Anda di halaman 1dari 22

LEMBAR PENGESAHAN

Telah diperiksa dan disetujui untuk Dipresentasikan Kepada Teman-


Teman Mahasiswa Program S1 Keperawatan Semester III-A Stikes
Muhammadiyah Lamongan, dengan judul ASUHAN KEPERAWATAN
TRAUMA TELINGA

`
Lamongan, November 2013

Mengetahui
Dosen Pembimbing

Dadang Kusbiantoro, S.Kep,Ns.M.Si


NIK. 1980.06.07.2005.09.1.14
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Alah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Sistem sensori
dan persepsi. Dalam makalah ini kami membahas tentang Konsep Asuhan
Keperawatan Trauma Telinga.
Dalam menyusun makalah ini penulis banyak mendapat bimbingan serta
motivasi dari beberapa pihak, oleh karenanya kami mengucapkan Alhamdulillah
dan terima kasih kepada:
1. Bapak Drs.H.Budi Utomo, Amd,Kep,M.Kes, selaku ketua STIKES
Muhammadiyah Lamongan.
2. Bapak Arifal Aris S.Kep, Ns, M.Kes, selaku Kaprodi S-1 Keperawatan
3. Bapak Dadang Kusbiantoro, S.kep,Ns.M.Si selaku Dosen Pembimbing
4. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis membuka
diri untuk menerima berbagai masukan dan kritikan dari semua pihak. Penulis
berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca
khususnya.

Lamongan, November 2013

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 1
C. Tujuan ............................................................................................ 2
BAB II : TINJAUAN TEORI
A. Anatomi fisiologi........................................................................... 3
B. Pengertian ...................................................................................... 5
C. Etiologi. ......................................................................................... 8
D. Menifestasi Klinis ......................................................................... 8
E. Komplikasi .................................................................................... 9
F. Patofisiologi .................................................................................. 9
G. Pathway ......................................................................................... 10
H. Pemeriksaan Penunjang................................................................. 11
I. Penatalaksanaan ........................................................................... 12
J. Pencegahan .................................................................................... 12
BAB III : ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian ..................................................................................... 13
B. Diagnosa Keperawatan .................................................................. 15
C. Rencana Keperawatan ................................................................... 15
BAB 4 : PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................... 18
B. Saran. ............................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 19

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Telinga mempunyai reseptor khusus untuk mengenali getaran bunyi
dan untuk keseimbangan. Ada tiga bagian utama dari telinga manusia, yaitu
bagian telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar berfungsi
menangkap getaran bunyi, dan telinga tengah meneruskan getaran dari telinga
luar ke telinga dalam. Reseptor yang ada pada telinga dalam akan menerima
rarigsang bunyi dan mengirimkannya berupa impuls ke otak untuk diolah.
Telinga mempunyai reseptor khusus untuk mengenali getaran bunyi dan
untuk keseimbangan. Ada tiga bagian utama dari telinga manusia, yaitu
bagian telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar berfungsi
menangkap getaran bunyi, dan telinga tengah meneruskan getaran dari telinga
luar ke telinga dalam. Reseptor yang ada pada telinga dalam akan menerima
rarigsang bunyi dan mengirimkannya berupa impuls ke otak untuk diolah.
Benda asing merupakan benda yang berasal dari luar tubuh atau dari
dalam tubuh yang dalam keadaan normal tidak ada. Telinga sering
kemasukan benda asing. Kejadian tersebut kejadian tersebut banyak
penyebabnya, pada orang dewasa biasanya dengan mencoba membersihkan
kanalis eksternus atau mengurangi gatal atau pada anak-anak yang dengan
sengaja memasukkan benda tersebut ke dalam telinganya sendiri.benda asing
di telinga dapat memiliki efek atau tidak. Bisa tanpa gejala sampai dengan
gejala nyeri berat sampai dengan terjadinya penurunan pendengaran.
Kejadian tersebut terkadang dianggap remeh oleh penderita atau keluarganya.

