Anda di halaman 1dari 4

PENGUKURAN FAKTOR IKLIM DI LINGKUNGAN MIKRO PADA TIGA DAERAH

(TERTUTUP, TRANSISI DAN TERBUKA) DILABORATORIUM PENDIDIKAN BIOLOGI


FKIP UNIVERSITAS RIAU
Mona Septiami
E-mail : mona.septiami@student.unri.ac.id
Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Riau,Pekanbaru 28293

ABSTRACT
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui kondisi faktor fisika dan kimia lingkungan pada
lingkungan mikro yang berbeda (dibawah naungan pohon/tertutup, daerah transisi/peralihan dan
daerah terbuka/terdedah). Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP
Universitas Riau pada hari kamis tanggal 28 september 2017. metode survei dengan pencuplikan
sampel pada lokasi. Parameter yang diamati meliputi Temperatur Udara, Kelembapan Relatif
Udaradan Intensitas Cahaya pada daerah tertutup, transisi dan terbuka. Pengukuran Temperatur
Udara dan Kelembapan Udara menggunakan Termohygrometer. Data yang diperoleh disajikan
dalam bentuk tabeldata dan grafik batang.

Keywords : Tertutup, Transisi, Terbuka, Termohygrometer

PENDAHULUAN
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungan.
Komponen-komponen yang ada di dalam lingkungan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan dan membentuk suatu sistem kehidupan yang disebut ekosistem. Suatu ekosistem
akan menjamin keberlangsungan kehidupan apabila lingkungan itu dapat mencukupi kebutuhan
minimum dari kebutuhan organisme.
Ekosistem merupakan kesatuan interdependen dari masyarakat biotik dan lingkungan
abiotiknya atau dapat juga dikatakan sebagai interaksi antara populasi dalam suatu komunitas
biotik dengan faktor abiotiknya (Djarubito, 1989). Batas ekosistem umumnya tidak dapat
dipastikan dengan jelas. Ekosistem dapat berawal dari mikrokosmos laboratorium, danau hingga
hutan. Para ahli ekologi menganggap keseluruhan biosfer sebagai suatu ekosistem global yang
merupakan gabungan seluruh ekosistem yang ada di bumi. Faktor-faktor abiotik yang
mempengaruhinya adalah suhu, air, cahaya matahari, iklim serta tanah dan batuan (Campbell et
al, 2004).
Lingkungan merupakan kompleks dari faktor yang saling berinteraksi satu sama lainnya,
tidak saja antara faktor-faktor biotik dan abiotik, tetapi juga antara biotik maupun abiotik itu
sendiri. Dengan demikian secara operasional adalah sulit untuk memisahkan satu faktor terhadap
faktor-faktor lainnya tanpa mempengaruhi kondisi keseluruhannya. Meskipun demikian
untuk memahami struktur dan berfungsinya faktor lingkungan ini, secara abstrak kita bisa
membagifaktor-faktor lingkungan ke dalam komponen-komponennya. Berbagai cara dilakukan
oleh parapakar ekologi dalam pembagian komponen lingkungan ini, salah satunya adalah
pembagian dibawah ini :
1. Faktor iklim, meliputi parameter iklim utama seperti cahaya, suhu, ketersediaan
air dan angin.
2. Faktor tanah, merupakan karakteristik dari tanah seperti nutrisi tanah, reaksi
tanah, kadar air tanah, dan kondisi fisika tanah.
3. Faktor topografi, meliputi pengaruh dari terrain seperti sudut kemiringan, aspek
kemiringan tanah, tinggi dari permukaan laut.
4. Faktor biotik, merupakan gambaran dari semua interaksi dari organisme hidup
seperti kompetisi, peneduhan.

BAHAN DAN METODE

Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau


pada hari kamis tanggal 28 september 2017. metode survei dengan pencuplikan sampel pada
lokasi.
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu kertas, termohygrometer,
penggaris, air, ,botol aqua gelas, dan 3 jenis tanah ( tanah didaerah terbuka, transisi, dan
ternaung).
Prosedur kerja pada praktikum ini yaitu dilakukan pengukuran temperature udara dan
kelembaban relatif udara menggunakan termohygrometer pada ketinggian 1 dan 2 meter dari
permukaan tanah masing-masing selama 5 menit untuk 3 lokasi berbeda (terdedah, transisi,
ternaung).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Faktor iklim mikro dapat diamati dengan mengukur temperatur udara, kelembapan udara
dan intensitas cahaya. Hasil Pengukuran Temperatur udara, kelembapan udara dan intensitas
cahaya pada ketinggian 1 m dan 2 m di daerah tertutup, transisi dan terbuka dapat dilihat pada
Tabel 1 berikut.
38.0
36.9 37.3
37.0 36.5
35.7
36.0
35.0
3 34.0 1 Meter
34.0
33.0 2 Meter
32.0
31.0
Daerah Daerah Daerah
Tertutup Transisi Terbuka

Gambar 1. Hasil pengukuran temperatur udara pada daerah daerah tertutup, transisi dan terbuka

Gambar 1. Menunjukkan perbedaan temperatur, Pada pengukuran temperatur udara


menunjukkan pola yang cenderung meningkat dari daerah tertutup ke daerah terbuka. ini
dikarenakan pada daerah terbuka cahaya matahari yang terpapar lebih banyak, sehingga panas
yang dihasilkan lebih tinggi.
Sementara itu, temperatur udara di ketinggian satu meter relatif lebih rendah dari dua
meter. Hal ini berlawanan dengan teori yang telah dinyatakan oleh Rusmayandi (2013), semakin
tinggi ketinggian tempat dari permukaan tanah maka semakin rendah temperatur udara yang
diperoleh. Hal ini dapat disebabkan oleh kesalahan peneliti dalam melakukan pengukuran.

