Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

Hepatitis virus akut merupakan infeksi sistemik yang dominan menyerang


hati. Hampir semua virus hepatitis virus akut disebabkan oleh salah satu dari lima
jenis virus yaitu: virus hepatitis A (HAV), virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis
C (HCV), virus hepatitis D (HDV) dan virus hepatitis E (HEV). Semua jenis virus
hepatitis yang menyerang manusia merupakan virus RNA kecuali virus hepatitis
B, yang merupakan virus DNA. Walaupun virus-virus tersebut berbeda dalam
sifat molekuler dan antigen, akan tetapi virus tersebut memperlihatkan kesamaan
dalam perjalanan penyakitnya.1,2
Hepatitis virus akut merupakan urutan pertama dari berbagai penyakit hati
di seluruh dunia. Penyakit tersebut ataupun gejala sisanya bertanggung jawab atas
1-2 juta kematian setiap tahunnya. Banyak episode hepatitis dengan klinis
anikterik, tidak nyata atau subklinis. Secara global virus hepatitis merupakan
penyebab utama viremia persisten.1,3
Infeksi HBV merupakan penyebab utama hepatitis akut, hepatitis kronis,
sirosis dan kanker hati di seluruh dunia. Infeksi ini endemis di daerah Timur,
sebagian bedar kepulauan Pasifik, banyak Negara di Afrika, sebagian daerah
Timur Tengah dan lembah Amazon. CDC memperkirakan bahwa sejumlah
200.000 hingga 300.000 orang terutama dewasa muda terinfeksi oleh HBV setiap
tahunnya. Hanya sekitar 25% dari mereka yang mengalami ikterus, 10.000 kasus
memerlukan perawatan rumah sakit dan sekitar 1-2% meninggal karena penyakit
yang fulminant. Perkiraan jumlah karier di Amerika Serikat adalah sekitar
800.000 hingga 1 juta orang. Sekitar 25% dari karier ini berkembang menjadi
hepatitis kronis aktif yang sering kali menjadi sirosis hepatis. Selain itu, risiko
berkembangnya kanker primer di hati juga meningkat secara bermakna pada
karier. Diperkirakan 25-40% penderita HBV akut sangat beresiko mengalami
sirosis dan karsinoma hepatoseluler.1,3,4

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. DEFINISI
Hepatitis B adalah infeksi yang terjadi pada hati yang disebabkan oleh
virus hepatitis B (HBV) yang dapat menimbulkan peradangan bahkan kerusakan
sel-sel hati. Virus hepatitis merupakan DNA hepatotropik. Masa inkubasinya 15-
180 hari.1

II. EPIDEMIOLOGI
Hepatitis B merupakan infeksi virus hepatitis B (VHB) pada hati yang
dapat bersifat akut atau kronis. Menurut angka-angka dari Centers for Disease
Control (CDC), 140,000 sampai 320,000 kasusu-kasus akut (durasi yang pendek)
hepatitis B (infeksi hati dengan virus hepatitis) terjadi setiap tahun di Amerika.
Hanya kira-kira 50% dari orang-orang dengan hepatitis B akut yang mempunyai
gejala-gejala (adalah simptomatik). Diantara pasien-pasien yang simptomatik
(symptomatic), 8,400 sampai 19,000 orang-orang diopname dan 140 sampai 320
meninggal setiap tahun di Amerika. Pada dekade yang lalu terjadi penurunan yang
lebih dari 70% pada kejadian hepatitis B akut di Amerika. Pada saat ini, kejadian-
kejadian hepatitis B akut yang paling tinggi adalah diantara dewasa-dewasa muda,
antara umur 20 dan 30 tahun.1,5,6
Menurut data WHO 2014, lebih dari 240 juta penduduk di dunia
mengalami infeksi VHB kronis, dan lebih dari 780.000 orang per tahun meninggal
akibat komplikasi infeksi VHB akut maupun kronis. Indonesia sendiri termasuk
negara endemis VHB dengan seroprevalensi HBsAg sebesar 9,4% dan pengidap
karier 5-10% dari populasi umum.5
Indonesia menempati peringkat ketiga dunia setelah China dan India untuk
jumlah penderita hepatitis. Ahli kesehatan dari Divisi Hepatologi, Depatemen
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ali Sulaiman
memperkirakan sejumlah 13 juta penduduk Indonesia mengidap hepatitis B.6

