Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia sebagai Negara kepulauan memiliki berbagai suku, adat,


ras, dan agama. Hal ini menjadi salah satu kekayaan yang dimiliki Negara
ini. Tentunya selain memiliki keanekaragaman suku, adat, ras dan Agama,
Indonesia juga memiliki keanekaragaman Arsitektur Tradisional dari
Sabang sampai Merauke sehingga setiap daerah memiliki ciri khas masing-
masing.
Menurut Rumawan Salain (1984), Arsitektur Tradisional dapat
diartikan sebagai sebuah rumah yang dibangun dan di gunakan sejak
beberapa generasi. Sesuai pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
Arsitektur Tradisional berkembang sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan,
adat dan istiadat daerah tertentu di Indonesia.
Berbicara tentang Arsitektur Tradisional, Provinsi Daerah Khusus
Ibukota Jakarta memiliki suku yang terkenal yaitu Suku Betawi. Suku
Betawi ini memiliki rumah yang disebut rumah Adat Betawi. Secara umum
rumah adat Betawi dipengaruhi oleh budaya lokal dan budaya asing.
Sedangkan menurut Doni Swadarma (2013) mengatakan bahwa rumah
Betawi pada umumnya simpel dan mengutamakan fungsi daripada gaya,
akan tetapi ornamen dan organisasi ruangnya sarat akan makna. Sehingga
Rumah Betawi ini memiliki ciri khas yang berbeda dari rumah tradisional
daerah lainnya.
Banyaknya pengaruh yang datang dari luar ditambah dengan
kemajuan Teknologi membuat rumah Tradisional Betawi mengalami
perubahan- perubahan. Seiring waktu berjalan, rumah tradisional Betawi
bertransisi menjadi rumah modern dan terjadi perubahan fungsi.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka didalam pembahasan akan
dijelaskan bagian apa saja yang mengalami perubahan pada rumah
Tradisional Betawi di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka dapat dapat dirangkum rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana karakteristik Rumah adat Betawi ?
2. Apa saja yang mengalami perubahan pada rumah Tradisional betawi
seiring berkembangnya arus modernisasi ?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan- tujuan dari penulisan makalah ini sebagai berikut :
1. Menyelesaikan tuntutan tugas mata kuliah Arsitektur Indonesia
2. Meningkatkan pemahaman tentang Rumah Adat yang ada di Indonesia
3. Mengetahui bagaimana karakteristik Rumah adat Betawi
4. Mengetahui apa saja yang mengalami perubahan pada rumah
Tradisional betawi seiring berkembangnya arus modernisasi

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

a. Bagi Penulis :
1. Penulis dapat mengetahui dan memahami bagaimana perkembangan
rumah adat di Indonesia.
2. Penulis dapat mengetahui karakteristik rumah adat yang ada di
Indonesia, khususnya rumah adat Betawi.
3. Penulis dapat mengetahui apa saja yang mengalami perubahan
pada rumah Tradisional Betawi seiring berkembangnya arus
modernisasi
b. Bagi Pembaca :
1. Pembaca dapat mengetahui perkembangan rumah adat di Indonesia.
2. Pembaca dapat mengetahui apa saja yang mengalami perubahan
pada rumah Tradisional Betawi seiring berkembangnya arus
modernisasi
3. Sebagai sarana edukasi dan penambah wawasan tentang arsitektur
rumah adat di Indonesia.

1.5 Metode Penulisan

1. Jenis Penulisan

Jenis penulisan yang digunakan adalah jenis penulisan deskrptif kualitatif,


yaitu dengan menggunakan metode studi pustaka dengan mengkasi dan
membandingkan dengan sumber- sumber yang relevan.

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah berupa studi pustaka,


yaitu dilakukan dengan mencari serta mengumpulkan data-data berupa
literature, buku, artikel, dan lain-lain yang berhubungan dengan materi yang
dibawakan.

1.6 Sistematika Penulisan

Makalah ini dibagi atas beberapa bagian, diantaranya :

1. BAB I Pendahuluan

Berisikan tentang uraian latar belakang, rumusan masalah, tujuan


penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan serta sistematika
penulisan.

2. BAB II Tinjauan Pustaka

Bagian kedua berisikan tentang karakteristik objek pembahasan.

