Anda di halaman 1dari 13

11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.TINJAUAN TEORI

1. ABORTUS

a. Pengertian Abortus

Definisi abortus (aborsi,abortion) adalah berakhirnya kehamilan melalui

cara apapun sebelum janin mampu bertahan hidup. Di AS, definisi ini

terbatas pada terminasi kehamilan sebelum 20 minggu didasarkan tanggal

hari pertama haid normal terakhir. Definisi lain yang sering digunakan

adalah keluarnya janin neonatus yang beratnya kurang dari 500 gram

(Cunningham, 2005:951).

Abortus atau keguguran adalah pengeluaran hasil konsepsi

sebelum janin mampu hidup diluar kandungan dengan berat badan kurang

dari 1000 gram atau umur kehamilan kurang dari 22 minggu

(saifuddin,2001). Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi

sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Sebagai batasan ialah

kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram

(Hadijanto, 2008:460).

b. Klasifikasi Abortus

Dikenal berbagai macam abortus sesuai dengan gejala, tanda, dan

proses patologi yang terjadi.


12

1) Abortus Iminens

Abortus tingkat permulaan dan merupakan ancaman terjadinya abortus,

ditandai perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi

masih baik dalam kandungan (Hadijanto, 2008:245).

Diagnosis abortus iminens biasanya diawali dengan keluhan

pervaginam pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu. Penderita mengeluh

mulas sedikit atau tidak ada keluhan sama sekali kecuali perdarahan

pervaginam. Ostium uteri masih tertutup besarnya uterus masih sesuai dengan

umur kehamilan dan tes kehamilan urin masih positif.

2) Abortus Insipien

Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks telah

mendatar dan astium uteri telah emmbuka, akan tetapi hasil konsepsi masih

dalam kavum uteri dan dalam proses pengeluaran ( Hadijanto, 2008:246).

Penderita akan merasa mulas karena kontraksi yang sering dan kuat,

perdarahannya bertambah sesuai dengan pembukaan serviks uterus dan umur

kehamilan. Besar uterus masih sesuai dengan umur kehamilan dengan tes urin

kehamilan masih positif. Pada pemeriksaan USG akan didapati pembesaran

uterus yang masih sesuai dengan umur kehamilan, gerak janin dan gerak

jantung janin masih jelas walau mungkin sudah mulai tidak normal, biasanya

terlihat penipisan serviks uterus atau pembukaanya. Perhatikan pula ada

tidaknya pelepasan plasenta dari dinding uterus.


13

3) Abortus kompletus

Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan

kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Semua hasil

konsepsi telah dikeluarkan, osteum uteri telah menutup, uterus sudah mengecil

sehingga perdarahan sedikit. Besar uterus tidak sesuai dengan umur kehamilan.

Pemeriksaan USG tidak perlu dilakukan bila pemeriksaan secara klinis sudah

memadai. Pada pemeriksaan tes urin biasanya masih positif sampai 7-10 hari

setelah abortus. Pengelolaan penderita tidak memerlukan tindakan khusus

ataupun pengobatan. Biasanya hanya diberi roboransia atau hematenik bila

keadaan pasien memerlukan. Uterotonika tidak perlu diberikan.

4) Abortus inkompletus

Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada

yang tertinggal. Batasan ini juga masih terpancang pada umur kehamilan

kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Sebagian

jaringan hasil konsepsi masih tertinggal di dalam uterus di mana pada

pemeriksaan vagina, kanalis servikalis masih terbuka dan teraba jaringan

dalam kavum uteri atau menonjol pada ostium uteri eksternum. Perdarahan

biasanya masih terjadi jumlahnya pun bisa banyak atau sedikit bergantung

pada jaringan yang tersisa, yang menyebabkan sebagian placental site masih

terbuka sehingga perdarahan terus berjalan terus.

