Anda di halaman 1dari 10

Perbandingan undang undang merek

Dalam rangka menunjang dan meningkatkan iklim usaha di Indonesia, Pemerintah dan DPR RI telah
mengesahkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis yang
diberlakukan pada tanggal 25 November 2016. Di dalam Undang-Undang Merek dan Indikasi Geografis
tersebut terdapat poin-poin penting khususnya yang membedakan dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun
2001 tentang Merek, diantaranya adalah:
1. Perubahan judul, pada UU Merek menjadi UU Merek dan Indikasi Geografis;
2. Perluasan tipe merek, yang semula pada UU Merek yang lama hanya mengatur merek konvensional dan
pada UU Merek dan Indikasi Geografis yang baru dibedakan menjadi merek konvensional dan merek non
tradisonal yang terdiri dari: merek tiga dimensi, merek suara, dan merek hologram;
3. Perubahan alur dalam proses pendaftaran merek, yang semula pada UU Merek lama yaitu permohonan
pemeriksaan formal pemeriksaan subtantif pengumuman sertifikasi, maka pada UU Merek dan
Indikasi Geografis yang baru yaitu permohonan pemeriksaan formal publikasi/pengumuman
pemeriksaan subtantif sertifikasi;
4. Jangka waktu proses pendaftaran merek sampai diberikan sertifikat, yang semula pada UU Merek lama
selama 14 bulan 10 hari dan pada UU Merek dan Indikasi Geografis yang baru selama 9 bulan;
5. Perpanjangan pendaftaran merek, yang semula pada UU Merek lama selama 12 bulan sebelum
berakhirnya jangka waktu pendaftaran merek dan pada UU Merek dan Indikasi Geografis yang baru selama 6
bulan sebelum dan 6 bulan setelah berakhirnya jangka waktu pendaftaran merek;
6. Pendaftaran merek internasional, yang semula pada UU Merek lama tidak terdapat pengaturan tentang
pendaftaran merek internasional dan pada UU Merek dan Indikasi Geografis yang baru untuk pendaftaran
merek internasional berdasarkan Madrid Protokol.
7. Pengaturan tentang Indikasi Geografis, yang semula pada UU Merek lama ketentuan lebih lanjut diatur
dengan Peraturan Pemerintah (PP) dan pada UU Merek dan Indikasi Geografis yang baru diatur secara lebih
rinci (Terdiri dari 4 Bab, Pasal 53 s/d Pasal 71);
8. Ketentuan Pidana, yang semula pada UU Merek lama tidak memuat ketentuan pemberatan sanksi pidana
dan pada UU Merek dan Indikasi Geografis yang baru memuat ketentuan pemberatan sanksi pidana
(menggangu kesehatan dan mengancam keselamatan jiwa manusia).
Sesuai pengertian merek yang diatur pada Pasal 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan
Indikasi Geografis pada dasarnya terdapat 3 (tiga) elemen merek yaitu: Tanda, Memiliki Daya Pembeda dan
Digunakan untuk perdagangan barang dan/atau jasa. Daya pembeda (distinctiveness) dibedakan menjadi 2
(dua) yaitu:
1. Alasan absolut (absolut grounds) Pasal 20 yaitu jenis merek yang tidak dapat didaftar;
2. Alasan relatif (relative grounds) Pasal 21 yaitu jenis merek yang ditolak.
Namun menurut penulis, adanya unsur itikad tidak baik (Pasal 21 ayat 3) seharusnya tidak diklasifikasikan
dalam alasan relatif dan seharusnya diklasifikasikan dalam alasan absolut dalam Pasal 20.
Dengan diberlakukan UU Merek dan Indikasi Geografis ini terdapat beberapa hal positif, yaitu diantaranya:
1. Biaya pendaftaran relatif murah karena tidak membatasi jumlah jenis barang/jasa dalam satu kelas (Peraturan
Pemerintah Nomor 45 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun
2014 Tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian
Hukum dan Hak Asasi Manusia);
2. Jangka waktu proses permohonan relatif lebih singkat;
3. Memperluas objek jenis barang dan/atau jasa yang akan didaftar karena dapat mendaftarkan merek-merek
non konvensional.
Selanjutnya, pengaturan untuk merek terkenal di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek
dan Indikasi Geografis pada dasarnya tidak mengatur secara rinci, namun pengaturan tentang merek terkenal
dapat dilihat dalam penjelasan Pasal 21 ayat 1 huruf b, yaitu:
Penolakan permohonan yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhan dengan merek terkenal
milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa yang sejenis dilakukan dengan memperhatikan pengetahuan umum
masyarakat mengenai merek tersebut di bidang usaha yang bersangkutan. Di samping itu, diperhatikan pula
reputasi merek tersebut yang diperoleh karena promosi yang gencar dan besar-besaran, investasi di beberapa
negara di dunia yang dilakukan oleh pemiliknya, dan disertai bukti pendaftaran Merek dimaksud di beberapa
negara. Jika hal tersebut belum dianggap cukup, Pengadilan Niaga dapat memerintahkan lembaga yang bersifat
mandiri untuk melakukan survei guna memperoleh kesimpulan mengenai terkenal atau tidaknya Merek yang
menjadi dasar penolakan.
Terdapat konsep dari Amerika tahun 1920 yang dikenal dengan doktrin Dilution, yaitu merek bukan murni
kreasi intelektual, namun perlindungan reputasi (well known mark and famous mark). Doktrin Dilution terdiri
dari blurring, tarnishment, dan cybersquatting (Prof. Dr. Rahmi Jened, S.H., M.H, Seminar Perlindungan
Merek Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, Universitas
Surabaya, 23 Maret 2017).
Doktrin dilution blurring (pengaburan) yaitu pemudaran atas kekuatan merek melalui identisifikasinya
untuk produk yang tidak sejenis, meskipun kesamaan merek tersebut tidak menyebabkan kebingungan diantara
konsumen kedua produk tersebut, namun masing-masing mengurangi kualitas pembeda dari merek yang
bersangkutan. Contoh: Tiffany (merek perhiasan yang sudah terkenal) Tiffany (rumah makan).
Doktrin dilution tarnishment (pemudaran) merupakan akibat dari penggunaan untuk mengencarkan,
menodai, menurunkan karakter atau kualitas pembeda dari merek terkenal, terutama penggunaan produk yang
lebih rendah atau produk yang tidak pantas. Contoh: Starbucks Coffee (merek kedai kopi yang sudah terkenal)
Pecel Lele Lela.
Doktrin dilution cybersquatting yaitu mendaftarkan nama domain yang mirip atau sama dengan sesuatu
merek terkenal dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan melalui lalu-lintas pengunjung yang
mengunjungi alamat bersangkutan. Contoh: www.celinedion.com seperti diketahui Celine Dion adalah
merupakan penyanyi internasional yang sudah terkenal.
Kamis, 01 Desember 2016