3. BAB III Pembahasan

Pada bagian ini, akan dibahas mengenai perubahan-perubahan pada


rumah adat Betawi

4. BAB IV Penutup

Berisi kesimpulan mengenai data yang telah di bahas dan saran atau
masukan sesuai dengan materi yang dibawakan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Arsitektur Betawi


Kata Betawi berasal dari kata Batavia, dimana Batavia sebelumnya
bernama Jayakarta, suatu kawasan yang merupakan perpanjangan
kekuasaan Kerajaan Demak pada tahun 1960 berhasil dikalahkan.
Berdasarkan penggalian situs Babelan, Bekasi, Karawang dan Subang
telah ditemukan banyak anting-anting yang berasal dari abad ke-2. Hal
tersebut menandakan bahwa kawasan ini telah berpenghuni jauh sebelum
penduduk berbahasa Melayu, yang baru tiba sekitar abad ke- 10 M.
Penduduk di zaman ini dapat dikatakan sebagai Proto Betawi .
Masyarakat proto Betawi tersebut telah menghuni daerah di sekitar aliran
sungai besar seperti Ciliwung, Cisadane, Kali Bekasi dan Citarum. Mereka
diyakini telah tinggal di daerah yang dikenal sebagai Sunter, Cengkareng,
Cilincing, Kebon sirih, Rawa Belong, Tanah Abang.
Dilihat dari daerah sebarannya, daerah di seluruh wilayah Jakarta telah
dihuni oleh cikal bakal orang Betawi ini. Bahkan berdasarkan alat-alat yang
ditemukan dan situs-situs tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat
yang tinggal di daerah tersebut telah mengenal pertanian.
Pada tahun 1526 gabungan pasukan dari Demak dan Cirebon yang
berjumlah ribuan datang dan menguasai Pelabuhan Sunda Kalapa. Hal
tersebut membuat alkulturasi terjadi antara budaya Jawa dan penduduk
pribumi lokal. Ketika Belanda menjasi penguasa kawasan ini, banyak orang
dari Bali di datangkan ke tanha Betawi yang kemudian diikuti oleh orang-
orang dari Ambon, Makassar, Sumbawa dan lainnya.
Berbagai etnis yang mendiami kawasan Betawi pada saat itu
menikah satu sama lain yang kemudian melahirkan generasi baru sebagai
cikal bakal masyarakat Betawi, akan tetapi, kebudayaan yang dominan
pada kelompok etnis yang baru terbentuk itu tetaplah kebudayaan melayu,
meskipun dengan banyak perubahan dan penyesuaian.
Berdasarkan kesamaan unsur budayanya, seperti bahasa kesenian adat
dan arsitektur rumahnya, wilayah kebudayaan betawi meliputi betawi
pesisir, betawi tengah , serta betawi pingir dan udik
1. Betawi Pesisir

Gb. 1 Rumah Si Pitung di Marunda Gb. 2 Rumah panggung adat Bugis


Sumber : http://rujakuleg.blogspot.com Sumber : http://rujakuleg.blogspot.com

Betawi Pesisir terbagi menjadi 2 bagian yaitu Betawi Darat dan Betawi
Pulo. Daerah Marunda Jakarta Utara misalnya sebagai daerah pesisir
yang berawa sehingga prototipe arsitektur rumah Betawi di kawaan
tersebut adalah rumah panggung. Fungsinya adalah untuk menghindari
banjir pada saat air laut pasang. Bentuk kolong ini bisa jadi merupakan
pengaruh arsitektur bangunan dari penduduk yang berasal dari daerah
Sumatera, Kalimantan, atau Sulawesi yang memang banyak berdatangan
ke kawasan ini.
2. Betawi tengah / Kota

Gb. 3 Rumah Betawi Tengah


Sumber : Buku Rumah Etnik Betawi

Dikawasan tengah, seperti daerah Kwitang dan Senen, banyak dijumpai


rumah Betawi tanpa kolong yang masih beralaskan tanah atau plesteran
semen dengan penggunaan pondasi roolag. Arsitektur rumah tersebut
mendapat pengaruh arsitektu Belanda. Roolag merupakan pondasi yang
terbuat dari batu bata yang menghubungkan dinding dengan lantai.
3. Betawi Pinggir dan udik
Betawi pinggir dan udik lebih berani dalam hal perwarnaan. Rumah
dipoles dengan warna-warna mencolok seperti hijau dan kuning. Warna
kuning melambangkan kecerahan dan hijau kesuburan. Rumah Betawi
Pinggir cenderung minim ornamen.

