Anda di halaman 1dari 33

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.

R DENGAN
DIAGNOSIS MEDIS MIGREN COMPLIKATA DI RUANG SERUNI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ULIN BANJARMASIN

Di ajukan untuk memenuhi salah satu syarat PKK II


Program Studi D3 Keperawatan

Di susun Oleh:

Nonik Maria Ulfa


712002 S 07122 R

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MIUHAMMADIYAH BANJARMASIN


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN REGULER
2010
TINJAUAN TEORITIS HIPERTENSI

A. Pengertian

Istilah migren berasal dari kata migraine yang berasal dari bahasa Perancis;
sementara itu dalam bahasa Yunani disebut hemicrania, sedang dalam bahasa
Inggris kuno dikenal dengan megrim. Konsep klasik menyatakan bahwa migren
merupakan gangguan fungsional otak dengan manifestasi nyeri kepala unilateral
yang sifatnya mendenyut atau mendentum, yang terjadi secara mendadak di
sertai mual dan muntah.(Mutiara, 2010).
Menurut Mansjoer (2000:35), migren adalah nyeri kepala berulang yang
idiopatik, dengan serangan nyeri yang berlangsung 4-72 jam, biasanyan sesisi,
sifatnya berdenyut, intensitas nyeri sedang-berat, diperberat oleh aktivitas rutin,
dapat disertai nausea, fotofobia, dan fonofobia. Migren dapat terjadi pada anak-
anak dengan lokasi nyeri lebih sering bifrontal.

B. Etiologi
Menurut mansjoer (2000: 37), mudah tidaknya seseorang terkena penyakit
migren ditentukan oleh adanya defek biologis herediter pada sistem syaraf pusat.
Berbagai faktor dapat serangan migren pada orang berbakat tersebut antara lain:
1. Hormonal,
2. Menopause,
3. Makanan,
4. Monosodium glutamate,
5. Obat-obatan,
6. Aspartam,
7. Kafein,
8. Lingkungan,
9. Rangsangan sensorik,
10. Stress fisik,
11. Faktor pemicu lain aktivitas seksual, trauma kepala, kurang atau kelebihan
tidur.

C. Patofisiologi
Menurut Mutiara (2010), hipotesis terbaru menyatakan bahwa
vasokonstriksi dini yang diikuti oleh vasodilatasi diakibatkan oleh pelepasan
amin biogenik seperti serotonin, norepinefrin dan epinefrin pada penderita yang
mempunyai predisposisi genetik terhadap hipersensitivitas vaskular. Pada
beberapa pasien selama , selama migren terjadi peningkatan ekskresi hasil-hasil
degradasi amin-amin tersebut. Kecuali itu juga ditemukan penurunan kadar
serotonin dara. Karena amin-amin ini merupakan vasokonstriktor yang kuat,
maka amat mungkin bertanggung jawab atas prodormal vasokonstriksi. Sesudah
dilepaskan , maka degradasi dan pengurangan , suatu hiperemia aktif mungkin
menjadi penyebab vasodilatasi selama serangan migren. Hipotesis ini diperkuat
oleh bukti bahwa: (1) pemberian reserpin, obat yang mengurangi kadar serotonin
dalam jaringan migren; (2) penyuntikan serotonin dapat meringankan nyeri
kepala migren dan (3) pemberian metisergid, suatu antagonis serotonin dapat
mencegah banyak kasus migren. Zat vasoaktif lain yang menyebabkan migren
adalah neurokinin, suatu polipeptida yang mirip dengan bradikinin . Neurokinin
ditemukan didalam cairan yang terkumpul di sekitar arteria kranialis selama
serangan migren , dan mungkin bertanggung jawab atas respon peradangan.
Teori yang masih dianut sampai saat ini yaitu :
- teori vaskular
- teori penyebaran depresi kortikal
- teori neurotransmitter
- hipotesis sentral
- teori unifikasi dan
- teori disfungsi sistem trigeminovaskular.
Teori vaskular, Serangan disebabkan oleh vasokonstriksi pembuluh darah
intrakranila sehingga aliran darah otak menurun yang dimulai dibagian occipital
dan meluas ke anterior perlahan-lahan ibarat gelombang oligemia yang sedang
menyebar, yang melintasi korteks serebri dengan kecepatan 2-3 mm per menit,
berlangsusng beberapa jam (fase aura) dan diikuti olehvasodilatasi pembuluh
darah ekstrakranial yang menimbulkan nyeri kranial.
Teori penyebaran depresi kortikal dimana terjadi depresi gelombang listrik yang
menyebar lambat ke anterior setelah peningkatan mendadak aktivitas listrik pada
bagian posterior otak.

Teori neurotransmitter. Pada serangan terjadi pelepasan berbagai


neurotransmitter antara serotonin dari trombosit yang memiliki efek
vasokonstriktor. reseptor serotonin ada sekitar tujuh jenis yang sudah ditemukan
dan banyak diselaput meningen, lapisan korteks serebri, struktur dalam dari otak,
dan yang paling banyak initi-inti batang otak . Dua reseptor yang terpenting
adalah 5-HT1 yang bila terangsang akan menghentikan serangan migren ,
sedanagkan 5-HT2 bila disekat maka akan mencegah serangan migren. Oleh
sebab itu, baik agonis (sumatripan, dihidroergotamin, ergotamin tartrat) maupun
antagonis serotonis (siproheptadin, metilsergid, golongan antidepresan trisiklik,
penyekat saluran kalsium) bermanfaat dalam penatalaksanaan migren.
Disamping itu, neurotransmitter lainnya yang terlibat pada proses migren adalah
katekolamin (noradrenalin), dopamin, neuropeptidaY dan CGRP (calcitonin
gene-related peptide)dan VIP (vasoactive intestinal polypeptida), histamin, nitrit
oksida, beta-endorfin, enkefalin, dan dinorfin, serta prostaglandin.

Teori sentral.Serangan berkaitan dengan penurunan aliran darah dan aktivitas


listrik kortikal yang dimulai pada korteks visual lobus occipital. Gejala
prodormal migren yang terjadi beberapa jam atau satu hari sebelum nyeri kepala
berupa perasaan berubah , pusing, haus, menguap menunjukan gangguan pada
hipotalamus. Stimulasi lokus serulens menimbulkan penurunan aliran darah otak
ipsilateral dan peningkatan aliran darah sistem karotis eksterna seperti pada
migren. Stimulasi inti rafe dorsal meningkatkan aliran darah otak dengan
melebarkan sirkulasi karotis interna dan eksterna. Stimulasi nervus trigeminus
dapat melebarkan pembuluh darah ekstrakranial kemungkinan melalui pelepasan
neuropeptida vasoaktif misalnya substansia P.

