Anda di halaman 1dari 20

STUDI MINERAL ALTERASI HIDROTERMAL PADA SUMUR

X DI LAPANGAN PANASBUMI LUMUT BALAI, MUARA


ENIM, SUMATERA SELATAN

Oleh:
YAYAN KARNADHARASAMITA PURNAMA
NIM 072.09.052

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI ILMU KEBUMIAN DAN ENERGI
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2013
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Seiring dengan meningkatnya permintaan pasar akan bahan bakar,

mengakibatkan dunia dilanda krisis energi tak terkecuali Indonesia. Bahan bakar

seperti minyak bumi dan gas alam adalah bahan bakar yang tidak terbarukan.

Keterbatasan persediaan bahan bakar tersebut mendorong manusia untuk mencari

energi alternatif yang terbarukan, ramah lingkungan, dan efisien. Salah satunya

dengan mengembangkan energi geotermal sebagai energi alternatif masa depan.

Energi geotermal adalah energi yang berasal dari panasbumi. Panasbumi

adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan

bersama mineral serta gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat

dipisahkan dalam suatu sistem panasbumi. Panasbumi adalah sumber daya alam yang

dapat diperbarui, berpotensi besar serta sebagai salah satu sumber energi pilihan

dalam keanekaragaman energi di masa mendatang.

Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi panasbumi terbesar di

dunia, yaitu sekitar 40% dari total cadangan panasbumi dunia.Untuk dapat

memanfaatkan potensi panasbumi tersebut agar dapat optimal, diperlukan studi

mengenai karakteristik panasbumi tersebut. Karateristik panasbumi pada satu tempat

dengan tempat lain berbeda-beda, sehingga diperlukan observasi lanjut pada tiap

daerah untuk mengetahui karakteristiknya.


I.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari dilakukannya studi analisis ini adalah untuk menganalisa data

data yang telah dihasilkan dari eksplorasi di lapangan Lumut Balai.

Tujuan dari studi analisis yang dilakukan adalah mempelajari dan

menentukan zona-zona alterasi dari lapangan X sehingga diketahui kisaran

kedalaman dari reservoir dan karakteristiknya.

I.3 Judul Penelitian

Judul yang diajukan untuk penelitian ini adalah Studi Mineral Alterasi

Hidrotermal Pada Sumur X Di Lapangan Panasbumi Lumut Balai, Muara Enim,

Sumatera Selatan (Judul dapat berubah sesuai ketersedian data serta persetujuan

dari pemilik data, dalam hal ini PT. Pertamina Geothermal Energy).

I.4 Data dan Bahasan Masalah

Data yang digunakan adalah milik PT. Pertamina Geothermal Energy (jika

disetejui). Bahasan masalah yang utama pada penelitian ini adalah menentukan zona

alterasi hidrotermal dan karakteristik reservoir dengan metoda sampling dan analisis

deskriftif.

I.5 Jadwal Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat berlangsung selama 3 (tiga) bulan.

I.6 Daerah Penelitian

Daerah penelitian adalah salah satu dari daerah operasi PT. Pertamina

Geothermal Energy khususnya wilayah kerja Lumut Balai, Muara Enim, Sumatera

Selatan (jika disetujui) .


BAB II

TEORI DASAR

II.1 Sistem Panasbumi

Sistem panasbumi tersusun oleh beberapa parameter, yaitu: sumber panas,

reservoir, batuan penutup, sumber fluida dan siklus hidrologi. Sistem ini erat dengan

mekanisme pembentukan magma dan kegiatan vulkanisme. Oleh karena itu,

keberadaan system ini tertentu posisinya, seperti di sepanjang zona vulkanik

punggungan, pemekaran benua, di atas zona subduksi dan anomali pelelehan dalam

lempeng. Panas dari sistem ini ditransfer ke permukaan melalui 3 cara, yaitu:

konduksi, konveksi dan radiasi. Transfer panas melalui bahan akibat adanya interaksi

partikel penyusum batuan tersebut tanpa ada perpindahan massa partikel batuan

tersebut transfer panas konduksi. Transfer panas yang diikuti dengan perpindahan

massa partikel batuan disebut transfer panas konveksi. Sedangkan panas yang

dihasilkan oleh peluruhan alami unsure radioaktif dalam mantel adalah transfer panas

radiasi.

