Anda di halaman 1dari 13

BAB II

2.1 Pengertian biopsi

Biopsi berasal dari kata : bios artinya hidup dan opsis artinya melihat, jadi biopsi
adalah mengambil sepotong jaringan yang masih dalam keadaan hidup dan memeriksa secara
mikroskopis. Kata biopsi diperkenalkan pertama kali pada tahun 1879 oleh ahli penyakit kulit
Perancis yang bernama Ernest Henri Besneier . Tujuan utama melakukan biopsi adalah untuk
menegakkan diagnosis pasti suatu lesi khusus yang dicurigai sebagai suatu keaganasan , untuk
mengevaluasi perjalanan penyakit, konfirmasi data klinis dengan keadaan histopatologi dan
untuk pengobatan. Hardy JD., Griffin JR., Rodriyeuz JA. 1959. Biopsy manual. Philadelphia & London : WB Saunders
Company: 2 27.

2.2 Jenis biopsi


Biopsi terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
- Biopsi tertutup merupakan teknik biopsi tanpa membuka kulit. Bahan sedikit atau
kurang representatif. Yang termasuk dalam biopsy tertutup adalah FNAB, Core
biopsi, cairan cyste-sputum-darah-ascites, dan endoscopi.
- Biopsi terbuka merupakan teknik biopsi dengan membuka kulit atau mukosa serta
mendapatkan spesimen yang lebih representatif. Pemeriksaan yang dikerjakan adalah
histo-patologi, jenis biopsinya adalah biopsi insisi dan eksisi.

2.2.1 Biopsi tertutup


Yaitu pengambilan sampel jaringan atau cairan dengan cara disedot lewat jarum dan cara
ini dilakukan dengan bius local. Bisa dilakukan secara langsung atau dibantu dengan radiologi
seperti CT scan atau USG sebagai panduan untuk membuat jarum mencapai massa atau lokasi
yang diinginkan.

1
Biopsi jarum dibagi atas FNAB (fine needle aspiration biopsy)/BAJAH (Biopsi Aspirasi
Jarum halus) yang menggunakan jarum kecil atau halus dan core biopsi yang menggunakan
jarum besar.
FNAB merupakan metode lain untuk diagnosis jaringan yaitu, sebuah cara sampling sel
dalam benjolan mencurigakan atau massa. Prosesnya sedikit lebih cepat dan kurang invasif dari
biopsy inti, tidak memerlukan anestesi lokal banyak. Adapun tekhnik FNAB adalah Suatu jarum
yang lebih kecil dari jarum injeksi rutin (sekitar 22 - 25G) dimasukkan ke dalam tumor dan
beberapa puluh sampai ribuan sel di aspirasi ke dalam syringe. Jarum juga diaspirasikan ke
beberapa arah. Penghisapan tidak dilakukan lagi ketika jarum akan ditarik keluar dari massa.
Kemudian dihapuskan pada slide, diwanai, dan diperiksa di bawah mikroskop oleh ahli patologi.
Pada hampir semua tumor dapat dilakukan biopsi aspirasi, baik yang letaknya
superfisial palpable ataupun tumor yang terletak di dalam rongga tubuh unpalpable dengan
indikasi :
1) Preoperatif biopsi aspirasi pada tumor diduga maligna operabl untuk diagnosis dan
menentukan pola tindakan bedah selanjutnya
2) Maligna inoperable dimana biopsi aspirasi merupakan diagnosis konfirmatif
3) Diagnosis konfirmatif tumor "rekuren" dan metastasis
4) Membedakan tumor kistik,solid dan peradangan
5) Mengambil spesimen untuk kultur dan penelitian
Jangkauan sitologi biopsi aspirasi sangat terbatas yang dapat terjadi pada keadaan dimana
luasnya invasi tumor tidak dapat ditentukan, subtipe kanker tidak dapat diidentifikasi, dan dapat
terjadi negatif palsu. Diagnosis sitologik dengan menggunakan FNAB mempunyai nilai klinik
antara lain :

