Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEBIDANAN

PADA BAYI Ny P DENGAN BAYI BARU LAHIR NORMAL


Di RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA di ruang Bayi
PADA TANGGAL 06 MEI 2007

DISUSUN OLEH:

Prasasty
Putri Nur Febriyanti
Putu Ika Penggalih N. A. J
R. Aj. Masturatul Laili
Reny Norma H

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SURABAYA JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN BANGKALAN
2007
LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan Kebidanan pada bayi Ny S dengan bayi baru lahir normal.


Menggunakan manajemen varney di Rumah Sakit Islam A. Yani Surabaya di
Ruang bayi pada tanggal 04 Mei 2009 sampai dengan 15 Mei 2009. Telah
diperiksa disetujui dan disahkan pada tanggal Mei 2007.

Penyusun,
Mahasiswa AKBID

PRASASTY PUTRI NUR FEBRIYANTI PUTU PENGGALIH N. A. J


NIM. P.27824307 024 NIM P. 278243070. 25 NIM. P. 278243070. 26

RENY NORMA HIDAYATI R. Aj. Masturatul. Laili


NIM. P. 278243070. 29 N IM. P. 278243070. 28

Mengetahui,

Dosen Pembimbing Pembimbing Praktek


BAB I

LANDASAN TEORI

PENDAHULUAN
Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada bayi
tersebut selama jam pertama setelah kelahiran. Sebagian besar bayi yang baru
lahir akan menunjukkan usaha pernapasan spontan dengan sedikit bantuan atau
gangguan segera setelah melahirkan bayi :
Sambil secara cepat menilai pernapasannya, letakkan bayi dengan handuk di
atas permukaan perut ibu.
Dengan kain bersih dan kering atau kasa, bersihkan darah atau lender dari
wajah bayi untuk mencegah jalan udaranya terhalang. Periksa ulang
pernapasan bayi.
Catatan : sebagian besar bayi akan menangis atau bernafas secara spontan
dalam waktu 30 detik setelah lahir.
Bila bayi tersebut menangis/bernafas (terlihat dari pergerakan dada paling
sedikit 30 x/ menit) biarkan bayi tersebut dengan ibunya.
Bila bayi tersebut tidak bernafas selama 30 detik, segeralah cari bantuan, dan
mulailah langkah-langkah resusitasi bayi tersebut.

Persiapkan kebutuhan resusitasi untuk setiap bayi dan siapkan rencana untuk
meminta bantuan, khususnya bila ibu tersebut mempunyai riwayat ekslansi,
perdarahan, persalinan, lama atau macet, persalinan dini atau infeksi.
(Sarwono Prawirohardjo, 2002; N.30)

I. PENATALAKSANAAN BAYI BARU LAHIR


Penatalaksanaan awal bayi baru lahir meliputi :
a. Pencegahan infeksi
b. Penilaian awal
c. Pencegahan kehilangan panas
d. Rangsangan taktil
e. Asuhan tali pusat
f. Memulai pemberian ASI
g. Memberi profilaksis terhadap gangguan pada mata
(JHPIEGO dan DEPKES RI ; 42)
a. Pencegahan infeksi
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi. Saat melakukan penanganan
bayi baru lahir, pastikan untuk melakukan tindakan pencegahan infeksi
berikut ini :
Cuci tangan secara seksama sebelum dan setelah melakukan kontak
dengan bayi.
Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum
dimandikan.
Pastikan bahwa semua peralatan, termasuk klem, gunting, dan benang tali
pusat telah di DTT atau steril. Jika menggunakan bola karet penghisap,
pakai yang bersih dan baru. Jangan menggunakan bola karet penghisap
untuk lebih dari satu bayi.
Pastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang
digunakan untuk bayi telah dalam keadaan bersih.
Pastikan bahwa timbangan, pita pengukur, thermometer, steteskop, dan
benda-benda lainnya yang bersentukan dengan bayi dalam keadaan bersih
(dekontaminasi dan cuci setiap kali setelah digunakan)
(JPHIEGO dan DEPKES RI : 4-2)

b. Penilaian awal
Segera lakukan penilaian awal pada bayi baru lahir secara cepat dan tepat (0-
30 detik). Evaluasi data yang terkumpul buat diagnosis dan tentukan rencana
untuk asuhan atau perawatan bayi baru lahir.
(JPHIEGO dan DEPKES RI : 4-2)
Keadaan umum bayi dinilai 1 menit setelah lahir dengan menggunakan APGAR
NILAI APGAR (NA)
0 1 2 NA
Appereance Pucat Badan merah Seluruh tubuh
(warna kulit) Ekstrimitas biru kemerah-
merahan
Pulse rate Tidak ada < 100
(frekunsi nadi) > 100

