Anda di halaman 1dari 6

Model Matematika pada Proses Hematopoiesis dengan Perlambatan Proses Proliferasi

Mathematical Model on Hematopoiesis Process with Proliferation Time Delay

Usman Pagalay, Anita Ambarsari


Jurusan Matematika Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

ABSTRAK
Proses produksi sel darah (hematopoiesis) pada kondisi normal diformulasikan dalam bentuk sistem persamaan
diferensial nonlinier dengan waktu perlambatan. Waktu perlambatan menunjukkan durasi atau waktu yang diperlukan sel
punca berada pada fase proliferasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model matematika pada proses produksi
sel darah meliputi analisis titik tetap dan perilaku populasi sel punca hematopoietik. Untuk mempelajari perilaku dinamik
model, dilakukan dengan mempelajari persamaan karakteristik dari model tersebut. Hasil simulasi numerik menunjukkan
bahwa untuk titik tetap nontrivial model mengalami osilasi. Osilasi pada model matematika proses hematopoiesis
mengindikasikan bahwa hematopoiesis yang terjadi tidak stabil sehingga nantinya dapat diimplementasikan pada analisa
adanya penyakit-penyakit yang mempengaruhi sel darah.
Kata Kunci: Hematopoiesis, osilasi, model matematika, waktu perlambatan

ABSTRACT
Blood cell production process (hematopoiesis) in normal conditions is formulated in the form of a nonlinear differential
equation system with time delay. Time delay indicates the duration or time required for stem cells in the proliferative
phase. This study aims to analyze the mathematical model of blood cell production process including fixed point analysis
and hematopoietic stem cell population behavior. Studying the characteristics equations of the model was conducted to
study the dynamic behavior of the model. The numerical simulation results show that for nontrivial fixed point model
experiences oscillations. Oscillations in mathematical models of hematopoiesis process indicate that hematopoiesis
occurs unstable so that they can be implemented on an analysis of the presence of diseases that affect blood cells.
Keywords: hematopoiesis, oscillation, mathematical models, time delay

Jurnal Kedokteran Brawijaya, Vol. 28, No. 2, Agustus 2014; Korespondensi: Usman Pagalay. Jurusan Matematika UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang, Jl. Gajayana No. 50 Malang 65144 Tel. (0341) 551354 Email: usmanpagalay@yahoo.co.id