Teori inflamasi neurogenik (Moskowitz, 1991). Sistem trigeminovaskular


dimulai dari meningen pada ujung serabut-serabut aferen primer C yang kecil
dari trigeminus yang badan selnya berada dalam gangglion trigeminus dan
pembuluh darah sekitarnya. Impuls yang berjalan di sepanjang nervus V menuju
ke ganglion, ke dalam pond, dan berjalan turun bersinaps pada nukleus kaudalis
trigeminus. Inflamasi neurogenik yang menimbulkan nyeri migren terjadi pada
ujung pertemuan antara serabut saraf trigeminus dan arteri duramater. Inflamasi
ini disebabkan oleh pelepasan substansia P, CGRP, dan neurokinin A dari ujung-
ujung saraf tersebut . Neurotransmitter ini membuat pembuluh darah dura yang
berdekatan menjadi melebar, terjadi ekstravasasi plasma, dan aktivasi endotel
vaskular. Inflamasi neurogenik ini menyebabkan sensitisasi neuron dan
menimbulkan nyeri . Aktivitas selama fase aura atau pada awal serangan migren
menimbulkan depolarisasi serabut saraf trigeminus di dekat arteri piamater
sehingga mengawali fase nyeri kepala.

Teori unifikasi (Lance dkk, 1989). Teori ini meliputi sistem saraf pusat dan
pembuluh darah perifer. Beberapa proses pada korteks orbitofrontal dan limbik
memicu reaksi sistem noradrenergik batang otak melalui lokus serulens dan
sistem serotonergik melalui inti rafe dorsal serta sistem trigeminovaskular yang
akan merubah lumen pembuluh darah, yang juga akan memicu impuls saraf
trigeminus, terjadi lingkaran setan rasa nyeri. Nausea dan vomitus mungkin
disebabkan oleh kerja dopamin atau serotonin pada area postrema dasar ventrikel
IV dalam medula oblongata. Proyeksi dari lokus serulens ke korteks serebri dapat
menimbulkan oligemia kortikal dan depresi korteks menyebar, menimbulkan
aura.

D. Manifestasi Klinis
Menurut Mansjoer (2000:38), gambaran klinis migren adalah sebagai
berikut:
1. Nyeri kepala berdenyut yang bersifat unilateral tetapi dapat bilateral atau ganti
sisi. Serangan migren umumnya 2-8 kali per bulan , lamanya sekali serangan
antara 4-24 jam atau bisa lebih lama, intensitas neri sedang sampai berat,
2. Mual dan muntah,
3. Fotofobia dan/atau fonofobia,
4. Wajah pucat,
5. Vertigo,
6. Tinnitus , iritabel,
Menurut Mansjoer (2000:38), gejala klinis pada migren dengan aura, gejala
prodormalnya adalah skotoma,teikospia (spectra fortifikasi), fotopsia (kilatan
cahaya), parestesia serta halusinasi visual dan auditorik. Sedangkan pada migren
tanpa aura, gejala prodormalnya adalah kehabisan tenaga, rasa lelah, sangat lapar
dan rasa gugup/ geliah.

E. Pemerisaan Penunjang
Menurut Mutiara (2010), banyak dokter yang meminta suatu serial
pemeriksaan darah untuk pemeriksaan penyakit kelenjar gondok, anemia atau
infeksi yang dapat menyebabkan sakit kepala. Kadang-kadang diperlukan
pemeriksaan sken otak seperti computed tomographic scan (CT-scan) atau
magnetic resonance imaging (MRI) untuk menepis gangguan otak yang serius.
Jika dicurigai adanya aneurisma pembuluh darah otak, perlu dilakukan
pemeriksaan angiogram. Untuk mendiagnosis migren tidak selalu mudah,
terutama pada pasien-pasien yang memiliki gejala yang tidak jelas.
Elektroensefalogram (EEG) dilakukan untuk mengukur aktivitas kerja otak. EEG
ini dapat mengidentifikasi suatu malfungsi saraf otak, tetapi tidak dapat
menunjukkan secara tepat masalah yang menyebabkan suatu sakit kepala.
Termografi, suatu teknik percobaan yang sedang dikembangkan untuk
mendiagnosis sakit kepala dan menjanjikan untuk menjadi alat klinis yang
berguna dikemudian hari. Pada termografi, sebuah kamera infra merah akan
mengubah temperatur kulit menjadi suatu gambar yang berwarna atau suatu
termogram dengan berbagai warna yang berbeda sebagai akibat tingkat
pemanasan yang berbeda. Temperatur kulit ini dipengaruhi oleh aliran darah.
Para saintis menemukan termogram pada pasien-pasien yang menderita sakit
kepala menunjukkan pola panas yang berbeda sangat menyolok dari mereka yang
tidak pernah atau jarang mengalami sakit kepala .

F. Penatalaksanaan Medis
Menurut mansjoer (2000:38), secara umum tata laksana berupa:
1. Saat serangan beri terapi simtomatik.
2. Bila faktor pencetus dikenali maka harus dihindari.
3. Ansietas dan depresi harus diobati.
4. Relaksasi dan latihan pernafasan.

Menurut Mutiara (2010), penatalaksanaan pada klien den migren adalah:


Medikamentosa
Tujuan terapi ini adalah untuk membantu penyesuaian psikologik dan fisiologik
penderita, mencegah berlanjutnya dilatasi arteri ekstra kranial tanpa mengurangi
aliran darah keotak, serta menghambat aksi radiator humoral misalnya serotonin
dan histamin, dan mencegah vasokonstrisiarteri intrakranial untuk memperbaiki
aliran darah otak, yang kesemuanya berperan dalam proses terjadinya sindrom
migren. Tetapi medikamentosa dapat dilaksanakan pada tahap akut dan dapat
pula dilaksanakan sebagai pencegah terjadinya nyeri.
1. Terapi tahap akut
Tujuan pengobatan pada tahap akut ini adalah untuk mengatasi rasa nyeri
akibat terjadinya dilatasi arteri dikulit kepala yang terjadi pada saat serangan
migren.
a. Ergotamin tartrat
Ergotamin tatrat telah digunakan sejak 60 tahun yang lalu dan efektif
untuk mengatasi nyeri kepaa migren akut. Ergotamin menghmbat
pengambilan kembalinorepinefrin bebas; norepinefrin ini sangat erat
hubungan nya dengan reseptor adrenergik alfa yang bertanggung jawab
untuk melakuakan vasokonsrtiksi. Efektifitas ergotamin pada saraf perifer
dan terutama pada otot polosakan memperpanjang waktu konsrtiksi arteri
dikulit kepala. Obat ini dapat mengurangi amplitudo pulsasi arteri kulit
kepala sehingga menghilangkan rasa nyeri. Ergotamin tidak memberi efek
vasokonstriksi pada arteri sereberal maupun retinal. (1,3)
Ergotamin tattrat dapat diberikan peroral, sublingual, parenteral, atau
melalui rektum. Dosis yang dianjurkan adalah 1-2 mg pada saatt serangan
migren kemudian dilanjutkan 2 mg dalam satu jam, tetapi tidak lebih dari
6 mg pada satu kali serngan. Pemberian suntikan pada satu kali serangan
dosisnya antara 0,25-0,50 mg. Sementara itu, efek samping yang mungkin
terjadi harus dipantau, antara lain: sakit di otot, paretesia, angina pektoris,
dan tromboflebitis. Perlu diperhatiak pula kemngkinan adanya toleransi
dan dependensi pemakaian ergotamin ini. Sebagai bahan profilaksi,
pemakaian ergotamin sangat tidak di anjurkan.
b. Dihidroergotamin (dihydergot/DHE)
Dihidro-ergotamin, suatu derivar ergot, yang mempunyai efek
vasokonsrtiksi tetapi tidak sekut ergotamin tatrat. Efek sampingnya jauh
lebih sedikit dibandingkan dengan ergotamin tatrat. Biasanya diberikan
peroral.Obat-obat yang memberikan efek non spesifik pada serangan
nyeri akan dapat diberikan misalnya analgesik, sedativa, dan obat-obat
anti cemas, terutama setelah tahap akut mereda. Dapat pula diberikan
bersama dengan ergotamin pada saat akut, misalnya cafergot.
c. Sumatripan suksinat (Imitrex) merupakan zat yang bekerja sebagai agnis
selektif nyeri kepala migren. Obat ini dapat diberikan subkutan dengan
sebuah autoinjektor . Sumatripan terbukti efektif dalam menghiangkan
nyeri kepala dan mual pada migren. Dosis lazim adalah 6mg subkutan ,
dapat diulang dalam waktu 1 jam bila diperlukan (jangan melampaui 12
mg/24 jam). Efek samping ringan berupa reaksi lokal pada kulit, muka
merah, kesemutan dan nyeri leher serta kadang-kadang neyri dada.
Kontraindikasi obat ini adalah angina, penyakit koroner, hipertensi atau
penggunaan yang bersamaan dengan ergotamin atau vasokonstriktor
lainnya. Sumatripan tidak boleh diberikan pada migren basiler atau
migren hemiplegik.
Nonmedikamentosa
Yoga atau terapi relaksasi pernah dicoba untuk mengatasi serangan migren akut.
Upaya lain nya antara lain mditasi, dan hipnotis. Sayang upya tersebut secara
metodologik kurang bisa dipegang hasilnya mengingat munculnya bias. Lagipula
upaya tersebut cukup sulit untk dilakuakan oleh setiap orang. Sebaiknya terapi
profilaksis dengan psikoterapi sejak awal sudah dapat dilakuakan bersama
dengan mdikamentosa. Dilain pehak, terapi tanpa obat ini perlu diteliti lebih
lanjut mengingat biaya yang sangat murah dan tiadanya efek sampig sebagimana
terjadi pada terapi medikamentosa.
Profilaktik
Terapi profilaktif ditujukam untuk mencegah terjadinya serangan akut. Efek
plasebo dapat menurunkan frekwensi serangan migren lebih dari 40%. Sementar
itu metisergit meleat, suatu obat yang berefek antiserotonin, dapat menurunkan
frekwensi serangan migren akut.(1) Terapi preventif ini tidak boleh diberikan
pada wanita hamil atau yang mau hamil.
a. Penghambat adrenergik beta seringkali efektif untuk profilaksis migren.
1) Propanolol dengan dosis 80-160 mg per-hari dibagi dalam 2-3 kali
pemberian, jangan diberikan pada pasien asma bronkial, tendensi
bronkospasmus atau gagal jantung kongestif. Efek samping propranolol
adalah hipotensi dan insomnia.
2) Propanolol dilaporkan dapat menurunkan frekwensi serangan nyeri kepala
migren. Hambatan oleh propranolol ditujukan pada dinding embuluh darah.
Dengan demikian propranolol dapat mencegah dilatasi pembuluh darah
sebagai akibat dari beberapa senyawa humoral yang bekerja pada reseptor
tersebut. (1,3)
b. Antidepresan trisiklik, yaitu amitriptilin atau imipramin (Tofranil) dengan
dosis 50-75 mg/hari sebelum tidur atau dalam dosis terbagi.
c. Penyekat saluran kalsium kadang-kadang dipakai sebagai alternatif kedua bila
penyekat beta atau amitriptiin tidak efektif. Verapamil (Isoptin) dengan dosis
3-4 kali 80 mg/ hari. Kontraindikasi obat ini pada sindrom sinus salit, blok
jantung derajad dua-tiga dan gagal jantung kongestif . Efek sampingnya
adalah edema, hipotensi, lelah, pusing dll.
d. Antihistamin-antiserotonin
Siphroheptadin hidroklorida, yang merupakan antagonis serotonin dan
histamin, dapat dipakai untuk proflaksis migren tetapi mempunyai efek
samping mengantuk, merangsang nafsu makan dan menambah berat badan.
Pizotifen dilaporkan dapat mencegah vasokonstriksi. Efek profilaktifnya
dilaporkan tidak sebaik metilsergid maleat dan efek sampingnya sama dengan
siproheptadin.
e. Metilsergid (antagonis serotonin) 2mg/hari dinaikan sampai 8mg/hari dibagi
dalam beberapa dosis. Dosis dinaikan apabila pasien bebas dari efek samping
termasuk mengantuk, ataksia, mual. Tidak boleh digunakan lebih dari 6 bulan
karena akan menimbulkan fibrotretroperitonealis.
f. Antikonvulsan. Bermanfaat pada beberapa pasien terutama dengan epilepsi
migrenosa (fenitoin 200-400 mg perhari). Pada anak dosis fenitoin yang
diberikan 5 mg .kgBB/hari . Asam valproat 25500 mg 2 kali sehari dapat
mengurangi frekuensi nyeri kepala migren. Namun, obat-obat ini bukan
standar untuk migren .

G. Prognosis
Menurut Mutiara (2010) prognosis migrain adalah buruk. Kasus migrain
masih terus dipelajari dan penelitian dalam hal ini masih berlangsung. Migrain
merupakan gangguan kronis dengan serangan episodik dengan prognosis jangka
panjang sangat bervariasi. Migrain mungkin memiliki remisi sangat jinak
(lengkap) atau relatif jinak (remisi parsial) prognosis. Dalam beberapa kejadian ,
migrain menetap dan tidak dapat dihilangkan. Sebuah studi populasi baru-baru
ini menunjukkan bahwa, selama periode 1-tahun, 84% dari pasien dengan
migrain bertahan dengan diagnosis (ketekunan migrain); sekitar 10% mengalami
remisi 1-tahun klinis lengkap, dan 3% mengalami remisi parsial ; 3% migrain
kronis lainnya dikembangkan. studi jangka panjang mendukung konsep bahwa
kasus migrain meningkat dengan usia dan juga bahwa faktor risiko yang telah
diidentifikasi (misalnya terlalu sering menggunakan obat, obesitas, dll).

H. Komplikasi
Menurut Mutiara (2010), komplikasi dari migren antara lain:
1. Status migrain
Serangan migren dengan nyeri kepala lebih dari 72 jam walaupun telah
diobati sebagaimana mestinya. Telah diupayakan memberikan obat yang
berlebihan namun demikian nyeri kepala tak kunjung berhenti. Contoh
pemberian obat yng berlebihan misalnya minum ergotamine setiap hari atau
lebih dari 30 mg tiap bulan, dan telah menggunakan lebih dari 300 mg
diazepam atau sejenisnya seiap bulan nya.
2. Infark migraine
Penderita termasuk dalam penderita migren dengan aura. Serangan yang
terjadi sama tetapi deficit neurologik tetap ada setelah 3 minggu dan
pemeriksaan CT scan menunjukkan hipodensitas yang nyat pada waktu itu.
Sementara itu penyebab lain terjadinya infark dapet disingkirkan dengan
pemeriksaan angiografi, pemeriksaan jantung dan darah.

TINJAUAN TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN MIGREN


PENGKAJIAN
1. Identitas
Paling banyak terjadi pada kalangan orang dewasa

2. Keluhahan utama
Sakit kepala/pusing, sulit tidur, tidak nafsu makan, sesak nafas dan
lemas

3. Riwayat penyakit sekarang/Proses terjadinya masalah


- Tanda dan Gejala
TD >140/90 mmHg
Sakit kepala/pusing
Sulit tidur

- Penyebab
Faktor genetic
Stress
Obesitas
Pemasukan sodium berlebihan

- Akibat yang ditimbulkan :


Gangguan pemenuhan oksigen, perubahan kenyamanan, intake
nutrisi kurang, gangguan istirahat dan tidur, keterbatasan aktivitas, cemas
dan juga resiko tinggi penurunan curah jantung.

4. Pola fungsi kesehatan


a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Lebih banyak terjadi pada orang yang hiperaktivitas,
mengkonsumsi makanan terlalu tinggi, pemakaian obat-obatan bebas dan
terapi antihipertensi, klien akan memeriksakan diri apabila gejala sudah
berat.
b. Status gizi
Hindari atau mengurangi mengkonsumsi asupan lemak jenuh dan
makanan dengan kolesterol tinggi (daging, kuning telur, jeroan, makanan
kaleng).
c. Pola istirahat dan tidur
Dengan istirahat dan tidur akan membantu dalam mengurangi
stress yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah karena bila
istirahat yang cukup seluruh tubuh akan relax.

d. Pola eliminasi
Tidak mengalami gangguan dalam BAB dan BAK.

e. Pola Aktivitas
Dalam melakukan aktivitas terjadi gangguan karena adanya
pusing, klien tidak dapat beraktivitas terlalu berat.

f. Pola Koping terhadap stress


Stress merupakan salah satu faktor penyebab peningkatan
tekanan darah terutama stress yang cukup berat, oleh sebab itu harus
dijaga agar klien tidak/jangan sampai stress, klien harus selalu rileks,
jangan terlalu banyak beban pikiran.

5. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Lemah
Kesadaran : Composmentis GCS 4 5 6
TTV :
Nadi : Meningkat > 60 x/menit
Respirasi : Meningkat > 18-24 x/menit
Temperatur : Normal (36-37oC)
Tekanan darah : >140/90 mmHg

Data Fokus
- Inspeksi : kulit pucat, sianosis pada ekstremitas, pernafasan cuping
hidung, respon verbal : meringis, gelisah, respon motorik :
penurunan kekuatan genggaman tangan.
- Palpasi : -
- Perkusi : -
- Auskultasi : TD meningkat, perubahan irama jantug, S2 terdengar pada
dasar, adanya bunyi nafas tambahan.
6. Pemeriksaan penunjang
- EKG
- CT Scan
- Rontgen
- As. Urat
- Kolestrol dan trigliserida
- Kalsium serum
- Glukosa
- BUN/Kreatinin
- Hemoglobin

PENGKAJIAN NEURO SENSORI


Gejala : Keluhan pening/pusing
Berdenyut, sakit kepala sub oksipitalis (terjadi saat bangun dan

menghilang secara spontan setelah beberapa jam).

Episode bebas atau kelemahan pada satu sisi tubuh.


Gangguan penglihatan (diplopia, penglihatan kabur).
Episode epistaksis.
Tanda :

- Status mental : perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, afek proses pikir
atau memori (ingatan).
- Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman tangan/refleks.
- Perubahan-perubahan retinal optik : dari sklerosis/penyempitan arteri ringan
sampai berat dan perubahan sklerotik dengan edema atau papiledema, eksudat
dan hemoraghi tergantung pada berat/lamanya hipertensi.

DIAGOSIS KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.


a. Kaji nyeri (penyebab, kualitas, region, skala dan durasi nyeri).
b. Atur posisi klien, missal posisi semi fowler.
c. Anjurkan penggunaan tehnik relaksasi yaitu nafas dalam.
d. Kaji tanda-tanda vital.
e. Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala, mis.
Kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher, tenang, redupkan
lampu kamar.
f. Kolaborasi:
Berikan obat sesuai indikasi:
Analgesik.

