Anda di halaman 1dari 54

KEPERAWATAN MEDIKAL

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KANKER


PANKREAS

MAKALAH

Oleh
Kelompok 4

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2017
KEPERAWATAN MEDIKAL
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KANKER
PANKREAS

MAKALAH
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal dengan dosen
pengampu: Ns. Mulia Hakam, M.Kep., Sp.Kep.MB.

Oleh:
Kelompok 4
Amanda Rizky F NIM 152310101102
Husnita Faradiba NIM 152310101106
Rohmatun Nazila NIM 152310101111
Qothrun Nada Arifin NIM 152310101214
Hendra Pranata NIM 152310101216
Larasati Setyo P NIM 152310101218
Nunung Ratna Sari NIM 152310101219
Alvin Ferdian P NIM 152310101224
Firmanditya Ayu F NIM 152310101250
Widya Ningtyas NIM 152310101305
Efi Kusdian NIM 152310101308
Siti Amalliatul Kh NIM 152310101349
Kelas D

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2017

2
PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan YME yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini yang berjudul Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Kanker
Pankreas. Penulisan makalah ini bertujuan untuk melakukan pengkajian lebih
dalam mengenai konsep dasar penyakit kanker pankreas dan asuhan keperawatan
pada klien dengan kanker pankreas.
Makalah ini dapat terselesaikan berkat bantuan serta motivasi dari berbagai
pihak. Sebab demikian tak lupa penulis haturkan ucapan terima kasih kepada:
1. Ns. Mulia Hakam, M.Kep.,Sp.Kep.MB. selaku dosen pengampu mata
kuliah Keperawatan Medikal sekaligus pembimbing dalam penyusunan
makalah ini.
2. Kedua orang tua dan semua pihak yang telah bekerjasama serta
mendukung realisasi makalah ini.
3. teman-teman yang telah memberi dorongan dan semangat;
4. semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam proses
kegiatan belajar mengajar untuk semua kalangan. Penulis menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis menerima kritik
dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini.

Jember, Oktober 2017

Penulis

3
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL ii

PRAKATA iii

DAFTAR ISI iv

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Tujuan Umum

1.3.2 Tujuan Khusus

1.4 Manfaat Penulisan

1.4.1 Bagi Mahasiswa

1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan

1.4.3 Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan

1.4.4 Bagi Masyarakat

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

2.2 Epidemiologi

2.3 Etiologi

2.4 Klasifikasi

2.5 Patofisiologi

4
2.6 Manifestasi Klinis

2.7 Pemeriksaan Penunjang

2.8 Penatalaksanaan Medis

2.9 Proses Asuhan Keperawatan secara teoritis

BAB III. APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Ilustrasi Kasus

3.2 Pengkajian

3.3 Analisa Data

3.4 Pathway

3.5 Diagnosa Keperawatan

3.6 Intervensi Keperawatan

3.7 Implementasi Keperawatan

3.7 Evaluasi Keperawatan

BAB IV. PENUTUP

4.1 Kesimpulan

4.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

5
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Tumor pankrease adalahtumor yang berasal dari jaringan eksokrin dan
endokrin pankreas. Berdasarkan histopatologinya, tumor pankreas dibagi menjadi
tumor jinak dan tumor ganas. Menurut klasifikasi WHO tumor primer eksokrin
pankreas dibagi menjadi 3 bagian yaitu jinak, borderline, dan ganas. Tumor
eksokrin pankreas pada umumnya berasal dari sel duktus dan sel asiner. Sekitar
90% tumor pankreas merupakan tumor ganas jenis adenokarsinoma duktus
pankreas atau yang disingkat kanker pankreas
Kanker pankreas menduduki peringkat ke-12 kanker yang paling sering di
dunia dengan 338.000 kasus baru didiagnosa pada tahun 2012. Prevalensi pasien
kanker pankreas di dunia yang bertahan hidup selama lima tahun adalah 4.1 per
100.000. Kanker ini bersifat fatal dan merupakan penyebab kematian ketujuh dari
kanker.
Kanker pankreas jarang terjadi pada usia <40 tahun dan sering terjadi pada
usia 60-80 tahun dan lebih sering ditemukan pada pria dibandingkan wanita
dengan perbandingan 1,2 1,5 : 1. Insiden kanker pankrease adalah 1-10 kasus
per 100.000 dan umumnya meningkat pada negara-negara berkembang
Di Amerika Serikat, kanker pankreas masuk dalam peringkat keempat
penyebab kematian setelah kanker paru, prostat, dan kolorektal. Pada tahun 2008
insidensi kanker pankreas di Amerika Serikat adalah 37.700 kasus dan 34.300
diantaranya meninggal karena penyakit ini. Survival rate penderita kanker
pankreas yang bertahan selama lima tahun < 5%
Di Indonesia, kanker pankreas tidak jarang ditemukan dan merupakan tumor
ganas ketiga terbanyak pada pria setelah tumor paru dan tumor kolon. Insidensi
tertinggi terjadi pada usia 50-60 tahun. Namun, data kepustakaan kanker pankreas
di Indonesia masih sangat sedikit.
Penyebab sebenarnya kanker pankreas masih belum jelas. Penelitian
epidemiologi menunjukkan adanya hubungan kanker pankreas dengan beberapa
faktor eksogen (lingkungan) dan faktor endogen pasien. Faktor eksogen meliputi
kebiasaan merokok, diet tinggi lemak, alkohol, kopi, zat karsinogen industri dan

6
faktor endogen yaitu usia, penyakit pankreas (pankreatitis kronik dan diabetes
mellitus) dan mutasi genetik.
Hampir 60-70% kanker pankreas lokasinya di kaput pankreas, 20-25% berada
di korpus dan kauda pankreas. Simptom dan gejala klinisnya berhubungan dengan
lokasi kanker. Manifestasi yang paling sering dikeluhkan pasien yaitu, nyeri
abdomen, berat badan menurun, asthenia, anoreksia, dan juga ikterus yang.
Sekitar 50% pasien kanker pankreas memiliki penyakit diabetes. Pesien dengan
lesi di kaput pankreas biasanya terjadi peningkatan bilirubin dan alkalin fosfat.
Pemeriksaan laboratorium rutin biasanya normal dan tumor marker yang
dilakukan adalah CEA dan CA 19-9. Dimana biasanya terjadinya peningkatan
pada kedua tumor marker tersebut. Tumor marker Ca 19-9 biasanya paling banyak
digunakan karena mempunyai sensitivitas dan spesivitas tinggi (80% dan 60-
70%).
Kanker pankreas merupakan tumor yang membahayakan yang terjadi dalam
waktu yang lama dan berkembang cepat sebelum menunjukkan gejala klinis.
Mayoritas penderita kanker pankreas awalnya tidak menunjukkan gejala yang
spesifik sehingga sering terlambat didiagnosis, akibatnya pasien datang dengan
keadaan stadium lanjut dan termasuk salah satu kanker yang prognosisnya paling
buruk.
Zaman sekarang masyarakat tidak lagi makan-makanan yang alami seperti
singkong, daun-daunan serta rempah-rempahan. Adanya makanan modern junk
food yang mengandung bahan pewarna, pengawet dan perasa yang tidak lagi
alami membuat sel-sel yang tidak semestinya tumbuh, tumbuh secara cepat yang
dapat merusak organ yang ditempatinya. Sel-sel ini tidak berfungsi bagi tubuh,
bahkan membahayakan tubuh. Sel-sel tersebut bernama kanker. Dalam makalah
ini penulis akan membahas tentang kanker pankreas yaitu kanker yang dimulai
dari pakreas. Jika tidak segera diatasi, kanker ini tumbuh menjalar ke organ lain
dan dapat merusaknya. Oleh sebab itu kita sebagai tenaga kesehatan perlu
pencegahan untuk diri kita agar dapat terhindar dari kanker, diantaranya yaitu
dengan menjaga pola hidup sehat dan olahraga yang cukup serta melakukan
penyuluhan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pencegahan penyakit

7
tersebut. ( Dapus : Brunner & Suddarths. (2000) Textbook of Medical Nursing.
4th ed Philadelphia: Lipponcot)

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan diatas, maka rumusan
masalah yang dapat diuraikan adalah apa itu kanker pankrease, anatomi kanker
pankrease dan epidemiologi, klasifikasi, manifestasi klinik dan lain sebagainya
yang bersangkutan dengan kanker pankreas.

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui konsep dasar dari kanker pankreas dan asuhan
keperawatan pada klien dengan kanker pankreas

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui definisi dari kanker pankreas.
2. Untuk mengetahui epidemiologi dari kanker pankreas.
3. Untuk mengetahui etiologi dari kanker pankreas.
4. Untuk mengetahui klasifikasi dari kanker pankreas.
5. Untuk mengetahui patofisiologi dari kanker pankreas.
6. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari kanker pankreas.
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari kanker pankreas.
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan medis dari kanker pankreas.
9. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan kanker
pankreas mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi
keperawatan, implementasi keperawatan, dan evaluasi keperawatan.

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1 Bagi Penulis
1) Memperoleh pengalaman belajar dan pengetahuan.
2) Mengamalkan ilmu pengetahuan yang telah di peroleh dari proses
perkuliahan.
3) Mengembangkan minat dan kemampuan.

8
1.4.2 Bagi Instuti Pendidikan
Pembuatan makalah ini dapat dijadikan sebagai data dasar bagi peneliti lain
untuk mengembangkan lebih lanjut penelitian mengenai kanker pankreas.

1.4.3 Bagi Mahasiswa


Mahasiswa dapat memahami konsep dasar dari kanker pankreas dan
bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan pada klien dengan kanker
pankreas sehingga nantinya dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat
pada klien dengan kanker pankreas serta ntuk menambah pengetahuan dan
pemahaman tentang kanker pankreas dalam proses belajar di semester V ini.