2
III. ETIOLOGI
Penyebab hepatitis B adalah virus DNA yang tergolong dalam kelas
hepaDNA dan mempunyai masa inkubasi 1-6 bulan. komponen lapisan luar pada
hepatitis B disebut hepatitis B surface antigen (HbsAg) dalam inti terdapat
genome dari HVB yaitu sebagian dari molekul tunggal dari DNA spesifik yang
sirkuler dimana mengandung enzim yaitu DNA polymerase. Disamping itu juga
ditemukan hepatitis Be Antigen (HBeAg). Antigen ini hanya ditemukan pada
penderita dengan HBsAg positif. HBeAg positif pada penderita merupakan
pertanda serologis yang sensitif dan artinya derajat infektivitasnya tinggi, maka
bila ditemukan HBsAg positif penting diperiksa HBeAg untuk menentukan
prognosis penderita.7
Cara penularan infeksi virus hepatitis B ada dua, yaitu :7,8
Penularan horizontal terjadi dari seorang pengidap infeksi virus hepatitis B
kepada individu yang masih rentan di sekelilingnya. Penularan horizontal
dapat terjadi melalui kulit atau melalui selaput lender. Penularan melalui
kulit, ada 2 macam yaitu disebabkan tusukan yang jelas (penularan
parenteral), misal melalui suntikan, transfusi darah dan tato. Yang kedua
adalah penularan melalui kulit tanpa tusukan yang jelas, misal masuk nya
bahan infektif melalui goresan atau abrasi kulit dan radang kulit.
Penularan vertikal terjadi dari seorang pengidap yang hamil kepada bayi
yang dilahirkan. Penularan vertical dapat terjadi pada masa sebelum
kelahiran atau prenatal (inutero), selama persalinan atau perinatal dan
setelah persalinan atau post natal.5
Cara utama penularan virus hepatitis B adalah melalui parenteral dan
menembus membrane mukosa terutama melalui hubungan seksual. Masa inkubasi
rata-rata sekitar 60-90 hari. HbsAg telah ditemukan pada hampir semua cairan
tubuh orang yang terinfeksi yaitu darah, semen, saliva, air mata, asites, air susu
ibu, urin, dan bahkan feses. Setidaknya sebagian cairan tubuh ini (terutama darah,
semen, dan saliva) telah terbukti bersifat infeksius.7

3
IV. PATOFISIOLOGI
Infeksi VHB merupakan proses dinamis yang melibatkan interaksi antara
virus, hepatosit dan sistem imun pasien. Infeksi VHB pada dewasa muda yang
imunotoleran umumnya menyebabkan hepatitis B akut (>90%) dan hanya 1%
yang menjadi infeksi kronis. Masa inkubasi VHB rata-rata 75 hari (rentang 30-
180 hari). pada infeksi VHB akut, penanda serum HbsAg serum akan diikuti
dengan peningkatan enzim aminotransferase dan munculnya gejala klinis (ikterik)
pada 2-6 minggu setelahnya. Penanda HbsAg jarang terdeteksi 1-2 bulan setelah
awitan ikterus, dan jarang menetap hingga 6 bulan. Hepatitis B akut pada
umumnya sembuh secara spontan dan membentuk antibody secara alami ditandai
dengan anti HBs positif, IgG, anti HBc positif dan anti HBe positif.9
Virus hepatitis B masuk ke dalam tubuh secara parenteral, dari peredaran
darah partikel Dane masuk ke dalam hati dan terjadi proses replikasi virus.
Selanjutnya sel-sel hati akan memproduksi dan mensekresi partikel Dane utuh,
partikel HbsAg bentuk bulat dan tubuler dan HBeAg yang tidak ikut membentuk
partikel virus. Virus hepatitis B merangsang respon imun tubuh, yang pertama
kali adalah respon imun non spesifik karena dapat terangsang dalam waktu
beberapa menit sampai beberapa jam dengan memanfaatkan sel-sel NK dan NKT.
Kemudian diperlukan respon imun spesifik yaitu dengan mengakstivasi sel
limfosit T dan sel limfosit B. aktivasi sel T, CD8 + terjadi setelah kontak reseptor
sel T dengan komplek peptide VHB-MHC kelas I yang ada pada permukaan
dinding sel hati. Sel T CD8 + akan mengeliminasi virus yang ada di dalam sel hati
terinfeksi. Proses eliminasi bisa terjadi dalam bentuk nekrosis sel hati yang akan
menyebabkan meningkatnya ALT.10
Aktivasi sel limfosit B dengan bantuan sel CD+ akan mengakibatkan
produksi antibody antara lain anti-HBs, anti-HBc, anti-HBe. Fungsi anti-HBs
adalah netralisasi partikel virus hepatitis B bebas dan mencegah masuknya virus
ke dalam sel, dengan demikian anti-HBs akan mencegah penyebaran virus dari sel
ke sel. Bila proses eliminasi virus berlangsung efisien maka infeksi virus hepatitis
B dapat diakhiri tetapi kalau proses tersebut kurang efisien maka terjadi infeksi
virus hepatitis B yang menetap. Proses eliminsai virus hepatitis B oleh respon

