Anda di halaman 1dari 7

Kritik dan Esai Sastra - Cerpen Tangisan Anakku karya Shoim Anwar

3:30 PM Fahmi Faisol


TIDAK DI NEGERI ANTAH BERANTAH
Begitu banyak macam realitas kehidupan yang tertoreh dalam bentuk karya sastra.
Ketika menemukan peristiwa yang memilukan, pengalaman yang menggelitik, kejadian nan
unik atau eksentrik, dan hal-hal baru yang menggigit, pengarang mengeksplorasi semuanya itu
dalam bentuk karya sastra.
Cerpen Tangisan Anakku merupakan hasil karya sastra yang mengabstraksikan realitas
kehidupan masyarakat. Soim Anwar sebagai pengarang cerpen ini menggugah pembaca
dengan menampilkan problema kehidupan seorang pria yang bernama Huki, berpredikat
sebagai kepala perkantoran yang bekerja di sebuah lembaga instansi negara, akan tetapi karena
proses dalam menggapai itu semua dengan jalan yang bisa dibilang curang dan instan maka
karir Huki berakhir suram dan pada akhirnya membuat pria dari tiga anak tersebut mengalami
gangguan kejiwaan.
Siapapun orangnya setelah menempuh sekian tahun pelajaran di sekolah pasti sangat
mendambakan lulus ujian nasional (UN). Banyak usaha dan upaya yang dilakukan agar dapat
lulus ujian nasional ini, dari cara-cara yang baik yaitu dengan belajar sungguh-sungguh sampai
menggunakan cara yang tidak terpuji seperti membocorkan soal - soal yang akan keluar dalam
ujian nasional tersebut. Semua itu dilakukan tidak lain agar dapat lulus dalam ujian nasional,
syukur-syukur dapat lulus dengan hasil yang memuaskan.
Sebagai contoh, cerpen Tangisan Anakku karya Shoim Anwar. Bagaimana penyair ini
memotret sitem pendidikan di negara ini yang semakin memprihatinkan. Dalam hal inilah
Tangisan Anakku memperlihatkan orisinalitasnya yang khas dari gagasan penyairnya.

Perhatikan kutipan berikut.


Huki, kamu kan siswa paling malas. Pingin lulus, kan? tanya pak Dar, kepala sekolah kami.
Ya, Pak, aku mengangguk.
Nah, perhatikan untuk semuanya. Jangan sampai ketahuan orang luar. Jaga, ya?
Bereeees, kami serentak koor.......(Shoim Anwar, 2009: 102)

Dari kutipan di atas dijelaskan bagaimana sikap kepala sekolah yang berniat
meluluskan semua siswa baik yang pintar dan malas dengan cara curang. Sistem pendidikan
saat ini seperti lingkaran setan, jika ada yang mengatakan bahwa tidak perlu UN karena yang
mengetahui karakteristik siswa di sekolah adalah guru, pernyataan tersebut betul sekali, namun
pada kenyataan dilapangan, sering kali dilihat dari nilai raport yang dimanipulasi, jarang
bahkan mungkin tidak ada guru yang tidak memanipulasi nilainya dengan berbagai macam
alasan, kasihan siswanya, supaya terlihat guru tersebut berhasil dalam mengajar.
Perhatikan kutipan berikut.
Soal ujian, yang para pembuatnya harus dikarantina, soal disiman di kantor polisi dan dijaga
ketat, pihak sekolah ketika mengambil dan menyetor harus dikawal polisi, ternyata tidak
bemakna apa-apa. Aku dapat lulus dengan mudah berkat cara-cara di atas. Aku tak ingin kuliah,
tapi aku ingin cari cepat bekerja agar dapat bayaran. Dengan bekal ijazah sekolah atas itulah
aku daftar tes pegawai negeri.....(Shoim Anwar, 2009: 103)

Dari kutipan di atas dijelaskan begitu banyak pilihan yang bisa dilakukan oleh seorang
siswa, terlepas apakah orang tua bisa mengerti ataupun tidak keinginan putra-putirnya. Tidak
besekolah memag keputusan yang sangat berat, berbagai macam keberatan akan muncul,
bagaimana dengan diskuis, bagaimana dengan penyamaan persepsi terhadap suatu
permasalahan, jika tidak bersekolah, bagaimana dapat menemukan lingkungan yang kondusif
untuk belajar, atau yang lebih umum, karena bangsa kita adalah bangsa yang gila gengsi dan
gelar, bagaimana dengan pekerjaan, jika tidak punya gelar. Poin inilah yang paling
menjanjikan, sekolah hanya untuk mencari gelar??.

