Anda di halaman 1dari 24

Case Report Session

HORDEOLUM

OLEH :
Sari Mulyani 1010313092
Ilyan Nasti Januari 1110313037
Chris Riyandi Putra 06120123

PRESEPTOR:
dr. Rahmy Dyanovani
dr. Weni Fitria Nazulis
dr. Dear Floweri

KEPANITERAAN KLINIK ROTASI DUA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PUSKESMAS BELIMBING
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kelopak mata adalah bagian yang sangat penting. Kelopak mata berfungsi

melindungi bola mata serta mengeluarkan sekresi kelenjar yang membentuk film

air mata di depan kornea. Penutupan kelopak mata berguna untuk menyalurkan air

mata ke seluruh permukaan mata dan memompa air mata ke seluruh permukaan

mata serta memompa air mata melalui punctum lakrimalis. Kelainan yang didapat

pada kelopak mata bermacam-macam, mulai dari tumor jinak sampai keganasan,

proses inflamasi, infeksi, maupun masalah struktur seperti ektropion, entropion

dan blefaroptosis.1

Hordeolum merupakan infeksi lokal atau inflamasi tepi kelopak mata yang

melibatkan glandula Zeiss atau Moll (hordeolum eksterna) dan glandula meibom

(hordeolum internal). Umumnya ditandai oleh pembengkakan setempat tidak

terasa sakit dan berkembang dalam beberapa minggu. Hordeolum biasanya

disebabkan oleh infeksi bakteri stafilokokus pada glandula Zeiss, Moll, atau

meibom.2

1.2. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk lebih mendalami kasus

hordeolum yang sering ditemui di Puskesmas.

1.3. Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan laporan kasus ini adalah sebagai bahan pertimbangan dan

acuan dalam mengidentifikasi dan penatalaksanaan hordeolum di Puskesmas.

1
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Palpebra

Palpebra adalah lipatan tipis yang terdiri dari kulit, otot, dan jaringan fibrosa,

yang berfungsi melindungi struktur-struktur mata yang rentan. Palpebra superior

dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat menutup dan melindungi

bola mata bagian anterior. Berkedip melindungi kornea dan konjungtiva dari

dehidrasi. Palpebra superior berakhir pada alis mata; palpebra inferior menyatu

dengan pipi.

Palpebra terdiri atas lima bidang jaringan utama. Dari superfisial ke dalam

terdapat lapis kulit, lapis otot rangka (orbikularis okuli), jaringan areolar, jaringan

fibrosa (tarsus), dan lapis membran mukosa (konjungtiva palpebra)1.

Struktur palpebra :

1. Lapisan Kulit

Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena tipis, longgar,

dan elastis, dengan sedikit folikel rambut, tanpa lemak subkutan.

2. Musculus Orbikularis Okuli

Fungsi otot ini adalah untuk menutup palpebra. Serat ottnya mengelilingi

fissura palpebra secara konsentris dan meluas sedikit melewati tepian orbita.

Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi. Bagian otot yang terdapat di dalam

palpebra dikenal sebagai bagian pratarsal; bagian diatas septum orbitae adalah

2
bagian praseptal. Segmen luar palpebra disebut bagian orbita. Orbikularis okuli

dipersarafi oleh nervus facialis.

3. Jaringan Areolar

Terdapat di bawah musculus orbikularis okuli, berhubungan dengan lapis

subaponeurotik dari kulit kepala.

4. Tarsus

Struktur penyokong utama dari palpebra adalah lapi jaringan fibrosa padat

yang disebut tarsus superior dan inferior. Tarsus terdiri atas jaringan penyokong

kelopak mata dengan kelenjar Meibom (40 buah di kelopak atas dan 20 buah di

kelopak bawah).

5. Konjungtiva Palpebra

Bagian posterior palpebra dilapisi selapis membran mukosa, konjungtiva

palpebra, yang melekat erat pada tarsus.

Gambar 2.1 Anatomi Palpebra

3
Gambar 2.2 Palpebra Normal

2.1.1. Tepian Palpebra

Panjang palpebra adalah 25-30mm dan lebarnya 2mm. Tepian ini dipisahkan

oleh garis kelabu (batas mukokutan) menjadi tepian anterior dan posterior.3

1. Tepian anterior

Tepian anterior terdiri dari bulu mata, glandula Zeiss dan Moll. Glandula

Zeiss adalah modifikasi kelenjar sebasea kecil yang bermuara dalam folikel

rambut pada dasar bulu mata.glandula Moll adalah modifikasi kelenjar keringat

yang bermuara ke dalam satu baris dekat bulu mata.

