Anda di halaman 1dari 36

DIET TINGGI KALORI TINGGI PROTEIN

No. Dokumen Revisi ke Halaman


1 1/1
Tanggal terbit
Ditetapkan Oleh :
STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH


Pengertian Diet yang mengandung kalori/energi dan protein di atas kebutuhan normal.
Disebut juga diet Energi Tinggi Protein Tinggi (ETPT).
Diet diberikan kepada pasien dalam keadaan :
1. Kurang Energi Protein (KEP).
2. Sebelum dan sesudah operasi tertentu, multi trauma, serta selama
radioterapi dan kemoterapi.
3. Luka bakar berat dan baru sembuh dari penyakit dengan panas tinggi.
4. Hipertiroid, hamil dan post partum dimana kebutuhan energi dan protein
meningkat.

Tujuan Tujuan diet ini untuk :


1. Memenuhi kebutuhan energi dan protein yang meningkat untuk
mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh.
2. Menambah berat badan hingga mencapai berat badan normal.
3. Memperbaiki pola maka secara bertahap hingga mencapai pola makan
seimbang.
Kebijakan Macam diet diberikan berdasarkan keadaan pasien yaitu :
1. ETPT 1 : E = 2600 Kkal, P = 100 g (2 g/KgBB)
2. ETPT 2 : E = 3000 Kkal, P = 125 g (2,5 g/KgBB)
3.
Prosedur

1. Energi tinggi yaitu 40 - 45 kkal/KgBB


2. Protein tinggi yaitu 2,0 - 2,5 g/KgBB
3. Lemak cukup yaitu 10 25 % dari kebutuhan energi total.
4. Karbohidrat cukup yaitu sisa dari kebutuhan energi total.
5. Vitamin dan mineral cukup sesuai kebutuhan normal.
6. Diet diberikan dalam bentuk makanan biasa ditambah bahan makanan sumber protein tinggi
seperti : susu, telur dan daging atau dalam bentuk minuman Enteral energi tinggi protein tinggi.
7. Diet diberikan bila pasien telah mempunyai cukup nafsu makan dan dapat menerima makanan
lengkap.
8. Makanan diberikan dalam bentuk mudah dicerna dan dsesuaikan dengan kondisi pasien.

Unit Terkait - Unit Boga


DIET RENDAH KALORI

No. Dokumen Revisi ke Halaman


0 1/1
Tanggal terbit
Ditetapkan Oleh :
STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH


Pengertian Diet rendah kalori/ energi rendah adalah diet yang mengandung kalori/energi
dibawah kebutuhan normal, cukup vitamin dan mineral, serta banyak
mengandung serat yang bermanfaat dalam proses penurunan berat badan.
Tujuan Tujuan diet ini untuk :
1. Mencapai dan mempertahankan Status Gizi sesuai dengan umur,
gender dan kebutuhan fisik
2. Mencapai IMT normal yaitu berat badan 18,5 25 Kg
3. Mengurangi asupan energi, sehingga tercapai penurunan berat badan
sebanyak 0.5 1 Kg / minggu.
4. Meningkatkan pengetahuan pola makan seimbang dengan member
informasi tentang pola makan.
Kebijakan Diet ini diberikan kepada pasien berdasarkan perhitungan IMT > 25 Kg
Macam diet diberikan berdasarkan keadaan pasien yaitu :
1. Diet Energi Rendah I/DER I (1200 kkal)
2. Diet Energi Rendah II/DER II (1500 kkal)
Diet diberikan sampai tercapai berat badan normal.
Prosedur:
1. Untuk menurunkan berat badan sebanyak - 1 Kg/minggu, asupan energi dikurangi sebanyak 500-1000
kkal/hari dari kebutuhan normal.
2. Perhitungan kebutuhan energi normal dilakukan berdasarkan berat badan ideal.
3. Dianjurkan untuk 3 kali makan utama dan 2 kali makan selingan dengan porsi yang disesuaikan
4. Dianjurkan karbohidrat komplek , hindari karbohidrat sederhana termasuk makanan manis dan gurih
5. Dianjurkan protein hewani yang mengandung sedikit lemak seperti daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit,
susu rendah lemak (susu skim).
6. Semua protein nabati dan sayuran dapat boleh dikonsumsi.
7. Cairan cukup yaitu 8-10 gelas per hari.
8. Vitamin dan mineral cukup sesuai dengan kebutuhan.

Unit Terkait - Unit Boga


DIET RENDAH GARAM

No. Dokumen Revisi Halaman


1 1/1

Tanggal Ditetapkan Oleh :


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Pengertian Pengaturan makanan dengan pembatasan pemberian natrium yang berasal


dari bahan makanan, garam dapur dan penyedap rasa.
Untuk membantu menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan
Tujuan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.dan
meningkatkan pengetahuan pasien dalam pemilihan makanan yang
baik,seimbang, renda natrium, cukup kalium, kalsium dan magnesium.

Pemberian diet ini disesuaikan dengan keadan pada masing-masing pasien.


Kebijakan
Diet Rendah Garam I (200 400 Mg Na)
1. Diberikan kepada pasien dengan edema, asites atau hipertensi berat.
2. Pada pengolahan makanan tidak ditambahkan garam dapur.
Diet Rendah Garam II (600 800 Mg Na)
1. Diberikan kepada pasien dengan edema, asites atau hipertensi tidak
terlalu berat.
2. Pada pengolahan makanannya boleh menggunakan 0.5 sendok teh
garam dapur (2 gr).
Diet Rendah Garam III (1000 1200 Mg Na)
1. Diberikan kepada pasien dengan edema atau hipertensi ringan.
2. Pada pengolahan bahan makanan boleh menggunakan 1 sendok teh
(4 gr) garam dapur.

Prosedur

1. Cukup energi, protein, mineral dan vitamin.


2. Bentuk makanan lunak dan biasa sesuai dengan keadaan penyakit.
3. Jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam atau air dan/ atau hipertensi.
4. Dianjurkan memilih makanan hewani ,nabati,sayuran dan buahan rendah natrium.
5. Bahan makanan dan jenis yang tidak dianjurkan seperti kue,baking powder dan soda
6. Tidak dianjurkan semua makanan yang diawetkan seperti ikan asin,dendeng ,abon, sayur asin,
acar dan buah kaleng.
7. Tidak dianjurkan bumbu yang mengandung garam dapur seperti kecap,terasi,saus tomat,petis
(sejenis terasi) dan taoco.

Unit Terkait Unit Boga


DIET TINGGI SERAT

No. Dokumen Revisi ke Halaman


1 1/1

Tanggal Ditetapkan Oleh :


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH


Pengertian Serat makanan adalah Polisacarida nonpati yang terdapat pada semua
bahan makanan nabati. Diet tinggi serat/serat tinggi adalah diet dengan serat
tinggi dan mengandung energi rendah, dengan demikian dapat membantu
menurunkan berat badan.

Tujuan Untuk memberikan makanan sesuai kebutuhan gizi yang tinggi serat
sehingga dapat merangsang peristaltik usus agar proses defekasi berjalan
normal.

Kebijakan Pemberian diet ini diberikan kepada pasien konstipasi kronis dan penyakit
divertikulosis dan lama pemberian diet disesuaikan dengan perkembangan
penyakit.

Prosedur

1. Pemberian diet ini dengan energi cukup sesuai dengan umur, gender & aktivitas.
2. Protein dan lemak cukup yaitu :
- Protein : 10-15% dari kebutuhan energi total.
- Lemak : 10-25% dari kebutuhan energi total.
3. Vitamin dan mineral tinggi terutama Vitamin B untuk memelihara kekuatan otot saluran cerna.
4. Cairan tinggi yaitu 2-2,5 Liter untuk membantu melancarkan defekasi.
5. Serat tinggi yaitu 30-50 g/hari terutama serat tidak larut air yang berasal dari beras tumbuk, beras
merah, roti whole meat, sayuran dan buah.