Gb. 4 Rumah Betawi pinggir di daerah Parigi


Sumber : Buku Rumah Etnik Betawi

Selain itu Arsitektur Betawi jgua dipengaruhi oleh beberapa budaya seperti :
1. Pengaruh Budaya Lokal (Jawa dan Sunda )
Pengaruh budaya lokal Jawa dan Sunda lebih dominan
dibandingkan dengan kawasan nusantara lainnya. Hal tersebut
dikarenakan posisi geografis kawasan Betawi yang berada di tengah-
tengah wilayah Bumi Parahyangan sehingga interaksi dengan penduduk
berbudaya Sunda sangat intens.
Pengaruh Jawa pada arsitektur rumah Betawi terlihat jelas pada
arsitektur rumah Betawi di kawasan yang dulunya dikuasai oleh pasukan
dari Demak dan Cirebon yang berbudaya Jawa. Rumah-rumah Betawi
tersebut memiliki desain yang hampir sama dengan rumah Joglo di
Jawa Tengah.
Kontruksi rumah joglo Jawa sedikit banyak ikut dalam
memengaruhi rumah Betawi, terutama dari kontruksi atapnya. Hal
tersebut dikarenakan rumah Betawi juga mengenal rumah joglo yang
dari bentuknya sangat mirip karena beratap limas serta menjulang
keatas. Perbedaanya terletak pada potongan rumah joglo etnik Jawa,
tiang-tiang utama penopang struktur atapnya merupakan unsur yang
mengarahkan pembagian ruang pada Denah. Sementara itu pada
potongan rumah joglo Betawi, hal itu tidak nyata.
Selain unsur Jawa, pengaruh dari Arsitektur Sunda pada rumah Betawi
pun tidak sedikit terutama pada bahan material dan bentuk rumah. Salah
satunya adalah adanya serondoy seperti yang terlihat pada rumah Betaei
dengan potongan atap gudang.

Gb. 5 Model rumah Sunda dengan Terusan Seronday


Sumber : rumahadat.blogspot.com

2. Pengaruh Budaya Asing ( Cina, Arab dan Eropa )

Gb. 6 Jendela krepyak dan jendela Jajake


Sumber : wiratama.net

Pengaruh cina pada rumah Betawi dapat dilihat pada bagian depan
rumah yang disebut langkan . langkan adalah pembatas teras yang
terbuat dari kayu dan menyerupai pagar, tetapi berada di atas teras.
Lalu terdapat jendela jejake tanpa jeruji khas Betawi yang dipengaruhi
arsitektur cina
Lalu pengaruh arsitektur Arab terlihat dari desain jendela yang
berbentuk menyerupai kubah masjid pada bagian atasnya. Jendela
terkadang juga dihiasi oleh ornamen kaligrafi atau hiasan pada tiang
seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Gb. 7 Jendela Melengkung meyerupi Kubah Majid


Sumber : Buku Rumah Etnik Betawi

Sama halnya dengan penaruh Cina dan Arab , pengaruh Belanda pada
arsitektur rumah Betawi cukup besar. Hal tersebur terlihat dari bentuk
dan desain bangunan, teknologi bahan dan teknik pembuatan.

2.2 Tipologi Bentuk Rumah Betawi


a. Rumah Joglo
Rumah joglo adalah rumah yang mendapatkan pengaruh daei
arsitektur dan kebudayaan Jawa dengan berbagai penyesuaian. Pada
awalnya, rumah joglo adalah tempat tinggal keturunan bangsawan Jawa
yang hijrah ke tanah Betawi. Karena masih keturunan Bangsawan, maka
rumahnya pun dibedakan dengan rumah yang ada sebelumnya. Pada
akhirnya bentuk joglo ini ditiru oleh warga lainnya sehingga menjadi
rumah etnik Betawi
Dalam arsitektur etnik Jawa dikenal dengan adanya ilmu kalang atau
disebut juga wong kalang yaitu lima panduan pokok dalam seni bangunan
Jawa sebagai berikut :
Panggang- pe, artinya bangunan yang hanya beratap 1 sisi
Kampung, artinya bangunan dengan atap 2 sisi terdapat bubungan
ditengahnya.
Limasan,artinya bangunan dengan atap empat sisi dan terdapat
bubungan di tengahnya.
Joglo, bangunan yang terdiri dari soko guru dengan atap-atap belah
sisi, terdpat sebuah bubungan di tengahnya.
Tajug, artinya bangunan yang atapnya terdiri dari empat sisi, tanpa
bubungan atau meruncing.

Gb. 8 Bentuk Atap Joglo Betawi dengan sudut kemiringan curam


Sumber : Buku Rumah Etnik Betawi

Berikut ini beberapa ciri yang tampak pada rumah joglo Betawi
Bentuk atap rumah Joglo seperti imas yang terpasung dengan
ketinggian menjulang. Bagian atasnya datar lalu miring ke arah
empat sisi, dengan sudut kemiringan yang curam.
Denah secara keseluruhan berbentuk bujur sangkar
Bagian depan adalah ruangan luas tanpa sekat
Bagian dalam adalah ruangan dan kamar-kamar yang bersekat.
Pada rumah joglo Betawi, bagian atap yang tingginya menjulang
berada di tengah tengah bangunan. Berbeda dengan rumah joglo
jawa, hanya bagian pendopo yang menjulang ke atas

Gb. 9 Denah rumah Joglo


Sumber : Buku Rumah Etnik Betawi
b. Rumah Gudang
Ciri-ciri rumah gudang pada umumnya berbentuk segi empat memanjang
dari depan kebelakang.
Atap rumah gudang berbentuk pelana atau perisai. Struktur atap tersusun
dari kerangka kuda-kuda penuh dari depan ke belakang. Dibagian depannya
di beri tambahan berupa topi, dak. Penambahan topi ini dimaksudkan agara
melindungi teras depan dari panas dan tampias air hujan.

