Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu cara untuk mengembangkan mutu pembelajaran klinik adalah
dengan menerapkan metode preseptorship yang baik. Pengalaman praktek
yang maksimal selama dilapangan praktek akan dapat mengintegrasikan
semua pengetahuan, keterampilan dan sikap mahasiswa yang akan menjadi
bekal bagi mahasiswa setelah selesai dari institusi pendidikan.
Preseptorsip adalah suatu metode pengajaran dimana seorang praktisi
yang memilikipengalaman di bidangnya yang mampu memberikan dukungan
kepada mahasiswa dalam memahami perannya dan hubungan kesejawatan.
Preseptorsip bersifat formal, disampaikan secara perseorangan dan individu
dalam waktu yang sudah ditentukan sebelumnya antara perawat yang
berpengalaman (preseptor) dengan perawat baru (preseptee) yang didesain
untuk membantu perawat baru untuk menyesuaikan diri dengan baik dan
menjalankan tugas yang baru sebagai seorang perawat atau bidan.
Menurut CAN (2004) program preseptorsip dalam pembelajaran bertujuan
untuk membentuk peran dan tanggung jawab mahasiswa untuk menjadi
perawat yang profesional dan berpengetahuan tinggi, dengan menunjukan
sebuah pencapaian berupa memberikan perawatan yang aman, menunjukan
akuntabilitas kerja, dapat dipercaya, menunjukan kemampuan dalam
mengorganisasi perawatan pasien dan mampu berkomunikasi dengan baik
terhadap pasien dan staf lainnya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian preseptoring?
2. Apa tujuan prseptoring?
3. Apa saja criteria preseptor?
4. Apa kompetensi preseptoring?
5. Apa tugas dan sikap preceptor?
6. Bagaimana proses preceptor?
7. Apa saja elemen preseptoring yang baik itu?
8. Apa saja keuntungan metode preseptoring?

C. Tujuan Penulisan
2

1. Untuk mengetahui pengertian preseptoring


2. Untuk mengetahui tujuan preseptoring
3. Untuk mengetahui ktiteria preseptor
4. Untuk mengetahui kompetensi program preseptoring
5. Untuk mengetahui tugas dan sikap preceptor
6. Untuk mengetahui sikap preceptor
7. Untuk mengetahui elemen preseptoring yang baik
8. Untuk mengetahui keuntungan metode preseptor

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Preseptoring
Preseptoring adalah suatu metode pengajaran dan pembelajaran kepada
mahasiswa dengan menggunakan bidan sebagai model perannya.
Preseptoring bersifat formal, disampaikan secara perseorangan dan individual
dalam waktu yang sudah ditentukan sebelumnya antara bidan yang
3

berpengalaman (preceptor) dengan bidan baru (preceptee) yang didesain


untuk membantu bidan baru untuk menyesuaikan diri dengan baik dan
menjalankan tugas yang baru sebagai seorang bidan. (CNA, 1995).
Program Preseptoring dalam pembelajaran bertujuan untuk membentuk
peran dan tanggung jawab mahasiswa untuk menjadi bidan yang profesional
dan berpengetahuan tinggi, dengan menunjukan sebuah pencapaian berupa
memberikan bidanan yang aman, menunjukan akuntabilitas kerja, dapat
dipercaya, menunjukan kemampuan dalam mengorganisasi bidanan pasien
dan mampu berkomunikasi dengan baik terhadap pasien dan staf lainnya
(CNA, 2004)
Menurut NMC (Nurse Midwifery Council di UK 2009) mendefinisikan
Preseptoring sebagai suatu periode (Preseptoring) untuk membimbing dan
mendorong semua praktisi kesehatan baru yang memenuhi persyaratan untuk
melewati masa transisi bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan
praktik mereka lebih lanjut (Keen, 200).
Waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan Preseptoring adalah sekurang-
kurangnya 1-2 bulan. Lama waktu pelaksanaan biasanya ditentukan oleh
institusi pendidikan atau pegawai yang mengetahui karakteristik dari
mahasiswa atau praktisi, persyaratan yang dibutuhkan dan karakteristik
tempat di mana pelaksanaan Preseptoring akan dilakukan. Seorang preceptor
adalah orang yang mampu melakukan dan telah mendapatkan kompetensi
dasar yang dibutuhkan bagi seorang pemula. Beberapa kompetensi yang
diberikan oleh preceptor akan disesuaikan oleh tempat di mana mereka
bekerja dan disesuaikan oleh masing-masing bidang kebidanan oleh peran
preceptor.
Peran serta preceptee terdapat dalam pengkajian dan evaluasi formatif dan
sumatif. Evaluasi dalam program Preseptoring dapat dilaporkan kepada
institusi dengan meyakinkan bahwa mahasiswa telah mendapatkan
kompetensi yang dibutuhkan dalam keamanan diri, etika dan praktek yang
kompeten.
Kebanyakan sekolah bidan mempunyai program untuk mengikutsertakan
Preseptoring untuk membantu mahasiswa mendapatkan kompetensi klinik
dan mempersiapkan mereka untuk masa transisi terhadap tempat bekerja,
4

