Anda di halaman 1dari 12

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kebakaran hutan dan lahan adalah salah satu bencana yang yang sering
terjadi di Indonesia terutama terjadi setiap musim kemarau, yaitu pada bulan
Agustus, September, dan Oktober, atau pada masa peralihan (transisi). Wilayah
hutan dan lahan di Indonesia yang sangat berpotensi terbakar adalah wilayah
gambut seperti di Pulau Sumatera (Riau, Sumut, Jambi dan Sumsel) dan Pulau
Kalimantan (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan)
(Kumalawati dkk, 2016).
Belakangan ini kebakaran hutan menjadi perhatian internasional sebagai
isu lingkungan dan ekonomi, khususnya setelah bencana El Nino (ENSO)
1997/98 yang menghanguskan lahan hutan seluas 25 juta hektar di seluruh dunia.
Kebakaran dianggap sebagai ancaman potensial bagi pembangunan berkelanjutan
karena efeknya secara langsung pada ekosistem, kontribusi emisi karbon dan
dampaknya bagi keanekaragaman hayati. Pencemaran kabut asap merupakan
masalah berulang bahkan selama tahun-tahun ketika peristiwa ENSO di Indonesia
dan negara-negara tetangganya tidak terjadi. Selama peristiwa ENSO 1997/98,
Indonesia mengalami kebakaran hutan yang paling hebat di dunia. Masalah yang
sama teruiang pada 2002. (Tacconi, 2003)
Kebakaran Hutan menurut SK. Menhut. No. 195/Kpts-II/1996 yaitu suatu
keadaan dimana hutan dilanda api sehingga mengakibatkan kerusakan hutan dan
hasil hutan yang menimbulkan kerugian ekonomi dan lingkungannya. Kebakaran
hutan merupakan salah satu dampak dari semakin tingginya tingkat tekanan
terhadap sumber daya hutan. Dampak yang berkaitan dengan kebakaran hutan
atau lahan adalah terjadinya kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup, seperti
terjadinya kerusakan flora dan fauna, tanah, dan air. Kebakaran hutan dan lahan di
Indonesia terjadi hampir setiap tahun walaupun frekwensi, intensitas, dan luas
arealnya berbeda.
Akibat dari kebakaran lahan dan hutan telah terjadi pelepasan senyawa
karbon ke udara. Dengan meningkatnya senyawa karbon (CO2) sebagai gas
rumah kaca, maka efek rumah kaca pun meningkat. Efek terpenting yang sangat
tidak diharapkan dalam kehidupan makhluk di dunia adalah terjadinyapeningkatan
2

pemanasan bumi secara global (global warming) pada lapisan biosfer.


Meningkatnya emisi gas-gas rumah kaca ternyata terjadi juga di Negara-negara
berkembang termasuk Indonesia sehingga perlu ada upaya penurunan emisi.
(Salim, 2007)
Kebakaran hutan dan lahan terjadi disebabkan oleh 2 (dua) faktor utama
yaitu faktor alami dan aktor kegiatan manusia yang tidak terkontrol. Faktor alami
antara lain oleh pengaruh El-Nino yang menyebabkan kemarau berkepanjangan
sehingga tanaman menjadi kering. Tanaman kering merupakan bahan bakar
potensial jika terkena percikan api yang berasal dari batubara yang muncul di
permukaan ataupun dari pembakaran lainnya baik disengaja maupun tidak
disengaja. Hal tersebutmenyebabkan terjadinya kebakaran bawah (ground fire)
dan kebakaran permukaan (surface fire) (Rasyid, 2014)
Syarat terjadinya kebakaran atau nyalanya api pertama, harus tersedia
bahan bakar yang dapat terbakar. Selain itu, kedua harus menghasilkan panas yang
cukup yang digunakan untuk menaikkan suhu bahan bakar hingga ke titik
penyalaan. Oksigen diperlukan untuk menjaga proses pembakaran agar tetap
berjalan dan untuk mempertahankan suplai panas yang cukup sehingga
memungkinkan terjadinya penyalaan bahan bakar yang sulit terbakar. Manajemen
bahan bakar adalah tindakan atau praktek yang ditujukan untuk mengurangi
kemudahan bahan bakar untuk terbakar (fuel flammability) dan mengurangi
kesulitan dalam pemadaman kebakaran hutan. Manajemen bahan bakar dapat
dilakukan secara mekanik, kimiawi, biologi atau dengan menggunakan api.
Perlakuan bahan bakar adalah setiap manipulasi bahan bakar agar bahan
bakar itu tidak mudah terbakar, dengan cara pemotongan, penyerpihan,
penghancuran, penumpukan dan pembakaran (Rumajomi, 2006)
Tujuan
Tujuan dari Kebakaran Hutan dan Lahan yang berjudul Hubungan
Ketebalan Bahan Bakar dan Perilaku Api adalah untuk mengetahui pengaruh
ketebalan bahan bakar dan perilaku api yang dapat menyababkan kebakaran hutan
dan lahan
3

