehidupan saat ini adalah
membentuk kultur, prinsip hidup yang berkemajuan dalam
moral, karakter, intlektual yang semua itu dirakit dalam
kesadaran dan kecerdasan IESQ( intlektual, emotional,
spiritual quastion) individu masyarakat yang kuat dan
mendarah daging, serta menjadi bagian diri yang kuat tak
terpisahkan dari molekul diri, hingga apapun dan
seberapapun gelombang kapitalisme radikalisme,
modernisme yang datang, takkan memberikan dampak yang
signivikan dalam ast'ar (pengaruh) kapabilitas diri dan
masyarakat pada umumnya
ISTILAH KEBAHASAAN
Ilmu pengetahuan Jika dikaji secarah harfiah yang
dalam bahsa arab disebut dengan mempunyai makna
filosofis dari setiap harfiahnya yang jarang orang lain tau
dan dan dikaji menjadi sebagai suatu pengertian, huruf ain
yang hurufnya terbuka menggambarkan bahwa pencari
ilmu harus lah siap untuk menerima pengetahuan baik dari
guru maupun dalam proses membaca. kesiapan tersebut
dilihat dari berbagai aspek, kesiapan diri secara finansial
kejernihan hati dan kemauan yang kuat Dll, semua itu
merupakan langkah awal pengembara ilmu agar lebih efektif
dan efesien dalam proses pembelajaran, atau setelah proses
mampu menerapan pengetahuan yang ia dapatkan sehingga
semakin berkembang dalam metabolisme keilmuannya.
Yang kedua ialah huruf lam, ciri hurf lam ialah tinggi
menjulang keatas dalam bahasa alquran menggambarkan
orang yang berilmu yang juga diiring dengan kopleksitas
keimanan, akan diangkat derajat dan stratanya oleh Allah
SWT, setelah proses berat dan panjang yang ia lalui ketika
pengembaraan mencari ilmu. Istilah kata derjat, pangkat,
identik dengan kemuliaan gelar dan pujian dari orang lain
padahal dari rentetan kata diatas merupakan pengertian
dalam lingkup yang sempit dari arti derajat itu sendiri, jika
diperluas derajat yang sesungguhnya adalah penghargaan
dari Allah dan mahluk-mahluk laingit, begitu para malaikat
membicarakan dan penuh dercak kagum terhadap orang
dimuliakan oleh Allah, dengan senantiasa mendoakan dan
memintakan ampunan dan rahmat Allah SWT, yang
nantinya akan menumbuhkan buah kenikmatan berilmu,
ketenangan diri serta kebahagian dalam hidup dan
kehidupannya. Banyak orang yang mulia disisi manusia tapi
tidak mulia disii Allah dikarenakan proses yang dijalani
tidak memenui standarisasi ketentuan Allah, itulah mengapa
kata ilmu bersandingan dengan kata iman, dikatakan orang
berilmu dan memiliki ilmu ketika ada proses aplikatif dan
penerapan secara nyata yang berdasarkan tuntunan Allah
dan rasulnya.
ketiga ialah huruf mim, huruf mim berbentuk
simpul ikatan dalam permulaan penulisannya pada bagian
atas, apa maknanya? Bahwa sesungguhnya orang yang
benar-benar memiliki ilmu pengetahuan ialah yang selalu
mengikat dirinya dengan kerendahan hati dan andap asor
(tawadu)terhadap orang lain, tidak menyombongkan diri
dari apa yang ada didalam dirinya terhadap orang lain. Sama
halnya Huruf mim yang menutup mulut ketika
pengucapannya tanpa harokat, orang yang berilmu dia
senantiasa tidak begitu banyak kata dalam berbicara yang
tidak mengandung unsur positif, dia selalu menjaga dirinya
dari banyak hal yang mengandung unsur negatif
KERANGKA DAN LANGKAH MENITI PENGETAHUAN
Relasi ilmu dengan islam sesungguhnya adalah
suatu yang amat diperhatikan dalam nilai ajarannya, ihwal
ini dibuktikan dengan wahyu pertama yang turun yaitu iqro
bacalah, dalam relaksitas keilmuan, ayat ini adalah ayat
revolusi ilmiah, karena ayat ini turun ketika zaman
peradaban berkemajuaan yang masalah kemanusiaan
menjadi hal diabaikan dan tidak diperhatikan, itulah
mengapa zaman sebelum datangnya ajaran islam yang
dibawah nabi muhammad disebut zaman jahiliyah yaitu
zaman kebodohan, bukan hanya bodoh dari aspek
intlektualitas dan pemikiran melainkan dari moral dan
integritas masyarakatnya yang juga kurang berperadaban.
