Anda di halaman 1dari 19

ISOLASI ASAM SINAMAT (KIMIA ORGANIK 2)

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Asam sinamat dan turunannya cukup lazim terdapat di alam.
Asam sinamat terdapat dalam tanaman cengkeh, temu kunci,
kemenyan, lengkuas dan lain-lain. Asam sinamat diperoleh dari
fenilalanin berdasarkan eliminasi ammonia secara enzimatik
dilanjutkan dengan hidroksilasi aromatik dan metilasi.
Dalam percobaan ini, digunakan kencur sebagai sampel.
Kencur adalah salah satu jenis empon-empon/tanaman obat yang
tergolong dalam suku temu-temuan. Rimpang atau rhizoma
tanaman ini mengandung minyak atsiri dan alkaloid yang
dimanfaatkan sebagai stimulan. Berbagai resep masakan
tradisional Indonesia dan jamu menggunakan kencur sebagai
komponennya. Kencur dipakai orang sebagai tonikum dengan
khasiat menambah nafsu makan sehingga sering diberikan kapada
anak-anak. Jamu beras kencur sangat populer sebagai minuman
penyegar pula.
Zat yang dikandung kencur adalah berupa komposisi
kimia seperti: pati (4,14%), mineral (13,73%), minyak atsiri
(0,02%) berupa sineol, asam metil kanil dan penta dekaan, asam
sinamat, etil ester, borneol, komphene, paraeumarin, asam anisat,
alkaloid dan gom.
Pada percobaan ini dilakukan pengisolasian asam sinamat
dalam kencur, dimana akan dijelaskan proses isolasi yang
dilakukan untuk memperoleh asam sinamat tersebut dengan
proses maserasi, refluks serta ekstraksi pelarut. Sehingga dapat
diperoleh kristal murni dari sinamat dengan proses pengeringan
di dalam oven.
1.2 Tujuan
- Mengetahui sifat kimia dari asam sinamat dalam percobaan
- Mengetahui fungsi maserasi dalam percobaan
- Mengetahui massa kristal asam sinamat yang diperoleh
beserta % rendemen
- Mengetahui kegunaan dari asam sinamat
1.3 Prinsip percobaan
Melakukan pengisolasian sinamat dari sampel dengan
cara maserasi terlebih dahulu sampel kencur yang telah
dihaluskan dengan menggunakan etanol 95 %. Tujuan maserasi
ini adalah untuk mengangkat kandungan asam sinamat dari
minyak atsiri dengan menggunakan pelarut yang sesuai.
Selanjutnya ekstrak ini yang telah disaring akan dibentuk garam
sinamat terlebih dahulu dengan campuran NaOH dan etanol.
Dilanjutkan dengan proses refluks untuk mereaksikan dengan
sempurna, dan penguapan pelarut untuk didapatkan kandungan
asam sinamat dalam minyak atsiri dan dilakukan ekstraksi pelarut
dengan menggunakan pelarut dietil eter dan dengan pelarut air
sebelumnya (sehingga terdapat dua macam fraksi yaitu polar dan
nonpolar), selanjutnya dilakukan pengocokan agar dapat
memisahkan antara fase atas (non polar yang mengikat minyak
atsiri) dan fase bawah (polar yang mengikat asam sinamat). Fase
bawah dihidrolisis dengan H2SO4(P) untuk mendapatkan
endapan/kristal asam sinamat. Setelah dilakukan hidrolisis,
didinginkan dan disaring endapan kristal asam sinamat dan
dikeringkan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Senyawa organik dengan rumus umum RCOOR
dimana R dan R adalah gugus alkil atau aril dapat dibuat dengan
mereaksikan asam organik, RCOOH dengan alkohol, ROH
disebut reaksi esterifikasi. Sebaliknya ester dapat dihidrolisis
menjadi zat pembentuknya (asam organik dan alkohol). Reaksi
hidrolisis ini kadang-kadang disebut juga penyabunan atau
saponifikasi.
Reaksi hidrolisis adalah reaksi yang terjadi antara suatu
senyawa dan air dengan membentuk reaksi kesetimbangan, selain
bereaksi, air juga berperan sebagai medium reaksi sedangkan
senyawanya dapat berupa senyawa anorganik maupun senyawa
organik.