Gb. 10 Rumah Gudang Gb. 11 Denah Rumah Gudang


Sumber : Buku Rumah Etnik Betawi Sumber : Buku Rumah Etnik Betawi

c. Rumah Kebaya/ Bapang


Rumah betawi ini diberi nama kebaya karena mempunyai beberapa pasang
atap dan bila dilihat dari samping terlihat berlipat-lipat menyerupai lipatan
kebaya. Atap rumah kebaya berbentuk pelana, tetapi berbeda dengan atap
rumah gudang, bentuk pelana rumah kebaya ini tidak penuh, tetapu hanya
berada di tengah-tengah bagian ruamh saja. Yaitu tepat diatas kontruksi
kuda-kudanya.Selebihnya baik ke arah depan maupun kebelakang hanya
diberi tambahan berupa terusan serondoyan.
Gb. 11 Rumah Kebaya
Sumber : Buku Rumah Etnik Betawi

Gb. 12 Denah Rumah Kebaya


Sumber : Buku Rumah Etnik Betawi

d. Rumah panggung
Rumah Betawi berbentuk panggung biasanya berada di pesisir, rawa, atau di
daerah aliran sungai. Ada juga yng berada di darat, tetapi dengan panggung
yang lebih pendek. Bentuk rumah panggung tercipta sebagai pengamanan
terhadap air laut pasang.
Ada keuntunan tersendiri memiliki rumah panggung. Bagian bawah
panggung yang berupa tanah dapat berfungsi sebagai tempat resapan air.
Pada ssat air pasang atau banjir, air akan menggenang sesaat untk kemudian
surut karena terserap ke dalam tanah.
Berikut ini ciri- ciri rumah panggung
Berdiri di atas pondasi umpak, yaitu pondasi setempat yang terbuat dari
batu berbentuk persegi. Pondasi umpak ini dapat melindungi tiang kayu
dari rembesan air dan rayap.
Di atas pondasi umpak terdapat tiang kayu sebagai soko guru. Kayu
yang digunakan biasanya pohon yang ada disekitar rumah, seperti
pohon nangka, pohon kecapi, dan pohon rambutan
Terdapat bagian tangga lengkap dengan kepercayaan mengenai balak
suji. Akan tetapi, saat ini balak suji sudah jarang ada di rumah-rumah
Betawi.
2.3 Struktur Bangunan Rumah Betawi
Struktur rumah Betawi dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu rumah darat
dan rumah panggung. Walaupun secara umum dikenal dengan tiga bentuk
rumah Betawi yaitu Joglo, Kebaya dan gudang. Ketiganya memiliki struktur
bangunan yang hampir mirip karena sama-sama rumah darat tidak berkolong.
Berbeda dengan rumah panggung yang struktur bangunannya harus
menyesuaikan kondisi alam disekitarnya.
Jika dilihat dari struktur organisasi ruangannya, rumah Betawi pada
umumnya terdiri dari teras yang luas dan dilengkapi Paeban, ruang dalam,
kamar tidur dan dapur seperti dibawah ini :
a. Pondasi
Pondasi rumah Betawi biasanya memiliki variasi yang bergantung pada
kondisi sosial ekonomi rumah tersebut. Ada rumah Betawi yang
pondasinya hanya sekedar roolag, yaitu batu bata yang disusun berjejer
dan menerus dengan campuran adukan semen dan pasir, ada pula yang
sudah menggunakan pondasi batu kali menerus, sedangkan rumah Betawi
yang berbentuk panggung menggunakan umpak pada struktur pondasinya.
b. Jendela dan pintu
Salah satu ciri khas rumah Betaei adalah jendela bujang/ jejake yang
memiliki bukaan yang besar pada bagian dinding. Bahkan terkadang
tidak berdaun sama sekali sehingga udara terasa segar karena
sirkulasinya berjalan dengan sangat baik. Selain itu ada juga jendela
krepyak yang memiliki jalusi horizontal.
c. Dinding
Dinding rumah Betawi tempo dulu banyak yang masih menggunakan
bilik bambu. Hanya pada tempat-tempat tertentu saja yang sampai saat ini
dinding rumahnya masih menggunakan bilik bambu. Sebagai contoh
rumah-rumah Betawi pinggiran Tangerang. Sebagian besar rumah Betawi
sudah menggunakan dindin beton dan sebagian masih ada yang
menggunakan dinding kayu papan