khususnya di fase akhir dari program. Institusi pendidikan kebidanan yang


menerima mahasiswa dari unit lain tetapi ingin mendapatkan gelar di bidang
kebidanan, juga menggunakan
Preseptoring untuk membantu menyesuaikan dengan peran yang baru.
Pada akhirnya pengembangan staf di fasilitas layanan kesehatan yang
menggunakan Preseptoring untuk mengorientasikan pegawai baru atau bidan
yang pindah dari unit yang berbeda telah menjadi hal biasa saat ini.

B. Tujuan Preseptoring
Preceptoring secara mikro (bagi individu) adalah
1. Untuk membenatu proses transisi dari pembelajar ke praktisioner
2. Mengurangi dampak syok realita
3. Memfasilitasi bidan untuk berkembang apa yang dihadapi dalam
lingkungan barunya
4. Fokus pada efisiensi dan efektifitas layanan kebidanan yang berkembang
cepat sering kali mem menimbulkan culture shock tersendiri khususnya
bagi bidan baru

C. Kriteria preceptor
Tidak semua bidan senior dan medio dapat memiliki criteria sebagai
seorang preceptor. UKCC (1993) menganjurkan bahwa preceptor adalah
bidan yang memiliki pengalaman minimal 12 tahun dibidang yang sama atau
bidang yang masih berhubungan. Ketrampilan komunikasi dan
kepemimpinan, kemampuan membuat keputusan yang tepat, dan mendukung
perkembangan professional merupakan hal terpenting;
Secara garis besar dapat disimpulkan criteria seorang preceptor yang
berkualitas adalah berpengalaman dan ahli di lingkungan klinik, berjiwa
kepemimpinan, ketrampilan komunikasi yang baik, kemampuan membuat
keputusan, mendukung perkembangan professional, memiliki kemauan untuk
mengajar dan mengambil peran dalam penerapan model preceptorship, tidak
mempunyai sikap yang menilai terlalu awal pada rekan kerja asertif,
fleksibilitas untuk berubah, mapu beradaptasi dengan pembelajaran individu.
Faktor kunci d lam pengembangan dan implementasi model preceptorship
adalah keterlibatan staf yang berpengalaman di semua tingkatan, ketersediaan
literature untuk mendapatkan kepahaman praktik yang terbaik, dan
5

penggunaan pengetahuan yang diperoleh untuk dijadikan panduan dlam


praktik. Penggunaan kobinasi dari strategi perubahan dan program pendidikan
staf dapat diimplementasiakn untuk meningkatkan model preceptoship.
Komitmen dan dukungan dari bidang kebidanan merupakan salah satu faktor
penting. Hal terakhir untuk menilai keberhasilan penerapan model
preceptorship harus dilakukan melalui audit yang sudah distandarisasi.