Litologi dari sumber panas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

besar panas yang dihasilkan dalam suatu sistem panasbumi. Pada umumnya, sumber

panasbumi di Indonesia adalah batuan beku dengan derajat pembentukan batuan

beku yang berbeda-beda. Sesuai dengan deret Bowen, sumber panas basaltic akan

menghasilkan panas yang lebih besar daripada sumber panas riolitik.

Reservoir panasbumi umumnya berupa lapisan batuan hasil interaksi

kompleks dari proses tektonik aktif. Reservoir panasbumi yang produktif memiliki
permeabilitas tinggi, geometri reservoir yang besar dan kandungan fluida air yang

tinggi. Intensitas proses tektonik aktif yang tinggi menyebabkan permeabilitas pada

reservoir panasbumi berupa rekahan yang saling berhubungan. Dengan demikian,

litologi reservoir panasbumi dapat berupa apapun, dengan syarat memiliki

permeabilitas yang baik.

Batuan penutup suatu system panasbumi yang baik memiliki permeabilitas

rendah, sehingga dapat menahan panas atau fluida yang terdapat di reservoir. Pada

umumnya litologi batuan penutup dapat berupa aliran batuan vulkanik, batuan

sedimen berbutir halus, ataupun batuan yang permeabilitasnya berukrang akibat

alterasi dari fluida panas.

Keberadaan suatu sistem panasbumi di permukaan dapat diidentifikasi

dengan adanya manifestasi permukaan yang dapat berupa mata air panas, solfatara,

fumarola dan batuan ubahan hasil interaksi fluida panas dengan batuan sekitarnya.

Menurut Hochtein & Browne (2000), system panasbumi merupakan

perpindahan panas alami dalam volume tertentu dari kerak bumi yang membawa

panas dari sumber panas ke tempat pelepasan panas, yang umumnya adalah

permukaan tanah.

Sistem panasbumi ini dikategorikan menjadi 3 (tiga) jenis sistem (Hochtein &

Browne, 2000), yaitu:

1. Sistem Hidrotermal, merupakan proses transfer panas dari sumber panas

ke permukaan secara konveksi, yang melibatkan fluida meteorik dengan

atau tanpa jejak dari fluida magmatik. Daerah rembesan berfasa cair

dilengkapi air meteorik yang berasal dari daerah resapan. Sistem ini
terdiri atas: sumber panas, reservoir dengan fluida panas, daerah resapan

dan daerah rembesan panas berupa manifestasi.

2. Sistem Vulkanik, merupakan proses transfer panas dari dapur magma ke

permukaan melibatkan konveksi fluida magma. Pada sistem ini jarak

ditemukan adanya fluida meteorik.

3. Sistem Vulkanik-Hidrotermal, merupakan kombinasi dua sistem di atas,

yang diawali dengan air magmatik yang naik kemudian bercampur

dengan air meteorik.

Gambar 2.1 Penampang ideal suatu sistem panasbumi (Dickson & Fanelli, 2004)

Temperatur suatu sistem panasbumi diklasifikasikan menjadi 3 (tiga)

berdasarkan temperature reservoir (Hochtein & Browne, 2000), yaitu:

1. Tinggi (temperatur reservoir lebih besar dari 225C)

2. Sedang (temperatur reservoir 125C hingga 225C)


3. Rendah (temperatur reservoir lebih kecil dari 125C)

Sistem panasbumi bersuhu tinggi yang berasosiasi dengan gunung api dapat

dibagi menjadi Sistem panasbumi satu fasa ( air hangat, air panas, dan uap panas )

dan sistem panasbumi dua fasa ( dominasi uap dan dominasi air ).

a. Sistem Panasbumi dominasi uap

Sistem panasbumi dominasi uap yaitu sistem panasbumi dengan

rongga rongga batuan reservoirnya sebagian besar berisi uap panas. Dalam

sistem dominasi uap diperkirakan uap mengisi rongga rongga, saluran

terbuka atau rekahan rekahan sedangkan air mengisi pori pori batuan.

Karena jumlah air yang terkandung dalam pori pori batuan relatif sedikit,

maka saturasi air mungkin sama atau hanya sedikit lebih besar dari saturasi

air konat sehingga air terperangkap dalam pori pori batuan dan tidak

bergerak, oleh sebab itu hanya uap air saja yang terproduksi ke lubang bor.

Hal tersebut terjadi karena adanya tekanan termodinamika dalam

massa zat alir yang meningkat. Sumber panas umumnya berupa vulkan

berumur Miosen atau Kuarter maupun intrusi dan terdapat pada kedalaman 2

- 7 km. Saturasi air <40% dan saturasi uap >60%. Besarnya suhu dan tekanan

pada reservoir mendekati entalpi maksimum uap kering (~240C dan 3,3

MPa) dan bersifat konstan hingga pada bagian bawah zona uap. Batuan pada

reservoir yang memenuhi syarat untuk sistem ini adalah batuan yang

memiliki porositas dan permeabilitas tinggi, batuan sekitar yang

permeabilitasnya kecil (sehingga recharge air kecil ~ <1 mD), serta batuan

penudung yang kedap air.


Berdasarkan perubahan fasa dan suhunya, sistem dominasi uap dapat

dibagi lagi menjadi :

1. Sistem dominasi uap kering : Air berubah fasa seluruhnya menjadi uap.

Suhu yang dibutuhkan >500C. Energi panasbumi sistem uap kering

umumnya ditemukan di daerah intrusi magma yang sumber panasnya

dangkal, dimana sirkulasi aliran air di dalam batuan cadangan uap terdapat

dalam kondisi uap kering dan pemindahan panasnya berbentuk aliran uap

kering. Sistem panasbumi inidicerminkan dipermukaan oleh adanya mata

air panas, fumarola dan geiser (Zohdy et.al, 1973). Dari hasil analisis

kimia air panas, sistem panasbumi ini biasanya menunjukkan kandungan

khlorida dan derajat keasaman rendah serta mempunyai temperatur

permukaan antara 200C sampai 240C pada tekanan sekitar 35 kg/cm2

dalam entalphi sebesar 669,7 kal/grm (White et.al, 1971).

2. Sistem dominasi uap basah : Adanya percampuran air dan uap panas. Pada

sistem ini terjadi penurunan panas dan air bergerak ke permukaan. Suhu

yang dibutuhkan minimal 100C. Energi sistem panasbumi uap basah/ air

panas, umumnya ditemukan di daerah panasbumi yang sumber panasnya

relatif dalam, dimana sirkulasi aliran air di dalam batuan cadangan

terdapat dalam kondisi cair dan pemindahan panasnya berbentuk aliran

panas. Sistem panasbumi ini dicerminkan di permukaan oleh adanya mata

air panas dan sinter silika. Dari hasil analisis kimia air panas, sistem

panasbumi ini biasanya menunjukkan kandungan khlorida tinggi dan

derajat keasaman normal serta mempunyai temperatur maksimal bawah


permukaan 180C (White et.all, 1971). Manifestasi yang sering dijumpai :

fumarola, steaming ground, dan mataair sulfat. Sistem panasbumi

dominasi uap ini jarang dijumpai, antara lain : Larderello (Italia), the

Geyser (USA), Matsukawa (Jepang), Kamojang dan Darajat (Indonesia)

(Goff dan Janik, 2000).

b. Sistem Panasbumi Dominasi Air

Sistem panasbumi ini sangat umum dijumpai. Sirkulasi aliran terjadi

pada fasa cair dan proses perpindahan panas ke permukaan terbentuk tanpa

adanya batuan penudung. Reservoir dijumpai pada kedalaman 1800m -

3000m. Permeabilitas batuan pada reservoir tinggi, sedangkan pada zona

recharge permeabilitasnya sedang. Di Indonesia, sistem panasbumi dominasi

air umumnya berasosiasi dengan gunungapi strato andesitik. Pada sistem ini

diperkirakan 80% dari batuan reservoirnya berisi air (saturasi air = 80%).

Temperatur bervariasi antara 200-300C. Pada sistem dominasi air, baik

tekanan maupun temperatur tidak konstanterhadap kedalaman.

II.2 Alterasi Hidrotermal

Bateman (1956), menyatakan bahwa larutan hidrotermal adalah suatu cairan

atau fluida yang panas, kemudian bergerak naik ke atas dengan membawa

komponen-komponen mineral logam, fluida ini merupakan larutan sisa yang

dihasilkan pada proses pembekuan magma.

