Anda di halaman 1dari 3

Uji Aktifitas Daun Binahong Untuk Penyembuhan Luka Pada MENCIT PUTIH (Mus

Musculus L.) JANTAN Oleh Infeksi Staphylococcus Aureus


Dewi maspufah,

PENDAHULUAN
Tanaman binahong adalah tanaman obat potensial yang dapat mengatasi berbagai
jenis penyakit. Lemmens dan Bunyapraphastsara (cit., Sukandar et al., 2011) menyatakan
binahong merupakan tanaman obat yang berasal dari Cina yang dikenal dengan nama asli
Dhen San Chi atau Madeira vine di Amerika Selatan. Binahong digunakan secara tradisional
untuk menyembuhkan berbagai penyakit, di antaranya untuk penyakit kulit, hipertensi,
inflamasi, dan rematik. Bagian tanaman binahong yang bermanfaat salahsatunya yaitu daun.
Zat antimikroba yang terdapat pada daun Binahong yaitu flavonoid, polifenol, saponin,
alkaloid, terpenoid, minyak atsiri, tanin dan steroid. Menurut Hartono (2009), ekstrak etanol
daun binahong [Anredera cordifolia (Ten.) Steenis] bere fek dalam mempercepat durasi
penyembuhan luka sayat pada mencit swiss webster jantan dengan konsentrasi 5%, 10%, dan
20%. Menurut Uchida (2003) berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa kandungan
daun binahong terdapat aktivitas antioksidan, asam askorbat dan total fenol yang cukup
tinggi. Kandungan asam askorbat dapat meningkatkan daya tahan terhadap infeksi dan
berfungsi dalam pemeliharaan membran mukosa. Asam askorbat juga meningkatkan daya
tahan tubuh terhadap infeksi serta mempercepat penyembuhan.
luka infeksi merupakan penyebab penyakit dan kematian dengan angka yang cukup
tinggi di Negara berkembang. Menurut Dzen (2003) bahwa untuk mengatasi infeksi karena
bakteri, antibiotik mempunyai peranan penting. Antibiotik diharapkan mampu mengeliminasi
bakteri penyebab infeksi. Tetapi perlu disadari bahwa upaya mengeliminasi bakteri penyebab
saja tidak cukup memadai, hal tersebut anta lain dimungkinkan akibat kurang tepatnya
pemilihan antibiotik, munculnya resistensi, efek dari berbagai mediator dan sitokin ikut
mempengaruhi perjalanan infeksi. Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri patogen
berbahaya di antara genus staphylococcus. Bakteri ini sering resisten terhadap berbagai jenis
obat, sehingga mempersulit pemilihan antimikroba yang sesuai untuk terapi. Resistensi
terhadap berbagai jenis obat, sehingga mempersulit pemilihan antimikroba yang sesuai untuk
terapi. Resistensi terhadap beberapa antimikroba umumnya terjadi di rumah sakit, tempat
yang paling banyak menggunakan antimikroba ( Dwijoseputro, 2005).
Oleh karena itu dengan kita mengetahui kandungan dan manfaat yang begitu besar
dari daun binahong yang salah satunya yaitu sebagai penyembuh luka infeksi maka akan
dapat diberdayakan sebagai obat herbal yang terjangkau dan bermanfaat bagi masyarakat
sehingga perlu dilakukan uji aktivitas daun binahong tersebut lebih lanjut.

TUJUAN
Untuk mengetahui aktivitas daun binahong terhadap penyembuhan luka akibat infeksi
mikroba.

METODE DAN BAHAN


Dalam penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Hewan coba yang
digunakan adalah mencit (Mus muculus) jantan strain Balb-c yang digunakan dalam
penelitian ini berumur 1-2 bulan sebanyak 24 mencit. Antibiotik yang digunakan adalah
Fusycom dengan komposisi tiap gram krim mengandung asam fusidat 20 mg. Prosedur yang
pertama adalahmelakukan adapatasi hewan coba selama 4 hari dengan diberi pakan dan
minum secara berlebih. Kemudian pembuatan suspensi bakteri. Pembuatan suspensi bakteri
dilakukan dengan cara mengambil 4-5 bakteri Staphylococcus aureus dari media Mannitol
Salt Agar lalu dimasukkan ke dalam 4-5 ml Muller Hinton Broth. Inkubasi dilakukan pada
suhu 370 C selama 2-5 jam hingga diperoleh kekeruhan suspensi bakteri sesuai dengan
standard Mac Farland atau Kurang lebih jumlah bakteri 3x108 sel/ ml. Pada penelitian yang
sudah dilakukan oleh Adi Wijaya, dosis infeksi bakteri Staphylococcus aureus terendah pada
pengenceran 10-2 dari suspensi bakteri yang sesuai dengan standar Mac Farland atau Kurang
lebih jumlah bakteri 3x108 sel/ ml.
Pembuatan ekstrak daun bianahong yaitu dengan cara pencucian,kemudian
meniriskan daun binahong sebanyak 6kg, lalu dipotong kecil-kecil dan dikeringkan tanpa
terkena matahari langsung. Dikeringkan pada suhu ruang kurang lebih dua sampai empat
hari. Kemudian daun binahong yang telah kering dihaluskan dengan blender sampai
dihasilkan serbuk halus. Serbuk ini selanjutnya dibuat ekstrak. Ekstrak daun binahong ini
yang digunakan untuk penelitian. Ekstraksi daun binahong dengan metode maserasi sebanyak
400gr serbuk daun binahong yang telah dihaluskan, kemudian dimasukkan kedalam
erlenmeyer dan ditambahkan etanol 96% sebanyak 500 ml, kemudian digoyang selama satu
jam untuk mecapai kondisi homohen dalam shaker water baty dengan kecepatan 120 rpm.
Selanjutnya larutan dimaserasi selama 24 pada suhu kamar, setelah 24 jam larutan difiltrasi
dengan Bunchner kemudian residu penyaringan diangin-anginkan dan dilakukan remaserasi
ulang selama 24 jam. Maserasi diulang sampai 3 kali. Hasil saringan 1-3 dicampur dan
dipekatkan dengan Rotary vaccum evaporator dengan suhu 500C sampai didapatkan ekstrak
pekat dengan konsentrasi 100%. selanjutnya ditimbang seberat 20 mg untuk digunakan
sebagai pengobatan secara topikal.