D. Kompetensi Program Preseptoring


Seorang preceptor harus memiliki kompetensi yang sesuai agar perannya
sebagai seorang preceptorakan lebih diakui dan akan mendukung
profesionalitas kerja yang dilakukannya. Canadian Nurses Association
menjelaskan ada lima kompetensi yang harus dimiliki seorang preceptor,
yaitu
1. Kolaborasi
a. Berkolaborasi dengan preceptee pada semua tahapan Preseptoring.
b. Menyusun dan menjaga kerjasama dengan penasehat / kepala fakultas
dan rekan lain (Universitas, profesi pelayanan kesehatan, dan klien)
c. Membuat jaringan dengan preceptor lain untuk mendiskusikan
peningkatan praktik.
d. Membantu menginterpretasikan peran preceptee kepada individu,
keluarga,
komunitas dan populasi.
2. Karakter Personal
a. Menunjukan antusias dan tertarik pada preceptor.
b. Menunjukan ketertarikan dalam kebutuhan dan perkembangan
pembelajaran preceptee.
c. Membantu perkembangan pembelajaran lingkungan yang positif.
d. Beradaptasi untuk berubah.
e. Menunjukan kemampuan komunikasi yang efektif dengan klien dan
universitas.
f. Menunjukan kemampuan pemecahan masalah yang efektif.
g. Menunjukan kesiapan dan keterbukaan untuk belajar dengan preceptor.
h. Menunjukan tanggung jawab atas perbedaan preceptee (latar belakang
pendidikan, ras, kultur dll.
i. Menggabungkan preceptee ke dalam budaya sosial.
j. Memiliki kepercayaan diri dan kesabaran.
k. Mengakui keterbatasan diri dan berkonsultasi dengan orang lain.
3. Fasilitasi belajar
6

a. Menilai kebutuhan pembelajaran klinik preceptee dalam bekerjasama


dengan preceptee dan penasehat fakultas / koordinator program dengan
cara :
1) Meninjau kompetensi dasar sesuai dengan bidang ilmu (praktik,
pendidikan), standar praktik, tempat (rumah sakit, klinik spesialis).
2) Membicarakan harapan hasil pembelajaran berdasarkan atas data
pada kompetensi dasar.
3) Mengkaji pengalaman preceptee sebelumnya dengan tanggung
jawab pengetahuan dan keahlian untuk menjaga pemahaman,
perkembangan, dan kebutuhan pembelajaran yang spesifik pada
tempat praktek.
4) Mengidentifikasi potensi belajar pada tempat praktek yang akan
menyesuaikan perkembangan dan kebutuhan belajar preceptee.
5) Membantu preceptee untuk mengembangkan hasil pembelajaran
individu, peran saat praktek sesuai dengan panduan Specific
(spesifik), Measurable and observable (dapat diukur dan
diobservasi), Achievable (dapat dicapai dengan sumber yang
memadai selama Preseptoring), Relevant (relevan), Time (waktu).
b. Merencanakan aktivitas pembelajaran klinik dalam bekerjasama dengan
preceptee dan dengan penasehat fakutas/koordinator program, dengan
cara :
1) Membantu preceptee untuk mencari tempat kegiatan pembelajaran
untuk mendapatkan hasil pembelajaran dan untuk membuat waktu
preceptee supaya optimal.
2) Ketika memungkinkan, pilihlah tugas klinik/aktivitas pembelajaran
sesuai dengan yang teridentifikasi pada hasil pembelajaran dan cara
belajar preceptee.
3) Ketika memungkinkan urutkan tugas klinik/ aktivitas pembelajaran
selama Preseptoring dari hal yang kecil sampai yang kompleks
guna meningkatkan pengetahuan.
4) Mengimplementasikan pembelajaran klinik dalam tempat praktek
dengan bekerjasama dengan preceptee dan penasehat fakultas/
koordinator program.
7

c. Mengevaluasi hasil pembelajaran klinik dalam kerjasama dengan


preceptee dan penasehat fakultas dan koordinator program dengan
cara :
1) Memberikan umpan balik secara konstruktif menggunakan lembar
evaluasi, (contohnya evaluasi formatif harian/mingguan)
2) Menanyakan pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan preceptee
yang telah dipelajari.
3) Menjelaskan penilaian preceptor terhadap kegiatannya.
4) Mendiskusikan ketidakcocokan antara preceptor dan preceptee
5) Berpartisipasi dengan mahasiswa dalam melengkapi lembar
evaluasi struktur yang menekankan pentingnya evaluasi diri, dan
untuk mengetahui kemajuan hasil pembelajaran dan potensi
berikutnya (contohya, evaluasi sumatif yang dilakukan saat tengah
dan akhir pembelajaran klinik).
6) Memberikan pujian dan dukungan pembelajaran lingkungan
dengan memfokuskan pada potensi mahasiswa, pencapaian dan
kemajuan menjelang pertemuan melalui proses evaluasi.
7) Memberikan umpan balik yang positif tentang peningkatan atau
kesalahan untuk mendapatkan fundamental, profesional atau
sasaran diri.
8) Melakukan langkah yang tepat jika perkembangan hasil
pembelajaran kurang memuaskan (contohnya berkonsultasi dengan
pembimbing fakultas / koordinator program).
9) Menanyakan pertanyaan terbuka kepada mahasiswa untuk
menentukan pemahaman keefektifan intervensi preceptor untuk
memfasilitasi pembelajaran klinik.
d. Praktik Profesional
1) Berperilaku otonomi dan konsisten sesuai dengan standar
kebidanan yang diakui oleh peraturan provinsi dan kode etik
kebidanan.
2) Bekerja.
3) Membantu mahasiswa untuk mendapatkan ilmu, keahlian dan
keputusan peraturan provinsi dan kode etik kebidanan.
4) Mengklarifikasi peran, hak dan tanggungjawab yang berhubungan
dengan pembelajaran klinik.
8

