Anda di halaman 1dari 8

Analisis Keanekaragaman Jenis Vegetasi

dan Arthropoda Tanah di Laboratorium Alam


PMIPA FKIP Universitas Riau

Indah Rahmawati Lius


E-mail: indah.rahmawatilius@student.unri.ac.id, Phone: +6281218546868
Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA
Universitas Riau 28293

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis dan keanekaragaman serangga tanah
serta mengetahui struktur arsitektural maupun floristic suatu vegetasi yang terdapat di
Laboratorium Alam PMIPA FKIP Universitas Riau. Penelirtian ini ilakukan pada tanggal 5-
19 Oktober 2017 di Laboratorium Alam PMIPA FKIP Universitas Riau. Penelitian ini
menggunakan metode yaitu metode survei dan metode line transects. Alat yang digunakan
dalam penelitian analisis vegetasi adalah tali rafia dan meteran. Sedangkan alat dan bahan
yang digunakan dalam penelitian analisis hewan arthropoda tanah adalah tali rafia, gelas
plastik, alkohol 4%, glysin, tempurung dan ranting kecil. Hasil Penelitian menyatakan bahwa
Keanekaragaman jenis vegetasi yang sangat beragam, hal ini diduga karena wilayah
Laboratorium Alam PMIPA FKIP Universitas Riau ini masih tergolong alami, sehingga
kondisi lingkungan yang ada sangat mendukung terhadap keberadaan tumbuhan. Hal ini juga
menunjukkan bahwa komunitas di Laboratorium Alam PMIPA FKIP Universitas Riau
memiliki kompleksitas yang tinggi dan spesies yang mendominasi adalah Acacia denticulosa.
Sedangkan keanekaragaman jenis hewan cukup beragam, karena spesies yang ada cukup
banyak dan didominasi oleh Iridomyrmex sp yang termasuk ordo hymenoptera.

