Anda di halaman 1dari 33

TIKET MASUK PRAKTIKUM

ILMU BEDAH KHUSUS


KASTRASI

Nama : Ghea Roihana


NIM : 145130100111035
Kelas : 2014 B
Kelompok : B4
Asisten : Eki Bahtiar

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemeliharaan hewan kesayangan terutama anjing dan kucing meningkat
dengan pesat. Anjing dan kucing telah memiliki posisi yang unik dalam
kehidupan manusia. Anjing dan kucing tidak hanya dijadikan sebagai hewan
penjaga rumah, tetapi juga sudah dianggap sebagai bagian dari anggota
keluarga. Mereka bisa dilatih, diajak bermain dan merupakan teman yang
sangat tepat untuk menghilangkan stres. Memiliki satu atau dua ekor anjing atau
kucing tentu sangat menyenangkan, tapi yang terjadi apabila populasi mereka
meningkat secara tidak terkontrol akibat perkawinan yang tidak diinginkan
tentu akan sangat merepotkan.
Masalah lain yang ditumbulkan selain peningkatan populasi ,anjing dan
kucing dapat mennjadi suatu agen penyakit di alat reproduksi. Salah satu solusi
untuk memecahkan permasalahan di atas adalah melakukan tindakan sterilisasi
pada anjing maupun kucing baik pada jantan maupun betina. Sterilisasi
merupakan tindakan pembedahan untuk mengangkat atau menghilangkan testis
(jantan) atau ovarium (betina). Pada hewan jantan dinamakan
kastrasi/orchiectomy.
Kastrasi (orchidectomy) merupakan suatu tindakan pembedahan untuk
mengangkat/menghilangkan testis. Testis adalah organ reproduksi jantan untuk
menghasilkan hormone testosterone dan sperma.Dampak dari kastrasi yaitu
dapat populasi hewan karena dapat mencegah kesuburan hewan jantan
(sterilisasi), mengurangi sifat menjelajah dikarenakan hilangnya hormone
testoteron. Kastrasi juga dapat mengurangi resiko penyakit yang berhubungan
dengan hormone androgen seperti gangguan prostate, tumor dan perineal
hernia. Indikasi lain orchidectomy adalah menghindari sifat abnormal yang
diturunkan, gangguan testis dan epididimis. Mencegah tumor scrotum, trauma
dan abses serta mengurangi gangguan endokrin.
Metode kastrasi merupakan yang aman dan memberikan banyak
manfaat bagi hewan tersebut. Kastrasi memiliki keuntungan yaitu mencegah
kelahiran yang tidak diinginkan. Selain menjaga populasi tetap terkendali,
tindakan ini juga memungkinkan pemilik bisa merawat hewan peliharaan
dengan maksimal. Oleh karena pentingnya tindakan kastrasi, maka penting
untuk dilakukan praktikum kastrasi melalui Praktikum Ilmu Bedah Khusus
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya. Laporan ini berisi tentang
prosedur pelaksanaan kastrasi pada kucing disertai manajemen pre operasi dan
perawatan pasca operasi.

1.2 Tujuan
Pada praktikum yang dilakukan pada perikop ini bertujuan agar mahasiswa
mengetahui teknik laparotomy medianus pada kucing dan mampu mengaplikasikan
serta untuk menemukan organ-organ yang ada di dalam rongga abdominalis secara
langsung sebagai peneguhan diagnosa.

1.3 Manfaat
Manfaat yang bisa didapat dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat
melakukan teknik laparotomy dan dapat mengetahui organ-organ abdominalis
secara langsung.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kastrasi
Orchidektomi atau kastrasi adalah prosedur pembedahan untuk membuang
testis dan spermatic cord (cordaspermatica). Kastrasi ini dilakukan pada hewan
jantan dalam keadaan tidak sadar (Fossum, 2002). Tujuan dilakukan pembedahan
ini diantaranya untuk sterilisasi seksual, terapi karena adanya tumor, dan kerusakan
akibat traumatik. Terdapat dua jenis kastrasi, yaitu kastrasi tertutup dan kastrasi
terbuka. Kastrasi tertutup adalah tindakan bedah dimana testis dan spermatic cord
dibuang tanpa membuka tunica vaginalis yang biasanya dilakukan pada anjing dan
kucing ras kecil atau masih muda. Sayatan hanya sampai pada tunika dartos,
sehingga testis masih terbungkus oleh tunika vaginalis communis. Peningkatan dan
penyayatan pada funiculus spermaticus. Keuntungan cara ini adalah dengan tidak
dibukanya tunica vaginalis, maka kemungkinan terjadinya hernia scrotalis dapat
dihindari. Sedangkan kastrasi terbuka adalah tindakan bedah dimana semua
jaringan skrotum dan tunica vaginalis diinsisi dan testis serta spermatic cord
dibuang tanpa pembungkusnya (tunica vaginalis). Sayatan dilakukan sampai tunika
vaginalis communis, sehingga testis dan epididimis tidak lagi terbungkus.
Keuntungan cara ini adalah ikatan pembuluh darah terjamin. Akan tetapi
kerugiannya dapat menyebabkan hernia scrotalis karena dengan terbukanya tunica
vaginalis menyebabkan adanya hubungan dengan rongga abdomen (Sardjana,
2011).

Gambar 2.2 Kastrasi metode tertutup


Gambar 2.3 Kastrasi metode terbuka

2.2 Anatomi Reproduksi Kucing Jantan

Keterangan:
2 Ductus deferens
3 Ureter
4 Vesica urinaria
5 Colon
6 Uretra
7 Tulang kemaluan
8 Kelenjar prostat
9 Rektum
10 Kelenjar bulbo-uretralis
11 Preputium
12 Penis
13 Testis

Gambar 1. Skema anatomi organ reproduksi jantan (Constantinescu, 2007).

Karnivora pada umumnya, alat kelamin jantan pada kucing terbagi dalam
empat subbagian. Subbagian pertama meliputi testis, epididimis, duktus deferens,
korda spermatikus, dan tunika. Subbagian kedua terdiri dari kelenjar asesoris,
subbagian ketiga penis, dan yang terakhir uretra (Junaidi, 2006 dan Constantinescu,
2007). Diagram anatomi dari skrotum, testis dan epididimis, prostat, penis dan
preputium dapat dilihat pada gambar 1.
Testis kucing turun dan menempati skrotumantara minggu kedua dan ketiga
setelah kelahiran. Bentuk testis membulat dan beratnya 1/750 sampai 1/1850 dari
bobot badan. Panjang axis setiap testis berorientasi miring, cranioventral. Tunica
albuginea testis kucing tebal dan mediastinum testis terletak di tengah testis. Arteri-
arteri yang berjalan dalam tunica albuginea memberikan karakteristik pada
permukaan testis (Constantinescu, 2007).

Gambar 2. Testis kucing: A. testikel kucing sudut pandang lateral; B. testikel


kucing sudut pandang medial (Constantinescu, 2007).

Epididimis melekat pada perbatasan dorsolateral dari testis. Caput


epididimis dimulai dari medial permukaan testis, namun saat mencapai posisi
dorsolateral dilanjutkan menjadi korpus dan kauda. Caput epididimis sedikit
melebihi kepala testis. Tunica albugineaepididimis lebih tipis dibandingkan dengan
tunica albuginea testis. Panjang ductus epididymis 1,5 sampai 3 mm dan berliku-
liku. Cauda epididymis melekat pada ekor testis dengan ligamentum pendek dari
testis dan untuk fascia spermatic internal secara langsung (karena fascia spermatic
internal melekat pada cauda epididimis). Ligamen skrotumbergabung dengan
fascia spermatic internal menuju dartos. Ductus deferens dimulai sebagai plexus
sepanjang perbatasan epididimis dari testis dan medial ke epididimis dengan arah
caudocranial karena posisi testis. Setelah melewati duktusdeferens, caput
epididimis masuk ke dalam korda spermatikus dan berlanjut hingga cincin vaginal.
Dalam rongga perut, duktus deferens membuat kurva dalam arah dorsocaudal
untuk memasuki rongga panggul dan mencapai uretra. Dalam rute dari awal sampai
akhir, mesoduktus deferens yang juga merupakan bagian dari funiculus
spermaticus, melekat ke ductus deferens.
Sebelum mencapai uretra, ductus deferens melintasi ureter di bagian ventral,
kemudian melintasi bagian dorsal dari ligamen lateral kandung kemih. Untuk
mencapai uretra, ductus deferens menembus kelenjar prostat dan membuka sisi
lateral dari colliculus seminalis (Constantinescu, 2007).
Bagian struktur testis dibungkus oleh lapisan fibrosa yang disebut tunika
albuginea, didalam testis terdapat saluran tubulus seminiferus diantara tubulus
seminiferus terdapat sel leydig yang memproduksi hormon testosteron.
Spermatozoa akan bergerak dari tubulus menuju rete testis, duktus eferen dan
epididimis, spermatozoa akan dikeluarkan melalui vas deferens dan berakhir di
penis (Man, 2011).
2.1 Fisiologi Normal Kucing