e. Pengetahuan Tatanan Klinik


1) Isi dasar pengetahuan
2) Menunjukkan peran bidan dengan kelompok mutidisiplin
(contohnya; farmasi, pekerja sosial, psikology, terapi okupasi).
3) Mengkaji garis besar institusi pendidikan bagi mahasiswa dan
preceptor/ clinical instructor (contohnya; harapan dari pelaksanaan
pembelajaran klinik, dan apa yang dilakukan mahasiswa selama
pembelajaran klinik

E. Tugas dan Sikap Preseptor


1. Tugas Preseptor
Menurut Judith M. Scanlan (2008) tugas seorang preceptor adalah :
a. Menjelaskan orientasi tempat bagi mahasiswa.
b. Mempertahankan pengetahuan dasar saat ini yang berfungsi sebagai
sumber pengetahuan sebagai peran bidan.
c. Sebagai model praktik kebidanan professional.
d. Memberikan pengawasan (supervise) klinik.
e. Membantu mahasiswa dalam beradaptasi dengan peran baru yang
melekat dalam praktek professional.
f. Berkontribusi dalam evaluasi sistem yang mengukur kemajuan
mahasiswa.
g. Berkomunikasi dengan dosen dan mahasiswa untuk memfasilitasi
fungsi dari pengalaman Preseptoring.
2. Sikap Preseptor
a. Menjadi pemaham yang baik
b. Mampu berkomunikasi dengan baik
c. Mampu bertanggung jawab
d. Manajemen waktu yang baik
e. Mampu bersahabat
f. Menjadi teladan
g. Memiliki kharisma
h. Tekun dan bersemangat
i. Jujur dan konsisten
j. Profesional

F. Proses Preseptor
1. Persiapan Pertemuan
Wawancara Awal : Hal Yang Perlu dilakukan oleh Perseptor adalah :
a. Mencari tahu tentang kebutuhan perseptee dalam bimbingan
9

b. Membantu Perseptee menentukan tujuan bimbingan yang ingin


dicapai
c. Menanyakan kepada perseptee tentang tugas yang dibebankan
d. Memperkenalkan tentang sikap perseptor dan kesempatan bimbingan
e. Menjajaki psikologis perseptee tentang kesiapan bimbingan, Memberi
dukungan perseptee untuk self - assesment setiap tahap bimbingan
2. Tahap Pelaksanaan
Wawancara Lanjutan : Hal yang perlu dilakukan oleh Perseptor adalah :
a. Mendukung perseptee untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan
diri sendiri
b. Mengklarifikasi setiap ide yang di tentukan oleh perseptee
c. Memberikan saran perseptee untuk perbaikan
d. Mencatat point - point penting yang sampaikan oleh perseptee
e. Melihat kembali perkembangan perseptee setelah wawancara
f. Mendorong perseptee untuk menjawab pertanyaan perseptor
3. Tahap Evaluasi Wawancara Akhir : Hal yang perlu dilakukan Perseptor
adalah :
a. Menanyakan kepada perseptee kesiapan dalam menerapkan hasil
wawancara
b. Mendiskusikan dengan perseptee hal- hal yang dianggap penting
c. Menilai kemajuan dan kemampuan perseptee dalam proses
wawancara tentang topik yang sudah disepakati.

G. Elemen-elemen di dalam Preseptoring


Menurut Ann Keen (2004) dalam bukunya yang berjudul Preseptoring
Framework elemen-elemen Preseptoring meliputi bidan baru, preceptor, dan
bidan klinik.
1. Bidan baru
a. Kesempatan untuk menerapkan dan mengembangkan pengetahuan,
kemampauan dan nilai-nilai yang telah dipelajari.
b. Mengembangkan kompetensi spesifik yang berhubungan dengan
peran preceptee.
c. Akses dukungan dalam menanamkan nilai-nilai dan harapan- harapan
profesi.
d. Personalisasi program pengembangan yang mencakup pembelajaran
post-registrasi seperti kepemimpinan, manajemen, dan bekerja secara
efektif dalam tim multi disiplin.
e. Kesempatan untuk merefleksikan praktek dan menerima umpan balik
yang konstruktif.
10

f. Bertanggung jawab atas pembelajaran individu dan pengembangan


dari pembelajaran tentang pengelolaan diri.
g. Kelanjutan dari pembelajaran sepanjang hayat.
h. Meningkatkan cakupan prinsip-prinsip peraturan konsil kebidanan.
2. Preceptor
a. Bertanggung jawab untuk mengembangkan orang lain secara
profesional agar mencapai potensi.
b. Ikut merumuskan dan terus menunjukkan pengembangan professional
c. Bertanggung jawab untuk mendiskusikan praktek individu dan
memberikan umpan balik.
d. Bertanggung jawab untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman
individu yang dimiliki.
e. Memiliki wawasan dan empati dengan praktisi bidan baru selama fase
transisi.
f. Bertingkah laku sebagai role model yang teladan.
g. Menerima persiapan sebagai peran.
h. Meningkatkan cakupan prinsip-prinsip peraturan konsil kebidanan.
3. Bidan klinik
a. Proses penjaminan kualitas.
b. Menanamkan kerangka pengetahuan dan sikap diawal kerja.
c. Mempromosikan dan mendorong kultur kerja yang terbuka, jujur, dan
transparan diantara para staf kebidanan,
d. Mendukung pemberian pelayanan kesehatan yang berkualitas dan
efisien.
e. Mengindikasikan komitmen organisasi dalam pembelajaran.

H. Keuntungan Preseptoring
1. Keuntungan preseptoring
Canadian Nurse Association (CNA) menyebutkan ada tiga pihak yang
mendapatkan keuntungan dari program Preseptoring ini yaitu preceptee
(partisipan), institutuion (institusi pendidikan) dan profession (profesi)
a. Bagi peceptee (partsipan)
1) Adanya peningkatan kepuasan kerja.
2) Penurunan tingkat stress bagi mahasiswa.
3) Perkembangan diri yang signifikan.
4) Meningkatkan kepercayaan diri.
5) Penciptaan sikap, pengetahuan, dan kemampuan yang lebih
baik.
11

b. Bagi institusi
1) Penghematan biaya bidanan.
2) Meningkatkan perekrutan bidan baru.
3) Peningkatkan upaya penyembuhan terhadap pasien.
4) Meningkatkan loyalitas intsitusi.
5) Meningkatkan produktivitas.
c. Terhadap profesi kebidanan
1) Meningkatkan dukungan terhadap lulusan baru.
2) Meningkatkan kualitas kerja bagi bidan yang sudah bekerja,
3) Mengurangi angka perekrutan bidan.
4) Meningkatkan jumlah bidan yang mempunyai nilai kepemimpinan
dan pengajaran yang baik.
12

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Preseptoring merupakan suatu program yang dilakukan untuk memberikan
dukungan kepada bidan baru atau mahasiswa yang sedang praktik di rumah
sakit agar tercipta orientasi dan adaptasi yang sukses.Preseptoring merupakan
salah satu bentuk pembelajaran klinik di rumah sakit.Preseptoring sendiri di
Indonesia masih sangat jarang dikenal, terbukti dengan sulitnya mencari
jurnal penelitian atau artikel terkait dengan Preseptoring.Hasil wawancara
terhadap 5 orang preceptor didapatkan bahwa 4 orang diantaranya belum
mengetahui apa itu Preseptoring.Kata bimbingan klinik jauh lebih dikenal
oleh para praktikan, bidan, maupun CI (Clinical Instructur).
Preceptor adalah seorang bidan ahli yang sudah terdaftar dan
berpengalaman kerja yang memberikan pengarahan, bimbingan, dan supervisi
kepada mahasiswa praktik atau bidan yang baru saja masuk ke rumah sakit.
Bimbingan dan pengarahan bersifat formal, diberikan dalam rentang waktu
tertentu dan mempunyai tujuan agar mahasiswa praktikan atau bidan baru
mampu beradaptasi dengan sukses di area kerja klinik.Tugas utama seorang
preceptor adalah untuk menjembatani kesenjangan antara teori yang
didapatkan selama pembelajaran di kampus, dengan kenyataan yang ada di
klinik. Preceptor merupakan bagian dari Preseptoring.Preceptor sendiri di
13