2
1. Sitologi positif atau positif Maligna: Merupakan petunjuk untuk melakukan tindakan
lebih lanjut antara lain survei metastasis, menentukan stadium, memilih alat diagnostik lain
bila diperlukan dan mendiskusikan pola pengobatan.
2. Sitologi negatif atau kelainan jinak: Belum dapat menyingkirkan adanya kanker, perlu
dipikirkan kemungkinan negatif palsu. Negatif palsu dapat terjadi karena kesalahan teknis,
sehingga sejumlah sel tumor tidak terdapat pada sediaan. Bila terdapat perbedaan sitologi
dan data klinik, alternatif tindakan terbaik adalah biopsi bedah, namun pada kasus sitologi
negatif dengan spesifikasi kelainan dan cocok dengan gambaran klinik, maka pola
pengobatan dapat ditentukan.
3. Sitologi suspek atau mencurigakan maligna : Mungkin memerlukan pemeriksaan lain
sebelum pengobatan antara lain pemeriksaan potongan beku atau sitologi imprint atau
kerokan durante operasionam.
4. Inkonklusif (tidak dapat diinterpretasikan) : Dapat terjadi karena kesalahan teknik atau
karena situasi tumor, misalnya mudah berdarah, reaksi jaringan ikat banyak atau tumor
terlalu kecil, sehingga sulit memperoleh sel tumor.

Tindakan core biopsi adalah prosedur di mana jarum melewati kulit untuk mengambil
sampel jaringan dari suatu massa atau benjolan. Core biopsi merupakan prosedur lebih invasif
daripada biopsi aspirasi jarum halus , namun lebih cepat dan kurang invasif daripada biopsi
bedah. Tekhnik suatu tindakan Core Biopsi dijelaskan sebagai berikut:
1) Anastesi lokal di mana jarum dimasukkan
2) Buat sebuah sayatan kecil di dalam kulit atas benjolan
3) Jarum dimasukkan melalui insisi
4) Ketika ujung jarum berada di daerah yang akan diperiksa, jarum cekung digunakan
untuk mengumpulkan sampel sel-sel yang hadir
5) Jarum kemudian ditarik, dan sampel diekstraksi. Hal ini dapat diulang sampai 5 kali,
sampai sebuah sampel yang cukup telah dikumpulkan.
Hasil interpretasi Core Biopsy/ Biopsi Inti, antar lain :
Tidak memadai atau tidak cukup: sampel yang diambil tidak cukup untuk
mengkonfirmasi diagnosis kanker
Jinak : tidak terdapat sel-sel kanker. Benjolan atau pertumbuhan berada di bawah
kendali dan tidak menyebar ke area lain dari tubuh

3
Atipikal atau curiga keganasan: hasil tidak jelas, beberapa sel tampak abnormal
tetapi tidak pasti kanker. Biopsi bedah mungkin dibutuhkan untuk mengambil sampel
sel
Ganas: terdapat sel-sel kanker, tidak terkontrol dan memiliki potensi atau telah
menyebar ke area lain dari tubuh.

Core biopsi adalah tes relatif cepat dan efektif untuk menentukan
status jaringan. Dibandingkan dengan biopsi bedah, core biopsi kecil
kemungkinan melibatkan jaringan parut, infeksi atau sakit, dan memiliki
waktu pemulihan signifikan lebih pendek. Resiko core biopsi termasuk
kemungkinan bahwa setiap sel-sel kanker ini bisa menyebar ke dalam
jaringan, tetapi hal ini jarang terjadi.

Selain biopsi dengan jarum seperti diatas terdapat juga suatu tindakan biopsi
menggunakan jarum dengan bantuan endoskopi. Pada prinsipnya sama yaitu pengambilan
sampel jaringan dengan aspirasi jarum, hanya saja metode ini menggunakan endoskopi sebagai
panduannya. Cara ini baik untuk tumor dalam saluran tubuh seperti saluran pernafasan,
pencernaan dan kandungan. Endoskopi dengan kamera masuk ke dalam saluran menuju lokasi
kanker, lalu dengan jarum diambil sedikit jaringan sebagai sampel.