TINJAUAN PUSTAKA

Api adalah suatu kejadian/reaksi kimia eksotermik yang diikuti munculnya


panas/kalor, cahaya (nyala), asap dan gas dari bahan yang terbakar. Menurut
Pusdiklatkar api itu diartikan sebagai reaksi kimia yang disertai oleh penguapan
asap, panas, dan gas-gas lainnya. Api juga bisa disebut sebagai hasil reaksi
pembakaran yang cepat (Drysdale, 2006).
Ketebalan, muatan dan kadar air bahan bakar akan mempengaruhi proses
pembakaran. Muatan serasah akan mempengaruhi penyalaan terkait dengan
ketersediaan bahan bakar pada suatu luasan areal tertentu. Kadar air
mempengaruhi dalam proses kemudahan penyalaan bahan bakar. Semakin besar
kadar air suatu bahan bakar, maka semkin lama proses penyalaan yang terjadi dan
mempercepat proses pemadaman api. Ketebalan serasah mempengaruhi
kelembaban atau kadar air bahan bakar, semakin tebal bahan bakar maka bahan
bakar akan semakin sulit kehilangan kelembabannya (Pasaribu, 2006).
Hubungan ketebalan bahan bakar dengan perilaku api yaitu semakin tebal
bahan bakar maka perilaku api semakin lama merambat namun semakin
ketebalannya berkurang bahan bakar satu dengan bahan bakar lainnya maka api
juga semakin cepat untuk merambat dan membakar. Bahan bakar yang kering juga
merupakan salah satu faktor cepat rambatnya api pada bahan bakarProses
peembakaran suatu biomasa melibatkan proses-proses pemindahan panas, seperti
konduksi, konveksi dan radiasi. Radiasi dan konveksi dapat mentransfer panas
yang dibutuhkan pyrolisi pada permukaan bahan bakar, namun transfer panas
bagian dalam bahan bakar dilakukan melalui konduksi. (Thoha, 2008).
Suatu dampak yang paling penting dari angin adalah menyediakan oksigen
yang banyak untuk terjadinya pembakaran. Arah penjalaran api sangat
dipengaruhi keadaan angin. Udara panas dan angin kencang dapat
menghembuskan bara api dan menimbulkan kebakaran baru pada daerah yang
dilaluinya. Dikatakan pula bahwa angin mempengaruhi penjalaran api dengan
cara memperluas daerah radias dan konveksi dari api (Chandler et al, 1983)
Ukuran bahan bakar dibagi menjadi tiga bagian yaitu bahan bakar halus,
bahan bakar sedang dan bahan bakar kasar. Bahan bakar yang halus akan mudah
dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, mudah mengering, namun mudah pula
4