dalam lanjutan ayat, menggambarkan
pembelajaran yang berdasarkan nilai-nilai keagamaan,
bukan hanya mengadalkan rasio dan akalnya semata tapi
mengikutsertakan hati nurani dan nilai-nilai keislaman,
mencantumkan keduanya merupakan sesuatu yang
fundamentalis tidak bisa ditiggal agar menjadi pemahaman
yang utuh dan selaras dengan dasar-dasar pokok
keagamaan.
Itulah sebabnya sebelum menuntut ilmu, Imam al-
Ghazali mengarahkan agar para pelajar membersihkan
jiwanya dari akhlak tercela. Sebab ilmu merupakan ibadah
kalbu dan salah satu bentuk pendekatan batin kepada Allah.
Sebagaimana shalat itu tidak sah kecuali dengan
membersihkan diri dari hadas dan kotoran, demikian pula
ilmu pengtahuan sebagai pembangun kalbu, akan selalu
gagal jika berbagai perilaku buruk dan akhlak tercela tidak
dibersihkan. Sebab kalbu yang sehat akan menjamin
keselamatan manusia, sedangkan kalbu yang sakit akan
menjerumuskannya pada kehancuran yang abadi.
Penyakit kalbu diawali dengan ketidaktahuan
tentang Sang Khalik (al-jahlu billah), dan bertambah parah
dengan mengikuti hawa nafsu. Sedangkan kalbu yang sehat
diawali dengan mengenal Allah (ma'rifatullah), dan
vitaminnya adalah mengendalikan nafsu. (lihat al-munqidz
min al-dhalal).
Semestinya seorang intlektualis yang
mengembangkan pengetahuan dan keilmuannya dengan
rasio dan pemikirannya, harus di kontrol dengan hubungan
pendekatan ketuhanan yang baik, juga pemahaman
relegiusitas yang baik pula, karena Allah memberikan beban
taklifi, berupa nilai dan kewajiban sesuai dan pasti
mengandung unsur maslahah yang menebarkan kebaikan
dalam kehidupan, hal ini disebabkan keterbatasan
kemampuan manusia dalam mengungkap banyak hal
dengan rasio yang dimilikinya, sehebat apapun kemampuan
IQ seseorang, pasti ada hal yang tidak akan mampu ia
dapatkan dan kuasai dalam prosentase logika, karena
banyak hal pula sebenarnya tidak mampu di jangkau oleh
akal, seperti pencipaan/menciptakan bumi dan langit yang
berdiri kokoh tanpa tiang, lalu informasi tentang hari ahir,
siksa kubur, surga neraka, akal hanya dapat menjelaskan
dengan anologi dan membenarkan, peristiwa metafisis ini,
masuk dalam wilayah rububiyah(ketuhanan), dalam
bukunya wawasan Alquran Prof. Dr. Qurais sihab
berpendapat bahwa Allah mengenalkan dirinya kepada
manusia akan keesaannya dan kekuasaanya salah satunya
adalah dengan dalil-dalil logika (alghosiah 17-21). Ayat
ayat diatas menggambarkan kekuasaan tuhan yang amat
luas sehingga kadang kala tidak sampai untuk berbuat
serupa, tetapi banyak ayat pula memerintahkan supaya kita
mempelajari memberikan dalil logika akan pembenaran
kekuasaan Allah dengan segala bentuk fregmentasi
kekuasaannya, agar bertambah pula keyakinan dan
keimanan melekat kuat dalam hati kita.
Disisnilah fungsi akal sebagai dalil (aqli) dengan
memberikan anolagi dan asosiasi atas kebenaran wahyu
Allah SWT. Dan Allah sendiri sebenarnya tidak hanya
memberi kita batasan dan perintah semata melainkan
memenyikapi manusia sebagai mahluk yang mempunyai
alat yang canggih yang dinamakan akal. sehingga dalam
banyak hal pula tuhan mengajak kita berdiskusi, agar
manusia memperoses pikirannya mengambil keputusannya
sendiri seraya mentadabburi kekuasaan tuhan, apakah ini
baik dan sesuai dengan rambu-rambu agama ataukah tidak,
ada proses dimana kita diberi kesempatan untuk berfikir
dengan akal sehat dan menghayati dengan hati nurani,
dalam banyak realitas kejadiaan ketika hendak melakukan
apapun kita disuruh mengfungsikan akal sebagai anugrah
dan pemberian tuhan yang memiliki kapabilitas dan kualitas
yang luar biasa, patut kita syukuri dangan menggunakan
sesuai fungsi dan tujuan penciptaannya.
Ada kata-kata menarik "ketidaktahuan adalah hal
dasar yang membuat orang resah dan gelisah, maka
beruntunglah orang yang selalu sadar akan
ketidaktahuannya maka ia akan selalu berupaya dan
berusaha untuk merubah kesenjangan kebodohan menuju
peradaban keilmuan yang disandarkan pada Imtaq dan
Ipteq. Menarik pula untuk direnungkan bahwa kerancauan
dan kesalahan yang kita lakukan berawal dari ketidaktauan
kita, seorang anak kecil yang memakai pisau unuk bermain
dan ahirnya berdarah karena pisau tersebut, disebabkan
kitidaktahuaan anak tersebut dalam menggunakannya,
Motivator muslim terkenal almarhum Dr. Ibrahim
Fiqi menuliskan illustrasi yang menarik dan mudah dicerna.
diceritakan kembali dengan beberapa penambahan dan
penekanan gaya tulis khas Dr Kh Imam Mawardi: " Ada lelaki
setengah tua yang terburu-buru masuk ke sebuah toko
untuk membeli sesuatuvyang urgen atas permintaan
isterinya. Pagi sekali saat itu. Sesampainya di toko, bergegas
dia membuka pintu toko. Didorongnya pintu itu, namun
ternyata tak bisa terbuka. Semakin kuat dia mendorong,
pintupun tak bisa dibuka. Sekuat uratnya didorong,
pintupun tetap tak terbuka. Dia berpikir barangkali pintu itu
masih terkunci. Lalu, datanglah anak muda yang juga akan
membeli sesuatu di toko itu. Sesampainya di pintu toko,
ditariklah gagang pintu ke arah luar dan terbukalah pintu
dengan mudah dan ringan." Lelaki setengah tua yang otot
tangan dan kakinya bak susunan kabel listrik itu tertunduk
malu dan bertanya kepada pemuda itu mengapa kok mudah
membuka pintu itu. Pemuda itu berkata bahwa tulisan di
pintu itu adalah "TARIK" bukan "DORONG." Sekuat apapun
mendorong tak akan terbuka. Rupanya, lelaki tua itu tak
punya pengetahuan dan pengalaman. akan baca tulis.
Diawali ketidaktahuaan itulah muncullah sesuatu
problema yang mungkin akan kita hadapi, dari suatu
kasalahan yang melahirkan adanya polemik secara individu
ataupun sosial, apalagi dalam sesuatu yang besar dan
urgent, disinilah letak fungsional ilmu pengetahuaan yang
beragam bidang dan sisi kehidupannya, sesuai kebutuhan
perjalannan hidup kita mana yang kita harus memilah dan
memilih, Ada sebuah istilah

tau banyak di banyak hal #


tau sedikit dibanyak hal#
tau banyak di sedikit hal#
tau sedikit disedikit hal pula,
Apa artinya bahwa orang yang selalu dibutuhkan banyak
orang ialah dia yang tau banyak hal dalam suatu tertentu
tetapi dia juga mengasaai banyak hal dibidang yang lain,
orang seperti ini yang dia mempunyai spesifikasi dalam satu
bidang akan tetapi dia juga mengasai dibidang-bidang yang
lain. Atau kedua orang yang dibutuhkan orang lain dalam
bidang tertentu, tetapi tidak mahir dalam bidang yang lain
seperti seorang arsitektur yang dia akan dibutuhkan ketika