4
Dan yang terakhir pemeriksaan biopsi secara Punch biopsy. Biopsi ini biasa dilakukan
pada kelainan di kulit. Metode ini dilakukan dengan alat yang ukurannya seperti pensil yang
kemudian ditekankan pada kelainan di kulit, lalu instrument tajam di dalamnya akan mengambil
jaringan kulit yang ditekan. Menggunakan anastesi lokal dan bila pengambilan kulit tidak besar
maka tidak perlu dijahit. Jaringan yang diperoleh dari hasil biopsi difiksasi, dan dikirim untuk
pemeriksaan patologi dan atau imunohistokimia. Tujuan pemeriksaan patologi ini adalah untuk
menentukan apakah lesi tersebut ganas atau jinak, dan membedakan jenis histologisnya. Pada
beberapa keadaan, biopsi dari kelenjar getah bening menentukan staging dari keganasan. Tepi
dari specimen (pada biopsi eksisional) juga diperiksa untuk mengetahui apakah seluruh lesi
sudah terangkat (tepi bebas dari infiltrasi tumor.

2.2.2 Biopsi terbuka

Biopsi insisi adalah pengambilan sampel jaringan melalui pemotongan dengan pisau
bedah. Biopsi tipe ini terutama dilakukan pada tumor jaringan lunak (otot, lemak, jaringan ikat).
Dengan pisau bedah, kulit disayat hingga menemukan massa dan diambil sedikit untuk
diperiksa.Teknik suatu biopsi insisional antara lain :

Tentukan daerah yang akan dibiopsi.


Rancang garis eksisi dengan memperhatikan segi kosmetik.

Buat insisi bentuk elips dengan skalpel nomor 15.

Angkat tepi kulit normal dengan pengait atau pinset bergerigi halus.

Teruskan insisi sampai diperoleh contoh jaringan. Sebaiknya contoh jaringan ini jangan
sampai tersentuh.

Tutup dengan jahitan sederhana memakai benang yang tidak dapat diserap.

5
Biopsi eksisi merupakan pengambilan seluruh massa yang dicurigai disertai jaringan
sehat di sekitarnya dan paling sesuai untuk lesi berukuran kecil. Metode ini dilakukan di bawah
bius umum atau lokal tergantung lokasi massa dan biasanya dilakukan bila massa tumor kecil
dan belum ada metastase . Tehnik biopsi eksisional, adalah sebagai berikut :

Rancang garis eksisi,


Sebaiknya panjang elips empat kali lebarnya.

Lebar maksimum ditentukan oleh elastisitas, mobilitas, serta banyaknya kulit yang
tersedia di kedua tepi sayatan.

Banyaknya jaringan sehat yang ikut dibuang tergantung pada sifat lesi, yaitu:

Lesi jinak, seluruh tebal kulit diangkat berikut kulit sehat di tepi lesi dengan sedikit
lemak mungkin perlu dibuang agar luka mudah dijahit.

Karsinoma sel basal, angkat seluruh tumor beserta paling kurang 0.5 s/d 1 cm kulit sehat.

Karsinoma sel skuamosa, angkat seluruh tumor beserta paling kurang 1 s/d 2 cm kulit
sehat.

Insisi dengan skalpel nomor 15 hingga menyayat seluruh tebal kulit.

Inspeksi luka dan atasi perdarahan.

Tutup dengan jahitan sederhana menggunakan benang yang tidak dapat diserap.

6
2.3 Prinsip biopsi

1. Jaringan parut setelah biopsi harus diletakkan sedemikian agar dapat diangkat bersamaan
dengan terapi definitive yang akan dilakukan.

2. Biopsi dilakukan secara hati-hati agar tidak mengkontaminasi jaringan sehat disekitarnya.
Hematom yang besar setelah biopsi dapat mengakibatkan tumor menyebar dan harus
dilakukan tindakan hemostasis yang adekuat. Instrumen yang digunakan untuk biopsi
merupakan sumber kontaminasi bagi jaringan sehat disekitarnya. Tidak boleh menggunakan
instrumen yang telah berkontak dengan jaringan tumor untuk digunakan memegang
jaringan yang sehat.