Gb. 13 Sambungan kayu pada dinding


Sumber : Buku Rumah Etnik Betawi

d. Pelangkah dan Sunduk


Pelangkah adalah kayu yang berfungsi sebagai pengikat bagian bawah
kusen pintu dan dipasang melintang tepat dibawah daun pintu, selain itu
berfungsi sebagai penutup celah anatara daun pintu dengan tanah.
Pelangkah biasanya masih digunakan pada rumah Betawi yang masih
berlantaikan tanah.
Sunduk adalah kayu yang menghubungkan kolom-kolom rumah. Sunduk
berfungsi sebagai pengikat di bawah kolom
e. Kolom dan Balok
Kolom dan balok rumah adat Betawi pada awalnya terbuat dari kayu,
tetapi saat ini kebanyakan sudah berubah menjadi kolom dan balok beton.
Untuk rumah Betawi yang masih menggunakan kontruksi kayu, bagian
bawah kolomnya diikat dengan balok pengikat sedangkan rumah Betawi
yang semi permanen atau permanen sudah menggunakan kolom dari cor
beton bertulang
Gb. 14 Kolom pada rumah Betawi
Sumber : Buku Rumah Etnik Betawi
f. Lantai
Lantai rumah Betawi adalah tanah kecuali rumah panggung yang
lantainya terbuat dari kayu. Pada perkembangannya lantai tanah ini
berubah menjadi lantai yang sudah di plester dengan semen atau ditutup
ubin.
g. Atap
Dari sekian banyak bagian struktur rumah betawi , salah satu ciri khas
yang dapat dijadikan salah satu pedoman untuk mengidentifikasikan suatu
rumah itu termasuk rumah Betawi atau bukan adalah bentuk struktur
atapnya. Bahan yang digunakan adalah kayu nangka sebagai kontruksi
utama kuda-kuda. Untuk gording biasanya menggunakan kayu sawo atau
kayu kecapi, sedangkan untuk reng dan kasau menggunakan bambu tali
.
2.4 Elemen Fungsional Rumah Betawi
2.4.1 Penataan spasial Vertikal
a. Atap
Secara umum atap rumah Betawi memiliki sepenggal atap miring yang
disebut juga dengan topi atau dak markis. Dak markis ini berfungsi
sebagai penahan cahaya matahari serta tampias hujan di ruang depan yang
selalu terbuka.
Gb. 15 Tampilan atap pada rumah Betawi
Sumber : Buku Rumah Etnik Betawi
b. Peseban
Peseban adalah ruangan depan rumah Betawi yang berbentuk bangunan
tanpa dinding, sedangkan atapnya merupakan sambungan dari atap
banguan inti .
c. Langkan
Langkan merupakan bagian dari paseban rumah yang berada di tepi
sebagai pembatas teras. Karena berfungsi sebagai pembatas maka langkan
dibuat lebih tinggi dari alas teras yaitu sektiar 50 cm-70 cm.

Gb 16. Langkan : pembatas teras Rumah


Sumber : Buku Rumah Etnik Betawi

d. Tapang
Tapang adalah bale-bale bambu pada paseban yang digunakan sebagai
tempat bersantai

Gb 17 Tipang pada salah satu Rumah adat Betawi di Situ Babakan


Sumber : Buku Rumah Etnik Betawi
e. Jendela Jejake
Salah satu fungsi jendela ini adalah agar sirkulasi udara dapat berjalan
maksimal, jendela ini tidak memilik daun jendela dan hanya dilengkapi
dengan kisi

Gb 17 Tipang pada salah satu Rumah adat Betawi di Situ Babakan


Sumber : Buku Rumah Etnik Betawi
f. Jendela krepyak
Jendela ini merupakan jendela yang terbuat dari kayu dan terdiri dari 2
daun yang terbuat dari kayu dengan pola garis-garis horizontal tanpa kisi
untuk sirkulasi udara.

2.4.2 Penataan Spasial Horizontal


a. Pangkeng
Pangkeng berasal dari bahasa Cina yang artinya ruangan atau kamar tidur.
Didalam suatu rumah terdapat beberapa Pangkeng.
b. Pendaringan
Pendaringan adalah tempat menaruh beras, tempat ini identik dengan
tempat cadangan makanan bagi sang tuan rumah.
c. Padasan
Padasan adalah sumur timba yang dilengkapi dengan pancuran air yang
berguna untuk mandi, mencuci , serta untuk wudhu
d. Dapur
Hampir semua dapur pada bangunan Rumah Betawi memiliki bangunan
yang terpisah dan berdiri sendiri.
2.5 Filosofi, Kepercayaan Dan Pantangan
2.5.1 Filosofi
1. Tradisi sedekah rata bumi
Pada saat rumah baru memasuki tahap pekerjaan pondasi, warga
betawi biasanya melakukan selamatan sedekah rata bumi,
dengan maksud tujuan agar calon penghuni rumah tersebut
menempati rumah yang memiliki pondasi yang kuat
2. Filosofi balaksuji
Balaksuji merupakan kontruksi tangga pada rumah panggung
betawi dimana secara filosofis, orang yang masuk ke rumah
harus membersihkan kaki terlebih dahulu, selain itu tidak
sekedar bersih lahiriah tetapi juga bersih secara Bhatiniah.

3. Berbagai Filosofi ragam hias


Berikut makna filosofis dari masing-masing ragam hias pada
rumah Betawi :
Bentuk tumpal adalah simbol gunung yang artinya
kekuatan dan keseimbangan alam
Bentuk bunga melati mengisyaratkan pesan keceriaan
penghuni rumah, keharuman yang artinya sangat menjaga
kebersihan, serta keramahan yang dimiliki masyarakat
Betawi.
Simbol Matahari menunjukan harapan si pemilik rumah
agar hatinya senantiasa diterangi seperti matahari
menerangi bumi
Motif tanaman seperti tapak dara, kecubung, jambu mete
mengindikasikan kedekatan masyarakat Betawi dengan
alam serta pengetahuan masyarakat betawi mengenai
tanaman obat.
Ragam hias gigi balang memiliki pesan bahwa kehidupan
seseorang pasti akan menghadapi masalah

4. Filosofi langkan
Langkan berfungsi sebagai pembatas rumah. Langkan ini
memiliki simbol patung manusia yang juga diartikan sebagai
simbol penjaga rumah.
5. Filosofi lampu gembreng
Rumah-rumah Betawi tempo dulu biasanya menyediakan lampu
gembreng di depan rumah. Selain untuk menerangi jalan, lampu
ini merupakan suatu perlambang dari ilmu agama

6. Filosofi warna hijau dan kuning


Fasad rumah betawi pinggir masih banyak yang menggunakan
warna campuran hijau dan kuning. Makna filosofi warna kuning
adalah kesejahteraan sedangkan warna hijau melambangkan
kesuburan. Terkadang warna hijau- kuning mencirirkan pemilik
taat pada agama yang dianutnya.
2.5.2 Kepercayaan dan pantangan dalam mendirikan rumah

Berikut merupakan kepercayaan dan pantangan dalam mendirikan


rumah bagi masyarakat suku Betawi

1. Pantangan melangkahi kayu nangka


2. Garam bata mengusir roh jahat
3. Pohon cempaka membuat rukun dengan tetangga
4. Kayu asem bisa meruntuhkan wibawa
5. Uang logam agar rezeki lancar
6. Bubur penangkal makhluk halus
7. Posisi rumah anak harus di sebelah kiri orang tua.
8. Pohon kelor penolak teluh
2.6 Aneka Ragam Hias Rumah Adat Betawi
Ragam hias pada rumah Betawi atau dekorasi gaya Betawi merupakan
ornamen yang menghiasi bangunan rumah biasanya ragam hias ini
mengikuti simbol simbol tertentu yang berasal dari alam dan memiliki
makna filosofis tertentu.
1. Ragam hias Banji/ swastika
Ragam hias ini merupakan dasar ragam hias swastika yang disusun di
tiap ujungnya. Bentuk ragam hias swastika ini menyerupai gambar
peredaran bintang atau matahari.
Ragam hias ini memiliki makna filosofis dimana rumah yang memiliki
Ragam hias Banji diharapkan mendapat rejeki atau kebahagiaan.

2. Ragam Hias Tumpal


Ragam hias tumpal sudah dikenal masyarakat Betawi sejak zaman
neolitikum. Bentuknya menyerupai bidang segitiga atau gunungan.
Ragam hias ini bermakna kekuatan alam yang terdiri dari unsur
makrokosmos dan metakosmos.
3. Ragam hias Tapak dara
Masyarakat Betawi dari dulu dikenal dekat dengan alam, sehingga di
halaman mereka banyak di tanami aneka tanaman obat-obatan seperti
tapak dara. Oleh karena itu, Bunga tapak dara begitu dekat dengan
Masyarakat Betawi sehingga dijadikan ragam hias rumah mereka.
4. Ragam Hias Bunga Delima
Bunga delima cukup akrab bagi masyarakat betawi karena memiliki
banyak khasiat. Bentuknya yang indah dengan kelopaknya yang
berlapis membuat bunga delima ini kerap dijadikan ragam hias rumah
Betawi

5. Ragam hias pucuk rebung


Pada budaya Betawi ragam hias pucuk rebung ini menyerupai dengan
bentuk gigi balang yang biasanya menghiasi lisplang di sepanjang atap
rumah.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Perubahan Pada Rumah Adat Betawi

Seiring berkembangnya zaman dan waktu dan banyaknya pengaruh


dari luar daerah dan berkembangnya kemajuan teknologi membuat rumah
tradisional Betawi mengalami perubahan. Sehingga rumah tradisional
Betawi bertransisi menjadi rumah modern. Perubahan tersebut bila di
analisis dapat disimpulkab menjadi 4 jenis yaitu :
1. Perubahan Material
2. Perubahan Desain
3. Perubahan organisasi Ruang
3.1.1 Perubahan Material
Perubahan material meliputi hampir semua bagian kontruksi mulai
dari pondasi, dinding, atap, dan lantai. Perhatikan tabel berikut.
Bagian Perkembangan
Rumah Tradisional Semi modern Modern
Pondasi Pondasi awal masih Penggunaan bentuk Sudah mengenal
menggunakan umpak panggung mulai pondasi batu kali
dengan tiang kayu berkurang/ hingga aplikasi
setinggi 15-20 cm ditinggalkan dan prefab frame
mulai mengenal House
pondasi roolag
Dinding Pada awalnya Mulai mengenal Hampir semua
berdinding kayu atau dinding beton, dinding terbuat
bilik bambu meski hanya dari beton
dinding setengah
beton (bagian
bawah beton,
bagian atas papan
kayu)
Kolom Tidak mengenal kolom Sudah mengenal Sudah
dan Balok beton bertulang, yang kolom dan struktur menggunakan
ada hanya balok dan beton bertulang kontruksi baja
kolom dari kayu ringan
terutama kayu nangka,
kecapi, rambutan dan
sawo
Penutup Beratap sederhana dari Mulai berganti Penutup atap dari
atap bahan-bahan yang dengan atap seng, genteng, lengkap
tersedia di alam seperti asbes, atau genteng dengan variasinya
rumbia., sirap,atau ijuk
Rangka Dikenal dengan tiga Model rangka atap Rangka atap baja
atap model yaitu bapang, masih ringan dengan
joglo, dan gudang: dipertahankan model tradisional
semuanya berbahan hanya materialnya
kayu yang mulai
menyesuaiakan
Gebyok Gebyok tradisional Gebyok tetap Hanya moden dan
Betawi merupakan ciri dipertahankan, desain gebyok
khas yang hanya saja banyak nya saja yang
membedakan rumah yang tidak masih digunakan,
betawi dengan rumah menggunakan itupun sudah
etnik lainnya sistem panel, mulai di
materialnya juga variasikan dengan
tidak seluruhnya model rumah
kayu lainnya.
Pintu Keduanya merupakan Masih digunakan, Sebagian hanya
krepyak elemen yang tidak tetapi tidak lagi menggunakan
dan terpisahkan dari menyatu bila modelnya saja
jendela gebyok menggunakan dengan stuktur
bujang gebyok dan bahan yang
berbeda
Paseban Paseban dan tapang Tapang mulai Adanya keinginan
dan merupakan ciri rumah digantingkan untuk kembali
tapang Betaei yang paling dengan meja dan menghadirkan
khas dan selalu ada di kursi kayu keduanya, tetapi
setiap rumah dengan
improvisasi desin
dan bahan, seperti
gazebo
Langkan Langkan termasuk Langkan kayu Langkan sulit
salah elemen rumah divariasikan dengan diwujudkan
tradisional Betawi tembok bata karena
yang selalu hadir tidak meniadakan unsur
terpisahka dengah garasi di Rumah.
tapang dan paseban
lisplang Lisplang menjadi ikon Lisplang selalu Sekedar ornamen
rumah betawi hadir walaupun dekoratif yang
tradisional yang modernisasi sudah tidak selalu ada
penyebarannya sangat merambah rumah
luas, biasanta lisplang Betawi, hanya saja
diukir dengan ragam lebih simpel
hias tombak
Padasan Padasan dan dapur Padasan dengan Konsep padasan
dan biasanya di dedain sumur timba sudah hanya digunakan
Dapur terpisah di bagian digantikan dengan sebagai ornamen
belakang mesin pompa air . dekoratif. Lalu
sementara dapur sudah
penggunaan tungku menggunakan
dan kayu bakar di kompor gas dan
gantikan dengan kitchen set
kompor minyak
tanah
1. Contoh rumah Betawi Tradisional
Rumah Betawi Tangerang selatan