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


intake adekuat.
a. Kaji intake dan output nutrisi.
b. Observasi tekstur, turgor kulit.
c. Kaji/ukur BB dan TB klien.
d. Lakukan oral hygiene.
e. Letakan posisi kepala lebih tinggi pada waktu, sela dan sesudah makan.
f. Memberikan makanan peroral setengah cair makanan lunak ketika klien dapat
menelan makanan.
g. Kolaborasi:
Dengan tim dokter untuk memberikan cairan mulai IV

3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan umum.


a. Kaji kemampuan (dengan menggunakan skala) dan tingkat kekurangan untuk
melakukan kebutuhan sehari-hari.
b. Kaji skala kekuatan otot klien.
c. Hindari melakukan sesuatu untuk klien yang dapat dilakukan sendiri tetapi,
berikan bantuan sesuai kebutuhan.
d. Bantu pasien dalam melaksanakan aktivitas sesuai dengan kebutuhannya. Beri
pasien istirahat tanpa diganggu diantara berbagai aktivitas.

Hasil Asuhan

I. Identitas Pasien
a. Nama : Ny. R
b. Umur : 70 tahun
c. No. Rekam Medik :
d. Alamat : Jl. Kelayan B Rt. 21 Banjarmasin
e. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
f. Tanggal MRS : Jumat, 16 Juli 2010
g. Tanggal pengkajian : Kamis, 22 Juli 2010
h. Diagnosis Medis : Migren komplikata

II. Riwayat penyakit


a. Keluhan Utama
Pada sat pengkajian Kamis, 22 Juli 2010 pukul 08.00 wita, klien
mengeluh nyeri pada kepala sebelah kiri.

b. Riwayat Penyakit Sekarang


Jumat 16 Juli 2010 pukul 17.00 wita, klien mengeluh nyeri pada
kepala disebelah kiri, kemudian anak klien membelikan klien obat Promag
di warung, tidak lama setelah itu klien mual-mual, muntah lebih dari 3 kali,
kemudian pukul 18.00 wita klien dibawa ke IGD RSUD Ulin Banjarmasin.
Kemudian selama di IGD mata sebelah kiri klien tidak dapat dibuka (ptosis).
Kemudian tanggal 17 Juli 2010 baru klien di bawa ke ruang rawat.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


Anak klien mengatakan sebelumnya 2 kali masuk rumah sakit
dengan penyakit jantung, dan sebelumnya klien sudah sering menderita nyeri
kepala sebelah (migren). Dan klien juga memiliki riwayat penyakit
hipertensi.

III. Keadaan Umum


a. Tingkat Kesadaran
Keadaan umum klien tampak lemah.
Kesadaran klien Composmentis
GCS E4-V4-M6
Ket:
E4= Respon membuka mata spontan
V4=Respon verbal bingung
M6=Respon motorik mengikuti perintah

b. Tanda-Tanda Vital
Tekanan darah = 150/90 mmHg
Nadi = 84 x/menit
Respirasi Rate = 20 x/menit
Suhu = 37,2 C

c. Data antropometrik
Tinggi Badan= 145 cm
Berat Badan=35 kg
LLA=13 cm
BBI=40,5kg

IV. Data Penunjang


a. Laboratorium
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan
HEMATOLOGI
Lekosit 14,000 4,000-10,500 /L
MCV, MCH, MCHC
MCV 77,1 80,0-97,0 fl
HITUNG JENIS
Neutrofil # 8,10 2,50-7,00 ribu//L
Limfosit # 5,30 1,25-4,00 ribu/L
KIMIA
Kimia Darah
Glukosa Darah Sewaktu (BSS) 279 <200 mg/dL

b. Terapi medis
Infus D5% 20 tetes per menit
Injeksi Ranitidin 2x1 amp per IV
Injeksi Dexametason 1x1 amp per IV
Injeksi Ondensentron 3x8 mg per IV
Injeksi 3x1 amp per IV (k/p)
Captopril 3x2,5 mg per sublingual
Amoldifin 1x10 mg per oral
Aspilet 1x80 mg per oral
Lodia 2x10 mg per oral

V. Data Fokus
a. Inspeksi
Kesadaran klien Composmentis.
GCS E4-V4-M6
Ket:
E4= Respon membuka mata spontan
V4=Respon verbal bingung
M6=Respon motorik mengikuti perintah
Keadaan umum klien tampak lemah.
Tampak klien meringis menahan nyeri kepalanya.
Skala nyeri klien 4 (nyeri sangat hebat)
Skala nyeri:

0 1 2 3 4 5
0= tidak ada nyeri 3=nyeri berat
1= nyeri ringan 4=nyeri sangat berat
2= nyeri sedang 5=nyeri paling berat
Regio nyeri kepala bagian kiri (sinistra).
Durasi nyeri muncul tidak menetu, dengan waktu 30 menit.
Kualitas nyeri seperti dipukul-pukul.
Tampak wajah klien asimetris (Gangguan nervus VII)
Tampak kelopak mata klien sebelah kiri tidak dapat membuka sendiri/
ptosis (Gangguan nervus III)
Tampak lidah klien miring ke sebelah kanan pada saat disuruh menjulurkan
keluar (Gangguan nervus XII)
Pada saat diberi reflex cahaya pupil mata kiri dan kanan tidak isokor.
Pada saat diberi reflex cahaya pada pupil mata kanan dan kiri (3/5)
Tampak secret pada mata klien
Skala kekuatan otot:
5555 4444
5555 4444
Keterangan:
5= gerakan normal penuh menentang gravitasi dengan tahanan penuh.
4 = gerakan normal penuh menentang gravitasi dengan sedikit tahanan.
Tampak lidah klien Kotor
Tampak klien tidak menghabiskan makanan yang disediakan oleh RS.
Tampak klien makan 4 sendok makan saja dan atau dari porsi yang
disediakan oleh RS.
Data antropometrik:
TB=145 cm, BB=35 kg dan LLA=13 cm
Tampak aktivitas klien dibantu oleh keluarganya seperti pada saat makan,
minum, BAB, dan BAK.
Klien hanya diseka oleh keluarga klien 1 x per hari.
RR=20x/menit

b. Auskultasi
Pada saat diauskultasi pada kedua paru klien tidak terdapat suara napas
tambahan baik ronkhi ataupun wheezing.
Pada saat diauskultasi bising usus 10 x/menit.
TD=150/90 mmHg

c. Perkusi
Pada saat diperkusi pada abdomen klien terdengar suara hipertimpani.

d. Palpasi
CRT > 2 detik
Turgor kulit kembali dalam 2 detik
T= 37, 2 C
N=84 x/menit.

