Anda di halaman 1dari 3

PATOFISIOLOGI

GGK

Eritropoetin Retensi garam+air Sekresi kalium GFR

Hemoglobin Produksi renin Kalium dalam


Ureum & kreatinin
darah

Pengikat O2 Retensi garam+air hiperkalemia Merangsang Hcl
Lambung
Anemia
Mual & muntah

vasokontriksi Sekresi aldosteron Sekrresi ADH

Hipertensi Retensi Na+air

Cairan intravaskuler

Udem Penekanan intra abdomen

Sesak

Gambar 1. Skema patofisiologi GGK (Dipiro ed 9, 2015 and K-Dogi, 2012)

Pada penderita Gagal Ginjal Kronik (GGK) akan mengalami penurunan fungsi ginjal atau
penuruna masa ginjal. Pengurangan masa ginjal menyebabkan hipertrofi struktur dan fungsi dari
nefron. Hipertrofi ini diperantarai oleh molekul sitokin, dan growth factor sehigga akan
meningkatkan produsi renin, angiotensin, dan aldosterone. Hal ini mengakibatkan terjadinya
hiperfiltrasi yang diikuti oleh peningkatan tekanan kapiler dan aliran darah glomerulus. Proses
adaptasi ini berlangsung singkat dan diikuti oleh proses maladaptasi berupa sklerosis nefron yang
masih tersisa. Proses ini menyebabkan penurunan fungsi nefron yang progresif. Beberapa hal
yang juga berperan terhadap progresifitas penyakit ginjal kronik adalah albuminuria, hipertensi,
hiperglikemia, dan dyslipidemia (Smeltzer et al, 2001). GGK diklasifikasikan berdasarkan nilai
GFR.
Tabel 1. Klasifikasi CKD berdasarkan nilai GFR

Pada stadium paling dini penyakit gagal ginjal kronik, terjadi kehilangan daya cadang
ginjal, pada keadaan dimana GFR masih normal atau malah meningkat. Kemudian secara
perlahan akan terjadi penurunan fungsi nefron yang progresif, yang ditandai dengan peningkatan
kadar urea dan kreatinin serum. Sampai pada nilai GFR sebesar 60, pasien masih belum
merasakan keluhan (asimptomatik), tetapi sudah terjadi peningkatan kadar urea dan kreatinin
serum. Pasien akan mulai mengeluhkan nokturia, badan lemah, mual, nafsu makan kurang, dan
penurunan berat badan ketika nilai GFR 30. Ketika nilai GFR sudah <30 dan diatas 15, pasien
akan memperlihatkan gejala dan tanda uremia yang nyata, seperti anemia, peningkatan
tekanan darah (hipertensi), gangguan metabolisme fosfor dan kalsium, pruritus, mual, muntah,
dan sebagainya. Pasien juga mudah terkena infeksi, baik infeksi saluiran kemih, saluran napas,
maupun saluran cerna. Selain itu keseimbangan elektrolit juga akan terganggu, antara lain Na
dan K. Pada nilai GFR < 15, akan terjadi gejala dan komplikasi yang lebih serius, dan pasien
sudah memerlukan terapi pengganti ginjal (Renal Replacement Therapy) antara lain dialisis atau
transplantasi ginjal. Pada keadaan ini pasien dikatakan sampai pada stadium gagal ginjal (Dipiro
ed 9, 2015 and K-Dogi, 2012)
Infeksi saluran kemih bisa terjadi pada pasien penderita GGK dengan hemodialisis yang
kurang higenis dan atau karena adanya ketidak seimbangan elektrolit. Infeksi bermula apabila
bakteri masuk ke dalam urin dan mulai tumbuh. Proses infeksi ini biasanya pada pembukaan
uretra di mana urin keluar dari tubuh dan masuk naik ke dalam traktus urinari. Biasanya, dengan
miksi ia dapat mengeluarkan bakteri yang ada dari uretra tetapi jika bakteri yang ada terlalu
banyak, proses tersebut tidak membantu. Bakteri akan naik ke atas saluran kemih hingga
kandung kemih dan bertumbuh kembang hingga menjadi infeksi. Infeksi bisa berlanjut melalui
ureter hingga ke ginjal. Di ginjal, peradangan yang terjadi disebut pielonefritis yang akan
menjadi keadaan klinis yang serius jika tidak teratasi dengan tuntas (Balentine, 2009).

Balentine, J.R, Stoppler, M.C. (ed), 2009. Urinary Tract Infections.


http://www.emedicinehealth.com/urinary_tract_infections/article_em.htm#Urinary%20
Tract%20Infections%20Overview.
DiPiro, J.T., Barbara, G.W., Terry, L.S., and Cecily, V.D., 2012, Pharmacotherapy Handbook 9th
Edition, Mc. Graw Hill, Medical Publishing Division, New York.
KDIGO, 2012. Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic
Kidney Disease. Kidney international supplements. National Kidney Foundations

Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC