Anda di halaman 1dari 23

REKAYASA IDE

ZAMAN RENAISSANCE
Disusun Guna Memenuhi Mata Kuliah Sejarah Fisika

Dosen Pengampu :
Dra. Ida Wahyuni, M.Pd
Teguh Febri Sudarma, S.Pd., M.Pd

Disusun Oleh :

Disusun Oleh :

KELOMPOK VII
LIZA YOLANDA (4153121037)
NUR SETIANA (4152121033)
NETTI NAINGGOLAN (4151121044)

FISIKA DIK C 2015

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017

i
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................... i


RINGKASAN ................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang masalah ...................................................... 1
1.2 Tujuan ............................................................................... 2
1.3 Manfaat .............................................................................. 3
BAB II KERANGKA PEMIKIRAN ....................................................4
BAB III METODE PELAKSANAAN ................................................... 7
BAB IV PEMBAHASAN.........................................................................8
BAB V PENUTUP ................................................................................. 19
5.1 Kesimpulan ......................................................................... 19
5.2 Saran .................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 20
LAMPIRAN BIODATA .................................................................................21

i
RINGKASAN

Latar belakang munculnya Renaissance adalah sebagai usaha pembaharuan


kebudayaan Romawi dan Yunani yang pada masa abad tengah / masa kegelapan
sempat dilupakan, yaitu tipe manusia yang otonom dan mandiri. Pada abad 12 ada
suatu penemuan kembali literatur Yunani dan Romawi yang terjadi di seluruh
Eropa. Peristiwa tersebut akhirnya menyebabkan perkembangan gerakan humanis
di abad ke -14. Orang-orang Humanist menyakini bahwa setiap individu memiliki
arti penting dalam masyarakat. Pertumbuhan minat dalam humanisme
menyebabkan perubahan dalam seni dan ilmu yang membentuk konsepsi umum
dari Renaissance.
Abad 14 hingga abad 16 merupakan periode goncangan ekonomi atau
perubahan ekonomi di Eropa, dimana perubahan yang paling luas terjadi di Italia.
Setelah kematian Frederick II di 1250, kaisar kehilangan kekuasaan di Italia dan
di seluruh Eropa, tidak satupun dari penerus Frederick yang seperti dia.
Kejatuhannya adalah saat Paus III memegan kekuasaan secara bersamaan,
memegang Negara sekaligus Gereja. Selama Renaissance, Italia berkembang
menjadi despotisme yaitu bahwa penguasa Negara memerintah berdasarkan
keingginannya sendiri. Eropa sendiri [erlahan-lahan berkembang menjadi
kelompok mandiri yang kompartemen (terpisah). Pertumbuhan ekonomi Italia
yang tebaik dicontohkan dalam pengembangan bank yang kuat, terutama bank
Medici dari Florence. Inggris, Perancis, dan Spanyol juga mulai mengembangkan
sistem ekonomi berkelas.
Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa Renaissance lahir sebagai
pembaharu untuk membentuk manusia yang mandiri, utuh, oyonom, dan
bertanggung jawab. Polaa pikir abad tengah (terbelenggu ajaran gereja;
disalahgunakan) diganti dengan pola pikir rasional baik SDA maupun SDM nya
sehingga manusia bisa berkembang.

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Zaman Renaisans (bahasa Inggris: Renaissance) adalah sebuah gerakan
budaya yang berkembang pada periode kira-kira dari abad ke-14 sampai abad ke-
17, dimulai di Italia pada Abad Pertengahan Akhir dan kemudian menyebar ke
seluruh Eropa. Adanya zaman Renaisans tidak bisa dilepaskan dari adanya Abad
Pertengahan[1]. Abad Pertengahan sering disebut sebagai dark age atau abad
kedelapan[2]. Kaitan sangat erat antara Renaisans dengan Abad Kegelapan di
Eropa.
Perubahan-perubahan yang terjadi akibat upaya untuk keluar dari kondisi Abad
Pertengahan menjadi latar belakang langsung munculnya Renaissance, sebagai
berikut:

1. Adanya dominasi gereja dalam segala aspek kehidupan masyarakat baik itu
bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya[3].
2. Kebebasan berpikir yang sangat dikekang. Hal ini disebabkan karena doktrin
yang menyatakan bahwa menyelidiki alam sama halnya menyelidiki
kekuasaan Tuhan yang dianggap dosa.
3. Kehidupan sosial masyarakat Eropa yang tidak lagi mau terbelenggu oleh
ikatan gereja yang mengedepankan surgawi (Scholastik). Mereka
memalingkan diri dari kehidupan akhirat kepada keduniaan sehingga
pengaruh gereja merosot. Kehidupan materialistis semakin berkembang
mendesak kehidupan keagamaan.
4. Masyarakat berlomba-lomba memasuki kawasan kota dagang dan kota
industri, menjadi buruh dengan tujuan berusaha merubah kehidupan ekonomi
ke arah yang lebih baik. Petani-petani yang pada Abad Pertengahan setia
mengerjakan tanah para bangswan feodal, kini hilang berganti dengan
golongan masyarakat baru yang disebut buruh pabrik.
5. Berkembangnya faham Rasionalisme yang mengutamakan kebenaran akal
dan pikiran. Kehidupan. Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin
filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui

1
pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui
iman, dogma, atau ajaran agama
6. Munculnya raja-raja yang menginginkan kekuasaan yang bebas dari
pengaruh gereja seperti Raja Philippe IV (Perancis) dan Raja Henry VIII
(Inggris)
7. Munculnya kaum borjuis sebagai kelompok baru yang kaya dan mampu
menyaingi kaum bangsawan. Kelompok borjuis yang menguasai
perdagangan tidak suka pada kelompok bangsawan dan gereja, sehingga
hanya mau membayar pajak kepada raja. Akhirnya raja kembali memegang
kekuasaan politik tertinggi yang ditaati perintahnya oleh seluruh lapisan
masyarakat.
8. Naskah-naskah ilmu pengetahuan Yunani dan Romawi Kuno dijumpai
kembali oleh masyarakat Barat, dibawa oleh ilmuwan yang lari dari
Konstantinopel[4] ke Italia setelah Konstantinopel jatuh ke tangan Turki.
9. Timbulnya kota-kota dagang yang makmur akibat perdagangan mengubah
perasaan pesimistis (zaman Abad Pertengahan) menjadi optimistis. Hal ini
juga menyebabkan dihapuskannya sistem stratifikasi sosial masyarakat
agraris yang feodalistik. Maka kebebasan untuk melepaskan diri dari ikatan
feodal menjadi masyarakat yang bebas. Termasuk kebebasan untuk
melepaskan diri dari ikatan agama sehingga menemukan dirinya sendiri dan
menjadi fokus pada kemajuan diri sendiri. Antroposentrisme menjadi
pandangan hidup dengan humanisme menjadi pegangan sehari-hari. Selain
itu adanya dukungan dari keluarga saudagar kaya semakin menggelorakan
semangat Renaissance sehingga menyebar ke seluruh Italia dan Eropa.

1.2 Tujuan
Dari latar belakang di atas, tujuan rekayasa ide ini adalah
1. Untuk mengetahui latar belakang terjadinya zaman renaissance.
2. Untuk mengetahui bentuk dan teori perubahan sosial pada zaman
renaissance
3. Untuk mengetahui relasi individu dan Masyarakat
4. Untuk mengetahui Hubungan Antara Individu Dan Masyarakat

2
1.3 Manfaat
1. Untuk memberikan rekomendasi terbaik mengenai zaman Renaissance
kepada pembaca rekayasa ide ini
2. Memberikan informasi tentang item alternatif yang terbik yang dapat
dijadikan bahan evaluasi perencanaan.
3. Memberikan solusi pertanyaan dari masalah mengenai zaman
Renaissance rekayasa ide kami.
4. Memberikan pengetahuan tentang rekayasa ide

3
BAB II
KERANGKA PEMIKIRAN

Filsafat Yunani mengalami kemegahan dan kejayaan dengan hasil yang


sangat gemilang, yaitu melahirkan peradaban Yunani. Menurut pandangan sejarah
filsafat, dikemukakan bahwa peradaban Yunani merupakan titik tolak peradaban
manusia di dunia. Maka pandangan sejarah filsafat dikemukakan manusia di
dunia. Giliran selanjutnya adalah warisan peradaban Yunani jatuh ke tangan
kekuasaan Romawi. Kekuasaan Romawi memperlihatkan kebesaran dan
kekuasaan hingga daratan Eropa (Britania), tidak ketinggalan pula pemikiran
filsafat Yunani juga ikut terbawa. Hal ini berkat peran Caesar Augustus yang
menciptakan masa kemasan kesusastraan Latin, kesian, dan arsitektur Romawi.
Setelah filsafat Yunani sampai ke daratan Eropa, di sana mendapatkan lahan baru
dalam petumbuhan. Karena bersamaan dengan agama kristen, filsafat Yunani
berintegrasi dengan agama Kristen, sehingga membentuk suatu formasi baru.
Maka, muncullah filsafat Eropa yang sesungguhnya sebagai pejelmaan filsafat
Yunani setelah berintegrasi dengan agama Kristen.
Di dalam masa pertumbuhan dan perkembangan filsafat Eropa (kira-kira
selama 5 abad) belum memunculkan ahli pikir (filosof), akan tetapi setelah abad
ke-6 Masehi, muncullah para ahli pikir yang mengadakan penyelidikan filsafat.
Jadi, filsafat Eropa yang mengawali kelahiran filsafat barat abad pertengahan.
Filsafat Barat Abad Pertengahan (467 1492) juga dapat dikatakan sebagai abad
gelap. Pendapat ini disarankan pada pendekatan sejarah gereja. Memang pada
saat itu tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia sehingga
manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk mengembangkan potensi yang
terdapat dalam dirinya. Para ahli pikir pada saat itu pun tidak memiliki kebebasan
berfikir. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran
gereja, orang yang mengemukakan akan mendaptkan hukuman berat. Pihak gereja
melarang diadakannya penyelidikan-penyelidikan berdasarkan rasio terhadap
agama. Karena itu, kajian tentang agama/teologi yang tidak berdasarkan ketentuan
gereja akan mendapatkan larangan yang ketat. Yang berhak mengadakan
penyelidikan terhadap agama hanyalah gereja. Walaupun demikian, ada juga yang

4
melanggar larangan tersebut dan mereka dianggap orang murtad dan kemudian
diadakan pengejaran (inkusisi).

Ciri-ciri pemikiran filsafat barat abad petengahan antara lain:


Cara berfikirnya dipimpin oleh gereja.
Berfilsafat di dalam lingkungan ajaran Aristoteles.
Berfilsafat dengan pertolongan Augustinus dan lain-lain.

Masa abad pertengahan ini juga dapat dikatakan sebagai suatu masa yang
penuh dengan upaya mengiringi manusia ke dalam kehidupan sistem kepercayaan
yang picik dan fanatik, dengan menerima ajaran gereja secara membabi buta.
Karena iru paerkembangan ilmu pengetahuan terhambat. Masa ini penuh dengan
dominasi gereja, yang tujuannya untuk membimbing umat ke arah hidup yang
saleh. Namun, di sisi lain, dominisi gereja ini tanpa memikirkan martabat dan
kebebasan manusia yang mempunyai perasaan, pikiran, keinginan, dan cita-cita
untuk menentukan masa depannya sendiri.
Zaman Abad Pertengahan ditandai dengan tampilnya para teolog di
lapangan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan pada masa ini hampir semua adalah
para teolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan.
Semboyang yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah ancilla theologia atau
abdi agama. Namun demikian harus diakui bahwa banyak juga temuan bidang
ilmu yang terjadi pada masa ini. Periode Abad Pertengahan mempunyai
perbadaan yang mencolok dengan abad sebelumnya. Perbedaan itu terutama
terletak pada dominasi agama. Timbulnya agama Kristen yang dijarkan oleh Nabi
Isa as. pada permulaan Abad Masehi membawa perubahan besar terhadap
kepercayaan keagamaan. Agama Kristen menjadi problem kefilsafatan karena
mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah yang merupakan kebenaran yang sejati. Hal
ini berbeda dengan pandangan Yunani Kuno yang mengatakan bahwa kebenaran
dapat dicapai oleh kemampuan akal. Mereka belum mengenal adanya wahyu.

5
Mengenai sikap terhadap pemikiran Yunani ada dua:
1. Golongan yang menolak sama sekali pemikiran Yunani, karena pemikiran
Yunani merupakan pemikiran orang kafir, karena tidak mengakui wahyu.
2. Menerima filsafat Yunani yang mengatakan bahwa karena manusia itu
ciptaan Tuhan, kebijaksanaan manusia berarti pula kebijaksanaan yang
datangnya dari Tuhan. Mungkin akal tidak dapat mencapai kebenaran yang
sejati maka akal dapat dibantu oleh wahyu.

Masa Abad Pertengahan ini terbagi menjadi dua masa yaitu masa Paratistik dan
masa Skolatistik. Sedangkan masa Skolatistik terbagi menjadi Skolastik Awal.
Skolastik Puncak, dan Skolastik Akhir.

6
BAB III
METODE PELAKSANAAN

Metode yang digunakan dalam merancang ide ini adalah metode diskusi,
dimana ide ini berdasarkan dari gabungan beberapa informasi dari setiap anggota
kelompok yang saling berkaitan.