B. Rumusan Masalah
a. Apa pengertianTrauma telinga ?
b. Apa saja macam trauma telinga ?
c. Apa etiologi Trauma telinga ?
d. Apa saja menifestasi klinis dari Trauma telinga ?
e. Apa komplikasi Trauma telinga ?

1
f. Bagaimana patofisiologi Trauma telinga ?
g. Apa saja pemeriksaan penunjang Trauma telinga ?
h. Bagaimana pencegahan dan penatalaksanaan dari Trauma telinga ?
i. Bagaimana konsep asuhan keperawatan Trauma telinga ?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa diharapkan dapat melakukan asuhan keperawatan pada klien
dengan gangguan Trauma telinga
2. Tujuan khusus
Secara khusus ''Asuhan Keperawatan Klien dengan Trauma telinga'', ini
disusun supaya :
a. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian Trauma telinga
b. Mahasiswa dapat mengetahui macam-macam trauma telinga
c. Mahasiswa dapat mengetahui etiologi Trauma telinga
d. Mahasiswa dapat mengetahui menifestasi klinis dari Trauma
telinga
e. Mahasiswa dapat mengetahui komplikasi Trauma telinga
f. Mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi Trauma telinga
g. Mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan penunjang Trauma
telinga
h. Mahasiswa dapat mengetahui pencegahan dan penatalaksanaan dari
Trauma telinga
i. Mahasiswa dapat mengetahui konsep asuhan keperawatan Trauma
telinga

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Anatomi fisiologi
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan
kompleks (pendengaran dan keseimbangan) . Indera pendengaran berperan
penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan
kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada
kemampuan mendengar.
Telinga dibagi menjadi 3 yaitu :
1. Telinga luar: terdiri dari daun telinga dan liang telinga luar kecuali lobuli,
seluruh daun telinga tersusun dari kartilago yang elastis. Batas-batas liang
telinga luar adalah lobus temporalis otak di superior, mastoid di posterior,
sendi temporomandibularis dan kelenjar parotis di anterior, serta membran
tipani di medial. Dan terdiri dari daun telinga (aurikula), liang telinga
(meatus akustikus), selsaput gendang telinga (membran timpani).
(Syaifuddin,2006)

AURICLE
Helix

Crus Helix

Anthelix Tragus

Concha

External Lobulus
Helix Auditory
Meatus

Gambar 2.1

3
2. Telinga tengah : ruang berisi udara dengan dinding tulang, kecuali untuk
membran timpani disebelah lateral. Ruang telinga tengah membuka di arah
postero superior melalui aditus ad antrum menuju ke antrum mastoid, yang
merupakan ruang terbesar di sel-sel mastoid (Syaifuddin,2006)

Gambar 2.2
3. Telinga bagian dalam : telinga bagian tengah terletak pada bagian tulang
keras pilorus temporalis, terdapat reseptor pendengaran, dan alat
pendengaran ini disebut labirin dan terdiri dari vestibulum, koklea,dan
kanalis semisirkularis. (Syaifuddin,2006)

SKEMA LABIRIN

4
Gambar 2.3
B. Pengertian
Dilihat dari tinjauan umum keluhan-keluhan yang mengarah pada
peenyakittelinga relatif sedikit, dan terdiri dari : perubahan ketajaman
pendengaran, nyeri, dll. Pemeriksaan yang dapat dilakukan mencakup :
inspeksi anatomi telinga, pemeriksaan otoskopik, pemeriksaan ketajaman
pendegaran, dan apa bila perlu dilakukan pemeriksaan weber, rinne, dan
scwabach untuk menentukan gangguan- gangguan pendengaran (Burnside,
john W. 1995)
Trauma telinga umumnya disebabkan oleh pukulan pada pinna yaang
dapat menyebabkaan timbulnya hematom, laserasi, frostbitea. (Harnold,
Ludman MB 1996)
Trauma telinga menimbulkan peradangan dan nyeri pada telinga dapat
dilihat dengan melakukan inspeksi telinga bagian luar dan gendang telinga
(membran timpani), cedera yang terjadi pada daun telinga disebut dengan
(pinna/aurikula),dan trauma telinga dapat menimbulkan perikonditis daun
telinga. (Harnold, Ludman MB 1996)
Trauma pada membran timpani disebabkan oleh tamparan, ledakan
(barotrauma), menyelam yang terlalu dalam, luka bakar ataupun tertusuk.
Akibatnya timbul gangguan pendengaran berupa tuli konduktif karena
robeknya membran timpani atau terganggunya rangkaian tulang pendengaran,
yang terkadang disertai tinitus. (Harnold, Ludman MB 1996)
Dari definisi diatas maka dapat digolongkan jenis-jenis trauma telinga
adalah sebagai berikut :
1. Trauma telinga bagian luar
a) Laserasi
merupakan luka pendarahan yang disebabkan oleh mengorek-
ngorek telinga. atau laserasi pada dinding kanalis dapat menyebabkan
perdarahan sementara dan dapat terjadi perobekan pada gendang
telinga.

5
Gambar 2.4
b) Frostbitea
Sengatan pada suhu yang dingin pada aurikula timbul dengan cepat
pada lingkungan bersuhu rendah dengan angin dingin yang kuat.
Sehingga mengalami Vasokontriksi hebat pembuluh darah telinga
bagian luar yang diikuti priode dilatasi yang berlangsung lebih lama.
c) Hematoma
Gumpalan darah yang diakibatkan oleh luka dalam yang sering terjadi
pada petinju dan pegulat. Jika terjadi penimbunan darah di daerah
yang cedera tersebut, maka akan terjadi perubahan bentuk telinga luar
dan tampak massa berwarna ungu kemerahan.Darah yang tertimbun
ini (hematoma) bisa menyebabkan terputusnya aliran darah ke
kartilago sehingga terjadi perubahan bentuk telinga.Kelainan bentuk
ini disebut telinga bunga kol,

Gambar 2.5

6
2. Trauma Telinga Bagian Tengah
Trauma pada telinga tengah biasanya disertai dengan sakit telinga
dan kadang-kadang juga disertai dengan pendarahan dari telinga,
gangguan pendengaran, dan kelemahan wajah ipsilateral, dengan isthmus
sempit, membantu untuk melindungi dari cedera langsung .Fungsi
laindari tuba eustachius juga membantu untuk mencegah pecahnya TM
dari perubahan tekanan berlebih. Ketika mekanisme pelindung gagal,
atau kekuatan ekstrem terjadi pada telinga atau kepala, perforasi
traumatis dari TM dapat terjadi, biasanya terjadi di bagian tengah,
ledakan, tekanan perubahan dari udara atau air, atau akibat dari trauma
kepala dengan atau tanpa fraktur tulang temporal.

Gambar 2.6

3. Trauma Telinga Bagian Dalam


Organ yang sangat sensitif di dalam telinga adalah organ
pendengaran (koklea) dan keseimbangan (Reseptor otolithic dan kanal
berbentuk setengah lingkaran) yang terletak dalam bagian dari tulang
temporal, dikelilingi oleh tulang padat dikenal sebagai kapsul otic.
Meskipun perlindungan yang baik dari tulang dalam tubuh manusia,
unsur-unsur telinga dalam yang rapuh,rentan terhadap trauma kepala baik
longitudinal atau transversal yang menyebabkan fraktur.Seorang pasien
dengan riwayat trauma kepala, menunjukkan pendarahan dari telinga,
mengalamigangguan pendengaran konduktif, dan kelainan bentuk
membran timpani yang diperiksa dengan menggunakan otoscopy

7
C. Etiologi
Menurut Adam, Georgle L.1997 penyebab truma telinga antara lain, yaitu :
a. Faktor kesengajaan, biasanya terjadi pada anak-anak balita.
b. Faktor kecerobohan sering terjadi pada orang dewasa sewaktu
menggunakan alat-alat pembersih telinga misalnya kapas, tangkai korek
api atau lidi yang tertinggal di dalam telinga
c. Faktor kebetulan terjadi tanpa sengaja dimana benda asing masuk
kedalam telinga contoh masuknya serangga, kecoa, lalat dan nyamuk

D. Manifestasi Klinis
Efek dari trauma tersebut tersebut ke adalah dapat berkisar dari tanpa
gejala sampai dengan gejala nyeri berat dan adanya penurunan pendengaran.
Trauma liang telinga umumnya disebabkan oleh kesalahan sewaktu
membersihkan telinga dengan cotton bud atau alat pembersih telinga lainnya.
Akibatnya terjadi luka atau hematoma pada kulit liang telinga.
a. Merasa tidak enak ditelinga :
Karena benda asing yang masuk pada telinga, tentu saja membuat
telinga merasa tidak enak, dan banyak orang yang malah membersihkan
telinganya, padahal membersihkan akan mendoraong benda asing yang
mauk kedalam menjadi masuk lagi.
b. Tersumbat
Karena terdapat benda asing yang masuk kedalam liang telinga, tentu
saja membuat telinga terasa tersumbat.
c. Pendengaran terganggu
Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran.
Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran
timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga
tengah.
d. Rasa nyeri telinga (otalgia)
Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan
pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau
ancaman pembentukan abses otak.(Adam, Georgle L.1997)

8
E. Komplikasi
Akibat Trauma telinga yaitu akan terjadi komplikasi, yaitu tulang
rawan hancur dan menciut serta keriput, sehingga terjadi telinga lisut
(cauliflower ear).(Helmi Sosialisman dkk,2004)

F. Patofisiologi
Menurut Adam, Georgle L.1997 patofisiologinya sebagai berikut :
a. Trauma liang telinga umumnya disebabkan oleh kesalahan sewaktu
membersihkan telinga dengan cotton bud atau alat pembersih telinga
lainnya. Akibatnya terjadi luka atau hematoma pada kulit liang telinga.
b. Benda asing yang masuk ke telinga biasanya disebabkan oleh beberapa
factor antara lain pada anak anak yaitu factor kesengajaan dari anak
tersebut, factor kecerobohan misalnya menggunakan alat-alat pembersih
telinga pada orang dewasa seperti kapas, korek api ataupun lidi.
c. Masuknya benda asing ke dalam telinga yaitu ke bagian kanalis
audiotorius eksternus akan menimbulkan perasaaan tersumbat pada
telinga, sehingga klien akan berusaha mengeluarkan benda asing tersebut.
Namun, tindakan yang klien lakukan untuk mengeluarkan benda asing
tersebut sering kali berakibat semakin terdorongnya benda tersebut ke
bagian tulang kanalis eksternus sehingga menyebabkan laserasi kulit dan
melukai membrane timpani. Akibat dari laserasi kulit dan lukanya
membrane timpanai, akan menyebabkan gangguan pendengaran , rasa
nyeri telinga atau otalgia dan kemungkinan adanya risiko terjadinya
infeksi.

9
G. Pathway

Invasi bakteri

Infeksi Telinga
Tengah

Peningkatan Tekanan Pengobatan tak


Proses
produksi cairan udara telinga tuntas , episode
peradangan serosa tengah berulang

Nyeri Akumulasi Retraksi Infeksi berlanjut


cairan mukus membran dpt sampai
dan cairan serosa timpani telinga dalam

Hantaran suara
udara yg di
terima menurun
Terjadi erosi Tindakan
pada kanalis mastoidektomi
semisirkularis
Gangguan
persepsi sensori