Kucing menghemat energi dengan cara tidur lebih dari kebanyakan hewan,
terutama saat mereka tumbuh dewasa. Durasi harian tidur bervariasi, biasanya 12-
16 jam, dengan 13-14 menjadi rata-rata. Beberapa kucing bisa tidur sebanyak 20
jam dalam jangka waktu 24 jam. Istilah kucing tidur siang mengacu pada
kemampuan kucing untuk tertidur (ringan) untuk jangka waktu singkat. Karena
sifat kusam mereka, kucing sering dikenal memasuki masa peningkatan aktivitas
dan main-main selama malam hari dan pagi hari, dijuluki "malam gila", "orang gila
malam", "elevenses" atau "gila setengah jam" oleh beberapa. Temperamen dari
kucing dapat bervariasi tergantung pada jenis dan sosialisasi. Kucing dengan
"oriental" tipe tubuh cenderung lebih tipis dan lebih aktif, sedangkan kucing yang
memiliki "cobby" tipe tubuh cenderung lebih berat dan kurang aktif. Suhu tubuh
normal kucing adalah antara 38 dan 39 C (101 dan 102,2 C). Seekor kucing
dianggap demam hyperthermic) jika ia memiliki suhu 39,5 C (103 F) atau lebih
besar, atau hipotermia jika kurang dari 37,5 C (100 F). Sebagai perbandingan,
manusia memiliki suhu normal sekitar 36,8 C (98,6 F). Denyut jantung yang
normal seekor kucing domestik berkisar 140-220 denyut per menit, dan sebagian
besar tergantung pada bagaimana bersemangat kucing. Untuk kucing saat istirahat,
denyut jantung rata-rata harus antara 150 dan 180 bpm, sekitar dua kali lipat dari
manusia.

2.4 Premedikasi
Premedikasi merupakan suatu tindakan pemberian obat sebelum pemberian
anastesi yang dapat menginduksi jalannya anastesi. Premedikasi dilakukan
beberapa saat sebelum anastesi dilakukan. Tujuan premedikasi adalah untuk
mengurangi rasa takut, amnesia, induksi anastesi lancar dan mudah mengurangi
keadaan gawat anastesi saat operasi seperti hipersalivasi, bradikardia dan muntah.
Premidikasi yang digunakan adalah Atropin. Atropin sulfat dengan dosis
0,04 mg/kg BB secara subkutan selama 15 menit kemudian dilanjutkan dengan
pemberian ketamin dengan dosis 2 mg/kgBB, xylazine dengan dosis 2 mg/kgBB
secara intramuskular. Tujuan pemberian premedikasi antara lain (Mangku, 2010):
1. Menimbulkan rasa nyaman bagi pasien, yang meliputi bebas dari rasa takut,
cemas, bebas nyeri, dan mencegah mual-muntah.
2. Memperlancar induksi anestesi. Pemberian obat sedasi dapat menurunkan
aktifitas mental sehingga reaksi terhadap rangsangan berkurang.
3. Mengurangi sekresi kelenjar saliva dan bronkus. Sekresi dapat terjadi selama
tindakan pembedahan dan anestesi, dapat dirangsang oleh suctioning atau
pemasangan pipa endotrakthea. Obat golongan antikholinergik seperti atropin dan
scopolamin dapat mengurangi sekresi saluran nafas.
4. Mengurangi kebutuhan/ dosis obat anestesi. Tujuan premedikasi untuk
mengurangi metabolisme basal sehingga induksi dan pemeliharaan anestesi
menjadi lebih mudah dan memerlukan obat-obatan lebih sedikit sehingga pasien
akan sadar lebih cepat.
5. Mengurangi mual dan muntah paska operasi, tindakan pembedahan dan
pemberian obat opioid dapat merangsang terjadinya mual dan muntah, sehingga
diperlukan pemberian obat yang dapat menekan respon mual, muntah seperti
golongan antihistamine, kortikosteroid, agonis dopamine atau alpha-2 agonis.
6. Menimbulkan amnesia. Obat golongan benzodiazepin banyak digunakan karena
efeknya di sistem saraf pusat sehingga mempunyai efek sedasi, anti cemas dan
menimbulkan amnesia anterograde.
7. Mengurangi isi cairan lambung dan meningkatkan PH asam lambung. Pada saat
puasa dapat meningkatkan sekresi asam lambung, hal ini akan sangat berbahaya
apabila terjadi aspirasi dari asam lambung yang dapat menyebabkan terjadinya
pneumonitis aspirasi, oleh karena itu pemberian obat yang dapat mengurangi isi
cairan lambung serta menurunkan PH lambung dapat dipertimbangan pada pasien.
8. Mengurangi refleks yang tidak diinginkan. Trauma pembedahan dapat
menyebabkan bagian tubuh bergerak, sehingga pemberian obat analgesia dapat
ditambahkan sebelum pembedahan.

2.5 Anesthesi
2.5.1 Pengertian Anestesi
Anestesi adalah suatu keadaan tidak peka terhadap rasa sakit, sangat
berguna untuk melakukan suatu tindak pembedahan supaya hewan tidak menderita
dan untuk efisiensi kerja, karena hewan menjadi diam sehingga suatu tindak
pembedahan dapat dikerjakan secara lancar dan aman. Anestesi umum, yaitu
anestesi yang ditimbulkan oleh anestetika yang mendepres hingga menyebabkan
paralisa sementara pada susunan saraf pusat dan akan menghasilkan hilangnya
kesadaran dan refleks otot disamping hilangnya rasa sakit seluruh tubuh
(Transquili, 2007). Sebelum anestesi umum dilakukan, biasanya diberikan
premedikasi, yaitu suatu substansi yang terdiri dari sedativa atau tranquliser sebagai
penenang dan substansi anti kholinergik yang berguna untuk menekan produksi air
liur agar hewan tidak mengalami gangguan bernafas selama pembiusan.
Tranquliser digunakan untuk relaksasi otot. menekan derajad kesadaran dan
perubahan tingkah laku, walaupun tidak disertai adanya rasa ngantuk. Sedativa
adalah obat yang menbuat hewan menjadi tenang. Obat-obatan anestetika
umumnya diklasifikasikan berdasarkan rute penggunaannya, yaitu (Tambing,
2014):
1). Topikal misalnya melalui kutaneus atau membrana mukosa.
2). Injeksi seperti intravena, subkutan, intramuskular, dan intraperitoneal.
3). Gastrointestinal secara oral atau rektal.
4). Respirasi atau inhalasi melalui saluran nafas.