7
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Rekayasa Sosial
Pengertian Rekayasa Sosial
Rekayasa sosial merupakan campur tangan atau seni memanipulasi sebuah
gerakan ilmiah dari visi ideal tertentu yang ditujukan untuk mempengaruhi
perubahan sosial, bisa berupa kebaikan maupun keburukan dan juga bisa berupa
kejujuran, bisa pula berupa kebohongan.[1]
Perubahan sosial yang dilakukan karena munculnya problem-problem sosial
sebagai adanya perbedaan antara das sollen (yang seharusnya) dengan das sein
(yang nyata). Tindakan kolektif untuk memecahkan masalah sosial (collective
action to solve social problems). Biasanya ditandai dengan perubahan bentuk dan
fungsionalisasi kelompok, lembaga atau tatanan sosial yang penting.
Dibanding dengan perencanaan sosial (social planning), ia lebih luas atau
lebih pragmatis, sebab sebuah rekayasa selalu mengandung perencanaan, tetapi
tidak semua perencanaan diimplementasikan hingga terimplementasikan di alam
nyata. Begitu pula jika dibandingkan dengan manajemen perubahan (change
management), ia memiliki makna lebih pasti, sebab jika obyek dari manajemen
dapat ditafsirkan sebagai perubahan dalam arti luas, sedangkan obyek dari
rekayasa sosial sudah jelas, yakni perubahan sosial menuju suatu tatanan dan
sistem baru sesuai dengan apa yang dikehendaki sang perekayasa.
Selain pengertian di atas, rekayasa sosial juga dapat diartikan sebagai
sebuah proses perencanaan, pemetaan dan pelaksanaan dalam konteks perubahan
struktur dan kultur sebuah basis sosial masyarakat.

Sebab-Musabab Perubahan Sosial


Dalam sejarah, ada banyak teori mengenai sebab musabab terjadinya
perubahan sosial, ada yang berpendapat bahwa masyarakat berubah karna
beberapa hal:

8
Pertama, Ideas; pandangan hidup (way of life), pandangan dunia (world
view) dan nilai-nilai (values), seperti yang Max Weber ungkapkan bahwa betapa
berpengaruhnya ide terhadap suatu masyarakat.
Kedua, Great individuals (tokoh-tokoh besar); perubahan sosial terjadi
karena munculnya seorang tokoh atau pahlawan yang dapat menarik simpati dari
para pengikutnya yang setia, kemudian bersama-sama dengan simpatisan itu,
sanga pahlawan melancarkan gerakan untuk mengubah masyarakat (great
individuals as historical forces).
Ketiga, Social Movement (gerakan sosial); sebuah gerakan sosial yang
dipelopori oleh sebuah komunitas atau institusi semacam LSM/NGO, Ormas,
OKP dan sebagainya.
Sumber-sumber perubahan juga bisa disebabkan oleh; (1) Kemiskinan
(poverty) sebagai problem yang melibatkan banyak orang, (2) Kejahatan (crimes)
yang biasanya berjenjang dari blue collar crimes sampai white collar crimes, dan
(3) Pertikaian atau konflik (conflict), konflik sosial bisa bersifat etnis, rasial,
sektarian, ideologis, dan sebagainya.

Bentuk dan Teori Perubahan Sosial


Terdapat tiga bentuk perubahan yang disepakati kalangan ilmuwan sosial:
evolusi, revolusi dan reformasi. Evolusi dipahami sebagai bentuk perubahan yang
memakan waktu lama. Proses perubahan seperti ini cenderung hanya melingkar di
tingkat elite saja dan sedikit sekali mengakomodasikan input dari grass root yang
muncul ke permukaan sebagai reaksi atas berbagai kebijakan elit penguasa.
Konsekuensi logis dari perubahan model ini akan menempatkan rezim penguasa
pada keleluasaan menentukan agenda-agenda perubahan yang ada berdasar aman
atau tidak bagi kekuasaannya.
Perubahan model ini, biasanya kurang populer di dunia Ketiga (the Third
World), yang mayoritas adalah berpenduduk muslim, karena perubahan politiknya
secara umum masih cukup eksplosif. Tidak perlu tokoh yang kharismatik atau
terkenal untuk evolusi, karena semua ditentukan dalam kendali penguasa. Elite
penguasa serta pihak-pihak tertentu saja yang bisa terlibat dalam perumusan
persoalan yang ada dan itu bias kepentingan. Figur-figur di luar lingkaran