VI. Analisis Data


No. Data Masalah Etiologi
1 2 3 4
1 Kamis, 22 Juli 2010 Nyeri Kepala Peningkatan
Data Subyektif: tekanan
Klien mengatakan kepalanya terasa nyeri. vaskuler
Lien mengatakan nyerinya seperti dipukul-pukul. serebral
Klien mengatakan nyerinya bertambah kika ia
bergerak.
Data obytektif:
Keadaan umun kien tampak lemah.
Kesadaran klien compiosmentis.
GCS E4-V4-M6
Ket:
E4= Respon membuka mata spontan
V4=Respon verbal bingung
M6=Respon motorik mengikuti perintah
Tampak klien meringis menahan nyeri kepalanya.
Skala nyeri klien 4 (nyeri sangat hebat)
Skala nyeri:

0 1 2 3 4 5
0= tidak ada nyeri 3=nyeri berat
1= nyeri ringan 4=nyeri sangat berat
2= nyeri sedang 5=nyeri paling berat
Regio nyeri kepala bagian kiri (sinistra).
Durasi nyeri muncul tidak menetu, dengan waktu
30 menit.
TTV:
Tekanan darah = 150/90 mmHg
Nadi = 84 x/menit
Respirasi Rate = 20 x/menit
Suhu = 37,2 C
2. Data subyektif: Ketidakseimban Intake tidak
Klien mengatakan tidak nafsu makan. gan Nutrisi; adekuat
Anak klien mengatakan hari ini klien hanya mampu Kurang dari
makan 4 sendok makan saja. Kebutuhan
Data Obyektif: Tubuh
Keadaan klien tampak lemah.
Tampak klien tidak menghabiskan makanan yang
disediakan oleh rumah sakit yaitu 4 sendok makan
saja atau dari porsi makan yang disediakan oleh
rumah sakit.
Turgor kulit kembali dalam 2 detik.
Data antropometrik:
TB=145 cm
BB=35 kg
LLA=13 cm
Bising usus 10 x/menit
Saat diperkusi abdomen terdengar suara
hypertimpani.
3. Data Subyektif: Defisit Kelemahan
Anak klien mengatakan ibunya diseka 1 x/hari. Perawatan Diri Umum
Klien mengatakan badannya terasa lemah.
Klien mengatakan aktivitasnya dibantu seperti pada
saatmakan, minum, BAB, dan BAK.
Data Obyektif:
Keadaan umum klien tampak lemah.
Tampak ada secret pada mata klien.
Tampak lidah klien kotor.
Tampak aktivitas klien dibantu oleh keluarga klien
seperti pada saat makan, minum, BAB dan BAK.
Skala aktivitas 2 (memerlukan bantuan orang lain).
Skala kekuatan otot:
5555 4444
5555 4444
Keterangan:
5= gerakan normal penuh menentang gravitasi
dengan tahanan penuh.
4=gerakan normal penuh menentang gravitasi
dengan sedikit tahanan

Prioritas Diagnosis Keperawatan:


1. Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake adekuat.
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan umum.

