Anda di halaman 1dari 34

I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Osiloskop merupakan alat yang mampu menampilkan grafik dari sinyak elektrik
dengan sumbu y merepresentasikan tegangan dan sumbu x merepresentasikan waktu.
Terdapat banyak kegunaan mendasar dari osiloskop seperti untuk mengukur tegangan,
mengukur frekuensi, mengamati gejala kelistrikan, mengamati sinyal noise, atau
memeriksa komponen yang tidak berfungsi sehingga menyebabkan distorsi pada sinyal.
Karena kegunaannya tersebut, banyak orang menggunakan osiloskop, mulai dari teknisi
reparasi televisi hingga para fisikawan. Sebab, osiloskop dapat membantu pekerjaan orang
yang merancang maupun memperbaiki peralatan elektronik.

Kegunaan osiloskop tidak terbatas pada bidang elektronik saja. Dengan transducer
yang tepat, sebuah osiloskop dapat mengukur berbagai jenis fenomena. Transducer adalah
alat yang memunculkan sinyal listrik sebagai respon dari rangsangan fisik berupa suara,
tegangan mekanik, tekanan, cahaya, atau panas. Salah satu contoh transducer adalah
mikrofon.

Dalam kehidupan sehari-hari, osiloskop digunakan oleh berbagai kalangan profesi.


Sebagai contoh seorang insinyur otomotif akan menggunakan osiloskop untuk mengukur
vibrasi mesin, sedangkan seorang peneliti medis akan menggunakan osiloskop untuk
mengukur gelombang otak. Selain itu, osiloskop juga dibutuhkan untuk menyusun maupun
memantau pengukuran dengan laser, mendeteksi sistem, dan mengevaluasi pengaturan
laboratorium yang menggunakan laser, detektor, atau serat (fibers).
Karena osiloskop memiliki banyak fungsi dan penting dalam pengukuran fisis
listrik, maka pada praktikum ini akan dilakukan beberapa percobaan menggunakan
osiloskop. Percobaan dilakukan menggunakan dua channel osiloskop. Dalam praktikum
juga akan diukur beda fase yang merupakan karakteristik dari listrik AC.

1.2. Tujuan
1. Menampilkan dua berkas gelombang pada osiloskop.
2. Mengukur dua tegangan pada osiloskop.
3. Mengukur dua tegangan identik pada osiloskop.
4. Mengukur dua tegangan yang berbeda pada osiloskop.
5. Mengukur frekuensi pada osiloskop.
6. Mengukur beda fase gelombang pada osiloskop.

1
II. DASAR TEORI

Osiloskop merupakan salah satu instrumen penting dalam fisika eksperimental.


Dengan osiloskop tegangan listrik dapat diamati dan diukur sebagai fungsi waktu.
Osiloskop sendiri pada dasarnya adalah sebuah alat ukur tegangan yang bekerja dengan
memancarkan elektron. Komponen utama osiloskop adalah tabung sinar katoda (Cathode
Ray Tube, disingkat CRT) yang membuat sinyal tampak melalui defleksi berkas pancaran
elektron yang mengenai layar fosfor. Pancaran elektron dapat digerakkan untuk
membentuk gelombang yang berubah-ubah terhadap waktu menggunakan medan listrik
yang sesuai, sehingga pancaaran elektron secara berkesinambungan mengikuti sinyal
tegangan yang berubah-ubah dengan cepat dan meninggalkan jejak yang tampak pada layar
CRT.

(Gambar 2.1. Diagram Osiloskop)

Terdapat beberapa fungsi mendasar osiloskop:

Menyelidiki gejala yang bersifat periodik


Melihat gelombang kotak atau sinusoidal dari tegangan
Menganalisis gelombang dan fenomena lain dalam rangkaian
Menganalisa besaran yang berubah terhadap waktu
Mengetahui beda fasa sinyal masukan dan keluaran
Mengukur frekuensi

(Gambar 2.2. Panel Osiloskop)