2.5.2 Pemilihan Obat


2.5.2.1 Ketamin
Ketamin merupakan anestesi umum non barbiturat yang bekerja
cepat dan termasuk dalam golongan fenyl cyclohexylamine dengan rumus
kimia 2-(0-chlorophenil)2 (methylamino) cyclohexanone hydrochloride.
Ketamin mempuyai efek analgesik yang kuat akan tetapi memberikan efek
hipnotik yang ringan. Ketamin merupakan zat anestesi dengan efek satu
arah yang berarti efek analgesinya akan hilang bila obat itu telah
didetoksikasi/ diekskresi, dengan demikian pemakaian lama harus
dihindarkan. Anestesi ini merupakan suatu derivat dari phencyclidine
(Tambing, 2014).
Pemberian ketamin dapat diberikan secara intramuskuler. Obat ini
menimbulkan efek analgesik yang sangat baik dan dapat dikatakan
sempurna dengan hanya diikuti tidur yang superfisial. Hal ini dapat dilihat
pada pasien yang diberikan ketamin sering menunjukkan gerakan spontan
dari ekstrimitasnya walaupun pelaksanaan operasi telah dilakukan. Keadaan
ini disebabkan titik tangkap kerjanya pada daerah kortek dari otak dibanding
dengan obat anestesi lainnya yang titik tangkap kerjanya adalah reticular
actifiting system dari otak. Dosis ketamin pada kucing yaitu 10-30 mg/kg
secara intra muskuler. Ketamin menyebabkan pasien dalam kondisi tidak
sadar dalam durasi yang cepat namun mata masih tetap terbuka tetapi tidak
memberikan respon rangsangan dari luar. Selain itu ketamin juga memiliki
efek anestesi yang dapat menekan hipotalamus sehingga menyebabkan
penurunan temperatur tubuh (Plumb, 2005).
Sifat ketamin, yaitu larutan tidak berwarna, stabil pada suhu kamar,
dan suasana asam (pH 3,55,5). Adapun farmakokinetik dari ketamin
adalah sebagian besar ketamin mengalami dealkilasi dan dihidrolisis dalam
hati, kemudian dieksresi terutama dalam bentuk metabolik dan sedikit
dalam bentuk utuh. Ketamin dengan pemberian tunggal bukan anestesi yang
bagus, karena obat ini tidak merelaksasi muskulus bahkan kadang tonus
sedikit meningkat. Efek puncak pada hewan umumnya tercapai dalam
waktu 6-8 menit dan anestesi berlangsung selama 30-40 menit, sedang
untuk pemulihan membutuhkan waktu sekitar 5-8 jam. Ketamin merupakan
salah satu jenis anesthesi yang sering digunakan pada kucing untuk
beberapa jenis operasi. Efek ketamin dapat merangsang simpatetik pusat
yang akhirnya menyebabkan peningkatan kadar katekolamin dalam plasma
dan meningkatkan aliran darah. Karena itu ketamin digunakan bila depresi
sirkulasi tidak dikehendaki. Kelemahan dari anastesi ini menyebabkan
terjadinya depresi pernafasan dan tidak memberikan pengaruh relaksasi
pada muskulus, dan sering dikombinasikan dengan obat yang mempunyai
pengaruh terhadap relaksasi muskulus (Tambing, 2014).

2.5.2.2 Xylazin
Xylazin HCl merupakan senyawa sedatif golongan 2 adrenergik
agonis yang bekerja dengan cara mengaktifkan central 2adrenoreceptor.
Xylazin menyebabkan penekanan sistem saraf pusat yang diawali dengan
sedasi kemudian pada dosis yang lebih tinggi digunakan untuk hipnotis,
sehingga akhirnya hewan menjadi tidak sadar dan teranestesi. Di dalam
anestesi hewan, xylazin biasanya paling sering digunakan dengan
kombinasi ketamin. Obat ini bekerja pada reseptor presinapsis dan post-
sinapsis dari sistem saraf pusat dan perifer sebagai agonis adrenergik.
Xylazin menimbulkan efek relaksasi muskulus centralis. Selain itu, xylazin
juga mempunyai efek analgesik. Xylazin menimbulkan kondisi tidur yang
ringan, tergantung dari dosis untuk masing-masing spesies hewan. Reseptor
2 adrenoreceptor agonis mengerahkan efek penghambatan pada fungsi
sistem saraf pusat melalui penghambatan pelepasan neurotransmiter dari
saraf simpatis. Hal ini menyebabkan aktivitas saraf simpatis menurun
sehingga menurunkan tingkat kewaspadaan, menurunkan frekuensi denyut
jantung dan tekanan darah. Reseptor 2 adrenoreceptor ditemukan di otot
polos pembuluh darah arteri organ dan vena abdomen. Ketika 2
adrenoreceptor diaktifkan dapat menyebabkan terjadinya vasokonstriksi,
selain itu 2 adrenoceptor dijumpai juga pada sistem kardiovaskular,
respirasi, gastrointestinal, sistem saraf pusat, ginjal, sistem endokrin dan
trombosit (Tambing, 2014).
Obat ini banyak digunakan dalam subtansi kedokteran hewan dan
sering digunakan sebagai obat penenang (sedasi), nyeri (analgesik) dan
relaksasi otot rangka (relaksan otot). Pemberian xylazin sebagai preanestesi
dapat memperpanjang durasi analgesik, mengurangi dosis anestesi dan
memperpendek masa pemulihan. Pada kucing penggunaan kombinasi
ketamin-xylazin menyebabkan perlambatan absorpsi ketamin sehingga
eliminasi ketamin lebih lama, hal ini menyebabkan durasi anestesi lebih
panjang. Pada kucing range dosis xylazin yang sering digunakan yaitu 1,0-
2,0 mg/kg BB secara intra muskuler. Xylazin dapat menyebabkan gejala
bradikardia, arythmia, peningkatan tekanan sistem saraf pusat, pengurangan
sistem sistolik, depresi respirasi serta hipertensi yang diikuti dengan
hipotensi. Xylazin memiliki efek farmakologis yang sebagian besar terdiri
dari penurunan cardiac output, sehingga terjadi penurunan frekuensi setelah
kenaikan di awal injeksi pada tekanan darah kemudian dalam perjalanan
dapat menyebabkan efek vasodilatasi pada tekanan darah yang juga dapat
menyebabkan bradikardia, vomit, tremor, motilitas menurun tetapi
kontraksi uterus meningkat pada betina, bahkan dapat mempengaruhi
keseimbangan hormonal seperti menghambat produksi insulin dan
antidiuretic hormon (ADH) (Tambing, 2014).
Xylazin juga menghambat efek stimulasi saraf postganglion.
Pengaruh xylazin dapat dihambat dengan menggunakan antagonis reseptor
adrenergik seperti atipamezole, yohimbine dan tolazolin. Xylazin dapat
diberikan secara intravena, intramuskular, dan subkutan. Efek xylazin pada
fungsi respirasi biasanya tidak berarti secara klinis, tetapi pada dosis yang
tinggi dapat mendepres respirasi sehingga terjadi penurunan volume tidal
dan respirasi. Perubahan yang cukup jelas terlihat pada fungsi
kardiovaskular, tekanan darah akan meningkat, kemudian diikuti dengan
konstriksi pembuluh darah kapiler. Sebagai reflek normal terhadap
peningkatan tekanan darah dan pemblokiran saraf simpatis, frekuensi
denyut jantung akan menurun sehingga menimbulkan bradikardi dan
tekanan darah menurun mencapai level normal atau subnormal. Xylazin
tidak dianjurkan pada hewan yang memiliki penyakit jantung, darah rendah,
dan penyakit ginjal (Tambing, 2014).

2.5.3 Stadium Anestesi


Tahapan anestesi sangat penting untuk diketahui terutama dalam
menentukan tahapan terbaik untuk melakukan pembedahan, dan mempertahankan
tahapan tersebut sampai batas waktu tertentu, dan mencegah terjadinya kelebihan
dosis anestesi. Tahapan anestesi dapat dibagi dalam beberapa langkah, yaitu:
preanestesi, induksi, pemeliharaan, dan pemulihan menyatakan bahwa untuk
memonitor anestesi dilakukan pengamatan tahap-tahap anestesi umum. Berikut ini
adalah tahapan dan indikasi status teranestesi oleh anestetika umum (Tambing,
2014):
1. Fase/ tahapan I, Fase ini dimulai dari pemberian agen anestesi sampai
menimbulkan hilangnya kesadaran. Pada fase ini hewan masih sadar dan
memberontak. Rasa takut dapat meningkatkan frekuensi nafas dan denyut
jantung, dilatasi pupil, dapat terjadi urinasi dan defekasi, dengan
kecepatan respirasi normal (20-30x/menit).
2. Fase/ tahapan II, fase ini dimulai dari hilangnya kesadaran sampai
permulaan fase pembedahan. Pada fase ini adanya eksitasi dan gerakan
yang tidak menurut kehendak. Pernafasan tidak teratur, inkontinentia urin,
muntah, midriasi, takikardia.
3. Fase/ tahapan III, fase ini dapat dilakukan pembedahan. Fase 3 dapat
dibagi menjadi:
a. Plane 1, ditandai dengan pernafasan yang teratur yaitu 12 - 20x/mnt
dan terhentinya anggota gerak. Tipe penafasan thoraco-abdominal,
refleks pedal masih ada, bola mata bergerak-gerak, palpebra,
konjuctiva, dan kornea terdepres.
b. Plane 2, ditandai dengan respirasi thoraco-abdominal dan bola mata
ventro medial semua otot mengalami relaksasi kecuali otot perut.
c. Plane 3, ditandai dengan respirasi regular, abdominal, bola mata
kembali ke tengah dan otot perut relaksasi.
d. Plane 4, ditandai dengan respirasi tidak teratur, pupil midriasis,
tonus muskulus menurun, refleks sphincter ani dan kelenjar air mata
negatif.
Fase/ tahapan IV, fase ini disebut juga sebagai fase overdosis yang
ditandai dengan respirasi apnea (berhenti), fungsi kardiovaskuler kolap, respon
bedah atau insisi tidak ada, posisi bola berada di tengah, ukuran pupil dilatasi
lebar, respon pupil (-), dan refleks tidak disusul dengan kematian hewan.
BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Adapun alat yang digunakan dalam kastrasi adalah:
- Needle holder - Scalpel handle
- Pinset anatomis - Pinset sirugis
- Hemostatic forcep rochester pean - Tali sumbu kompor
- Tampon - Gunting tata, tutu, tatu
- Silet - Lampu
- Botol kaca - Scalpel blade
- Stetoskop - Termometer
- Polibips towl/ duk - APD (glove, masker, nursecap)
- Underpad - Nierbeken

3.1.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam kastrasi adalah:
- Kucing - Atropin sulfat
- Ketamin - Xylazin
- Tolfenamic acid - Amoxicillin
- Air sabun - Povidone iodine

3.2 Cara Kerja


3.2.1 Preparasi Alat Bedah
Disiapkan semua alat
Alat-alat dicuci dengan sabun
Dibilas dengan air hangat sampai bersih
Alat-alat dikeringkan dengan lap
Dimasukkan dalam nierbeken
Dibungkus dengan kertas koran
Dimasukkan dalam autoclave 1210C selama 1 jam
Hasil

3.2.2 Persiapan Hewan


Kucing jantan sehat
Dipuasakan minimal 6 jam sebelum operasi
Ditimbang berat badan kucing yang digunakan untuk perhitungan dosis
obat yang akan digunakan
Dihitung pulsus, suhu, CRT, respirasi setiap 15 menit
Diinjeksikan premedikasi yaitu atropine sulfat dan ditunggu 10-15
menit
Diinjeksikan anesthesi ketamine dan xylazine secara intramuscular,
ditunggu sampai hewan kehilangan kesadaran
Dialakukan restrain pada keempat kakinya menggunakan tali kompor
Dicukur rambut sekitar daerah testis
Hasil
3.2.3 Persiapan Operator dan Co Operator
Praktikan
Semua asessoris di tangan di lepas, kuku harus pendek
Tangan dicuci dengan sabun dengan sabun
Dibilas sampai bersih dengan air mengalir
Memakai jas laboratorium, glove, masker dan nursecap
Hasil

3.2.4 Prosedur Operasi


Persiapan alat bedah
Persiapan hewan
Persiapan operator
Kucing ditimbang berat badan
Dihitung dosis obat
Diberikan premedikasi atropin sulfat 0.4 ml secara SC dan ditunggu 15
menit
Diberikan anasthesi kombinasi ketamin+xylazin 0.5 ml secara IM dan
ditunggu 15 menit
Diberikan iodin pada bagian scrotum dan sekitar lokasi insisi
Kucing diletakkan di atas meja operasi yang sudah dialasi underpad
Kucing diposisikan dorsal recumbency dengan posisi keempat kaki
diikat
Diberikan polibips towl di bagian yang akan diinsisi
Diincisi dengan scalpel pada skrotum antara testis kanan dan kiri
Diincisi fascia spermatica dan juga tunica vaginalis
Diperlebar incisi sampai testis menyembul keluar
Diincisi mesorchium dan epididimis
Dipreparasi spermaticord dan arterinya
Dilakukan clamp pada spermaticord arteri dan diligasi dengan catgut
chromic 3.0 lalu dipotong
Dibuang testis dan dilakukan prosedur yang sama pada testis yang
satunya
Dijahit kulit skrotum dengan jahitan simple interrupted dengan benang
silk
Bekas jahitan diberi povidone iodine dan ditaburi antibiotic
Selama operasi tetap dilakukan pemeriksaan fisik
Hasil

3.2.5 Prosedur Post-Operasi


Kucing
Diletakkan di tempat yang hangat (diberikan lampu)
Dilakukan kontrol pemeriksaan sampai sadar (suhu, pulsus, dan
respirasi)
Diberikan amoxicillin 2x1 secara PO selama 4 hari
Dipantau nafsu makan, defekasi, urinasi dan SLnya
Dilakukan penggantian perban secara berkala
Hasil
BAB IV
HASIL

4.1 Form Pelaksanaan Laparotomi


A. FORM PEMERIKSAAN HEWAN
Pemeriksaan Hewan
Kelas: A Kelompok: 2
Nama Nim
Yohanes Surya Pamungkas 145130101111009
Adeka 145130101111025
Dion Santanu Murti 145130107111011
Ghifari Syafrizaldi N. 145130107111012

B. SIGNALEMENT
Nama : Mimo
Jenis hewan : Kucing
Kelamin : Jantan
Ras/breed : Domestic
Warna bulu/kulit : Putih dan hitam
Umur : 1,5 Tahun
Berat badan : 3,3kg
Tanda kusus :-

4.2 Pemeriksaan Hewan


Tanggal pemeriksaan 19 September 2017
Temp : 37,7 0C
Pulse : 132beat/menit Respiras:28kali/menit
Membrane color: Normal (pink) CRT : < 2
detik
Hydration : Normal (-) Body Weight : 3,,3
kg
Color and consistency of feces : Normal
Body condition : Underweight Overweight Normal

4.3 System Review


a. Integumentary b. Otic c. Optalmic d.
Normal Normal Normal Muscoloskeletal
Abnormal Abnormal Abnormal Normal
Abnormal
e. Nervus f. Cardiovaskuler g. Respiration h. Digesty
Normal Normal Normal Normal
Abnormal Abnormal Abnormal Abnormal
i. Lympatic j. Reproduction k. Urinaria
Normal Normal Normal
Abnormal Abnormal Abnormal

Vaksinasi Ya Tidak
ctt:
Disease Record:
4.4 Form Operasi Laparotomi
FORM OPERASI
KASTRASI

Nama Pemilik : Tante leotina Temp : 37 C


Alamat : Shelter dieng Membrane mukosa : Normal (pink)
Nama : Mimo CRT : <2 detik
Jenis Kelamin : Jantan Pulsus : 120 beat/menit
Jenis Hewan : Kucing Respirasi : 28 kali/menit
Ras/ Breed : Domestic Hydration : Normal (-) <2
detik
KONTROL ANASTESI
Dosis Volume
Golongan Kosentrasi Waktu
Obat (mg/kg Obat Rute
Obat (mg/ml) (WIB)
BB) (ml)
Amoxicillin Antibiotik 20 mg/kg 200 mg/ml 0,33 ml IM 13.30
pre operasi BB
Atropin Premedikasi 0,04 0,25 mg/ml 0,528 ml SC 14.45
Sulfat mg/kg
BB
Ketamine Anasthesi 10 mg/kg 100 mg/ml 0,33ml IM 14.00
BB
Xylazine Anasthesi 2 mg/kg 20 mg/ml 0,33 ml IM 14.00
BB
Tolfenamic Analgesik 2 mg/kg 80 mg/ml 0,0825 IM 17.00
Acid BB ml
Amoxicillin Antibiotik 20 mg/kg 150 mg/ml 0,33 ml IM 17.00
post operasi BB

KONTROL PEMERIKSAAN
Menit 0 15 30 45 60 75 90 105 120
Pulsus(/menit) 120 100 108 110 80 88 - - -
0
Temp( C) 38,8 38,4 38 37,6 37 37,2 - - -

Mulai Operasi : 14.14 WIB


Selesai Operasi : 15.05 WIB
Mulai Anastesi : 14.00 WIB
4.5 Perhitungan Dosis

Volume = Dosis (mg/kg BB) x Berat Badan (kg)