Unit Terkait - Unit Boga


DIET RENDAH SISA

No. Dokumen Revisi Halaman


1 1/1

Tanggal Ditetapkan Oleh :


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH


Makanan yang terdiri dari bahan makanan rendah serat dan hanya sedikit
meninggalkan sisa.
Pengertian

Untuk memberikan makanan sesuai kebutuhan gizi yang sesedikit mungkin


Tujuan
meninggalkan sisa sehingga dapat membatasi volume feses dan tidak
merangsang saluran cerna.

1. Diet ini diberikan kepada pasien dengan diare berat. Peradangan


Kebijakan
saluran cerna akut, divertikulitis akut, obstipasi spastik, penyumbatan
sebagian saluran cerna, haemorroid berat, serta pada pra dan pasca
bedah saluran cerna.
2. Pembagian diet ini disesuaikan menurut berat ringannya penyakit yaitu :
Diet sisa rendah I :
Makanan diberikan dalam bentuk saring atau diblender, untuk
menghindari makanan berserat tinggi dan sedang, bumbu yang
tajam, susu, daging berserat kasar (liat) dan membatasi
penggunaan gula dan lemak.
Diet sisa rendah II
Diberikan bila penyakit mulai membaik atau bila penyakit bersifat
kronis. Makanan diberikan dalam bentuk cincang atau lunak.

Prosedur
1. Energi cukup sesuai dengan umur, jenis kelamin dan aktivitas.
2. Protein cukup, yaitu 10-15 % dari kebutuhan energi total
3. Lemak sedang, yaitu 10-25 % dari kebutuhan energi total.
4. Karbohidrat cukup, yaitu sisa kebutuhan energi total
5. Menghindari makanan berserat tinggi dan sedang sehingga asupan serat maksimal 8 gr/hari.
Pembatasan ini disesuaikan dengan toleransi perorangan.
6. Menghindari susu, produk susu, dan daging berserat kasar ( liat ) sesuai dengan toleransi
perorangan.
7. Menghindari makanan yang terlalu berlemak, terlalu manis, terlalu asam dan berbahu tajam.
8. Makanan dimasak hingga lunak dan dihidangkan pada suhu tidak terlalu panas dan dingin.
9. Makanan sering diberikan dalam porsi kecil
10. Bila diberikan untuk jangka waktu lama atau dalam keadaan khusus, diet perlu disertai supplement
vitamin dan mineral, makanan formula, atau parenteral

unit Terkait
DIET PADA TINDAKAN BEDAH (PRA-BEDAH)

No. Dokumen Revisi Halaman


1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Pengertian Diet pra bedah adalah pengaturan makanan yang diberikan kepada pasien
yang akan menjalani pembedahan.

Tujuan Untuk mengusahakan agar status gizi pasien dalam keadaan optimal saat
pembedahan, sehingga tersedia cadangan untuk mengatasi stress dan
penyembuhan luka akibat operasi.

Kebijakan Pemberian diet diberikan sesuai dengan jenis dan sifat


pembedahan.
1. Pra-bedah darurat atau cito.
Sebelum pembedahan tidak diberikan diet tertentu.
2. Pra-bedah berencana atau elektif.
Pra-bedah minor atau kecil (elektif)
Tonsilektomi.
- Tidak membutuhkan diet khusus.
- Pasien dipuasakan 4-5 jam sebelum pembedahan.
Appendektomi, Haemorrhoidektomi, Herniotomi, dsb.
- Diberikan diet sisa rendah sehari sebelumnya.
Pra-bedah mayor atau besar (elektif)
Pemberian makanan terakhir dilakukan 12-18 jam sebelum
pembedahan.
Pemberian minuman terakhir dilakukan 8 jam sebelumnya.
Pra-bedah Saluran Cerna
Selama 4-5 hari diberikan diet sisa rendah dengan tahapan :
- Hari ke-4 sebelum pembedahan diberikan makanan lunak.
- Hari ke-3 sebelum pembedahan diberikan makanan saring.
Hari ke-2 sebelum pembedahan diberikan makanan formula
enteral sisa rendah.
Pra-bedah di Luar Saluran Cerna
- Selama 2-3 hari diberikan formula enteral sisa rendah.
- Pemberian makanan terakhir pada pra-bedah
DIET PADA TINDAKAN BEDAH (PRA-BEDAH)

No. Dokumen Revisi Halaman


1 2/2

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
Februari 2014
PROSEDUR

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Prosedur

1. Energi
1.1 Pasien dengan status gizi kurang di berikan sebanyak 40-45 kkal/kg BB
1.2 Pasien dengan status gizi lebih diberikan sebanyak 10-25 %dibawah kebutuhan energi normal
1.3 Pasien dengan status gizi baik diberikan sesuai dengan kebutuhan energi normal ditambah
faktor stres sebesar 15 %. Dari AMB ( Angka metabolisme Basal)
2. Protein
2.1 Pasien dengan status gizi kurang, anemia, albumin rendah (< 2,5 mg/dl) diberikan protein tinggi
1,5-2,0 g/kg BB.
2.2 Pasien dengan status gizi baik atau kegemukan di berikan protein normal 0,8-1 g/kg BB.
3. Lemak cukup, yaitu 15-25% dari kebutuhan energi total
4. Karbohidrat cukup, sebagai sisa dari kebutuhan energi total untuk menghindarihipermetabolisme.
5. Vitamin cukup, terutama vitamin B, C, dan K. bila perlu ditambahkan dalam bentuk suplemen.
6. Mineral cukup. bila perlu ditambahkan dalam bentuk suplemen.
7. Rendah sisa agar mudah dilakukan pembersihan saluran cerna atau klisma, sehingga tidak
mengganggu proses pembedahan ( tidak buang air besar atau kecil di meja operasi ).

Unit Terkait Unit Boga


DIET PADA TINDAKAN BEDAH (PASCA-BEDAH)

No. Dokumen Revisi Halaman


1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR
Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Adalah makanan yang diberikan kepada pasien setelah menjalani


Pengertian
pembedahan.
Dibagi menjadi :
1. Diet Pasca Bedah I
Diberikan kepada semua pasien pasca-bedah. Dibagi menjadi :
- Pasca-Bedah Kecil
- Pasca-Bedah Besar
2. Diet Pasca-Bedah II
Diberikan kepada pasien pasca bedah besar saluran cerna atau sebagai
perpindahan dari diet pasca-bedah I.

Untuk mengupayakan agar status gizi pasien segera kembali normal untuk
Tujuan
mempercepat proses penyembuhan setelah operasi dan meningkatkan daya
tahan tubuh pasien dengan cara sebagai berikut :
1. Memberikan kebutuhan dasar.
2. Mengganti kehilangan protein, glikogen, zat besi, dan zat gizi
lainnya.
3. Memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan cairan.

Pemberian diet ini diberikan dari tahap ketahap tergantung pada macam
Kebijakan
pembedahan dan keadaan pasien.
1. Diet Pasca-Bedah I
Pasca-Bedah kecil :
- Setelah sadar atau rasa mual hilang.
Pasca-Bedah besar
- Setelah sadar atau rasa mual hilang dan ada tanda-tanda usus
sudah mulai bekerja.
Diberikan dalam waktu sesingkat mungkin, karena kurang dalam semua
zat gizi.
2. Diet Pasca-Bedah II
Diberikan dalam waktu sesingkat mungkin, karena kurang dalam semua
zat gizi.
DIET PADA TINDAKAN BEDAH (PASCA-BEDAH)

No. Dokumen Revisi Halaman


1 2/2

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR
Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Prosedur

Syarat diet pasca Bedah adalah memberikan makanan secara bertahap mulai dari bentuk cair, saring,
lunak dan biasa. Pemberian makanan dari tahap ketahap tergantung pada macam pembedahan dan
keadaan pasien seperti:
1. Diet Pasca-Bedah I
Pasca-Bedah kecil :
- Makanan diusahakan secepat mungkin kembali seperti biasa atau normal.
Pasca-Bedah besar :
- Makanan diberikan secara hati-hati disesuaikan dengan kemampuan pasien untuk
menerimanya.
Selama 6 jam setelah pembedahan makanan diberikan berupa air putih, teh manis atau cairan lain
seperti makanan cair jernih.
2. Diet Pasca-Bedah II
- Makanan diberikan dalam bentuk cair kental, berupa kaldu jernih, sirup, sari buah, sup, susu
dan pudding. Rata-rata 8-10 kali sehari selama pasien tidak tidur.
- Tidak boleh diberikan air jeruk dan minuman yang mengandung karbondioksida (soda).