menyerap air. Api akan semakin cepat menjalar bila luas permukaan bahan bakar
semakin kecil. Bahan bakar kasar, kadar air yang bila luas permukaan bahan
bakar semakin besar. Bahan bakar kasar, kadar air yang dikandung lebih stabil,
tidak cepat mengering, sehingga sulit terbakar. Namun apabila terbakar akan
memberikan penyalaan api lebih lama (Purbowaseso, 2000).
Susunan bahan bakar dibedakan atas susunan vertikal dan horizontal.
Bahan bakar dengan susunan vertikal atau kearah memungkinkan api mencapai
atas dalam waktu yang singkat. Sedangkan susunan bahan bakar secara horizontal
menyebabkan bahan bakar dapat menyebar, sehingga api juga dapat menyebar
berkesinambungan secara mendatar. Apabila bahan bakar yang tersusun longgar,
maka api akan lebih cepat merambat dibandingkan dengan bahan bakar yang
tesusun lebih padat. Hal ini karena pada bahan longgar panas ditransfer melalui
proses konveksi dan radiasi, sedangkan pada bahan bakar yang tersusun padat
prosesnya adalah konduksi yang dapat dikatakan kurang efisien. Susunan bahan
bakar akan mempengaruhi sifat-sifat perilaku api. Susunan horizontal
memberikan pengaruh apakah suatu kebakaran akan menyebar atau seberapa
besar tingkat penyebaran api akan terjadi. Susunan bahan bakar vertikal akan
mempengaruhi ukuran dan kemampuan menyalanya api (Saharjo, 2006).
Volume bahan bakar dalam jumlah besar akan menyebabkan api lebih
besar, temperatur disekitar lebih tinggi, sehingga terjadi kebakaran yang sulit
dipadamkan. Sedangkan volume bahan bahan bakar yang sedikit akan terjadi
sebaliknya yaitu api yang terjadi kecil dan mudah dipadamkan. Hal ini didukung
oleh hasil penelitian McArthur 1973, diacu dalam Arif 2001 menyatakan bahwa
kecepatan penjalaran api meningkat secara langsung dan proporsional dengan
meningkatnya volume bahan bakar tersedia. Hal ini dengan asumsi bahwa faktor
lainnya dianggap konstan (Wibowo, 1995).
Penyusunan bahan bakar menggambarkan sebaran (distribusi) semua
potongan bahan bakar yang dapat terbakar pada bidang horizontal dan vertikal.
Penyusunan bahan bakar juga sekaligus menggambarkan kesinambungan
(kontinuitas) bahan bakar ke arah horizontal dan vertikal. Syaufina (2008)
menegaskan, adanya gap akan menghambat terjadinya penjalaran api. Reaksi
pembakaran akan berlangsung paling baik bila bahan bakar cukup tersebar untuk
5

memberi kesempatan pemasokan oksigen ke zona nyala, tetapi cukup rapat, agar
terjadi pemindahan panas yang efisien (Syaufina, 2008)
Untuk mengukur distribusi baik secara horizontal maupun vertikal suatu
bahan bakar perlu memperhatikan dua hal penting yaitu kekompakan
(compactness or porosity) tumpukan bahan bakar dan kesinambungan (continuity)
bahan bakar. Semakin tinggi kekompakan bahan bakar akan semakin resisten
untuk terbakar karena ventilasi dalam keadaan terbatas sehingga perubahan
kelembaban untuk menjadi kering sangat lambat. Selain itu api membutuhkan
kesinambungan bahan bakar untuk menjalar dan menyebar, secara horizontal
ditentukan oleh kerapatan bahan bakar dan secara vertikal ditentukan oleh
keberadaan bahan bakar mulai dari tingkat bawah, permukaan dan kanopi
(Gorte,s2009).
Selama proses pembakaran, terdapat berbagai faktor yang memengaruhi
perilaku api, yaitu karakteristik bahan bakar, kadar air bahan bakar, faktor cuaca
dan iklim, serta topografi. Karakteristik bahan bakar dikelompokkan ke dalam dua
kategori, yaitu sifat intrinsik dan ekstrinsik. Sifat intrinsik mencakup kimia bahan
bakar, kerapatan, dan kandungan panas. Sifat ekstrinsik mencakup kelimpahan
relatif dari berbagai ukuran komponen bahan bakar, fraksi yang mari, dan
kekompakan bahan bakar. Kekompakan bahan bakar merupakan salah satu unsur
yang penting dalam proses pembakaran. Kekompakan bahan bakar merupakan
faktor yang memengaruhi perilaku api, maka seberapa besar pengaruh kekompkan
bahan bakar terhadap pembakaran harus diketahui. Kekompakan bahan bakar
merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam perilaku api kebakaran
hutan. Kompak tidaknya bahan bakar menentukan seberapa besar api dan
seberapa cepat api menjalar. Bahan bakar yang memiliki tingkat kekompakan
kecil lebih mudah terbakar dan lebih mudah menjalarkan api ke bahan bakar
dengan kekompakan yang rendah lainnya. Contoh sederhana dari hal ini adalah
serutan kayu kering lebih cepat terbakar dan menjalarkan api daripada balok kayu
(Sasongko,n2014).
6