Grimace Tidak ada Sedikit gerakan


(reaksi mimik Batuk / bersin
rangsang)
Tidak ada Ekstrimitas
Activity sedikit flexi Gerakan aktif
(tonus otot)
Tidak ada Lemah / tidak
Respiration teratur Baik / menangis
(pernafasan)

Jumlah

Catatan :
NA 1 menit > 7 atau 7 / bayi normal = 7 10 tidak perlu resusitasi
NA 1 menit 4 6 asfiksia sedang / bag and mask ventilation
NA 1 menit < 3 asfiksia berat, lakukan intubasi
(Sarwono Prawirohardjo, 1999 : 249)

Identifikasi bayi segera setelah bayi lahir dan usia ibu sadar, bayinya
diperlihatkan kepadanya dan teliti apakah ada tanda pengenal bayi sama
dengan tanda pengenal ibu. Bila ibu tidak sadar, bayi diperlihatkan pada
ayah atau keluarga yang menungguinya. Hal ini perlu dilakukan untuk
mencegah kekeliruan di kemudian hari.
(Sarwono Prawirohardjo, 1999 : 249 25)

c. Pencegahan kehilangan panas


Bayi baru lahir tidak dapat mengatur temperatur tubuhnya secara memadai
dan cepat kedinginan, jika kehilangan panas tidak segera dicegah. Bayi yang
mengalami hipetermi beresiko tinggi untuk jatuh sakit atau meninggal. Jika
bayi dalam keadaan basah atau tidak ditutupi mungkin akan mengalami
hipetermi, meskipun dalam ruangan yang relatif hangat. Cara mencegah
kehilangan panas, yaitu :
1. Keringkan bayi secara seksama
2. Selimuti dengan selimut atau kain bersih, kering, dan hangat
3. Tutup bagian kepala bayi
4. Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
5. Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir
6. Tempatkan bayi di lingkungan hangat
(JHPIEGO dan DEPKES RI : 4-3 / 4-4)
7. Pastikan bayi tetap hangat dengan memeriksa telapak bayi setiap 15 menit
Apabila telapak bayi terasa dingin, periksalah suhu aksila bayi
Apabila suhu bayi < 36,5oC, segera hangatkan bayi
8. Berikan bayi pada ibunya secepat mungkin, kontak dini antara ibu dan
bayi penting untuk kehangatan, mempertahankan panas dengan benar pada
bayi baru lahir.

Bila memungkinkan jangan pisahkan ibu dengan bayi dan biarkan bayi dengan
ibunya paling sedikit satu jam setelah persalinan
(Sarwono Prawirohardjo, 2002 : N-31)

d. Rangsangan Taktil
Mengeringkan tubuh bayi juga merupakan tindakan stimulasi untuk bayi
yang sehat, hal ini biasanya cukup untuk merangsang pernafasan spontan.
Jika bayi tidak menunjukkan respon atau tanda-tanda kegawatan, segera
lakukan tindakan untuk membantu pernafasan.
(JHPIEGO dan DEPKES RI : 4-6)

e. Asuhan tali pusat


1. Mengikat tali pusat
Setelah placenta dilahirkan dan kondisi ibu dianggap stabil, ikat tali pusat
pada puntung tali pusat.
Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam
larutan klorin 0,5%, untuk membersihkan darah dan reaksi tubuh
lainnya.
Bilas tangan dengan air matang atau DTT, kemudian keringkan
dengan handuk bersih dan kering
Ikat puntung talpus sekitar 1 cm dari pusat dengan menggunakan
benang DTT atau klem plastic talpus (DTT / steril). Lakukan simpul
kunci atau jepitkan secara mantap klem talpus tersebut (ikat dengan
simpul kunci di bagian talpus pada sisi yang berlawanan)
Lepaskan klem penjepit talpus dan letakkan di dalam larutan klorin
0,5 %
Selimuti ulang bayi dengan kain bersih dan kering. Pastikan bahwa
bagian kepala bayi tertutup dengan baik.