Hidrolisis pada garam anorganik, bergantung pada jenis
garamnya, antara lain:
- Garam yang berasal dari basa kuat dan asam kuat tidak terjadi
hidrolisis.
- Garam yang berasal dari basa kuat dan asam lemah, serta garam
yang berasal dari basa lemah dan asam kuat akan mengalami
hidrolisis sebagian.
- Garam yang berasal dari basa lemah dan asam lemah
(Mulyono, 2006)
a
Adapun sifat-sifat dari asam sinamat, yakni:
- Memiliki kelarutan rendah
- Bersifat antioksidan
- Mudah diisolasi
- Berbentuk kristal
- Bersifat polar
- Mengandung gugus benzena dalam strukturnya
- Heterosiklik
- Bersifat amorf
- Dapat dibuat dari proses hidrolisa oleh H2SO4
- Dapat dioksidasi menjadi asam benzoat
(http://obat.web.id/sinamat_sifat.htm)
Senyawa-senyawa turunan sinamat ditemukan secara luas
di alam, terutama sekali turunan hidroksisinamat, seperti p-
kumarat, kafeat,ferulat dan sinapat. Senyawa-senyawa ini
biasanya ditemukan dalam bentuk ester.
Senyawa-senyawa ini mudah dideteksi, karena noda-
nodanya diatas kertas saring (atau kromatogram kertas)
memberikan fluoresensi berwarna biru atau hijau dibawah sinar
ultraviolet. Intensitas warna ini dapat ditingkatkan bila
diperlakukan dengan uap amoniak.
Pada senyawa-senyawa turunan sinamat yang ditemukan
di alam. Ikatan rangkap pada umumnya mempunyai konfigurasi
trans yang lebih stabil dari pada konfigurasi cis. Akan tetapi,
konfigurasi ini dapat diubah dari yang satu menjadi yang lain, dan
isomerasi ini dapat terjadi selama proses pemisahan senyawa-
senyawa ini dari jaringan tumbuhan oleh sinar matahari, terutama
sekali sinar ultraviolet. Oleh karena itu, turunan sinamat yang
dipisahkan dari jaringan tumbuhan lazimnya ialah campuran
kesetimbangan dari kedua isomer tersebut.
Senyawa-senyawa turunan sinamat dapat pula
diidentifikasi dari spektrum ultraviolet, yang mempunyai serapan
maksimum pada panjang gelombang sekitar 245 nm dan sekitar
320 nm. Senyawa-senyawa ini, dalam suasana basa
memperlihatkan perpindahan serapan maksimum di daerah
ultraviolet ke panjang gelombang yang lebih besar (perpindahan
batokromik). Pengukuran dari besarnya perpindahan batokromik
ini sangat berguna untuk maksud identifikasi.
Senyawa-senyawa turunan sinamat dapat disintesis
dengan reaksi Perkin, yaitu kondensasi aldol antara aldehida
aromatik yang sesuai dan anhidrida asam karboksilat, dengan
adanya garam natrium dari asam tersebut sebagai katalis. Pada
reaksi ini, kondensasi terjadi antara gugus karbonil dari aldehida
dan gugus menaktif dari anhidrida asam. Sedangkan fungsi dari
katalis ialah untuk membentuk anion dan gugus metil aktif
tersebut.
Turunan sinamat dapat pula disintesa menggunakan reaksi
knoevenagel, yakni kondensasi aldol antara suatu aromatik
aldehid yang sesuai dengan asam atau ester malonat, dengan
adanya katalis basa.
Cara lain untuk mensintesis senyawa-senyawa turunan
sinamat aldehida aromatik yang sesuai dengan ester asetat,
dengan adanya katalis basa. (Arifin achmad, 1986)
Enolat anion dapat bertindak sebagai nukleofil karbon dan
beradisi pada gugus karbonil pada molekul aldehida atau keton
lain. Reaksi ini membentuk dasar bagi kondensasi aldol, yaitu
reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon yang sangat
bermanfaat. Kondensasi aldol yang paling sederhana adalah
gabungan dua molekul asetaldehida, yang terjadi jika larutan
aldehida diberi larutan basa.
Hasilnya adalah rantai dengan 4 karbon, dinamakan aldol (nama
berasal dari suku kata aldehida dan alcohol). Kondensasi aldol
mudah dibuat melalui pembentukan anion enolat dari satu
senyawa karbonil yang diadisikan kepada karbon karbonil lain.