PENDAHULUAN

Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk
(struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas,
maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup
menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut. Dalam sampling ini
ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh
dan teknik analisa vegetasi yang digunakan (Yunita, 2013).
Komponen tumbuh-tumbuhan penyusun suatu vegetasi umumnya terdiri dari :
Belukar (Shrub), tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar, dan memiliki tangkai
yang terbagi menjadi banyak subtangkai. Epifit (Epiphyte), tumbuhan yang hidup
dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). Epifit mungkin hidup sebagai
parasit atau hemi-parasit. Paku-pakuan (Fern), tumbuhan tanpa bunga atau tangkai,
biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu, dimana pada rhizoma tersebut keluar
tangkai daun. Palma (Palm), tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu, lurus dan
biasanya tinggi; tidak bercabang sampai daun pertama. Daun lebih panjang dari 1 meter dan
biasanya terbagi dalam banyak anak daun. Pemanjat (Climber), tumbuhan seperti kayu atau
berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya
seperti kayu atau belukar. Terna (Herb), tumbuhan yang merambat ditanah, namun tidak
menyerupai rumput. Daunnya tidak panjang dan lurus, biasanya memiliki bunga yang
menyolok, tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-
kadang keras. Pohon (Tree), tumbuhan yang memiliki kayu besar, tinggi dan memiliki satu
batang atau tangkai utama dengan ukuran diameter lebih dari 20 cm. (Andre, 2009)
Konsepsi dari metode analisa vegetasi sesungguhnya sangat bervariasi, tergantung
keadaan vegetasi itu sendiri dan tujuannnya misalnya untuk mengevaluasi hasil pengendalian
gulma. Metode yang digunakan untuk analisa vegetasi harus disesuaikan dengan struktur dan
komposisi. Ada empat metode yang lazim dalam analisa vegetasi yaitu metode estimasi
visual, metode kuadrat, metode garis dan metode titik (Tim, 2014).
Arthropoda berasal dari kata arthron yang berarti ruas dan podos yang berarti kaki.
Arthropoda merupakan serangga yang memiliki kaki, abdomen, dan thoraks yang beruas-
ruas. Contoh arthropoda adalah nyamuk, lalat, kecoak, kutu, udang, kaki seribu, dan lain
sebagainya. Peran arthropoda dalam kehidupan ekosistem antara lain hama, predator,
parasitoid, vector dan pollinator. Arthropoda juga memiliki peran dalam perombakan bahan
organik untuk menjaga kesuburan tanah, dengan kata lain menjaga siklus hara dalam
ekosistem (Rima, 2013).
Arthropoda memiliki ciri-ciri yaitu memiliki 3 bagian tubuh utama yaitu tubuh
bersegmen (ruas), rangka luar (eksoskeleton) yang keras, dan ekor, tubuh dibungkus oleh
kutikula sebagai rangka luar yang terbuat dari protein dan kitin, memiliki esoskleten yang
bersifat kaku dan keras dan dapat mengalami pergantian pada kurun waktu tertentu yang
disebut eksidisis, ukuran tubuh bervariasi, memiliki bentuk tubuh simetris bilateral, sifat
hidupnya parasit, heterotropik, dan hidup secara bebas, memiliki alat pernapasan trakea,
insang, dan paru-paru (berbuku), memiliki alat pencernaan lengkap (mulut, kerongkongan,
usus, dan anus), bereproduksi secara seksual dan aseksual, memiliki sistem saraf berupa
tangga tali dan alat peraba berupa antena, hidup di darat, air tawar dan laut, serta memiliki
sistem peredaran darah terbuka, darah tidak memilikik hemoglobin (Prihantoro, 2014).
Peranan arthropoda dalam mempengaruhi ekosistem di alam ada 3 macam.Peranan
arthropoda tersebut yaitu: Hama, adalah binatang atau sekelompok binatang yang pada
tingkat populasi tertentu menyerang tanaman budidaya sehingga dapat menurunkan produksi
baik secara kualitas maupun kuantitas dan secara ekonomis merugikan. Contoh: serangga
tikus pada tanaman padi yang menyebabkan gagalnya panen, serangan Crocidomolia
binotalis yang menyerang pucuk tanaman kubis-kubisan. Predator, merupakan organism
yang hidup bebas dengan memakan atau memangsa binatang lainnya.
Contohnya: Menochilus sexmaculatus yangmemangsa Aphid sp. Parasitoid, adalah serangga
yang memarasit serangga atau binatang arthropoda yang lain. Parasitoid bersifat parasitik
pada fase pradewasa dan pada fase dewasa mereka hidup bebas tidak terikat pada inangnya.
Contoh: Diadegma insulare yang merupakan parasitoid telur dari Plutella xylostela. Apabila