Ini Perbedaan UU Merek yang


Lama dan UU Merek yang Baru
Setidaknya, ada enam hal yang membedakan UU Merek yang lama dengan
UU Merek dan Indikasi Geografis.
HAG
Dibaca: 49657 Tanggapan: 0

Acara hukumonline bertema Undang-Undang Merek dan Indikasi Geografis 2016: Implikasi,
Implementasi dan Tantangannya, Rabu (30/11).
BERITA TERKAIT
RUU Merek dan Indikasi Geografis Disetujui Jadi UU, Ini Penjelasan DPR
Mengintip Tata Cara Pendaftaran Merek dalam UU Merek dan Indikasi Geografis
Menkumham: UU Merek Indikasi Geografi Tumbuhkan UMKM
Begini Aturan Pembayaran Biaya Tahunan Pemegang Paten
Plus Minus Permohonan Kekayaan Intelektual Elektronik versi AKHKI
Meski belum mendapatkan nomor, UU Merek dan Indikasi Geografis yang disetujui menjadi undang-
undang pada 27 Oktober 2016, seharusnya sudah dapat dilaksanakan pada November 2016.
Kasubdit Pemeriksaan Merek, Direktorat Merek dan Indikasi Geografis HKI, Kementerian Hukum
dan HAM Direktorat Merek dan Indikasi Geografis HAKI, Kementerian Hukum dan HAM, Didik
Taryadi, menjelaskan bahwa pemberlakuan undang-undang tersebut berlaku setelah tiga puluh hari
disahkan.(Baca Juga: Plus Minus Permohonan Kekayaan Intelektual Elektronik versi AKHKI)

Lalu, apa yang membedakan UU Merek lama dengan UU Merek dan Indikasi Geografis yang baru
saja disetujui menjadi undang-undang? Berdasarkan pemaparan yang diberikan Didik di
acara hukumonline bertema Undang-Undang Merek dan Indikasi Geografis 2016: Implikasi,
Implementasi dan Tantanganya, Rabu (30/11), ada beberapa perbedaan terkait undang-undang
merek yang baru dengan yang lama. Perbedaan tersebut di antaranya:

No UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek UU Merek dan Indikasi Geografis


Undang-undang terbaru memperluas merek yang
1 Hanya berhubungan dengan merek konvensional akan didaftarkan. Di antaranya penambahan merek 3
dimensi, merek suara, dan merek hologram.
Proses pendaftaran menjadi lebih singkat:
Permohonan dilanjutkan dengan pemeriksaan formal,
Proses pendaftaran relatif lebih lama. dilanjutkan dengan pengumuman (hal tersebut guna
Permohonan dilanjutkan dengan pemeriksaan melihat apakah ada yang keberatan), dilanjutkan
2 formal, setelah itu pemeriksaan subtantif, dengan pemeriksaan subtantif dan di akhir dengan
kemudian pengumuman dan diakhiri dengan sertifikasi.
sertifikasi.
Sehingga pemohon akan mendapatkan nomor lebih
cepat dari sebelumnya.
Menteri memiliki hak untuk menghapus merek
terdaftar dengan alasan merek tersebut merupakan
Indikasi Geografis, atau bertentangan dengan
Menteri tidak memiliki hak untuk menghapus kesusilaan dan agama.
3
merek terdaftar
Sedangkan untuk pemilik merek terdaftar tersebut
dapat mengajukan keberatannya melalui gugatan ke
PTUN.
Gugatan oleh merek terkenal sebelumnya tidak Merek terkenal dapat mengajukan gugatan
4
diatur. berdasarkan putusan pengadilan.
Memuat pemberatan sanksi pidana bagi merek yang
Tidak memuat mengenai pemberatan sanksi
5. produknya mengancam keselamatan dan kesehatan
pidana.
jiwa manusia.
Ketentuan mengenai indikasi geografis diatur dalam
empat BAB (Pasal 53 sampai dengan 71).

Pemohon indikasi geografis yaitu:


1. Lembaga yang mewakili masyarakat di kawasan
Hanya menyinggung sedikit mengenai indikasi geografis tertentu.
6. geografis, namun memang banyak diatur di
peraturan pemerintah. 2. Pemerintah Daerah provinsi atau kabupaten kota.

Produk yang dapat dimohonkan:


1. Sumber daya alam
2. Barang kerajinan tangan
3. Hasil industri

Lantas mengapa mengapa nama undang-undangnya berubah? Hal tersebut dikarenakan materi
muatan sudah cukup banyak, sehingga akhirnya disepakati dengan nama indikasi geografis, kata
Didik. (Baca Juga: Mengintip Tata Cara Pendaftaran Merek dalam UU Merek dan Indikasi
Geografis)
Menurut Didik, ketentuan dalam undang-undang yang baru hanya berlaku pada permohonan
setelah undang-undang yang baru disahkan, sehingga tidak berlaku surut. Sedangkan bagi
permohonan yang masih menggunakan undaang-undang yang lama masih diselesaikan dengan
undag- undang lama, jelasnya.

Merek Terkenal, Perbandingan


UU Merek Lama dan Baru
UU Merek teranyar membuka peluang bagi pemilik merek terkenal mengajukan gugatan ke
pengadilan apabila terjadi pelanggaran merek.
Oleh
KlikLegal.com
-
10 July 2017
0
199

Bagikan ke Facebook

Twit ke Twitter

Sumber Foto: https://2.bp.blogspot.com/


Sejumlah perubahan dalam hukum merek di Indonesia sudah terealisasi dalam
Undang-Undang Merek dan Indikasi Geografis teranyar, yakni UU No. 20 Tahun
2016. Salah satu perubahannya adalah aturan yang lebih ketat terhadap merek
terkenal dibanding UU Merek yang lama, UU No. 25 Tahun 2001.