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat


Praktikum Kebakaran Hutan dan Lahan yang berjudul Hubungan
Ketebalan Bahan Bakar dan Perilaku Api ini dilaksanakan tanggal 18 Oktober
2017 pada pukul 15.00 WIB. Praktikum ini dilakukan di Ruang Kuliah 202
Fakultas Kehutanan dan di Hutan Tridarma, Universitas Sumatera Utara.

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah stopwacth, penggaris,
kamera dan alat tulis. Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah daun lebar
kering.

Prosedur
1. Alat dan bahan disiapkan.
2. Setiap 1 kg daun ditumpuk sebanyak 3 tumpukan dengan ukuran 50 x 50 cm.
Kemudian dibagi dengan ketebalan 10 cm, ketebalan 15 cm, dan ketebalan 20
cm.
3. Tumpukan daun lebar dibakar satu persatu dengan korek api.
4. Ukur lamanya daun lebar terbakar (menit), ukur luas terbakar (cm) dan ukur
tinggi api (cm).
5. Dokumentasikan saat daun lebar terbakar.
6. Isi tally sheet yang ada.
Tabel 1. Pengamatan Api Dengan Sumber Korek Api
No SumbernBahan Ketebalan Lama Terbakar Luas Terbakar Tinggi Api
Bakar Bahan Bakar (menit) (cm) (cm)
(cm)
1. Daun Lebar 10
2. Daun Lebar 15
3. Daun Lebar 20
7

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil dari Praktikum Kebakaran Hutan dan Lahan yang berjudul


Hubungan Ketebalan Bahan Bakar dan Perilaku Api adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Pengamatan Api Dengan Sumber Api Korek Api
No SumbernBahan Ketebalan Lama Luas Tinggi
Bakar Bahan Bakar Terbakar Terbakar Api
(cm) (menit) (cm2) (cm)
1. Daun Lebar 10 02,03 100 18
2. Daun Lebar 15 05,49 240 27
3. Daun Lebar 20 06,46 600 35

Pembahasan
Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat dilihat pada tabel 1 yaitu
dengan ketebalan yang berbeda-beda diperoleh hasil perbedaan lama terbakar,
luas terbakar dan tinggi api. Untuk ketebalan 10 cm waktu yang dibutuhkan api
menjalar yaitu 02,03. Lalu pada ketebalan 15 cm waktu yang dibutuhkan 05,49.
Dan pada ketebalan 20 cm waktu yang dibutuhkan api untuk menjalra adalah
06,46. Ini menunjukkan ketebalan bahan bakarnya berpengaruh pada perilaku api
nya yaitu bahan bakar yang semakin tebal maka perilaku api semakin lama
merambat namun jika ketebalan bahan bakar semakin berkurang maka api juga
semakin cepat untuk merambat dan membakar. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Thoha (2008) yaitu Hubungan ketebalan bahan bakar dengan perilaku api yaitu
semakin tebal bahan bakar maka perilaku api semakin lama merambat namun
semakin ketebalannya berkurang bahan bakar satu dengan bahan bakar lainnya
maka api juga semakin cepat untuk merambat dan membakar. Bahan bakar yang
kering juga merupakan salah satu faktor cepat rambatnya api pada bahan bakar.
Pada bahan bakar dengan tingkat ketebalan 10 cm, waktu lamanya bahan
bakar terbakar terjadi cukup cepat yaitu 02,03. Hal ini di sebabkan ketebalan
bahan bakar hanya 10 cm, jadi volumenya juga semakin sedikit dari volume
bahan bakar tumpukkan lainnya sehingga api yang terjadi kecil dan mudah
dipadamkan. Hal ini berkaitan dengan Wibowo (1995) yaitu volume bahan bakar
dalam jumlah besar akan menyebabkan api lebih besar, temperatur disekitar lebih
tinggi, sehingga terjadi kebakaran yang sulit dipadamkan. Sedangkan volume
8