2
Untuk dapat menggunakan CRO, maka perlu mengenal tombol-tombol yang ada
pada panel CRO. Tombol-tombol yang penting antara lain :
1. Power : Untuk menghidupkan dan mematikan CRO
2. Intensity : Untuk mengatur intensitas berkas cahaya (elektron) pada layar.
3. Focus : Untuk mengatur ketajaman gambar pada layar.
4. Position : Untuk mengatur kedudukan gambar secara vertikal.
5. Position : Untuk mengatur posisi horisontal gambar (gelombang).
6. Input : Terminal untuk menghubungkan sinyal input (yang akan diukur)
dengan CRO. Untuk CRO dual channel ada 2 terminal input yakni
CH1(X) INPUT dan CH2 (Y) INPUT.
7. AC-GND-DC : Selektor untuk mengatur sambungan input sinyal listrik yang akan
diukur. Pada posisi AC komponen dc dari sinyal input diblokir oleh
kapasitor dalam CRO sehingga sinyal yan terukur adalah ac murni.
Pada posisi GND terminal input diputus dan amplifier dibumikan.
Akibatnya sinyal input tidak dapat masuk CRO. Pada posisi DC
terminal input dihubungkan langsung dengan amplifier sehingga
semua komponen sinal input diperkuat dan ditampilkan.
8. Ground : Terminal untuk hubungan dengan bumi
9. Mode : Selektor untuk mengatur tampilan sinyal input. Pada posisi CH1
sinyal input pada channel 1 ditampilkan. Pada posisi CH2 sinyal
input pada channel 2 ditampilkan. Pada posisi DUAL sinyal input
pada CH1 dan CH2 ditampilkan bersama. Pada posisi ADD sinyal
input pada CH1 dan CH2 dijumlahkan secara aljabar (interferensi 2
gelombang searah). Pada poisi XY sinyal input pada CH1 dan CH2
dipadukan secara tegaklurus (interferensi 2 gelombang tegaklurus).
10. Volt/div : Selektor untuk mengatur harga tegangan tiap pembagian skala
(division) pada panel.
11. Variable : Untuk mengatur harga tegangan/waktu tiap pembagian skala
(division) secara halus. Pada saat pengukuran tegangan/periode,
tombol harus pada posisi maksimum (kalibrasi).
12. Time/div : Untuk mengatur waktu sapu tiap pembagian skala (division).
Kegunaan langsung adalah untuk mengukur periode gelombang
yang diselidiki.
13. Synchron : Untuk mengatur supaya pada layar diperoleh gambar yang tidak
bergerak.
14. Slope : Untuk mengatur saat trigger dilakukan, yaitu pada waktu sinyal
naik (+) atau turun (-).

3
Osiloskop dapat mengukur beda fase antara dua sinyal sinusoidal. Pendekatan yang
dapat digunakan ialah melalui pengukuran langsung, yaitu sinyal diaplikasikan ke input
vertikal osiloskop dan waktu sapuan otomatis diaplikasikan ke jejak horizontal. Beda fase
yang ditampilkan berupa selisih waktu antara dua gelombang terukur sebagai sebuah fraksi
periode. Hasilnya dinyatakan dalam pecahan 360 derajat atau dua pi radian. Apabila selisih
waktunya seperempat periode maka beda fasenya seperempat dari 360 derajat.

(Gambar 2.3. Beda Fase)

Beda fase merujuk pada jumlah translasi horizontal antara dua gelombang identik
yang berlainan, diukur dalam derajat maupun radian. Pada gelombang sinus, satu siklus
direpresentasikan oleh 360 derajat. Oleh karenanya, jika dua gelombang sinus memiliki
selisih setengah siklus, beda fase relatifnya adalah 180 derajat. Beda fase ini umumnya
muncul pada sinyal AC.

(Gambar 2.4. Kurva Lissajous)

Gambar Lissajous biasanya digunakan untuk mengukur beda fase. Osiloskop


memunculkannya dengan menyambungkan satu sinya ke jejak vertikal dan yang lain ke
jejak horizonta. Jika perbandingan frekuensi yang pertama dengan yang kedua adalah
bilangan rasional, maka kurva tertutup akan ditampilkan pada layar osiloskop. Pada dua
sinyal yang memiliki frekuensi sama, akan muncul gambar lissajous berbentuk ellips.
Bentuk ellips akan berubah-ubah tergantung perbedaan fase antara dua sinyal dan
perbandingan amplitudo dua sinyal tersebut. Rumus yang digunakan untuk menentukan
beda fase adalah sebagai berikut:

4

= 1

(Persamaan 2.1. Rumus Beda Fase)

Dengan a adalah ketinggian vertikal maksimum ellips dan b adalah perpotongan


pada sumbu y.

III. METODE PENELITIAN


3.1. Alat dan Bahan
1. Osiloskop
2. Osilator
3. Kabel penghubung
4. Trafo
5. Resistor
6. Kapasitor
7. Sumber tegangan

3.2. Skema Percobaan


a. Mengoperasikan Scope Berkas Dua; Mengukur Dua Tegangan; dan Mengukur Dua
Tegangan Identik

Osilator Osiloskop

Ground Output CH1 CH2 Ground

(Gambar 3.1. Skema Rangkaian Percobaan Mengoperasikan Scope Berkas Dua;


Mengukur Dua Tegangan; dan Mengukur Dua Tegangan Identik)

5
b. Mengukur Dua Tegangan yang Berbeda
Rangkaian 1

R1 1k
B
Oscillator R2 1,5k
CH1 CH2

(Gambar 3.2. Skema Rangkaian 1 Percobaan Mengukur Dua Tegangan Berbeda)