3. Pemilihan teknik biopsi dilakukan untuk mendapatkan sampel jaringan yang adekuat
untuk pemeriksaan patologis.

4. Penanganan jaringan sampel biopsi oleh ahli patologis sangat penting. Ahli bedah harus
memberi tanda pada batas operasi agar ahli patologis dapat mengetahui orientasi
pengambilan sampel. Jika semua sampel biopsi ditempatkan dalam formalin, kemungkinan
untuk pemeriksaan tes diagnostik dapat terlewatkan. Sebagai contoh jaringan yang berasal

7
dari lesi kanker payudara harus dapat dinilai reseptor estrogennya dan harus disimpan di
tempat pendingin.

2.4 Efek Samping dan indikasi / kontraindikasi Biopsi

Infeksi akan terjadi bila tidak memperhatikan teknik aseptik antisepsis. Perdarahan bisa
terjadi pada lesi neoplasma karena adanya hipervaskularisasi. Indikasi suatu tindakan Biopsi
adalah sebagai berikut :
1) Lesi yang menetap lebih dari 2 minggu tanpa diketahui penyebabnya
2) Ulserasi yang menetap tidak menunjukkan tanda tanda kesembuhan sampai 3
minggu
3) Setiap penonjolan yang dicurigai sebagai suatu neoplasma
4) Lesi tulang yang tidak diidentifikasi setelah pemeriksaan klinis dan radiologis
5) Lesi hiperkeratotik yang menetap
Sedangkan Kontra Indikasi Biopsi antara lain :
1) Infeksi pada lokasi yang akan dibiopsi (relatif)
2) Gangguan faal hemostasis berat (relatif)
3) Biopsi diluar daerah yang direncanakan akan dieksisi saat operasi

2.5 Komplikasi Biopsi

1. Perdarahan, jaringan yang dibiopsi mengandung banyak pembuluh darah dan


pada waktu insisi terpotong pembuluh darah tertentu yang tidak dilakukan hemostasis yang
baik atau setelah perdarahan berhenti terjadi lagi perdarahan akibat jaringan tumor yang
rapuh sehingga hemostasis tidak dapat dilakukan dengan baik.

2. Infeksi, biopsi membuat luka sehingga merupakan tempat masuknya kuman.

3. Luka tidak mau sembuh, karena bertumbuhnya sel-sel tumor di luka biopsi atau terjadi
nekrosis atau infeksi.

4. Biopsi dapat menyebarkan sel-sel tumor ganas ke jaringan sekitarnya dan ditambah pula
bila mempergunakan anestesi infiltrasi yang berupa suntikan cairan. Kalau dapat, anestesi

8
dilakukan secara narkosis atau anestesi regioner sehingga tidak terjadi penyebaran dari sel-
sel tumor secara lokal. Pasien yang dilakukan biopsi dengan anestesi infiltrasi biasanya sel-
sel tumor cepat menyebar ke sekitarnya dan beberapa waktu kemudian terlihat tumbuh
didekatnya akibat dorongan cairan anestesi.

5. Merusak jaringan atau organ-organ disekitarnya, melakukan biopsi didekat suatu duktus
bisa terambil jaringan duktus tersebut kalau tidak hati-hati.

6. Komplikasi anestesi infiltrasi, kemungkinan terjadi penyebaran sel-sel tumor


kesekitarnya, selain itu bisa timbul reaksi alergi terhadap obat-obat anestesi bisa sampai
terjadi syok.