Unit Terkait Unit Boga


DIET LUKA BAKAR

No. Dokumen Revisi Halaman


1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Adalah diet yang diberikan untuk pasien dengan luka bakar, yaitu pasien
Pengertian
dengan kerusakan jaringan permukaan tubuh disebabkan oleh panas pada
suhu tinggi yang menimbulkan reaksi pada seluruh sistem metabolisme.

Untuk mempercepat penyembuhan dan mencegah terjadinya gangguan


Tujuan
metabolik serta mempertahankan status gizi secara optimal selama proses
penyembuhan dengan cara :
1. Mengusahakan dan mempercepat penyembuhan jaringan yang rusak.
2. Mencegah terjadinya keseimbangan nitrogen yang negative.
3. Memperkecil terjadinya hiperglikemia dan hipergliseridemia.
4. Mencegah terjadinya gejala-gejala kekurangan zat gizi mikro.

Pemberiaan diet ini disesuaikan dengan kondisi luka bakar pasien.


Kebijakan
Diet luka bakar I
1. Diberikan berupa cairan air gula, garam, soda ( AGGS ) dan makanan
cair penuh dengan pengaturan sebagai berikut :
1.1. Pada 0-8 jam pertama sampai residu lambung kosong, diberi
AGGS dan makanan cair penuh 1\2 kkal/ml, dengan cara drip
dengan kecepatan 50 ml/jam.
1.2. Pada 8-16 jam kemudian, jumlah energi permililiter ditingkatkan
menjadi 1 kkal/ml dengan kecepatan yang sama.
1.3. Pada 16-24 jam kemudian, apabila tidak kembung dan muntah,
energi ditingkatkan menjadi 1 kkal/ml dengan kecepatan 50/75
ml/menit. Diatas 24 jam bila tidak ada keluhan, kecepatan
pemberian makanan dinaikkan sampai dengan 100 ml/ menit.
1.4. Apabila ada keluhan kembung dan mual, AGGS dan makanan
cair penuh diberikan dalam keadaan dingin. Apabila muntah,
pemberian makanan dihentikan selama 2 jam.
2. Komposisi cairan ( AGGS ) adalah :
Air = 200 ml Garam dapur = 2 gr / bks
Gula/sirup = 25 gr / 30 ml Soda kue = 1 gr / 1 bks
Diet luka bakar II
1. Diet luka bakar II merupakan perpindahan dari diet luka bakar I.
2. Diberikan segera setelah pasien mampu menerima cairan AGGS dan
makanan cairan penuh dengan nilai energi 1 kkal/ml, serta sirkulasi
cairan tubuh normal.
3. Bentuk makanannya disesuaikan dengan kemampuan pasien, dapat
berbentuk cair, saring, lumat,lunak atau biasa. Cara pemberiannya :
Cairan AGGS diberikan tidak terbatas.
DIET LUKA BAKAR

No. Dokumen Revisi Halaman


1 2/2

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Bila diberikan dalam bentuk cair, frekuensi pemberian 8 kali sehari.


Volume setiap kali pemberian disesuaikan dengan kemampuan pasien,
maksimal 350 ml.
Bila diberikan dalam bentuk saring, frekuensi pemberian 3-4 kali sehari
dan dikombinasikan dengan makanan cair penuh untuk memenuhi
kebutuhan gizi.
Bila diberikan dalam bentuk lunak atau biasa, frekuensi pemberian
disesuaikan dengan kemampuan pasien sehingga asupan zat gizi terpenuhi

Prosedur

1. Memberikan makanan dalam bentuk cair sedini mungkin atau Nutrisi Enteral Dini (NED).
2. Kebituhan energi dihitung dengan pertimbangan kedalaman dan luas luka baker.
3. Protein tinggi, yaitu 20 - 25% dari kebutuhan energi total.
4. Lemak sedang, yaitu 15 - 20% dari kebutuhan energi total. Pemberian lemak yang tinggi
menyebabkan penundaan respons kekebalan, sehingga pasien lebih mudah terkena infeksi.
5. Karbohidrat sedang yaitu 50 - 60% dari kebutuhan energi total. Bila pasien mengalami trauma jalan
napas ( trauma inhalasi ) , karbohidrat diberikan 45 - 55% dari kebutuhan energi total.
6. Vitamin diberikan diatas angka kecukupan gizi (AKG) yang dianjurkan untuk membantu
mempercepat penyembuhan. Vitamin umumnya ditambahkan dalam bentuk suplemen.
7. Kebutuhan beberapa jenis Vitamin adalah sbb:
7.1 Vitamin A minimal 2 x AKG
7.2 Vitamin B minimal 2 x AKG
7.3 Vitamin C minimal 2 x AKG
7.4 Vitamin E 200
8. Mineral tinggi, terutama zat besi, seng, natrium, kalium, kalsium, fosfor, dan magnesium. Diberikan
dalam bentuk suplemen.
9. Cairan tinggi untuk mengganti cairan yang hilang agar tidak terjadi shock.

Unit Terkait Unit Boga


DIET HIPEREMESIS

No. Dokumen Revisi Halaman


1 1/1

Ditetapkan Oleh
Tanggal Direktur
STANDAR
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH


Suatu keadaan pada awal kehamilannya (sampai trimester II) ditandai
dengan rasa mual muntah yang berlebihan dalam waktu relatif lama.
Pengertian

1. Mengganti persediaan glikogen tubuh dan mengontrol asidosis.


Tujuan
2. Secara berangsur memberikan makanan ber energi dan zat gizi
yang cukup.
3. Meningkatkan asupan energy dan zat gizi

Diet Hiperemesis diberikan kepada pasien berdasarkan kondisi pasien yang


Kebijakan
dibagi menjadi :
1. Diet Hiperemesis I
Diberikan kepada pasien dengan hiperemesis berat. Makanan hanya
terdiri dari roti kering, singkong bakar atau rebus, ubi bakar atau rebus,
dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan, tetapi 1-2
jam sesudahnya. Semua zat gizi pada makanan ini kurang kecuali
vitamin c, sehingga hanya diberikan beberapa hari.
2. Diet Hiperemesis II
Diberikan bila rasa mual dan muntah sudah berkurang. Secara
berangsur-angsur mulai diberikan bahan makanan yang bernilai gizi
tinggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan. Pemilihan bahan
makanan yang tepat pada tahap ini dapat memenuhi kebutuhan gizi,
kecuali kebutuhan energi.
3. Diet Hiperemesis III
Diberikan kepada pasien dengan hiperemesis ringan. Sesuai dengan
kesanggupan pasien, minuman boleh diberikan bersama makanan.
Makanan ini cukup energi dan semua zat gizi.