Rangkaian 2

R1 1k
B
Oscillator CH2
R2 1,5k CH1

(Gambar 3.3. Skema Rangkaian 2 Percobaan Mengukur Dua Tegangan Berbeda)


Rangkaian 3

R1 1k
B
Oscillator CH2
R2 1,5k CH1

(Gambar 3.4. Skema Rangkaian 3 Percobaan Mengukur Dua Tegangan Berbeda)

6
Rangkaian 4
A
CH1
Vc 10 F
B CH2 Vc
V
150 VR
VR

C
(Gambar 3.5. Skema Rangkaian 4 Percobaan Mengukur Dua Tegangan Berbeda)

c. Mengukur Frekuensi

Osiloskop
Osilator 1 Osilator 2

Ground Output CH1 Ground Output


CH2 Ground

(Gambar 3.6. Skema Rangkaian Percobaan Mengukur Frekuensi)


d. Mengukur Beda Fase

Osiloskop
Osilator

Trafo
R C

Ground Output CH1


Ground
CH2

(Gambar 3.7. Skema Rangkaian Pecobaan Mengukur Beda Fase)


3.3. Tata Laksana
a. Mengoperasikan Scope Berkas Dua
1. Alat dirangkai sesuai skema (Gambar 3.1.).
2. Osiloskop dan osilator dihidupkan.
3. Channel 1 dan Channel 2 diatur pada posisi AC.
4. Tampilan pada layar diamati dan dicatat/difoto.
b. Mengukur Dua Tegangan
1. Alat dirangkai sesuai skema (Gambar 3.1.).
2. Osiloskop dan osilator dihidupkan.

7
3. Channel 1 dan Channel 2 diatur pada posisi AC.
4. Frequency range pada osilator dan volt/div diatur sehingga osiloskop
menampilkan gelombang dengan tegangan dua volt dan panjang gelombang satu
div.
5. Nilai time/div diatur sebesar 1 ms/div.
6. Sinyal pada CH2 diposisikan di bagian atas pada layar sedangkan sinyal pada
CH1 diposisikan di bagian bawah pada layar.
7. Tampilan pada layar diamati dan difoto.
8. Tegangan, panjang gelombang, volt/div, time/div, dan frekuensi dicatat.
9. Tombol X10 MAG pada osiloskop ditekan.
10. Tampilan pada layar diamati dan difoto.
11. Panjang gelombang dicatat.
c. Mengukur Dua Tegangan Identik
1. Alat dirangkai sesuai skema (Gambar 3.1.).
2. Osiloskop dan osilator dihidupkan.
3. Channel 1 dan Channel 2 diatur pada posisi AC.
4. Frequency range pada osilator diatur sebesar 970 Hz.
5. Nilai volt/div pada CH1 diatur sebesar 0.5 volt/div dan pada CH2 1 volt/div
6. Nilai time/div diatur sebesar 1 ms/div.
7. Sinyal pada CH2 diposisikan di bagian atas pada layar sedangkan sinyal pada
CH1 diposisikan di bagian bawah pada layar.
8. Tampilan pada layar diamati dan difoto.
9. Tegangan, panjang gelombang, volt/div, time/div, dan frekuensi dicatat.
d. Mengukur Dua Tegangan Berbeda
1. Alat dirangkai sesuai skema (Gambar 3.2.).
2. Osiloskop dan osilator dihidupkan.
3. Channel 1 dan Channel 2 diatur pada posisi AC.
4. Frequency range pada osilator diatur sebesar 970 Hz.
5. Nilai volt/div diatur sebesar 1 volt/div
6. Nilai time/div diatur sebesar 1 ms/div.
7. Sinyal pada CH2 diposisikan di bagian atas pada layar sedangkan sinyal pada
CH1 diposisikan di bagian bawah pada layar.
8. Tampilan pada layar diamati dan difoto.
9. Tegangan, panjang gelombang, volt/div, time/div, dan frekuensi dicatat.
10. Ulangi langkah 2 s.d. 9 untuk skema rangkaian (Gambar 3.3.) dan skema
rangkaian (Gambar 3.4.).
11. Alat dirangkai sesuai skema (Gambar 3.5.)