9
kekuasaan hanya memberikan respons minimal sebatas masukan atau paling
maksimal, pressure (tekanan), itupun jika ada kebebasan.
Bentuk kedua adalah revolusi. Perubahan secara cepat ini cukup populer di
kalangan gerakan sosial atau aktivis pembebasan. Dalam prosesnya, cara ini
cukup beresiko. Bisa jadi dalam prosesnya yang singkat tersebut meminta banyak
korban sebagai prasyarat dari proses yang memang cukup reaktif dan terkesan
sporadis dari sisi waktu maupun agenda-agenda yang dilakukan. Hasil dari cara
ini dapat dilihat dengan cepat, karena secara umum bertujuan pada perubahan
politik, khususnya perubahan tampuk kekuasaan.
Revolusi Islam sebagai metode perubahan adalah sebuah tawaran yang telah
pernah diaplikasikan dalam lapangan kenegaraan di Iran di bawah kepemimpinan
Ayatullah Khomeini (1977), Mesir oleh Ikhwanul Muslimin bersama Nasser
(1952) dan beberapa negara Arab lainnya, baik memenuhi standar teori Barat
maupun tidak.
Sedangkan reformasi didefinisikan sebagai sebuah bentuk perubahan yang
gradual dan parsial. Tidak terlalu cepat, namun juga tidak lambat. Reformasi
merupakan bentuk kompromi antara evolusi dan revolusi. Reformasi atau
pembaharuan (perubahan yang signifikan atas hal yang dianggap menyimpang),
telah berlangsung di berbagai belahan dunia sejak zaman Renaissance abad ke-15
Masehi. Berawal di Jerman dengan pemikiran Martin Luther King, yang
menggugat penyimpangan ajaran Kristiani, berlanjut pada pemikiran Thomas
Hobbes tentang State of Nature-nya di Inggris, John Locke, Rousseau hingga
pemikiran demokrasi modern-nya Robert A Dahl, berintikan pentingnya moralitas
pemimpin untuk menjalankan demokrasi. Demokrasi tidak saja berarti kekuasaan
ditangan rakyat, namun juga desakralisasi pemimpin yang dibatasi aturan
konstitusi dan diawasi oleh lembaga lain dimana rakyat memiliki hak atas mandat
pemimpinnya.
Gerakan reformasi acapkali terjadi, manakala seorang pemimpin berlaku
korup dan manipulatif, sehingga diperlukan langkah-langkah politik yang berarti
dari rakyat untuk melakukan perbaikan. Atau, bila rakyat merasakan adanya
kekurangan dalam sistem konstitusi yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat.
Dengan kedua alasan inilah, apa yang terjadi di Korea Selatan dengan Up-rising

10
in Kwangju tahun 1986, di Cina dengan tragedi Tiananmen 1989, dan
penggulingan Soeharto di Indonesia tahun 1998, merupakan gerakan reformasi
yang berdampak pada penyelenggaraan negara.

Strategi-Strategi Perubahan Sosial


Perubahan sosial dapat dilakukan dengan Strategi Normative-Reeducative
(normatif-reedukatif); Normative merupakan kata sifat dari norm yang berarti
aturan yang berlaku di masyarakat (norma sosial), sementara reeducation
dimaknai sebagai pendidikan ulang untuk menanamkan dan mengganti paradigma
berpikir masyarakat yang lama dengan yang baru. Sifat strategi perubahannya
perlahan dan bertahap.
Cara atau taktik yang digunakan adalah mendidik, yakni bukan saja
mengubah perilaku yang tampak melainkan juga mengubah keyakinan dan nilai
sasaran perubahan.
Strategi perubahan sosial yang lain Persuasive Strategy (strategi persuasif);
Strategi ini dijalankan melalui pembentukan opini dan pandangan masyarakat,
biasanya menggunakan media massa dan propaganda.
Cara atau taktik yang digunakan adalah membujuk, yakni berusaha
menimbulkan perubahan perilaku yang dikehendaki para sasaran perubahan
dengan mengidentifikasikan objek sosial pada kepercayaan atau nilai agen
perubahan. Bahasa merupakan media utamanya.
Efektifitas teori persuasi sangat bergantung pada media yang dipergunakan.
Media itu dibagi dua; (1) media pengaruh (media komunikasi yang digunakan
pelaku perubahan untuk mencegah sasaran perubahan), dan (2) media respon
(media yang digunakan oleh sasaran perubahan dalam menggulingkan tanggapan
mereka), keduanya dapat menggunakan media massa atau saluran-saluran
interpersonal.
Dan yang terakhir adalag Peoples power (revolusi); Merupakan bagian dari
power strategy (strategi perubahan sosial dengan kekuasaan), revolusi ini
merupakan puncak dari semua bentuk perubahan sosial, karena ia menyentuh
segenap sudut dan dimensi sosial secara radikal, massal, cepat, dan mengundang
gejolak intelektual dan emosional dari semua orang yang terlibat di dalamnya.

11
Cara atau taktik yang digunakan berbentuk paksaan (memaksa) dengan
kekuasaan, yakni upaya menimbulkan kepasrahan behavoral atau kerjasama pada
sasaran perubahan melalui penggunaan sanksi yang dikendalikan agen.