Konsentrasi (mg/ml)
Amoxicillin pre operasi
Volume = Dosis (mg/kg BB) x Berat Badan (kg) = 20 mg/kg BB x 3,3kg =
0,33 ml
Konsentrasi (mg/ml) 200 mg/ml
Atropin Sulfat
Volume = Dosis (mg/kg BB) x Berat Badan (kg) = 0,04 mg/kg BB x 3,3 kg =
0,528 ml
Konsentrasi (mg/ml) 0,25 mg/ml
Ketamine
Volume = Dosis (mg/kg BB) x Berat Badan (kg) = 10 mg/kg BB x 3,3 kg =
0,33 ml
Konsentrasi (mg/ml) 100 mg/ml
Xylazine
Volume = Dosis (mg/kg BB) x Berat Badan (kg) = 2 mg/kg BB x 0,33 kg =
0,33 ml
Konsentrasi (mg/ml) 20 mg/ml
Tolfenamic Acid
Volume = Dosis (mg/kg BB) x Berat Badan (kg) = 2 mg/kg BB x 3,3 kg =
0,0825 ml
Konsentrasi (mg/ml) 80 mg/ml
Amoxicillin post operasi
Volume = Dosis (mg/kg BB) x Berat Badan (kg) = 20 mg/kg BB x 0,33 kg =
0,33 ml
Konsentrasi (mg/ml) 150 mg/ml
4.6 Hasil Pasca Operasi

FORM MONITORING
PASCA OPERASI

Nama Hewan : Mimo Nama Pemilik : Tante Leotina


Jenis Hewan : Kucing Alamat : Shelter dieng
Ras/Breed : Domestic No telp :-
Umur : 1 Tahun 5 Bulan
Jenis Kelamin : Jantan

Tanggal Pemeriksaan Terapi


19 Suhu : 39 C Appetice : +++ T/ Gentamicyn
September Pulsus : 84/menit Defekasi : +++
2017 CRT : <2 detik Urinasi : +++ NS
SL : ++
20 Suhu : 39,1 C Appetice : +++ T/ Gentamicyn
September Pulsus : 96/menit Defekasi : +++
2017 CRT : <2 detik Urinasi : +++ NS
SL : ++
21 Suhu : 39,1 C Appetice : +++ T/ Gentamicyn
September Pulsus : 88/menit Defekasi : +++
2017 CRT : <2 detik Urinasi : +++ NS
SL : ++
22 Suhu : 38,5 C Appetice : +++ T/ Gentamicyn
September Pulsus : 92/menit Defekasi : +++
2017 CRT : <2 detik Urinasi : +++ NS
SL : ++
23 Suhu : 38,9 C Appetice : +++ T/ Gentamicyn
September Pulsus : 100/menit Defekasi : +++
2017 CRT : <2 detik Urinasi : +++
SL : ++
24 Suhu : 38 C Appetice : +++ T/ Gentamicyn
Oktober Pulsus : 108/menit Defekasi : ++
2017 CRT : <2 detik Urinasi : +++
SL : ++
25 Suhu : 38,2 C Appetice : +++ T/ Gentamicyn
Oktober Pulsus : 96/menit Defekasi : ++
2017 CRT : <2 detik Urinasi : ++
SL : ++
26 Suhu : 38,1 C Appetice : +++ T/ Gentamicyn
Pulsus : 100/menit Defekasi : +++
Oktober CRT : <2 detik Urinasi : +++
2017 SL : ++
27 Suhu : 38,1 C Appetice : +++ T/ Gentamicyn
Oktober Pulsus : 104/menit Defekasi : ++
2017 CRT : <2 detik Urinasi : +++
SL : ++
28 Suhu : 38,6 C Appetice : +++ Kontrol, luka
Oktober Pulsus : 100/menit Defekasi : ++ sembuh
2017 CRT : <2 detik Urinasi : ++
SL : ++

Keterangan :
- Terapi selanjutnya tidak diberikan amoxicillin, tolfenamic maupun hematopan
biodin melainkan hanya dibersihkan area post operasi dengan larutan NS dan
diberikan antibiotik topikal yaitu gentamycin
- Pada tanggal 22 Oktober 2017 luka jahitan mulai mengering namun belum secara
keseluruhan
BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Analisa Prosedur


Dalam pelaksanaan praktikum kastrasi yang dilakukan pada kucing
Mimo kali ini, hal pertama yang dilakukan adalah mempersiapkan alat dan
bahan. Sebelum melakukan operasi, alat-alat yang digunakan seperti duk,
tampon, duk clamp, blade dan scalpel, arteri clamp, gunting tajam-tajam,
jarum ujung segitga, pinset chirurgis dan anatomis harus berada dalam keadaan
steril agar tidak terjadi kontaminasi dan menyebabkan komplikasi pasca
operasi (Komang et al, 2011). Alat disterilkan dengan autoclave, semua
dibungkus dengan kertas koran rapih. Adapun bahan-bahan yang digunakan
dalam prosedur operasi kastrasi seperti tampon catgut chromic 3-0 untuk
meligasi spermatic cord, silk 3-0 untuk menutup kulit bagian luar, alkohol 70%,
povidone iodine, premedikasi atropine 0,656 ml (SC), anastesi ketamine-
zylazine masing-masing 0,41 ml (IM), amoxicillin pre operasi 0,41 ml (IM)
serta analgesik tolfenamic acid 0,102 ml (IM), serta amoxicllin post operasi
0,546 ml (IM). Pada praktikum kastrasi kali ini kelompok kami (B-10)
menggunakan tambahan obat anastesi lokal yaitu lidokain dikarenakan saat
diinjeksi anestesi umum kucing refleks menyerang anastesiolog sehingga obat
tidak masuk sempurna dan menyebabkan kucing tidak teranastesi total.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan pada pasien kucing Luna ras/breed
anggora dengan berat badan 3,3 kg. Sebelum pelaksanaan operasi pasien telah
diperiksa terlebih dahulu mengenai keadaan fisik untuk memastikan kondisi
pre operasi. Hasil dari pemeriksaan tersebut diperoleh hasil temperature
sebesar 39,1C, pulsus sebesar 120 kali/menit, membrane color mukosa
berwarna pink (normal), tingkat dehidrasi normal yaitu kurang dari 2 detik,
konsistensi dan warna feses tergolong normal, respirasi 32 kali/menit, CRT
kurang dari 2 detik, serta system review seperti integumentary, otic, optalmic,
muscoloskeletal, nervus, cardiovaskuler, respiration, digesty, lympatic,
reproduction, dan urinaria tergolong normal. Pemeriksaan palpasi didapatkan
2 buah testis normal dan simetris kanan kiri, dilakukan inspeksi telinga
bersih, pupil normal dan kornea mata jernih. Pada saat menjelang kastrasi
kucing MJ belum divaksin dan telah menjalani puasa selama 8 jam dari makan
dan 34 jam dari minum.
Setelah persiapan hewan maka dilanjutkan dengan persiapan operator
co-operator. Dalam pelaksanaannya, baik operator maupun co-operator harus
dalam keadaan steril menggunakan jas lab, glove steril dengan disemprotkan
alkohol 70% terlebih dahulu sebelum mengenakan glove dan memakai masker.
Setelah operator dan co-operator siap maka dilaksanakan kastrasi. Kucing
Luna diinjeksikan amoxicillin pre operasi terlebih dahulu dengan volume
pemberian 0,41 ml (IM) pada pukul 13.47. Lalu, diinjeksikan premedikasi
atropine sulfat dengan volume pemberian yaitu 0,656 ml (SC). Obat
premedikasi bertujuan untuk mencegah terjadinya muntah, dan mempercepat
proses anastesi. Selanjutnya ditunggu selama 15 menit hingga obat mencapai
onset kemudian diberikan anastesi dari kombinasi antara ketamin 0,41 ml dan
xylazine 0,41 ml (IM). Kombinasi ketamin-xylazin merupakan kombinasi obat
anestesi yang ideal karena menghasilkan efek yang sinergis yaitu efek
analgesik yang kuat dan relaksasi otot yang bagus (Komang, et al, 2011).
Frekuensi nafas dan jantung serta temperature diperiksa setiap 5 menit sekali
sampai pembedahan selesai. Setelah itu hewan difiksasi pada ke empat kakinya
menggunakan tali lalu dipasangkan duk steril.
Kastrasi dimulai pada pukul 14.14 WIB, prosedur operasi kastrasi
dimulai dengan menekan bagian scrotum menggunakan tangan sampai terlihat
batas tengah antara kedua testis. Batas tersebut diinsisi dengan menggunakan
blade. Panjang sayatan disesuaikan dengan ukuran testis dari kucing.
Selanjutnya bagian tunica vaginalis comunis dari salah satu testis disayat
sampai testis menyembul keluar dengan menekan bagian testis. Setelah testis
menyembul keluar, testis ditarik sampai terlihat spermatic cord (duktus
defferens dan pembuluh darah). Kemudian dilakukan ligasi menggunakan
arteri clamp pada masing-masing duktus deferens dan pembuluh darah. Lalu
diligasi dengan arteri clamp duktus deferens dan pembuluh darah, dilanjutkan
dengan ligasi menggunakan catgut chromic 3-0 diantara arteri clamp. Hal
tersebut bertujuan agar tidak terjadi perdarahan saat pemotongan testis.
Sesudah dilakukannya ligasi, testis dipotong menggunakan blade, pemotongan
testis dilakukan di antara ligasi dengan testis. Pada testis berikutnya juga
dilakukan dengan metode yang sama dengan testis sebelumnya. Untuk catatan,
setelah testis dipotong arteri clamp dilepaskan secara perlahan pada salah satu
arteri clamp dan dipastikan tidak ada perdarahan. Jika sudah yakin tidak terjadi
perdarahan baru arteri clamp berikutnya dilepaskan.
Setelah kedua testis terambil, dilakukan flushing dengan menggunakan
spuit yang berisi vicillin sebanyak 1 ml di sekitar ligasi. Vicillin merupakan
antibiotik, berfungsi untuk mencegah adanyak kontaminasi bakteri yang dapat
menghambat proses penyembuhan. Selanjutnya dilakukan penjahitan pada
kulit bagian luar yang diinsisi (scrotum) menggunakan benang silk 3-0
dengan jahitan simple interrupted. Setelah selesai penjahitan, luka ditaburi
Nebacetin untuk menghindari infeksi sekunder.
Perawatan post operasi hewan ditempatkan dalam kandang yang bersih
dan kering. Kulit disekitar luka operasi dibersihkan dengan larutan NS dan
pada bagian luka jahitan ditabur nebacetin. Selama perawatan hewan diberikan
amoxicilin, Tolfenamic acid dengan pemberian secara injeksi (SC) sebanyak 2
hari sekali selama seminggu. Luka jahitan kucing MJ dibuka setelah bekas
operasi kering dan benar-benar telah tepat saat hari ke-10 pasca operasi yaitu
pada tanggal 5 Oktober 2017.
5.2 Analisa Hasil
5.2.1 Physical Examination
Pemeriksaan fisik pada kucing yang dilakukan sebelum operasi
meliputi inspeksi, palpasi, dan auskultasi. Hasil penimbangan berat
badan kucing adalah 4,1 kg, suhu tubuh 39,1 C, frekuensi nafas 32
kali/menit, pulsus 120 beat/menit, warna membran mukosa pink, CRT
kurang dari 2 detik, tidak dehidrasi, warna feses normal. Kondisi tubuh
kucing termasuk normal. Sistem integumen, otic, optalmic,
muscoloskeletal, nervus, cardiovaskuler, respirasi, digesti, lympatic,
reproduksi, urinari normal. Hasil dari pemeriksaan suhu tubuh normal
karena suhu normal kucing menurut Tambing (2014) adalah 38-39,3C.
Frekuensi nafas dan pulsus juga normal, hal ini sama dengan literatur
bahwa frekuensi nafas normal kucing adalah 20-30 kali/menit dan pulsus
110-130 kali/menit. Hasil dari pemeriksaan membran mukosa normal.
hal ini sesuai dengan pendapat Widodo (2011) bahwa membran mukosa
normal berwarna merah muda (pink). CRT normal karena kurang dari
dua detik. Berdasarkan hasil tersebut, hewan dinyatakan sehat dan dapat
dioperasi.