bahan bahan bakar yang sedikit akan terjadi sebaliknya yaitu api yang terjadi kecil
dan mudah dipadamkan.
Bahan bakar dengan tingkat ketebalan lebih rendah lebih cepat terbakar
karena untuk memberikan oksigen ke dalam tumpukan atau zona nyala. Hal ini
seperti yang disebutkan Syaufina (2008) yaitu penyusunan bahan bakar juga
sekaligus menggambarkan kesinambungan (kontinuitas) bahan bakar ke arah
horizontal dan vertikal. Adanya gap akan menghambat terjadinya penjalaran api.
Namun, reaksi pembakaran akan berlangsung paling baik bila bahan bakar cukup
tersebar untuk memberi kesempatan pemasokan oksigen ke zona nyala, tetapi
cukupOrapat,SagarAterjadiIpemindahanRpanasMyangAefisien.
Pada saat praktikum ini dilakukan di hutan tridarma USU, tidak terdapat
banyak angin yang berhembus didalamnya, sehingga penjalaran api pada setiap
tumpukkan di masing-masing tingkat kerapatan tidak berjalan maksimal. Hal ini
berkaitan dengan Chandler et al (1983) yaitu Suatu dampak yang paling penting
dari angin adalah menyediakan oksigen yang banyak untuk terjadinya
pembakaran. Arah penjalaran api sangat dipengaruhi keadaan angin. Udara panas
dan angin kencang dapat menghembuskan bara api dan menimbulkan kebakaran
baru pada daerah yang dilaluinya. Dikatakan pula bahwa angin mempengaruhi
penjalaran api dengan cara memperluas daerah radias dan konveksi dari api.
Faktor ketebalan serasah atau bahan bakar juga berpengaruh pada kadar air
bahan bakar, karena semakin tebal bahan bakar maka semakin sulit bahan bakar
kehilangan kelembabannya dan ini memperngaruhi lamanya waktu penyalaan api.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Pasaribu (2006) yaitu Ketebalan, muatan dan
kadar air bahan bakar akan mempengaruhi proses pembakaran. Muatan serasah
akan mempengaruhi penyalaan terkait dengan ketersediaan bahan bakar pada
suatu luasan areal tertentu. Kadar air mempengaruhi dalam proses kemudahan
penyalaan bahan bakar. Semakin besar kadar air suatu bahan bakar, maka semkin
lama proses penyalaan yang terjadi dan mempercepat proses pemadaman api.
Ketebalan serasah mempengaruhi kelembaban atau kadar air bahan bakar,
semakin tebal bahan bakar maka bahan bakar akan semakin sulit kehilangan
kelembabannyaS(Pasaribu,S2006).
9