120
Model Matematika pada Proses Hematopoiesis... 121

PENDAHULUAN hematopoiesis adalah DDE23 dengan bantuan software


Hematopoiesis adalah proses pembentukan dan matlab.
perkembangan berbagai tipe sel darah dan elemen-
elemen yang terbentuk lainnya. Produk akhir dari proses HASIL
ini adalah sel darah merah, sel darah putih dan keeping Konstruksi Model Matematika
darah (1). Para ahli biologi mengklasifikasikan sel punca
hematopoietik menjadi sel proliferasi dan nonproliferasi. Model matematika yang digunakan untuk memahami
Sel proliferasi adalah sel-sel punca yang mempunyai sifat proses pembentukan sel darah (hematopoiesis) meliputi
aktif berkembang dan berdiferensiasi sedangkan sel populasi total sel punca yang kemudian terbagi menjadi
nonproliferasi adalah sel punca yang tidak aktif dua jenis yaitu sel proliferasi dan sel nonproliferasi.
berkembang dan berdiferensiasi. Sel-sel nonproliferasi
akan memasuki fase proliferasi dengan laju nonlinier
untuk akhirnya berkembang dan berdiferensiasi
membentuk sel-sel darah yang matur. Baik sel proliferasi
maupun sel nonproliferasi dapat mengalami kematian
karena adanya apoptosis (2).
Model matematika untuk dinamika sel punca
hematopoietik telah diperkenalkan pada akhir tahun 1970
oleh Mackey (3). Proses produksi sel darah
(hematopoiesis) diformulasikan dalam bentuk sistem
persamaan diferensial biasa nonlinier orde satu dengan
waktu perlambatan. Waktu perlambatan menunjukkan
durasi yang diperlukan sel berada dalam fase proliferasi.
Model matematika pada proses hematopoiesis diperbarui
oleh Crauste dengan menggunakan laju perubahan sel
nonproliferasi memasuki fase proliferasi dengan laju Gambar 1. Skema populasi sel tunas hematopoietik
Keterangan:
nonlinier yang bergantung pada populasi total sel punca
Kematian alami
(4). Penelitian ini menghasilkan sistem persamaan
Perubahan sel
diferensial nonlinier dengan waktu tunda untuk populasi
total sel punca dan sel nonproliferasi. Dalam Variable-variable yang digunakan pada model adalah
penelitiannya Crauste menggunakan laju kematian yang P(t) = Populasi sel proliferasi pada waktu t
sama antara sel proliferasi dan nonproliferasi. Dalam N(t) = Populasi sel nonproliferasi pada waktu t
penelitian ini, berdasarkan model Crauste akan dilakukan S(t) = Populasi total sel punca hematopoietik pada waktu t
analisis model matematika pada proses hematopoiesis g = Laju kematian sel proliferasi
dengan menggunakan laju kematian yang berbeda antara d = Laju kematian sel nonproliferasi
sel punca proliferasi dan sel nonproliferasi (4). b = Laju perubahan sel nonproliferasi memasuki fase
proliferasi
METODE e-gt = Laju perubahan sel proliferasi kembali memasuki fase
nonproliferasi
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini t = Lama waktu yang dihabiskan sel pada suatu fase
adalah Deskripsi kualitatif mengenai sifat-sifat pada sel S(t - t) = Populasi total sel punca pada waktu t dengan
punca hematopoietik, teori dasar tentang proses perlambatan t
hemaopoiesis. Deskripsi kuantitatif tentang parameter- N(t - t) = Populasi sel nonproliferasi pada waktu t dengan
parameter yang akan digunakan pada komputasi model perlambatan sebesar t
matematika pada produksi sel darah. Jika tidak ada nilai
parameter yang tersedia maka dilakukan estimasi
parameter model atau dilakukan data proposional.
Langkah selanjutnya adalah Membangun asumsi-asumsi Berdasarkan model Crauste (4) diperoleh model
sehingga ruang lingkup model berada pada koridor matematika pada proses produksi sel darah yang terdiri
permasalahan yang akan dicari solusinya. Diasumsikan dari dua persamaan diferensial biasa dengan waktu tunda
bahwa model matematika pada proses hematopoiesis berikut ini:
berlaku pada kondisi normal. Konstruksi model pada dS (t )
proses hematopoiesis didasari model Crauste (4). Model = -g S (t ) + (g - d ) N (t ) + e-gt b ( S (t - t )) N (t - t )
dt
tersebut melibatkan populasi sel punca proliferasi, (1)
dN (t )
populasi sel punca nonproliferasi, populasi total sel punca = -d N (t ) - b ( S (t )) N (t ) + 2e -gt b ( S (t - t )) N (t - t )
dt
hematopoietik, dan waktu perlambatan untuk durasi sel
punca berada pada fase proliferasi. Kemudian dilakukan Titik Kesetimbangan
penentuan parameter model. Parameter yang digunakan
bersumber dari Adimy dkk (2). Yaitu g=0.1, d=0.05, Titik kesetimbangan untuk sistem (1) diperoleh mencari
bo=1.77, q=1, h=12 Analisis kestabilan melalui persamaan nilai S(t) dan N(t) sedemikian sehingga dS (t ) = 0 dan dN (t ) = 0
dt dt
karakteristik hasil linierisasi persamaan diferensial biasa Misalkan S* dan N* adalah titik tetap dari sistem
nonlinier pada proses produksi sel darah. Linierisasi dan persamaan (1), maka diperoleh:
persamaan karakteristik diperlukan untuk
mempermudah mencari solusi dari suatu sistem nonlinier.
g (2e-gt - 1)
Simulasi. Metode numerik yang digunakan dalam (S , N )= S ,
* * *
S*
menyelesaikan model matematika pada proses (e -gt
(2g - d ) - (g - d ) )

Jurnal Kedokteran Brawijaya, Vol. 28, No. 2, Agustus 2014


Model Matematika pada Proses Hematopoiesis... 122

Titik tetap pertama yang memenuhi persamaan (2) adalah Selanjutnya sistem persamaan (5) dapat ditulis dalam
(0,0), dinotasikan dengan E0 bentuk matrik
ln 2 dS (t )
(2e-gt -1) > 0,t < (2) dt S (t ) S (t - t )
g = A1 + A2
dN (t ) N (t ) N (t - t )
Berdasarkan kondisi tersebut, karena b adalah fungsi yang
dt

positif, menurun dan mempunyai limit 0, maka ada S* > 0
yang memenuhi -g (g - d ) a b (S * )
Dimana A1 = dan A2 = e
- gt

-a - (d + b ( S * )) 2a 2b (S * )
(2e-gt -1)b (S * ) = d (3)
untuk setiap N *b '(S * ) = a
Jika dan hanya jika Persamaan karakteristik dari sistem persamaan (1) adalah

(2e-gt -1)b (0) > d (4) (l I - A - A e ) = 0


1 2
- lt
(6)
Analisis Kestabilan Titik Kesetimbangan Trivial
Persamaan (3) dan (4) ekuivalen dengan Salah satu titik kesetimbangan sistem persamaan (1)
1 2 b (0) adalah kesetimbangan trivial yaitu E 0 = (0,0) Pada bagian
b (0) > d dan 0 t t := ln ini, akan dianalisis kestabilan untuk titik kesetimbangan
g d + b (0)
trivial.
Teorema 1
Teorema 2
Apabila berlaku ketidaksamaan (4) maka sistem
Pada titik kesetimbangan trivial, sistem persamaan (1)
persamaan (1) mempunyai tepat dua solusi yaitu E0= (0,0)
adalah
dan
i. Stabil asimtotik lokal jika (2e )
- gt
- 1 b (0) < d
g (2e-gt - 1)
( *
S ,N *
)
= S * , -gt S* ii. Stabil jika 2e ( - gt
)
- 1 b (0) = d

(
e (2g - d ) - (g - d )
) - gt
(
iii. Tidak stabil jika 2e - 1 b (0) > d )
dimana S* adalah solusi dari persamaan (3). Dan jika
(2e-gt -1)b (0) d maka sistem persamaan (1) hanya Bukti
mempunyai satu solusi trivial saja Persamaan karakteristik persamaan (1) adalah persamaan
Bukti: (6) yang dapat ditulis sebagai
i. Apabila berlaku(2e-gt -1)b (0) > d sehingga (2e-gt -1)b (0) > d ( )(l + d + b (S ) - 2e e b (S ) ) -
l + g - e - lt e -gt a * - lt - gt *

(2e-gt -1)b (0) > 0 maka (2e-gt -1) > 0 sehingga diperoleh
kestabilan dari sistem persamaan (1) adalah (a - 2ee a )(d - g - e e b ( S ) ) = 0
- lt - gt - lt - gt *


g (2e - gt - 1) Untuk titik kesetimbangan E = (S , N )= (0, 0) maka
0 * *
( )
E * = S * , N * = S * , - gt S*

(
e (2g - d ) - (g - d )
) * *
a = N b '(S ) = 0 sehingga
ii. Apabila berlaku (2e -1)b(0)=d sehingga (2e -1)b(0)-
-gt -gt
(l + g )(l + d + b (0) - 2e- lt e-gt b (0) )= 0 (7)
0
d=0 diperoleh titik kestabilan E = (0,0)
Dari persamaan (7) diperoleh akar-akar karakteristik
iii. Apabila berlaku (2e-gt-1)b(0)=d sehingga (2e-gt-1)b(0)-
d<0 (2e-gt-1)b(0)<d diperoleh nilai kestabilan negatif. adalah l = -g dan

Karena populasi tidak mungkin bernilai negative yang (l + d + b (0) - 2e - lt


e -gt b (0) = 0 ) (8)
berarti terjadi kekurangan populasi, maka titik tetap
dengan kondisi (2e-gt-1)b(0)<d tidak memenuhi sistem Persamaan (8) mempunyai satu solusi akar karakteristik
persamaan (1). yang bernilai riil misalkan l0 dan misalkan ada l yang
merupakan akar-akar lain dari persamaan (8) dimana l l0
Linierisasi
yang memenuhi Re(l)<l0.Misal diberikan suatu pemetaan
Linierisasi adalah proses aproksimasi persamaan ll+d+b(0)-2e-lte-gtb(0)=0 sebagai suatu fungsi dari l
diferensial nonlinier dengan persamaan diferensial linier. bernilai riil.
Proses ini dilakukan dengan cara menghilangkan bagian
nonlinier dari persamaan diferensial nonlinier Diasumsikan bahwa l=m+iw l 0 yang memenuhi
menggunakan ekspansi deret Taylor disekitar titik persamaan (8). sehingga persamaan (8) menjadi
kesetimbangan (S * , N * ) m + iw + d + b (0) - 2e -(m + iw )t e -gt b (0) = 0
Persamaan linier dari sistem persamaan nonlinier (1) (9)
m + iw + d + b (0) - 2 e - mt e - gt b (0) (cos wt - i sin wt ) = 0
adalah
Sehingga diperoleh persamaan untuk akar yang riil adalah
dS (t )
= -g S (t ) + (g - d ) N (t ) + e -gt b ( S * ) N (t - t ) +
dt (
m - l0 = 2e - gt b (0) e - mt cos wt - e - l0t = 0 )
e -gt N * b '( S * ) S (t - t )
dN (t ) (5) Apabila bahwa m=l0. maka (
2e-gt b (0) e- mt cos wt - e-l0t < 0 )
dt
( )
= - d + b ( S * ) N (t ) - N * b '( S * ) S (t ) +
sehingga kontradiksi dengan yang diketahui bahwa ml0.
(
2e -gt b ( S * ) N (t - t ) + N * b '( S * ) S (t - t ) ) Apabila jika m=l0. maka diperoleh persamaan berikut.

Jurnal Kedokteran Brawijaya, Vol. 28, No. 2, Agustus 2014


Model Matematika pada Proses Hematopoiesis... 123

(
l0 - l0 = 2e - gt b (0) e - l0t cos wt - e - l0t ) (-w + ag - ad + gd + gb (S )) + (d + g + b (S )) w
2 *
2
*
2
2

- l0t - l0t
0=e cos wt - e 2 2
= (2e b (S )+ a e ) w - (a e d - a e g - 2e b (S )g )
- gt * - gt 2 - gt - gt - gt *

cos wt =1 "t 0 (12)


( ( ) ( ) + g + 2ad - gd )w
2
w 4 + d 2 + 2db S * + b S * 2

Hal ini mengakibatkan sinwt=0. Berdasarkan bagan


2 2
imaginer dari persamaan (9) diperoleh (
+ ag - ad + gd + gb S * ( )) - (a e - gt
d - a e -gt g - 2e -gt b S * g ( ) ) =0
w+2e-mte-gtb(0)sinwt=0 sehingga diperoleh w=0 dan l=l0.
Maka persamaan (12) dapat ditulis menjadi
Kontradiksi dengan yang diketahui bahwa ll0 maka
pengandaian salah dan m<l0 , sehingga akar riil l0 akan l2 + pl + q = 0 (13)
bernilai negatif jika (2e-gt-1)b(0)<d. Dengan kondisi ini, *
Karena b=(S ) dalah fungsi yang turun, maka persamaan
akan diperoleh akar-akar riil dari sistem persamaan (1) (13) memiliki nilai p >0, q >0 apabila berlaku ketaksamaan
bernilai negatif sehingga E0 stabil asimtotik. Apabila (11) sehingga persamaan (13) mempunyai solusi bernilai
(2e-gt-1)b(0)=d maka diperoleh akar dari persamaan (9) riil negatif atau bernilai kompleks dengan bagian riilnya
bernilai nol. Sehingga diperoleh akar-akar persamaan (1) negatif. Oleh karena itu, disebut asimtotik lokal.
adalah l=-g atau l=0 maka E 0 stabil. Apabila
(2e-gt-1)b(0)>d maka akar persamaan (9) akan bernilai riil Simulasi Numerik
positif. Dengan kondisi ini, akan diperoleh salah satu akar Pada bagian ini, akan ditampilkan grafik solusi numerik dari
riil dari sistem persamaan (1) bernilai positif sehingga E0 sistem persamaan (1) dengan menggunakan bantuan
tidak stabil. software matlab dan metode DDE23.
Analisis Kestabilan Titik Tetap Nontrivial Parameter yang digunakan adalah
Untuk kestabilan nontrivial sistem persamaan (1), d=0.1, g=0.05, b0 =1.77, n=12 (2)
diperoleh
d Sebagai perbandingan, akan diberikan beberapa
( )
b S* =
(2e -gt
-1 ) perubahan kondisi untuk perlambatan waktu.
qn d
b0 =
( ) (2e )
n -gt
n
q + S* -1 (10) Grafik Model Matematika Proses Hematopoiesis
1.4
S(t)
1 1.35 N(t)

S* = q
(
2e-gt - 1 b0
- 1
) n
1.3

d 1.25

1.2
S(t)N(t)

Sehingga 1.15

1 1.1

*

N = q -gt
g (2e -gt - 1)

( )
2e -gt - 1 b 0 n
- 1
1.05

(
e (2g - d ) - (g - d ) ) d 0.95
1

0.9
Berdasarkan teorema 2 untuk menjamin bahwa diperoleh 0 20 40 60 80 100
t(time)
120 140 160 180 200

solusi yang nontrivial adalah berlakunya kondisi (4) yang


ekuivalen dengan Gambar 2. Grafik model populasi sel punca hematopoietik
dengan t=1
1 2 b (0)
b (0) > d dan 0 t t := ln (11)
g d + b (0)

Teorema 3 Gambar 2 menunjukkan perilaku populasi total sel punca


hematopoietik dan sel nonproliferasi dengan waktu
Jika d<b(0), maka titik kesetimbangan nontrivial adalah perlambatan t=1. Populasi kedua sel pada beberapa hari
stabil asimtotik lokal. pertama mengalami penurunan kemudian pada hari ke 5
Bukti: sama-sama mengalami kenaikan yang tajam hingga pada
akhirnya mencapai stabil pada hari ke 50. Populasi sel
Persamaan karakteristik dari sistem persamaan (1) adalah nonproliferasi lebih rendah daripada sel nonproliferasi
persamaan (6), jika t=0, maka persamaan (6) menjadi karena sel nonproliferasi merupakan bagian dari sel tunas.
*
( l+g )( l+d-b(S )-a)
Maka akar-akar dari persamaan (6) adalah
Grafik Model Matematika Proses Hematopoiesis

l=-g atau l=-d+b(S*)+a 1.6


S(t)
N(t)
1.4
Karena b adalah fungsi yang turun, maka untuk menjamin
akar l=-d+b(S*)+a bernilai riil negatif, maka d<b(0) 1.2

1
Untuk t0
S(t)N(t)

0.8

Misalkan akar dari persamaan karakteristik (6) adalah


0.6
l=iw sehingga persamaan menjadi
0.4

( ( )
(iw ) 2 + d + g + b S * - 2e- iwt e-gt b S * - a e- iwt e-gt iw ( ) ) 0.2
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200
t(time)

+a e ( - iwt - gt
e d -e - iwt - gt
e g + g -d + )
Gambar 3. Grafik model populasi sel punca hematopoietik
(
g d + b S - 2e ( ) * - iwt
e - gt
b S ( ))= 0 *
dengan t=3.5