ada proyek suatu pembangunan saja, dikarenakan dia tidak
mahir dalam bidang yang lain maka ia adalah orang yang tau
banyak disedikit hal. Ketiga Ada pula yang dia tidak
dibutuhkan sama sekali dikarenakan dia tidak tau dan mahir
dalam suatu hal apapun, orang seperti ini yang dinamakan
dengan tau sedikit dihal tertentu, juga sedikit di hal yang
lain. Ada pula yang keempat tau sedikit dalam banyak
bidang-bidang kehidupan, orang yang seperti ini yang dia
tidak ada spesifkasi bidang tertentu akan tetapi dia tau
banyak pada bidang-bidang yang lain, disinilah kita harus
mengetahui spesifikasi seseorang dalam bidang tetentu,
karenanya jangan sampai kita salah bertanya kepada
seseorang yang bukan bidangnya, dalam alquran disebutkan
,
Senada dengan apa yang disampaikan mas sabrang
dalam acara bangbang wetan, bahwa kita diberikan pilihan
apakah kita menjadi pribadi muslim yang menikmati
keimanan sebagai numatul udma dengan diiringi dengan
sebuah ilmu pengetahuan ataukah menikmati keimanan
tanpa diiringi pengetahuan dan keilmuaan?, itu semua
merupakan pilihan kemana kita akan memilih menikmati
keberagaman kita dihiasi dengan keilmuan dan keilmiahan
ataukah menyakini dan mengamalkan agama tanpa
dilandasi absorsing pengetahuan, manfaat gerakan sholat
dari aspek kesehatan tubuh misalkan, bagian inilah
mengetahui ilmunya diiringi bukti keilmiahannya, akan
tetapi ada sisi dimana keberagaman kita harus diberangi
dengan ilmu seperti sholat, kita harus tau syarat dan
rukunnya, berbeda jika berhubungan dalam bidang akidah
dan keyakinan iman, yang terpenting ialah keyakinan yang
kuat yang mengakar lalu di aplikasikan dalam kehidupan
nyata, tanpa harus dan wajib tau tentang bukti ontektik
keilmiaannya. akan lebih baik lagi bila diperkuat dengan
anologi dan dasar berfikir yang baik supaya konstanta
keimanan tidak mudah goyah dinamisasi perubahan zaman,
maka kita sebagai pribadi mumin dan muslim yang baik
dengan selalu berupaya belajar akan menambah keimanan
dari knowledge dan hasil olah pikir yang kita tau, sebab ada
banyak ayat dalam Alquran yang menyeruh kita untuk
belajar, berfikir, meneliti Dll. Dalam surat Almujadalah ayat
11 menjelaskan bahwa Allah akan mengangkat derajat
orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Dalam Tafsir
Qurtubi disebutkan bahwa derajat pertama ialah orang yang
beriman dan derajat kedua ialah orang yang berilmu yang
diiringi dengan amaliyah ilmuannya,
Dalam dunia akademisi Ada sistem informasi dan
informasi, sistem informasi merupakan rangkain informasi
yang belum diketahui kebenarannya, hal ini menuntut kita
mencari, meramu, informasi yang kita peroleh menjadi
racikan matang untuk bisa dikatakan informasi, Imam
Alghozali sang Hujjatul Islam dalam kitabnya Almunqidu
Mina Adholal, kitab yang bermakna Pelepas Dari Kesesatan
menjelaskan tentang banyak orang yang tersesat dalam
kesesatannya, tau didalam ketidak tahuannya, disebabkan
bahwa apa yang kita tahu ternyata belum tentu sepenuhnya
tau akan kebenaran yang komperhensip, hakiki dan utuh.
Dalam istilah orang jawa apa yang kita tau, masih ngambang
atau magak. Karena mengetahui dengan sebenar benarnya
tau merupakan suatu hal yang realistis agar apa yang kita
tau dan yang kita mengerti memang suutu kebenaran yang
bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya, ketika banyak
orang berkata bahwa 3 lebih besar dari pada 10 maka dia
yakin dengan sebenar-benarnya keyakinan bahwa itu
adalah tidak benar, karena dia tau dengan pengtahuannya
bahwa 10 lebih besar dari pada 3 Maka tau dengan hakikat
mengetahui yang sesungguhnya adalah sesuatu yang riskan
yang harus di milki oleh setiap insan pribadi.