telur yang terparasit sudah menetas maka D. insulare akan muncul dan hidup bebas dengan
memakan nektar (Hairiah dkk, 2011).
Serangga merupakan spesies hewan yang jumlahnya paling dominan di antara spesies
hewan lainnya. Tarumingkeng (2001) menyatakan bahwa masih ada sekitar 10 juta spesies
serangga yang belum dideskripsi. Serangga sebagai salah satu komponen keanekaragaman
hayati juga memiliki peranan penting dalam jaring makanan yaitu sebagai herbivor, karnivor,
dan detrivor (Strong, et al. dalam Rizali, 2011).
Borror (1997) membagi serangga dalam dua golongan besar yaitu Apterygota dan
Pterygota. Hal ini didasarkan pada struktur sayap, bagian mulut, metamorfosis dan bentuk
tubuh keseluruhan. Apterygota terbagi menjadi 4 ordo dan Pterygota terbagi menjadi 20 ordo
dengan 14 ordo diantaranya sebagai serangga tanah, yaitu Ordo Isoptera, Ordo Plecoptera,
Ordo Thysanura, Ordo Diplura, Ordo Protura, Ordo Collembola, Ordo Orthoptera, Ordo
Dermaptera, Ordo Tysanoptera, Ordo Diptera, Ordo Hemiptera, Ordo Mecoptera, Ordo
Hymenoptera & Ordo Coleoptera.
Hasil penelitian Ramlan (2011) dan Masud (2011) menemukan bahwa serangga
yang paling dominan ditemukan hampir di semua tempat adalah serangga dari Ordo
Hymenoptera dan Collembola. Jenis serangga tanah yang terdapat pada suatu tempat
dipengaruhi oleh faktorfaktor lingkungan, baik itu faktor biotik maupun faktor abiotik.
Faktor abiotik meliputi tanah, air, suhu, cahaya, dan atmosfir. Sedangkan faktor biotik
meliputi tumbuhan dan hewan yang ada di lingkungan tersebut. Maftuah et al. (2005) dan
Gruner (2007). mengatakan bahwa faktor fisika kimia suatu daerah akan mempengaruhi
komposisi dan keanekaragaman dari serangga tanah. Ruslan (2009) menyatakan bahwa
ketersediaan faktor fisika kimia yang memadai akan menyebabkan perkembangan dan
aktivitas serangga tanah berlangsung dengan baik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan keanekaragaman vegetasi dan
arthropoda tanah yang terdapat di Laboratorium Alam PMIPA FKIP Universitas Riau.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Area Laboratorium Alam PMIPA FKIP Universitas Riau,
Jl. Bina Widya Km 12,5 Simpang Baru Panam Pekanbaru pada tanggal 5- 19 Oktober 2017.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dan metode line transects.
Alat yang digunakan dalam penelitian analisis vegetasi adalah tali rafia dan meteran.
Sedangkan alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian analisis hewan arthropoda tanah
adalah tali rafia, gelas plastik, alkohol 4%, glysin, tempurung dan ranting kecil.
Adapun langkah kerja dalam penelitian analisis vegetasi dengan menggunakan
metode survei dan metode line transects. Pertama dilakukan cara kerja sampling pohon,
yaitu dengan cara membentangkan garis transek sepanjang 80 m pada tempat yang telah
ditentukan. Kemudian dibagi kedalam 16 plot. Setelah itu, didalam sebuah plot yang
berukuran 10 x 10 m dibuat 2 sub plot, yang masing-masing berukuran 5 x5 m dan 2 x 2 m
dengan menggunakan pancang dan tali rafia untuk memberi batas kedua subplot. Selanjutnya
lakukan penghitungan sampling pohon. Pada plot 10 x 10 m dihitung jumlah pohon. Pada
plot 5 x 5 m dihitung jumlah sapling, sedangkan pada plot 2 x 2 m hanya menghitung jumlah
seeding. Pada setiap pengambilan sampling pohon harus diketahui nama spesiesnya, jika
tidak ambil sampel daunnya lalu ditandai dan dibawa untuk diketahui nama spesies sampling
pohon tersebut. Kemudian diidentifikasi nama spesiesnya dan tulis didalam buku praktikum.
Sedangkan cara kerja pada praktikum analisis arthropoda tanah adalah dengan menggunakan
metode transects dengan meggunakan teknik pit fall trap. Pertama alat dan bahan yang sudah
tersedia dibawa menuju tempat yang ditentukan. Kemudian, pada setiap plot dibuat sebuah
jebakan (pit fall trap) dengan cara memasukkan gelas plastik yang telah berisi alkohol 4%,
yang sebelumnya telah dilakukan penggalian tanah dengan kedalaman tanahnya disesuaikan
dengan tinggi gelas plastiknya. Kemudian, pasang atap jebakan dengan menggunakan
tempurung dan tegakkan diantara ranting kecil yang ditancapkan kedalam tanah. Lalu,
tinggalkan jebakan tersebut dan setelah kurang lebih 5 hari ambil lagi jebakan tersebut dan
dilihat sampel arthropoda yang masuk kedalam jebakan. Hitunglah jumlah individu pada
setiap species dan buat catatannya pada buku praktikum.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Vegetasi