2. Tepian posterior

Tepian posterior berkontak dengan bola mata, dan sepanjang tepian ini

terdapat muara-muara kecil dari kelenjar sebasea yang telah dimodifikasi

(glandula Meibom atau tarsal).

4
3. Punktum lakrimal

Terletak pada ujung medial dari tepian posterior palpebra. Punktum inu

terfungsi menghantarkan air mata ke bawah melalui kanalikulus terkait ke sakus

lakrimalis.

2.1.2. Fisura Palpebra

Fisura palpebrae adalah ruang elips diantara kedua palpebra yang terbuka.

Fisura ini berakhir di kanthus medialis dan lateralis. Kanthus lateralis kira-kira 0,5

cm dari tepian lateral orbita dan membentuk sudut tajam. Kanthus medialis lebih

elips dari kanthus lateralis dan mengelilingi lakus lakrimalis. Lakus lakrimalis

terdiri atas dua buah struktur yaitu karunkula lakrimalis, peninggian kekuningan

dari modifikasi kulit yang mengandung modifikasi kelenjar keringat dan kelenjar

sebasea sebesar-besar yang bermuara ke dalam folikel yang mengandung rmbut-

rambut halus dan plica seminularis.3

2.1.3. Septum Orbitale

Septum orbitale adalah fascia di belakang bagian muskularis orbikularis yang

terletak di antara tepian orbita dan tarsus dan berfungsi sebagai sawar antara

palpebra orbita. Septum orbitale superius menyatu dengan tendo dari levator

palpebra superior dan tarsus superior; septum orbilae inferius menyatu dengan

tarsus inferior.3,4

2.1.4. Refraktor Palpebra

Refraktor palpebrae berfungsi membuka palpebra. Di palpebra superior,

bagian otot rangka adalah levator palpebra superior, yang berasal dari apeks orbita

5
dan berjalan ke depan dan bercabang menjadi sebuah aponeurosis dan bagian

yang lebih dalam yang mengandung serat-serat otot polos dari muskulus Muller

(tarsalis superior). Di palpebra inferior, refraktor utama adalah muskulus rektus

inferior, yang menulurkan jaringan fibrosa untuk membungkus muskulus obliqus

inferior dan berinsersio ke dalam batas bawah tarsus inferior dan orbikularis okuli.

Otot polos dari refraktor palpebrae disarafi oleh nervus simpatis. Levator dan

muskulus rektus inferior dipasok oleh nervus okulomotoris.

Pembuluh darah yang memperdarahi palpebrae adalah a. Palpebra. Persarafan

sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal nervus V, sedang

kelopak mata bawah oleh cabang kedua nervus V (n. Trigeminus).4

Pada kelopak terdapat bagaian-bagian :

1. Kelenjar

a. Kelenjar sebasea

b. Kelenjar Moll atau kelenjar keringat

c. Kelenjar Zeiss pada pangkal rambut, berhubungan dengan folikel rambut

dan menghasilkan sebum

d. Kelenjar Meibom (kelenjar tarsalis) terdapat di dalam tarsus. Kelenjar ini

menghasilkan sebum (minyak).

2. Otot-otot palpebra

a. M. Orbikularis Okuli

Berjalan melingkar di dalam kelopak atas dan bawah, dan terletak di bawah

kuit kelopak. Pada dekat tepi margo palpebra terdapat otot orbikularis okuli

6
disebut sebagai M. Rioland. M. Orbikularis berfungsi menutup bola mata

yang dipersarafi N.fasialis.

b. M. Levator Palpebra

Berorigo pada anulus foramen orbbita dan berinsersi pada tarsus atas

dengan sebagian menembus M.orbikularis okuli menuju kulit kelopak

bagian tengah. Otot ini dipersarafi oleh N. III yang berfungsi untuk

mengangkat kelopak mata atau membuka mata.

Gerakan palpebra

1. Menutup

Kontraksi M. Orbikularis Okuli (N. VII) dan relaksasi M.Levator Palpebra

Superior. M, Rioland menahan bagian belakang palpebra terhadap dorongan

bola mata.