Jurnal Kedokteran Brawijaya, Vol. 28, No. 2, Agustus 2014


Model Matematika pada Proses Hematopoiesis... 124

Gambar 3 menunjukkan perilaku populasi total sel punca Mackey (6). Hal ini dapat direlasikan dengan penyakit-
hematopoietik dengan sel nonproliferasi dengan waktu penyakit yang mempengaruhi sel darah yang dapat dilihat
perlambatan t=3.5. Baik sel punca maupun sel proliferasi dari osilasi sirkulasi jumlah sel darah dengan lama periode
mengalami osilasi pada hari ke 20. Osilasi dalam hal ini dan durasi siklus sel.
menunjukkan bahwa proses produksi sel darah yang
terjadi di dalam sum-sum tulang tidak stabil. Populasi sel DISKUSI
punca mulai menuju stabil pada hari ke 140, sedangkan Dalam penelitian ini model matematika pada proses
populasi sel nonproliferasi masih menunjukkan adanya produksi sel darah adalah model yang diformulasikan oleh
osilasi sampai hari ke 200 Crauste (4) yang merupakan modifikasi model Mackey (3).
Jika dalam model Crauste (4) diasumsikan laju kematian
sama antara sel proliferasi dan nonproliferasi, maka dalam
1.6
Grafik Model Matematika Proses Hematopoiesis
penelitian ini diasumsikan laju kematiannya adalah
S(t)
1.4 N(t) berbeda. Dalam contoh untuk hasil simulasi numerik
1.2
menunjukkan bahwa jika digunakan laju yang sama antara
1
sel proliferasi dan nonproliferasi diperoleh bahwa sistem
persamaan pada proses pembentukan sel darah
S(t)N(t)

0.8
mengalami osilasi ketika diberikan perlambatan waktu 3.5
0.6
hari dan akan kembali stabil pada perlambatan waktu 9
0.4
hari (4). Jika digunakan laju kematian yang berbeda antara
0.2 sel prolifersi dan nonproliferasi sebagaimana yang
0
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200
diberikan dalam persamaan 13, maka sistem persamaan
t(time)
pada proses produksi sel darah mengalami osilasi pada
waktu perlambatan 3.5 hari dan kembali stabil pada
Gambar 4. Grafik model populasi sel punca hematopoietik
perlambatan waktu 5.5 hari. Hal ini menunjukkan bahwa
dengan t=4.25
laju kematian sel punca proliferasi dan nonproliferasi
mempengaruhi kestabilan sistem persamaan pada proses
produksi sel darah.
Gambar 4 menunjukkan perilaku populasi sel Punca
hematopoietik dengan sel nonproliferasi dengan waktu Model matematika untuk populasi sel punca
perlambatan t=4.52. Pada keadaan ini populasi sel punca hematopoietik dengan laju kematian yang berbeda antara
dan sel nonproliferasi terus mengalami osilasi bahkan sel proliferase dan sel nonproliferase adalah
sampai hari ke 200. Kedua populasi sel tersebut tidak dS (t )
= -g S (t ) + (g - d ) N (t ) + e -gt b ( S (t - t )) N (t - t )
dapat stabil. dt
dN (t )
= -d N (t ) - b ( S (t )) N (t ) + 2e -gt b ( S (t - t )) N (t - t )
dt
Grafik Model Matematika Proses Hematopoiesis
1.6 Dua titik kesetimbangan yaitu
S(t)
1.4 N(t) g (2e -gt - 1)
E 0 = (0, 0) dan (S , N )= S ,
* * *
S*
1.2
(e - gt
)
(2g - d ) - (g - d )

1

Dengan suatu kondisi perlu yaitu (2e-gt-1)b(0)>d


S(t)N(t)

0.8

0
0.6
Kestabilan pada solusi trivial E =(0,0)
0.4
I. Stabil asimtotik lokal jika (2e-gt-1)b(0)<d
0.2

0
ii. Stabil jika (2e-gt-1)b(0)=d
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200
t(time)
iii. Tidak stabil jika (2e-gt-1)b(0)>d
Gambar 5. Grafik model populasi sel punca hematopoietik Untuk solusi nontrivial apabila berlaku d<b(0) dan t=0
dengan t= 5.5 maka model matematika untuk proses hematopoiesis
adalah stabil asimtotik
Hasil grafik untuk model matematika proses
Gambar 5 menunjukkan perilaku populasi total sel punca hematopoiesis dengan menggunakan bantuan software
hematopoietik dengan sel nonproliferasi dengan waktu matlab dengan berbagai nilai waktu tunda menunjukkan
perlambatan t=5.5 kedua sel mengalami osilasi yang kecil bahwa waktu tunda mempengaruhi kestabilan dari sistem.
pada hari ke 5 sampai hari ke 50. Populasi sel terlihat Sistem mulai mengalami osilasi ketika pada kondisi
menuju stabil lagi pada hari ke 50. perlambatan sebesar 3.5, dan osilasi terbesar ketika
Berdasarkan keempat gambar di atas, model matematika berada pada kondisi perlambatan 4.52. Sistem akan mulai
pada proses hematopoiesis stabil untuk waktu stabil lagi ketika berada pada konsdisi dengan perlambatan
perlambatan t<3.5 dan akan mengalami osilasi pada sebesar 5.5. Dalam hal ini perlambatan juga
3.5t5. Model akan kembali stabil pada t>5.5. Ketika t mempengaruhi titik tetap dari sistem, yaitu apabila
mengalami kenaikan pada interval model mengalami semakin besar nilai perlambatan, maka sistem akan
osilasi, maka osilasi akan semakin besar dapat dilihat pada menuju nol. Hal ini mengindikasikan terjadinya
gambar 4. Fenomena ini telah dipelajari oleh Pujo dan pemusnahan sel ketika nilai perlambatan menuju infinit.

Jurnal Kedokteran Brawijaya, Vol. 28, No. 2, Agustus 2014


Model Matematika pada Proses Hematopoiesis... 125

DAFTAR PUSTAKA Comptes Rendus Biologies. 2004; 327(3): 235-244.


1. Williams L. Comprehensive Review of Hematopoiesis 6. Howard A dan Chris R. Aljabar Linear Elementer: Versi
and Immunology: Imaplications for Hematopoietic Aplikasi Jilid 1. Jakarta: Erlangga; 2004.
Stem Cell Transplant Recipients. In: Ezzone S (Ed).
7. Ayres F dan Ault JC. Theory and Problem of Differential
Hematopoietic Stem Cell Transplantation: A Manual
Equations SI (Metric) Edition (Schaum Series). Jakarta:
for Nursing Practice. Pittsburg: Oncology Nursing
Society; 2004; p. 1-13. Erlangga; 1984.

2. Adimy M, Crauste F, and Ruan S. A Mathematical 8. Cain JW and Reynolds AM. Ordinary and Partial
Study of the Hematopoiesis Process with Application Differential Equation: An Introduction to Dynamical
to Chronic Myelogenous Leukemia. [Thesis]. System. Virginia: Center for Teaching Excellence; 2010.
University of Miami, Miami. 2004. 9. Finizio N and Ladas G. An Introduction to Differential
3. Mackey MC. Unified Hypothesis of the Origin of Equation with Difference Equation, Fourier Analysis,
Aplastic Anemia and Periodic Hematopoiesis. Blood. and Partial Differential Equations. California:
1978; 51(5): 941-956. Wadsworth; 1982.
4. Crauste F. Global Asymptotic Stability and Hopf 10. Pagalay U. Mathematical Modeling (Aplikasi Pada
Bifurcation for a Blood Cells Production Model. Kedokteran, Imunologi, Biologi,Ekonomi, Perikanan).
Mathematical Bioscience and Engineering. 2006; Malang: UIN Press; 2009.
3(2): 325-346. 11. Robinson RC. An Introduction to Dynamical Systems
5. Pujo-Menjouet L and Mackey MC. Contribution to the Continuous and Discrete. New Jersey: Pearson
Study of Periodic Chronic Myelogenous Leukemia. Education Inc; 2004.

Jurnal Kedokteran Brawijaya, Vol. 28, No. 2, Agustus 2014

Beri Nilai