Unit Terkait - Unit Boga


DIET HIPEREMESIS

No. Dokumen Revisi Halaman


1 2/2

Tanggal terbit Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Prosedur

1. Karbohidrat tinggi, yaitu 75-80 % dari kebutuhan energi total.


2. Lemak rendah, yaitu 10 % dari kebutuhan energi total.
3. Protein sedang, yaitu 10-15 % dari kebutuhan energi total.
6. 4. Makanan diberikan dalam bentuk kering; pemberian cairan disesuaikan dengan keadaan pasien,
yaitu 7-10 gelas perhari.
7. 5. Makanan mudah cerna, tidak merangsang saluran cerna, dan deberikan sering dalam porsi dalam
porsi kecil.
8. 6. Bila makan pagi dan siang sulit diterima, dioptimalkan makan malam dan selingan malam.
9. 7. Makanan secara berangsur ditingkatkan dalam porsi dan nilai gizi sesuai dengan keadaan dan
kebutuhan gizi pasien.
10. 8. Hindari konsumsi makanan berlemak yang terlalu tinggi untuk menghindari mual dan muntah.
11. 9. Hindari makanan yang berbau tajam dan merangsang atau makanan yang tidak disukai pasien.

Unit Terkait Unit Boga


DIET PREEKLAMPSIA

No. Dokumen Revisi Halaman


1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Merupakan diet yang diberikan pada pasien dengan sindroma yang terjadi
Pengertian
pada saat kehamilan, mulai pada minggu keduapuluh dengan gejala dan
tanda seperti hipertensi, proteinuria, kenaikan berat badan yang cepat
(karena edema) mudah timbul kemerah merahan, mual, muntah, pusing,
nyeri lambung, gelisah dan kesadaran menurun.

1. Mencapai dan mempertahankan status gizi optimal.


Tujuan
2. Mencapai dan mempertahankan tekanan darah tinggi.
3. Mencegah dan mengurangi retensi garam atau air.
4. Mencapai keseimbangan nitrogen.
5. Menjaga agar penambahan berat badan tidak melebihi normal.
6. Mengurangi atau mencegah timbulnya faktor resiko lain atau penyulit
baru pada saat kehamilan setelah melahirkan.

Kebijakan Diet diberikan berdasarkan kondisi pasien dengan memperhatikan asupan


garam dan protein, dibagi menjadi :
1. Diet preeklampsia I
Diet preeklampsia I diberikan kepada pasien dengan preeklampsi berat.
Makanan diberikan dalam bentuk cair, yang terdiri dari susu dan sari
buah. Jumlah cairan diberikan secara paranteral. Makanan ini kurang
energi dan zat gizi, karena itu hanya diberikan selama 1-2 hari.
2. Diet preeklamsia II
Diet preeklamsia II diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet
preeklampsia I atau pada pasien preeklampsia yang penyakitnya tidak
begitu berat. Makanan berbentuk saring atau lunak yang biasa diberikan
sebagai Diet Rendah Garam I. Makanan ini cukup energi dan zat gizi
lainnya.
3. Diet Preeklampsia III
Diet Preeklampsia III diberikan sebagai makanan perpindahan dari Diet
Preeklampsia II atau kepada pasien dengan preeklampsia ringan.
Makanan ini mengandung protein tinggi dan garam rendah. Diberikan
dalam bentuk lunak atau biasa. Makanan ini cukup semua zat gizi.
Jumlah energi harus disesuaikan dengan kenaikan berat badan yang
boleh lebih dari 1 Kg tiap bulan.
DIET PREEKLAMPSIA

No. Dokumen Revisi Halaman


1 2/2

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Prosedur

1. Energi dan semua zat gizi cukup. Dalam keadaan berat,makanan diberikan secara berangsur,
sesuai dengan kemampuan pasien menerima makanan. Penambahan energi tidak lebih dari 300
Kkal dari makanan atau diet sebelum hamil.
2. Garam diberikan rendah sesuai dengan berat ringannya retensi garam atau air. Penambahan berat
badan diusahakan dibawah 3 kg/bulan atau dibawah 1 kg/minggu.
3. Protein tinggi (1.5 2 Kg/berat badan).
4. Lemak sedang, sebagian lemak berupa lemak tidak jenuh tunggal dan lemak tidak jenuh ganda.
5. Vitamin cukup; vitamin c dan vitamin B6 diberikan sedikit lebih tinggi.
6. Mineral cukup terutama kalsium dan kalium.
7. Bentuk makanan disesuaikan dengan kemampuan makan pasien.
8. Cairan diberikan 2500 ml sehari. Pada keadaan oliguria, cairan dibatasi dan disesuaikan dengan
cairan yang keluar melalui urin, muntah, keringat dan pernapasan.

Unit Terkait Unit Boga


DIET DISFAGIA

No. Dokumen Revisi Halaman


1 1/1

Tanggal terbit Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH


Diet untuk pasien dengan kesulitan menelan karena adanya gangguan aliran
makanan pada saluran cerna.
Pengertian
Perbatasan saluran cerna atas dan bawah adalah ligamentum treitz yaitu
pada daerah usus dua belas jari (duodenum).

1. Menurunkan resiko aspirasi akibat masuknya makanan kedalam saluran


Tujuan
pernapasan.
2. Mencegah dan mengoreksi defisiensi zat gizi dan cairan.

Karena biasanya penyakit ini terjadi pada lansia, gangguan saraf menelan,
Kebijakan
tumor esofagus dan pasca stroke, maka bentuk makanan pun bergantung
pada cara pemberian. Bila diberikan melalui pipa, makanan diberikan dalam
bentuk makanan cair penuh. Bila diberikan peroral maka makanan diberikan
dalam bentuk makanan cair kental, saring, atau lunak.

Prosedur

1. Cukup energi, protein, dan zat gizi lainnya.


2. Mudah dicerna.
3. Porsi makanan kecil dan sering diberikan.
4. Cukup cairan.
5. Bentuk makanan bergantung pada kemampuan menelan. Diberikan bertahap,dimulai dari makanan
cair penuh atau cair kental (thick liquid drink), makanan saring, kemudian makanan lunak.
6. Makanan cair jernih tidak diberikan karena sering menyebabkan tersedak atau aspirasi/
7. Cara pemberian makanandapat peroralatau melalui pipa (selang) atau sonde.

Unit Terkait Unit Boga


DIET PASCA HAEMATEMESIS MELENA

No. Dokumen Revisi ke Halaman


1 1/1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Diet yang diberikan kepada pasien dengan keadaan muntah dan sering
Pengertian
buang air besar berupa darah akibat luka atau kerusakan pada saluran cerna.
Perbatasan saluran cerna atas dan bawah adalah ligamentum treitz yaitu
pada daerah usus dua belas jari (duodenum).

1. Memberikan makanan secukupnya yang memungkinkan istirahat pada


Tujuan
saluran cerna
2. Mengurangi resiko perdarahan ulang.
3. Mencegah aspirasi.
4. Mengusahakan keadaan gizi sebaik mungkin

Diet diberikan dalam bentuk makanan cair jernih, tiap 2-3 jam pasca
Kebijakan
perdarahan. Nilai gizi makanan ini sangat rendah, sehingga diberikan selama
1-2 hari saja.

Prosedur

1. Tidak merangsang saluran cerna.


2. Tidak meninggalkan sisa.
3. Pada fase akut dapat diberikan makanan parenteral saja selama 24 - 48 jam untuk memberi istirahat
pada lambung.
4. Diet diberikan jika perdarahan pada lambung atau duodenum sudah tidak ada.

Unit Terkait Unit Boga


DIET PENYAKIT LAMBUNG

No. Dokumen Revisi Halaman


1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Diet yang diberikan untuk pasien dengan penyakit lambung meliputi gastritis
Pengertian
akut dan kronis, ulkus peptikum, pasca operasi lambung yang sering diikuti
dengan DUMPING SYNDROME dan kanker lambung.
Perbatasan saluran cerna atas dan bawah adalah ligamentum treitz yaitu
pada daerah usus dua belas jari (duodenum).
Gangguan pada lambung umumnya berupa sindroma dispepsia, yaitu
kumpulan gejala yang terdiri dari mual, nyeri epigastrum, kembung, nafsu
makan berkurang dan rasa cepat kenyang.