2. Membuka

Kontraksi M. Levator palpebra superior (N.III). M. Muller mempertahankan

mata agar tetap terbuka.3,4

2.2. Definisi

Hordeolum ( stye ) adalah infeksi atau peradangan pada kelenjar di tepi

kelopak mata bagian atas maupun bagian bawah yang disebabkan oleh bakteri,

biasanya oleh kuman Stafilokokus (Staphylococcus aureus). Hordeolum dapat

timbul pada 1 kelenjar kelopak mata atau lebih. Kelenjar kelopak mata tersebut

meliputi kelenjar Meibom, kelenjar Zeis dan Moll.Bila kelenjar Meibom yang

terkena, timbul pembengkakan besar yang disebut hordeolum interna. Sedangkan

hordeolum eksterna yang lebih kecil dan lebih superfisial adalah infeksi kelenjar

Zeiss atau Moll.3

7
Gambar 2.3 Glandula Zeis dan Meibom

2.2.1. Hordeolum Eksterna

Adalah infeksi kelenjar sebaceous dari Zeis di dasar bulu mata, atau infeksi

pada kelenjar keringat apokrin dari Moll. Hordeolum eksternum terbentuk pada

bagian luar palpebra dan dapat dilihat sebagai benjolan merah kecil.5

2.2.2. Hordeolum Interna

Adalah infeksi pada kelenjar sebaceous meibom yang melapisi bagian dalam

kelopak mata. Penyakit ini juga menyebabkan benjolan merah di bawah palpebra

(pada konjunctiva tarsalis) dan tampak dari luar sebagai bengkak dan kemerahan.

Hordeolum internum mirip dengan chalazia, tetapi cenderung lebih kecil dan lebih

menyakitkan dan biasanya tidak menghasilkan kerusakan permanen. Hordeolum

internum ditandai dengan onset akut dan biasanya pendek durasinya (7-10 hari

tanpa pengobatan) dibandingkan dengan chalazia yang kronis dan biasanya tidak

sembuh tanpa intervensi.6

Pada hordeolum eksternus benjolan ikut bergerak dengan pergerakan kulit,

benjolan menonjol ke arah kulit, dan bila mengalami supurasi benjolan memecah

sendiri ke arah kulit. Sedangkan pada hordeolum internus benjolan tidak ikut

8
bergerak dengan pergerakan kulit, benjolan menonjol ke arah konjungtiva dan

karena letaknya dalam tarsus jarang memecah sendiri.5,6

Gambar 2.4 Hordeolum Interna dan Hordeolum Eksterna

2.3. Etiologi

Staphylococcus aureus merupakan penyebab tersering dari hordeolum. Pasien

dengan blefaritis kronis, disfungsi kelenjar meibom, dan rosacea okular memiliki

risiko besar untuk mengalami hordeolum dibandingkan dengan populasi normal.7

2.4. Faktor Risiko8

1. Penyakit kronik.
2. Kesehatan atau daya tahan tubuh yang buruk.
3. Peradangan kelopak mata kronik, seperti blefaritis.
4. Diabetes.
5. Hiperlipidemia, termasuk hiperkolesterolemia
6. Penyakit hordeolum sebelumnya.
7. Higiene dan lingkungan yang tidak sehat.
8. Kondisi kulit seperti dermatitis seboroik.

9
2.5. Patofisiologi

Hordeolum biasanya diawali dengan meibomitis dengan penebalan dan sekresi

kelenjar yang stasis di dalamnya. Hal ini biasanya disebabkan oleh inspisasi atau

penumpukan substansi yang mengandung lemak pada orifisium-orifisium kelenjar

meibom atau Zeis. Sekresi kelenjar yang stasis menyebabkan kondisi yang

menguntungkan untuk pertumbuhan bakteri, biasanya Staphylococcus aureus.7

2.6. Manifestasi Klinis9

Gejala dan tanda yang dapat menyertai hordeolum yaitu:

1. Nyeri pada kelopak mata

2. Bengkak

3. Merah

4. Eritem

5. Terasa panas dan tidak nyaman.

6. Sakit bila ditekan

7. Ada rasa yang mengganjal

Stadium hordeolum meliputi:

a. Stadium infiltrat

Ditandai dengan kelopak mata bengkak, kemerahan, nyeri tekan dan

keluar sedikit kotoran.

b. Stadium supuratif

Ditandai dengan adanya benjolan yang berisis pus (core)

10
2.7. Diagnosis

Diagnosis klinis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.10


Anamnesis (Subjective)
Pasien datang dengan keluhan kelopak yang bengkak disertai rasa sakit.