5) Missed abortion

Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal dalam

kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih


14

tertahan dalam kandungan. Penderita missed abortion biasanya tidak

merasakan keluhan apa pun kecuali merasakan pertumbuhan kehamilannya

tidak seperti yang diharapkan. Bila kehamilan diatas 14 minggu sampai 20

minggu sampai 20 minggu penderita justru merasakan rahimnya semakin

mengecil dan tanda-tanda kehamilan sekunder pada payudara mulai

menghilang.

6) Abortus Habitualis

Abortus habitualis ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih

berturut-turut. Penderita abortus habitualis pada umumnya tidak sulit menjadi

hamil kembali, tetapi kehamilannya berakhir dengan keguguran /abortus secara

berturut-turut. Bishop melaporkan kejadian abortus habitualis sekitar 0,41%

dari seluruh kehamilan.

7) Abortus Infeksiosus, Abortus Septik

Abortus infeksiosus ialah abortus yang disertai infeksi pada alat

genitalia. Abortus septi ialah abortus yang disertai penyebaran infeksi pada

peredaran darah tubuh atau peritoneum (septikemia atau peritonitis). Kejadian

ini merupakan salah satu komplikasi tindakan abortus yang paling sering

apalagi bila dilakukan kurang memperhatikan asepsis dan antisepsis.

8) Kehamilan Anembrionik (blighted Ovum)

Kehamilan anembrionik merupakan kehamilan patologi dimana

mudigah tidak terbentuk sejak awal walaupun kantong gestasi tetap terbentuk.

Di samping mudigah, kantong kuning telur juga tidak ikut terbentuk. Kelainan
15

ini merupakan suatu kelainan kehamilan yang baru terdeteksi setelah

berkembangnya ultrasonografi.

c. Penyebab Abortus

1) Usia Ibu Hamil

Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk

kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada

wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2-5 kali

lebih tinggi dari pada kematian maternal yang terjadi pada usia 20-29

tahun.Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 30-35 tahun

(Sarwono, 2006).

Frekuensi abortus yang dikenali secara klinis bertambah dari 12%

pada wanita yang berusia kurang dari 20 tahun, menjadi 26% pada wanita

yang berumur lebih dari 40 tahun (Cunningham, 2006).

Penyulit pada kehamilan remaja, lebih tinggi dibandingkan kurun

waktu reproduksi sehat antara umur 20 sampai 30 tahun. Keadaan ini

disebabkan belum matangnya alat reproduksi untuk hamil, sehingga dapat

merugikan kesehatan ibu maupun perkembangan dan pertumbuhan janin

(Manuaba,2007).

2) Penyakit Ibu Hamil

Penyakit ibu dapat menjadi faktor penyebab terjadinya abortus,

beberapa diantaranya adalah malaria, jantung, diabetes maternal, asma,

ginjal dan kelainan anatomik pada uterus (kelainan bawaan, kelainan posisi

uterus, mioma uteri, laserasik servik, trauma, kecelakaan)(UI,1996).


16

Infection, Some chronic infection have been implicated in causing abortion.

Brucelle abortus and compylobacter fetus are well-known causes of

chorionic abortion in cattle, but they are not a significant cause in humans

(sauerwein and associates, 1993). Evidence that Toxopasma gondii causes

abortion in humans is inconclusive. There is no evidence in humans that

either Listeria monocytogenes or chlamydia tracomatis produce abortions

(Feist and associates,1999 : Osser and persson,1996: Paukku and

associates,1999). Herpe simplex, however, has been associated with

anincreased incidence of abortion following genital infection in early

pregnancy. Temmerman and colleagues (1992) reported that spontaneous

abortion was independently associated with maternal human

immunodeficiency virus -1(HIV-1) antibody, with maternal syphilis

seroreactivity,and with vaginal colonization with group B streptococci

(Cunningham,2001:858).

3) Umur Kehamilan

Lebih dari 80% abortus terjadi pada 12 minggu pertama dan setelah itu

angka ini cepat menurun (Cunningham,2006:951). Insiden abortus

bertambah jika kandungan wanita tersebut melebihi umur 3 bulan

(Cunningham,2006).

