Anda di halaman 1dari 5

5.

Pembahasan
5.1 Tinjauan Pustaka
Semen seng fosfat adalah salah satu dari acid-base cements yang lebih banyak
diaplikasikan sebagai material luting dan lining. Semen seng fosfat adalah salah satu
semen tertua yang telah dikenalkan sejak tahun 1879. Semen seng fosfat banyak
digunakan dalam berbagai jenis restorasi gigi, seperti inlay, crowns, bridges, dan
orthodontic bands( (Annusavice, 2013, p. 316).
Semen seng fosfat tersedia dalam bentuk bubuk dan cairan yang nantinya akan
dicampurkan bersama untuk dapat digunakan. Komposisi material ini akan dijelaskan
dalam tabel 5.1 berikut:

Tabel 5.1 Komposisi Semen Seng Fosfat (Mc Cabe and Walls, 2008, p. 274).
Zinc Oxide Sekitar 90% sebagai
Bubuk komponen aktif
Oksida logam lain Sekitar 10%
Larutan cair asam fosfat Konsentrasi 50-60%
Cairan AlPO4 Sampai 10% sebagai buffer
Zn3(PO4)2

Komponen aktif utama dalam bubuk adalalah seng oksida. Sedikit oksida
lainnya seperti magnesium oksida juga terdapat dalam bubuk. Pada dasarnya cairan ini
terdiri dari larutan asam fosfat buffer dengan penambahan sejumlah kecil dari seng
oksida atau aluminium oksida. Senyawa ini membentuk fosfat yang dapat menstabilkan
pH asam dan mengurangi reaktifitasnya (Mc Cabe and Walls, 2008, p. 273).

Bubuk mengandung lebih dari 75% seng oksida dan hingga 13% magnesium
oksida. Cairan mengandung asam phosphoric (38%-59%), air (30%-55%), aluminium
fosfat (2%-3%), dan beberapa mengandun seng fosfat (hingga 10%). Cairan mengontrol
pH dan kemampuan reaksi bubuk cairan / asam basa. Semakin kecil ukuran partikel
makan semakin cepat semen setting (Annusavice, 2013, p. 316).

Reaksi antara seng oksida dan asam phosphoric ialah eksotermik dan
membutuhkan prosedur pencampuran yang teliti unuk memilimalisirkan efek dari
pertumbuhan panas. Bubuk semen seng oksida harus dipisah menjadi beberapa bagian
diatas glass slab. Pada saat pencampuran bubuk dan cairan maka akan terbentuk suatu
reaksi yang mengakibatkan pembentukan insoluble zinc phosphate seperti yang terdapat
pada reaksi berikut:

Ketika bubuk dan cairan semen seng fosfat dicampur, asam fosfat yang terdapat
pada cairan akan melarutkan seng oksida yang terdapat pada bubuk dan membentuk gel
seng aluminofosfat pada sisa partikel seng oksida yang tidak larut. Semen yang setting
mengandung partikel seng oksida yang tidak bereaksi dan terbungkus dalam matriks
amorf seng aluminofosfat yang terbentuk dari gel aluminofosfat (Anusavice, 2013, p.
316). Reaksi ini cepat dan termasuk dalam reaksi eksotermik walaupun reaksi ini
dipengaruhi oleh adanya buffer pada kandungan asam dan proses special dari deaktifasi
dari bubuk seng oksida yang melibatkan pemanasan dan proses sintering dengan oksida
lain yang lebih tidak reaktif (Mc Cabe and Walls, 2008, p.273).

Semen seng fosfat yang digunakan sebagai basis menggunakan rasio bubuk
cairan 3,5:1. Untuk penggunaan sebagai luting maka diperlukan campuran yang lebih
cair, dengan rasio bubuk cairan yang lebih rendah untuk memastikan flow dari semen
saat memasang restorasi. Pada saat melakukan pengukuran, penting untuk diingat
bahwa rasio bubuk dan cairan yang rendah akan menghasilkan material yang lebih
lemah secara fisik, lebih soluble, dan lebih iritan (Mc Cabe and Walls, 2008, p. 273).

Menurut standard ISO, waktu setting maksimal yang terjadi ketika


memanipulasi seng fosfat sebagai basis dan liner adalah 6 menit. Sedangkan untuk
semen luting, waktu maksimal yang sesuai standard adalah 8 menit. (Mc Cabe, 208, p.
275)