Gejala utama hordeolum adalah kelopak yang bengkak dengan rasa sakit dan

mengganjal, merah dan nyeri bila ditekan, serta perasaan tidak nyaman dan

sensasi terbakar pada kelopak mata.10


Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pada pemeriksaan Fisik oftalmologis ditemukan kelopak mata bengkak,

merah, dan nyeri pada perabaan. Nanah dapat keluar dari pangkal rambut

(hordeolum eksternum). Apabila sudah terjadi abses dapat timbul undulasi.

Pemeriksaan penunjang tidak diperlukan.10

2.8. Diagnosis Banding11

Beberapa diagnosis banding untuk keluhan yang menyerupai keluhan


hordeolum adalah:
1. Xanthelasma
2. Blepharitis
3. Kista meibomian
4. Kalazion
5. Entropion
6. Ectropion

2.9. Komplikasi
Komplikasi hordeolum dapat berupa mata kering, simblefaron, abses, atau
selulitis palpebra yang merupakan radang jaringan ikat palpebra di depan septum
orbita dan abses palpebra.10

2.10.Tatalaksana Komprehensif

11
1. Promotif

Penyakit hordeolum dapat berulang sehingga perlu diberitahu pasien dan

keluarga untuk menjaga hygiene dan kebersihan lingkungan.10

2. Preventif10

- Jaga kebersihan wajah dan membiasakan mencuci tangan sebelum

menyentuh wajah agar hordeolum tidak mudah berulang.

- Usap kelopak mata dengan lembut menggunakan washlap hangat untuk

membersihkan ekskresi kelenjar lemak.

- Jaga kebersihan peralatan make-up mata agar tidak terkontaminasi oleh

kuman.

- Gunakan kacamata pelindung jika bepergian di daerah berdebu.

3. Kuratif

Nonmedikamentosa10,12

1. Kompres hangat 4-6 kali sehari selama 15 menit tiap kalinya untuk

membantu drainase. Lakukan dengan mata tertutup.

2. Bersihkan kelopak mata dengan air bersih atau pun dengan sabun atau

sampo yang tidak menimbulkan iritasi, seperti sabun bayi. Hal ini dapat

mempercepat proses penyembuhan. Lakukan dengan mata tertutup.

3. Jangan menekan atau menusuk hordeolum, hal ini dapat menimbulkan

infeksi yang lebih serius.

4. Hindari pemakaian makeup pada mata, karena kemungkinan hal itu

menjadi penyebab infeksi.

5. Jangan memakai lensa kontak karena dapat menyebarkan infeksi ke

kornea.

12
Medikamentosa10,12

- Pemberian terapi topikal dengan Oxytetrasiklin salep mata atau

kloramfenikol salep mata setiap 8 jam. Apabila menggunakan

kloramfenikol tetes mata sebanyak 1 tetes tiap 2 jam.

- Pemberian terapi oral sistemik dengan Eritromisin 500 mg pada dewasa

dan anak sesuai dengan berat badan atau Dikloksasilin 4 kali sehari selama

3 hari.

Pembedahan4

Bila dengan pengobatan konservatif tidak berespon dengan baik, maka

prosedur pembedahan mungkin diperlukan untuk membuat drainase pada

hordeolum.Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi topikal

dengan pantokain tetes mata. Dilakukan anestesi filtrasi dengan prokain atau

lidokain di daerah hordeolum dan dilakukan insisi yang bila:

- Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus

pada margo palpebra.

- Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra.

Setelah dilakukan insisi, dilakukan ekskohleasi atau kuretase seluruh isi jaringan

meradang di dalam kantongnya dan kemudian diberikan salep antibiotik.

13
Gambar 2.5 Teknik Pembedahan Hordeolum

3.Rehabilitatif

2.11.Prognosis10

1. Ad vitam : Bonam

2. Ad functionam : Bonam

3. Ad sanationam : Bonam

14
BAB II

LAPORAN KASUS

STATUS PASIEN

1. Identitas Pasien

a. Nama / Jenis Kelamin / Umur : N/ Perempuan / 35 tahun

b. Alamat : Sungai Sapiah No.5

2. Latar Belakang Sosial-Ekonomi-Demografi-Lingkungan keluarga

a. Status Ekonomi Keluarga : Berasal dari golongan ekonomi

menengah

b. Kondisi Rumah :

- Rumah permanen, lantai semen, terdiri dari ruang tamu, 2

kamar tidur, dapur, dan kamar mandi, dengan perkarangan

kecil.