2. Perawatan tali pusat


Jangan membungkus pusat atau perut ataupun mengoleskan bahan atau
ramuan apapun ke puntung talpus dan nasehati keluarga untuk tidak
memberikan apapun pada pusat bayi.
Pemakaian alcohol maupun betadine masih diperkenankan sepanjang
tidak menyebabkan talpus basah atau lembab.
Beri nasehat pada ibu dan keluarganya sebelum penolong
meninggalkan bayi :
Lipat popok di bawah puntung talpus
Jika puntung talpus kotor, cuci secara lembut dengan air matang (DTT)
dan sabun, keringkan dengan seksama
Jelaskan pada ibu bahwa ia harus mencari bantuan perawatan jika pusat
menjadi merah atau mengeluarkan nanah darah.
Jika pusar menjadi merah atau mengeluaskan nanah / darah segera
rujuk bayi ke fasilitas yang mampu memberikan BBL secara lengkap.
(JHPIEGO dan DEPKES RI : 4-7)
f. Memulai pemberian ASI
Pastikan bahwa pemberian ASI dimulai dalam satu jam setelah bayi lahir.
Jika mungkin, anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusukan bayinya segera
setelah tali pusat diklem dan dipotong. Tentramkan ibu bahwa anda
membantu ibu menyusukan bayi setelah placenta lahir dan penjahitan
laserasi. Menjelaskan pada ibu yang berhubungan dengan ASI, yaitu :
Keuntungan pemberian ASI secara dini bagi ibu dan bayinya
Jangan memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi (misalnya
air madu, larutan air gula atau pengganti susu ibu), kecuali diinstrusikan
oleh dokter anak (atas alasan medis). Jarang sekali para ibu tidak
memiliki air susu sehingga bayi memerlukan asupan susu buatan
tambahan.
Berikan ASI kepada bayi sesuai kebutuhannya baik siang dan malam (8
kali atau lebih dalam 24 jam) selama bayi menginginkan dan berikan ASI
saja selama 6 bulan pertama kehidupannya.
Posisi yang tepat untuk menyusui
Jelaskan pada ibu bagaimana memeluk bayi dan mulai menyusukan bayi
Jelaskan pada ibu bagaimana merawat payudaranya.
(JHPIEGO san DEPKES RI : 4-7 / 4-9)

Bayi normal sudah dapat disusui segera setelah lahir, lamanya disusui hanya
untuk 1-2 menit pada setiap payudara ibu. Dengan menghisapnya maka akan
terjadi perangsangan terhadap pembentukan ASI dan secara tidak langsung
dapat mempercepat pengecilan uterus. Walaupun ASI yang berupa kolostrum
itu hanya dapat dihisap beberapa tetes, ini sudah cukup untuk kebutuhan bayi
dalam hari-hari pertama. Pada hari ketiga, bayi harus sudah menyusu selama
10 menit pada mammae ibu dengan jarak waktu 3 4 jam atau ketika bayi
menangis karena lapar, agar kebutuhan on demand dapat terpenuhi.
(Sarwono Prawirohardjo, 1999 : 259)
g. Upaya profilaksis terhadap gangguan mata
Bayi bisa di beri ASI dan bertemu dengan ibu dan keluarganya sebelum
mendapatkan tetes mata profilaktik (larutan perak nitrat 1%) atau salep
tetrasiklin 1% atau salep mata erytromisin 0,5%). Tapi tetes mata atau salep
antibiotika tersebut harus diberikan pada satu jam pertama setelah kelahiran.
Upaya profilaksis tidak akan efektif untuk gangguan mata apabila tidak
diberikan 1 jam masa kehidupannya.
Teknik memberikan profilaksis mata :
Cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir
Jelaskan pada keluarganya tentang apa yang anda lakukan, yakinkan
mereka bahwa obat tersebut akan sangat menguntungkan bayi.
Berikan salep atau tetes mata dalam satu garis lurus, mulai dari bagian
mata yang dekat dengan hidung bayi menuju ke bagian luar mata (dekat
telinga bayi).
Jangan biarkan ujung mulut tabung atau salep/ tabung penetes
menyentuh mata bayi
Jangan menghapus salep atau tetes mata dari mata bayi dan minta
keluarganya untuk tidak menghapus dari mata bayi.
(JPHIEGO dan DEPKES RI : 4-9)
Obat mata erytromisin 0,5 % atau tetrasiklin 1 % dianjurkan untuk
pencegahan penyakit mata karena klamidia (PMS), yang lazim di pakai
adalah larutan perak nitrat atau neosporing dan langsung diteteskan pada
mata bayi setelah bayi lahir.
(Sarwono Prawirohardjo, 2002 : N-32)