Untuk memberikan makanan dan cairan secukupnya yang tidak


Tujuan
memberatkan lambung serta mencegah dan menetralkan sekresi asam
lambung yang berlebih.

Pemberian diet berdasarkan kepada kondisi pasien.


Kebijakan
1. Diet lambung I
Diet lambung I diberikan kepada pasien gastritis akut, ulkus peptikum,
pasca perdarahan, dan tifus abdominalis berat. Makanan diberikan
dalam bentuk saring dan merupakan perpindahan dari diet pasca-
Hematemesis-Melena atau setelah fase akut teratasi. Makanan
diberikan setiap 3 jam selama 1-2 hari saja karena membosankan dan
kurang energi, zat besi, Tiamin, dan Vitamin C.
2. Diet lambung II
Diet lambung II diberikan sebagai perpindahan dari Diet lambung I,
kepada pasien dengan ulkus peptikum atau gastritis kronis dan tifus
abdominalis ringan. Makanan berbentuk lunak, porsi kecil serta
diberikan serta berupa 3 kali makanan lengkap dan 2-3 kali makanan
selingan. Makanan ini cukup energi, protein, Vitamin C tapi kurang
tiamin.
3. Diet lambung III
Diet lambung III diberikan sebagai perpindahan dari diet lambung II
pada pasien dengan ulkus peptikum, gastritis kronik, atau tifus
abdominalis yang hampir sembuh. Makanan berbentuk lunak atau biasa
bergantung pada toleransi pasien. Makanan ini cukup energi dan zat gizi
lainnya.
DIET PENYAKIT LAMBUNG

No. Dokumen Revisi Halaman


1 2/2

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Prosedur

1. Makanan harus mudah cerna, porsi kecil, dan sering diberikan.


2. Energi dan protein cukup, sesuai kemampuan pasien untuk menerimanya.
3. Lemak rendah 10 - 15% dari kebutuhan energi total yang ditingkatkan secara bertahap hingga
sesuai dengan kebutuhan.
4. Rendah serat, terutama serat tidak larut air yang ditingkatkan secara bertahap.
5. Cairan cukup, terutama bila ada muntah.
6. Tidak mengandung bahan makanan atau bumbu yang tajam serta buah yang mengandung bergas,
baik secara termis, mekanis, maupun kimia (disesuaikan dengan daya terima perorangan).
7. Laktosa rendah bila ada gejala intoleransi laktosa; umumnya tidak dianjurkan minum susu terlalu
banyak.
8. Makan secara perlahan dilingkungan yang tenang.
9. Pada fase akut dapat diberikan makanan parenteral saja selama 24 - 28 jam untuk memberi istirahat
pada lambung.
10. Bentuk makanan cair kental,saring atau lunak.

Unit Terkait Unit Boga


DIET PENYAKIT USUS INFLAMATORIK

No. Dokumen Revisi Halaman


1 1/1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH


Diet yang diberikan kepada pasien dengan peradangan terutama pada ileum
dan usus besar dengan gejala diare, disertai darah, lendir, nyeri abdomen,
Pengertian
berat badan berkurang, demam dan kemungkinan terjadi steatorea ( adanya
lemak dalam feses ).
Penyakit ini dapat berupa Colitis Ulseratif dan Chrons Disease.

1. Memperbaiki ketidakseimbangan cairan dan elektrolit


Tujuan
2. Mengganti kehilangan zat gizi dan meperbaiki status gizi kurang
3. Mencegah iritasi dan inflamasi lebih lanjut
4. Mengistirahatkan usus pada masa akut

Pemberian diet disesuaikan dengan gejala penyakit, dapat diberikan


Kebijakan
makanan cair, lunak,biasa atau diet susu rendah dengan modifikasi rendah
laktosa atau menggunakan lemak trigliserida rantai sedang.

Prosedur
1. Pada fase akut pasien dipuasakan dan diberi makanan secara parenteral saja.
2. Bila fase akut teratasi, pasien diberi makanan secara bertahap, mulai dari bentuk cair (per oral
maupun enteral), kemudian meningkat menjadi Diet Sisa Rendah dan Serat Rendah.
3. Bila gejala hilang dapat diberikan Makanan Biasa.
4. Kebutuhan gizi yang harus dipenuhi :
Energi tinggi dan protein tinggi.
Suplemen vitamin dan mineral antara lain vitamin A, C, D, asam folat, Vitamin B 12, kalsium, zat
besi, magnesium dan seng.
5. Makanan Enteral Rendah atau Bebas Laktosa dan mengandung asam lemak rantai sedang
(Medium Chain Trigliseride = MCT) dapat diberikan karena sering terjadi intoleransi laktosa dan
malabsorpsi lemak.
6. Cukup cairan dan elektrolit.
7. Menghindari makanan yang menimbulkan gas.
8. Diet diusahakan sisanya rendah dan secara bertahap kembali ke makanan biasa.

Unit Terkait Unit Boga


DIET PENYAKIT DIVERTIKULOSIS

No. Dokumen Revisi Halaman


1 1/1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Diet yang diberikan pada penderita penyakit divertikulosis dimana terdapat


Pengertian
kantong-kantong kecil yang terbentuk pada dinding kolon yang terjadi akibat
tekanan intrakolon yang tinggi pada konstipasi kronik. Hal ini terutama terjadi
pada usia lanjut yang makanannya rendah serat.

1. Meningkatkan volume dan konsistensi feses.


Tujuan
2. Menurunkan tekanan intra luminal.
3. Mencegah infeksi.

Pasien diberikan diet sesuai dengan gejala penyakit, dapat diberikan diet
Kebijakan
tinggi serat dan gizi yang seimbang.

Prosedur

1. Kebutuhan energi dan zat-zat gizi normal.


2. Cairan tinggi, yaitu 2-2,5 liter sehari.
3. Tinggi serat.

Unit Terkait Unit Boga


DIET PENYAKIT DIVERTIKULITIS

No. Dokumen Revisi Halaman


1 1/1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH


Diet yang diberikan pada penderita penyakit divertikulitis dimana terjadi
penumpukan sisa makanan pada divertikular/kolon sehingga menyebabkan
Pengertian
peradangan dengan gejala seperti kram pada bagian kiri bawah perut, mual,
kembung, muntah, konstipasi/diare, mengigil, dan demam.

1. Mengistirahatkan usus untuk mencegah perforasi.


Tujuan
2. Mencegah akibat laksatif dari makanan berserat tinggi.

Sesuai dengan gejala penyakit, dapat diberikan makanan cair jernih, diet
Kebijakan
rendah sisa I atau diet rendah sisa II dalam bentuk cair, kental penuh,
makanan saring, lunak, atau biasa.

Prosedur

1. Mengusahakan asupan energi dan zat-zat gizi cukup sesuai dengan batasan diet yang ditetapkan.
2. Bila ada pendarahan,dimulai dengan makanan cair jernih.
3. Makanan diberikan secara bertahap, mulai dari diet rendah sisa I ke diet rendah sisa II dengan
konsistensi yang sesuai.
4. Hindari makanan yang banyak mengandung biji-bijian kecil, seperti tomat, jambu biji, dan strawberi,
yang dapat menumpuk dalam vertikular.
5. Bila perlu dapat diberikan makanan enteral rendah atau bebas laktosa.
6. Untuk mencegah konstipasi, pemberian minum minimal 8 gelas sehari.