1. Suyatno, Emir Pasaribu,Diagnostik dan terapi Bedah Onkologi,Sagung Seto 2009


2. Underwood, Patologi Umum dan Sistematik,EGC, 2004

3. Janti Sudiono, Pemeriksaan Patologi Untuk Diagnosis Neoplasma,EGC,2008

4. Neville Woolf , Pathology Basic and Sistemic , Saunders ,2004

5. Emanuel Rubin, Essential of Pathology, Lippincot William & Wikins , 2006

6. Daniel ,Breast cancer, http: // www. Cancer .org / cancer ,2008

7. Cancer Staging, www.cancer.gov/cancertopics/factsheet/detection/ staging ,2008

8. New FIGO Staging, www.medscape.com/viewarticle, 2009

9. Devita, Principles and Practical Onkology Review, Lippincott William & Wilkins , 2009

9
2.4 Biopsi di bidang THT

Pada bidang THT FNAB sangat berguna untuk mendiagnosis massa atau benjolan pada
leher. Massa leher yang dibiopsi biasanya teraba. Namun, pada beberapa kasus tempat benjolan
tidak jelas atau massa leher tidak mudah teraba, maka pencitraan diperlukan. Ultrasonografi,
CT, dan MRI telah digunakan untuk memandu lokasi perangkat biopsi atau untuk
memaksimalkan kemungkinan mendapatkan jaringan yang patologis. (6) Indikasi untuk diagnosis
dengan biopsi jarum halus pada bidang THT termasuk hal-hal berikut(1,7):
1. Kelenjar getah bening perubahan reaktif, limfoma, kanker metastatik.
2. Kelenjar tiroid nodul soliter atau dominan, curiga akan keganasan, limfoma, dan goiter
toksik.
3. Kelenjar saliva neoplasma jinak maupun ganas, limfoma, lesi inflamasi, dan kista
4. Lesi leher kistik kista duktus branchial dan tiroglosus.
5. Massa lain paratiroid neoplasma, kista dermoid, dan teratoma.
6. Massa di dalam mulut
7. Setiap benjolan atau masa selain di atas yang terdapat di leher yang dapat dipalpasi atau
pencitraan (seperti USG) jika mereka tidak bisa dipalpasi.

FNAB pada pasien THT adalah mengambil spesimen dari massa pada leher. Leher
merupakan bagian tubuh di mana terdapat banyak struktur-struktur penting seperti pembuluh
darah, saraf, otot dan sebagainya sehingga diperlukan kehati-hatian yang lebih. Meskipun FNAB
mungkin bukan metode pilihan untuk semua massa leher, studi menunjukkan keuntungan FNAB
untuk diagnosis beberapa penyakit tertentu :
Karsinoma sel skuamosa leher
Dalam laporan tahun 1991 Birchall dan rekan menunjukkan bahwa FNAB dari
massa leher adalah 100% spesifik untuk karsinoma sel skuamosaleher. Kekuatan prediksi

10
dari FNAB dalam mendiagnosis karsinoma sel skamosa kepala dan leher memungkinkan
dokter untuk mempersempit pencarian tumor primer.(1)
Nodul tiroid
Pada tahun 1991, Klemi dan koleganya menguji 186 aspirasi dari kelenjar tiroid.
Di antara histologi-dikonfirmasi kasus, FNAB nodul tiroid memiliki spesifisitas 100%,
sensitivitas 55%, dan akurasi 95%.(1)
Massa kelenjar ludah
Interpretasi patologi kelenjar ludah cukup sulit (tumor yang paling umum adalah
"pleomorfik" adenoma) dan membutuhkan pengalaman lebih banyak dari interpretasi
beberapa massa leher lainnya.(1)
Pembesaran kelenjar limfe leher
- Limfoma
Diagnosis seluler akurat dari limfoma tertentu tergantung pada perubahan dalam
arsitektur kelenjar getah bening, yang memerlukan pemeriksaan morfologi dari seluruh
node. Namun, ketika cytoarchitecture sebelumnya spesimen limfoma diketahui, FNAB
handal dalam memprediksi kekambuhan.(1)
Beberapa laporan menunjukkan bahwa Hodgkin limfoma dapat akurat didiagnosis
oleh FNAB. Hodgkin limfoma didiagnosis pasti dengan keberadaan sel Reed-Sternberg.
Peran FNAB dalam diagnosis limfoma non-Hodgkin masih kontroversial. Hasil
diagnostik FNAB rendah karena sulit membedakan limfoma non-Hodgkin dari tiroiditis
limfositik dan karsinoma tiroid anaplastik. Studi yang menggabungkan FNAB dengan
flowcytometry dan imunohistokimia dapat meningkatkan ketepatan diagnosis limfoma
tanpa perlu biopsi eksisi.(1)