Alterasi dan mineralisasi adalah suatu bentuk perubahan komposisi pada

batuan baik itu kimia, fisika ataupun mineralogi sebagai akibat pengaruh cairan

hidrotermal pada batuan, perubahan yang terjadi dapat berupa rekristalisasi,


penambahan mineral baru, larutnya mineral yang telah ada, penyusunan kembali

komponen kimia-nya atau perubahan sifat fisik seperti permeabilitas dan porositas

batuan ( Pirajno,1992).

Alterasi dan mineralisasi bisa juga termasuk dalam proses pergantian unsur-

unsur tertentu dari mineral yang ada pada batuan dinding digantikan oleh unsur lain

yang berasal dari larutan hidrotermal sehingga menjadi lebih stabil. Proses ini

berlangsung dengan cara pertukaran ion dan tidak melalui proses pelarutan total,

artinya tidak semua unsur penyusun mineral yang digantikan melainkan hanya unsur-

unsur tertentu saja.

Alterasi hidrotermal merupakan proses yang kompleks yang melibatkan

perubahan mineralogi, kimiawi, tekstur, dan hasil interaksi fluida dengan batuan

yang dilewatinya. Perubahanperubahan tersebut akan bergantung pada karakter

batuan dinding, karakter fluida (Eh, pH), kondisi tekanan maupun temperatur pada

saat reaksi berlangsung, konsentrasi, serta lama aktifitas hidrotermal. Walaupun

faktorfaktor di atas saling terkait, tetapi temperatur dan kimia fluida kemungkinan

merupakan faktor yang paling berpengaruh pada proses alterasi hidrotermal. (Creasy,

1961).

Menurut Corbett dan Leach (1996), faktor yang mempengaruhi proses

alterasi hidrotermal adalah sebagai berikut :

1. Temperatur dan tekanan, peningkatan suhu membentuk mineral yang

terhidrasi lebih stabil, suhu juga berpengaruh terhadap tingkat kristalinitas

mineral, pada suhu yang lebih tinggi akan membentuk suatu mineral

menjadi lebih kristalin, menurut Noel White (1996), kondisi suhu dengan
tekanan dapat dideterminasi berdasarkan tipe alterasi yang terbentuk.

Temperatur dan tekanan juga berpengaruh terhadap kemampuan larutan

hidrotermal untuk bergerak, bereaksi dan berdifusi, melarutkan serta

membawa bahanbahan yang akan bereaksi dengan batuan samping.

Gambar 2.2 Model konseptual dari alterasi hidrotermal (Sillitoe,2010)

2. Permeabilitas, pada kondisi batuan yang terekahkan maka permeabilitas

akan menjadi lebih besar serta pada batuan yang berpermeabilitas tinggi

hal tersebut akan mempermudah pergerakan fluida yang selanjutnya akan

memperbanyak kontak reaksi antara fluida dengan batuan.


Gambar 2.3 Mineralogi dan Alterasi dalam sistem Hidrothermal (Corbet & Leach
1996)
3. Komposisi kimia dan konsentrasi larutan hidrotermal, jika keduanya

bergerak, bereaksi dan berdifusi memiliki pH yang berbeda-beda

sehingga banyak mengandung klorida dan sulfida, konsentrasi encer

sehingga memudahkan untuk bergerak.


4. Komposisi batuan samping, hal ini sangat berpengaruh terhadap

penerimaan bahan larutan hidrotermal sehingga memungkinkan

terjadinya alterasi.
BAB III

METODE PENELITIAN

III.1 Metode Deskriptif

Dalam tugas akhir ini, penelitian yang digunakan bersifat deskriptif dengan

menggunakan sampel serbuk bor (cutting). Metode deskriptif dalam penelitian ini

dilakukan dengan cara mengidentifikasi mineral-mineral yang hadir dalam sampel

serbuk bor. Identifikasi mineral itu sendiri dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :

1. Deskripsi secara megaskopis

2. Deskripsi secara mikroskopis

III.2 Metode Analisis

Metode analisis merupakan metode yang dipakai ketika metode deskriptif

sudah didapatkan hasil berupa data yang kemudian diolah untuk dilakukan analisis.

Hasil pengolahan data dari metode deskriptif akan didapatkan data berupa litologi,

stratigrafi, temperatur dan alterasi batuan pada sumur penelitian. Kemudian data

tersebut dikorelasikan dan dilakukan analisis, sehingga akan didapatkan kesimpulan

tentang kisaran kedalaman dari reservoir dan karakteristiknya.