Unit Terkait Unit Boga


DIET PENYAKIT HATI

No. Dokumen Revisi Halaman


1 1/3

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Hati merupakan salah satu alat tubuh penting yang berperan dalam
Pengertian
metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein.
Dua jenis penyakit hati yang sering ditemukan adalah :
1. Hepatitis
Yaitu peradangan hati yang disebabkan oleh keracunan toksin tertentu
atau infeksi virus. Penyakit ini disertai anoreksia, demam, rasa mual
muntah, serta jaundice (kuning).
2. Sirosis hati
Yaitu kerusakan hati yang menetap disebabkan oleh hepatitis kronis,
alkohol, penyumbatan saluran empedu dan berbagai kelainan
metabolisme.
Diet penyakit hati adalah diet yang diberikan untuk pasien yang menderita
penyakit hati seperti yang disebutkan di atas.

Tujuan Tujuan diet ini untuk mencapai dan mempertahankan status gizi optimal
tanpa memberatkan fungsi hati, dengan cara :
1. Meningkatkan regenerasi jaringan hati dan mencegah kerusakan lebih
lanjut dan/atau meningkatkan fungsi jaringan hati yang tersisa.
2. Mencegah katabolisme protein.
3. Mencegah penurunan berat badan atau meningkatkan berat badan bila
kurang.
4. Mencegah atau mengurangi asites, varises esopagus, dan hipertensi
portal.
5. Mencegah koma hepatik.

Kebijakan Pasien diberikan diet sesuai dengan gejala penyakit :


Diet hati I
1. Diberikan bila pasien dalam keadaan akut atau bila prekoma sudah
dapat diatasi.
2. Pasien sudah mulai mempunyai nafsu makan.
3. Makanan diberikan dalam bentuk cincang atau lunak.
4. Pemberian protein dibatasi (30 gr/hari).
5. Lemak diberikan dalam bentuk mudah dicerna.
6. Formula mineral dengan asam rantai cabang (Branched chain amino
Acid/BCAA) yaitu leusin, isoleusin, dan falin yang dapat digunakan.
7. Bila ada asites dan diuresis belum sempurna, pemberian cairan
maksimal 1 liter/hari.
8. Makanan ini rendah energi, protein, kalsium, zat besi dan tiamin.
Sebaiknya diberikan selama beberapa hari saja.
9. Menurut beratnya retensi garam atau air, pemberian makanan mengikuti
diet hati I rendah garam.
DIET PENYAKIT HATI

No. Dokumen Revisi Halaman


1 2/3

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

10. Bila ada asites hebat dan tanda- tanda diuresis belum membaik
Kebijakan
diberikan diet rendah garam I.
11. Untuk menambah kandungan energi, selain makanan peroral juga
diberikan makanan parenteral berupa cairan glukosa

Diet Hati II
1. Diet hati ini diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet hati I
kepada pasien yang nafsu makannya cukup.
2. Menurut keadaan pasien, makanan diberikan dalam bentuk lunak atau
bias Protein diberikan 1 gr/kg BB dan lemak sedang (20 25 % dari
kebutuhan energi total) dalam bentuk yang mudah dicerna.
3. Protein diberikan 1 gr/kg BB dan lemak sedang (20 25 % dari
kebutuhan energi total) dalam bentuk yang mudah di cerna.
4. Makanan ini cukup mengandung energi, zat besi, Vitamin A dan C.
tetapi kurang kalsium dan tiamin.
5. Menurut beratnya retensi garam atau air, makanan diberikan sebagai
diet hati II garam rendah.
6. Bila asites hebat dan diuresis belum baik, diet mengikuti pola diet garam
diet I.

Diet Hati III


1. Diet ini diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet hati II atau
kepada pasien hepatitis akut (hepatitis infeksiosa/A dan hepatitis serum/
B) dan sirosis hati yang nafsu makannya telah baik, telah dapat
menerima protein dan tidak menunjukkan gejala sirosis hati aktif.
2. Menurut kesanggupan pasien, makanan diberikan dalam bentuk lunak
atau biasa.
3. Mengandung cukup energi, protein, lemak, mineral, dan Vitamin tapi
tinggi karbohidrat.
4. Menurut beratnya retensi garam atau air, makanan diberikan sebagai
diet hati III rendah garam I.
DIET PENYAKIT HATI

No. Dokumen Revisi Halaman


1 3/3

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Prosedur

1. Mudah cerna, porsi kecil, dan sering diberikan.


2. Energi dan protein cukup, sesuai kemampuan pasien untuk menerimanya.
3. Lemak rendah 10 - 15% dari kebutuhan energi total yang ditingkatkan secara bertahap hingga
sesuai dengan kebutuhan.
4. Rendah serat, terutama serat tidak larut air yang ditingkatkan secara bertahap.
5. Cairan cukup, terutama bila ada muntah.
6. Tidak mengandung bahan makanan atau bumbu yang tajam, baik secara termis, mekanis, maupun
kimia (disesuaikan dengan daya terima perorangan).
7. Laktosa rendah, bila ada gejala intoleransi laktosa umumnya tidak dianjurkan minum susu terlalu
banyak.
8. Makan secara perlahan di lingkungan yang tenang.
9. Pada fase akut dapat diberikan makanan parenteral saja selama 24-28 jam untuk memberi istirahat
pada lambung.

Unit Terkait Unit Boga


DIET HEPATITIS

No. Dokumen Revisi Halaman


1 1/1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Feruari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Peradangan hati yang disebabkan karena penggunaan alkohol,bahan toksik


Pengertian
atau infeksi virus. Virus Hepatitis terdiri dari tipe A, dan C. Gejala hepatitis
seperti demam, mual, pembesaran hati,jundice / kuning, urin warna gelap,
feses warna pucat dan anoreksia (hilangnya nafsu makan).

Tujuan - Menurunkan asupan karbohidrat sederhana


- Mencegah penurunan berat badan
- Meningkatkan pemahaman tentang kebutuhan karbohidrat
sederhana
Keterbatasan pemahaman kebutuhan karbohidrat sederhana berkaitan
Kebijakan dengan kurangnya pengetahuan tentang kebutuhan karbohidrat ditandai
dengan pemilihan bahan makanan atau makanan tinggi gula.

Prosedur

1. Tinggi energi bila berisiko gizi kurang dn mencegah katabolisme protein tubuh,dihitung
berdasarkan Haris benedict dengan faktor stres atau antara 30 35 kkal / hari.
2. Tinggi protein, diberikan bertahap mulai dari 1 1.2 g / kg BB perhari.
3. Lemak cukup 20 25 % total kalori.
4. Karbohidrat : 60 65 total kalori
5. Tinggi vitamin B komplek, c, Zn, Mg.
6. Bentuk makanan cair,lunak, atau biasa.
7. Porsi kecil tapi sering.
8. Bahan makan yang dibatasi adlah semua makanan yangmengandung lemak,santan, makann
yang mengandung bergas sepeti ubi, kacang, merah, kol,sawi,lobak,ketimun ,durian dan nangka
dan minuman yang mengandung alkohol,teh ,kopi kental.

Unit Terkait Unit Boga


DIET PENYAKIT KANDUNG EMPEDU

No. Dokumen Revisi Halaman


1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Fungsi utama kandung empedu adalah untuk mengkonsentrasikan dan


Pengertian
menyimpan empedu yang diproduksi oleh hati. Cairan empedu mengandung
garam empedu dan kolesterol. Empedu membantu pencernaan serta
absorpsi lemak dan vitamin larut lemak A, D, E, K, mineral besi, dan kalsium.
Diet penyakit kantung empedu adalah diet khusus yang diberikan untuk
pasien dengan penyakit kandung empedu.
Beberapa contoh penyakit kandung empedu yaitu :
1. Kolelitiasis
Yaitu terbentuknya batu empedu yang bila masuk kedalam saluran
empedu menimbulkan penyumbatan dan kram
2. Kolesistis
Yaitu peradangan kantung empedu.