Resiko Resiko
Injuri infeksi

10
H. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan dengan Otoskopik (Burniside, John W. 1995)
Mekanisme :
- Bersihkan serumen
- Lihat kanalis dan membran timpani
Interpretasi :
- Warna kemerahan, bau busuk dan bengkak menandakan adanya infeksi
- Warna kebiruan dan kerucut menandakan adanya tumpukan darah
dibelakang gendang.
- Kemungkinan gendang mengalami robekan.
b. Pemeriksaan Ketajaman
Test penyaringan sederhana
- Lepaskan semua alat bantu dengar
- Uji satu telinga secara bergiliran dengan cara tutup salah satu telinga
- Berdirilah dengan jarak 30 cm
- Tarik nafas dan bisikan angka secara acak (tutup mulut)
- Untuk nada frekuensi tinggi: lakukan dgn suara jam
c. Uji Ketajaman Dengan Garpu Tala
Uji weber (Adams, George L. 1997)
- Menguji hantaran tulang (tuli konduksi)
- Pegang tangkai garpu tala, pukulkan pada telapak tangan
- Letakan tangkai garpu tala pada puncak kepala pasien
- Tanyakan pada pasien, letak suara dan sisi yang paling keras.
Uji Rine (Adams, George L. 1997)
- Menguji pada meatus dan processus mastoid
- Pegang tangkai garpu tala, pukulkan pada telapak tangan
- Letakkan garpu tala pada tulang mastoid kemudian letakkan pada
meatus eksterna
- Tanyakan pada pasien frekuensi suara paling lama
Uji scwabach (Adams, George L. 1997)
Membandingkan daya transport melalui tulang antara pemeriksa dan
penderita

11
I. Penatalaksanaan Medis
Menurut Iskandar N. 2004 penata laksanaan yang dapat dilakukan
pada penderita trauma telinga antara lain :
a. Pasien diistirahatkan duduk atau berbaring
b. Atasi keadaan kritis (tranfusi, oksigen, dan sebagainya)
c. Bersihkan luka dari kotoran dan dilakukan debridement,lalu hentikan
perdarahan
d. Pasang tampon steril yang dibasahi antiseptik atau salep antibiotik.
e. Periksa tanda-tanda vital
f. Pemeriksaan otoskopi secara steril dan dengan penerangan yang baik,
bila mungkin dengan bantuan mikroskop bedah atau loup untuk
mengetahui lokasi lesi.
g. Pemeriksaan radiology bila ada tanda fraktur tulang temporal. Bila
mungkin langsung dengan pemeriksaan CT scan.

J. Pencegahan
Higienisitas yang baik seperti mencuci tangan secara teratur, dapat
mencegah terjadinya infeksi aurikula, pasien dilarang menyentuh telinganya
dan kuku harus dipotong pendek. (Helmi Sosialisman dkk,2004)

12
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
a. Biodata :
a) Identitas klien meliputi nama, umur, agama, jenis kelamin,
pendidikan, alamat, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian,
nomor register, dandiagnosa medis.
b) Identitas orang tua yang terdiri dari : Nama Ayah dan Ibu, usia,
pendidikan, pekerjaan/sumber penghasilan, agama, dan alamat.
c) Identitas saudara kandung meliputi nama, usia, jenis kelamin,
hubungandengan klien, dan status kesehatan.
b. Riwayat Kesehatan
a) Keluhan utama
Biasanya klien mengeluh adanya nyeri, apalagi jika daun telinga
disentuh.
b) Riwayat penyakit sekarang
Biasanya penderita merasa sakit pada telinga dan didalam telinga
terasa penuh karena adanya penumpukan serumen atau disertai
pembengkakan. Terjadi gangguan pendengaran dan kadang-kadang
disertai demam.Telinga juga terasa gatal.
c) Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan pada klien dan keluarganya:
1) Apakah klien dahulu pernah menderita sakit seperti ini?
2) Apakah sebelumnya pernah menderita penyakit lain, seperti panas
tinggi,kejang?
3) Apakah klien sering mengorek-ngorek telinga dengan benda asing
yangdapat mengakibatkan lesi (luka)?
4) Bagaima klien mengobati luka tersebut pada telinga?
5) Apakah pernah menggunakan obat tetes telinga atau salep?
6) Apakah pernah keluar cairan dari dalam telinga?
7) Bagaimana karakteristik dari cairannya (warna, bentuk, dan bau)?