1.4.4 Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan


Tenaga kesehatan khususnya perawat dapat menjadikan makalah ini
sebagai referensi untuk menambah wawasan mengenai konsep dasar kanker
pankreas dan asuhan keperawatan pada klien dengan kanker pankreas, sehingga
diharapkan dapat meningkatkan kualitas pemberian asuhan keperawatan pada
klien dengan kanker pankreas.

1.4.5 Bagi Masyarakat


Penulisan makalah ini dapat memberikan informasi dan meningkatkan
pengetahuan masyarakat mengenai kanker pankreas, sehingga diharapkan dapat
meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat untuk selalu menjaga kesehatan
tubuh.

9
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi

Pankreas merupakan suatu organ berupa kelenjar dengan panjang dan tebal
sekitar 12,5 cm dan tebal + 2,5 cm (pada manusia). Pankreas terbentang dari atas
sampai ke lengkungan besar dari perut dan biasanya dihuungkan oleh dua saluran
ke duodenum (usus 12 jari ), terletak pada dinding posterior abdomen dibelakang
peritoneum sehingga termasuk organ retroperitoneal kecuali bagian kecil
caudanya yang terletak dalam ligament lienorenalis. Strukturnya lunak dan
berlobulus.

1. Bagian Pankreas
Pancreas dapat dibagi kedalam:
a. Caput Pancreatis
Berbentuk seperti cakram dan terletak di dalam bagain cekung
duodenum. Sebagian caput meluas dikiri dibelakang arteri dan vena
mesenterica superior serta dinamakan processus uncinatus.
b. Collum Pancreatis

10
Merupakan bagian pancreas yang mengecil dan menghubungkan caput
dengan corpus pancreas. Collum pancreatic terletak di depan pangkal
vena portae hepatis dan tempat dipercabangkannya arteria mesenterica
superior dari aorta.
c. Corpus Pancreatis
Berjalan ke atas dan kiri, menyilang pada garis tengah. Pada potongan
melintang sedikit berbentuk segitiga.
d. Cauda Pancreatis

Berjalan ke depan menuju ligamentum lienorenalis dan mengadakan


hubungan dengan hilum lienale.

2. Hubungan

a. Ke kantor : dari kanan ke kiri: colon transversum dan perlekatan


mesocolon transversum, bursa omentalis, dang aster.

b. Ke posterior : dari kanan ke kiri : ductus choledochus, vena portae


hepatis dan vena lienalis, vena cava inferior, aorta, pangkal arteria
mesenterica superior, musculus psoas major sinistra, glandula
suprarenalis sinistra, rensinister, dan hilum lienale.

3. Vaskularisasi

a. Arteriae

A.pancreaticoduodenalis superior (cabang A gastroduodenalis)

A.pancreaticoduodenalis inferior(cabang A mesenterica cranialis)


A.pancreaticoduodenalis magna dan A.pancretica caudalis dan inferior
cabang A.lienalis
b. Venae
Venae yang sesuai dengan arteriaenya mengalirkan darah ke sistem porta.
4. Aliran Limfatik
Limfa berukuran kira-kira sebesar kepalan tangan dan terletak tepat dibawah
hemidiagfragma kiri selain pleura yang memisahkan dari kosta ke-9, ke-10,
dank e-11. Kelenjar limfe terletak di sepanjang arteria yang mendarahi

11
kelenjar. Pembuluh eferen akhirnya mengalir cairan limfe ke nadi limfe
coeliaci dan mesenterica superiors.
5. Inervasi
Berasal dari serabut-serabut saraf simpatis (ganglion seliaca) dan
parasimpatis (Vagus).
6. Ductus Pancreaticus
a. Ductus Pancreaticus Mayor (Wirsungi)
Mulai dari cauda dan berjalan di sepanjang kelenjar menuju ke caput,
menerima banyak cabang pada perjalanannya. Duktus ini bermuara ke
parsdesendens duodenum disekitar pertengahan yang bergabung dengan
ductusholedochus membentuk papilla duodeni mayor vateri. Kadang-
kadang muara duktus pancreaticus di duodenum terpisah dari duktus
choledochus.
b. Ductus Pancreaticus Minor (Santorini)
Mengalirkan getah pancreas dari bagian atas caput pancreas dan
kemudian bermuara ke duodenum sedikit di atas muara duktus
pancreaticus pada papilla duodeni minor.
c. Ductus Choleochus et Ductus Pancreaticus
Ductus Choleochus bersama dengan duktus pankreaticus bermuara
kedalam suatu rongga, yaitu ampulla hepatopancreatica (pada kuda).
Ampulla ini terdapat di dalam suatu tonjolan tunica mukosa duodenum,
yaitu papilla duodeni major. Pada ujung papilla itu terdapat muara
ampulla.

2.2 Definisi

12
Pancreas adalah suatu alat tubuh yang agak panjang terletak
retroperitoneal dalam abdomen bagian atas, di depan vertebrae lumbalis I dan II.
Kepala pancreas terletak dekat kepala duodenum, sedangkan ekornya sampai ke
lien. Pancreas pendapat darah dari arteri lienalis dan arteri masentrika superior.
Duktus pankreatikus bersatu dengan duktus koledukus dan masuk ke duodenum,
pancreas menghasilkan dua kelenjar yaitu kelenjar endokrin dan kelenjar
eksokrin.( Syifuddin, 2011)

Pancreas adalah kelenjar majemuk bertandan, strukturnya sangat mirip


dengan kelenjar ludah. Panjangnya kira-kira lima belas sentimeter, mulai dari
duodenum sampai limpa, dan dilukiskan sebagai terdiri atas tiga bagian. (Evelyn,
2009)
Kanker Pankreas merupakan tumor ganas yang berasal dari sel-sel yang
melapisi saluran pankreas. Sekitar 95% tumor ganas pankreas merupakan
Adenokarsinoma. Tumor-tumor ini lebih sering terjadi pada laki-laki dan agak
lebih sering menyerang orang kulit hitam. Tumor ini jarang terjadi sebelum usia
50 tahun dan rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada penderita yang berumur 55
tahun. (Brunner & Suddarth, 2001).

Kanker pankreas terjadi ketika sel-sel di dalam pankreas mengembangkan


mutasi genetik. Mutasi ini menyebabkan sel tumbuh tak terkendali dan terus hidup
setelah sel normal akan mati. Sel-sel ini terakumulasi hingga membentuk tumor
(benjolan).

2.3 Epidemiologi
Kanker pankreas menduduki peringkat ke-12 kanker yang paling sering
terjadi di dunia dengan 338.000 kasus baru dengan diagnosa pada tahun 2012.
Prevalensi pasien kanker pankreas di dunia yang bertahan hidup selama lima
tahun adalah 4.1 per 100.000. Kanker ini bersifat fatal dan merupakan penyebab
kematian ketujuh dari kanker. Kanker pankreas jarang terjadi pada usia < 40 tahun
dan sering terjadi pada usia 60-80 tahun dan lebih sering ditemukan pada pria
dibandingkan wanita dengan perbandingan 1,2-1,5 : 1. Insidensi kanker pankreas
adalah 1-10 kasus per 100.000 dan umumnya meningkat pada negara-negara
berkembang.

13
Di Amerika Serikat, kanker pankreas masuk dalam peringkat keempat
penyebab kematian setelah kanker paru, prostat, dan kolorektal. Pada tahun 2008
insidensi kanker pankreas di Amerika Serikat adalah 37.700 kasus dan 34.300
diantaranya meninggal karena penyakit ini. Survival rate penderita kanker
pankreas yang bertahan selama lima tahun < 5%. Di Indonesia, kanker pankreas
tidak jarang ditemukan dan merupakan tumor ganas ketiga terbanyak pada pria
setelah tumor paru dan tumor kolon. Insidensi tertinggi terjadi pada usia 50-60
tahun. Namun, data kepustakaan kanker pankreas di Indonesia masih sangat
sedikit.

2.4 Klasifikasi
Klasifikasi kanker pancreas terdiri dari :
TX : Tumor primer tidak di temukan
T1 : Tidak ada bukti tumor primer
Tis : Karsinoma in situ
T1 : Diameter terbesar tumor < 2 cm, terbatas dalam pancreas
T2 : Diameter terbesar tumor >2 cm, terbatas dalam pancreas
T3 : Tumor langsung menginvasi duodenum, duktusbiliaris, gaster,
limpa, kolon, dan jaringan sekitarnya, tapi belum mengenai
trunkusseliak atau vena mesenterium superior.
T4 : Tumor mengenai trunkusseliak atau vena mesentrium superior.

Kelenjar limfe regional (N)


NX : Kelenjar limfe regional tidak dapat ditemukan
N0 : Tidak ada metastasis kelenjar limfe regional
N1 : Terdapat metastasis kelenjar limfe regional
Pn1a : Terdapat metastasis satu kelenjar limfe regional
Pn1b : Terdapat metastasis multipe kelenjar limfe regional

Metastasis jauh (M)


MX : Metastasis jauh tidak dapat ditemukan
M0 : Tidak ada metastasis jauh
M1 : Terdapat metastasis jauh

14
Klasifikasi stadium
Stadium 0 : Tis, N0, M0
Stadium IA : T1, N0, M0
Stadium 1B : T2, N0, M0
Stadium IIA : T3, N0, M0
Stadium IIB : T1-3, N1, M0
Stadium III : T4, N apapun, M0
Stadium IV : T apapun, N apapun, M1

Ada tahap perkembangan tumor, yang diadopsi oleh pusat kanker ahli
untuk diagnosis dan pengobatan kenyamanan. Klasifikasi kanker pancreas
memiliki empat tahap. Fase nol ditandai dengan pembelahan sel dalam satu
lapisan. Neoplasma adalah mustahil untuk membedakan tubuh tidak bereaksi,
gejala-gejala absen. Dengan langkah berikutnya (untuk umum klasifikasi)
penyakit menjadi dikenali, didiagnosis, dioperasi. Beberapa tahap perkembanagn
tumor:

1. Kanker pancreas pada tahap 1 tumor

Pada tahap ini kurang dari dua sentimeter dengan diameter. Tingkat kanker
pancreas proyeksi pertama dan kedua memiliki tingkat kelangsungan hidup
tertinggi. Penyakit ini diakui pada saat belum bergerak diluar local ekor,
kepala atau tubuh kelenjar. Semua jenis transaksi yang diperbolehkan, pilih
jenis tertentu dari dokter, perawatan yang rumit, bersama-sama dengan gaya
hidup sehat memungkinkan hidup yang panjang.
2. Kanker pancreas
Pada tahap 2 kelenjar getah bening yang sudah terluka, tubuh perbatasan
( tidak ada metastasis) toksisitas diminimalkan.Tahap ini cocok untuk
pengobatan bedah:
a.reseksi dengan radioterapi dan kemoterapi

b. pancreatectomy distal ( badan dan ekor dihapus) atau total ( seluruh


tubuh bersama-sama dengan kepala)

15
c.Whipple operasi - bagian dari organ tetangga dan limfauzlov

Dari jumlah pasien dengan diagnosis ini ( termasuk tumor kepala) hanya
setengah angka kematian beroperasi adalah 10 - 2%, dan tingkat
kelangsungan hidup lima tahun diproyeksikan 30%.tingkat kelangsungan
hidup menggandakan saja pasca operasi dari 5-FU.
3. Kanker pancreas
Pada langkah 3 terapi sitokin( tidak ada efek toksik) digunakan sebagai
pengganti kemoterapi, yang efisiensi mencapai 2/3.Paramedis menyiapkan
obat dua gen di-IFN dan TNF-T, sidang terakhir di Institut Onkologi, St
Petersburg.Mereka menjalankan mekanisme merusak diri sendiri dalam sel
yang sakit sementara meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang sehat.
Saraf dan pembuluh dalam 3 langkah terkena penyakit, tapi tumor tidak
beralih ke organ yang berdekatan.Menurut klasifikasi penyakit mengacu
serius, banyak operasi yang penuh dengan diabetes parah, mengurangi
kualitas hidup ( reseksi duodenum, getah bening dan limpa ectomy).operasi
paliatif mendominasi jenis pembersih saluran empedu atau shunt
itu.Shunting menghilangkan operasi diulang setelah satu tahun ( satu dari
lima kebutuhan pasien).Kemoterapi mengurangi tumor ( sementara), durasi
hidup meningkat.kombinasi perlakuan memperpanjang hidup selama satu
tahun, untuk mencegah metastasis, menghambat pusat neoplasma.
4. Kanker pankreas
Tahap terakhir ( dalam klasifikasi umum) ditandai dengan pertumbuhan sel
yang tidak terkendali ( terkontrol) dari organ.Keracunan organisme diamati
maksimal, penyakit ini sepenuhnya diluncurkan.Menyembuhkan langkah 4
diambil beberapa klinik, paru-paru mencapai pendidikan yang
fatal( melanoma, multiple myeloma), tulang, otak, hati.Ukuran tumor bisa
setiap periode kehidupan tahap terakhir tidak lebih dari lima tahun.

Pengobatan hanya meningkatkan mood, mengurangi nyeri, tanpa seumur


hidup berkurang drastis ke bulan.Tingkat kelangsungan hidup kanker pankreas
langkah 4 di bawah ini langkah-langkah aktif 4% meningkat tiga kali lipat, di
antaranya adalah: operasi Whipple( memotong limfauzlov, empedu, bagian perut,

16
kepala pankreas, duodenum).Strentiruyut dikeringkan atau saluran
empedu( jarang shunt), menerima kemoterapi dengan 5-fluorouracil, carboplatin,
Campto, Gemzar.

2.5 Etiologi
1. Faktor Resiko Eksogen
Merupakan adenoma yang jinak dan adenokarsinoma yang ganas yang berasal
dari sel parenkim (asiner atau sel duktal) dan tumor kistik. Yang termasuk
factor resiko eksogen adalah makanan tinggi lemak dan kolesterol, pecandu
alkohol, perokok, orang yang suka mengkonsumsi kopi, dan beberapa zat
karsinogen.
2. Faktor Resiko Endogen
Contohnya : Penyakit DM, pankreatitis kronik, kalsifikasi pankreas
(masih belum jelas,). Penyebaran kanker/tumor dapat langsung ke
organ di sekitarnya atau melalui pembuluh darah kelenjar getah
bening. Lebih sering ke hati, peritoneum, dan paru. Tapi agak jarang
pada adrenal, Lambung, duodenum, limpa. Kolestasis Ekstrahepatal.
Kanker di kaput pankreas lebih banyak menimbulkan sumbatan pada
saluran empedu disebut Tumor akan masuk dan menginfiltrasi
duodenum sehingga terjadi perdarahan di duodenum. Kanker yang
letaknya di korpus dan kauda akan lebih sering mengalami metastasis
ke hati, bisa juga ke limpa.

2. 6 Manifestasi Klinis

Penyakit kanker pankreas dapat tumbuh pada setiap bagian pankreas, yaitu
pada bagian kaput, korpus atau kauda dengan menimbulkan gejala klinis yang
bervariasi menurut lokasi lesinya dan bagaiman pulau langerhans yang
mensekresikan insulin.Tumor yang berasal dari kaput pankreas yang merupakan
lokasi paling sering akan memberikan gambaran klinik tersendiri. Dalam
kenyataannya, karsinoma pankreas memiliki angka keberhasilan hidup 5 tahunan,
paling rendah bila dibandingkan dengan karsinoma lainnya. (Tjokronegoro,

2001). Gejala awal kanker pankreas tidak spesifik dan samar, sering

17
terabaikan baik oleh pasien maupun dokter sehingga sering terlambat didiagnosis.
Tanda klinis pasien kanker pankreas tergantung pada letak tumordan perluasan
atau stadium kanker (Padmomartono,2009).
Menurut Tjokronegoro, 2001 & Baughman & Hackley 2000, tanda dan
gejala kanker pancreas yaitu:

1. Nyeri pada abdomen khususnya di epigastrium. Rasa sakit dan nyeri tekan
pada abdomen yang juga disertai nyeri pada punggung, terjadi akibat iritasi
dan edema pada pankreas sehingga timbul rangsangan pada ujung-ujung
saraf.
2. Ikterus obstruktif, dijumpai pada 80-90% kanker kaput pankreas karena
obstruksi saluran empedu oleh tumor dan dapat berkembang hanya jika
penyakitnya sudah tahap lanjut. Kadang-kadang timbul perdarahan
gastrointestinal yang terjadi akibat erosi pada duodenum yang disebabkan
oleh tumor pankreas.
3. Penurunan berat badan yang cepat banyak dan progresif
4. Gangguan rasa nyaman menyebar sebagai rasa nyeri yang menjengkelkan ke
bagian tengah punggung dan tidak berhubungan dengan postur tubuh
maupun aktivitassinoma pankreas.
5. Awitan gejala-gejala dari defisiensi insulin: glukosuria, hiperglikemia, dan
toleransi glukosa abnormal; diabetes mungkin merupakan tanda dini dari
karsinoma.

2.7 Pemeriksaan Penunjang

Deteksi awal kanker pankreas sulit untuk dilakukan dikarenakan tanda dan
gejala klinis yang tidak spesifik. Akibatnya tidak ada program skrining yang
direkomendasikan pada populasi. Namun, pasien yang berisiko tinggi secara
signifikan meningkat 18 kali terhadap kejadian kanker pancreas. Skrining pada
individu berisiko tinggi sangat penting meskipun masih kontroversi dalam
beberapa aspek. Penelitian skrining pada kelompok yang berisiko tinggi
menunjukkan lesi preinvasif pankreas pada beberapa pasien. Penelitian Canto et
all, menskrining 225 pasien asimptomatik dengan risiko tinggi dengan
menggunakan CT, MRI, dan Endoscopic Ultrasonography (EUS).Dari penelitian

18
tersebut dijumpai massa pankreas ataupun dilatasi duktus pankreas (Padmortono,
2009).
1. Laboratorium
Pada pasien kanker pankreas terdapat kenaikan serum lipase, amylase, dan
glukosa. Anemia dan hipoalbuminemia yang timbul sering disebabkan karena
penyakit kankernya dan nutrisi yang kurang. Pasien dengan ikterus obstruktif
terdapat kenaikan bilirubin serum terutama bilirubin terkonjugasi (direk), alkali
fosfatase, waktu protrombin memanjang, bilirubinuria positif. Kelainan
laboratorium lain adalah berhubungan dengan komplikasi kanker pankreas, antara
lain : kelainan transaminase akibat metastasis hati yang luas, tinja berwarna hitam
akibat perdarahan saluran cerna atas, steatorea akibat malabsorbsi lemak, dan
sebagainya.
2. Tumor marker CEA- dan Ca 19-9
Pada 85% pasien kanker pankreas dijumpai kenaikan CEA (carcioembryonic
antigen), namun hal ini juga dijumpai pada 65% pasien kanker lain dan penyakit
jinak. CEA adalah HMW-glycoprotein yang umumnya ditemukan pada jaringan
fetus. Biasanya digunakan sebagai tumor marker di keganasan gastrointestinal lain
namun mempunyai kegunaan yang minimal untuk karsinoma pankreas. Nilai
normal CEA kurang dari atau sama dengan 2,5 mg/ml. Universitas Sumatera
Utara 18 hanya 40-45% pasien dengan kanker pankreas mempunyai nilai CEA
yang meningkat. Tumor marker Ca 19-9 (carbohydrate antigen 19-9) adalah yang
paling banyak digunakan dan dianggap yang paling baik untuk diagnosis kanker
pankreas karena mempunyai sensitivitas dan spesivitas tinggi (80% dan 60-70%).
Ca 19-9 adalah antibody monoclonal yang awalnya dibuat untuk mendeteksi sel
kanker kolorektal. Ca 19-9 tidak dibuat dari sel darah merah namun diabsorbsi di
permukaan sel darah merah setelah diproduksi. Angka normal kadar Ca 19-9
adalah kurang dari 33-37 U/ml. Evaluasi serum level Ca 19-9 digunakan sebagai
tambahan disamping radiologi untuk mengetahui apakah suatu tumor dapat
direseksi atau tidak. Konsentrasi yang tinggi biasanya terdapat pada pasien
dengan besar tumor 3 dan merupakan batas limit reseksi tumor. Ca 19-9 juga
meningkat pada pankreatitis, hepatitis, dan sirosis. Berdasarkan American Society
of Clinical Oncology (ASCO) menyatakan bahwa Ca 19-9 harusnya tidak

19
digunakan untuk skrining kanker pankreas dikarenakan peningkatan yang salah
(false-positive) atau false normal (false-negative). Ca 19-9 mempunyai peranan
penting untuk mengetahui prognosis dan respon terapi pada pasien setelah
mendapat terapi reseksi dan kemoterapi.
3. Radiografi ( Gastroduodenografi, duodenografi hipotonis)
Pemeriksaan ini digunakan untuk mendeteksi kelainan lengkungan
duodenum akibat kanker pankreas. Kelainan yang dijumpai pada kanker pankreas
dapat berupa pelebaran lengkung duodenum, filling defect pada bagian kedua
duodenum (infiltrasi kanker pada dinding duodenum), bentuk angka 3 terbalik
karena pendorongan kanker pankreas yang besar pada duodenum di atas dan
dibawah papilla Vateri
4. Ultrasonografi (USG) USG dapat mengetahui besar, letak, karakteristik tumor,
diameter saluran empedu, duktus pankreatikus, dan letak obstruktif. Dengan USG
Doppler dapat Universitas Sumatera Utara 19 ditentukan ada tidaknya kelainan
dan invasi tumor pada pembuluh darah.
5. Computed Tomography (CT) CT dapat mendeteksi lesi pankreas pada 80%
kasus. Pemeriksaan yang paling baik untuk mendiagnosis dan menentukan
stadium kanker pankreas adalah dengan dual phase multidetector CT dengan
kontras dan teknik irisan tipis (3-5 mm).
6. Magnetic Resonance Imaging (MRI) Digunakan untuk evaluasi kanker
pankreas.Walaupun kemampuan evaluasi kanker pankreas dengan dual phase
multidetector CT. MRI dengan kontras angiografi atau venografidapat
menunjukkan adanya kelainan pembuluh darah pada kanker pancreas.
7. Endoscopic Retrogade Cholangio-Pancreaticography (ERCP)
ERCP dapat mengetahui atau menyingkirkan adanya kelainan
gastroduodenum dan ampula Vateri, pencitraan saluran empedu dan pankreas,
dapat dilakukan pemasangan stent untuk membebaskan sumbatan saluran empedu
pada kanker pankreas yang tidak dapat dioperasi atau direseksi. MRCP dilakukan
untuk menentukan perbandingan tanpa obstruksi bilier dan tempat obstruksi,
penyebab obstruktif memiliki keuntungan jelas, dan Endoscopic Retrograde
Cholangiopancreatography (ERCP), empedu transhepatik saluran pencitraan alat
invasif, dan lebih aman.

20
2.8 Penatalaksanaan

Prosedur pembedahan adalah ekstensif untuk mengangkat tumor setempat


yang dapat direseksi. Tindakan bedah yang harus dilakukan biasanya cukup luas
jika ingin mengangkat tumor terlokalisir yang masih dapat direseksi. Namun
demikian, terapi bedah yaitu Definitive (eksisi total lesi), Tidak dapat dilakukan
karena pertumbuhan yang sudah begitu luas. Eksisi total pada lesi sering tidak
dapat terlihat karena pertumbuhan ekstensif ketika lesi terdiagnosa dan
kemungkinan telah bermetastasis dengan luas terutama ke hepar, paru-paru dan
tulang. Tindakan bedah tersebut sering terbatas pada tindakan paliatif. Meskipun
tumor pankreas mungkin resisten terhadap terapi radiasi standar, pasien dapat
diterapi dengan radioterapi dan kemoterapi (Fluorourasil, 5-FU) . jika pasien
menjalani pembedahan, terapi radiasi introperatif (IORT = Intraoperatif Radiation
Theraphy) dapat dilakukan untuk memberikan radiasi dosis tinggi pada jaringan
tumor dengan cedera yang minimal pada jaringan lain serta dapat mengurangi
nyeri pada terapi radiasi tersebut. (Brunner & Suddarth, 2002)

2.9 Patofisiologi

Menurut Riyadi, Sujono, 2013 pada umumnya tumor meluas ke


Retroperitoneal ke belakang pankreas, melapisi dan melekat pada pembuluh
darah. Secara mikroskopik terdapat infiltrasi di jaringan lemak peripankreas,
saluran limfe, dan perineural. Pada stadium lanjut, kanker kaput pancreas sering
bermetastasis ke duodenum, lambung, peritoneum, hati dan kandung empedu.
Kanker pancreas pada bagian badan dan ekor pancreas dapat metastasis ke hati,
peritoneum, limpa, lambung dan kelenjar adrenal kiri. Karsinoma di kaput
pancreas sering menimbulkan sumbatan pada saluran empedu sehingga terjadi
kolestasis ekstra-hepatal. Disamping itu akan mendesak dan menginfiltrasi
duodenum, sehingga dapat menimbulkan peradangan di duodenum. Karsinoma
yang letaknya di korpus dan kaudal, lebih sering mengalami metastasis ke hati
dan ke limpa.
Konsumsi alcohol, infeksi bakteri/virus akan serta faktor-faktor yang
beresiko mengakibatkan edema pada pancreas (terutama daerah ampula vater).

21
Edema pada ampulla akan berakibat aliran balik getah empedu dari duktus
koledokus ke dalam duktus pankreatikus. Dengan demikian didalam pancreas
akan terjadi peningkatan kadar enzim yang mengakibatkan peradangan pada
pancreas. Proses peradangan ini kalau ditumpangi mikroorganisme maka akan
berakibat terbawanya toksik kedalam darah yang merangsang hipotalamus untuk
meningkatkan ambang suhu tubuh (muncul panas). Adanya refluks enzim akan
meningkatkan volume enzim dan distensi pada pancreas yang merangsang
reseptor nyeri yang dapat dijalarkan ke daerah abdomen dan punggung. Kondisi
ini memunculkan adanya keluhan nyeri hebat pada abdomen yang menjalar
sampai punggung. Distensi pada pancreas yang melampaui beban akan
berdampak pada penekanan dinding duktus dan pancreas serta pembuluh darah
pancreas. Pembuluh darah dapat mengalami cidera bahkan sampai rusak sehingga
darah dapat keluar dan menumpuk pada pancreas atau jaringan sekitar yang
berakibat pada ekimosis pinggang dan umbilicus.
Kerusakan yang terjadi pada pancreas secara sistemik dapat meningkatkan
respon asam lambung sehingga salah satu pertahanan untuk mengurangi tingkat
kerusakan. Akan tetapi kelebihan ini justru akan merangsang respon gaster untuk
meningkatkan ritmik kontraksinya yang dapat meningkatkan rasa mual dan
muntah. Mual akan berdampak pada penurunan intake cairan sedangkan muntah
akan berdampak peningkatkan pengeluaran cairan tubuh. Dua kondisi ini
menurunkan volume dan komposisi cairan tubuh yang secara otomatis akan
menurunkan volume darah. Penurunan volume darah inilah yang secara klinis
akan berakibat hipotensi pada penderita. Penurunan volume darah berkontribusi
pada penurunan pengikatan oksigen dan penyediaan nutrisi bagi sel sehingga
terjadi penurunan perfusi sel termasuk otak. Kondisi seperti inilah yang dapat
menimbulkan agitasi pada penderita. Ditambah lagi mual akan menurunkan
komposisi kalsium darah yang berdampak pada penurunan eksitasi system
persarafan. (Riyadi, Sujono, 2013)

22
PATHWAY

23
24
2.10.1 Pengkajian

1. Identitas.

Umumnya manusia mengalami perubahan fisologi secara drastic


menurun dengan cepat setelah usia 40 tahun. Akan tetapi kasus kanker
pankreas tidak banyak dikaitkan umur tetapi lebih banyak dikaitkan
kebiasaan mengkonsumsi alcohol dan merokok.

2. Pendidikan dan Pekerjaan.

Pada orang dengan pendapatan tinggi dan rentan stress. Cenderung


untuk mengkonsumsi makanan cepat saji dan minum minuman yang
banyak mengandung alcohol sebagai pelarian untuk mengurangi stress
psikologinya. Oleh karena itu penyakit ini biasanya banyak dialami oleh
anak pejabat, kontraktor, pekerja biasa dengan gaji lembur yang tinggi dan
pekerja dengan nilai agama yang rendah.

3. Riwayat Kesehatan
Keluhan utama.
Nyeri pada abdomen yag hebat khususnya pada epigastrium. Rasa
sakit dan nyeri tekan pada abdomen yang juga disertai nyeri pada
punggung
Riwayat penyakit sekarang
Nyeri pada abdomen yag hebat khususnya pada epigastrium dan
ikterus
Riwayat kesehatan dahulu.
Perokok, peminum alkohol, DM.

4. Pengkajian Pola Gordon


a. Aktifitas/Istirahat
Gejala: Kelemahan dan atau keletihan. Perubahan pada pola
istirahat & jam kebiasaan tidur pada malam hari, adanya faktor-faktor
yang mempeiatan. Pekerjaan mempengaruhi tidur, mis nyeri, ansietas,
berkeringat malam, serta Keterbatasan partisipasi dalam melakukan
kegiatan. Pekerjaan dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat
stress tinggi.
b. Sirkulasi
Gejala: Palpitasi, nyeri dada pada pengerahan kerja.
Kebiasaan : Perubahan pada TD
c. Integritas Ego
Gejala : Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan
cara mengatasi stress, mis: merokok, minum alkohol,
keyakinan/religious. Masalah tentang perubahan dalam penampilan,

25
mis : lesi cacat, alopesia, pembedahan. Menyangkal diagnosis,
perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bermakna, rasa
bersalah, kehilangan control, serta depresi.
Tanda : Menyangkal, menarik diri, marah
d. Cairan/Makanan
Gejala :
Kebiasaan diet buruk (mis: rendah serat, tinggi lemak,
aditif, bahan pengawet).
Anoreksia, mual/muntah
Intoleransi makanan
Perubahan pada BB: penurunan BB hebat, berkurangnya
massa otot.
Tanda : Perubahan pada kelembaban / turgor kulit, mis
edema.
e. Nyeri/Kenyamanan
Gejala: Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi mis:
ketidaknyamanan ringan sampai nyeri berat.
f. Pernapasan
Gejala : Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang
yang merokok)
g. Keamanan
Gejala :
Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen.
Pemajanan matahari lama / berlebihan.
Tanda : Demam, Ruam kulit, ulserasi.

5. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : lemah, pucat
b. Vital sign:
- TD : >140/90, tekanan darah pasien meningkat dikarenakan
adanya nyeri di area abdomen
- Nadi : takikardi
- RR : pernafasan cepat
- Suhu : kenaikan suhu sebagai salah satu tanda ketika komplikasi
c. Sistem tubuh :
- Wajah :
Klien tampak meringis, konjungtiva anemis
- Mulut :

26
Mukosa bibir kering, napsu makan berkurang, otot menelan lemah
- Dada
Inspeksi : bentuk dada simetris kiri dan kanan, pernafasan cepat
Palpasi : nyeri tekan
Perkusi : bunyi ketok sonor
Aukultasi : tidak ada suara nafas tambahan
- Abdomen
Inspeksi : teraba tumor masa padat pada epigastrium, klien
memegang perut saat nyeri, kandung empedu membesar,
hepatomegali, splenomegali, asites
Palpasi : nyeri tekan abdomen
Perkusi : bunyi ketok timpani
Aukultasi : bising usus ++
- Integument
Warna kulit pucat, Ikterus, pruritus,
- Ekstremitas
Takikardi, kekuatan otot lemah, klien dibantu keluarga dalam
beraktifitas

6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Diagnostik Kanker Pankreas
a) USG : USG abdomen merupakan pilihan metode survei dan diagnosis
kanker pankreas. Yang ditandai dengan sederhana, non-invasif, non-
radioaktif, dapat multi-sumbu pengamatan permukaan, dan lebih jelas
melihat struktur pancreas dengan internal saluran empedu atau tanpa
obstruksi dan lokasi obstruksi. Keterbatasan USG adalah bidang
pandang kecil yang rentan terhadap perut, gas usus, dan somatotip.
Selain itu, USG juga bergantungan dengan pengalaman dokter yang
memeriksa dan peralatan yang digunakan, subjektivitas tertentu, jika
perlu, mengingat kombinasi dari pencitraan maka dapat ditambahkan
dengan pemeriksaan resonansi CT dan magnetik (MRI) serta tes
laboratorium.

27
b) 2.CT : CT saat ini menjadi metode alat pemeriksa yang terbaik untuk
pankreas dengan pemeriksaan noninvasif, terutama digunakan untuk
diagnosis kanker pankreas dan pementasan. Dapat melihat ukuran dan
lokasi lesi secara luas, tetapi diagnosis kualitatif tidak akurat, tidak
kondusif untuk menampilkan hubungan antara tumor dan struktur
sekitarnya. CT dapat dengan akurat menentukan apakah sudah ada
metastasis pada hati dan kelenjar getah bening.
c) CT menjadi banyak digunakan dalam beberapa tahun terakhir bidang
diagnosis tumor dan sebagai sarana untuk menentukan langkah
pengobatan, anda dapat lebih akurat menilai sifat dan tingkat lesi
stadium tumor ganas dan pilihan pengobatan dengan nilai yang lebih
tinggi.
d) Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan resonansi
magnetik Kolangiopankreatografi (MRCP) : Bukan sebagai metode
pilihan untuk diagnosis kanker pankreas, tetapi ketika pasien alergi
dengan kontras ketingkatkan CT maka dapat dilakukan pemeriksaan
scan MRI,tetapi tidak untuk mendeteksi tingkatan stadiumnya. Selain
itu, beberapa lesi sulit untuk dikarakterisasi, berdasarkan pemeriksaan
CT dapat digantikan dengan melakukan MRI, untuk melengkapi
kekurangan dari gambar CT. MRCP dilakukan untuk menentukan
perbandingan tanpa obstruksi bilier dan tempat obstruksi, penyebab
obstruktif memiliki keuntungan jelas, dan Endoscopic Retrograde
Cholangiopancreatography (ERCP), empedu transhepatik saluran
pencitraan alat invasif, dan lebih aman.

2.10.2 Diagnosa Keperawatan


Adapun diagnosa keperawatan dalam kasus ca pankreas adalah sebagai
berikut:
1. Nyeri akut berhubungan dengan distensi abdomen
Nyeri akut Merupakan pengalaman sensori dan emosional tidak
menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau
potensial atau yang digambarkan sebagai kerusakan(International study of

28
Pain dalam Herdman, 2015); awitan yang tiba tiba atau lambat dari
intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau
diprediksi (Herdman, 2015). Nyeri akut mengindikasikan adanya cedera
atau kerusakan yang baru terjadi.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah
Ketidak Seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Merupakan
asuhan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan syok hipoglikemi
Intoleransi aktivitas adalah ketidakcukupan energi psikologis atau
fisiologis untuk mempertahankan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan
sehari-hari yang harus atau yang ingin dilakukan.
4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pruritus
Kerusakan integritas kulit merupakan kerusakan pada epidermis dan atau
dermis
5. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif
Defisiensi pengetahuan merupakan ketiadaan atau defisiensi kognitif yang
berkaitan dengan topik tertentu

2.10.3 Intervensi Keperawatan


No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Keperawatan
. Keperawatan Hasil
1 Nyeri akut NOC NIC
berhubungan a. Mampu a. Lakukan
dengan distensi mengontrol nyeri pengkajian nyeri
abdomen (tahu penyebab secara
nyeri, mampu homprehensif
menggunakan termasuk lokaso,
teknik karakteristik,
nonfarmakologi durasi, frekuensi,
untuk mengurangi kualitas dan
nyeri) presipitasi

29
b. Mampu b. Manajemen
mengenali nyeri lingkungan untuk
(skala, intensitas, membuat pasien
frekuensi dan merasa nyaman
c. Peningkatan
tanda nyeri
c. Menyatakan keamanan
d. Pengaturan posisi
nyaman setelah
e. Terapi relaksasi
nyeri berkurang f. Monitor tanda-
d. Tanda-tanda vital
tanda vital
dalam batas g. Kolaborasi
normal pemberian
analgesik untuk
mengurangi nyeri
2. Ketidak Kriteria hasil a. Terapi nutrisi
b. Konseling nutrisi
seimbangan a. Adanya
c. Monitor nutrisi
nutrisi kurang peningkatan berat d. Monitor tanda-
dari kebutuhan badan sesuai tanda vital
e. Manajemen berat
tubuh dengan tujuan
b. Pengetahuan bedan
berhubungan
f. Manajemen alergi
tentang diet sehat
dengan
c. Mampu
anoreksia, mual,
mengidentifikasi
muntah
kebutuhan nutrisi

3. Intoleransi Kriteria hasil a. Terapi aktivitas


b. Manajemen
aktivitas a. Berpartisipasi
lingkungan:
berhubungan dalam aktovitas
kenyamanan
dengan syok fisik tanpa
c. Bantuan perawatan
hipoglikemia disertai
diri
peningkatan TD, d. Peningkatan
nadi, RR keterlibatan
b. Mampu
keluarga
melakukan e. Bantuklien untuk
aktivitas sehari- untuk
hari secara mengidentifikasi

30
mandiri aktovitas yang
c. Tanda-tanda vital
mampu dilakukan
dalam batas
normal
4. Kerusakan Kriteria hasil
integritas kulit a. Perfusi jaringan a. Anjurkan pasien
berhubungan baik untuk memakai
b. Integritas kulit
dengan pruritus pakaian yang
yang baik bisa
longgar
dipertahankan b. Jaga kebersihan
(sensasi, kulit agar tetap
elastisitasm bersih dan kering
c. Monitor kulit akan
temperatur,
adanya kemerahan
hidrasi,
d. Monitor status
pigmentasi) tidak
nutrisi pasien
ada luka atau lesi e. Manajemen
pada kulit pengobatan
c. Menunjukkan f. Monitor tanda-
pemahaman tanda vital
dalam proses
perbaikan kulit
dan mencegah
terjadinya cidera
berulang
5. Defisiensi Kriteria hasil
pengetahuan a. Menunjukkn a. Pendidikan kesehatan
b. Peningkatan kesadaran
berhubungan perilaku patuh
kesehatan
dengan terhadap diet
c. Gambarkan proses
keterbatasan yang disarankan
penyakit dengan cara
b. Menunjukkan
kognitif
yang tepat
perilaku patuh
d. Diskusikan perubahan
terhadap
gaya hidup yang
pengobatan yang
mungkin diperlukan
disarankan
untuk mencegah

31
komplikasi di masa
ayang akan datang dan
atau proses
pengontrolan penyakit

2.10.5 Evaluasi Keperawatan


Adapun evaluasi keperawatan pada klien dengan kanker pankreas
setelah diberikan intervensi keperawatan adalah sebagai berikut:
Diagnosa Evaluasi
1. Nyeri akut berhubungan S: Pasien mengatakan bahwa nyerinya
dengan distensi abdomen berkurang.
O: Tanda-tanda vital dalam batas normal
A: Masalah teratasi sebagian
P: Pertahankan kondisi, lanjutkan
intervensi.
2. Ketidak seimbangan nutrisi S: Pasien mengatakan dirinya sudah
kurang dari kebutuhan tubuh memiliki tenaga.
berhubungan dengan anoreksia, O: Berat badan stabil.
mual, muntah A: Tujuan tercapai, masalah teratasi.
P: Pertahankan kondisi, lanjutkan
intervensi.
3. Intoleransi aktivitas S: Pasien mengatakan mampu melakukan
berhubungan dengan syok aktivitas sendiri.
hipoglikemia O: Tanda-tanda vital dalam batas normal
A: Tujuan tercapai, masalah teratasi.
P: Pertahankan kondisi, lanjutkan
intervensi.
4.. Kerusakan integritas kulit S: Pasien mengatakan gatalnya berkurang
berhubungan dengan pruritus O: Tanda-tanda vital dalam batas normal
A: Masalah teratasi sebagian
P: Pertahankan kondisi, lanjutkan
intervensi.
5. Defisiensi pengetahuan S: Pasien mengatakan mengerti tentang
berhubungan dengan keterbatasan diet yang disarankan

32
kognitif O: Pasien terlihat menunjukkan perilaku
meningkatkan kesehatan
A: Tujuan tercapai, masalah teratasi.
P: Pertahankan kondisi, lanjutkan
intervensi.