8
12. Ulangi langkah 2,3,4
13. Nilai volt/div pada CH1 diatur sebesar 1 volt/div dan pada CH2 20 milivolt/div
14. Ulangi langkah 6 s.d. 9
e. Mengukur Frekuensi
1. Alat dirangkai sesuai skema (Gambar 3.6.).
2. Osiloskop dan osilator dihidupkan.
3. Nilai time/div diatur pada 1 ms/div.
4. Nilai volt/div diatur pada 1volt/div.
5. Nilai frekuensi pada kedua osilator divariasikan dengan perbandingan 1:1,1:2, dan
2:3.
6. Panjang gelombang dan tinggi gelombang yang dihasilkan pada masing-masing
variasi frekuensi dicatat.
7. Pada masing-masing variasi tersebut, sebelum berlanjut ke variasi lain, terlebih
dahulu saklar pada time/div diubah ke posisi x-y lalu difoto grafik lissajous yang
dihasilkan di layar
f. Mengukur Beda Fase
1. Alat dirangkai sesuai skema (Gambar 3.7.)
2. Nilai pada time/div diatur 1ms/div dan volts/div diatur 1 volt/div.
3. Grafik pada layar diamati dan difoto.
4. Panjag gelombang dan selisih panjang gelombang dicatat.
5. Atur saklar time/div ke posisi x-y.
6. Grafik yang dihasilkan pada layar difoto.

3.4. Analisa Data


Mengukur Tegangan

=


=

= (.... ....) volt

Keterangan:

h dalam div, = 0,1 div

Mengukur Periode

=

9

=

= (.... ....) sekon

Keterangan:

dalam div, = 0,1 div

Mengukur Frekuensi
1
=

1
=
2
= (.... ....) Hz
Membandingkan Dua Tegangan
a. Sebelum memakai X10 MAG
= (.... ....) volt
= (.... ....) sekon
= (.... ....) Hz
b. Setelah memakai X10MAG
= (.... ....) volt
= (.... ....) sekon
= (.... ....) Hz
Mengukur Dua Tegangan Berbeda
a. Rangkaian 1
CH1, R1
2 = ..... volt
CH2, R12
12 = ..... volt
1 = 12 2 = ..... volt
b. Rangkaian 2
CH1, R1
1 = ..... volt
CH2, R12
12 = ..... volt
2 = 12 1 = ..... volt
c. Rangkaian 3
CH1, R1

10
1 = ..... volt
CH2, R2
2 = ..... volt
12 = 1 + 2 = ..... volt
d. Rangkaian 4
CH1, R-C
= ..... volt
CH2, R
= ..... volt
= = ..... volt

V1, V2, dan V12 dari ketiga cara dibandingkan

Menghitung Beda Fase


a. Gelombang sinusoidal



= 360

b. Kurva Lissajous
Miring ke kanan

C B
A D


= 1

= 1

Miring ke kiri

C
B
A D


= 180 1

= 180 1

11
IV. HASIL & PEMBAHASAN
4.1. Data, Grafik, Perhitungan
a. Mengoperasikan Scope Berkas Dua

(Grafik 4.1. Percobaan Mengoperasikan Scope Berkas Dua)

12
b. Mengukur Dua Tegangan
Sebelum memakai X10 MAG
Data
CH1 CH2
h = 2 div h = 2 div
= 1 div = 1 div
volt/div = 1 volt/div volt/div = 1 volt/div
time/div = 1ms/div time/div = 1ms/div
frekuensi = 970 Hz frekuensi = 970 Hz

Grafik

(Grafik 4.2. Percobaan Mengukur Dua Tegangan Sebelum Memakai X10 MAG)
Perhitungan

CH1


= =2 1 = 2

13

=
= 0,1 1
= 0,1 volt

= (2,0 0,1) volt

103
=
= 1
= 103 s
103
=
= 0,1
= 104 s

= (1,0 0,1) 10-3 sekon

1 1
== 103
= 103 Hz
1 1
= 2 = 2 104 = 102 Hz
103

= (1000 100) Hz

CH2


= =2 1 = 2


=
= 0,1 1
= 0,1 volt

= (2,0 0,1) volt

103
=
= 1
= 103 s
103
=
= 0,1
= 104 s

= (1,0 0,1) 10-3 sekon

1 1
== 103
= 103 Hz
1 1
= 2 = 2 104 = 102 Hz
103

= (1000 100) Hz

Setelah memakai X10 MAG


Data
CH1
h = 2 div
= 10 div
volt/div = 1 volt/div
time/div = 1ms/div
CH2

14
h = 2 div
= 10 div
volt/div = 1 volt/div
time/div = 1ms/div

Grafik

(Grafik 4.2. Percobaan Mengukur Dua Tegangan Setelah Memakai X10 MAG)