Berdasarkan hasil penelitian analisis vegetasi yang telah dilakukan di Laboratorium


Alam Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau diketahui bahwa terdapat 50 spesies pohon,
sapling dan seedling yaitu Spesies B, Spesies X, Spesies Y, Acacia denticulosa, Actinodaphne
cuneata, Aleurites moluccana, Alstonia scholari, Archidendron pauciflorum, Artocarpus
alitis, Artocarpus communis, Artocarpus heterophyllus, Artocarpus integer, Aquilaria
malaccensis, Calamus sp, Cananga adorata, Daniella ensifolia, Dicranopteris linearis,
Dioon argenthum, Driopteris filix mas, Dioscorea pentaphylla, Dipterocarpus caudiferus,
Equisetum palustie, Eusideroxylon zwageri, Fagraea auriculata., Garcinia artroviridis,
Haririera elata, Licuala grandis, Litsea accedentoides, Litsea glutinosa, Lycopodium
cernuum, Matteucia struthiopteris, Melastoma septernemvium lor, Morinda citrifolia,
Nepenthes ampularia, Persea americana, Polypodium vulgarea, Pometia pinnata, Swietenia
mahagoni, Symplocos racemosa, Syzygium oleana, Syzygium polyanthum , Pteris pitata,
Stenochlaena palustris, Synox sp, Syzygium elliptilimbum, Syzygium gratum, Scorodocarpus
bornensis, Shorea resinosa, Thelypteris, dan Trema orientalis.

Tabel 1. Jumlah Keseluruhan Keanekaragaman Spesies Pohon pada Plot 1 dan 2 (10X 10)

No Nama Ilmiah Jumlah individu


1 Spesies X 3
2 Spesies Y 1
3 Acacia denticulosa 5
4 Actinodaphne cuneata 1
5 Alstonia scholaris 6
6 Archidendron pauciflorum 3
7 Archidendron pauciflorum 2
8 Artocarpus alitis 1
9 Artocarpus heterophyllus 3
10 Artocarpus integer 3
11 Cananga adorata 2
12 Dioscorea pentaphylla 2
13 Dipterocarpus caudiferus 10
14 Eusideroxylon zwageri 13
15 Garcinia artroviridis 1
16 Haririera elata 9
17 Litsea accedentoides 6
18 Swietenia mahagoni 3
19 Syzygium gratum 2
20 Scorodocarpus bornensis 4
21 Shorea resinosa 4
22 Aquilaria malaccensis 1
23 Pometia pinnata 1
TOTAL 86

Tabel 2. Jumlah Keseluruhan Keanekaragaman Spesies Sapling pada Plot 1 dan 2 (5X 5)

No Nama Ilmiah Jumlah individu


1 Spesies B 9
2 Acacia denticulosa 39
3 Aleurites moluccana 9
4 Alstonia scholaris 26
5 Artocarpus communis 5
6 Calamus sp 5
7 Eusideroxylon zwageri 87
8 Fagraea auriculata 11
9 Garcinia artroviridis 15
10 Litsea accedentoides 2
11 Melastoma septernemvium lor 28
12 Morinda citrifolia 24
13 Scorodocarpus borneensis 1
14 Symplocos racemosa 8
15 Syzygium oleana 8
16 Syzygium polyanthum 13
17 Syzygium elliptilimbum 19
TOTAL 309

Tabel 3. Jumlah Keseluruhan Keanekaragaman Spesies Seeding pada Plot 1 dan 2 (2X2)

No Nama Ilmiah Jumlah individu


1 Aleurites moluccana 9
2 Daniella ensifolia 20
3 Dicranopteris linearis 25
4 Dioon argenthum 3
5 Driopteris filix mas 5
6 Equisetum palustie 20
7 Garcinia artroviridis 1
8 Licuala grandis 1
9 Litsea accedentoides 1
10 Litsea glutinosa 6
11 Lycopodium cernuum 27
12 Matteucia struthiopteris 3
13 Nepenthes ampularia 11
14 Persea americana 1
15 Polypodium vulgarea 24
16 Pteris pitata 3
17 Stenochlaena palustris 12
18 Synox sp 9
19 Syzygium elliptilimbum 4
20 Thelypteris 2
21 Trema orientalis 2
TOTAL 189