Working time dan setting time semen seng fosfat bergantung pada proses
produksi pada pabrik. Namun ada cara untuk dapat memperpanjang setting time
sehingga manipulasi dapat dilakukan dengan sempurna. Berikut ini adalah empat
prosedur yang dapat memperpanjang setting time semen seng fosfat (Annusavice 2013,
p. 317):
1. Rasio bubuk dan cairan dapat diturunkan untuk dapat memperpanjang working
time dan setting time. Tetapi penurunan rasio bubuk dan cairan akan
mempengaruhi sifat fisik dan menghasilkan semen dengan pH awal yang
rendah.
2. Semen dicampurkan secara bertahap dengan memasukkan jumlah bubuk sedikit
demi sedikit ke dalam cairan. Dengan begitu dapat mengurangi keasaman cairan
dan memperlambat laju reaksi. Sementara itu, panas yang dihasilkan dari reaksi
akan hilang selama proses pengadukan. Namun, apabila pada awal mula
pencampuran bubuk diberikan langsung dengan jumlah yang banyak, maka
panas yang dihasilkan tidak dapat mencegah percepatan reaksi. Sehingga dapat
memungkinkan terjadinya peningkatan working time dan setting time.
3. Manipulasi dengan memperpanjang waktu pengadukan akan membuat matriks
zinc oxide menjadi lebih mudah hancur sehingga membutuhkan waktu yang
lama untuk menyusun kembali matriks tersebut. Sehingga working time dan
setting time dapat dicapai lebih lama.
4. Temperatur glass slab yang dingin akan memperlambat reaksi kimia pada bubuk
dan cairan, dengan demikian dapat menghambat pembentukan matriks.
Penggunaan glass slab yang dingin dapat memperpanjang working time. Maka,
semakin dingin glass slab, setting time nya pun juga ikut lama.

5.2 Diskusi Hasil

Pada praktikum ini dilakukan manipulasi semen seng fosfat sebagai basis dan
luting. Ada beberapa perbedaan dalam manipulasi semen seng fosfat sebagai basis
dan luting. Semen seng fosfat yang dimanipulasi sebagai basis mempunyai rasio yang
lebih besar daripada semen seng fosfat sebagai luting. Sehingga konsistensi semen
seng fosfat sebagai basis menyerupai bentuk putty, sedangkan konsistensi semen seng
fosfat sebagai luting lebih encer dan menyerupai tali apabila semen seng fosfat
diambil dan ditarik keatas menggunakan spatula.

Rasio bubuk semen seng fosfat dan cairan yang digunakan sebagai luting
adalah bubuk 1 sendok no. 3 dan 3 tetes cairan. Sedangkan rasio semen seng fosfat
yang dimanipulasi sebagai basis, lebih besar daripada rasio yang digunakan untuk
luting, yaitu 1 sendok no. 3 dengan 2 tetes cairan.
Setting time yang dilakukan pada percobaan tersebut menunjukkan bahwa
setting time semen seng fosfat sebagai luting lebih lama daripada basis. Perbedaan
setting time terjadi karena terdapat perbedaan rasio bubuk dan cairan serta perbedaan
reaksi. Rasio bubuk dan cairan yang digunakan pada manipulasi semen seng fosfat
sebagai luting lebih rendah dibandingkan semen seng fosfat sebagai basis. Sehingga
adonan semen seng fosfat sebagai luting lebih encer dan ketika ditarik dengan spatula
setinggi 1 inch membentuk bentukan menyerupai tali. Rasio bubuk dan cairan yang
lebih encer akan memiliki setting time yang panjang dan memperpanjang working
time.

Setting time yang dilakukan pada percobaan tersebut menunjukkan bahwa


setting time semen seng fosfat sebagai luting lebih lama dari basis. Setting time
semen seng fosfat sebagai luting lebih lama karena jika semen seng fosfat digunakan
sebagai luting , cairan yang digunakan lebih banyak daripada bubuk seng fosfat
sehingga jarak antar partikel seng oksida yang tidak larut lebih jauh dan menyebabkan
proses terbungkusnya partikel seng oksida dalam matriks amorf aluminofosfat seng
berlangsung lama, sehingga setting time yang terjadi juga lama

Pada praktikum setting time seng fosfat sebagai basis didapatkan setting time
yang lebih lama karena W/P ratio yang digunakan untuk membuat basis tinggi. W/P
ratio yang tinggi tersebut menunjukkan cairan yang digunakan sedikit daripada
bubuk seng fosfat. Komposisi cairan seng fosfat terdapat asam fosfat yang berfungsi
untuk melarutkan seng oksida yang terdapat pada bubuk semen seng fosfat. Apabila
asam fosfat tersebut sedikit, maka asam fosfat tidak cukup untuk melarutkan seng
oksida yang terdapat dalam bubuk seluruhnya dan menyebabkan jarak antar partikel
seng oksida menjadi semakin dekat sehingga tumbukan antar partikel seng oksida
yang terdapat dalam bubuk akan lebih cepat dan laju reaksi lebih cepat daripada pada
manipulasi basis, maka setting time pada manipulasi basis lebih cepat.

6. Kesimpulan
1. Konsistensi semen seng fosfat sebagai luting memiliki konsistensi lebih cair
dibandingkan dengan semen seng fosfat sebagai basis.
2. Setting time dari semen seng fosfat sebagai luting lebih lambat daripada setting
time semen seng fosfat sebagai basis.
Dapus :

Anusavice KJ, Shen C, Rawls RH. 2013. Phillips Science of Dental Materials. 12nd
Edition. USA: Saunder Elesevier. p. 316-7.

McCabe JF and Walls A. 2008. Applied Dental Materials. 9th ed. United Kingdom:
Blackwell Publishing Ltd. p. 273-5.