Perhitungan

CH1


= =2 1 = 2


=
= 0,1 1
= 0,1 volt

= (2,0 0,1) volt

103
=
= 10
= 102 s

15
103
=
= 0,1
= 104 s

= (10,0 0,1) 10-3 sekon

1 1
== 102
= 102 Hz
1 1
= 2 = 2 104 = 1 Hz
102

= (100 1) Hz

CH2


= =2 1 = 2


=
= 0,1 1
= 0,1 volt

= (2,0 0,1) volt

103
=
= 10
= 102 s
103
=
= 0,1
= 104 s

= (10,0 0,1) 10-3 sekon

1 1
== 102
= 102 Hz
1 1
= 2 = 2 104 = 1 Hz
102

= (100 1) Hz

16
c. Mengukur Dua Tegangan Identik
Data
CH1 CH2
h = 4 div h = 2 div
= 1 div = 1 div
volt/div = 0.5 volt/div volt/div = 1 volt/div
time/div = 1ms/div time/div = 1ms/div
frekuensi = 970 Hz frekuensi = 970 Hz

Grafik

(Grafik 4.3. Percobaan Mengukur Dua Tegangan Identik)


Perhitungan

CH1


= = 4 0.5 = 2


=
= 0,1 0.5
= 0,05 volt

= (2,00 0,05) volt

17
103
=
= 1
= 103 s
103
=
= 0,1
= 104 s

= (1,0 0,1) 10-3 sekon

1 1
== 103
= 103 Hz
1 1
= = 2 104 = 100 Hz
2 103

= (1000 100) Hz

CH2


= =2 1 = 2


= = 0,1 1 = 0,1 volt

= (2,0 0,1) volt

103
=
= 1
= 103 s
103
=
= 0,1
= 104 s

= (1,0 0,1) 10-3 sekon

1 1
== 103
= 103 Hz
1 1
= 2 = 2 104 = 100 Hz
103

= (1000 100) Hz

18
d. Mengukur Dua Tegangan Berbeda
Rangkaian 1
Data
CH1 CH2
h = 1 div h = 1,8 div
= 1 div = 1 div
volt/div = 1 volt/div volt/div = 1 volt/div
time/div = 1ms/div time/div = 1ms/div

Grafik

(Grafik 4.4. Percobaan Mengukur Dua Tegangan Berbeda pada Rangkaian 1)


Perhitungan
CH1, R2

= =1 1 = 1

2 =1 volt
CH2, R12

= = 1,8 1 = 1,8

12 = 1,8 volt

19
1 = 12 2 = 1,8 1 = 0,8 volt

Rangkaian 2
Data
CH1 CH2
h = 0,8 div h = 1,8 div
= 1 div = 1 div
volt/div = 1 volt/div volt/div = 1 volt/div
time/div = 1ms/div time/div = 1ms/div

Grafik

(Grafik 4.5. Percobaan Mengukur Dua Tegangan Berbeda pada Rangkaian 2)


Perhitungan
CH1, R1

= = 0,8 1 = 0,8

1 =0,8 volt
CH2, R12

= = 1,8 1 = 1,8

20
12 = 1,8 volt
2 = 12 2 = 1,8 0,8 = 1 volt

Rangkaian 3
Data
CH1 CH2
h = 0,8 div h = 1 div
= 1 div = 1 div
volt/div = 1 volt/div volt/div = 1 volt/div
time/div = 1ms/div time/div = 1ms/div

Grafik

(Grafik 4.6. Percobaan Mengukur Dua Tegangan Berbeda pada Rangkaian 3)


Perhitungan
CH1, R1

= = 0,8 1 = 0,8

1 = 0,8 volt
CH2, R2

= =1 1 = 1

21
2 = 1 volt
12 = 1 + 2 = 0,8 + 1 = 1,8 volt

Rangkaian 4
Data
CH1 CH2
h = 2 div h = 1,4 div
= 1 div = 1 div
volt/div = 1 volt/div volt/div = 20 milivolt/div
time/div = 1ms/div time/div = 1ms/div

Grafik

(Grafik 4.7. Percobaan Mengukur Dua Tegangan Berbeda pada Rangkaian 4)


Perhitungan
CH1, R-C

= =2 1 = 2

= 2 volt
CH2, R

= = 1,4 2 102 = 0,028

22
= 1,4 volt
= = 2 0,028 = 1,972 volt
e. Mengukur Frekuensi
1:1
Data
CH1 CH2
= 3,2 div = 3,2 div
time/div = 1ms/div time/div = 1ms/div
frekuensi = 300 Hz frekuensi = 300 Hz

Grafik

(Grafik 4.8. Percobaan Mengukur Frekuensi 1:1)

23
(Grafik 4.9. Kurva Lissajous Percobaan Mengukur Frekuensi 1:1)