VII. Perencanaan
No. Diagnosis Perencanaan
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
1 2 3 4 5
1. Nyeri kepala Nyeri klien berkurang g.Kaji nyeri 1. Untuk
berhubungan dengan bahkan hilang setelah (penyebab, menentukan
peningkatan vascular 4 jam perawatan. kualitas, region, intervensi yang
serebral. Ditandai Dengan kriteria skala dan durasi tepat.
dengan: evaluasi: nyeri).
Data Subyektif: h.Atur posisi klien, 2. Meminimalkan
Klien mengatakan Klien mengatakan missal posisi stimulasi/
kepalanya terasa nyerinya berkurang semi fowler. meningkatkan
nyeri. bahkan hilang. relaksasi.
Klien mengatakan i. Anjurkan 3. Meningkatkan
nyerinya seperti penggunaan relaksasi.
dipukul-pukul. tehnik relaksasi
Klien mengatakan Klien mengatakan yaitu nafas
nyerinya nyerinya berkurang dalam.
bertambah kika ia bahkan hilang j. Kaji tanda-tanda 4. Untuk
bergerak. walau ia bergerak. vital. mengobservasi
Data obytektif: keadaan umum
Keadaan umun Keadaan umum klien.
kien tampak lemah. klien kembali k.Berikan tindakan 5. Tindakan yang
segar. nonfarmakologi menurunkan
Kesadaran klien Kesadaran Klien untuk tekanan vascular
compiosmentis. composmentis. menghilangkan serebral, dan
GCS E4-V4-M6 GCS E4V5M6 sakit kepala, mis. yang
Ket: keterangan: Kompres dingin memperlambat/
E4= Respon E4:Respon pada dahi, pijat memblok
membuka mata membuka mata punggung dan responsimpatis
spontan spontan. leher, tenang, efektif dalam
V4=Respon verbal V5:Respon verbal redupkan lampu menghilangkan
bingung baik. kamar. sakit kepala dan
M6=Respon M6:Respon komplikasinya.
motorik mengikuti motorik mengikuti l. Kolaborasi: 6. Menurunkan /
Berikan obat mengontrol nyeri
perintah perintah. sesuai indikasi: dan menurunkan
Tampak klien Skala nyeri Analgesik. rangsang sistem
meringis menahan berkurang menjadi 1 saraf simpatis.
nyeri kepalanya. (nyeri ringan) dan 0
Skala nyeri klien 4 (nyerti tidak ada).
(nyeri sangat
hebat)
Regio nyeri kepala
bagian kiri
(sinistra).
Durasi nyeri muncul
tidak menetu,
dengan waktu 30
menit.
TTV:
TD = 150/90
mmHg
Nadi= 84 x/menit
RR = 20 x/menit
Suhu= 37,2 C
2. Ketidakseimbangan Kebutuhan nutrisi 1. Kaji intake dan 1. Mengetahui
nutrisi kurang dari klien dalam 4 jam output nutrisi. keseimbangan
kebutuhan tubuh perawatan. Dengan nutrisi klien.
berhubungan dengan criteria evaluasi: 2. Observasi tekstur, 2. Mengetahui
intake tidak adekuat. turgor kulit. status nutrisi
Ditandai dengan: klien.
Data subyektif: 3. Kaji/ukur BB dan 3. Untuk
Klien mengatakan Klien mengatakan TB klien. mengetahui
tidak nafsu makan. sudah memiliki keseimbangan
nafsu makan lagi. nutrisi klien.
Anak klien Anak klien 4. Lakukan oral 4. Kebersihan mulut
mengatakan hari mengatakan klien hygiene. merangsang nafsu
ini klien hanya sudah mampu makan.
mampu makan 4 menghabiskan 5. Letakan posisi 5. Untuk klien lebih
sendok makan saja. makanan yang kepala lebih mudah untuk
disediakan oleh tinggi pada menelan karena
rumah sakit. waktu, sela dan gaya gravitasi.
Data Obyektif: sesudah makan.
Keadaan klien Keadaan umum klien 6. Memberikan 6. Makan lunak/
tampak lemah. tampak baik. makanan peroral cairan kental
Tampak klien Klien tampak mampu setengah cair mudah untuk
tidak menghabiskan makanan lunak mengendalikanny
menghabiskan makanan yang ketika klien dapat a di dalam mulut,
makanan yang disediakan oleh menelan menurunkan
disediakan oleh rumah sakit. makanan. terjadinya
rumah sakit yaitu aspirasi.
4 sendok makan 7. Kolaborasi: 7. Mungkin
saja atau dari Dengan tim diperlukan untuk
porsi makan yang dokter untuk memberikan
disediakan oleh memberikan cairan pengganti.
rumah sakit. Turgor kulit cairan mulai IV
Turgor kulit klienkembali dalam
kembali dalam 2 2 detik.
detik. Data antropometri
Data sesuai dengan BBI.
antropometrik:
TB=145 cm
BB=35 kg
LLA=13 cm Bising Usus 5-30
Bising usus 10 x/menit.
x/menit Pada saat diperkusi
Saat diperkusi abdomen terdengar
abdomen tympani.
terdengar suara
hypertimpani.
3. Defisit perawatan Perawatan diri klien Mandiri:
diri berhubungan terpenuhi dalam 4 1. Kaji 1. Membantu dalam
dengan kelemahan jam perawatan. kemampuan mengantisipasi/m
umum. Ditandai Dengan criteria (dengan erencanakan
dengan: evaluasi: menggunakan pemenuhan
Data Subyektif: skala) dan kebutuhan secara
Anak klien Badan klien tidak tingkat maksimal.
mengatakan terasa lemah lagi dan kekurangan
ibunya diseka 1 mampu memenuhi untuk
x/hari. perawatan diri nya melakukan
secara mandiri atau kebutuhan
tanpa bantuan orang sehari-hari.
lain. 2. Kaji skala 2. Untuk
Klien kekuatan otot mengetahui
mengatakan klien. tingkat
badannya terasa keterbatasan
lemah. kelemahan fisik.
Klien 3. Hindari 3. Klien mungkin
mengatakan melakukan menjadi sangat
aktivitasnya sesuatu untuk ketakutan dan
dibantu seperti klien yang sangat tergantung
pada saatmakan, dapat meskipun
minum, BAB, dilakukan bantuan yang
dan BAK. sendiri tetapi, diberikan
Data Obyektif: berikan bermanfaat dalam
Keadaan umum Kedaan umun klien bantuan sesuai mencegah
klien tampak tidak lemah lagi. kebutuhan. frustasi, penting
lemah. bagi klien untuk
Tampak ada Tampak tidak ada melakukan
secret pada mata secret pada mata sesuatu hal
klien. klien. sebanyak
Tampak lidah Lidah klien bersih. mungkin bagi diri
klien kotor. sendiri dan untuk
Tampak aktivitas Tampak klien mampu mempertahankan
klien dibantu melaksanakan harga diri serta
oleh keluarga aktivitasnya secara meningkatkan
klien seperti pada mandiri. pemulihan.
saat makan, 4. Bantu pasien 4. Menurunkan
minum, BAB dan dalam kebutuhan O2
BAK. Skala aktivitas melaksanaka yang
Skala aktivitas 2 menjadi 0 (mandiri n aktivitas meningkatkan
(memerlukan penuh) akibat
sesuai
bantuan orang peningkatan
dengan
lain). Skala kekuatan otot aktivitas.
kebutuhanny
Skala kekuatan klien 5 (gerakan a. Beri pasien
otot: normal penuh istirahat
5555 4444 menentang gravitasi
tanpa
5555 4444 dengan tahanan
peenuh).
diganggu
Keterangan: diantara
5= gerakan berbagai
normal penuh aktivitas.
menentang
gravitasi dengan
tahanan penuh.
4=gerakan
normal penuh
menentang
gravitasi dengan
sedikit tahanan
VIII. Implementasi dan Evaluasi

No. Hari/Tgl No.Dx Jam Implementasi Evaluasi hasil


1 2 3 4 5 6
1. Kamis, I 08.05 1. Mengkaji tanda-tanda Jam: 11.30 wita
22-07- vital. Data Subyektif:
2010 TD=150/90 mmHg Klien mengatakan kepalanya
N=84 xmenit terasa nyeri.
RR=20x/menit Lien mengatakan nyerinya
T=37,2 C seperti dipukul-pukul.
08.10 2. Mengkaji nyeri Klien mengatakan nyerinya
(penyebab, qualitas, bertambah kika ia bergerak.
region, skala dan Data obytektif:
durasi nyeri) Keadaan umun kien tampak
P=Nyeri bertambah lemah.
jika bergerak. Kesadaran klien compiosmentis.
Q=Nyeri seperti di GCS E4-V4-M6
pukul-pukul. Ket:
R=Kepala sebelah kiri E4= Respon membuka mata
S=Skala nyeri 4 (nyeri spontan
sangat berat) V4=Respon verbal bingung
T=durasi nyeri muncul M6=Respon motorik mengikuti
tidak mnentu dalam perintah
waktu 30 menit. Tampak klien meringis menahan
08.15 3. Mengatur posisi klien
nyeri kepalanya.
semi fowler. Skala nyeri klien 4 (nyeri sangat
klien merasa nyaman berat)
setelah menggunakan
Regio nyeri kepala bagian kiri
2 bantal, klien
(sinistra).
mengatakan merasa
Durasi nyeri muncul tidak
nyaman dengan posisi
menetu, dengan waktu 30 menit.
ini.
08.20 4. Mengajarkan tehnik TTV:
relaksasi yaitu nafas Tekanan darah = 150/90 mmHg
Nadi = 84 x/menit
dalam. Respirasi Rate = 20 x/menit
klien merasa nyaman Suhu = 37,2 C
setelah menggunakan A: Masalah nyeri kepala belum
tehnik nafas dalam. teratasi.
08.00 5. Kolaborasi: P: Intervensi dilanjutkan:
Captopril 2,5 mg via 1. Mengkaji tanda-tanda vital
10.00 sublingual 2. Mengkaji nyeri (penyebab,
Inj. Dexamethasone 1 qualitas, region, skala dan
11.15 amp via IV durasi nyeri)
6. Melakukan 3. Mengatur posisi klien semi
pengukuran tanda- fowler
tanda vital: 4. Mengajarkan tehnik relaksasi
TD=160/80 mmHg yaitu nafas dalam.
N=80 x/menit 5. Kolaborasi:
RR=20 x/menit Captopril 3x2,5 mg via
T=37,0 C sublingual
Inj. Dexamethasone 1x1 amp
via IV