Dimensi Waktu Dalam Pencariaan
Ilmu Pengetahuan
Belajar memang tak mengenal ukuran usia, dan seberapa
banyak pengetahun yang kita dapatkan. Digambarkan dalam
kisah tentang Sulthanul Ulama Imam Abdul Aziz bin Abdus
Salam as-Sulami; Abu Muhammad Izzuddin. Beliau seorang
imam, qadhi, ahli fikih dan usul fikih, bermazhab Syafii, ahli
tafsir dan bahasa, zuhud, dan sangat giat beramar maruf dan
nahi mungkar melebihi ulama di zamannya. Pengembaraan
ilmunya dimulai ketika sudah berusia lanjut. Imam
Taqiyyuddin as-Subki berkata, Mulanya Syekh Izzuddin
hidup dalam keadaan sangat miskin. Beliau baru mulai
belajar ketika sudah berusia dewasa. Faktor yang membuat
beliau tergerak untuk belajar adalah pernah suatu hari
beliau tidur malam di pintu bagian utara Masjid Umawi di
Damaskus. Cuaca malam itu sangat dingin sekali, lantas
beliau bermimpi basah (junub). Dengan segera beliau
bangun dan pergi ke sumur untuk mandi. Setelah mandi,
beliau merasa sangat kedinginan. Kemudian beliau kembali
lagi tidur dan bermimpi basah lagi. Akhirnya pergi lagi ke
sumur untuk mandi. Karena pintu masjid saat itu tertutup
dan tidak memungkinkannya keluar, maka beliau memanjat
pintu. Namun akhirnya beliau pingsan lantaran kedinginan.
Hal itu terjadi karena beliau tidak mengetahui bahwa
sebenarnya beliau diperbolehkan untuk tidak mandi dan
menggantinya dengan tayamum ketika musim dingin dan
tidak ada air hangat. Ketika beliau mengetahui hal itu, beliau
bertekad untuk mulai mencari ilmu. Hasilnya? Beliau
menjadi pimpinan para ulama di Mesir dan Syam, bahkan
pimpinan seluruh ulama di zamannya.
Angan-angan logis saya adalah ketika lanjut usia saja
bisa menjadi sekaliber Izuudin Assubki, apalagi masa
melanial dimana kesempatan untuk mendapatkan
pengetahuan mempunyai spectrum (nilai) lebih besar dan
kouta lebih banyak dari standar ukuran yang Allah berikan,
yakni masa muda. Tentunya tidak semua orang yang telah
lanjut usia mampu seperti beliau, tetapi paling tidak akan
muncul Izuddin-Izuddin baru apabila semangat belajar
yang ditumbuhkan sama seperti Syekh Izzudin ketika
belajar dimasa tuanya, konsekuensi realnya ialah masa
muda inilah masa keemasan mengukir masa depan
secemerlang mungkin, dirimu yang saat ini adalah dirimu
yang akan mendatang, sikapmu saat ini adalah sikap yang
akan menjadi sesuatu dimasa mendatang, jika sekarang
dipenuhi kesungguhan dan optimisme, esok akan menatap
masa depan penuh dengan kepercayaan diri sebagai hasil
dari kesungguhan yang kita lakukan, entah menjadi
maradona baru dikehidupan yang akan datang ataukah
menjadi sampah kehidupan yang semua orang ingin jauh
darinya, tak ingin mendekatinya, tak ingin pula untuk
memilikinya. Hanya lalat penabur penyakit yang mau
hinggap dan singgah.
Usia muda bisa dibilang adalah masa yang labil, yakni
masa penemuan jati diri yang sebenarnya karena seringkali
kita dibingungkan akan pilihan pernak pernik kehidupan
dan kemegahannya, kebingugan dalam memilih menjadikan
kita tak tau mana yang perlu diperioritaskan, atau
disibukkan oleh hal-hal yang tidak menjadi prioritas utama,
justru hal pertama dan utama yang seharusnya kita
prioritaskan sering kali kita lalai menjalankan dan
meletakakannya dalam gerbang utama kehidupan kita.
Maka memperioritaskan hal yang utama adalah tindakan
terbaik dalam meletakkan sesuatu yang tepat. Dalam usia
emas ini, kita belum mendapatkan beban pikiran dan
tanggung jawab yang bervariasi serta beranekaragam,
hanya tanggung jawab mengatur diri dan memeneage diri
supaya kian hari kian menjadi baik, disitulah peluang untuk
memperoleh khazanah keilmuan sedalam-dalamnya untuk
mempersiapkan dan mengarungi bahtera kehidupan di
kemudian hari dan yang akan datang.
Syair Al imam As Syafi'i -rohimahullaah- :

..
Barangsiapa yang tidak belajar di waktu mudanya
Bertakbirlah 4x atas kematiannya

Kematian adalah suatu yang lebih baik untuk dan bagi


orang yang masa mudanya tidak digunakan dalam
pengembaraan mencari ilmu, jika dipandang dari sisi
kesempatan dan kelonggaran waktu, kesibukan dan lain
sebagainya, kemapamanan inilah yang sesungguhnya sangat
disayangkan jika tersia-sia begitu saja, tanpa mempunyai
nilai, daya guna dan kualitas serta evektivitas waktu. para
orang tua sesepuh sering berujar dengan ungkapan dari
berbagai pernyataan yang menunjukan adanya penyesalan
di masa lampau beliau berkata "le seng temenan olehe gelek
ilmu mumpung sek nom" versi jawa, versi
arab. Bahwa perasaan penyesalan sesungguhnya bukan
pada ketika kita sedang dan akan berproses, melainkan
puncak dan ujung setelah proses panjang yang kita alami,
para pujangga hikmah berkata "jikalau penyesalan datang di
awal waktu maka tiada lagi malas dan suka menunda
beraada dalam diri setiap orang.
Kesempatan, peluang dan waktu dalam kesungguhan
kita adalah hal yang urgent dalam kehidupan, yang tanpa
kita sadari merupakan sesuatu yang berharga, yang tak
setiap orang memilikinya, terutama jangan sampai
melalaikan apalagi menyia-nyiakan ruang kososng
kesempatan menggapai ilmu dan pengetahuan setinggi-
tingginya dan sebanyak-banyaknya, hal ini akan menyeret
kita pada penyesalan diujung cerita. Senada dengan apa
yang disampaikan abu hurairah suatu ketika beliau, ditanya
oleh seorang muridnya, dia adalah seorang tabiin yang
berguru kepada Abu Hurairah, suatu ketika beliau ditanya
Apa tiada lebih baik saya tidak mencari ilmu dari pada saya
mempunyai ilmu tetapi tidak kuamalkan, bukankah itu
menyia-nyiakan ilmu?? beliau menjawab, Sesungguhnya
dengan ketiadaanmu mencari ilmu justru membuat dirimu
telah menyia-nyiakan ilmu tersebut".
Oreantasi Pengetahuan
:

Imam Muhammad Ali Attrmidi berkata: ilmu yang


bermanfaat (fungsional) ialah pengetahuan yang berpakem,
menetap dalam hati dan bisa bisa memberikan gambaran
(yang terdiskripsikan)


Melihat memandang dan memahami petuah yang
disampaikan oleh Syekh Ali diatas, bahwa ilmu sendiri itu
adalah sebuah alat dalam organizing perangkat kehidupan
yang membantu memberikan kontribusi dalam peranan
subjek manusia sebagai wakil tuhan dibumi, sehingga ilmu
sendiri bukanlah titik fokus utama dalam realitas dan
posisioningnya. Bukan pula segalanya, artinya dia (ilmu)
adalah pengatur jalannya kehidupan, petunjuk arah dalam
perjalannan kehidupan, jadi kita tidak akan tau jalan tujuan
yang hendak kita capai, takkan pula kita sampai pada tujuan
utama tanpa alat petunjuk tersebut. Ibarat dalam dunia
kedokteran adalah sebuah resep untuk sipasien dalam
keperawatannya ditengah kesakitan yang dideranya,
fungsionalisasi dari obat sendiri bukanlah faktor penentu
dan faktor X untuk sehat dan sembuhnya pasien, tetapi dia
adalah hanya sebagai pelantara untuk membantu
tercapainya tujuan utama dari sakit yakni sembuh, relasi
dalam kajian ketasawufan, semua fan ilmu yang ada, baik
kemanfaatannya berlaku untuk sekarang kehidupan dunia
itu membantu menjalankan peran sebagai representasi dari
wakil Allah SWT pengatur bumi, oleh karenanya apa yang
ada dan terjadi hendaknya kita cari Kandungan uraian
hikmah pengetahuannya, untuk mengasosiasikan berbagai
pengetahuan menuju oreantasi ahir yakni Allah SWT
Untuk memahami teks kajian keagamaan, fiqih tafsir
hadits dan keilmuan-keilmuan lainya goalnya tidak lain ialah
untuk memahami pesan-pesan apa yang sebenarnya ingin
disampaikan dan dimaksudkan Allah SWT, muaranya juga
adalah kembali pada Allah itu sendiri, apapun jenis
pengetahuan yang dimiliki ketika tak sampai pada
kedekatannya pada tuhan, maka sebenarnya ia tlah
mengingkari fitrah tujuan pengetahuan yang sebenarnya.