Rumah betawi yang terletak di Tangerang Selatan ini masih


mempertahankan Arsitektur Tradisional Betawinya, hal ini dilihat dari
penggunaan material yang masih alami yaitu menggunakan kayu, bambu
sebagai dindingnya. Selain itu ciri khas lainnya adalah kamar mandinya
terpisah dari bangunan utama. Yang dimana pada padasan tersebut
biasanya terdapat di belakang, di balik rindangnya pepohonan.
2. Contoh Rumah Betawi Semi Modern
Rumah Betawi Situ Babakan
Rumah betawi ini terletak di daerah Situ Babakan. Desain ini masih
mencerminkan arsitektur rumah Betawi asli , dapat dilihat dari model teras
terbuka dengan jendela model krepyak, langkan, lisplang gigi balang serta
warna kuning pada dinding menampilkan ciri khas rumah Betawi.namun
pada penggunaan material audah menggunakan material modern seperti
beton dan lantai keramik.
3. Contoh Rumah Betawi Modern
Rumah Modern Beratap Kebaya
Rumah berarsitektur etnik Betawi dikombinasikan dengan rumah modern.
Model atap kebaya dengan hiasan lisplang gigi balang di tepiannya terlihat
matching dengan jendela dan pagar yang bergaya minimalis. Walaupun
tidak memiliki teras luas, namun ciri khas betawi masih terlihat di rumah
ini yaitu pada lisplang dan Bentuk atapnya.

3.1.2 Perubahan Desain


Saat ini banyak rumah Betawi yang sudah tidak memiliki paseban
lagi. Fungsinya sebagai penahan panas matahari digantikan dengan
kanopi. Teras rumah Betawi Tradisional selalu luas dan multifungsi
sehingga banyak barang yang ditaruh disana.
Sejak awal, rumah Betawi lebih menekankan pada fungsi dengan
penampilan / fasad. Namun, tanpa harus menghilangkan makna filosofi
ornamennya.
Dulu saat kebun masih luas dan pohon masih rindang, memiliki
padasan yang terpisah dari rumah bukanlah suatu masalah, Namun lambat
laun padasan mulai hilang seiring hilangnya tanah dan kebun mereka.
Selama ratusan tahun, masyarakat Betawi tidak mengenal garasi, apalagi
pagar besi. Mereka terbiasa bersahabat dengan lingkungan sekitar. Namun
pengaruh perubahan sosial masyarakat yang terjadi membuat mereka harus
berfikir dua kali untuk mempertahankan filosofi ini. Faktor keamanan
membuat rumah Betawi banyak memiliki garasi dan berpagar besi.
Lalu pada penampilan tapang yang sederhana, sekarang fungsi dan
penampilan tapang sudah berubah. Selain itu pada dapur Rumah adat
Betawi juga mengalami perubahan, dimana yang dulunya sederhana
menjadi mewah dengan kitchen Set.
3.1.3 Perubahan organisasi Ruang

Pada rumah Arsitektur Tradisional Betawi, pada umumnya terdiri


dari teras yang luas dan dilengkapi paseban , ruang dalam , kamar tidur
dan dapur. Sedangkan untuk Kamar mandi terpisah dari bangunan utama.
Seiring perkembangan jaman, masyarakat mulai menyadari bahwa Kamar
mandi merupakan ruang yang utama sehingga banyak rumah Betawi
meletakan kamar mandi pada bagian bangunan utamanya. Selain itu
penambahan car port / garase pada bangunan diakibatkan oleh
perkembangan teknologi.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan dan analisis mengenai perubahan-perubahan pada


Arsitektur Tradisional Betawi, maka dapat dismpulkan bahwa Rumah Adat
Tradisional Betawi mengalami transisi modern dimana hal ini diakibatkan
oleh perkembangan zaman, perkembangan teknologi dan perubahan sosial
masyarakat. Perubahan- perubahan ini meliputi perubahan pada material,
pada desain, dan pada organisasi ruang. Jika rumah tradisional Betawi pada
jaman dahulu menggunakan material sederhana seperti tanah, ilalang dan
bambu, Saat ini hampir seluruh Rumah Adat Betawi sudah menggunakan
material modern seperti beton, keramik, serta genteng. Lalu pada desain
Rumah Adat Betawi juga mengalami banyak perubahan, beberapa fungsi
penataan spasial vertikal maupun horizontal telah diganti. Seperti contoh
paseban pada bangunan Rumah Adat Betawi digantikan oleh kanopi.
Organisasi ruang juga banyak berubah, seperti kamar mandi yang
dahulunya terpisah dari bangunan utama, namun karena kebutuhan kamar
mandi diletakkan pada bangunan utama.

3.2 Saran

Sebaiknya pemerintah lebih memperhatikan bangunan Rumah Adat


di Indonesia agar tidak punah, khususnya pada rumah adat Betawi yang
saat ini mulai langka dan mengalami transisis. Selain itu untuk para
Mahasiswa harus ikut melestarikan keberadaan Rumah Adat di Indonesia,
langkah yang paling kecil adalah cukup mengetahui bagaimana rumah-
rumah Adat di Indonesia agar tidak mudah di klaim oleh negara lain.