Berdasarkan Tabel 1, Tabel 2, dan Tabel 3 di atas dapat di lihat bahwa Acacia
denticulosa merupakan spesies paling banyak yang terdapat di plot 1 dan 2 serta Subplot 1
pada plot 1 dan 2, masing masing plot yaitu berjumlah 40.
Menurut Odum (1998), menyatakan bahwa penyebaran spesies merupakan hasil atau
akibat dari berbagai sebab, yaitu akibat dari pengumpulan individu-individu dalam suatu
tempat yang dapat meningkatkan persaingan diantara individu yang ada untuk mendapatkan
nutrisi dan ruang, akibat dari reaksi individu dalam menanggapi perubahan cuaca harian dan
musiman, dan akibat dari menanggapi perbedaan habitat setempat. Menurut Ewusie (1990),
menjelaskan bahwa pengelompokan yang terjadi pada suatu komunitas dapat diakibatkan
karena nilai ketahanan hidup kelompok terhadap berbagai kondisi. Keanekaragaman jenis
vegetasi yang sangat beragam, hal ini diduga karena wilayah Laboratorium Alam PMIPA
FKIP Universitas Riau ini masih tergolong alami, sehingga kondisi lingkungan yang ada
sangat mendukung terhadap keberadaan tumbuhan. Hal ini juga menunjukkan bahwa
komunitas di Laboratorium Alam PMIPA FKIP Universitas Riau memiliki kompleksitas
yang tinggi sehingga menyebabkan adanya interaksi yang tinggi, karena komunitas akan
menjadi matang apabila lebih kompleks dan lebih stabil.

Analisis Hewan Arthropoda Tanah


Berdasarkan hasil penelitian analisis hewan yang telah dilakukan di Laboratorium
Alam Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau diketahui bahwa terdapat perbedaan
komposisi jenis serangga tanah pada setiap plot penelitian. Dari plot tersebut serangga tanah
yang didapatkan terdiri dari 18 spesies yaitu Lepisma saccharina, Oechophylla smaragdina,
Selenopsis Westwood, Dolichoderus Thoracicus Smith, Araneus diadematus, Julus sp,
Hyposidra talaca, Iridomyrmex sp, Steatoda grossa, Trigoniulus corallinus, Scolopendra
morsitans, Pachydiplosis oryzae, Gryllus bimaculatus, Brachinus sp, Isoptera sp,
Dolichiderus thoracicus dan Strsctomorpha crenulata.
Tabel 4. Jumlah Keseluruhan Keanekaragaman Spesies Hewan Arthropoda Tanah

No Nama Ilmiah Plot 1 Plot 2 Jumlah


1 Lepisma saccharina 3 6 9
2 Oechophylla smaragdina 7 10 17
3 Selenopsis Westwood 9 5 14
Dolichoderus Thoracicus
4 1 2 3
Smith
5 Araneus diadematus 1 1 2
6 Julus sp 3 1 4
7 Hyposidra talaca 1 1 2
8 Iridomyrmex sp 26 25 51
9 Steatoda grossa 2 3 5
10 Trigoniulus corallinus 1 4 5
11 Scolopendra morsitans 1 3 4
12 Pachydiplosis oryzae - 1 1
13 Gryllus bimaculatus - 1 1
14 Brachinus sp 2 1 3
15 Araneus diadematus - 1 1
16 Isoptera sp 3 5 8
17 Dolichiderus thoracicus 11 13 24
18 Strsctomorpha crenulata 2 - 2
TOTAL 73 83 156

Berdasarkan Tabel 4. di atas dapat dilihat bahwa Iridomyrmex sp merupakan spesies


paling banyak yang terdapat di plot 1 dan 2 yaitu berjumlah 51. Iridomyrmex sp adalah
pemangsa penting pada berbagai jenis serangga yang termasuk kedalam ordo hymenoptera.
Iridomyrmex sp dapat ditemukan pada pohon atau tanah. Hasil penelitian Ramlan (2011) dan
Masud (2011) menemukan bahwa serangga yang paling dominan ditemukan hampir di
semua tempat adalah serangga dari Ordo Hymenoptera dan Collembola.