B. Relasi Individu dan Masyarakat


1. Pengertian Individu
Individu berasal dari kata individium (latin), yaitu satuan kecil yang tidak
dapat dibagi lagi. [7]Individu menurut konsep sosiologi, artinya manusia yang
hidup berdiri sendiri, tidak mempunyai kawan (sendiri). Individu sebagai makhluk
ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, di dalam dirinya selalu dilengkapi dengan
kelengkapan hidup meliputi raga, rasa, rasio, dan rukun.
a. Raga, merupakan bentuk jasad manusia yang khas dapat membedakan
antara individu yang satu dengan yang lain, sekalipun dengan cirri dan
hakikat yang sama.
b. Rasa, merupakan perasaan individu yang dapat menangkap objek gerakan
dari benda-benda isi alam semesta, seperti merasakan panas, dingin atau
merasakan makanan yang lezat. Perasaan juga dapat dikembangkan menjadi
perasaan senang dengan kehidupan sebaliknya.
c. Rasio, atau akal pikiran merupakan kelengkapan manusia untuk
menegmbangkan diri, mengatasi segala sesuatu yang diperlukan dalam diri
tiap individu.
d. Rukun, atau pergaulan hidup merupakan bentuk sosialiasi dengan sesame
manusia dan hidup berdampingan satu sama lain secara harmonis, damai
dan saling melengkapi. Rukun ini merupakan perangkat individu yang dapat
membentuk suatu kelompok sosial yang sering disebut sebagai masyarakat.

2. Pengertian Masyarakat
Istilah masyarakat berasal dari bahasa Arab syaraka yang berarti ikut
serta, berpartisipasi, atau masyaraka yang berarti saling bergaul. Di dalam
bahasa Inggris dipakai istilah society, yang sebelumnya berasal dari kata lain
socius berarti kawan selanjutnya mendapat kesepakatan menjadi masyarakat
(Indonesia).

12
Dalam bahasa Inggris, kata masyarakat diterjemahkan menjadi dua
penegrtian, yaitu society dan community.
Masyarakat sebagai community dapat dilihat dari dua sudut
pandang.Memandang community sebagai unsure statis, artinya community
terbentuk dalam suatu wadah atau tempat dengan batas-batas tertentu, maka ia
menunjukkan bagiandari kesatuan-kesatuan masyarakat sehingga ia dapat pula
disebut sebagai masyarakat setemnpat, misalnya kampong, dusun atau kota-kota
kecil. Masyarakat setempat adalah suatu wadah dan wilayah dari kehidupan
sekelompok orang yang ditandai oleh adanya hubungan sosial. Disamping itu,
dilengkapi pula oleh adanya perasaan sosial, nilai-nilai dan norma-norma yang
timbul atas akibat dari adanya pergaulan hidup atau hidup bersama manusia.
Community dipandang sebagai unsure yang dinamis, artinya menyangkut
suatu proses (nya) yang terbentuk melalui faktor psikologi dan hubungan antar
manusia, maka di dalamnya ada yang sifatnya fungsional. Dalam hal ini dapat
diambil contoh tentang masyarakat pegawai negeri sipil, masyarakat ekonomi,
masyarakat, mahasiswa dan sebagainya.
Dari kedua cirri khusus yang dikemukakan di atas, berarti dapat diduga
bahwa apabila suatu masyarakat tidak memenuhi ciri-ciri tersebut, maka ia dapat
disebut masyarakat society. Masyarakat dalam pengertian society terdapat
interaksi sosial, perhitungan-perhitungan rasional dan like interest, hubungan-
hubungan menjadi bersifat pamrih dan ekonomis.

C. Pengertian masyarakat menurut beberapa ahli Ralp Linton (1936)


Masyarakat adalah sekelompok manusia yang telah cukup lama dan bekerja
sama, sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya sebagai salah satu
kesatuan sosial dengan batas ternetu.
Pengertian ini menunjukkan adanya syarat-syarat sehingga disebut
masyarakat, yakni adanya pengalaman hidup bersama dalam jangka waktu cukup
lama dan adanaya kerjasama diantara anggota kelompok, memiliki pikiran atau
perasaan menjadi bagian dari satu kesatuan kelompoknya. Pengalaman hidup
bersama menimbulkan kerjasama, adaptasi terhadap organisasi dan pola tingkah
laku anggota-amggota. Factor waktu memegang peranan penting, sebab setelah

13
hidup bersama dalam waktu cukup lama, maka terjadi proses adaptasi terhadap
organisasi tingkah laku serta kesadaran berkelompok.

John Lewis Gillin dan John Gillin (Gillin & Gillin) 1945
Masyarakat itu adalah kelompok manusia yang terbesar yang mempunyai
kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama. Masyarakat itu
meliputi pengelompokkan-pengelompokan yang lebih kecil.
Pengertian ini menunjukkan bahwa masyarakat itu meliputi kelompok
manusia yang kecil sampai dengan kelompok manusia dalam suatu masyarakat
yang sangat besar, seperti suatu Negara. Seperti kita ketahui bersama suatu
Negara juga memiliki tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama dengan
keteraturan.

Melville J. Herskovits atau Herkovits (1955)


Masyarakat adalah sekelompok individu yang di organisasikan yang
mengikuti satu cara hidup tertentu. Penegrtian ini menekan adanya ikatan anggota
kelompok untuk mengikuti cara-cara hidup teretntu yang ada di dalam kelompok
masyarakat.