Perhitungan

CH1

103
=
= 3,2
= 3,2 103 s
103
=
= 0,1
= 104 s

= (3,2 0,1) 10-3 sekon

1 1
== 3,2 103
= 312,5 Hz
1 1
= 2 = 2 104 = 9,76 Hz
3,2 103

= (310 10) Hz

CH2

103
=
= 3,2
= 3,2 103 s
103
=
= 0,1
= 104 s

= (3,2 0,1) 10-3 sekon

24
1 1
== 3,2 103
= 312,5 Hz
1 1
= = 2 104 = 9,76 Hz
2 3,2 103

= (310 10) Hz
1 310 1
2
= 310
= 1

1:2
Data
CH1 CH2
= 3,2 div = 1,6 div
time/div = 1ms/div time/div = 1ms/div
frekuensi = 300 Hz frekuensi = 600 Hz

Grafik

(Grafik 4.10. Percobaan Mengukur Frekuensi 1:2)

25
(Grafik 4.11. Kurva Lissajous Percobaan Mengukur Frekuensi 1:2)

Perhitungan

CH1

103
= = 3,2 = 3,2 103 s

103
= = 0,1 = 104 s

= (3,2 0,1) 10-3 sekon

1 1
= = = 312,5 Hz
3,2 103
1 1
= 2 = 2 104 = 9,76 Hz
3,2 103

= (310 10) Hz

CH2

103
=
= 1,6
= 1,6 103 s
103
=
= 0,1
= 104 s

= (1,6 0,1) 10-3 sekon

26
1 1
== 1,6 103
= 625 Hz
1 1
= 2 = 2 104 = 39.06 Hz
1,6 103

= (620 40) Hz
1 310 1
2
= 620
= 2

2:3
Data
CH1
= 1,6 div
time/div = 1ms/div
frekuensi = 600 Hz
CH2
= 1,2 div
time/div = 1ms/div
frekuensi = 900 Hz
Grafik

(Grafik 4.12. Percobaan Mengukur Frekuensi 2:3)

27
(Grafik 4.13. Kurva Lissajous Percobaan Mengukur Frekuensi 2:3)

Perhitungan

CH1

103
=
= 1,6
= 1,6 103 s
103
=
= 0,1
= 104 s

= (1,6 0,1) 10-3 sekon

1 1
== 1,6 103
= 625 Hz
1 1
= = 2 104 = 39.06 Hz
2 1,6 103

= (620 40) Hz

CH2

103
= = 1,2 = 1,2 103 s

103
= = 0,1 = 104 s

= (1,2 0,1) 10-3 sekon

28
1 1
== 1,2 103
= 833.33 Hz
1 1
= = 2 104 = 69,44 Hz
2 1,2 103

= (830 70) Hz
1 620 2
2
= 830
= 2.7

f. Mengukur Beda Fase


Cara Grafik Gelombang
Data
time/div = 1ms/div
frekuensi = 600 Hz
= 1,6 div
= 0,8 div
Grafik

(Grafik 4.14. Percobaan Mengukur Beda Fase)


Perhitungan
0,8
= 360 = 360 = 180
1,6
Cara Kurva Lissajous
Data
time/div = 1ms/div

29
frekuensi = 60000 Hz
A = 1,4 div
B = 1,2 div
Grafik

(Grafik 4.15. Kurva Lissajous Percobaan Mengukur Beda Fase)


Perhitungan
1,2
= 180 1 = 180 1 = 180 60 = 120
1,4

4.2. Pembahasan
Pada Praktikum Osiloskop II dilakukan beberapa percobaan dengan menggunakan
osioskop dua channel. Perbedaannya dengan Praktikum Osiloskop I adalah pada praktikum
ini digunakan dua channel pada osiloskop, yakni channel satu (CH1) dan channel dua (CH2),
dengan menghubungkan kedua channel tersebut ke output osilator (function generator).
Karena digunakan dua channel, maka pada layar osiloskop ditampilkan dua gelombang.
Sumber tegangan yang digunakan selama praktikum adalah sumber tegangan AC. Percobaan
yang dilaksanakan dalam praktikum antara lain:
a. Mengoperasikan Scope Berkas Dua
Percobaan dimulai dengan merangkai alat sesuai skema (Gambar 3.1.). Kedua
channel dari osiloskop dihubungkan dengan output osilator, sedangkan ground osiloskop
dihubungkan dengan ground osilator. Fokus dan intensitas diatur agar tampilan pada layar
osiloskop mudah diamati. Pada layar osiloskop muncul dua gelombang sinusoidal. Hal

30
tersebut dikarenakan kedua channel dihubungkan pada output osilator, sehingga muncul
dua keluaran gelombang pada layar, yaitu gelombang dari CH1 dan gelombang dari CH2.
b. Mengukur Dua Tegangan