III. TANDA TANDA BAHAYA


Tanda tanda bahaya yang harus diwaspadai pada bayi baru lahir :
1. Pernafasan sulit atau lebih dari 60 x / menit.
2. Kehangatan / terlalu panas (lebih 38oC) atau terlalu dingin < 38oC
3. Warna kuning (terutama pada 24 jam pertama), biru atau pucat, memar.
4. Pemberian makan-hisapan lemah, mengantuk berlebihan, banyak muntah.
5. Tali pusat merah, bengkak, keluar cairan (nanah), bau busuk, pernafasan
sulit.
6. Tinja / kemih, tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek, sering, hijau tua,
ada lendir / darah pada tinja.
7. Aktivitas menggigil atau menangis tidak biasa, sangat mudah
tersinggung, lemas, terlalu mengantuk, lunglai, kejang, kejang halus, tidak
bisa tenang, menangis terus menerus.
NB : cari pertolongan medis segera jika timbul hal di atas
(Sarwono Prawirohardjo, 2002 : N-38)
BAB II
ASKEB TEORI

I. PENGKAJIAN
DS : Data yang diperoleh dari pasien / keluarga pasien berupa informasi
informasi / keluhan yang ada.
DO dari hasil pemeriksaan petugas kesehatan
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum : baik
b. Kesadaran : composmentis
c. Apgar score segera setelah lahir
Kriteria 0 1 menit 1 5 menit
Denyut jantung
Usaha bernafas
Tonus otot
Reflek
Warna kulit
Jumlah

d. Tanda-tanda vital :
Suhu tubuh : 36,5o 37,5oC
Pernafasan : 30 50 x/ menit
Nadi : 120 140 x /menit

2. Pemeriksaan fisik
a. Kepala
Simetris / tidak, ada / tidak molase, ada / tidak ada caput succedanum, ada/
tidak cephal hematoma
b. Mata
Simetris / tidak, secret ada / tidak, konjungtiva anemis / tidak, sclera
icterus / tidak
c. Mulut
Simetris / tidak, ada / tidak labiopalatoschizis, sianosis/ tidak
d. Hidung
Simetris / tidak, ada / tidak secret, septum utuh / tidak
e. Telinga
Simetris / tidak, ada/ tidak secret yang belebih, ada / tidak cacat bawaan
f. Letter
Ada/ tidak pembesaran limfe, tiroid maupun vena jugularis, ada / tidak
benjolan abnormal lainnya
g. Dada
Simetris / tidak, putting susu simetris / tidak
h. Abdomen
Ada / tidak pembesaran abnormal, ada / tidak pernafasan dengan
diagfragma, ada / tidak perdarahan tali pusat.
i. Kulit
Warna kulit, turgor, ada/ tidak vernix caseosa, ada/ tidak rambut lanugo
j. Genetalia
Wanita : labia mayor menutup / tidak, ada / tidak oedema, ada / tidak
perdarahan
Pria : ada / tidak rugae pada skrotum, oedema / tidak, testis turun / tidak
k. Anus
Ada / tidak atresia ani
l. Ekstrimitas
Simetris / tidak, jumlah jari lengkap / tidak, pergerakan aktif / tidak, ada /
tidak kelainan atau cacat bawaan yang menyertai
3. Antropometri
a. Berat badan : 2500 4000 gram
b. Panjang badan: 48 52 cm
c. Lingkar lengan atas : 11 14 cm
d. Lingkar dada : 30 38 cm
e. Lingkar kepala : 33 35 cm
Fronto oksipita
Mento oksipita
Sub occipito bregmatika
4. Reflek
Moro : Bayi akan tersentak kaget dan mengangkat 2 kaki dan
tangannya ketika dirangsang tepukkan sisi tempat bayi terbaring
Rooting : Bayi akan menoleh pada pipi yang dirangsang dengan jari dengan
membuka mulutnya
Isap dan menelan : Bayi akan menghisap dan menelan apapun yang ada
dalam mulutnya
5. Eliminasi
Urine : keluar dalam 24 jam pertama
Mekonium : berwarna hitam kecoklatan, keluar dalam 24 jam pertama
6. Pemeriksaan penunjang (bila perlu)