Koentjaningrat (1980)
Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu
system adat istiadat tertentu yang bersifat kontinu dan yang terikat oleh suatu rasa
identitas bersama.

Selo Soemardjan
masyarakat adalah orang orang yang hidup bersama, yang menghasilkan
kebudayaan.

Abdul Syani (1987)


Masyarakat merupakan kelompo-kelompok makhluk hidup dengan realitas-
realitas baru yang berkembang menurut hokum-hukumnya sendiri dan

14
berkembang menurut pola perkembangan tersendiri. Manusia diikat dalam
kehidupan kelompok karena rasa sosial yang serta merta dan kebutuhan.
Hassan Shaidly
Masyarakat sebagai suatu golongan besar-kecil dari beberapa manusia, yang
dengan atau sendirinya bertalian secara golongan dan mempunyai pengaruh
kebatinan satu sama lain.

D. CIRI-CIRI MASYARAKAT
Menurut Durkheim, masyarakat bukanlah hanya sekedar suatu penjumlahan
individu semata, melainkan suatu system yang hanya dibentuk dari hubungan
antar (anggota masyarakat), sehingga menampilkan suatu realita tertentu yang
mempunyai cirri-cirinya sendiri.
Soerjono Soekarno (1986) menyatakan, bahwa sebagai suatu pergaulan
hidup atau suatu bentuk kehidupan bersama manusia, maka masyarakat itu
mempunyai ciri-ciri pokok, yaitu:
a. Manusia yang hidup bersama.
b. Bercampur untk waktu yang cukup lama
c. Mereka sadar bahwa merupakan suatu kesatuan.
d. Mereka merupakan suatu system hidup bersama.

Abu ahmad (1985) menyatakan, bahwa masyarakat harus mempunyai cirri-ciri;


a. Harus ada pengumpulan manusia dan harus banyak, bukan pengumpulan
binatang.
b. Telah bertempat tinggal dalam waktu yang lama di suati daerah tertentu.
c. Adanya aturan-aturan atau undang-undang yang mengatur mereka untuk
menuju kepada kepentingan dan tujuan berama.
Abdul Syani (2003) menyebutkan, masyarakat ditandai oleh cirri-ciri;
a. Adanya interaksi
b. Ikatan pola tingkah laku yang khas di dalam semua aspek kehidupan yang
bersifat mantap dan kontinu
c. Adanya rasa identitas terhadap kelompok, dimana individu yang
bersangkutan menjadi anggota kelompok.

15
Menurut Syani (2002), ada beberapa unsure ynag terkandung dalam istilah
masyarakat, antara lain sebagai berikut.
a. Sejumlah manusia yang hidup bersama dalam waktu yang realif lama
didalamnya manusia dapat saling mengerti dan merasa serta mempunyai
harapan-harapan sebagai akibat dari hidup bersama itu. Terdapat system
komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antar-
manusia dalam masyarakat tersebut.
b. Manusia yang hidup bersama itu merupakan suatu kesatuan
c. Manusia yang hidup bersama itu merupakan suatu system hidup bersama,
yaitu hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan, oleh karenanya
setiap anggota masyarakat merasa dirinya masing-masing terikat dengan
kelompoknya.

Menurut Mac Iver (dalam Harsodjo, 1927), bahwa dalam masyarakat


terdapat suatu system cara kerja dan prosedur dari otoritas dan saling bantu-
membantu, yang meliputi
1. Kelompok-kelompok dan pembagian-pembagian sosial lain
2. System dari pengawasan tingkah laku manusia dan kebebasan
Menurut Hasan Shadly, dalam bukunya Sosiologi untuk Masyarakat
Indonesia bahwa manusia akan tertarik kepada hidup bersama dan masyarakat
didorong oleh beberapa factor.
1. Hasrat yang berdasar naluri (kehendak biologis yang diluar penguasaan
akal) untuk mencari teman hidup, pertama untuk memenuhi kebutuhan
seksual yang bersifat biologis sebagaimana terdapat pada semua makhluk
hidup.
2. Kelemahan manusia selalu mendesak untuk mencari kekuatan bersama
yang terdapat dalam berserikat dengan orang lain sehingga dapat
berlindung bersama-sama dan dapat memenuhi kebutuhan kehidupan
sehari-hari dengan usaha bersama. Keadaan demikian ini juga akhirnya
mendorong.