4
imun yang tidak efisien dapat disebabkan oleh faktor virus atau pun faktor
pejamu.10
Faktor virus antara lain : terjadinya imunotoleransi terhadap produk virus
hepatitis B, hambatan terhadap CTL yang berfungsi melakukan lisis sel
sel terinfeksi, terjadinya mutan virus hepatitis B yang tidak memproduksi
HBeAg, integarasi genom virus hepatitis B dalam genom sel hati
Faktor pejamu antara lain : faktor genetik, kurangnya produksi IFN,
adanya antibodi terhadap antigen nukleokapsid, kelainan fungsi limfosit,
respons antiidiotipe, faktor kelamin dan hormonal.
Salah satu contoh peran imunotoleransi terhadap produk virus hepatitis B
dalam persistensi virus hepatitis B adalah mekanisme persistensi infeksi virus
hepatitis B pada neonatus yang dilahirkan oleh ibu HBsAg dan HBeAg posistif,
diduga persistensi infeksi virus hepatitis B pada neonatus yang dilahirkan oleh ibu
HBeAg yang masuk ke dalam tubuh janin mendahului invasi virus hepatitis B,
sedangkan persistensi pada usia dewasa diduga disebabkan oleh kelelahan sel T
karena tingginya konsentrasi partikel virus.10

5
Pada kasus infeksi VHB kronis, HbsAg ditemukan menetap minimal
selama 6 bulan. Hingga saat ini, infeksi VHB kronis tidak dapat dieradikasi
sepenuhnya karena adanya molekul covalently closed circular DNA (cccDNA)
yang permanen di dalam nucleus hepatosit terinfeksi. Selain itu, VHB memiliki
enzim reverse transcriptase untuk replikasi sehingga untaian genom VHB dapat
menyatu dengan DNA hepatosit, yang kemudian berpotensi menyebabkan
tranformasi karsinogenik.2,4,9
Sistem imun yang bertanggung jawab untuk terjadinya kerusakan sel hati,
melibatkan respons CD8 dan CD4 sel T dan efek sitokin di hati dan sistemik. Efek
sitopatik langsung dari virus. Pada pasien imunosupresi dengan replika tinggi,
akan tetapi tidak ada bukti langsung. Hepatosit yang terinfeksi dapat menyintesis
dan menyekresikan protein permukaan noninfektif (HBsAg) dalam jumlah besar
yang muncul dalam sel dan serum. Setelah terpajan virus, terjadi masa inkubasi
asimtomatik yang lama diikuti penyakit akut yang berlangsung berminggu-
minggu atau berbulan-bulan. Perjalanan alami penyakit akut dapat diikuti melalui
penanda serum:2,4
a. HBsAg muncul sebelum onset gejala, memuncak selama gejala penyakit
muncul, kemudian menurun sampai tidak terdeteksi dalam 3-6 bulan.
b. HBeAg. HBV-DNA dan DNA polymerase muncul dalam segera setelah
HBsAg dan semuanya menandakan replikasi virus aktif. Menetapnya
HBeAg merupakan indikator penting terjadinya replikasi virus yang
berkelanjutan, daya tular dan kemungkinan perkembangan menuju
hepatitis kronis.
c. IgM anti-HBc mulai terdeteksi dalam serum segera sebelum onset gejala,
bersamaan dengan mulai meningkatnya kadar aminotransferase serum
(menunjukkan kerusakan hati). Dalam beberapa bulan, IgM anti-HBc
digantikan oleh IgG anti-HBc.
d. Munculnya antibodi anti-HBc mengisyaratkan infeksi akut telah
memuncak dan sekarang mulai mereda.
e. IgG anti-HBs belum meningkat sampai penyakit akut berlalu dan biasanya
tidak terdeteksi selama beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah

6
hilangnya HBsAg. Anti-HBs dapat menetap seumur hidup, memberikan
perlindungan, ini merupakan dasar strategi vaksinasi saat ini yang
menggunakan HBsAg noninfeksiosa.

V. GEJALA KLINIS
Tanda dan gejala Hepatitis B Akut11
1. Fase pre-ikterik (1-2 minggu sebelum fase ikterik) : gejala
konstitusional seperti anoreksia, mual, muntah, malaise, keletihan,
atralgia, mialgia, sakit kepala, fotofobia, faringitis, dan batuk. Dapat
disertai dengan demam yang tidak terlalu tinggi.
2. Fase ikterik : gejala prodromal berkurang, namun ditemukan sclera
ikterik hepatomegali disertai nyeri tekan di area kuadran kanan atas
abdomen. Dapat ditemukan splenomegali, gambaran kolestatik, hingga
adenopati servikal.
3. Fase perbaikan ( konvalesens) : gejala kontitusional menghilang,
namun masih ditemukan hepatomegali dan abnormalitas pemeriksaan
kimia hati.