13
d) Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada salah satu keluarga yang mengalami sakit telinga.
c. Pola Fungsi Kesehatan
a) Pola istirahat dan tidur
Nyeri yang diderita klien dapat mengakibatkan pola istirahat dan
tidurnyaterganggu.
b) Pola aktivitas
Nyeri yang dialami klien dapat membatasi gerak.
d. Pemeriksaan Anamnesis.
Otoskopi terlihat adanya trauma
e. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Inspeksi keadaan umum telinga, pembengkakan pada MAE
(meatusauditorius eksterna) perhatikan adanya cairan atau bau, warna kulit
telinga, penumpukan serumen, tonjolan yang nyeri dan berbentuk halus,
serta adanya peradangan.
Palpasi
Palpasi, Lakukan penekanan ringan pada daun telinga, jika terjadi respon
nyeridari klien, maka dapat dipastikan klien menderita otitis
eksternasirkumskripta (furunkel).
f. Pemeriksaan Fungsional Gordon
1) Pola persepsi & pemeliharaan kesehatan
Takut dan cemas apabila penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Dan
keluarga mengatakan merupakan hal yang penting
2) Pola nutrisi metabolic
Selama sakit klien mengalami penurunan nafsu makan
3) Pola eliminasi
BAB dan BAK tidak ada perubahan.
4) Pola aktivitas
Saat beraktifitas/ bergerak timbul rasa nyeri pada bagian telinga.
5) Pola istirahat tidur
Saat tidur, cenderung menghindari bagian yang sakit (kepala miring).

14
6) Pola persepsi sensori kognitif
Klien berespons kesakitan saat daun telinganya disentuh.
P : biasanya merasa sakit saat disentuh
Q : biasanyaa nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk
R : biasanya nyeri didaerah sekitar telinga
S : biasanya nyeri sedang smpai berat (5)
T : biasanya nyeri terasa intermitten (saat disentuh)
7) Pola hubungan dengan orang lain
Interaksi dengan orang lain berkurang oleh karena pendengarannya
berkurang dan merasa malu akan kondisinya.
8) Pola reproduksi/ seksual
Bisa terjadi pada perempuan dan laki-laki
9) Pola persepsi diri dan konsep diri
Merasa sedih dan malu oleh karena pendengarannya yang berkurang

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri b/d trauma dan proses inflamasi
2. Gangguan persepsi sensori: pendengaran b/d adanya benjolan atau furunke
3. Risiko infeksi b.d. laserasi kulit dan trauma membran timpani

C. Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria
No Dx Intervensi Rasional
hasil
1 Nyeri b/d Setelah diberikan O: Observasi 1.Memberikan
trauma dan tindakan keluhan nyeri, informasi
proses keperawatan perhatikan lokasi sebagai dasar
inflamasi selama 1X24 jam atau karakter dan dan
diharapkan rasa intensitas skala pengawasaan
nyeri pasien dapat nyeri (0-5) intervensi
berkurang/ hilang
Kriteria Hasil : 2. Pernyataan
K :Klien dapat N : Gunakan teknik memungkinkan
mengetahui komunikasi mengungkapkan
penyebab nyeri terapeutik untuk emosi dan dapat
A :Klien dapat mengetahui meningkatkan
mengetahui pengalaman nyeri mekanisme
bagaimana cara pasien koping
untuk

15
menggurangi E : Ajarkan tehnik 3. Membantu
rasa nyeri relaksasi klien untuk
P : Klien dapat progresif, nafas mengurangi
mengatur atau dalam guided persepsi nyeri
meminimalkan imagery. atau
gerakan agar mangalihkan
tidak timbul perhatian klien
rasa nyeri dari nyeri.
P : Klien terlihat
nyaman, dapat C : Berikan obat 4. Membantu
tidur/ istirahat, analgesik sesuai mengurangi
dan nyeri indikasi nyeri
berkurang ,skala
( 0-1)
2 Gangguan Tujuan : Setelah O: Observasi 1.Mengetahui
persepsi diberikan tindakan ketajaman tingkat
sensori: keperawatan pendengaran, ketajaman
pendengaran selama 1X24 jam catat apakah pendengaran
b/d adanya diharapkan kedua telinga pasien dan
benjolan ketajaman terlibat. untuk
atau furunke pendengaran klien menentukan
meningkat intervensi
Kriteria Hasil : selanjutnya.
K : Klien dapat
mengetahui N: Berikan 2.Membantu
penyebab lingkungan yang untuk
gangguan tenang dan tidak menghindari
pendengarannya kacau, jika masukan
A :Klien dapat diperlukan seperti sensori
mengetahui musik lembut. pendengaran
bagaimana cara yang berlebihan
mengurangi dengan
atau mengutamakan
menghilangkan kualitas tenang.
penyebab
gangguan E: Anjurkan pasien 3.Mematuhi
pendengarannya dan keluarganya program terapi
P : Klien mampu untuk mematuhi akan
melakukan cara program terapi mempercepat
untuk yang diberikan proses
mengurangi penyembuhan.
gangguan
pendegaran C: Kolaborasi 4. Menentukan
P : Pasien dapat dengan ahli THT jenis
mendengar dalam pengobatan dan
dengan baik memberikan terapi yang bias
tanpa alat bantu terapi atau diberikan
pendengaran, pengobatan