4) Jarak Kehamilan

Jarak kehamilan adalah waktu sejak kelahiran pertama sampai

terjadinya kehamilan berikutnya. Jarak kehamilan yang terlalu pendek

sangat berbahaya, karena organ-organ reproduksi belum kembali ke kondisi


17

semula. Selain itu, kondisi energi ibu juga belum memungkinkan menerima

kehamilan berikutnya dandapat menyebabkan pertumbuhan janin terhambat,

prematuritas dan abortus (Indah,2007).

5) Paritas

Untuk paritas lebih dari 3 kali beresiko terjadinya abortus

(Cunningham, 1995 dan hacker,2001). Manuaba (2006) mengemukakan

bahwa ibu yang mempunyai anak lebih dari satu atau multipara dan ibu

yang pertama kali hamil merupakan resiko terjadinya abortus. Resiko

kejadian abortus meningkat pada grandemultipara karena pada masa ini

wanita mengalami penurunan pada alat reproduksi (Cunningham,2006).

Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut

kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai

angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi

kematian maternal. Resiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan

obstetrik lebih baik, sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat dikurangi

atau dicegah dengan keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas

tinggi adalah tidak direncanakan (Saifuddin,2009:23).

6) Status Gizi Ibu Hamil

Hanya malnutrisi umum sangat berat yang paling besar

kemungkinannya menjadi predisposisi meningkatnya kemungkinan abortus

(Cunningham,2005). Salah satu cara menentukan status gizi seseorang yaitu

dengan melihat kadar hemoglobin yang berhubungan erat dengan anemia.

Anemia adalah keadaan konsentrasi dalam darah kurang dari 10 gr%


18

(Mochtar,???). Seorang wanita hamil dengan kadar hemoglobin diatas 12

gr% dianggap normal, hemoglobin antara 10-12 gr% dianggap anemia

fisiologis, dan kadar hemoglobin kurang dari 10 gr% disebut anemia

(Wiknjosastro,???). Beberapa referensi diatas, kriteria status gizi yang baik

pada penelitian ini adalah dengan melihat kadar hemoglobin ibu lebih dari

10 gr %.

2. PARITAS

a. Pengertian paritas

Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh

seorang wanita (BKKBN, 2006). Menurut Prawirohardjo (2009), paritas

dapat dibedakan menjadi primipara, multipara dan grandemultipara. Paritas

adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu hidup

diluar rahim (28 minggu) (JHPIEGO, 2008). Sedangkan menurut Manuaba

(2008), paritas adalah wanita yang pernah melahirkan bayi aterm.

b. Klasifikasi Paritas

1) Primipara

Primipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak,

yang cukup besar untuk hidup di dunia luar (Varney, 2006). Wanita

yang telah melahirkan bayi yang viabel untuk pertama kalinya.

2) Multipara

Multipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak

lebih dari satu kali (Prawirohardjo, 2009). Multipara adalah wanita

yang pernah melahirkan bayi viabel (hidup) beberapa kali (Manuaba,


19

2008). Multigravida adalah wanita yang sudah hamil, dua kali atau

lebih (Varney, 2006).

3) Grandemultipara

Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang

anak atau lebih dan biasanya mengalami penyulit dalam kehamilan dan

persalinan (Manuaba, 2008). Grandemultipara adalah wanita yang

pernah melahirkan bayi 6 kali atau lebih hidup atau mati (Rustam,

2005). Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang

anak atau lebih (Varney, 2006).

Paritas ibu yang bersangkutan mempengaruhi morbiditas dan

mortalitas ibu dan anak. Risiko terhadap ibu dan anak pada kelahiran

bayi pertama cukup tinggi, akan tetapi risiko ini tidak dapat di hindari.

Kemudian risiko itu menurun pada paritas kedua dan ketiga serta

meningkat lagi pada paritas keempat dan seterusnya (Wiknjosastro,

2002).