Tujuan diet ini adalah untuk mencapai dan mempertahankan status gizi yang
Tujuan
optimal dan memberi istirahat pada kandung empedu, dengan cara :
1. Menurunkan berat badan bila kegemukan yang dilakukan secara
bertahap.
2. Membatasi makanan yang menyebabkan kembung atau nyeri abdomen.
Mengatasi malabsorbsi.

Pemberian diet ini tergantung kepada kondisi pasien dan dibagi menjadi :
Kebijakan
1. Diet lemak rendah 1
Diet ini diberikan kepada pasien kolesistitis dan kolelitiasis dengan
kolik akut. Makanan yang diberikan berupa buah buahan dan
minuman manis. Makanan ini rendah energy dan semua zat gizi
kecuali vitamin A dan C. sebaiknya diberikan selama 1 2 hari saja
2. Diet lemak rendah 11
Diet ini diberikan secara berangsur bila keadaan akut sudah dapat
diatasi dan perasaan mual sudah berkurang atau kepada pasien
penyakit saluran empedu kronis yang terlalu gemuk. Menurut
keadaan pasien, makanan ini diberikan dalam bentuk cincang, lunak
atau biasa. Makanan ini rendah energi, kalsium dan tiamin.
3. Diet Lemak Rendah III
Diet ini diberikan kepada pasien penyakit kandung empedu yang
tidak gemuk dan cukup mempunyai nafsu makan. Makanan ini
diberikan dalam bentuk lunak atau biasa. Makanan ini cukup energi
dan semua zat gizi.
DIET PENYAKIT KANDUNG EMPEDU

No. Dokumen Revisi Halaman


1 2/2

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

4. Diet lemak rendah II


Kebijakan
Diet ini diberikan secara berangsur bila keadaan akut sudah dapat
diatasi dan perasaan mual sudah berkurang atau kepada pasien
penyakit saluran empedu kronis yang terlalu gemuk. Menurut keadaan
pasien, makanan ini diberikan dalam bentuk cincang, lunak atau biasa.
Makanan ini rendah energi, kalsium dan tiamin.
5. Diet Lemak Rendah III
Diet ini diberikan kepada pasien penyakit kandung empedu yang tidak
gemuk dan cukup mempunyai nafsu makan. Makanan ini diberikan
dalam bentuk lunak atau biasa. Makanan ini cukup energi dan semua
zat gizi.

Prosedur

1. Energi sesuai kebutuhan kebutuhan. Bila kegemukan diberikan diet rendah energi.
2. Protein agak tinggi, yaitu 1 1,25 g/kg BB.
3. Pada keadaan akut, lemak tidak diperbolehkan, sampai keadaan akutnya mereda.
4. Pada keadaan kronis lemak dapat diberikan 20-25 % dari kebutuhan energi total.
5. Bila terdapat gejala steatorea dimana lemak feses > 25 g/24 jam, lemak dapat diberikan dalam
bentuk asam lemak rantai sedang (MCT), yang mungkin dapat mengurangi lemak feses dan
mencegah kehilangan vitamin dan mineral.
6. Bila perlu diberikan suplemen vitamin A, D, E, dan K.
7. Tinggi serat terutama dalam bentuk pektin yang dapat mengikat kelebihan asam empedu dalam
saluran cerna.
8. Hindari bahan makanan yang dapat menimbulakan rasa kembung dan tidak nyaman

Unit Terkait Unit Boga


DIET PENYAKIT DIABETES MELITUS
TANPA KOMPLIKASI

No. Dokumen Revisi Halaman


1

Tanggal terbit
STANDAR Ditetapkan Oleh
PROSEDUR Februari 2014 Direktur

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Diabetes Melitus (DM) adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang
Pengertian
yang mengalami peningkatan kadar gula, (Glukosa) darah akibat kekurangan
hormon Insulin secara absolut atau relatif.

Tujuan diet ini adalah untuk membantu pasien memperbaiki kebiasaan


Tuju
makan untuk mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik dengan cara :
1. Mempertahankan kadar glukosa darah supaya mendekati normal
dengan meyeimbangkan asupan makanan dengan insulin (Endogenous
atau Exogenous), dengan obat penurun glukosa oral dan aktivitas fisik
2. Mencapai dan mempertahankan kadar lipida serum normal.
3. Menurunkan asupan energi,karbohidrat, lemak.
4. Memberi cukup energi untuk mempertahankan atau mencapai berat
badan normal.
5. Menghindari atau menangani komplikasi akut pasien yang
menggunakan insulin seperti hipoglikenia, komplikasi jangka pendek,
dan jangka lama serta masalah yang berhubungan dengan latihan
jasmani
6. Meningkatkan derajat kesehatan secara keseluruhan melalui gizi yang
optimal.

Diet yang digunakan sebagai bagian dari penata laksanaan diabetes melitus
Kebijakan
dikontrol berdasarkan kandungan energi, protein, lemak, dan karbohidra
DIET PENYAKIT DIABETES MELITUS
TANPA KOMPLIKASI

No. Dokumen Revisi Halaman


1 2/2

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH


Prosedur
1. Energi cukup untuk mencapai dan mempertahankan berat badan normal. Kebutuhan energi
ditentukan dengan memperhitungkan kebutuhan untuk metabolisme basal sebesar 25-30 kkal/
kg BB normal, ditambah kebutuhan untuk aktifitas fisik dan keadaan khusus, misalnya kehamilan
atau laktasi srta ada tidaknya komplikasi makanan dibagi dalam 3 porsi besar, yaitu makan pagi
(20 %), siang (30%) dan sore (25%), serta 2-3 porsi kecil untuk makanan selingan ( masing-
masing 10-15 % )
2. Kebutuhan protein normal yaitu 10-15 % dari kebutuhan energi total .
3. kebutuhan lemak sedang, yaitu 20 25 % dari kebutuhan energi total, asupan kolesterol
makanan dibatasi yaitu 300 mg hari.
4. Kebutuhan karbohidrat adalah sisa dari kebutuhan energi total, yaitu 60-70%. Penggunaan gula
murni dalam minuman dan makanan tidak diperbolehkan kecuali jumlahnya sedikit sebagai
bumbu. Bila kadar glukosa darah sudah terkendali, diperbolehkan mengkonsumsi gula murni
sampai 5% dari kebutuhan energi total
5. Penggunaan gula alternatif dalam jumlah terbatas. Gula laternatif adalah bahan pemanis selain
sakarosa.ada dua jenis gula alternatif yaitu yang bergizi dan tidak bergizi. Gula alternatif bergizi
adalah Fruktosa, gula alkohol berupa sorbitol, manitol, dan solitol sedangkan gula alternatif tidak
bergizi adalah Aspartam dan Sakarin. Penggunaan gula alternatif hendaknya dalam jumlah
terbatas. Fruktosa dalam jumlah 20% dari kebutuhan energi total dapat meningkatkan kolesterol
dan LDL, sedangkan gula alkohol dalam jumlah berlebihan mempunyai pengaruh laksatif.
6. Asupan serat dianjurkan 25 g/hari dengan mengutamakan serta larut air yang terdapat didalam
sayur dan buah. Menu seimbang rata-rata memenuhi kebutuhan serat sehari
7. Pasien DM dengan tekanan darah normal diperbolehkan mengkonsumsi natrium dalam bentuk
gram dapur seperti orang sehat, 3000 mg/hari apabila megalami hipertensi asupan garam harus
dikurangi.
8. Cukup vitamin dan mineral. Apabila asupan makan cukup, penambahan vitamin dan
mineraldalam bentuk suplemen tidak diperlukan.
9. Pola makan harus konsisten jadual dan jarak makan.

Unit Terkait Unit Boga


DIET DISLIPIDEMIA

No. Dokumen Revisi Halaman


1 1/1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Suatu kelainan metabolisme lemak yang ditandai oleh kelainan profil lemak
Pengertian
dalam plasma yaitu kenaikan kadar kolesterol total,LDL, kadar trigeliserida
dan penurunan kadar kolesterol HDL.

Tujuan - Menurunkan asupan total lemak,lemak jenuh dan cholesterol


- Meningkatkan pengetahuan tentang pemilihan makanan yang
rendah lemak dan cholesterol.

Kebijakan Kelebihan asupan lemak berkaitandengan pola makan tidak seimbang


ditandai dengan % asupan lemak lebih dari kebutuhan.

Prosedur

1. Energi disesuaikan dengan kebutuhan


2. protein 12 15 %
3. Karbohidrat 50 60 % dengan mengutamakan karbohidrat kompleks
4. pembatasan total asupan lemak 30 % total energy, lemak jenuh, lemak tidak jenuh tunggal,lemak tidak
jenuh masing-masing 10 % ( 1:1:1)
5. Kolesterol < 300 mg / hari
6. Serat makan ditingkatkan (> 25 gr)
7 .Pola makan pola makan dengan memperhatikan prinsip PKTS (porsi kecil tapi sering)

Unit Terkait Unit Boga


DIET PENYAKIT JANTUNG KORONER

No. Dokumen Revisi Halaman


1 1/1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Terdapatnya sirkulasi darah di pembuluh koroner yang tidak ade kuat karena
Pengertian
adanya sumbatan( emboli, trombus) pada pembuluh darah koroner yang
berakibat pada suplai oksigen dan zat gizi terganggu.
Menurunkan asupan energi total dan mampu menerapkan pola makan yang
Tujuan seimbang

Asupan energi disesuaikan dengan kebutuhan mencapai / mempertahankan


Kebijakan IMT normal.

Prosedur :
Standar makanan meliputi jumlah energi, proporsi karbohidrat, lemak, protein, kolesterol, bahan
makanan yang dianjurkan dan besar porsi.
Bentuk makanan lunak,mudh cerna serta rendah lemakjenuh atau kholesterol.Apabila pasien
masa pemulihan maka bisa diberikan makan biasa.
Makanan tidak bergas
Membatasi kafein apabila ada aritmia, takkikardi
Memngurangi asupan dari produk susu penuh,daging berwarna merah, lemak daging,
Meningkatkan konsumsi bahan makanan sumber asam folat,riboflafin dan vitamin B6 dan B12
jika kadar serum homocystein tinggi.
Meningkatan serat yang sangat dibutuhkan sebagai protektor,pilih sayuran,buah dan sereal.

Unit Terkait
DIET KANKER

No. Dokumen Revisi Halaman


1 1/1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH


Pengertian Pembelahan dan pertumbuhan sel secara abnormal yang tidak dapat
dikontrol sehingga cepat mnyebar.
Menigkatkan kebutuhan energi dan zat gizi
Tujuan
Meringankan gejala edema
Meningkatkan pengetahuan tentang asupan protein

Kebijakan Penigkatan kebutuhan zat gizi berkaitan dengankatabolisme zat gizi dala
jangka waktu lama ditandai dengan asupan tidak memadai untuk memenuhi
kebutuhan.

Prosedur :
1 . Energi tinggi 36 kkal / kg BB laki-laki dan perempuan 32 kkl / kg BB.
2. Kebutuhan protein tinggi ditentukan berdasarkan tingkat deplesi protein dan faktor stres dengan
batasan :
- 0,5 g / kg BB minimal kebutuhan sehari
- 0,8- 1 g /kg BB tingkat pemeliharaan normal
- 1,5 2,0 g/ kg BB untuk mencapai N balans positif dan 2,5 g / kg BB bila kebutuhan meningkat
3. kebutuhan lemak moderat yaitu 15 -20 % dari kebutuhan energi total
4. Kebutuhan karbohidrat cuku
5. Vitamin dan minerl cukup
6. Bentuk makanan cair ,saring, lunak dan biasa
7 Bila ada kesulitan mengunyah atau menelan berikan minuman menggunakan sedotan ,bentuk makanan
saringatau cair, hindari makanan terlalu asin dan asam.
8.Bila mual dan muntah berikan makanan kering,hindari makanan yang berbau merangsang,hindari
makanan yang berlemak tinggi,makanan dan minuman secara perlahan,batasi cairan pada saat makan
dan tidak tidur saat makan.

Unit Terkait Unit Boga


DIET RENDAH PURIN

No. Dokumen Revisi Halaman


1 1/1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Meningkatnya kadar sam urat dalam darah, diikuti dengan terbentuknya


Pengertian
timbunan kristal dipersendian yang menyebabkan peradangan pada lutut atau
Jari.

Tujuan - Menurunkan asupan protein dan purin.


- Mencapai kadar asam urat dengan normal
- Meningkatkan pengetahuan tentang makanan yang rendah
purin

Kebijakan Tetapkan standar makanan,meliuti energi, karbohidrat,, lemak, protein dan


porsi besar

Prosedur
1. Karbohidrat 65 75 % dari total enrgi
2. Protein cukup 10 -15 % dri total energi
3. Lemak sedang 10- 20 dari total energi , utamkan omega tiga
4. Cukup vitamin dan mineral
5. Kebutuhan cairan 2 2.5 liter pehari
6. Bentuk makanan lunak atau biasa.

Unit Terkait Unit Boga


DIET RENDAH PROTEIN (PENYAKIT GINJAL KRONIK)

No. Dokumen Revisi Halaman


1 1/1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Suatu keadaan penurunan fungsi ginjal yang menahun bersifat progresif (


Pengertian
cepat memburuk ) dan ireversibel ( tidak dapat kembali baik ).

Tujuan - Menurunkankan asupan protein 0.6 0.75 gr /kg BB /hari.


- Menurunkan kadar ureum dalam darah
- Meningkatkan pengetahuan tentang pemilihan bahan
makanan dan makanan sumber protein

Kebijakan Keterbatasan asupan protein pada bahan makanan.

Prosedur

1. Karbohidrat cukup, yaitu kebutuhan energi total dikurangi energi berasal dari protein dan lemak.
2. Protein 0,6 0,75 g / kg BB
3. Lemak lebih kurang 30 % dari kebutuhan energi total
4. Natrium dibatasi bila ada hipertensi,edema, asites, yaitu 1 -3 g.
5. Cairan dibatasi yaitu sebanyak julah urin sehari ditambah lebih kurang 500 ml.
6. Bentuk makanan disesuai kan dengan kemmpuan pasien ( makan cair, saring,lunak dan biasa).

Unit Terkait Unit Boga


DIET PENYAKIT GINJAL KRONIS DENGAN HEMODIALISIS

No. Dokumen Revisi Halaman


1 1/1

Tanggal Ditetapkan Oleh


STANDAR Direktur
PROSEDUR Februari 2014

drg. Dyah Paramita Indreswari,MPH

Diet ginjal kronis diperuntukan bagi pasien dengan penurunan fungsi ginjal
Pengertian
berat ,stadium 5,dengan terapi hemodialis.

Tujuan - Meingkatkan asupan energi dan mencegah defisiensi gizi


serta mempertahankan dan memperbaiki status gizi
- Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit
- Mengontrol kadar kalium dan fosfor darah
- Menigkatkan pemahaman tentang pola makan tinggi protein

Kebijakan Tetapkan standar makanan meliputi jumlah energi , karbohidrat, lemak, dan
protein.

Prosedur

1. Energi cukup,yaitu 35 kkal / kg BB


2. Karbohidrat cukup, yaitu 55 75 % dari kebuthan energi total.
3. Protein 1,2 g / kg BBI/ hari
4. Lemak 15 -30 % dari kebutuhan energi total
5. Serat 20 -25 gr /hari.
6. Bentuk makanan disesauikan dengan kemampuan pasien( makan lunak,dan makan biasa)
7. Porsi kecil tapi padat energi

Unit Terkait Unit Boga