VI. KRITERIA DIAGNOSIS INFEKSI VHB


Hepatitis B Akut: diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisis dan temuan serologis HbsAg positif dan IgM anti Hbc (+).9,11

7
Profil Regimen Hepatitis B9
a. Diagnosis serologis telah tersedia dengan mendeteksi keberadaan dari
IgM antibodi terhadap antigen core hepatitis
b. (IgM anti-HBc dan HBsAg).
- Keduanya ada saat gejala muncul
- HBsAg mendahului IgM anti-HBc
- HBsAg merupakan petanda yang pertama kali diperiksa secara
rutin
- HBsAg dapat menghilang biasanya dalam beberapa minggu
sampai bulan setelah kemunculannya, sebelum hilangnya IgM anti-
HBc
c. HBeAg dan HBV DNA
- HBV DNA di serum merupakan petanda yang pertama muncul,
akan tetapi rutin diperiksa
- HBeAg biasanya terdeteksi setelah kemunculan HBsAg

8
- Kedua petanda tersebut akan menghilang beberapa minggu atau
bulan pada infeksi yang sembuh sendiri. Selanjutnya akan muncul
anti-HBs dan anti-HBe menetap
- Tidak diperlukan untuk diagnosis rutin
d. IgG anti-HBc
- Menggantikan IgM anti-HBc pada infeksi yang sembuh
- Membedakan infeksi lampau atau infeksi berlanjut
- Tidak muncul pada pemberian vaksin HBV
e. Antibodi terhadap HBsAg (anti-HBs)
- Antibodi terakhir yang muncul
- Merupakan antibodi penetral
- Secara umum mengindikasikan kesembuhan dan kekebalan
terhadap reinfeksi
- Dimunculkan dengan vaksinasi HBV

9
INTERPRETASI SEROLOGI HVB

Pola HBsAg Anti Anti Interpretasi


HBs HBc
1 + - - Hepatitis B akut dini

2 + - + a. Hepatitis B akut
b. Hepatitis B kronis
3 - + + Sembuh dari Hepatitis B

4 - + - a. Infeksi yg sudah lama


berlangsung
b. Sesudah sembuh

5 - - + a. Imun sesudah sembuh


++ Hepatitis (IgG)
b. Baru sembuh dari
Hepatitis pada masa
Jendela (IgM)
c. Pengidap HBsAg tingkat
rendah

VII. DIAGNOSA BANDING1,9


a. Penyakit hati oleh karena obat atau toksin
b. Hepatitis alkoholik

VIII. PENATALAKSANAAN
Umunya bersifat suportif, meliputi tirah baring, serta menjaga agar asupan
nutrisi dan cairan tetap adekuat. Tidak ada rekomendasi diet khusus. Makan pagi
dengan porsi yang cukup besar merupakan makanan yang paling baik di toleransi.
Aktifitas fisik yang berlebihan dan berkepanjangan harus dihindari.12,13

10
Tatalaksana farmakologi sesuai dengan gejala yang dirasakan pasien :14
- Antipiretik bila demam ; Paracetamol 500mg (3-4x sehari)
- Apabila ada keluhan gastrointestinal seperti ; Mual; Antiemetik seperti
Metoklopramide 3x10 mg/hari atau domperidone 3x10mg/hari, Perut
perih dan kembung; H2 Blocker Simetidin 3x200 mg/hari atau
ranitidine 2x150mg/hari, atau Proton Pump Inhibitor Omerprazole
1x20mg/hari.
Sekitar 95% kasus hepatitis B akut akan mengalami resolusi dan
serokonversi spontan tanpa terapi antiviral. Bila terjadi komplikasi hepatitis
fulminant, maka dapat diberikan lamivudin 100-150 mg/hari hingga 3 bulan
setelah serokonversi atau setelah muncul anti HBeAg pasa pasien HBsAg
positif.12,13

IX. KONSELING DAN EDUKASI14


1. Keluarga ikut menjaga asupan kalori dan cairan yang adekuatdan
membatasi aktivitas fisik pasien
2. pencegahan penularan pada anggota keluarga dengan modifikasi pola
hidup untuk pencegahan transmisi, imunisasi

X. PROGNOSIS
Prognosis sangat tergantung pada kodisi pasien saat datang, ada tidaknya
komplikasi dan pengobatannya. Pada umumnya prognosis pada hepatitis B
adalah dubia, untuk fungsionam dan sanationam adalah malam.14

11