3. KOMPLIKASI ABORTUS

a. Perdarahan

Abortus dapat menyebabkan kehilangan darah yang cukup

bermakna. Perdarahan selama kehamilan tahap awal jarang parah, kecuali

pada induksi abortus dan prosedurnya traumatik. Apabila tahap kehamilan

sudah lebih lanjut, mekanisme yang berperan dalam perdarahan umumnya

sama dengan yang dijelaskan untuk solusio plasenta dan plasenta previa
20

yaitu, rusaknya sejumlah besar pembuluh darah ibu di tempat implantasi

plasenta (Cunningham,2005).

Perdarahan per vaginam yang terjadi pada kehamilan trimester

pertama umumnya disebabkan oleh abortus dan hanya sebagian kecil saja

karena sebab-sebab lain (Saifuddin, 2006). Perdarahan dapat diatasi dengan

pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian

transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila

pertolongan tidak diberikan pada waktunya (Wiknjosastro,???).

b. infeksi

Perdarahan dan infeksi merupakan penyebab utama kesakitan atau

kematian ibu. Meskipun sangat jarang, sekitar tiga per empat kasus

koriokarsinoma terjadi setelah abortus (Benson,2008:298).

Infertilitas

Infertilitas dapat disebabkan oleh oklusi tuba yang meradang setelah

abortus terinfeksi (Benson,2008:298).

c. Perforasi

Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus

dalam posisi hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu

diamat-amati dengan teliti. Jika ada tanda bahaya, perlu dilakukan

laparatomi, dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka

perforasi atau perlu histerektomi. Perforasi uterus pada abortus yang

dikerjakan oleh orang awam menimbulkan persoalan gawat karena

perlukaan uterus biasanya luas; mungkin pula terjadi perlukaan pada


21

kandung kemih atau usus. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya

perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya

cedera, untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan seperlunya guna

mengatasi komplikasi (Wiknjasastro, 2006).

d. Syok

Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan

karena infeksi berat ( syok endoseptik) (Wiknjasastro, 2006).

4. HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN ABORTUS

Abortus sebagian besar tidak diketahui secara pasti, tetapi ada berbagai

faktor yang mempengaruhi yaitu infeksi, pertumbuhan hasil konsepsi, kelainan

pada plasenta, paritas, faktor psikologis, kelainan sistemik dan usia

(Wiknjosastro,2005 :303).

Manuaba (1998 : 78) mengemukakan bahwa ibu yang mempunyai anak lebih

dari satu (multipara) dan ibu yang pertama kali hamil merupakan resiko tinggi

terjadi abortus. Abortus spontan sering terjadi pada paritas primigravida

seingga pada primigravida diperlukan adaptasi yang lebih dalam menerima

kehamilan baik secara fisik maupun psikis (Wiknjosastro, 2005).

Paritas 2 dan 3 dianggap paling aman ditinjau dari sudut kematian

maternal. Paritas dan lebih dari 3 mempunyai angka kematian maternal lebih

tinggi. Lebih tinggi paritas lebih tinggi kematian maternal. Resiko pada paritas

satu dapat ditangani dengan asuhan obstetrik lebih baik, sedangkan resiko pada

paritas tinggi dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga berencana karena
22

sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan (Saifuddin,

2005: 23).

B.KERANGKA KONSEP

Penyebab: Kejadian Abortus Komplikasi:

Usia Ibu Paritas


Hamil Perdarahan

Penyakit Ibu Hamil Perforasi

Umur Kehamilan Infeksi

Jarak Kehamilan syok

Status Gizi Ibu Hamil


kematian

Gambar.1
Kerangka konsep hubungan paritas dengan kejadian abortus

Keterangan:

: Area yang diteliti

: Area yang tidak diteliti

Kejadian abortus dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain Paritas, usia

ibu hamil, penyakit ibu hamil, umur kehamilan, jarak kehamilan. Paritas dapat

mempengaruhi kejadian abortus, seorang ibu yang memiliki paritas lebih dari 3

beresiko tinggi untuk terjadi Abortus. Kejadian abortus dapat

menyebabkanberbagai komplikasi seperti perdarahan, perforasi, infeksi dan syok.


23

C.HIPOTESIS

Ada Hubungan Paritas dengan Kejadian Abortus Di RS PKU

Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2012.