16
E. HUBUNGAN ANTARA INDIVIDU DAN MASYARAKAT
Mengenai bagaimana hubungan antara individu dengan masayarakat, ada
tiga alternative jawaban.
1. Individu memiliki status yang relative dominan terhadap masyarakat
2. Masyarakat memiliki status yang relative dominan terhadap individu
3. Individu dan masyarakat saling tergantungan
Hubungan antara individu dengan masyarakat seperti dimaksud diatas
menunjukkan bahwa individu memiliki status yang relative dominan terhadap
masyarakat, sedangkan lainnya menganggap bahwa individu itu tunduk pada
masyarakat. Sementara itu masih terdapat suatu hubungan lagi, yaitu adanya
hubungan interpenden (saling ketergantungan) antara individu di dalam
masyarakat yang tidak terbatas kuantitasnya. Setiap satuan individu itu masing-
masing mempunyai kekhususan yang berpengaruh terhadap dinamika kehidupan
masyarakat.
Dalam hal tersebut, Soepomo berpendapat, bahwa individu ialah suatu
makhluk dimana masyarakat mengkhususkan diri. Masyarakat adalah keseluruhan
dari sekian anggota-anggota seorang-seorang. Karena itu, keinsafan individu
kemasyarakatan dan keinsafan individu bercampur baur.
Walaupun demikian, bukan berarti kehidupan individu warga masyarakat
sama sekali tidak peluang bagi kehidupan yang bersifat pribadi. Sebaliknya dalam
kehidupan masyarakat yang telah mengalami proses serba individualis pun
kehidupan bersama tetap tidak akan ditinggalkan.

17
BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah kami paparkan di dalam bab pembahasan maka
dari itu, kami dapat mengambil kesimpulan bahwa individu dan masyarakat
merupakan perangkat yang bersatu padu atau dengan kata laintidak dapat
dipisahkan dimana individu dan masyarakat senantiasa ada di dalam setiap
pergaulan hidup, individu tidak mungkin dapat hidup dengan sempurna
tanpa bermasyarakat.

3.2 Saran
Dalam penulisan rekayasa ide ini masih terdapat beberapa kekurangan dan
kesalahan, baik dari segi penulisan maupun dari segi penyusunan
kalimatnya. Dari segi isi juga masih perlu ditambahkan. Oleh karena itu,
kami sangat mengharpkan kepada para pembaca makalah ini agar dapat
memberikan kritikan dan masukan yang bersifat membangun.

18
DAFTAR PUSTAKA

Soelaeman, Dr. M. Munandar. Ilmu Sosial Dasar. Refika Aditama.2006


Bainar, Prof. Dr. Hajjah, dkk. Ilmu Sosial, Budaya, dan Kealaman Dasar. CV.
Jenki Satria. 2006
Jalaluddin Rakhmat, Rekayasa Sosial Reformasi, Revolusi, atau Manusia Besar
Prof.Dr.H.Juhaya S.Praja,MA Teori Hukum dan Aplikasinya
[1] Jalaluddin Rakhmat, Rekayasa Sosial Reformasi, Revolusi, atau Manusia
Besar, PT.Remaja Rosda karaya, bandung h. 44
[2] Prof.Dr.H.Juhaya S.Praja,MA, Teori Hukum dan Aplikasinya,Cv.Pustaka
Karya, h.45
[3] Jalaluddin Rakhmat,.. h. 46
[4] Jalaluddin Rakhmat,.. h. 48
[5] Jalaluddin Rakhmat,.. h. 50
[6] Jalaluddin Rakhmat,.. h. 43
[7] Dr.M. Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar refika Aditama hal 113
[8] Prof. Dr. Hajjah Bainar, Drs. H. Ruslan Abdul Rahman, Drs. M. Jafar Anwar,
M, Si. Ilmu Sosial, Budaya, dan Kealaman Dasar hal 65
[9] Abdul Syani, Sosiologi Kelompok dan Masalah Sosial hal 123.
[10] Abdul Syani, hal 126
[11] Abdul Syani,. hal 129
[12] Dr.M. Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar refika Aditama hal 115

[13] Dr.M. Munandar Soelaeman, hal 119

19
LAMPIRAN BIODATA

A. Identitas Diri
1 Nama Lengkap Liza Yolanda
2 Jenis Kelamin Perempuan
3 Program Studi Pendidikan
4 NIM 4153121037
5 Tempat/ Tanggal Lahir T.Tinggi, 25 April 1998
6 Email lizayolanda7@gmail.com
7 Nomor Telepon/ HP 085261781148

B. Identitas Diri
1 Nama Lengkap Nur Setiana
2 Jenis Kelamin Perempuan
3 Program Studi Pendidikan
4 NIM 4152121033
5 Tempat/ Tanggal Lahir Selotong, 12 September 1996
6 Email nursetiana12@gmail.com
7 Nomor Telepon/ HP 082361512372

C. Identitas Diri
1 Nama Lengkap Netti Nenggolan
2 Jenis Kelamin Perempuan
3 Program Studi Pendidikan
4 NIM 41
5 Tempat/ Tanggal Lahir
6 Email
7 Nomor Telepon/ HP

20