Bila UU Merek yang lawas hanya mengatur merek terkenal ke dalam tiga
ketentuan (dua pasal dan satu penjelasan), sedangkan UU Merek yang terbaru
memuat lima ketentuan (dua pasal dan satu penjelasan). Salah satu perubahan
signifikan adalah UU Merek yang baru (UU No. 20 Tahun 2016) membuka
peluang bagi pemegang merek terkenal mengajukan gugatan ke pengadilan
apabila terjadi pelanggaran merek.

Berikut adalah perbandingan UU No.15 Tahun 2001 dan UU No.20 Tahun 2016
yang berkaitan dengan daerah, sebagai berikut:

No. UU No. 15 Tahun 2001 UU No. 20 Tahun 2016

Pasal 6 ayat (1) huruf b Pasal 21 ayat (1) huruf b dan c


Permohonan ditolak jika Merek tersebut
Permohonan harus ditolak oleh mempunyai persamaan pada pokoknya
Direktorat Jenderal apabila Merek atau keseluruhannya dengan: b. Merek
1. tersebut: mempunyai persamaan terkenal milik pihak lain untuk barang
pada pokoknya atau keseluruhannya dan/atau jasa sejenis; c. Merek
dengan Merek yang sudah terkenal milik pihak lain untuk barang
terkenalmilik pihak lain untuk barang dan/atau jasa tidak sejenis yang
dan/atau sejenisnya. memenuhi persyaratan tertentu.

Pasal 37 ayat (2)


Pasal 83 ayat (2)
Permohonan Perpanjangan ditolak
Gugatan sebagaimana dimaksud pada
oleh Direktorat Jenderal, apabila
ayat (1) (Gugatan atas pelanggaran
Merek tersebut mempunyai
2. Merek,-red) dapat pula diajukan oleh
persamaan pada pokoknya atau
pemilik Merek terkenal berdasarkan
keseluruhannya dengan Merek
putusan pengadilan.
terkenal milik orang lain, dengan
memperhatikan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
ayat (1) huruf b dan ayat (2).

Penjelasan Pasal 6 ayat (1) huruf b Penjelasan Pasal 21 ayat (1) huruf b
Penolakan Permohonan yang Penolakan Permohonan yang
mempunyai persamaan pada mempunyai persamaan pada pokoknya
pokoknya atau keseluruhan atau keseluruhan dengan Merek
dengan Merek terkenal untuk terkenal milik pihak lain untuk barang
barang dan/atau jasa yang sejenis dan/atau jasa yang sejenis dilakukan
dilakukan dengan memperhatikan dengan memperhatikan pengetahuan
pengetahuan umum masyarakat umum masyarakat mengenai Merek
mengenai Merek tersebut dibidang tersebut di bidang usaha yang
usaha yang bersangkutan. Disamping bersangkutan. Di samping itu,
itu diperhatikan pula reputasi Merek diperhatikan pula reputasi Merek
terkenal yang diperoleh karena tersebut yang diperoleh karena promosi
3. promosi yang gencar dan besar- yang gencar dan besar-besaran,
besaran, investasi di beberapa negara investasi di beberapa negara di dunia
didunia yang dilakukan oleh yang dilakukan oleh pemiliknya, dan
pemiliknya dan disertai bukti disertai bukti pendaftaran Merek
pendaftaran Merek tersebut dimaksud di beberapa negara. Jika hal
dibeberapa negara. Apabila hal-hal tersebut belum dianggap cukup,
diatas belum dianggap cukup, Pengadilan Niaga dapat memerintahkan
Pengadilan Niaga dapat lembaga yang bersifat mandiri untuk
memerintahkan lembaga yang melakukan survei guna memperoleh
bersifat mandiri untuk melakukan kesimpulan mengenai terkenal atau
survei guna memperoleh kesimpulan tidaknya Merek yang menjadi dasar
mengenai terkenal atau tidaknya penolakan.
Merek yang menjadi dasar
penolakan.

Penjelasan Pasal 76 ayat (2)


Yang dimaksud dengan pemilik Merek
yang tidak terdaftar antara lain pemilik
Merek yang iktikad baik tetapi tidak
4.
terdaftar atau pemilik Merek
terkenaltetapi Mereknya tidak
terdaftar.