5.2.2 Obat yang Digunakan


A. Atropin sulfat
Golongan
Atropin sulfat merupakan golongan obat antikolinergik
Indikasi
Sebagai preanestesi untuk mencegah sekresi saluran pernafasan,
sebagai treatmen sinus bradicardy, blok AV yang tidak lengkap dan
sebagai antidote organophospat carbamate, jamur muscharinic dan
keracunan ganggang hijau dan biru (Plumb, 2008).
Kotraindikasi
Kontraindikasi pada pasien dengan glaucoma, sinekia
(perlengketan) antara iris dan lensa, hipersensitivitas obat
antikolinergik, takikardia, iskemia miokard, penyakit GI obstruktif,
atropine sulfat dapat menurunkan motilitas GI. Atropin sulfat hati-hati
digunakan pada kuda karena dapat menyebabkan kolik (Plumb, 2008).
Farmakokinetik
Atropin sulfat diserap baik setelah pemberian secara oral, injeksi IM
dan inhalasi. Efek puncak terjadi dalam 3-4 menit. Atropin
didistribusikan keseluruh tubuh spp, dan didistribusikan ke air susu
dalam jumlah sedikit. Atropin dimetabolisme dalam hati dan
dieksresikan dalam urin (Plumb, 2008).
Farmakodinamik
Atropine seperti agen muskarinik lainnya kompetitif menghambat
asetilkoloin atau stimulant kolinergik lainnya di postganglionik
parasimpatis. Dosis tinggi dapat menghalangi nicotinic reseptor pada
ganglia otonom pada neuromuscular. Pada dosis rendah dapat
menyebabkan sekresi bronkial dan berkeringat. Pada dosis sistemik
moderat, dilatasi atropine menghambat akomodasi pupil. Dosis tinggi
menurunkan GI, motilitas saluran kemih dan menghambat sekresi
lambung (Plumb, 2008).
B. Xylazine
Golongan
Xylazine merupakan golongan Alpha2 Adrenergic Agonist (sedative)
Indikasi
Xylazine dapat digunakan pada hewan anjing, kucing, kuda dan rusa
untuk menghasilkan keadaan sedasi dengan waktu analgesia lebih
singkat. Sebagai preanestesi sebelum anestesi local dan umum. Dapat
digunakan untuk menginduksi muntah pada kucing yang keracunan
(Plumb, 2008).
Kontraindikasi
Xylazine kontraindikasi pada hewan penerima epineprin, hati hati
pada hewan dengan disfungsi jantung, hipotensi, disfungsi pernafasan
dan insufisiensi ginjal karena dapat menyebabkan fetus premature. Jadi
jangan digunakan pada trisemester terakhir kehamilan terutama pada
sapi. Hindari injeksi intra arteri karena dapat menyebabkan kejang dan
jangan menggunakan xylazine dengan obat penenang lainnya. Hati-hati
penggunaan pada kuda dengan vasokontraksi laminitis (Plumb, 2008).
Farmakokinetik
Absorbsi cepat jika diberikan secara IM, dengan efek puncak 3-10
menit setelah injeksi. Durasi efek sekitar 1,5 jam akan tetapi pada anjing
dan kucing efek analgesic hanya bertahan 15-30 menit, tapi jika
ditambah dengan obat penenang dapat mencapai 1-2 jam tergantung
pada dosis yang diberikan. Waktu paruh eliminasi diperkirakan 30
menit. Pemulihan total setelah pemberian dosis mencapai 2-4 jam pada
anjing dan kucing. Xylazine tidak terdeteksi pada susu perah setelah
pemberian xylazine (Plumb, 2008).
Farmakodinamik
Xylazine diklasifikasikan sebagai obat analgesic dengan sifat
relaksasi otot. Xylazine menyebabkan relaksasi otot rangka melalui
jalur pusat mediated dengan cara memblokir dopaminergic (seperti
fenotiazin) atau alpha-blocker. Emesis sering terjadi pada kucing dan
anjing tetapi tidak pada kuda dan sapi. Efek pada system kardiovasculer
yaitu meningkatkan tekanan darah, xylazine dapat meningkatkan
glukosa darah pada anjing dan kucing menyebabkan poliuri setelah
pemberian xylazine (Plumb, 2008).
C. Ketamin
Golongan
Ketamin merupakan golongan dissociative general anesthetic
Indikasi
Ketamine dapat digunakan pada primate, kucing dan manusia. Pada
kucing indikasi sebagai agen anestesi tunggal yang membutuhkan
relaksasi otot rangka. Ketamin dapat menghambat reseptor NMDA
dalam ssp, dan digunakan untuk mencegah nyeri berlebihan pada saat
operasi (Plumb, 2008).
Kontraindikasi
Hati hati pada pasien dengan reaksi hipersensitivitas, insufisiensi
hati dan ginjal, jangan digunakan pada hewan dengan riwayat kejang-
kejang. Kontraindikasi pada hewan telah banyak sebelum operasi
sebaiknya menghindari penggunaan ketamine. Karena ketamine dapat
meningkatkan tekanan darah, maka control perdarahan pasca bedah
(seperti declawing) sangat dianjurkan (Plumb, 2008).
Farmakokinetik
Setelah injeksi IM pada kucing, efek puncak terjadi setelah 10 menit.
Ketamin didistribusikan keseluruh jaringan tubuh dengan cepat dengan
tingkat tertinggi ditemukan dalam otak, hati, paru-paru dan lemak.
Protein plasma mengikat 50% dikuda, 53 % di anjing dan 37-53 % di
kucing. Obat ini dimetabolisme dihati dan dieleminasi melalui urin.
Ketami akan menginduksi hepatik enzim mikrosomal. Paruh eliminasi
pada kucing dan kuda sekitar 1 jam (Plumb, 2008).
Farmakodinamik
Ketamin menghambat GABA dan memblok serotonin,
norepineprin, dan dopamine di SPP. Sistem tertekan sehingga limbrik
diaktifkan, setelah itu menginduksi tahap anestesi I dan II, tapi tidak
stadium III. Pada kucing menyebabkan efek hipotermia (suhu tubuh
turun) rata-rata 1,6oC setelah dosis terapi. Efek ketamin pada sistem
pada sistem kardiovasculer meliputi peningkatan curah jantung, denyut
jantung, tekanan aorta dan arteri pulmonalis dan peningkatan vena
sentral. Ketamin tidak menyebabkan tingkat pernafasan menurun
(Plumb, 2008).