Masa sekolah dan perguruan tinggi terlewati dengan mudah, Huki pun lolos tes uji dan
diterima sebagai pegawai negeri. Berbekal ijazah yang didapat hanya kurang dari dua tahun,
Huki kini bisa menikmati kariernya sebagai pegawai pemerintah, hari-hari yang dilalui begitu
santai, seakan tanpa beban namun gaji terus mengalir.
Perhatikan kutipan berikut.
Terus terang, prestasi kerja di kantor memang tak ada peningkatan dan hanya rutinitas. Aku
mengalami dan merasakan karena aku juga pelakunya. Para personilnya banyak mengantongi
gelar baru yang lebih tinggi, tapi ilmu dan sikap mereka tambah merosot kerena gelar itu
diperoleh dengan cara instan. Mereka, aku juga, minta jabatab dan tunjangan-tunjangan lebih
banyak karena punya gelar baru. Dari uang rakyat, negara harus mengeluarkan biaya lebih
banyak lagi bagi birokrat yang modelnya kayak gini. Tapi apa boleh buat. Toh mereka yang di
atas juga memberi contoh demikian .....(Shoim Anwar, 2009: 106)

Dari kutipan di atas dijelaskan bagaimana aktifitas pegawai negeri yang tiap hari hanya
mengobrol dari lorong-lorong ketawa ketiwi, tidak ada beban pekerjaan, sambil menunggu
proyek turunan. Cara mencari duit mereka salah satunya dengan menaikkan gelar, perjalanan
dinas fiktif, dari sliip atau invoice hotel, tiket pesawat, tiket boarding pass, semua bisa
dipalsukan alias kalau perjalanan dinas kalau tidak berangkat malah mendapat duit. Kita bisa
lihat di kantor-kantor kelurahan dan kecamatan, pelayanan masyarakat hanya isapan jempol
belaka, pukul 10-11 masih pada kosong. Di tempat dinas yang lain, pegawai juga hanya datang
absesn langsung pulang dan sore datang lagi untuk absen saja. Jadi untuk apa mereka menjalani
itu semua, mengejar prestasi..?? Ironi sekali negara ini.

Contoh Kritik dan Esai


Posted on September 15, 2012 by must Adi

A. Contoh kritik sastra

Kebangkitan Tradisi Sastra Kaum Bersarung

Penulis: Purwana Adi Saputra

Selama ini, entah karena dinafikan atau justru karena menafikan fungsinya sendiri, kaum
pesantren seolah tersisih dari pergulatan sastra yang penuh gerak, dinamika, juga anomali.
Bahkan, di tengah-tengah gelanggang sastra lahir mereka yang menganggap bahwa kaum
santrilah yang mematikan sastra dari budaya bangsa. Di setiap pesantren, kedangkalan
pandangan membuat mereka menarik kesimpulan picik bahwa santri itu hanya percaya pada
dogma dan jumud. Mereka melihat tradisi hafalan yang sebenarnyalah merupakan tradisi
Arab yang disinkretisasikan sebagai bagian dari budaya belajarnya, telah membuat kaum
bersarung ini kehilangan daya khayal dari dalam dirinya. Dengan kapasitasnya sebagai sosok
yang paling berpengaruh bagi transfusi budaya bangsa ini, dengan seenaknya ditarik hipotesis
bahwa pesantrenlah musuh pembudayaan sastra yang sebenarnya. Kaum bersarung adalah
kaum intelektualis yang memarjinalkan sisi imaji dari alam pikirnya sendiri. Pesantren adalah
tempat yang pas buat mematikan khayal. Pesantren adalah institut tempat para kiai dengan
dibantu para ustadnya menempa kepala para santri dengan palu godam paksa.