Penjelasan Pasal 83 ayat (2)


Pemberian hak untuk mengajukan
gugatan perdata berdasarkan perbuatan
curang yang dilakukan oleh pihak lain
5. dimaksudkan untuk memberikan
pelindungan hukum kepada
pemilik Merek terkenal meskipun
belum terdaftar.

Mengenal Lebih Dekat Undang-Undang Merek 2016


Dalam catatan statistik Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual (DITJEN KI), Merek merupakan kekayaan
Intelektual yang paling sering didaftarkan untuk dimintakan perlindungannya oleh masyarakat bisnis. Para
pelaku bisnis di Indonesia, mulai dari UMKM sampai dengan Perusahaan TBK, sudah mulai menyadari betapa
pentingnya perlindungan hak atas Merek. Hal tersebut tidak terluput dari betapa pentingnya Merek terhadap
kemajuan perusahaan.

Pembangunan suatu citra Merek bukanlah hal yang mudah. Dalam prosesnya, perusahaan melakukan promosi
secara besar-besaran dan membuat produk dengan kualitas yang baik secara konsisten agar dapat
menghasilkan suatu citra Merek yang kuat dan positif. Ketika citra Merek tersebut terbentuk maka citra yang
melekat di masyarakat akan cenderung sulit diubah.
Citra Merek yang kuat dan positif menjadi magnet bagi segelintir orang untuk mendapatkan keuntungan
dengan cara yang ilegal. Keuntungan tersebut didapatkan dengan menggunakan Merek tanpa seizin pemilik
Merek ataupun dengan menjual produk yang memiliki nama Merek yang serupa tetapi tidak sama. Akibatnya,
baik pemilik merek maupun konsumen dapat mengalami kerugian. Kerugian yang didapatkan oleh konsumen
adalah Konsumen mendapatkan barang-barang palsu dengan kualitas rendah, sedangkan untuk pemilik Merek,
secara otomatis akan mengalami penurunan penjualan.

Pemerintah sudah sejak lama memberikan perhatian terhadap isu pelanggaran Merek di Indonesia. Hal ini
dibuktikan dengan adanya Undang-Undang Merek yang sudah lama berlaku di Indonesia. Bahkan di tahun
2016, pemerintah kembali merilis Undang-Undang No. 2o tahun 2016 tentang Merek (UU Merek 2016)
menggantikan Undang-Undang No. 15 tahun 2001 (UU Merek 2001). Kehadiran UU Merek 2016 adalah
untuk menyempurnakan perlindungan kepada pemilik Merek dan juga memberikan penyesuaian terhadap
perkembangan kekayaan intelektual di Indonesia.

Ada beberapa perbedaan yang cukup mendasar antara UU Merek 2016 dengan UU Merek 2001. Perbedaan
pertama terdapat pada penamaan dari Undang-Undang tersebut. Apabila pada UU Merek 2001 hanya
disebutkan dengan Undang-Undang tentang Merek, pada UU Merek 2016 disebutkan Undang-Undang tentang
Merek dan Indikasi Geografis.

Penyebutan Indikasi Geografis pada penamaan UU Merek 2016 bukanlah tanpa sebab. Apabila di dalam UU
Merek 2001 Indikasi Geografis hanya dibahas sedikit sekali dan cenderung lebih banyak dituangkan di dalam
Peraturan Pemerintah, dalam UU Merek 2016 Indikasi Geografis diuraikan lebih jelas dan tertuang di dalam
empat BAB (Pasal 53 sampai dengan 71). Keempat BAB tersebut mengurai hal-hal terkait dengan pihak yang
dapat memohon Indikasi Geografis (Lembaga yang mewakili masyarakat di kawasan tertentu dan Pemerintah
Daerah Provinsi atau Kabupaten Kota) dan Produk yang dapat dimohonkan (Sumber daya alam, Barang
kerajinan tangan dan hasil industri dari masyarakat ataupun lembaga di kawasan geografis tertentu).