BAB III. APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Ilustrasi Kasus


Seorang pasien bernama Tn. A usia 59 tahun datang ke rumah sakit dengan
keluhan nyeri pada ulu hati, pasien mengatakan sudah 2 hari merasakan mual
muntah, pusing, muncul penyakit kuning, berat badan menurun dan gangguan
pernafasan dispneu. Pasien juga sering merasakan sakit di ulu hati dan ayah
pasien pernah menderita diabetes militus. Saat dilakukan pemeriksaan tanda-
tanda vital suhu pasien 38C, Nadi 64X/menit, TD 100/70 mmHg, RR
26X/menit, BB 45Kg.

3.2 Pengkajian
a. Identitas klien

33
Nama : Tn.A Pekerjaan : Petani
Umur : 59 tahun Status
Perkawinan : Menikah
Jenis Tanggal MRS
Kelamin :
Laki-laki : 7 Oktober 2017
Agama : Islam Tanggal
Pengkajian : 7 Oktober 2017
Pendidikan Sumber
Terakhir : SD Informasi : Pasien
Alamat : Jember

b. Riwayat Kesehatan
1. Diagnosa Medis
Kanker Pankreas
2. Keluhan Utama
Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri pada ulu hati
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Sudah 2 hari pasien merasakan mual muntah, pusing, muncul penyakit
kuning, berat badan menurun, dan terdapat gangguan pernapasan dispnea
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien tidak pernah memiliki riwayat penyakit yang pernah dialami
5. Riwayat Pengobatan
Klien tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan
6. Riwayat Penyakit Keluarga
Ayah dari klien pernah menderita penyakit diabetes melitus
Genogram

: Tn. A

34
: Laki-Laki

: Perempuan

: Tinggal Serumah

3.3 Pola Kebiasaan Pasien


1. Pola Nutrisi
Sebelum Sakit
Pasien mengatakan biasanya makan tiga kali sehari dengan porsi satu
piring sedang berupa nasi, sayur, lauk dan kadang-kadang buah. Minum
putih 5-8 gelas per hari, 16002000 cc per hari. Tidak ada makanan
pantangan.
Selama sakit
Pasien mengatakan makan-makanan utama tiga kali sehari sesuai dengan
diet dari rumah sakit yaitu nasi, lauk, sayur dan buah tetapi hanya
menghabiskan 1/3 atau 1/2 porsi saja. Minum air putih dan terkadang teh
2-3 gelas/ hari volume 800 cc. Pasien mengalami penurunan nafsu
makan karena terasa mual dan kadang sampai muntah.

2. Pola Eliminasi
Sebelum Sakit
Pasien mengatakan pasien BAB satu hari sekali dengan konsistensi lunak,
warna kuning, bau khas feses, dan tidak ada lendir darah. BAK 7-9x per
hari, 1400-1800 cc per hari, warna kuning jernih dan bau khas urin.
Tidak ada keluhan BAB dan BAK.
Selama sakit
Pasien mengatakan pasien BAB satu kali sehari, dengan konsistensi
lunak, warna kuning, bau khas feses, dan tidak ada lendir darah. BAK 6-7
kali sehari 1500 cc dengan mandiri.
3. Pola Aktivitas-Istirahat-Tidur
a. Sebelum sakit
1) Aktivitas sehari-hari
Pasien mengatakan aktifitas sehari- hari dengan bekerja.
2) Keadaan pernapasan
Pasien tidak mengalami sesak napas ketika melakukan aktivitas.
Tidak ada batuk
3) Keadaan kardiovaskuler

35
Keluarga mengatakan pasien tidak ada keluhan nyeri dada.
4) Kebutuhan tidur
Pasien mengatakan pasien biasa tidur malam 6-7 jam dari pukul
20.00 05.00 WIB, tidur siang kadang 2 jam, tidak ada gangguan
tidur, sebelum tidur biasanya pasien berdoa.

5) Kebutuhan istirahat

Pasien mengatakan meluangkan waktunya untuk beristirahat untuk


berkumpul dengan temannya.

b. Selama sakit
1) Penilaian kemampuan klien dalam beraktivitas selama sakit (beri
tanda )
Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4
Makan/minum
Toileting
Berpakaian
Mobilisasi tempat tidur
Berpindah
Ambulasi/ROM

Keterangan:
0 = mandiri
1 = dengan dibantu alat
2 = dibantu orang lain
3 = dibantu orang lain dan alat
4 = tergantung total
Kesimpulan: Aktivitas pasien untuk makan minum, berpakaian,
mobilisasi, ambulasi/ROM dilakukan dengan mandiri.Toileting dan
berpindah dibantu oleh alat.

2) Keadaan Pernapasan
Pasien mengalami kesulitan dalam bernafas (dipsneu). RR = 26
kali/ menit.

3) Keadaan kardiovaskuler
Pasien mengatakan tidak berdebar- debar dan nyeri di dada.

4) Kebutuhan tidur
Kebutuhan tidur pasien terganggu. Pasien mengatakan tidur malam
pukul 22.00 WIB sampai dengan pukul 05.00 WIB, akan tetapi

36
kadang pasien terbangun jika merasakan nyeri pada ulu hatinya.
Pasien juga tidur siang selama 3 jam per hari.

5) Kebutuhan Istirahat
Pasien menggunakan waktu istirahatnya untuk berbaring di tempat
tidur.
4. Pola Kebersihan Diri
a. Kulit
Sebelum sakit
Pasien mengatakan biasanya mandi dua kali sehari pagi dan sore
menggunakan sabun mandi, mandi di kamar mandi, dilakukan dengan
mandiri. Keadaan kulit bersih dan wangi.
Selama sakit
Pasien mengatakan mandi secara mandiri 2 kali sehari di pagi dan sore
hari, pasien mandi di kamar mandi menggunaakan air hangat dan sabun
mandi secara mandiri. Kondisi kulit pasien bersih.

b. Rambut
Sebelum sakit
Pasien mengatakan biasa keramas 2 kali sehari, keramas menggunakan
shampo, dilakukan mandiri. Keadaan rambut bersih dan tidak ada
ketombe.
Selama sakit
Pasien mengatakan pasien kemarin sore keramas, keadaan rambut
bersih, wangi, tidak lengket .

c. Telinga
Sebelum sakit
Pasien mengatakan biasanya membersihkan telinga setiap terasa kotor
dan setelah mandi serta menggunakan cutton bud .
Selama sakit
Pasien mengatakan mandiri dalam membersihkan telinga. Telinga
dibersihkan setiap hari bersamaan saat mandi, keadaan telinga bersih.

d. Mata
Sebelum sakit
Pasien mengatakan pasien biasanya membersihkan mata setiap mandi,
wudhu dan cuci muka menggunakan air bersih.
Selama sakit
Pasien mengatakan membersihkan mata bersamaan saat mandi
menggunakan air bersih, keadaan mata bersih.

e. Mulut
Sebelum sakit

37
Pasien mengatakan biasa membersihkan mulut dengan menggosok gigi
dua kali sehari bersamaan dengan mandi dan dilakukan mandiri.
Selama sakit
Pasien mengatakan membersihkan gigi dan mulut dengan menggosok
gigi menggunakan pasta gigi dan sikat gigi secara mandiri. Tidak ada
gusi berdarah. Tidak terdapat bau mulut serta gigi bewarna putih bersih.

f. Genitalia
Sebelum sakit
Pasien mengatakan pasien biasa membersihkan genitalia saat mandi
setelah BAK dan BAB menggunakan sabun dan air bersih secara
mandiri.
Selama sakit
Pasien mengatakan dalam membersihkan genitalia bersamaan dengan
mandi dan setelah BAK dan BAB. Kondisi genetalia bersih.

g. Kuku/kaki
Sebelum sakit
Pasien mengatakan biasanya memotong kuku tangan dan kaki setiap
satu minggu sekali secara mandiri.
Selama sakit
Pasien mengatakan belum memotong kuku, kuku tangan dan kaki
pendek dan bersih.

5. Pola Reproduksi Seksual


Sebelum sakit
Pasien mengatakan tidak ada gangguan pada sistem reproduksinnya
Selama sakit
Pasien mengatakan tidak ada gangguan pada sistem reproduksinya.

6. Aspek Mental-Intelektual-Sosial-Spiritual
a. Konsep Diri
1) Identitas Diri
Pasien mengatakan merupakan seorang laki laki dan berpenampilam
layaknya laki-laki yang berstatus menikah.
2) Harga Diri

Pasien mengatakan tidak malu dengan keadaan dirinya sekaranag,


pasien optimis kalau dirinya akan sembuh.