16
mampu
menentukan
letak suara dan
sisi paling keras
dari garputala,
membedakan
suara jam
dengan gesekan
tangan

3 Risiko Tujuan : Setelah O: Observasi adanya 1. Mengetahui


infeksi b.d. diberikan tindakan tanda-tanda tanda-tanda
laserasi kulit keperawatan terjadinya infeksi terjadinya
dan trauma selama 1X24 jam (kalor, infeksi dan
membran diharapkan dolor, rubor, indicator dalam
timpani kecemasan dapat tumor dan melakukan
teratasi fungsiolesa). intervensi
Kriteria Hasil : selanjutnya
K :klien dapat
mengetahui N: Pertahankan 2. Tindakan
tentang tehnik aseptik aseptik saat
penyebab resiko dalam melakukan merupakan
infeksi tindakan tindakan
A :klien dapat preventif
mengetahui terhadap
bagaimana cara kemungkinan
mencegah terjadi infeksi.
infeksi Menurunkan
P : klien mampu
melakukan cara E : menanjurkan 3. Menjaga
untuk untuk mencuci kebersihan
mengurangi tangan sebelum dapat
resiko infeksi dan sesudah mengurangi
P : tidak adanya melakukan resiko
resiko terhadap aktivitas terjadinya
infeksi infeksi

C: Kolaborasi: 4. Kolonisasi
Berikan bakteri atau
antibiotika sesuai jamur dan
indikasi menurunkan
risiko infeksi

17
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks
(pendengaran dan keseimbangan) . Indera pendengaran berperan penting pada
partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting
untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan
berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan
mendengar.
Trauma telinga adalah kompleks, sebagai agen berbahaya yang berbeda
dapat mempengaruhi berbagai bagian telinga. Para agen penyebab trauma
telinga termasuk faktor mekanik dan termal, cedera kimia, dan perubahan
tekanan. Tergantung pada jenis trauma, baik eksternal, tengah, dan / atau
telinga bagian dalam bisa terluka.

B. Saran
Mahasiswa harus mampu memahami mengenai pengertian, penyebab,
penatalaksanaan prikondritis, agar dalam menjalankan proses keperawatan
dapat membuat intervensi dan menjalankan implementasi dengan tepat
sehingga mencapai evaluasi dan tingkat kesembuhan yang maksimal pada
klien perikondritis. Selain itu Mahasiswa juga dapat memperbanyak ilmu
dengan mengunjungi seminar dan membaca dari berbagai sumber.

18
DAFTAR PUSTAKA

Adams, Georgle L. 1997. Boies fundamentals otolaryngology. Jakarta : ECG

Burnside, John W. 1995. Diagnosis fisik. Jakarta : ECG

Harold, Ludman MB. 1996. Petunjuk penting pada penyakit THT. Jakarta : ECG

Iskandar N. 2004. Buku Ajar Ilmu KesehatanTelinga-Hidung-Tenggorok Kepala


Leher.Edisi 5. Jakarta : FKUI;.P.45.

Sosialisman, Helmi.2004. KelainanTelingaLuar. Jakarta : EGC

Syaifudin.2006. Anatomi dan fisiologi edisi 3. Jakarta : ECG

19