Fisika saint dan teknologi adalah ilmu yang berguna
untuk memudahkan aktivitas manusia, namun perlu diingat
pula bahwa memudahkan manusia itu juga merupakan
sebagai tujuan terealisasinya keteraturan alam dengan
teknologi, akan tetapi dia juga sebagai alat untuk
menghargai mengagungi akan penciptaanya dan menyadari
akan kekuasaan dan kebesaran sang pencipta, pada
realitanya hal ini berbanding terbalik dalam dunia
matrealisme dan kapitalisme, Ketika seseorang mempelajari
ilmu-ilmu kedokteran, kelautan, tehnik, komputer dan ilmu-
ilmu fardhu kifayah lainnya, mereka memfokuskan niatnya
pada nilai-nilai ekonomi, sosial, budaya, politik, atau tujuan
pragmatis sesaat lainnya. Perlu digaris bawahi pada
dasarnya semua intu dipelajarinya dalam rangka
meningkatkan keimanan dan bermuara pada pengabdian
pada Sang Pencipta.
Disoreantasi pendidikan saat ini diawali dengan
hilangnya integritas nilai-nilai ta'dib dalam pendidikan
(sekularisasi). Sekularisasi dalam dunia pendidikan berjalan
dengan dua hal: (a) menempatkan ilmu-ilmu fardhu 'ain
yang dianggap tidak menghasilkan nilai ekonomi dalam
skala prioritas terakhir, atau dihapus sama sekali. Sehingga
mahasiswa kedokteran misalnya, tidak perlu dikenalkan
pelajaran-pelajaran berkaitan mengenai ketuhanan. (b)
mengutamakan pencapaian-pencapaian formalitas
akademik. Sehingga keberhasilan seorang pelajar hanya
ditentukan dari hasil nilai ujian yang menjadi ukuran
pencapaian ilmu dan keberhasilan sebuah lembaga
pendidikan.
Bahasa ringannya ilmu pengetahuan adalah alat dari
sebuah alat untuk memperoleh purpose yang haqiqi, begitu
pun ilmu keagamaan dan teks kewahyuaan, selain
memahami dan mendalami harus punya pencapaain akan
akurasi kedekatan dengan sang pemilik pesan itu sendiri,
sehingga memberikan dampak efek yang nyata pada hati
yang memancarkan sinar kebaikan tindakan, tutur dan
tingkah berlaku secara etika moral moril, hingga ahirnya
kita menjadi pribadi yang tidak melanggar titah
penciptaannya dalam skala peran sebagai mahluk sosial dan
mahluk tuhan.
Selanjutnya dalam (Ihya' 'Ulumiddin) beliau
menjelaskan makna nasehat kaum bijak pandai bahwa
Kami mempelajari ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itu
pun enggan kecuali harus diniatkan untuk Allah', berarti
bahwa "Ilmu itu tidak mau membuka hakekat dirinya pada
kami, namun yang sampai kepada kami hanyalah lafaz-
lafaznya dan definisinya".

Rusaknya dunia pendidikan terjadi ketika ilmu


diletakkan secara salah sebagai sarana untuk mengejar
syahwat duniawi. Padahal Ali bin Abi Talib r.a., telah
mengingatkan: "Barang siapa yang kecenderungannya
hanya pada apa yang masuk kedalam perutnya, maka
nilainya tidak lebih baik dari apa yang keluar dari perutnya".
Ustad Abu Hasan Assyadli pernah menyampaikan
terkait unsur penting ilmu pengetahuaan.

# #
Hasilnya ilmu diperoleh dengan sungguh-sungguh
nilai manfaatnya dengan ridho(kerelaan)
dan keberkahannya dengan khidmah(pelayanan)

Tiga entri point penting yang patut di perhatikan


difahami dan dimaknai oleh para pencari ilmu, ke 3 nya
mempunyai muara yang sama, tetapi memiliki garis
signivikasi yang berbeda. Hasil, manfaat, dan keberkahan
adanya sama-sama menjadi oatput yang nantinya akan
menjadi hasil dan akibat dari proses sebab yang dilakukan
yakni sungguh-sungguh, kerelaan "ridho" guru orang tua
dan segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu, serta
pelayanan atau"khdmah, ibarat gaya dorong semakin besar
intensitas dorongan yang diberikan semakin besar dan jauh
pula perpindahan benda dari tempat semula, begitupun 3
rumusan diatas, hasil yang dirasakan semakin besar
manakala dorongan proses sebelumnya juga besar dan
terpenuhi unsurnya sehingga berakibat positif pada hasil
ahir yang diperoleh.
Pertama sebuah kesungguhan akan terealisasikan
mana kala terpenuhinya syarat yang ditempu dalam sebuah
usaha, seorang anak tak akan bisa bersepeda kalau tidak
berulang kali memperhatikan menimbang dan
memposisikan pola bersepeda yang baik dan benar, lalu
mencoba bahkan jatuh bangunpun harus dirasakan supaya
ia dapat belajar dari langkah-langkah kesalahan yang telah
dilaluinya, kesungguhan ini lebih ceanderung dan lebih
besar pada ruang IQ meskipun SQ dan EQ juga harus
terdeviasi didalamnya. Sebab memberikan presisi,
ketepatan, empiris, dan rasio lebih dominan untuk
memperoleh hasil yang baik benar dan obyektif.
Kedua berbeda dengan upaya mendapat "ridho" sebuah
kerelaan dan ketulusan akan terpaut satu dengan lainnya
ketika adanya keterkaitan emosional question EQ yang
saling memberi dan merasa energi positif didalam hati. baik
kerelaan itu bersember dari pengajar sebagai transfer
knowledengane atau pelajar sebagai recaiving knowlodge
ataupun orang yang terkait dalam proses pendidikan
sebagai suporting education.
Ketiga sedangkan" khidmah" pelayanan loyality akan
terrealitas secara nyata bisa berawal dari sikap rela
sehingga ada sebuah tindakan nyata dari sebuah kerelaan.
dimungkinkan pula dari adanya pelayanan kepada guru atau
pun orang lain sehingga menimbulkan saling rela merela
antara unsur yang terbangun didalamnya, dalam domain ini
SQ sangat dijunjung dan menjadi pemompa untuk
membentuk sebuah pelayanan yang ihlas dan senang hati
ataupun sebuah pelayanan menebar kebaikan pada orang
lain yang akan menumbuhkembangkan jiwa spiritual kita.
Sebuah azaz rasa kebaikan, tidak dirugikan, dan saling
memberi kebaikan inilah yang akan menimbulkan sebuah
spirit sosial yang kuat dan menbentuk kemaslahatan
bersama.
Ada anggapan bahwa orang itu pintar tetapi nasibnya
kurang mujur atau baik itu lebih baik orang yang tidak
begitu pintar tapi mujur, anggapan diatas ada sisi benarnya
tetapi kurang adil pula rasanya pada sudut pandang yang
lain, sebab jika melihat sudut pandang (tri amulasi) dawuh
Ustad Abu Hassan Assyadli diatas, orang yang pintar
mungkin ia tinggi prosentase kesungguhannya tetapi lemah
dalam pencapaian ridho dan pelayanannya sehingga akibat
kemafaatan dan nilai kebaikannya kurang terrealisaskan
dalam kehidupan, begitupun orang yang mungkin dianggap
penting dan punya presius nilai guna dan manfaat dimata
orang lain, dia unggul dalam kerhidoan dan loyalitynya
sehingga ia tertuangkan kemanfaatannya, tetapi mungkin
lemah upaya dan usahanya dalam proses pembelajaranya.
Komprehensifitas memadang menjadi penting untuk
memforsir persepsi yang berat sebelah, karena pada
dasarnya orang belajar itu supaya mendapat hasil keilmuan
yang diperolehnya, sehingga dari kesungguahnya orang lain
mendapat kemnafaatan dan kebaikan sampai pada taraf
"barokah" bertambahnya nilai kebaikan yang dapat dirasa
secara pribadi ataupun masyarakat secara luas.