II. INTERPRETASI DATA DASAR


A. Diagnosa
Merupakan kesimpulan dari hasil pemeriksaan dan anamnesa pasien
- Data Subyektif
Yaitu data yang diperoleh dari pasien . keluarga pasien yang berupa
informasi informasi / keluhan yang ada
- Data obyektif
Data yang didapatkan dari hasil pemeriksaa petugas kesehatan
B. Masalah
Suatu keadaan dimana pasien mempunyai keluhan-keluhan yang
membutuhkan suatu pemecahan
C. Kebutuhan
Kebutuhan yang diperlukan sekali bagi ibu untuk mengatasi masalahnya
(Zr. Dra. Christina Ibrahim, Perawatan Keb : 16)

III. IDENTIFIKASI DIAGNODA ATAU MASALAH POTENSIAL


Diagnosa potensial
Mengidentifikasi diagnosa potensial lain berdasarkan diagnosa yang ada.
Masalah potensial
Mengidentifikasi masalah potensial yang mungkin terjadi berdasarkan
masalah yang berkelanjutan.

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA


Mengidentifikasi segera yang dibutuhkan oleh pasien untuk menghindari hal-
hal yang dapat mengancam jiwa pasien sehingga harus dilakukan tindakan
seperti kolaborasi / rujukan dan observasi.

V. PENGEMBANGAN RENCANA
Berdasarkan diagnosa yang telah ditegakkan, bidan menyusun rencana
tindakan pada pasien atau kliennya sesuai dengan kebutuhan pasien atau klien
tersebut.
(DEPKES RI, 1995 : 24)
VI. IMPLEMENTASI
Sesuai dengan pengembangan rencana yang telah disusun, tindakan yang
dilakukan berdasarkan prosedur yang telah lazim diikuti atau dilakukan.

VII. EVALUASI
Tanggal :
Jam :
Sesuai dengan implementasi
Bidan melakukan evaluasi sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan di
dalam rencana kegiatan. Tujuan evaluasi adalah mengetahui kemajuan hasil
dari tindakan yang dilakukan. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk kegiatan
asuhan lebih lanjut. Bila diperlukan sebagai bahan peninjauan terhadap
langkah-langkah dalam proses manajemen kebidanan sebelumnya oleh
karena tindakan yang dilakukan kurang berhasil.
(DEPKES RI, 1995 : 27)
BAB III
ASUHAN KEBIDANAN
PADA BAYI Ny. S DENGAN BAYI BARU LAHIR NORMAL
DI BPS Ny. HOSZAIMAH
PUSKESMAS BLEGA BANGKALAN
TANGGAL 7 MEI 2007

I. PENGKAJIAN
DS : Bayi lahir spontan, pukul 08. 20 WIB tanggal 06 Mei 2009, BB 3860
gram, panjang 50 cm. Jenis kelamin laki-laki.
DO :
Pemeriksaan
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum : baik
b. Gerak : aktif
c. APGAR score setelah lahir
Kriteria 0 1 menit 1 5 menit
Denyut jantung 1 2
Usaha bernafas 2 2
Tonus otot 1 2
Reflek 2 1
Warna kulit 2 2
Jumlah 8 9

d. Tanda tanda vital


- Suhu tubuh : 37oC
- Pernafasan : 40 x/menit
- Nadi : 120 x/menit

2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala
Simetris, tidak ada molase, tidak ada caput succedanum, tidak ada cephal
hematoma
b. Mata
Simetris, tidak ada secret, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak icterus
c. Mulut
Simetris, tidak ada labiopalatoschizis, tidak sianosis
d. Hidung
Simetris, tidak ada secret, septum utuh
e. Telinga
Simetris, tidak ada secret, tidak ada cacat bawaan
f. Leher
Tidak ada pembesaran limfe, tiroid maupun vena jugularis, tidak ada
benjolan abnormal
g. Dada
Simetris, putting susu simetris
h. Abdomen
Tidak ada pembesaran abnormal, tidak ada pernafasan dengan diagfragma,
tidak ada perdarahan tali pusat.
i. Kulit
Kemerahan, tidak ada vernik caseosa, tidak ada rambut lanugo, turgor
baik.
j. Genetalia
Ada rugae pada skrotum, tidak oedema, testis turun
k. Anus
Tidak ada atresia ani
l. Ekstriminitas
Simetris, jumlah jari lengkap, pergerakan aktif, tidak ada kelainan atau
cacat bawaan.
3. Antropometri
a. Berat badan : 3400 gram
b. Panjang badan : 50 cm
c. Lingkar lengan atas : 12 cm
d. Lingkar dada : 34 cm
e. Lingkar kepala
- Fronto oksipita : 34 cm
- Mento oksipita : 35 cm
- Sub occipito bregmatika : 32 cm
4. Reflek
- Moro : baik
- Rooting : baik
- Isap dan menelan : baik
- tonick neck reflek : baik
- babinsky : baik
5. Eliminasi
- Urine : keluar dalam 24 jam pertama
- Mekonium : Berwarna hitam kecoklatan, keluar dalam 24 jam pertama