KESIMPULAN
Keanekaragaman jenis vegetasi yang sangat beragam, hal ini diduga karena wilayah
Laboratorium Alam PMIPA FKIP Universitas Riau ini masih tergolong alami, sehingga
kondisi lingkungan yang ada sangat mendukung terhadap keberadaan tumbuhan. Hal ini juga
menunjukkan bahwa komunitas di Laboratorium Alam PMIPA FKIP Universitas Riau
memiliki kompleksitas yang tinggi sehingga menyebabkan adanya interaksi yang tinggi,
karena komunitas akan menjadi matang apabila lebih kompleks dan lebih stabil.Spesies yang
mendominasi adalah Acacia denticulosa. Keanekaragaman jenis hewan cukup beragam,
karena spesies yang ada cukup banyak.Namun, didominasi oleh Iridomyrmex sp yang
termasuk ordo hymenoptera.
DAFTAR PUSTAKA

Andre, 2009. Vegetasi dan faktor abiotik. Grasindo; Jakarta

Borror, D.J., C.A. Triplehorn dan N.F.Johnson.1997.Ekologi dan Pengenalan Pelajaran


Serangga. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.

Ellenberg, H. 1988. Ekologi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Ewusie,Y.J. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. Institut Teknologi Bandung. Bandung.


Hairiah, Kurniatun dkk, 2011. Keragaman arthropoda. Erlangga; Surabaya.

Masud, A. Sundari. 2010. Kajian Struktur Komunitas Epifauna Tanah Di awasan Hutan
Konservasi Gunung Sibela Halmahera Selatan Maluku Utara. Ternate. Jurusan PMIPA
FKIP Universitas Khairun Ternate.

Prihantoro, T., 2014. Pengertian, Ciri-Ciri, dan Klasifikasi Arthropoda. http:// tau
fanweb .blogspot.com/ 2014/04/pen gertian-ciri- ciri-danklasifikasi. html.
(Diakses pada tanggal 23 Oktober 2017)

Rauf, Abdul. 2009. Profil Arboretum Usu (2006-2008). http://usupress.


usu.ac.id/files/Profil%20Arboretum%20USU%2020062008_Final1.pdf (diakses
tanggal 6 Desember 2016)

Rima, R., 2013. Ekologi Pertanian. http://roidarmtamba01.blogspot .com/2013/ 12/


laporan-akhir- ekologi-pertanian-di.html. (Diakses pada tanggal 23 Oktober
2017)

Rizali, A. Buchori, D. Triwidodo, H. 2002. Keanekaragaman serangga pada lahan


persawahan-tepian hutan : Indikator untuk kesehatan lingkungan : Hayati Juni 2002,
hlm. 41-48 Vol. 9, No. 2 ISSN 0854-8587.

Sandi. 2012. Vegetasi Gulma. http:// naneuntetylicious.blogspot.com/2012/10/vegetasigulma


.html (Diakses pada tanggal 24 Oktober 2017)

Suin, N. M. 1997. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. Jakarta.

Syamsuri, I.W.R. 1997. Lingkungan Hidup Kita. PKPKLH IKIP Malang. Malang.

Yunita, R., 2013. Ekologi Pertanian Agribisnis. http://risky- smart.blogspot.com/2013/


12/laporan-ekologi-pertanian agribisnis.html. (Diakses pada tanggal 23 Oktober
2017)