- Metastasistumor ganas bagian tubuh lain


FNAB digunakan pada pembesaran kelenjar getah bening leher yang diduga akibat
metastase keganasan dari tumor pada bagian tubuh yang lain.(8,11) Karsinoma nasofaring
dapat bermetastasis ke kelenjar getah bening leher dalam bentuk benjolan. (10) Demikian
pula dengan tumor ganas yang lain, diagnostik pasti dapat ditegakkan dengan FNAB pada
pembesaran kelenjar getah bening di leher. (11)
Metastasis dari tumor ganas karsinoma sel skuamosa rongga mulut, orofaring,
hipofaring, laring, dan nasofaring adalah ke rangkaian kelenjar limfa jugularis

11
superior.Adanya massa tumor yang berada di preaurikula umumnya disebabkan oleh
tumor primer dari kelenjar parotis atau metastasis tumor ganas dari kulit muka, kepala,
dan telinga homolateral.Pada kelenjar submental dapat berasal dari tumor ganas di kulit
hidung atau bibir, atau dasar mulut bagian anterior.Pada segitiga submandibula dapat
disebabkan oleh tumor primer pada kelenjar submandibula atau metastasis tumor yang
berasal dari kulit muka homolateral, bibir, rongga mulut, atau sinus paranasal.(12)
Pada daerah jugularis interna superior, dapat berasa dari tumor ganas di rongga mulut,
nasofaring, orofaring posterior, nasoaring, dasar lidah atau laring. Tumor dari daerah
jugularis bagian bawah umunya berupa tumor pada subglotis, laring tiroid atau esofagus
bagian servikal. Tumor pada kelenjar limfa suboksopital biasanya berupa metastasis
tumor yang berasal dari kulit kepala bagian posterior atau tumor promer di aurikula.
Massa di supraklavikula, biasanya oleh karena tumor primer di infraklavikula, tumor
esofagus bagian servikal, atau tumor tiroid.(12)

1. Boone J, Mullin DP. Biopsy, Fine Needle, Neck Mass. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/1520111-overview#a03. Accessed August 25th
2012.
2. Johnson JT. Fine-Needle Aspiration of Neck Masses . Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/1819862-overview. Accessed August 25th 2012.
3. Ji XL. Fine-needle aspiration cytology of liver diseases. Available
at:http://www.wjgnet.com/1007-9327/5/95.asp. Accessed August 25th 2012.
4. The American Association of Endocrine Diseases. Thyroid Nodule, Fine Needle
Aspiration Biopsy. Available at: http://endocrinediseases.org/thyroid/ nodule_fna.shtml.
Accessed August 25th 2012.
5. Clinical Center National Institutes Of Health. Patient Education, Preparing of Needle
Aspiration Biopsy. Available at: www.cc.nih.gov/ccc/patient.../needle.pdf. Accessed
August 26th 2012.
6. Bailey BJ, Johnson JT, Newlands SD. Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 4 thed.
USA: Lippincott William and Wilkins. 2006.
7. American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery. Fine Needle Aspiration.
Available at: http://www.entnet.org/HealthInformation/fineNeedle Aspiration.cfm
Accessed August 26th 2012.

12
8. Katz AE. Manual of Otolaryngology-Head and Neck Therapeutics. USA : Lea & Febiger.
1986.
9. Soeseno B. Biopsi Aspirasi Jarum Halus Pada Kelenjar Getah Bening Leher Akibat
Metastase Tumor Ganas Kepala dan Leher. Bandung : Fakultas Pascasarjana Universitas
Padjajaran. 1989.
10. Roezin A, Adham M. Karsinoma Nasofaring. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. 6thed. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2007.
11. Hermani M, Abdurrachman H. Tumor Laring. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. 6thed. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2007.
12. Roezin A. Sistem Aliran Limfa Leher. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. 6thed. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2007.

13