Contohnya, reaksi antara asetaldehid dengan benzaldehid.
Dengan adanya basa, hanya satu macam anion enolat yang
terbentuk. Jika enolat dari asetaldehida beradisi pada gugus
karbonil benzaldehida, terbentuk kondensasi aldol campuran.
(Hart Harold, 1983)
Fenil propanoid adalah senyawa fenol alam yang
mempunyai cincin aroamatik dengan rantai samping terdiri dari 3
atom karbon. Secara biosintesis senyawa ini turunan asam amino
protein aromatik, yaitu fenilalanina dan fenilpropanoid, dapat
mengandung satu sisa C6 C13 atau lebih. Yang paling tersebar
luas ialah asam hidroksisinamat. Suatu senyawa penting, bukan
saja sebagai bangunan dasar lignin, tetapi juga berkaitan dengan
pengaturan tumbuh dan pertahanan terhadap penyakit.
Empat macam asam hidroksisinamat terdapat umum
dalam tumbuhan, dan pada kenyataannya hampir terdapat
dimana-mana. Keempat asam itu ialah asam ferulat,
sinapat,kafeat dan p-kumarat. Asam hidroksisinamat biasanya
terdapat dalam tumbuhan sebagai ester dan dapat diperoleh
dengan hasil baik dengan cara hidrolisis basa lemah. Karena
dengan hidrolisis asam panas bahan akan hilang akibat
dekarboksilasi menjadi hidroksistirena yang bersesuaian. Asam
kafeat biasanya terdapat sebagai ester asam kuinat dan ester ini
diberi nama asam klorogenat.
(Harbone J.B, 1987)
Asam sinamat diperoleh dari fenilalanin berdasarkan
eliminasi amonia secara enzimatik dilanjutkan dengan
hidroksilasi aromatik dan metilasi. Mula pertama dipercayai
bahwa biosintesis melalui jalan asam fenil piruvat yang direduksi
dan didehidrasi, tetapi saat asam sinamat ditemukan terlihat
bahwa enzim dapat mengeliminasi amonia langkah utama. Reaksi
ini dikategorikan sebagai reaksi berkesinambungan eliminasi
, dengan adanya pusat basa pada enzim yang mengikat -
proton.
Eliminasi terjadi yang paling tepat secara stereoelektronik
adalah konformasi trans-planar dengan pelepasan pro-35
hidrogen yang langsung menghasilkan asam trans-sinamat.
Reaksi analog dengan eliminasi Hofmann. Penemuan fenilalanin
amonialiase, PAL, mengungkap bahwa reaksi adalah dapat balik
yang berarti bahwa readisi amonia harus berlangsung berlawanan
terhadap polaritas ikatan rangkap. Penghambat kimia enzim
dilakukan dengan pereaksi karbonil seperti natrium borohidrida
yang mengandung tritium pada serangkaian hidroksi alanin
dengan tritium menunjukkan pre dominan ke arah gugus metil.
Asam sinamat dan benzoat kebanyakan terdapat sebagai
ester glikosida karbohidrat, flavonoid, dan asam hidroksi
karboksilat. Asam 3-kafeoilquinat (asam klorogenat) telah
diisolasi oleh Payen pada tahun 1846 dalam bentuk kristal dari
kopi dan ternyata senyawa tersebut terdapat sebagai metabolit
yang umum dalam tanaman.
Fenilalanin asam sinamat asam p-OH-sinamat
asam kafeat asam 3, 4, 5-trihidroksi sinamat asam gallat.
Pada sisi lain fenilalanin mengalami metabolisme lebih
efektif bila dibandingkan dengan glukosa menjadi asam gallat
dalam Rhus typhina. (Sastrohamidjojo, 1996)
Rimpang kencur (Kaempferia galang L.) melalui suatu
proses tertentu telah diketahui dapat menghasilkan senyawa
murni berbentuk kristal yaitu EMPS dan AMPS. Dalam proses
tersebut terdapat sisa/residu berbentuk cair yang selanjutnya
dikenal dengan fraksi minyak dari ekstrak etanol rimpang kencur.
