Anda di halaman 1dari 5

Hormon Giberelin

Giberelin (GA) pertama kali ditemukan oleh Eiichi Kurowasa pada tahun 1926.
Giberelin merupakan senyawa diterpenoid. Semua kelompok terpenoid terbentuk dari unit
isoprene yang memiliki 5 atom karbon (C). Unit-unit isoprene ini dapat bergabung
menghasilkan monoterpene (C-10), sesqueterpene (C-15), diterpene (C-20), dan triterpene
(C-30) (Taiz & Zeiger, 2002).

Gambar 1. Struktur Giberelin (GA3). Sumber : Taiz & Zeiger, 2002.

Giberelin ialah senyawa kimia yang mempunyai struktur ent-gibberellane. Davies


(1995) menyatakan bahwa GA3 merupakan golongan hormon tumbuhan yang mempunyai
efek terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Giberelin dalam tumbuhan
ditemukan dalam dua fase, yaitu GA aktif dan GA non-aktif. Telah diketahui lebih dari
seratus jenis GA, namun hanya ada empat jenis yang diketahui sebagai GA aktif, yaitu GA1,
GA3, GA4, dan GA7.

Gambar 2. Bentuk GA aktif (GA1, GA3, GA4). Sumber : Koning, 1994.

Hormon Giberelin adalah hormon tumbuhan yang berperan dalam proses


perkembangan dan perkecambahan. Giberelin akan merangsang pembentukan enzim amilase
yang berfungsi untuk memecah senyawa amilum yang terdapat di endosperm (cadangan
makanan) menjadi senyawa glukosa. Glukosa tersebut menjadi sumber energi bagi
pertumbuhan tanaman. Hormon ini berfungsi secara sinergis (bekerja sama) dengan hormon
auksin. Selain itu, hormon giberelin juga memiliki fungsi dalam proses pembentukan serbuk
sari (polen), memperbesar ukuran buah, merangsang pembentukan bunga, dan mengakhiri
masa dormansi biji. Giberelin dengan konsentrasi tinggi juga akan merangsang pembentukan
akar.
Giberelin adalah jenis hormon tumbuh yang mula-mula diketemukan di Jepang oleh
Kurosawa pada tahun 1926. Kurosawa melakukan penelitian terhadap penyakit bakane
yang menyerang tanaman padi. Adapun penyebab dari penyakit ini adalah jamur Giberella
fujikuroi (Abidin,1990). Senyawa ini diketemukan ketika ekstrak jamur Giberella
fujikuroi, yang menyerang tanaman padi, dapat menimbulkan gejala yang sama pada waktu
disemprotkan kembali pada padi yang sehat. Karakteristik dari penyakit ini ialah
menyebabkan pemanjangan ruas-ruas yang berlebihan batang dan daun memanjang secara
tidak normal, sehingga menyebabkan tumbuhan mudah rebah.

Penelitian lanjutan dilakukan oleh Yatuba dan Hahayasi pada tahun 1939. Mereka
dapat mengisolasi crystalline material yang dapat menstimulasi pertumbuhan pada akar
kecambah. Pada tahun 1951, Stodola dan kawan-kawan melakukan penelitian terhadap
substansi ini dan menghasilkan Giberelin A dan Giberelin X. Adapun hasil penelitian
lanjutannya menghasilkan GA1,GA2,dan GA3 1926 (Abidin,1990). Hingga tahun 1990 telah
ditemukan 84 jenis giberelin pada berbagai jenis cendawan dan tumbuhan (Salisbury dan
Cleon, 1995). Giberelin adalah suatu golongan ZPT dengan rangka ent-Giberelin yang
berfungsi merangsang pemebelahan sel, pemanjangan sel, dan fungsi pengaturan. Semua
giberelin bersifat asam dan dinamakan GA (asam giberelat). (Harjadi,2009).

Giberelin pada tumbuhan dapat ditemukan dalam dua fase utama yaitu giberelin aktif
(GA bioaktif) dan giberelin nonaktif. Giberelin yang aktif secara biologis (GA bioaktif)
mengontrol beragam aspek pertumbuhan dan perkembangan tanaman, termasuk
perkecambahan biji, batang perpanjangan, perluasan daun, dan bunga dan pengembangan
benih. Hingga tahun 2008 terdapat lebih daripada seratus GA telah diidentifikasi dari
tanaman dan hanya sejumlah kecil darinya, seperti GA1 dan GA4, diperkirakan berfungsi
sebagai hormon bioaktif.

GA3 merupakan giberelin komersial pertama. Pada awalnya disebut dengan asam
gibberelat. GA3 merupakan wakil dari 90 jenis Giberelin yang dikenal dewasa ini.
(Harjadi,2009).

Menurut Harjadi (2009), secara umum telah diterima bahwa giberelin disintesis lewat
lintas alam melavonik dalam pucuk yang sedang aktif tumbuh dan biji-biji yang sedang
berkembang. Giberelin telah terbukti terlibat dalam banyak proses fisiologi tumbuhan, namun
marga dan jenis tanaman serta faktor-faktor lain akan menentukan giberelin khusus mana
yang paling efektif dalam meningkatkan suatu respon tertentu.

Biosintesis Giberelin
Biosintesis giberelin diawali dengan adanya signal transduksi terlebih dahulu,
kemudian melibatkan transkripsi gen dan sintesis protein de novo (Hedden, 1999). Setelah
itu biosintesis giberelin dapat terinduksi. Jalur biosintesis giberelin berasal dari unit asetil
koenzim A melalui lintasan asam mevalonat. Biosintesis giberelin melibatkan 3 tahap
(Taiz dan Zeiger, 2002) (Gambar 3), yaitu :
1. Geranylgeranyl pyrophosphate (GGPP) diubah menjadi ent-kaurene via copalyl
pyrophosphate (CPP) di dalam plastida. GGPP merupakan senyawa 20-karbon yang
bertindak sebagai donor bagi semua atom karbon pada giberelin. Perubahan GGPP
menjadi CPP dikatalisis oleh enzim ent-copalyl diphosphate synthase (CPS).
Sedangkan perubahan CPP menjadi ent-kaurene dikatalisis oleh enzim ent-kaurene
synthase (KS). Copalyl pyrophosphate memiliki sistem 2 cincin, sedangkan ent-
kaurene memiliki sistem 4 cincin.
2. Oksidasi terjadi di retikulum endoplasma dengan perubahan ent-kaurene menjadi
GA12 atau GA53. Pada tahap ini menghasilkan senyawa antara berupa kaurenol (jenis
alkohol), kaurenal (aldehid), dan asam kaurenoat. Perubahan ent-kaurene menjadi
ent-kaureonic acid dikatalisis oleh enzim ent-kaurene oxidase (KO), kemudian
perubahan ent-kaurene acid menjadi GA12 dikatalisis oleh enzim ent-kaurenenoic
acid oxidase (KAO). GA12 merupakan senyawa pertama dengan cincin giberelin
sejati.
3. Pada umumnya, tanaman mengubah GA12 menjadi GA53 oleh reaksi hidroksilasi
pada C-13. GA12 atau GA53 diubah menjadi GAs di sitosol. Reaksi hidroksilasi pada
C-13 menghasilkan GA9 dan GA20. Kemudian GA9 diubah menjadi GA4 (bentuk GA
aktif) dan GA20 diubah menjadi GA1 (bentuk GA aktif) melalui oksidasi pada karbon
3. GA aktif yang terbentuk dapat inaktivasi dengan perubahan GA1 menjadi GA8
dan GA4 menjadi GA34 melalui proses hidroksilasi C-2. Hidroksilasi ini juga dapat
menghilangkan GA20 dari jalur biosintesis giberelin untuk diubah menjadi GA29
(bentuk GA inaktif). Perubahan GA12 menjadi GA aktif melibatkan enzim
dioxygenase di dalam sitosol. Enzim ini membutuhkan 2-oxoglutarate dan O2
sebagai co-substrat serta menggunakan Fe2+ dan askorbat sebagai kofaktor.
Gambar 3. Skema biosintesis giberelin.
Sumber :
http://5e.plantphys.net/article.php?ch=2
&id=366,
Giberelin disintesis pada daun yang sedang berkembang (daun muda), primordium
cabang, ujung akar dan biji yang sedang berkembang. Sintesis giberelin dipacu oleh hari
panjang dan temperatur 20 30C. Salisbury dan Ross (1992) menyatakan bahwa
pengangkutan asam giberelat dalam tumbuhan tidak terjadi secara polar. Pengangkutan
berlangsung melalui difusi. Selain itu, pengangkutan juga berlangsung melalui berkas
pengangkut (xilem & floem) dan parenkim.

DAFTAR RUJUKAN

Anonim.2009.Gibberellin.Tersedia pada www.wikimedia.com (diakses tanggal 13 Februari


2016).

Abidin,Zainal.1990. Dasar-Dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuhan. Bandung


:Angkasa.

Braas, Lauren. 2010. The Effect of Gibberellic Acid and Paclobutrazol Levels on Pisum
sativum (online). http://www.personal.psu.edu/leb5185/blogs/e-
portfolio/Plant%20Hormone%20Lab%20Report.pdf, diakses 24 Desember 2013.

Davies, Peter J. 1995. Plant Hormones : Physiology, Biochemistry and Molecular Biology
Second Edition. London : Kluwer Academic Publishers.

Heddy,Suwarsono.1996.Hormon Tumbuhan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Phytohormones (Plant Hormones) and other Growth Regulators: Gibberellin, dari


laman Universitas Hamburg.

Harjadi,Sri Setyati.2009.Zat Pengatur Tumbuhan. Jakarta : Penebar Swadaya.

Taiz, L. dan Zeiger. E. 2002. Plant Physiology (3rd Edition). Massachusetts : Sinauer
Associates, Inc. Publishers.

Taiz, Lincoln dan Eduardo Zeiger. 2010. Gibberellin Biosynthesis (online).


http://5e.plantphys.net/article.php?ch=2&id=366, diakses 24 Desember 2013.

Taiz, Lincoln dan Eduardo Zeiger. 2010. Plant Physiology, Fifth Edition
http://5e.plantphys.net/article.php?ch=2&id=366, diakses 24 Desember 2013.