Nonik Maria Ulfa


2. Kamis, II 08.05 1.Mengkaji intake dan Jam:11.30 wita
22-Juli- output nutrisi klien. Data subyektif:
2010 tampak klien tidak Klien mengatakan tidak nafsu
menghabiskan makan.
makanan yang Anak klien mengatakan hari ini
disediakan oleh rumah klien hanya mampu makan 4
sakit, tampak klien sendok makan saja.
makan 4 sendok Data Obyektif:
makan saja atau Keadaan klien tampak lemah.
dari porsi yang Tampak klien tidak
disediakan oleh rumah menghabiskan makanan yang
sakit. Klien belum disediakan oleh rumah sakit
BAB selama 3 hari yaitu 4 sendok makan saja atau
ini. dari porsi makan yang
08.10 2.Mengkaji turgor kulit disediakan oleh rumah sakit.
klien. Turgor kulit kembali dalam 2
Turgor kulit kembali detik.
dalam 2 detik. Data antropometrik:
08.15 3.Mengkaji data TB=145 cm
antropometrik: BB=35 kg
TB=145 cm LLA=13 cm
BB=35 kg
Bising usus 10 x/menit
LLA=13 cm
Saat diperkusi abdomen
09.00 4.Menganjurkan klien
terdengar suara hypertimpani.
untuk makan sedikit
A: Ketidakseimbangan nutrisi
tapi sering. kurang dari kebutuhan tubuh.
Keluarga klien tampak P: Intervensi dilanjutkan:
menyuapi klien sedikit 1. Mengkaji intake dan output
demi sedikit. nutrisi klien.
5.Kolaborasi: 2. Mengkaji turgor kulit klien.
10.00 Terapi IVFD D5% 3. Mengkaji data antropometrik:
20 tetes/menit. 4. Menganjurkan klien untuk makan
08.00 Diet BBRG. sedikit tapi sering.
5. Kolaborasi:
Terapi IVFD D5% 20
tetes/menit.
Diet BBRG.

Nonik Maria Ulfa


3. Kamis, III 08.05 1. Mengkaji skala Jam:11.30 wita
22-Juli- aktivitas klien. Data Subyektif:
2010 Skala aktivitas 2 Anak klien mengatakan ibunya
(memerlukan bantuan diseka 1 x/hari.
orang lain). Klien mengatakan badannya
08.10 2. Mengkaji skala terasa lemah.
kekuatan otot. Klien mengatakan aktivitasnya
Skala kekuatan otot: dibantu seperti pada saatmakan,
5555 4444 minum, BAB, dan BAK.
5555 4444 Data Obyektif:
Keterangan: Keadaan umum klien tampak
5= gerakan normal lemah.
penuh menentang Tampak ada secret pada mata
gravitasi dengan klien.
tahanan penuh. Tampak lidah klien kotor.
4=gerakan normal Tampak aktivitas klien dibantu
penuh menentang oleh keluarga klien seperti pada
gravitasi dengan saat makan, minum, BAB dan
sedikit tahanan BAK.
08.15 3. Menganjurkan kepada Skala aktivitas 2 (memerlukan
keluarga klien bantuan orang lain).
membantu aktivitas Skala kekuatan otot:
klien sesuai 5555 4444
kebutuhan.
Tampak aktivitas klien 5555 4444
dibantu oleh Keterangan:
keluarganya seperti 5= gerakan normal penuh
pada saat makan, menentang gravitasi dengan
minum, BAB, dan tahanan penuh.
BAK. 4=gerakan normal penuh
08.20 4. Mendekatkan barang- menentang gravitasi dengan
barang yang sedikit tahanan
diperlukan didekat A: Masalah defisit perawatan diri
klien. belum teratasi.
P:Intervensi dilanjutkan:
1. Mengkaji skala aktivitas klien.
2. Mengkaji skala kekuata otot.
3. Menganjurkan kepada keluarga
klien membantu aktivitas klien
sesuai kebutuhan.
4. Mendekatkan barang-barang yang
diperlukan didekat klien.

Nonik Maria Ulfa


LEMBAR PERSETUJUAN PENGUJI DAN PENGESAHAN LAPORAN

Laporan ini dengan judul Asuhan Keperawatan Pada Ny. R dengan Diagnosis Medis
Migren Komplikata di Ruang Seruni Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin.
Di buat Oleh :

Nama Mahasiswa : NONIK MARIA ULFA


NPM : 712002 S 07122 R

Telah dipresentasikan di Depan Penguji Ujian Praktek Klinik Keperawatan PKK III
Stage Keperawatan Medikal Bedah dan Kegawatdaruratan Program Studi D III
Keperawatan tahun Akademik 2009-2010 pada Hari Rabu, 22 Juli 2010.

Banjarmasin, Juli 2010


Mahasiswa

Nonik Maria Ulfa

Tim Penguji

Penguji I Penguji II Penguji III

Nurhikmah, SST,MPH Noor Amaliah, Skep Karani, S.Kep, Ns


DAFTAR RUJUKAN

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 2. Jakarta : Media
Aesculapius.

Mutiara, Gemala. 2010. Referat Migren termuat dalam (http://en.netlog.com).


Diakses pada tanggal 22 Juli 2010 pada pukul 20.00 wita.