Dari sejumlah 6 kg sebuk rimpang kencur, pada penelitian ini
diperoleh sebesar 38,33% dari total sebuk rimpang. Bahan
tersebut berwarna coklat kehitaman dan berbau khas yang apabila
dioleskan di kulit memberikan rasa panas/hangat.
Hidrolisa 30 gram fraksi minyak di atas pada tahap setelah
pencucian dengan metanol panas terhadap padatan, menghasilkan
kristal jarum tiadak berwarna sebanyak 4 gram dan bentuk
padatan amorf berwarna putih sebanyak 225 mg. Setelah
dilakukan kromatografi lapis tipis (KLT) terhadap fraksi minyak
dan bentuk padatan kristal dan amorf terdeteksi bahwa di dalam
fraksi sisa hidrolisa masih terdapat asam sinamat selain sisa
AMPS dan tampak nyata bahwa kadar asam sinamat lebih besar
dari sisa AMPS. Dari hasil KLT terhadap fraksi sisa hidrolisa dan
fraksi hasil hidrolisa (dimana didapatkan kristal AMPS dan asam
sinamat) diketahui bahwa kadar asam sinamat pada fraksi sisa
hidrolisa lebih besar dibandingkan fraksi hasil hidrolisa.
Selanjutnya dilakukan isolasi asam sinamat dari fraksi sisa
hidrolisa di atas. Akan tetapi hingga saat penelitian ini dilaporkan
belum berhasil dimurnikan asam sinamat yang selalu bercampur
dengan minyak yang berwarna cokelat tua. Sehingga kenyataan
tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya didalam rimpang
kencur terdapat asam sinamat dalam jumlah yang lebih besar dari
pada yang dihasilkan murni pada penelitian ini.
(http://72.14.235.132/search?q=cache:www.adln.lib.unair.ac.id/
penerapan+dari+asam+sinamat&cd=1&hl=id)
Senyawa antioksidan alami tumbuhan umumnya adalah
senyawa fenolik atau polifenolik yang dapat berupa golongan
flavonoid, turunan asam sinamat, kumarin, tokoferol. Turunan
asam sinamat meliputi asam kafeat, asam ferulat, asam klorogenat
dan lain-lain.
(http//72.14.235.132/search?q=cache:ardiansyah.multiply.com/)
BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat-alat
- Neraca analitik
- Beaker glass
- Corong kaca
- Labu alas bulat
- Hot plate
- Corong pisah
- Gelas ukur
- Pipet tetes
- Statif dan klem
- Panci
- Ember
- Selang
- Pompa
- Plastik
- Karet gelang
- Magnetik stirer
- Pinset
- Labu ukur
- Kondensor bola
- Oven
3.1.2 Bahan-bahan
- Kencur
- Etanol 95%
- Etanol 70%
- NaOH(s)
- Aquadest
- Dietil eter
- H2SO4(p)
- Kertas saring
- Es batu
- Vaselin
- pH universal
3.2 Prosedur percobaan
3.2.1 Proses maserasi
- sampel kencur diparut hingga halus.
- Ditimbang sebanyak 50 gram dan dimasukkan ke dalam
beaker glass
- Dilarutkan dalam alkohol 95% sebanyak 100 ml
- Ditutup plastik dan dibiarkan selama 4 hari
3.2.2 Isolasi Asam Sinamat
- Disaring sampel kencur yang telah dimaserasi 4 hari
- Diambil volumenya sebanyak 50 ml
- Ditimbang 15 gr NaOH dan ditambahkan 100 ml etanol 70%
- Dipanaskan larutan tersebut hingga tercampur semua
- Dicampur larutan tersebut dengan ekstrak sampel kencur
- Direfluks larutan tersebut 2 jam
- Diuapkan pelarut, didinginkan
- Disaring
- Ditambahkan 50 ml air
- Dimasukkan ke dalam corong pisah
- Di tambah 30 ml dietil eter
- Dikocok 20 menit
- Dipisahkan antara fase atas dan fase bawah
- Dihidrolisis dengan H2SO4(p) pada fase bawah
- Didinginkan
- Disaring
- Dikeringkan dalam oven
- Ditimbang
- Dihitung % rendemen

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


No Perlakuan Pengamatan
1. Proses Maserasi