(Dikutip seperlunya dari Solopos, 5 Desember 2007)

B. Contoh esai

Perda Kesenian dan Rumah Hantu

Oleh: Teguh W. Sastro

Beberapa waktu lalu Dewan Kesenian Surabaya (DKS) melontarkan keinginan agar Pemkot
Surabaya memiliki Perda (Peraturan Daerah) Kesenian. Namanya juga peraturan, dibuat pasti
untuk mengatur. Tetapi peraturan belum tentu tidak ada jeleknya. Tetap ada jeleknya. Yakni,
misalnya, jika peraturan itu justru potensial destruktif. Contohnya jika dilahirkan secara
prematur. Selain itu, seniman kan banyak ragamnya. Ada yang pinter (pandai) dan ada juga
yang keminter (sok tahu). Oleh karenanya, perten-tangan di antara mereka pun akan
meruncing, misalnya, soal siapa yang paling berhak mengusulkan dan kemudian
memasukkan pasal-pasal ke dalam rancangan Perda itu. Sejauhmana keterlibatan seniman di
dalam proses pembuatan Perda itu, dan seterusnya.

Itu hanya salah satu contoh persoalan yang potensial muncul pada proses pembuatan Perda
itu, belum sampai pada tataran pelaksanaannya. Hal ini bukannya menganggap bahwa adanya
peraturan itu tidak baik, terutama menyangkut Perda Kesenian di Surabaya. Menyangkut
sarana dan prasarana, misalnya, bolehlah dianggap tidak ada persoalan yang signifikan di
Surabaya. Akan tetapi, bagaimana halnya jika menyangkut mental dan visi para seniman dan
birokrat kesenian sendiri?

(Dikutip seperlunya dari Jawa Pos, 30 Januari 2007)

Contoh Esai Kritik Pengaruh Sinetron


Pengaruh Televisi terhadap Perkembangan
Anakpengaruh
televisi terhadap anak-anak bisa mengambil langkah-langkah nyata. Walaupun tidak
menutupkemungkinan memberikan alternatif solusi terhadap pihak terkait seperti pihak
media televisi dan para pemerhatimedia secara umum. Pertama, jelas perlu ada sosialisasi
secara massif kepada para orang tua tentang bahayaprogram yang ada di televisi pada setiap
media yang ada, termasuk koran ini dan juga diperlukan kewaspadaanyang penuh dengan
tidak membiarkan anak-anak menonton televisi dengan beba ...Dengan segala potensi yang
dimilikinya itu, televisi telah mendatangkan banyak perdebatan yang tidak kunjungberakhir.
Bagi orang dewasa, mungkin apa yang ditampilkan oleh televisi itu bukanlah sebuah masalah
besar,sebab mereka sudah mampu memilih, memilah dan memahami apa yang ditayangkan
di layar televisi. Namunbagaimana dengan anak-anak Dengan segala kepolosan yang
dimilikinya, belum tentu mereka mampumenginterpretasikan apa yang mereka saksikan di
layar televisi dengan tepat dan benar. Padahal Keith W.Mielke sebagaimana dikutip oleh
Arini Hidayati dalam bukunya berjudul Televisi dan Perkembangan Sosial Anakmengatakan
bahwaMasalah paling mendasar bukanlah jumlah jam yang dilewatkan si anak untuk
menontontelevisi, melainkan program-program yang ia tonton dan bagaimana para orang tua
serta guru memanfaatkanprogram-program ini untuk sedapat mungkin membantu kegiatan
belajar mereka.(199874).Dari kutipan tersebutdiatas jelas bahwa yang harus diwaspadai oleh
para guru dan orang tua adalah acara apa yang ditonton anak ditelevisi itu dan bukannya
berapa lama anak menonton televisi. Padahal kecenderungan yang ada justrusebaliknya.
Orang tua jarang benar-benar memperhatikan apa yang ditonton anak-anaknya dan lebih
seringmelarang anak-anak agar jangan menonton televisi terlalu lama karena bisa
mengganggu jam belajarmereka.Disamping itu, apakah pernah pula terbersit dalam benak
orang tua untuk ikut menontontayangan-tayangan televisi yang diklaim sebagai ...Read
Article
Pengertian Belajar
Dalam pengertian yang umum atau populer, belajar adalah mengumpulkan sejumlah
pengetahuan.Pengetahuan tersebut diperoleh dari seseorang yang lebih tahu atau yang
sekarang ini dikenal dengan guru.Dalam belajar, pengetahuan tersebut dikumpulkan sedikit
demi sedikit hingga akhirnya menjadi banyak. Orangyang banyak pengetahuannya
diidentifikasi sebagai orang yang banyak belajar, sementara orang yang
sedikitpengetahuannya diidentifikasi sebagai orang yang sedikit belajar, dan orang yang tidak
berpengetahuandipandang sebagai orang yang tidak belajar.Belajar dalam pengertian
mengurupulkan sejumlah pengetahuandemikian, tampaknya masih diikuti juga sampai
sekarang. Orang baru dikatakan belajar manakala sedangmembaca bacaan, membaca
sejumlah tugas mata kuliah atau mata pelajaran, membaca buku pelajaran.Seorang murid
yang sedang mengerjakan tugas-tugas matematika biasa disebut sedang belajar. Orang
yangsedang menimba pengetahuan pada bangku sekolah lazim juga dikenal sebagai pelajar.
Bahkan orang yangbanyak menguasai ilmu pengetahuan lazim dikenal dengan kaum
terpelajar. Singkat perkataan, belajar dalampengertian umum atua populer adalah suatu upaya
yang dimaksudkan untuk menguasai sejumlahpengetahuan.Pengetahuan belajar demikian,
secara konseptual tampakanya sudah mulai ditinggalkan orang,meskipun secara praktikal
masih banyak yang menganut. Ini karena berkembang pesatnya teknologi informasiseperti
sekarang ini. Guru tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya sumber informasi yang dapat
memberikaninformasi apa saja kepada para pembelajar.Hampir semua ahli telah mencoba ...

Kritik dan Esai Sastra - Cerpen Tangisan Anakku karya Shoim Anwar

3:30 PM Fahmi Faisol


TIDAK DI NEGERI ANTAH BERANTAH
Begitu banyak macam realitas kehidupan yang tertoreh dalam bentuk karya sastra.
Ketika menemukan peristiwa yang memilukan, pengalaman yang menggelitik, kejadian nan
unik atau eksentrik, dan hal-hal baru yang menggigit, pengarang mengeksplorasi semuanya itu
dalam bentuk karya sastra.
Cerpen Tangisan Anakku merupakan hasil karya sastra yang mengabstraksikan realitas
kehidupan masyarakat. Soim Anwar sebagai pengarang cerpen ini menggugah pembaca
dengan menampilkan problema kehidupan seorang pria yang bernama Huki, berpredikat
sebagai kepala perkantoran yang bekerja di sebuah lembaga instansi negara, akan tetapi karena
proses dalam menggapai itu semua dengan jalan yang bisa dibilang curang dan instan maka
karir Huki berakhir suram dan pada akhirnya membuat pria dari tiga anak tersebut mengalami
gangguan kejiwaan.
Siapapun orangnya setelah menempuh sekian tahun pelajaran di sekolah pasti sangat
mendambakan lulus ujian nasional (UN). Banyak usaha dan upaya yang dilakukan agar dapat
lulus ujian nasional ini, dari cara-cara yang baik yaitu dengan belajar sungguh-sungguh sampai
menggunakan cara yang tidak terpuji seperti membocorkan soal - soal yang akan keluar dalam
ujian nasional tersebut. Semua itu dilakukan tidak lain agar dapat lulus dalam ujian nasional,
syukur-syukur dapat lulus dengan hasil yang memuaskan.
Sebagai contoh, cerpen Tangisan Anakku karya Shoim Anwar. Bagaimana penyair ini
memotret sitem pendidikan di negara ini yang semakin memprihatinkan. Dalam hal inilah
Tangisan Anakku memperlihatkan orisinalitasnya yang khas dari gagasan penyairnya.

Perhatikan kutipan berikut.


Huki, kamu kan siswa paling malas. Pingin lulus, kan? tanya pak Dar, kepala sekolah kami.
Ya, Pak, aku mengangguk.
Nah, perhatikan untuk semuanya. Jangan sampai ketahuan orang luar. Jaga, ya?
Bereeees, kami serentak koor.......(Shoim Anwar, 2009: 102)

Dari kutipan di atas dijelaskan bagaimana sikap kepala sekolah yang berniat
meluluskan semua siswa baik yang pintar dan malas dengan cara curang. Sistem pendidikan
saat ini seperti lingkaran setan, jika ada yang mengatakan bahwa tidak perlu UN karena yang
mengetahui karakteristik siswa di sekolah adalah guru, pernyataan tersebut betul sekali, namun
pada kenyataan dilapangan, sering kali dilihat dari nilai raport yang dimanipulasi, jarang
bahkan mungkin tidak ada guru yang tidak memanipulasi nilainya dengan berbagai macam
alasan, kasihan siswanya, supaya terlihat guru tersebut berhasil dalam mengajar.
Perhatikan kutipan berikut.
Soal ujian, yang para pembuatnya harus dikarantina, soal disiman di kantor polisi dan dijaga
ketat, pihak sekolah ketika mengambil dan menyetor harus dikawal polisi, ternyata tidak
bemakna apa-apa. Aku dapat lulus dengan mudah berkat cara-cara di atas. Aku tak ingin kuliah,
tapi aku ingin cari cepat bekerja agar dapat bayaran. Dengan bekal ijazah sekolah atas itulah
aku daftar tes pegawai negeri.....(Shoim Anwar, 2009: 103)

Dari kutipan di atas dijelaskan begitu banyak pilihan yang bisa dilakukan oleh seorang
siswa, terlepas apakah orang tua bisa mengerti ataupun tidak keinginan putra-putirnya. Tidak
besekolah memag keputusan yang sangat berat, berbagai macam keberatan akan muncul,
bagaimana dengan diskuis, bagaimana dengan penyamaan persepsi terhadap suatu
permasalahan, jika tidak bersekolah, bagaimana dapat menemukan lingkungan yang kondusif
untuk belajar, atau yang lebih umum, karena bangsa kita adalah bangsa yang gila gengsi dan
gelar, bagaimana dengan pekerjaan, jika tidak punya gelar. Poin inilah yang paling
menjanjikan, sekolah hanya untuk mencari gelar??.
Masa sekolah dan perguruan tinggi terlewati dengan mudah, Huki pun lolos tes uji dan
diterima sebagai pegawai negeri. Berbekal ijazah yang didapat hanya kurang dari dua tahun,
Huki kini bisa menikmati kariernya sebagai pegawai pemerintah, hari-hari yang dilalui begitu
santai, seakan tanpa beban namun gaji terus mengalir.
Perhatikan kutipan berikut.
Terus terang, prestasi kerja di kantor memang tak ada peningkatan dan hanya rutinitas. Aku
mengalami dan merasakan karena aku juga pelakunya. Para personilnya banyak mengantongi
gelar baru yang lebih tinggi, tapi ilmu dan sikap mereka tambah merosot kerena gelar itu
diperoleh dengan cara instan. Mereka, aku juga, minta jabatab dan tunjangan-tunjangan lebih
banyak karena punya gelar baru. Dari uang rakyat, negara harus mengeluarkan biaya lebih
banyak lagi bagi birokrat yang modelnya kayak gini. Tapi apa boleh buat. Toh mereka yang di
atas juga memberi contoh demikian .....(Shoim Anwar, 2009: 106)

Dari kutipan di atas dijelaskan bagaimana aktifitas pegawai negeri yang tiap hari hanya
mengobrol dari lorong-lorong ketawa ketiwi, tidak ada beban pekerjaan, sambil menunggu
proyek turunan. Cara mencari duit mereka salah satunya dengan menaikkan gelar, perjalanan
dinas fiktif, dari sliip atau invoice hotel, tiket pesawat, tiket boarding pass, semua bisa
dipalsukan alias kalau perjalanan dinas kalau tidak berangkat malah mendapat duit. Kita bisa
lihat di kantor-kantor kelurahan dan kecamatan, pelayanan masyarakat hanya isapan jempol
belaka, pukul 10-11 masih pada kosong. Di tempat dinas yang lain, pegawai juga hanya datang
absesn langsung pulang dan sore datang lagi untuk absen saja. Jadi untuk apa mereka menjalani
itu semua, mengejar prestasi..?? Ironi sekali negara ini.