D. Amoxicillin
Golongan
Amoksisilin adalah antibiotik dengan spektrum luas golongan penicilin
Indikasi
digunakan untuk pengobatan infeksi pada saluran napas, saluran
empedu, dan saluran seni, gonorhu, gastroenteris, meningitis dan infeksi
karena Salmonella sp seperti demam tipoid. Amoksisilin aktif melawan
bakteri gram positif yang tidak menghasilkan -laktamase dan aktif
melawan bakteri gram negatif karena obat tersebut dapat menembus
pori pori dalam membran fosfolipid luar (Crowel,2005).
Kontraindikasi
Kontraindikasi dari obat ini adalah hipersensitivitas terhadapa
penicillin. Dan biasanya setelah pemberian amoxicillin, pasien akan
mengalami alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem,
leukopoia, diare pada pemberian per-oral (Napier, 2009).
Farmakokinetik
Farmakokinetik Amoxicillin diserap secara baik sekali oleh saluran
pencernaan. Kadar bermakna didalam serum darah dicapai 1 jam setelah
pemberian per-oral. Kadar puncak didalam serum darah 5,3 mg/ml
dicapai 1,5-2 jam setelah pemberian per-oral. Kurang lebih 60%
pemberian per-oral akan diekskresikan melalui urin dalam 6 jam
(Napier, 2009).
Farmakodinamik
Farmakodinamik Amoxicillin (alpha- amino -p-hydoxy- benzyl-
penicillin) adalah derivat dari 6 aminopenicillonic acid, merupakan
antibiotika berspektrum luas yang mempunyai daya kerja
bakterisida.Amoxicillin, aktif terhadap bakteri gram positif maupun
bakteri gram negatif. Bakteri gram positif: Streptococcus pyogenes,
Streptococcus viridan, Streptococcus faecalis, Diplococcus pnemoniae,
Corynebacterium sp, Staphylococcus aureus, Clostridium sp, Bacillus
anthracis. Bakteri gram negatif: Neisseira gonorrhoeae,
Neisseriameningitidis,Haemophillus influenzae,Bordetella
pertussis,Escherichia coli Salmonella (Napier, 2009).
E. Tolfen
Golongan
NSAID (Non steroidal Anti Inflammatory) Long-acting
Indikasi
Tolfenamic acid dipergunakan untuk pengobatan mastitis pada sapi
(Tolfenamic acid merupakan satu-satunya NSAID untuk pengobatan
mastitis dengan sekali injeksi), penyakit pernafasan akut yang
disebabkan oleh bakteri, Syndrome mastitis-metritis-agalaksia, disertai
dengan pemberian antibiotic. Tolfenamic juga efektif pada setiap
penyakit yang disertai gejala demam, keradangan (inflamasi), dan atau
rasa sakit (kolik). Penggunaan: Tolfenamic acid dapat dipergunakan
pada hewan : Sapi, Babi, Domba, Kuda, Kambing dan Llama. Dosis:
Dosis tunggal : 1 ml/40 Kg BB secara IM atau IV; untuk kasus akut
dilakukan secara IV selama 2 hari. Kemasan: Botol 20 ml, 50 ml, 100
ml dan 250 ml (Plumb, 2008).
Farmakodinamik
kerja dari obat ini mirip dengan kerja dari aspirin yaitu sebagai
potensial inhibitor dari cyclooxigenase yang akan menghambat rilisnya
prostaglandin. Obat ini juga akan menghambat secara langsung pada
daerah reseptor prostaglandin. Tolfenamic acid memiliki aktivitas yang
signifikan sebagai anti tromboksan, sehingga tidak dianjurkan
digunakan pada saat pre-operasi karena akan memberikan pengaruh
pada fungsi platelet (Plumb, 2008).
Farmakokinetik
tolfenamic acid dapat diabsobrsi melalui rute oral. Pada anjing level
tertinggi dari obat adalah 2-4 jam setelah pemberian yang berarti jumlah
dari obat ini paling banyak pada serum adalah selama 2-4 jam setelah
pemberian dosis yang sesuai. Resirkulasi enteropatik dari obat ini akan
meningkat setelah pemberian makanan. Hal ini juga dapat
meningkatkan bioavaibility dari obat. Terjadi variasi dari bioavaibility
dari obat setelah pemberian pakan pada anjing. Pada anjing volume
distribusinya adalah 1,2 L/kg dan akan dieliminasi atau memiliki waktu
paruh sekitar 6,5 jam. Durasi kerja dari obat ini adalah 24-36 jam
sehingga pemberian obat ini adalah 1-2 hari sekali (Plumb, 2008).

5.2.3 Teknik yang Digunakan


Pada saat melakukan kastrasi kucing MJ metode kastrasi yang
digunakan, yaitu metode kastrasi terbuka. Metode terbuka merupakan
metode dimana semua jaringan skrotum dan tunica vaginalis diinsisi dan
testis serta spermatic cord dibuang tanpa tunica vaginalis. Keuntungan
dari penggunaan metode ini yaitu ikatan pembuluh darah lebih terjamin,
sedangkan kerugiannya yaitu dengan terbukanya tunica vaginalis
menyebabkan adanya hubungan dengan rongga abdomen sehingga
memungkinkan terjadinya hernia skrotalis. Teknik kastrasi dari metode
terbuka, yaitu: (Fossum, 2012)
1. Tekan dinding skrotum dengan menggunakan jari tangan secara
halus dan hati hati diatas salah satu testis lalu dorong ke arah
cranial skrotum.
2. Lakukan insisi pada kulit skrotum dan fascia spermatica lalu
lanjutkan dengan menginsisi tunica vaginalis tepat diatas testis pada
daerah raphe median. (Gambar 2.3.A)
3. Perlebar insisi hingga testis yang ditekan bagian belakangnya keluar
dari lubang insisi lalu pegang dan tarik keluar. (Gambar 2.3 B dan
Gambar 2.3.C)
4. Insisi mesorchium (penggantung testis dan epididimis mulai dari
spermatic cord bagian cranial dan ekor epididimis bagian caudal)
(Gambar 2.3 D) dan potong spermatic cord lalu ligasi dengan
menggunakan catgut chromic 3 0 metode three forceps tie.
(Gambar 2-3 D-Ia, Gambar 2.3.D-Ib dan Gambar 2.3.D-Ic)
5. Potong testis yang masih menempel di tunica vaginalis parietalis
dengan ligamen pada ekor epididimis kemudian ligase. (Gambar
2.3.D-IIa dan Gambar 2.3.D-IIb)
6. Buang testis lainnya dengan cara yang sama. Bila diinginkan jahit
jaringan subkutan dengan benang catgut plain 3 0, tutup kulit
dengan jahitan sederhana terputus menggunakan benang non
absorbable.