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Pada tabel 1 untuk ketebalan bahan bakar yang paling lama intensitas
terbakar adalah ketebalan bahan bakar 20 cm yaitu 06,46 menit dan paling
cepat intensitas terbakar adalah kerapatan bahan bakar 10 cm yaitu 02;03
2. Tinggi api pada tabel 1 yang tertinggi adalah ketebalan bahan bakar 20 cm
yaitu 35 cm. Sedangkan yang paling kecil adalah ketebalan 10 cm yaitu
18 cm.
3. Ketebalan bahan bakar berbanding lurus dengan luas dan lama intensitas
terbakarnya bahan bakar.
4. Pembakaran akan berlangsung paling baik bila ketebalan bahan bakar
cukup tersebar untuk memberi kesempatan pemasokan oksigen ke zona
nyala, tetapi cukup rapat, agar terjadi pemindahan panas yang efisien.
5. Bahan bakar dengan ketebalan yang lebih kecil, volumenya juga semakin
sedikit dari volume bahan bakar yang ketebalannya lebih tinggi sehingga
api yang terjadi kecil dan mudah padam.
Saran
Sebaiknya dalam melaksanakan praktikum Kebakaran Hutan dan Lahan
yang berjudul Hubungan Kerapatan Bahan Bakar Dan Perilaku Api, ini praktikan
melakukannya sesuai dengan prosedur yang diberikan sehingga hasil yang
diperoleh nantinya dapat dimanfaatkan dan praktikan dapat lebih memahami
manfaat dilakukanya praktikum ini.
10

DAFTAR PUSTAKA

Chandler C, Cheney D, Thomas P, Trabaud L, William D. 1983. Fire in Forestry:


Forest Fire Behavior and Effects. Volume ke-1. Canada: John Willley and
Sons, iNc

Drysdale, D. 2006. An Introduction to Fire Dynamics 2nd Edition. England : John


Wiley & Sons.

Gorte, R.W. 2009. Wildfire Fuels and Fuel Reduction. CRS Report for
Congress. Congressional Research Service.

Kumalawati, R. Putra, H. Arisanty, D. Dewi, D. Normelani, E. 2016. Laporan


Penelitian: Strategi Penanganan Hotspot Pada Setiap Penggunaan Lahan
Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Banjar Kalimantan
Selatan.

Pasaribu, 2006. Memahami Penyebab Kebakaran Hutan Dan Lahan Serta Upaya
Penanggulangannya: Kasus di Provinsi Kalimantan Barat.Badan Litbang
Bogor.

Purbowaseso, Bambang. 2000. Pengendalian Kebakaran Hutan. Fakultas


Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.

Rasyid, F. (2014). Permasalahan dan Dampak Kebakaran Hutan. Widyaiswara


Network Journal, 1(4), 47-59.

Rumajomi. 2006. Kebakaran Hutan di Indonesia dan Dampaknya bagi Kesehatan.


Program Pasca Sarjana / S3, Institut Pertanian Bogor.

Saharjo BH. 2006. Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Yang Lestari
Perlukah Dilakukan. Laboratorium Kebakaran Hutan dan Lahan,
Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Salim, E. 2007. Forest Issues in UNFCCC and Its Relevancy to Indonesia.


National Workshop. Indonesia Forest Climate Alliance. Jakarta

Sasongko, M.N. 2014. Pengaruh Prosentase Co2 Terhadap Karakteristik


Pembakaran Difusi Biogas.Mekanika Volume 12 Nomor 2 :89-93.

Syaufina, L. 2008. Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia : perilaku api,


penyebab dan dampak kebakaran. Malang : Bayumedia Publishing.

SK. Menhut. No. 195/Kpts-II/1996.


11

Tacconi, L., 2003. Kebakaran Hutan di Indonesia: Penyebab, Biaya dan Implikasi
Kebijakan Center for International Forestry Research (CIFOR) Bogor,
Indonesia.

Thoha, A. S. 2008. Proses-Proses dan Lingkungan yang Mempengaruhi


Kebakaran Biomassa. Universitas Sumatera Utara. Medan.
12

LAMPIRAN

Gambar 1. Bahan Bakar Ketebalan Gambar 4. Pembakaran Bahan Bakar


10 cm Ketebalan 10 cm
10 cm

Gambar 2. Bahan Bakar Ketebalan Gambar 5. Pembakaran Bahan Bakar


15 cm Ketebalan 15 cm

Gambar 3. Bahan Bakar Ketebalan Gambar 6. Pembakaran Bahan Bakar


20 cm Kerapatan Jarang