- Sampel kencur diparut
- hingga halus
Ditmbang sebanyak 50 gr
- dan dimasukkan ke dalam
beaker glass
- Dilarutkan dalam alkohol- Larutan bening
95% sebanyak 100 ml kuning kecoklatan
2. Ditutup plastik dan
- dibiarkan selama 4 hari - Larutan bening
- Isolasi Asam Sinamat
- Disaring sampel kencur
yang telah dimaserasi 4- Larutan kuning
- hari keorangean
Diambil volumenya
- sebanyak 50 ml - Larutan putih keruh
Ditimbang 15 gr NaOH- Larutan kuning keruh
-
dan ditambahkan 100 ml
-
etanol 70%
-
Dipanaskan larutan- Terbentuk 2 fase
-
tersebut hingga tercampur- Fase atas: larutan
-
semua putih keruh
-
Dicampur larutan tersebut Fase bawah: larutan
-
dengan ekstrak sampel kuning keruh
-
kencur
Direfluks larutan tersebut
2 jam - pH = 3
-
Diuapkan pelarut,- Larutan putih keruh
- didinginkan terdapat busa
- Disaring - Endapan putih
- Ditambahkan 50 ml air - Endapan putih
- Dimasukkan corong pisah- Kertas saring=0,95 gr
Ditambah 30 ml dietil eter kertas saring + endapan
Dikocok 20 menit = 2,04 gr
- Dipisahkan antara fase Endapan=1,09gr
atas dan fase bawah - % rendemen=2,18%
Dihidrolisis dengan
H2SO4(p) pada fase bawah
Didinginkan
Disaring
Dikeringkan dalam oven
Ditimbang

Dihitung % rendemen

4.4 Pembahasan
Prinsip percobaan ini adalah pengisolasian asam sinamat
dari sample yang diduga mengandung asam sinamat dalam hal ini
sample yang digunakan adalah kencur. Untuk mendapatkan asam
sinamat ini terlebih dahulu dibentuk garam sinamat dengan
NaOH yang telah dicampur dengan etanol 70% dan dilajuntkan
dengan proses refluks untuk mereaksikannya dengan sempurna,
sehingga didapatkan filtrate murni yang diuapkan pelarutnya
(etanol). Lalu dulajutkan dengan proses ekstraksi pelarut dengan
dietil eter. Setelah didapat filtrate murni asam sinaamat pada fase
bawah, kemudian dihidrolisis dengan H2SO4(P) untuk
mendapatkan endapan/kristal asam sinamat. Setelah dilakukan
hidrolisis, didinginkan dan disaring endapan tersebut dan
dikeringkan dan didapatkanlah endapan asam sinamat yang
kadarnya telah diketahui setelah dilakukan penimbangan.
Dalam percobaan ini pertama-tama dilakukan tahap
maserasi. Maserasi adalah proses perendaman dengan pelarut
yang sesuai yang bertujuan untuk mengikat kandungan senyawa
dari bahan yang diduga mengandung bahan tersebut dalam hal ini
adalah asam sinamat. Sampel kencur di parut hingga halus
dengan tujuan memudahkan pengambilan kandungan asam
sinamat oleh pelarut. Ditimbang sebanyak 50 gr dan dimasukkan
ke dalam beaker glass, dilakukan penimbangan untuk mendapat
kadar massa yang dibutuhkan. Lalu dilarutkan dalam alkohol
95% sebanyak 100 ml. Digunakan alkohol 95% adalah selain
untuk mengikat kandungan minyak yang ada dalam sampel juga
untuk mempercepat pengikatan kandungan minyak atsiri karena
kadar alkohol yang cukup tinggi ini, otomatis alkohol ini akan
sangat ringan kerapatan jenisnya sehingga lebih bersifat volatil
(mudah menguap) bila dibandingkan dengan alkohol 70% yang
masih terdapat 30% nya kandungan air. Jadi kurang begitu volatil
bila dibandingkan dengan 90%. Lalu langkah terakhir adalah
ditutup dengan plastik dan dibiarkan 4 hari. Fungsi ditutup
dengan plastik agar tidak terkena langsung cahaya matahari
karena dikhawatirkan akan menguapkan pelarutnya beserta
minyak atsiri yang telah diikat oleh pelarut.
Tahap kedua adalah isolasi asam sinamat dengan
menyaring sampel kencur yang telah dimaserasi 4 hari dengan
tujuan mendapatkan filtrat yang mengandung minyak atsiri yang
didalamnya terkandung asam sinamat. Lalu diambil volumenya
sebanyak 50 ml. Lalu dibeaker yang lain ditimbang 15 gr NaOH
dan ditambahkan 100 ml etanol 70%. Fungsi NaOH disini untuk
membentuk garam sinamat dengan reaksi penggaraman.
Digunakan NaOH bukan KOH kerana massa atom Na lebih kecil
dari pada K karena KOH lebih bisa dikatakan bersifat lebih
reaktif, sehingga umumnya dapat menyabunkan minyak atau
lemak yang berat. Karena dalam percobaan ini hanya ingin
menyabunkan dan membuat garam dari minyak atsiri yaitu asam
sinamat yang merupakan salah satu minyak atsiri. Minyak atsiri
ini merupakan minyak ringan maksudnya memiliki bilangan
jumlah atom C dari C4 C9 dan bersifat volatil. Reaksi
penyabunan ialah jumlah alkali (basa) yang dibutuhkan untuk
menyabunkan sejumlah contoh minyak. Basa ini adalah dapat
NaOH atau KOH. Lalu dipanaskan larutan tersebut hingga
tercampur semua. Digunakan etanol 70% karena sebagai pelarut
dimana terdiri dari komposisi 70% etanol dan air 30%, agar
NaOH dapat larut dengan baik dengan etanol 70%. NaOH bersifat
higroskopis sehingga dapat mengikat kandungan air dan etanol
70% ini bila memakai 90% maka hanya sedikit kandungan airnya
yaitu 5% sehingga NaOH kurang optimal dalam kandungan air
yang sedikit yang dimiliki oleh 90%.
Dua macam larutan tersebut dicampur dengan ekstrak
sampel kencur. Dan direfluks larutan tersebut 2 jam. Fungsi
refluks untuk mereaksikan dengan sempurna dari dua campuran
tersebut sehingga dapat bercampur dengan baik. Selanjutnya
diuapkan pelarut dan didinginkan dengan tujuan penguapan untuk
mendapatkan kandungan minyak atsiri yang ada asam
sinamatnya, dan didinginkan agar tidak ada uap yang keluar dapat
turun dan bercampur lagi dengan larutan dan dapat membantu
proses pengendapan yang terbentuk. Kemudian ditambahkan 50
ml air yang berfungsi sebagai pelarut dan untuk membantu
mengikat kandungan endapan sehingga dapat mengendap.
Dimasukkan ke dalam corong pisah dan ditambah dietil eter 30
ml untuk proses ekstraksi pelarut, dengan dietil eter sebagai fraksi
pelarut nonpolar yang akan mengekstraksi campuran. Lalu
dikocok 20 menit yang berfungsi untuk memisahkan campuran
hingga terbentuk 2 fase lapisan atas yang mengandung dietil eter
dan lapisan bawah yang mengandung asam sinamat.Lalu
dipisahkan antara fase atas dan fase bawah. Fase bawah
dihidrolisis dengan H2SO4(p) untuk sebagai zat aktivator untuk
menghidrolisis larutan dan mengasamkan sehingga mencapai
pH=3 agar terbentuk kristal asam sinamat. Hidrolisis adalah suatu
proses penguraian oleh air dengan menggunakan suatu aktivator
asam kuat. Digunakan H2SO4(p) bukan asam-asam pekat lain
karena bila asam yang lain misal HNO3 maka akan terhidrolisis
sempurna dan langsung akan membentuk asam lemak bebas dan
gliserol dengan kata lain merupakan oksidator yang terlalu kuat
dan dikhawatirkan dapat merusak kandungan asam sinamat dan
yang lainnya di dalam sampel. Bila menggunakan
HCl(P) dikhawatirkan pada proses reaksi juga akan membentuk
garam NaCl sehingga akan sulit dibedakan antara endapan garam
hasil asam sinamat dengan garam NaCl dan akan lebih sukar lagi
pemisahan keduanya. H2SO4(p) dapat menghidrolisis menjadi
beberapa tahap ketimbang HNO3(p). H2SO4(p) akan mengoksidasi
garam sinamat menjadi asam sinamat.