Gambar 5.1 Kastrasi metode terbuka

5.2.4 Stadium Anestesi


Stadium anestesi yang digunakan adalah stadium III (stadium
operasi). Stadium ini merupakan stadium yang tepat untuk dilakukan
tindakan operasi. Hal ini disebabkan jalur masuk obat yang melewati
intramuscular dengan cepat terserap oleh tubuh, sehingga kucing
memerlukan waktu yang lama untuk pulih sepenuhnya dari anestesi.
Gejala yang menunjukkan bahwa kucing beradapada stadium III adalah
respirasi thoraco-abdominal dan bola mata ventro medial semua otot
mengalami relaksasi kecuali otot perut (E.B.C et al., 2008).
5.2.5 Kesembuhan Luka
Dari kastrasi yang telah dilakukan, kesembuhan luka kastrasi
berlangsung dengan baik dilihat dari pertautan kulit skrotum pada bagian
luka. Pada hari ke tujuh setelah operasi, pelepasan jahitan dilakukan.
Menurut Bakkara (2012), faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka
yaitu:
a. Nutrisi
Penyembuhan menempatkan penambahan pemakaian
metabolisme pada tubuh. Pasien memerlukan diet kaya Protein,
Karbonhidrat, Lemak, Vitamin dan Miniral (Fe, Zn) Bila kurang
nutrisi diperlukan waktu untuk memperbaiki status nutrisi setelah
pembedahan jika mungkin. Pasien yang gemuk meningkatkan
resiko infeksi luka dan penyembuhan lama karena supply darah
jaringan adipose tidak awet.
b. Infeksi
Ada tidaknya infeksi pada luka merupakan penentu dalam
percepatan penyembuhan luka. Sumber utama infeksi adalah
bakteri. Dengan adanya infeksi maka fase-fase dalam
penyembuhan luka akan terhambat.
c. Sirkulasi dan Oksigenasi
Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi
penyembuhan luka. Saat kondisi fisik lemah atau letih maka
oksigenasi dan sirkulasi jaringan sel tidak berjalan lancar. Adanya
sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak yang
memiliki sedikit pembuluh darah berpengaruh terhadap
kelancaran sirkulasi dan oksigenisasi jaringan sel. Pada orang
gemuk penyembuhan luka lambat karena jaringan lemak lebih
sulit menyatu, lebih mudah Infeksi dan lama untuk sembuh.
Aliran darah dapat terganggu pada orang dewasa yang mederita
gangguan pembuluh darah prifer, hipertensi atau DM. Oksigenasi
jaringan menurun pada orang yang menderita anemia atau
gangguan pernafasan kronik.
d. Keadaan luka
Kedaan kusus dari luka mempengaruhi kecepatan dan
efektifitas penyembuhan luka. Beberapa luka dapat gagal untuk
menyatu dengan cepat. Misalnya luka kotor akan lambat
penyembuhannya dibanding dengan luka bersih.
e. Obat
Obat anti inflamasi (seperti aspirin dan steroid), heparin
dan anti neoplasmik mempengaruhi penyembuhan luka.
Penggunaan antibiotik yang lama dapat membuat tubuh
seseorang rentan terhadap Infeksi luka. Dengan demikian
pengobatan luka akan berjalan lambat dan membutuhkan waktu
yang lebih lama.
Sedangkan menurut Sinaga (2014), faktor yang mempengaruhi
kesembuhan luka, adalah :
a. Faktor intrinsik
Faktor intrinstik meliputi faktor- faktor patofisiologi
umum (misalnya, gangguan kardiovaskuler, malnutrisi, gangguan
metabolik dan endokrin, penurunan daya tahan terhadap infeksi)
dan faktor fisiologi normal yang berkaitan dengan usia dan
kondisi lokal yang merugikan pada tempat luka (misalnya,
eksudat yang berlebihan, dehidrasi, infeksi luka, trauma
kambuhan, penurunan suhu luka, pasokan darah yang buruk,
edema, hipoksia lokal, jaringan nekrotik, pengelupasan jaringan
yang luas, produk metabolik yang berlebihan, dan benda asing).
b. Faktor ekstrinsik
Faktor ekstrinsik meliputi penatalaksanaan luka yang
tidak tepat (misalnya, pengkajian luka yang tidak tepat,
penggunaan bahan perawatan luka primer yang tidak sesuai, dan
teknik penggantian balutan yang ceroboh).

BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Orchidectomy atau kastrasi adalah sebuah prosedur operasi atau bedah
dengan tujuan membuang testis hewan. Kastrasi ini dilakukan pada hewan
jantan dalam keadaan tidak sadar (anastesi umum). Pada praktikum kastrasi
teknik yang digunakan adalah kastrasi terbuka, yaitu incisi dilakukan hingga
tunika vaginalis. Kastrasi dilakukan pada kucing bernama Luna usia 1 tahun 5
bulan dengan berat badan 4,1 kg. Adapun premedikasi yang digunakan yaitu
atropin sulfat 0,656 ml (SC), dimana sebelumnya kucing telah diberkan
amoxicillin pre operasi sebagai antibiotik dengan volum 0,41 ml (IM). Anestesi
yang digunakan yaitu ketamin xylazin dengan volume masing-masing 0,38 ml
(IM). Terapi pasca operasi diberikan amoxicillin 0,546ml (IM), tolfenamic acid
sebagai analgesik 0,102 ml (IM). Selain itu, pada bekas luka jahitan juga
diberikan nebacetin. Tepat 10 hari pasca operasi (5 Oktober 2017),
dilaksanakan angkat jahitan pada kucing MJ. Setelah angkat jahitan terapi
dilakukan hanya dengan membersihkan area luka menggunakan larutan NS.

6.2 Saran
Sebaiknya pada saat dilakukan injeksi, kucing di handling dengan kuat
sehingga seluruh obat yang diinjeksikan dapat masuk dengan sempurna,
sehingga tidak diperlukan penambahan dosis anasthesi.

DAFTAR PUSTAKA

Bakkara, C.J., 2012, Pengaruh Perawatan Luka Bersih Menggunakan Sodium


Klorida 0,9% dengan povidine iodine 10% terhadap penyembuhan luka
Post Apppendiktomi di RSU Kota Tanjung Pinang, USU, Medan.

Bichard, S. J., dan R. G. Sherding. 2000. Manual of Small Animal Practice. Second
Editions.
Brunswick: Australian Veterinary Journal.

Chandler EA. 2010. Feline Medicine and Therapeutics. London.


E.B.C, et al., 2008. Anestesiologi. Edisi 10. Jakarta: EGC.

Fossum, T.W. 2012. Small Animal Surgery, Edition 2. Mosby.

Hosgood, G,et al.2008. Small Animal Paediatric Medicine and Surgery. oxford :
Butterworth
Heinemann.

Komang Wiarsa Sardjana dan Diah Kusumawati. 2011. Bedah Veteriner, Cetakan
Pertama.
Airlangga University Press, Surabaya.

Man, F.A. 2011. Fundamentals of Small Animal Surgery. Lowa : Wiley Blackwell.

Marawali, A. 2001. Dasar-dasar Ilmu Reproduksi Ternak Departemen Pendidikan


Nasional Dirjen Pendidikan Tinggi Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi
Negeri Indonesia Timur, Kupang.

Mc Curnin DM, Joanna MB. 2008.Clinical Textbook For Veterinar


Technicians 6 rd Edition.
Sinaga, M., 2014, Gambaran Penggunaan Bahan pada Perawatan Luka di RSUD
Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar, USU, Medan.

Suwed, M. A. dan R. M. Napitupulu. 2011. Panduan Lengkap Kucing. Jakarta:


Penebar Swadaya.

Tambing, T. 2014. Perbandingan Pengaruh Anestesi Ketamine-Xylazine dan


Ketamine-Zoletil terhadap Frekuensi Nafas dan Denyut Jantung Kucing
Lokal (Feline domestica) pada Kondisi Sudden Loss of Blood. [Skripsi]:
Universitas Hasanuddin, Makasar.

Tobias, K.M. 2010. Manual of Small Animal Soft Tissue Surgery. Lowa : Wiley
Blackwell
W. B Saunders Company. Philadelphia. 1006-1007.

Widodo, S. 2011. Diagnostik Klinik Hewan Kecil. Bogor: IPB Press.