3) Gambaran Diri
Pasien mengatakan menyukai seluruh anggota badannya karena
merupakan anugerah dari Tuhan
4) Peran Diri

38
Pasien mengatakan dirinya seorang pekerja keras yang selalu rajin
bekerja.

5) Ideal Diri
Pasien mengatakan ingin cepat sembuh supaya bisa cepat pulang
kerumah.

b. Intelektual
Pasien mengatakan mengetahui tentang penyakitnya saat dokter
memberikan penjelasan. Pasien sesekali juga bertanya tentang
penyakitnya.

c. Hubungan interpersonal
Sebelum sakit
Pasien mengatakan hubungan pasien dengan teman-teman, saudara dan
tetangga terjalin baik.
Selama sakit
Hubungan pasien dengan keluarga, perawat, dokter di rumah sakit
terjalin baik. Terbukti selama rawat inap selalu ada yang menjenguk
dan selama di rumah sakit pasien kooperatif dengan tim medis.

d. Mekanisme Koping
Pasien mengatakan dalam pengambilan keputusan selalu dibicarakan
kepada keluarganya. Pasien mengatakan ingin cepat sembuh dan pulang
ke rumah berkumpul dengan keluarga serta temannya.

e. Support Sistem
Pasien mendapatkan dukungan dari keluarga, perawat dan dokter untuk
segera sembuh dan pulang ke rumah.

f. Mental /Emosional
Pasien mampu mengontrol emosinnya, terbukti saat ditanya perawat
dan dokter mampu merespon dengan baik.

g. Intelegensi
Pasien lulusan SMA, pengetahuanya baik, pasien mengetahui tentang
sakitnya. Pasien mengatakan saat ini ada kesulitan dalam menjawab
perhitungan ( matematika ).

h. Sosial

Pasien mampu membina hubungan baik dengan orang lain. Pasien juga
aktif dalam kegiatan

39
i. Spritual
Pasien beragama islam dan menunaikan ibadah sesuai agama. Pasien
juga berdoa agar cepat sembuh.

3.4 Pemerikasan Fisik


1. Keadaan Umum : lemas dan terdapat jaundice
2. Kesadaran : composmentis, GCS = E4V5M6
3. Antropometri : BB : 45 kg TB : 170 cm IMT = 15,57
4. Status gizi : underweight (normal: 18,5-22,9 menurut WHO)
5. Tanda tanda vital
a. Tekanan darah : 100/70 mmHg.

b. Frekuensi nadi : 64x per menit

c. Suhu : 38 0C

d. Respirasi : 26x per menit

e. Nyeri : skala ringan 6 (intens)

6. Pemeriksaan Cepalo Caudal

a. Kepala

1) Bentuk dan Kulit Kepala

Bentuk kepala mesocephalo, tidak ada nyeri tekan pada kepala, tidak
terlihat adanya bekas luka atau jahitan, tidak ada benjolan.

2) Rambut

Rambut pasien berwarna hitam, pertumbuhan merata, bersih,


pendek, tidak bau dan tidak mudah rontok.

3) Kesan Wajah

Pasien lemas dan ekspresi menahan nyeri ulu hati dan pusing.

4) Mata

Bola mata simetris kanan dan kiri, pupil isokor, konjugtiva anemis,
sklera berwarna putih, bersih tidak ada kotoran. Terdapat jaundice,
tidak mengalami kesulitan penglihatan pada malam hari, tidak
melihat obyek ganda. Fungsi penglihatan normal, pasien tidak
menggunakan kaca mata untuk melihat atau membaca.

40
5) Telinga
Simetris kanan dan kiri, tidak ada sekret yang keluar dari kedua
telinga, tidak terdapat massa, daun telinga bersih, fungsi
pendengaran normal.

6) Hidung
Hidung simetris, tidak ada sinusitis, tidak ada secret,pertumbuhan
rambut hidung merata, fungsi pembau normal.

7) Mulut dan Tenggorokan


Mukosa bibir terlihat kering, bibir berwarna pucat, tidak ada
stomatitis, tidak ada gangguan menelan dan mengunyah. fungsi
pengecap normal, tidak terdapat perdarahan dimulut.

b. Leher
Tidak ada peningkatan JVP, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak
ada nyeri tekan, tidak ada bekas luka, bentuk leher simetris, tidak terdapat
massa, tidak terdapat pembesaran kelenjar limfe.

c. Tengkuk
Tidak ada kaku kuduk.

d. Sirkulasi
Arteri temporalis teraba lemah, arteri karotis teraba kuat. Arteri femoralis
teraba kuat, arteri radialis teraba kuat. Tidak terdapat sianosis pada kuku.
Nadi radialis teraba 81 x /menit.

e. Dada
1) Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak pada ICS IV-V mid clavicula
sinistra
Perkusi : Terdengar suara pekak, intercosta 2 garis parasternal dektra,
intercosta 2 garis parasternal sinistra, sampai intercosta 4 garis
parasternal sinistra, dan intercosta 5 garis mid klavikula sinistra.
Auskultasi : Terdengar S1-S2 terpisah, regular.

2) Paru-paru
Inspeksi : Simetris kanan dan kiri, pasien terlihat sesak napas
(dipsneu)
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, vocal fremitus teraba seimbang kanan
dan kiri, teraba gerak dada kanan dan kiri simetris.
Perkusi : Terdengar suara sonor.
Auskultasi : RR 26x permenit

41
3) Payudara
Inspeksi : Bentuk simetris kanan dan kiri, tidak ada bekas luka.
Palpasi : Tidak teraba massa secara patologis, tidak ada nyeri tekan.

f. Punggung
Tidak ada kelainan tulang belakang,tidak terdapat massa, tidak ada luka.

g. Abdomen
Inspeksi : Pembesaran upnormal (+), tidak ada bekas luka, warna kulit
jaundice, umbilikus bersih.
Auskultasi : Terdengar peristaltik usus 15x per menit di kuadran 3.
Perkusi : Terdengar redup pada kuadran pertama bagian limfe, pada kuadra
kedua terdengar timpani pada bagian lambung, pada kuadra ketiga dan
keempat pada ileus terdengar redup.
Palpasi :
Kuadran I:
Hepar : hepatomegali(+), nyeri tekan(+), shifting dullness
Kuadran II:
Gaster : nyeri tekan abdomen(+), distensi abdomen(+)
Kuadran III:
Massa (skibala, tumor)(+), nyeri tekan(+)
Kuadran IV:
Nyeri tekan pada titik Mc Burney(+)

h. Panggul
Bentuk panggul android, tidak ada keluhan nyeri panggul.

i. Anus dan Rectum


Tidak ada kemerahan/ iritasi, tidak ada pembesaran vena/hemoroid.

j. Genetalia
Pasien seorang laki-laki, tidak ada kelainan bentuk, genetalia lengkap,
tidak ada luka, scrotum lengkap, penis normal tidak ada kelainan bentuk.

i. Ekstremitas
Ekstremitas atas

Anggota gerak atas lengkap, tidak ada kelainan jari, jumlah jari lengkap
10, tidak ada oedem, terpasang infuse Nacl 0,9% pada tangan kiri 20 tpm.
Kekuatan otot tangan kanan 5 dan tangan kiri 5.

Ekstremitas bawah

Anggota gerak bawah lengkap, tidak ada kelainan jari dan bentuk, tidak
ada oedem, tidak ada bekas luka, tidak ada nyeri tekan, tidak ada varises,

42
kapileri refill < 2 detik, reflek patela positif. kekuatan otot kaki kanan 5
dan kaki kiri 5.

3.5 Pemeriksaan Nervous


Interpretasi semua nervous baik.

3.6 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan Laboratorium

No Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Interpretasi


Pemeriksa Normal
an
1 Kimia klinik 7.8% 4.0-6.5% Tinggi
HbATc
2 Diabetes 145 mg/dl 70-99 mg/dl Tinggi
Glukosa puasa
3 Lemak
Cholestrol total 175 mg/dl <200 mg/dl Rendah
Trigeserid 180 mg/dl <150 mg/dl Tinggi
HDL cholestrol LDL 34 mg/dl >40 mg/dl Rendah
direct 121 mg/dl <100 mg/dl Tinggi

a. Terdapat kenaikan serum lipase, amilase, dan glukosa. Anemia dan


hipoalbuminemia. Bilirubin terkonjungasi (direk) dapat meningkat pada
ikterus obstruktif, alkali fosfatase, g-GT. Waktu protrombin
memanjang. Tinja akholik dan bilirubinuria positif.
b. Petanda kanker CEA dan Ca19-9: meningkat
c. Radiografi (Gastroduodenografi, Duodenografi Hipotonis): pelebaran
lengkung duodenum
d. Ultrasonografi (USG): diketahui besar, letak dan karakteristik kanker,
diameter saluran empedu dan duktus pankreatikus, dan letak obstruksi.
Ada metastasis ke limfonodi sekitar dan hati.
e. Computed Tomography (CT): terdapat lesi pankreas dan ada metastasis
hati dan peritonium, invasi pada organ sekitar (lambung, kolon),
melekat atau oklusi pembuluh darah peri-pankreatik.

43
f. Magnetic Resonance Imaging (MRI): adanya kelainan pembuluh darah
pada kanker pankreas.
g. Endoscopic Retrograde Cholangio-pankreaticography (ERCP): adanya
kelainan gastroduodenum dan ampula Vateri, pencitraan saluran
empedu dan pankreas.
h. Ultrasonografi Endoskopik: evaluasi kanker, deteksi invasi lokal dan
metastasis pada limfonodi dan hati.
3.7 Penatalaksanaan / Terapi Medis
a. Infus Nacl 0,9%
b. Operasi
c. Kemoterapi
d. Radioterapi

Diagnosa

1. Nyeri akut berhubungan dengan infeksi yang ditandai dengan pasien


mengeluhkan nyeri pada ulu hati, pasien meringis, perubahan selera makan, TD
100/70.
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan Hiperventilasi yang ditandai
dengan pasien mengatakan sesak, dispneu dan takipnea.
3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen yang ditandai dengan pasien dispnea setelah beraktifitas,
keletihan.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan faktor
biologis yang ditandai dengan pasien mengeluhkan mual muntah, nyeri
abdomen, penurunan berat badan dengan asupan makanan adekuat

Intervensi

N Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


o. Keperawatan

1. Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor tanda-


keperawatan selama 2 x 24 jam nyeri tanda vital
mulai berkurang. Dengan criteria hasil 2. Manajemen Nyeri:
sebagai berikut: Lakukan
1. Mampu mengontrol nyeri pengakajian nyeri
2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang komprehensif yang

44
dengan menggunakan manajemen meliputi lokasi,
nyeri karakteristik, durasi,
3. Mampu mengenali nyeri frekuensi, kualitas,
4. Menyatakan rasa nyaman setelah itensitas, atau
nyeri berkurang beratnya nyeri dan
faktor pencetus.
Observasi adanya
petunjuk nonverbal
mengenai
ketidaknyamanan.
Gali bersama pasien
faktor-faktor yang
dapat menurunkan
atau memberatkan
nyeri
Berikan informasi
mengenai nyeri,
seperti penyebab
nyeri, berapa lama
nyeri akan dirasakan,
dan antisipasi dari
ketidaknyamanan
prosedur.
Ajarkan prinsip
manajemnen nyeri
Ajarkan teknik non
farmakologis
(relaksasi, distraksi
dll) untuk mengetasi
nyeri
3. Kontrol lingkungan
yang

45
mempengaruhi
nyeri seperti suhu
ruangan,
pencahayaan,
kebisingan.
4. Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri.
5. Evaluasi tindakan
pengurang
nyeri/kontrol nyeri.
6. Kolaborasi dengan
dokter bila ada
komplain tentang
pemberian analgetik
tidak berhasil.
7. Monitor penerimaan
klien tentang
manajemen nyeri.
2. Gangguan pola Setelah dilakukan tindakan 1. Memberikan posisi
nafas keperawatan selama 2 x 24 jam klien yang nyaman, biasanya
dapat bernafas dengan baik, dengan dengan peninggian
kriteria hasil: kepala tempat tidur.
1. Tidak ada bunyi nafas tambahan Balik ke sisi yang sakit.
2. Melaporkan tidak ada sesak Dorong klien untuk
3. RR dalam batas normal 23 duduk sebanyak
kali/menit mungkin
2. Mengobsservasi fungsi
pernapasan, catat
frekuensi pernapasan,
dispnea atau perubahan
tanda-tanda vital
3. Menjelaskan pada klien

46
bahwa tindakan tersebut
dilakukan untuk
menjamin keamanan
4. Menjelaskan pada klien
mengapa sesak atau
kolaps paru-paru dapat
terjadi
5. Mempertahankan
perilaku tenang, bantu
pasien untuk kontrol
diri dnegan
menggunakan
pernapasan lebih lambat
dan dalam
6. Memperhatikan alat
bullow drainase
berfungsi baik
7. Berkolaborasi dengan
tim kesehatan lain.
3. Intoleransi Setelah dilakukan tindakan 1. Terapi aktivitas
aktivitas keperawatan selama 2 x 24 jam klien -Bantu klien untuk

dapat mencapai perasaan nyaman. mengidentifikasi

Dengan criteria hasil sebagai berikut: aktivitas yang mampu

1. Mampu melakukan aktivitas dilakukan.

sehari-hari dengan mandiri -Bantu klien untuk

2. Mampu berpindah dengan atau memilih aktivitas

tanpa bantuan alat konsisten yang sesuai

3. Berpartisipasi dalam aktivitas dengan kemampuan

fisik tanpa disertai peningkatan fisik, psikologi dan

tekanan darah, nadi, dan RR sosial


-Bantu klien untuk
membuat jadwal
latihan di waktu luan

47
-Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan
-Sediakan penguatan
positif bagi yang aktif
beraktivitas.
2. Peningkatan
keterlibatan keluarga
3. Berikan dukungan
spiritual
4. Peningkatan latihan
peregangan
4. Ketidakseimbanga Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor tanda-tanda
n nutrisi: kurang keperawatan selama 2 x 24 jam vital
dari kebutuhan kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi. 6. Manajemen Nutrisi
tubuh Dengan criteria hasil sebagai berikut: -Tentukan status gizi
1. Adanya peningkatan berat badan pasien dan
2. Berat badan ideal sesuai dengan kemampuan pasien
tinggi badan untuk memenuhi
3. Mampu mengidentifikasi kebutuhan gizi
kebutuhan nutrisi -Intruksikan pasien
4. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi mengenai kebutuhan
5. Menunjukkan peningkatan fungsi nutrisi (membahas
pengecapan dari menelan pedoman diet)
-Berikan makan yang
terpilih (sudah di
konsultasikan dengan
ahli gizi) di butuhkan

48
Implementasi

N Hari/ tanggal Implementasi Paraf


o.

1. 1. Memonitor tanda-tanda vital

2. Memanajemen Nyeri:
Melakukan pengakajian nyeri komprehensif yang
meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas, itensitas, atau beratnya nyeri dan faktor
pencetus.
Mengobservasi adanya petunjuk nonverbal
mengenai ketidaknyamanan.
Menggali bersama pasien faktor-faktor yang dapat
menurunkan atau memberatkan nyeri
Memberikan informasi mengenai nyeri, seperti
penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan,
dan antisipasi dari ketidaknyamanan prosedur.
Mengajarkan prinsip manajemnen nyeri
Mengajarkan teknik non farmakologis (relaksasi,
distraksi dll) untuk mengetasi nyeri
8. Mengkontrol lingkungan yang mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan.
9. Memberikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
10. Mengevaluasi tindakan pengurang nyeri/kontrol nyeri.
11. Berkolaborasi dengan dokter bila ada komplain
tentang pemberian analgetik tidak berhasil.
12. Memonitor penerimaan klien tentang manajemen
nyeri.
2. 1. Memberikan posisi yang nyaman, biasanya dengan
peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang
sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin

49
2. Mengobsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi
pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital
3. Menjelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut
dilakukan untuk menjamin keamanan
4. Menjelaskan pada klien mengapa sesak atau kolaps
paru-paru dapat terjadi
5. Mempertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk
kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih
lambat dan dalam
6. Memperhatikan alat bullow drainase berfungsi baik
7. Berkolaborasi dengan tim kesehatan lain.
3. 1. Terapi aktivitas
-Membantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas
yang mampu dilakukan.
-Membantu klien untuk memilih aktivitas konsisten
yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan
sosial
-Membantu klien untuk membuat jadwal latihan di
waktu luan
-Membantu pasien untuk mengembangkan motivasi
diri dan penguatan
-Sediakan penguatan positif bagi yang aktif
beraktivitas.
2. Meningkatkan keterlibatan keluarga
3. Memberikan dukungan spiritual
4. Meningkatkan latihan peregangan
4. 1. Memonitor tanda-tanda vital
2. Memanajemen Nutrisi
-Menentukan status gizi pasien dan kemampuan pasien
untuk memenuhi kebutuhan gizi
-Mengintruksikan pasien mengenai kebutuhan nutrisi
(membahas pedoman diet)
-Memberikan makan yang terpilih (sudah di

50
konsultasikan dengan ahli gizi) di butuhkan

Evaluasi

No Diagnosa Keperawatan Evaluasi Keperawatan Paraf


.
1. Nyeri akut berhubungan S: Pasien melaporkan RN
dengan ? nyeri berkurang.
O: Skala nyeri berkurang
dari 7 menjadi 5, dan
pasien mengatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang dengan tanda-
tanda vital dalam batas
normal dengan nilai:
TD : 110/80 mmHg,
N :90 kali/menit
S : 370
RR :23 kali/menit
A: Masalah teratasi
sebagian
P: Lanjutkan intervensi
ajarkan pasien untuk
distraksi, pengalihan rasa
nyeri dengan istirahat
atau dengan
berkomunikasi.
2. Gangguan pola nafas S: px mengatakkan sudah RN
berhubungan dengan ? tidak sesak nafas lagi
O: px tampak bernafas
dengan spontan tidak ada
sesak, tidak ada suara
nafas tambahan, ritme
pernafasan baik, RR 23

51
kali/menit
A: masalah teratasi
P: lanjutkan intervensi
dengan memantau
pernafasan pada px
3. Intoleransi aktivitas S: Pasien mengatakan RN
berhubungan dengan ? dirinya merasa sedikit
lebih segar dan tidak
lemas lagi.
O: Pasien terlihat sedikit
lebih mudah beraktivitas
A: Masalah teratasi
sebagian
P: Lanjutkan intervensi
berikan terapi aktivitas,
tingkatkan keterlibatan
keluarga, tingkatkan
latihan peregang
4. Ketidakseimbangan nutrisi: S: Pasien mengatakan RN
kurang dari kebutuhan tubuh makan teratur.
O: Pasien tampak segar
berhubungan dengan ?
dan sehat, terdapat
peningkatan BB sejak
dilakukan intervensi.
A: Masalah teratasi.
sebagian
P: Lanjutkan intervensi

52
BAB IV. PENUTUP

4.1 Kesimpulan

4.2 Saran

53
DAFTAR PUSTAKA

Baughman, & Hackley. (2000). Keperawatan Medikal Bedah: buku saku untuk
Brunner dan Suddarth. Jakarta: EGC
Brunner & Suddarth. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 8.
Jakarta: EGC.
Padmortono, F.S., 2009. Tumor Pankreas. In: Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B,. Alwi,
I,. Simadibrata, M,. Setiati ,S,.ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta
: Interna Publishing
Riyadi, Sujono dan Sukarmin. 2013. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan
Gangguan Eksokrin & Endokrin pada Pankreas. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Tjokronegoro, Prof.dr.Arjatmo., 2001, Ilmu Penyakit Dalam Jilid Ii Edisi 3,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta.
Brunner & Suddarths. (2001) Textbook of Medical Nursing. 4th ed Philadelphia:
Lipponcot

Pearce, Evelyn. C. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis.


Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

Syaifuddin, Haji. 2011. Anatomi Fisiologi: Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk


Keperawatan & Kebidanan. Ed-4. Jakarta: EGC

Faiz, Omar & Moffat, David. 2003. At a Glance Series ANATOMI.


Jakarta:Erlangga.

http://treatsimply.com/id/pages/687093 ( Diakses pada tanggal 6 oktobrr 2017)

54