Rangkaian yang digunakan pada percobaan ini sama dengan yang digunakan pada
percobaan sebelumnya (Gambar 3.1.). Nilai volt/div, time/div, dan frekuensi diatur
sedemikian rupa sehingga pada layar osiloskop tampak gelombang dengan tinggi (h) 2 div
dan panjang () 1 div. Oleh karena itu, nilai volt/div yang digunakan adalah 1 volt/div,
time/div-nya 1 ms/div, dan besar frekuensi yang digunakan ialah 970 Hz. Pengaturan
tersebut memunculkan dua buah gelombang sinusoidal yang identik, yakni tinggi dan
panjang gelombangnya sama, pada layar osiloskop. Hal tersebut disebabkan kedua channel
dihubungkan pada output osilator yang sama sehingga frekuensi kedua gelombang sama
dan nilai volt/div serta time/div yang digunakan pada dua channel juga sama. Setelah itu,
tombol X10 MAG pada osiloskop ditekan. Tampilan kedua gelombang berubah. Tinggi
gelombang masih sama yaitu 2 div, namun panjang gelombang menjadi 10 div atau sepuluh
kali lipatnya. Melalui percobaan tersebut diketahui fungsi tombol X10 MAG, yaitu untuk
memperbesar gelombang sepuluh kali dari besar semula. Kata MAG sendiri merupakan
singkatan dari magnifier (memperbesar). Berikut adalah tabel perbandingan hasil
perhitungan percobaan mengukur tegangan sebelum dan sesudah memakai X10 MAG:

Sebelum Memakai Setelah Memakai X10


CH1
X10 MAG MAG
VV (2,0 0,1) volt (2,0 0,1) volt
TT (1,0 0,1) 10-3 sekon (10,0 0,1) 10-3 sekon
ff (1000 100) Hz (100 1) Hz
Sebelum Memakai Setelah Memakai X10
CH2
X10 MAG MAG
VV (2,0 0,1) volt (2,0 0,1) volt
TT (1,0 0,1) 10-3 sekon (10,0 0,1) 10-3 sekon
ff (1000 100) Hz (100 1) Hz

Dari tabel tersebut tampak bahwa nilai frekuensi sebelum dengan setelah memakai
X10 MAG berbeda. Sebelum memakai X10 MAG frekuensinya 1000 Hz, sedangkan
setelah memakai X10 MAG frekuensinya 100 Hz. Jadi, ketika gelombang diperbesar
frekuensinya mengecil.
c. Mengukur Dua Tegangan Identik
Di percobaan ini, pada CH1 nilai volt/div diatur menjadi 0.5 volt/div, sementara
pada CH2 diatur menjadi 1 volt/div. Frekuensi pada kedua channel sama yaitu 970 Hz,
dan time/div-nya juga sama yaitu 1 ms/div. Dengan pengaturan demikian, layar osiloskop

31
menampilkan gelombang keluaran CH1 dengan tinggi 4 div dan panjang gelombang 1
div, sedangkan gelombang keluaran CH2 memiliki tinggi 2 div dan panjang gelombang
1 div. Berikut hasil perhitungannya:

CH1 CH2

VV (2,00 0,05) volt (2,0 0,1) volt


TT (1,0 0,1) 10-3 sekon (1,0 0,1) 10-3 sekon
ff (1000 100) Hz (1000 100) Hz
Dari tabel terlihat bahwa tegangan kedua channel sama, meskipun volt/div dan
tinggi gelombangnya berbeda. Hal tersebut dikarenakan sumber tegangan keduanya
sama. Hanya saja pada CH1 hasilnya lebih teliti karena angka ketidakpastiannya lebih
kecil. Jadi, dengan skala volt/div yang lebih kecil hasil pengukurannya lebih teliti.
d. Mengukur Dua Tegangan Berbeda
Percobaan ini dilakukan menggunakan empat buah rangkaian yaitu rangkaian 1
(Gambar 3.2.); rangkaian 2 (Gambar 3.3.); rangkaian 3 (Gambar 3.4.); dan rangkaian 4
(Gambar 3.5.). Dari masing-masing rangkaian dicari tegangan pada tiap-tiap titik,
kemudian dibandingkan hasilnya. Berikut adalah hasil percobaan:

Rangkaian V1 V2 V12
1 0,8 1 1,8
2 0,8 1 1,8
3 0,8 1 1,8
Dari tabel terlihat bahwa nilai V1, V2, V12, pada ketiga rangkaian sama, karena pada
setiap rangkaian tegangan pada masing-masing titiknya sama, yang berbeda adalah
besaran yang diukur pada masing-masing rangkaian. Pada rangkaian 1 yang diukur V2
dan V12, sedangkan V1 ditetukan dengan rumus. Pada rangkaian 2 yang diukur V1 dan
V12, sedangkan V2 ditetukan dengan rumus. Pada rangkaian 1 yang diukur V1 dan V2,
sedangkan V12 ditetukan dengan rumus. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa osiloskop
masih bekerja dengan baik. Lalu pada rangkaian 4 diperoleh nilai VRC = 2 volt, VR =
0,028 volt, dan VC = 1,972 volt.
e. Mengukur Frekuensi
Pada percobaan ini osiloskop dihubungkan ke dua buah osilator, masing-masing
osilator untuk satu channel osiloskop. Frekuensi dari kedua osilator diatur dengan
perbandingan 1:1; 1:2; dan 2:3. Bentuk gelombang yang ditampilkan diamati dan
frekuensi osilator dengan frekuensi dari perhitungan dibandingkan, seperti pada
tabel berikut:

32
Frekuensi Hasil
Frekuensi Osilator
Perhitungan
1:1 1:1
1:2 1:2
2:3 2:2,7

Dari tabel terlihat hasil pengukuran dan perhitungan secara garis besar
sama. Akan tetapi, untuk perbandingan frekuensi pada osilator 2:3, pada
perhitungan perbandingannya 2:2,7. Selisih tersebut dapat disebabkan oleh
kekurangtelitian praktikan saat membaca skala div pada layar osiloskop.
f. Mengukur Beda Fase
Pada percobaan ini osiloskop dan osilator dihubungkan ke trafo dan rangkaian yang
terdiri atas resistor dan kapasitor. Pengukuran beda fase dilakukan melalui dua cara. Cara
pertama dilakukan dengan menggunakan selisih panjang gelombang. Beda fase yang
didapat besarnya 180 derajat. Cara kedua dilakukan dengan menggunakan kurva
lissajous. Beda fase yang didapat besarnya 120 derajat. Perbedaan hasil dapat disebabkan
oleh kurva lissajous yang berubah-ubah, sehingga agak sulit diamati secara akurat.
Osiloskop (CRO) tidak dapat menampilkan kurva lissajous yang stabil karena beda
fasenya berubah-ubah terhadap waktu. Beda fase memang merupakan peristiwa yang
biasa terjadi pada listrik AC. Hal tersebut dikarenakan saat kapasitor digunakan pada
rangkaian AC, arus dan tegangan pada rangkaian tidak muncul pada waktu yang
bersamaan, atau terdapat delay pada salah satunya. Perbedaan periode antara kemunculan
dua puncaknya lah yang disebut sebagai beda fase.

V. KESIMPULAN
1. Apabila kedua channel osiloskop dihubungkan pada output osilator, maka pada layar
osiloskop akan ditampilkan dua gelombang.
2. Bentuk gelombang pada kedua channel sama jika frekuensi, volt/div, dan time/div yang
digunakan sama. Fungsi dari tombol X10 MAG adalah untuk memperbesar panjang
gelombang. Saat panjang gelombang diperbesar, frekuensinya mengecil.
3. Nilai tegangan dapat diukur menggunakan osiloskop dengan mengalikan volt/div terhadap
tinggi gelombang.
4. Meskipun besaran yang diukur pada tiap rangkaian berbeda, namun apabila dibandingkan
satu sama lain hasilnya sama. Nilai tegangan hasil pengukuran dan perhitungan sama, yang
berarti osiloskop masih berfungsi dengan baik.
5. Nilai frekuensi yang ditunjukkan osilator dengan hasil pengukuran menggunakan osiloskop
secara garis besar sama. Adapun terdapat selisih dikarenakan kekurangtelitian membaca
skala div pada osiloskop.

33
6. Nilai beda fase dapat diukur menggunakan dua metode, yaitu melalui selisih panjang
gelombang dan kurva lissajous. Metode selisih panjang gelombang hasilnya lebih akurat
karena bentuknya lebih stabil, sementara pada kurva lissajous beda fasenya berubah-ubah
terhadap waktu.

VI. DAFTAR PUSTAKA

http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu/hbase/electric/phase.html

http://uenics.evansville.edu/~amr63/equipment/scope/oscilloscope.html

Jumadi. (2010). Praktikum Analisis Rangkaian Listrik. Yogyakarta: UNY. Accessed on May
23rd 2015. Available from:
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Jumadi,%20M.Pd.,%20Dr./Penggunaa
n%20CRO.pdf
OShea, Peter. Phase Meaasurement. Melbourne: Royal Melbourne Institute of Technology.
Available from:
http://etc.unitbv.ro/~olteanu/Tehnici%20de%20masurare%20in%20tc/Phase%20Measure
ment.pdf
Ossietzky, Carl Von. Institute of Physics Module Introductory laboratory course physics:
Oscilloscope and Function Generator. University Oldenburg. Available from:
http://www.uni-
oldenburg.de/fileadmin/user_upload/physik/ag/physikpraktika/download/GPR/p
df/E_Oszilloskop.pdf

Sunarta. 2014. Buku Panduan Praktikum Fisika Dasar Semester 2. Yogyakarta: Laboratorium
Fisika Dasar UGM.

34