III.3 Tahapan Penelitian

Penelitian terdiri dari 4 tahapan pekerjaan yang meliputi :

1. Tahap studi pustaka, pengumpulan data-data sekunder dari pengkajian

literatur yang berhubungan dengan geologi daerah penelitian dan

berdasarkan teori yang mendukung penelitian ini. Tahap studi pustaka ini
sangat penting dipakai untuk menjadi acuan pertama menentukan

karakteristik dari wilayah yang akan diteliti.

2. Tahap pengumpulan data, pada tahap ini dilakukan pengumpulan data-

data primer antara lain dengan mengambil sampel serbuk bor yang

terdapat pada zona alterasi dan batuan reservoirnya. Sampel batuan ini

selanjutnya dianalisis untuk mengetahui sifat fisik dan mineralogi batuan.

Analisis sifat fisik batuan bertujuan untuk mengetahui karakteristik sifat

fisik batuan reservoirnya seperti porositas, permeabilitas, dan densitas.

3. Tahap pengolahan dan analisis data, pada tahap ini terdiri dari beberapa

langkah, yaitu :

a. Analisis petrologi

Melakukan deskripsi berupa jenis litologi dan komposisi mineral,

kehadiran mineral alterasi dan intensitas alterasi menggunakan

sampel setangan dengan bantuan lup dan asam khlorida (HCl).

b. Analisis petrografi

Melakukan deskripsi kehadiran mineral sekunder dalam sayatan tipis

sampel serbuk bor. Pengamatan dilakukan dengan bantuan mikroskop

polarisasi.

c. Analisis X-Ray Diffraction (XRD)

Melakukan kualitatif maupun kuantitatif dengan mengidentifikasi

mineral individu misalnya lempung dan zeolit. Sampel dipilih dari

semua unit litologi dan dianalisis, kemudian dipersiapkan untuk

difraksi sinar-x dengan fraksi mikron <4 menggunakan pengaduk


mekanis untuk memisahkan phylosilicates dari matriks batuan. Kristal

mineral yang akan diidentifikasi misalnya zeolit, karbonat, lempung

dan sulfida yang dipetik dari sampel batuan dengan menggunakan

mesin penggilingan otomatis.

d. Analisa temperatur

Analisa dilakukan dengan melihat keterdapatan mineral yang telah

teralterasi sesuai suhu tempat mineral tersebut terbentuk sebagai

indikator.

4. Tahap interpretasi data

Interpretasi data dilakukan setelah semua tahapan mulai dari studi pustaka,

pengumpulan data serta tahapan pengolahan dan analisis data yang telah

selesai dilakukan.
III.4 Diagram Alir

Studi Pustaka
Geologi Regional Tahap Persiapan

Penelitian Lapangan:
Pengambilan Data Tahap Penelitian
Pengambilan Sampel Batuan Lapangan
Dokumentasi

Pengolahan Data

Analisis Analisis Analisis


Petrologi Petrografi X-Ray Diffraction

Tahap Pengolahan
Data
Zona Alterasi
Temperatur Hidroterrnal

Kedalaman dan
Karakteristik Tahap Penyusunan
Reservoir Laporan
BAB IV

HASIL PENELITIAN

Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat menentukan zona-zona

alterasi dan kedalaman reservoir panasbumi pada daerah penelitian sehingga

diketahui karakteristik reservoir pada lapangan produksi (dalam hal ini yang

dimaksud adalah lapangan produksi milik PT. Pertamina Geothermal Energy (jika

disetujui)).
BAB V

RENCANA KERJA

BULAN 1 BULAN 2 BULAN 3 BULAN 4


NO KEGIATAN
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Tahap Studi Pustaka
2 Tahap Pekerjaan Lapangan
3 Tahapn Pekerjaan Laboratorium
4 Tahap Analisis dan Interpretasi
5 Laporan Akhir
DAFTAR PUSTAKA

Armstead, H.C.H., 1979, Geothermal Energy, E & FN, Spoon. Ltd London City
Reprinted.
Goff, F., dan Janik, C.J., 2000, Geothermal Systems, dalam Sigurdsson, H.
Guilbert, G.M & Park, C.F., 1986, The Geology of Ore Deposits, W.H. Freeman and
Company, New York.
Hochstein, M. P., 1995, Classification and Assessment of Geothermal Resources,
Geothermal Reservoir Course, Geothermal Institute, University of
Auckland.