Indonesia lebih dikenal dengan istilah CI (Clinical Instructur). Kata preceptor


masih sangat jarang dikenal di Indonesia.
B. Saran
Mempelajari dan mengetahui metode khusus preceptor dengan baik
merupakan hal yang penting terutama bagi tenaga kesehatan agar dapat
memberikan pelayanan dengan baik terhadap masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Dermawan, Deden. 2012. Mentorship Dan Perceptorship Dalam Keperawatan.


Jurnal Akper Poltekkes Bhakti Mulia Sukoharjo
Dian Rahmawati. 2010. Apa sih Mentoring: Jakarta
Happel. 2009. Model of Preceptorship in Nursing: Reflecting The Complex
Functions of The Role, Nursing Education Perspective
Huriani, Emil dan Hema Malini. 2012.Mentorship Sebagai Suatu Inovasi Metode
Bimbingan Klinik Dalam Keperawatan. Jurnal Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Ommer, Suliman et al. 2013. Perception of Nursing Students to Two Models of
Preceptorship in Clinical Training. Nurse Education in Practice
Rosyadi. Ong. 2009. Mentoring dalam Bimbingan Praktek Klinik Keperawatan di
Rumah Sakit, retrieved Nov 2nd 2013
from http://ongrosyadi.wordpress.com/2009/02/27/mentoring-
dalambimbingan- praktek-klinik-keperawatan-di-rumah-sakit/
Rosyidi. Imron . 2008. Komunikasi Keperawatan Mentor dan
Mentoring, retrieved Nov 2nd 2013
Sunarto, 2013. Bahan Ajar Metode Pembimbingan dan Pembelajaran Klinik:
Semarang
14

Rahayu, G. R. (2007). Menyusun Tools untuk program preseptorship dan


mentorship. Disampaikan pada Pelatihan Nasional Preceptorship dan
Mentorship untuk Pendidikan Ners. Yogyakarta, 12 14 Februari 2007.

Pusdiknakes (2004). Panduan pembelajatan klinik. Jakarta: Badan Pengambangan


dan Pemberdayaan Sumber daya Kesehatan

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kepada Sang Pencipta Allah SWT yang telah
menggerakkan tangan Penulis, untuk menyelesaikan Makalah dengan judul
PRESEPTORING
Dalam penyusunan makalah ini Penulis memperoleh arahan, bimbingan
serta motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima
kasih kepada pihak-pihak terutama dosen pengampu mata kuliah METODIK
KHUSUS yang telah banyak memberikan masukan.
Penulis menyadari makalah ini masih banyak kekurangannya, untuk itu
Penulis dengan segala rasa hormat dan kerendahan hati, penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun guna penyempurnaan dan
pengembangan makalah ini.
Akhir kata Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat
khususnya bagi Penulis dan umumnya bagi kita semua serta pengembangan ilmu
pengetahuan.

Bengkulu, Agustus 2017


15

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah........................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan............................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian Preseptoring.................................................................. 3
B. Tujuan Preseptoring........................................................................ 4
C. Kriteria Preseptoring....................................................................... 4
D. Kompetensi Preseptoring................................................................ 5
E. Tugas dan Sikap Preseptoring......................................................... 9
F. Proses Preseptoring......................................................................... 10
G. Elemen-Elemen Preseptoring.......................................................... 11
H. Keuntungan Metode Preseptoring................................................. 12
16

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan 14
B. Saran.. 14

TUGAS METODIK KHUSUS

TENTANG PRESEPTOR

Disusun Oleh : KELOMPOK 4

ILUH META INDRAYANI MADE OKA SUSANTI


INDAH YULINING TIAS MARYANI
INTAN PUSPITA RAHAYU MELLISSA PERINNITA
JENY TAMPUBOLON MEYLANI NOVITA SALAM
KARTIKA TRI APRILIANI
17

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKKES KEMENKES BENGKULU
JURUSAN KEBIDANAN
2017