50.0 43.7 44.9


40.0 39.8 38.9 39.5 36.7

30.0
1 Meter
20.0
2 Meter
10.0
0.0
Daerah Daerah Daerah
Tertutup Transisi Terbuka

Gambar 2. Hasil pengukuran kelembaban udara pada daerah daerah tertutup, transisi dan terbuka

Gambar 2 menunjukkan hasil pengukuran kelembaban udara pada daerah tertutup,


transisi dan terbuka. Kandungan uap air dalam udara hangat lebih banyak daripada kandungan
uap air dalam udara dingin. Karena itu, semakin tinggi temperatur udara maka semakin tinggi
kelembapan udara yang diperoleh. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada daerah tertutup,
kelembaban udara lebih tinggi di bandingkan pada daerah transisi ataupun terbuka. Kelembapan
udara pada kondisi daerah tertutup, transisi dan terbuka dengan ketinggian 1 m berturut-turut
adalah 43,7 %, 39,8%, dan 39,5 %. Sedangkan pada ketinggian 2 m secara berturut-turut adalah
44,9 %, 38,9 % dan 38,7 %. Hasil ini tidak sejalan dengan teori. Kelembaban udara pada daerah
tertutup, ternaung dan terbuka menurun sementara, temperatur udara pada daerah tersebut
menunjukkan nilai yang semakin meningkat. Hal ini dapat disebabkan oleh ketidaksesuaian
dalam melakukan pengukuran
35.0
29.2
30.0 24.6
25.0 21.8
18.5
20.0
15.0 1 Meter
7.5 9.3
10.0 2 Meter
5.0
0.0
Daerah Daerah Daerah
Tertutup Transisi Terbuka

Gambar 3. Hasil pengukuran intensitas cahaya pada daerah daerah tertutup, transisi dan terbuka

Hasil pengukuran intensitas cahaya menunjukkan bahwa pada daerah terbuka intensitas
cahaya lebih tinggi di bandingkan dengan daerah transisi dan daerah tertutup. hal ini disebabkan
pada daerah terbuka tidak ada kanopi yang menutupi lingkungan mikro pada daerah tersebut
sehingga seluruh cahaya matahari dapat masuk. Pada daerah transisi, cahaya matahari tidak
sepenuh nya masuk dalam lingkungan mikro daerah tersebut karena sudah mulai ada kanopi
yang menutupnya. Namun kadar intensitas cahaya yang masuk masih cukup tinggi dibandingkan
daerah tertutup karena terdapat bias dari celah yang tidak tertutup kanopi. Sedangkan pada
daerah tertutup intensitas cahaya rendah, karena daerah tersebut di tutupi kanopi yang
menghalangi cahaya matahari masuk lingkungan. Hal ini sejalan dengan pendapat Pamungkas
dkk (2015) yang menyatakan bahwa semakin banyak vegetasi pohon yang menaungi suatu
wilayah, maka cahaya akan semakin sulit masuk sehingga intensitas cahaya akan menurun.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa daerah terbuka memiliki
temperatur dan kelembaban yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi
intensitas cahaya di suatu lingkungan makro, maka temperatur dan kelembaban di daerah
tersebut semakin tinggi. Hal ini disebabkan panas dari cahaya matahari menaikkan temperatur,
sedangkan temperatur yang lebih tinggi menyebabkan kelembaban udara juga semakin tinggi.
Karena udara yang lebih hangat mengandung kadar uap air yang lebih banyak.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N.A., J.B. Reece dan L.G. Mitchell. 2004. Biologi. Penerjemah Wasmen Manalu.
Erlangga. Jakarta.
Odum, E. P. 1996. Dasar Dasar Ekologi. Terjemahan oleh T. Samingan. Gajah Mada
Press.Yogyakarta.
Nurnasari, E dan Djumali. 2012. Pengaruh Faktor Lingkungan terhadap Perkembangan
Tumbuhan.Agrovigor. Jurnal Institut Pertanian Bogor, Volume 5 No. 1
Suwondo dan Nursal.2017. Penduan Praktikum Ekologi. Program Studi Pendidikan Biologi
FKIP Universitas Riau. Pekanbaru
Susanto, arif. 2013. Pengaruh Modifikasi Iklim Mikro dengan Vegetasi Ruang Terbuka Hijau
(RTH) dalam Pengendalian Penyakit Malaria. Timika