Proses selanjutnya adalah didinginkan yang bertujuan agar
tidak terjadi reaksi isoterm yang terjadi saat penambahan
H2SO4(p), dengan menghilangkan uap hasil hidrolisa selain itu
pendinginan juga membantu proses pengendapan terhadap
endapan kristal asam sinamat. Kemudian endapan yang
terbentuk disaring dan dikeringkan dalam oven yang bertujuan
menghilangkan sisa air pada endapan. Dan ditimbang sehingga
diperoleh endapan asam sinamat sebesar = 1,09 gr dan dihitung
pula persen rendemen yaitu 2,18%.
Banyaknya endapan asam sinamat yang terbentuk dari hasil
percobaan yaitu 1,09 gr dari 50 gr sampel sehingga diperoleh %
rendemen sebesar 2,18%.
Karakteristik endapan yang terbentuk berupa endapan
bentuk serbuk berwarna putih. Sehingga secara fisik karakteristik
endapan asam sinamat sebagai berikut:
a. Bila dengan metode rekristalisasi dapat membentuk
kristal
- Kristal jarum yang memanjang
- Tidak berwarna pada kristal
- Bentuk padatan amorf
b. Bisa berbentuk padatan putih, serbuk, granulat
(butiran)
- Bila berbentuk serbuk berwarna putih, krem atau kekuningan
Sifat-sifat kimia asam sinamat yakni:
- Memiliki kelarutan rendah
- Bersifat antioksidan
- Bersifat polar
- Mengandung gugus benzen dalam strukturnya
- Heterosiklik
- Dapat dioksidasi menjadi asam benzoat
- Dapat dibuat dari proses hidrolisa oleh H2SO4(p).
Dalam percobaan hidrolisa/hidrolisis dilakukan hingga
larutan mencapai pH = 3, karena jika pH < 3, maka akan terbentuk
suatu asam benzoat, dan jika pH > 3, maka larutan masih belum
bisa terbentuk kristal asam sinamat.
Kegunaan dari asam sinamat antara lain:
- Sebagai obat-obatan
- Sebagai pembuatan parfum
- Sebagai campuran kosmetik
- Penangkal radikal bebas (antioksidan)
- Pengkelat logam
- Sebagai campuran penyedap masakan.
Kandungan kimia dari kencur antara lain:
- Pati (4,14%)
- Mineral (13,73%)
- Minyak atsiri (0,02%) berupa:
Sineol
Asam metil kanil dan pentadekaan
Asam sinamat
Etil ester
Borneol
Kamphene
Paraeumarin
Asam anisat
Alkaloid
Gom
Ada beberapa faktor kesalahan dalam percobaan kali ini
yaitu:
a. Kurang teliti dalam penimbangan NaOH
b. Kurang hati-hati saat mengambil lapisan bawah pada
saat ekstraksi.
c. Kurang optimalnya proses pengocokan.
d. Kesalahan utama yaitu pada saat penguapan pelarut
terbentuk gumpalan putih mengapung dipermukaan larutan
yang ternyata bila diteliti lewat jurnal penelitian ternyata
merupakan getah asam sinamat yang akan membentuk
endapan bila pelarutnya terus diuapkan.

BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
- Sifat kimia dari asam sinamat yaitu:
a. Memiliki kelarutan rendah
b. Bersifat antioksidan
c. Bersifat polar
d. Mengandung gugus benzen dalam strukturnya
e. Heterosiklik
f. Dapat dioksidasi menjadi asam benzoat
g. Dapat dibuat dari proses hidrolisa oleh H2SO4(p)
- Fungsi maserasi dalam percobaan adalah untuk mengikat
kandungan senyawa dari bahan yang diduga mengandung bahan
tersebut dalam hal ini adalah asam sinamat yang terdapat pada
sampel yaitu kencur.
- Massa kristal asam sinamat yang diperoleh beserta %
rendemennya yaitu didapatkan massa sebesar 1,09 gr dan %
rendemennya sebesar 2,18 %.
- Kegunaan dari asam sinamat antara lain:
a. Sebagai obat-obatan
b. Sebagai pembuatan parfum
c. Sebagai campuran kosmetik
d. Penangkal radikal bebas (antioksidan), dll.
5.2 Saran
Sebaiknya setelah disaring endapan putih asam sinamat
dan sebelum dikeringkan dalam oven, endapan tersebut dicuci
terlebih dahulu dengan alkohol dan air agar diperoleh endapan
yang lebih murni.