II. INTERPRETASI DATA DASAR


A. Diagnosa
Bayi baru lahir normal
DO :
1. Kepala : Simetris, tidak ada molase, tidak ada caput succedanum, tidak
ada cephal hematoma
Mata : Simetris, sclera tidak icterus
Mulut : Simetris, tidak ada labiopalatoschizis, tidak sianosis
Hidung : Simetris, septum utuh, tidak ada secret
Telinga : Simetris, tidak ada secret, tidak ada cacat bawaan
Leher : Tidak ada pembesaran limfe, tiroid, vena jugularis
Dada : Putting susu simetris
Abdomen : Tidak ada pembesaran abnormal, tidak ada perdarahan tali
pusat
Kulit : Kemerahan, tidak ada vernik caseosa, tidak ada rambut
lanugo
Genetalia : Aga rugae pada skrotum, tidak oedema, testis turun
Anus : tidak ada atersia ani
Ekstremitas : Simetris, jumlah jari lengkap, pergerakan aktif, tidak ada
kelainan / cacat bawaan
Suhu tubuh : 37oC
Pernafasan : 40 x / menit
Nadi : 120 x / menit
A-S : 8-9
2. Lingkar kepala
- Fronto oksipita : 34 cm
- Mento oksipita : 35 cm
- Sub occipito bregmatika : 32 cm
3. Reflek
- Moro : baik
- Rooting : baik
- Isap dan menelan : baik
4. Pergerakan : aktif
5. Keadaan umum : baik

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL


1. Potensial hipotermi
2. Potensial hipoglikemi
3. Potensial terjadinya perdarahan tali pusat

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA


-
V. ITNERVENSI
1. Pertahankan jalan nafas tetap bersih
2. Pertahankan suhu tubuh bayi
3. Mandikan bayi setelah 6 jam
4. Lakukan perawatan tali pusat
5. Berikan identitas bayi
6. Berikan vitamin K, HiB setelah 12 jam
7. Tempatkan bayi pada baby term
VI. IMPLEMENTASI
1. Mempertahankan jalan nafas dan apgar score
- mengusap lendir pada muka dan mulut bayi dengan kasa steril.
- menilai apgar score (pernafasan, denyut jantung, tonus otot, reflek dan
warna kulit) pada 1 menit pertama dan 5 menit kemudian
2. Mempertahankan suhu tubuh bayi
- Menempatkan bayi tepat dibawah lampu penghangat selama 30 menit
- memastikan bayi tetap hangat dengan cara mengganti kain yang basah
dan membungkus bayi dengan kain kering dari kepala sampai kaki
(kecuali wajah) untuk mencegah keluarnya panas tubuh.
- mengikat tali pusat dengan klem plastik dan membuka klem tali pusat.
3. Membersihkan bayi dari darah dan lendir dan kemudian dibungkus. Setelah
6 jam bayi dimandikan dengan air hangat.
4. Melakukan perawatan tali pusat yaitu tali pusat dibungkus kasa steril.
5. Memberikan identitas bayi dengan gelang identitas dengan menuliskan:
-nama (bayi dan ibu)
-tanggal lahir/jam
-jenis kelamin
-BB dan PB
-alamat
6. Menyuntikkan vitamin K secara IM pada paha kiri bagian luar (1/3 bagian
atas) 1mg, desinfeksi dengan kapas alcohol serta membungkus bayi dengan
kain bersih dan kering dari kepala sampai kaki kecuali wajah.
7. Menempatkan bayi pada baby term agar bayi tetap hangat

VII. EVALUASI
Tanggal : 06 Mei 2009
Jam : 10. 00 WIB
Bayi menagis kuat, suhu tubuh 37C, 48 X/ menit, Nadi 124 x/ menit.