Selain terkait tentang Indikasi Geografis, perlindungan UU Merek 2016 juga mencakup bentuk Merek. Jika
sebelumnya dalam UU Merek 2001, Merek yang dilindungi hanyalah Merek Konvensional berupa tanda yang
berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur
tersebut yang memiliki daya pembeda yang identik dengan logo dua dimensi. UU Merek 2016 memperluas
bentuk Merek yang dapat didaftarkan, di antaranya adalah Merek 3 dimensi, Merek suara dan Merek
Hologram.

Upaya pembaruan lainnya yang dibawa di dalam UU Merek 2016 adalah proses pendaftaran Merek yang
menjadi lebih singkat. Percepatan tersebut terjadi pada masa pemeriksaan Substantif yang dipersingkat
menjadi 150 hari, sebelumnya 9 bulan dan masa pengumuman Merek yang menjadi 2 bulan, sebelumnya 3
bulan. Selain itu, pada UU Merek 2001 proses pendaftaran lebih lama karena pengumuman dilakukan setelah
pemeriksaan substantif Merek dilakukan, sedangkan pada UU Merek 2016, pengumuman dilakukan sebelum
pemeriksaan Substantif dilakukan. Sehingga apabila terdapat pihak yang keberatan terhadap Merek yang akan
didaftarkan tersebut maka dapat terdeteksi lebih awal sebelum Merek memasuki proses yang lebih lama lagi.

Dalam UU Merek 2016, Menteri memiliki hak untuk menghapus Merek terdaftar dengan alasan Merek
tersebut merupakan Indikasi Geografis. Wewenang tersebut diberikan kepada menteri untuk memfasilitasi
masyarakat banyak apabila terjadi pelanggaran Indikasi Geografis. Meskipun demikian, pemilik Merek yang
haknya dihapuskan oleh menteri tetap memiliki upaya untuk mempertahankan Hak atas Merek miliknya
melalui gugatan ke PTUN.

Poin lain yang difasilitasi oleh UU Merek 2016 adalah terkait gugatan yang dapat dilakukan oleh Merek
terkenal. Meskipun di dalam UU tersebut klasifikasi Merek terkenal masih di dalam garis abu-abu, suatu
Merek dapat dinyatakan terkenal atau tidak melalui putusan Pengadilan. Sehingga setelah diakui sebagai
Merek terkenal, pemilik Merek tersebut dapat mengajukan gugatan terhadap pihak yang tanpa hak
menggunakan Merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk barang dan/atau
jasa yang sejenis.

Pemberatan sanksi pidana merupakan hal yang baru di dalam UU Merek 2016. Pemberatan tersebut berlaku
untuk Merek yang produknya dapat mengancam lingkungan hidup, keselamatan dan kesehatan jiwa manusia.
Maka undang-undang mengatur bahwa jika Merek tersebut dipergunakan secara tanpa Hak dan tidak
bertanggung jawab. Maka pihak yang mempergunakan secara tanpa hak mendapatkan pemberatan sanksi
pidana.

Keseriusan pemerintah dalam melindungi kekayaan intelektual di Indonesia sudah dibuktikan dengan
menyempurnakan peraturan hukum yang berlaku, memperbaiki birokrasi dan juga melindungi para pemangku
kepentingan yaitu pemilik Kekayaan Intelektual. Kekayaan Intelektual yang sangat dekat dan tidak dapat lepas
dari semua industri di Indonesia, terutama industri kreatif yang sedang berkembang di era teknologi seperti
saat ini, seharusnya dapat semakin bertumbuh dan berkembang. Sehingga nantinya kekayaan bangsa ini dapat
didominasi oleh kekayaan intelektual dan tidak lagi bergantung kepada kekayaan alam.

Oleh sebab itu, UU Merek 2016 merupakan salah satu jawaban untuk dapat memajukan Kekayaan Intelektual
di Indonesia. Lahirnya UU tersebut seyogyanya dimanfaatkan dengan baik oleh para pengusaha ataupun
pemilik produk untuk memiliki kepercayaan diri dalam mengembangkan produk yang dimilikinya. Sehingga
dengan adanya kepastian hukum terhadap perlindungan dan percepatan di dalam pendaftaran dan kepemilikan
Kekayaan Intelektual. Masyarakat dapat terus mengeksplorasi Kekayaan Intelektual miliknya sehingga
memiliki nilai ekonomi yang dapat mendorong pembangunan perekonomian nasional. (AB)