- Ventilasi dan pencahayaan baik

- Listrik ada

- Sumber air : air sumur, air minum : air galon

- WC berjumlah 1 buah di dalam kamar mandi, kamar mandi di

dalam rumah, septic tank ada

- Sampah dibuang di tempat pembuangan sampah

c. Kondisi Lingkungan Keluarga

- Jumlah penghuni 4 orang: pasien, suami pasien, dan dua orang

anak pasien

- Pasien tinggal di lingkungan yang cukup padat penduduk.

15
3. Aspek Psikologis di Keluarga

Hubungan di dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya baik.

4. Keluhan Utama

Benjolan pada kelopak bawah mata kanan yang terasa nyeri sejak 1

minggu yang lalu

5. Riwayat Penyakit Sekarang

- Benjolan pada kelopak bawah mata kanan sejak 1 minggu yang lalu.

Benjolan kira-kira sebesar biji jagung. Awalnya mata kanan pasien

terkena debu lalu pasien menggosok-gosok matanya. Beberapa hari

kemudian muncul benjolan kecil kemerahan semakin lama semakin

besar dan terasa nyeri sehingga kelopak mata atas pada mata kanan

menjadi merah dan bengkak. Benjolan disertai nyeri, terutama bila

benjolan disentuh dan terasa gatal. Pasien merasa ada yang mengganjal

pada kelopak atas mata kanan.

- Mata merah dan berair tidak ada

- Keluar secret pada mata tidak ada

- Penglihatan kabur tidak ada

- Demam tidak ada

- Riwayat trauma pada mata tidak ada

6. Riwayat Penyakit Dahulu / Penyakit Keluarga/Alergi/Atopi

- Pasien sudah pernah menderita penyakit ini sebelumnya, setelah diobati

keluhan membaik

- Tidak ada anggota keluaga dengan keluhan yang sama.

- Pasien dan keluarga tidak ada riwayat bersin-bersin di pagi hari dan

16
bersin-bersin bila terpapar debu

- Pasien dan keluarga tidak ada riwayat nafas menciut

- Pasien dan keluarga tidak ada riwayat alergi makanan sebelumnya

- Pasien dan keluarga tidak ada alergi obat sebelumnya

- Pasien dan keluarga tidak ada riwayat alergi serbuk bunga

- Pasien dan keluarga tidak ada ada riwayat mata merah dan berair

- Pasien dan keluarga tidak ada riwayat hidung berair

- Pasien dan keluarga tidak ada riwayat menderita galigato

7. Pemeriksaan Fisik

a. Status Generalis

Keadaan Umum : Sedang

Kesadaran : Komposmentis kooperatif

TD : 120/80

Nadi : 91x/menit

Nafas : 20x/menit

Suhu : afebris

BB : 54 kg

TB : 150 cm

Kesan status gizi : normal (IMT = 24,0)

Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak

ikterik

Kulit : Turgor kulit baik

Thoraks

Paru : dalam batas normal

17
Jantung : dalam batas normal

Abdomen : dalam batas normal

Punggung : dalam batas normal

Ekstremitas : edema (-)

Status opthalmikus

Status OD OS

Ophtalmikus
Visus tanpa 5/5 5/5

koreksi
Visus dengan Tidakdiperiksa Tidakdiperiksa

koreksi
Refleks + +

fundus
Silia / Trichiasis(-),Madarosi Trichiasis (-) ,

supersilia s(-) Madarosis (-)


Palpebra Edema (-), Edema (-),

superior Hiperemis(-), Hiperemis(-), Tanda

Tanda Radang (-) Radang (-)


Palpebra Edema (-) Terdapat benjolan sebesar

inferior Hiperemis(-), Tanda biji jagung, Hiperemis(+),

Radang (-) Tanda Radang (+)

Aparat Dalam batas normal Dalam batas normal

lakrimalis
Konjungtiva Hiperemis (-) Hiperemis (-)

Tarsalis
Konjungtiva Hiperemis (-) Hiperemis (-)

Forniks
Konjungtiva Injeksi siliar (-) Injeksi siliar (-)

18
Bulbii Injeksi konjunktiva (-) Injeksi konjunktiva (-)
Sklera Warna putih Warna putih
Kornea Bening Bening

Kamera Okuli Sukar dinilai Sukar dinilai

Anterior
Iris Coklat, rugae (+) Coklat, rugae (+)
Pupil Bulat, ukuran 3mm, Bulat, ukuran 3mm, reflek

reflek (+/+) (+/+)


Lensa Jernih Jernih
Korpus Sukar dinilai Sukar dinilai

vitreum
Funduskopi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Tekanan Normal Normal

bulbus okuli Orthoforia Orthoforia

Posisi bulbus Bebas Bebas

okuli

Gerak bulbus

okuli

Foto Klinis

19
8. Pemeriksaan Anjuran :

Anel Test

9. Diagnosis Kerja

Hordeolum Eksterna Palpebral Inferior Okuli Dekstra

10. Diagnosis Banding

- Dakriosistitis

11. Manajemen

a. Promotif

1) Edukasi kepada pasien bahwa penyakit ini disebabkan oleh infeksi

bakteri.

2) Edukasi tentang penyakit dapat berulang sehingga perlu diberitahu

pasien dan keluarga untuk menjaga hygiene dan kebersihan mata

dan lingkungan.

b. Preventif

1) Menghindari menyentuh/menggosok-gosok kelopak mata saat

tangan kotor. Cucilah tangan terlebih dahulu sebelum menyentuh

kelopak mata.

2) Menghindari trauma pada mata

3) Jangan memakai lensa kontak karena dapat menyebabkan infeksi

ke kornea.

4) Jangan menekan atau menusuk hordeolum, hal ini dapat

menimbulkan infeksi sekunder.

20
c. Kuratif

Nonmedikamentosa

- Kompres hangat pada hordeolum 4-6 kali sehari selama 15 menit

untuk membantu drainase. Tindakan dilakukan dengan mata tertutup.

Cucilah tangan dengan sabun sebelum melakukan ini.

- Kelopak mata dibersihkan dengan air bersih ataupun dengan sabun

atau sampo yang tidak menimbulkan iritasi, seperti sabun bayi. Hal

ini dapat mempercepat proses penyembuhan. Tindakan dilakukan

dengan mata tertutup.

Medikamentosa

- Sistemik

Amoxycillin tab 500 mg 3 x 1 tab / hari selama 5 hari

Paracetamol tab 500 mg 3 x 1 tab / hari selama 3 hari

- Topikal

Kloramfenikol salep mata, dipakai 3 x sehari

d. Rehabilitatif

Tidak diperlukan

Prognosis

Quo Ad Sanationam : Dubia ad Bonam

Quo Ad Vitam : Bonam

Quo Ad Kosmetikum : Bonam

Quo Ad Functionam : Bonam

21
Dinas Kesehatan Kota Padang


Puskesmas Belimbing

Dm. Ilyan/ Dm. Yani/ Dm Chris


Padang, 22 Maret 2017

R/ Amoksisilin tab 500mg No XV

S3dd tab 1

R /Paracetamol tab 500 mg No. XV

S3dd tab 1 pc

R/ Kloramfenikol eye ointment 1% tube No. I

S3dd applic loc dol

Pro : Ny. N

Umur : 35 tahun

Alamat : Sungai Sapiah

22
DAFTAR PUSTAKA

1. American Acadent of Ophthalmology. Eyelids. Ophthalmic Pathologu and


Intraocular Tumors. San Francisco, CA: LEO, 2007-2008:4.
2. American Acadent of Ophthalmology. Infectious disease of the external eye:
clinical aspects. External Disease and Cornea. San Francisco, CA: LEO,
2006-2007:8.
3. Vaughan, D.G. Oftalmologi Umum, Edisi 14, Cetakan I, Widya Medika,
Jakarta, 2000: Hal 17-20
4. Sidarta, I. Ilmu Penyakit Mata, Edisi III, Cetakan I, Balai Penerbit FK UI,
Jakarta. 2004: Hal 92-94
5. Kanski JJ. Clinical Ophtalmology A Synopsis. Butterworth-Heimann, Boston,
2009.
6. External Disease and Cornea. America Academic of Ophtalmology.
Singapura.2008-2009. Hal 87-88.
7. Destafeno JJ, Kodsi SR, Primack JD. Recurrent Staphylococcus aureus
chalazia in hyperimmunoglobulinemia E (Jobs) syndrome. Am J Ophthalmol.
2004;138(6):1057-8.
8. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Cet. IV. Jakarta: Penerbit FKUI, 1996. Hal 92-
94
9. Lederman C, Miller M. Hordeola and chalazia. Pediatr Rev. 1999;20(8):283-
4.
10. IDI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer. Jakarta. 2014. Hal 166-8.
11. Raftery AT., Lim, Eric., Churchills Pocketbook of Differential Diagnosis.
Elseviers : 2010
12. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas.Jakarta.
2007. Hal 107-10.

23