Anda di halaman 1dari 25

i

PROPOSAL PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM

HIDROLISIS ASAM FOSFAT UNTUK PRODUKSI GELATIN DARI


SISIK IKAN KAKAP

BIDANG KEGIATAN :
PKM PENELITIAN

Diusulkan Oleh:
Laela Inayatus Sholikha (2315030058) Angkatan 2015
Hanandyta Faradiella (2314030043) Angkatan 2014
Rengganis Ela (2314030094) Angkatan 2014
Debi Wulandari (2314030018) Angkatan 2014
Faiza Amalia (2315030079) Angkatan 2015

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER


SURABAYA
2016
ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ................................................................................................... i


Pengesahan Proposal PKM-P ............................................................................ ii
Daftar Isi ............................................................................................................. iii
Daftar Gambar .................................................................................................... iv
Daftar Tabel ....................................................................................................... v
BAB 1 PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Perumusan Masalah ...................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................... 2
1.4 Luaran yang Diharapkan ............................................................... 2
1.5 Manfaat Program .......................................................................... 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 2
2.1 Ikan Kakap Merah ......................................................................... 3
2.2 Gelatin ........................................................................................... 3
2.3 Hidrolisis ........................................................................................ 4
2.4 Hasil Penelitian Sebelumnya ........................................................ 5
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN .......................................................... 5
3.1 Variabel Penelitian ....................................................................... 5
3.2 Bahan Penelitian .......................................................................... 6
3.3 Peralatan Penelitian ...................................................................... 6
3.4 Prosedur Penelitian ...................................................................... 6
BAB 4 BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN ............................................... 8
4.1 Rancangan Biaya .......................................................................... 8
4.2 Jadwal Kegiatan ............................................................................ 9
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 10
LAMPIRAN ...................................................................................................... 11

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Ikan Kakap Merah ........................................................................... 3


Gambar 2. Skema Alat Hidrolisis ...................................................................... 6
Gambar 3. Diagram Alir Penelitian ................................................................... 6

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Rancangan Biaya .................................................................................... 9


Tabel 2. Jadwal Kegiatan Penelitian .................................................................... 9

v
1

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Gelatin adalah produk alami yang diperoleh dari hidrolisis parsial kolagen.
Gelatin merupakan protein yang larut yang bisa bersifat sebagai gelling agent
(bahan pembuat gel) atau sebagai non gelling agent. Fungsi gelatin sebagai bahan
pengisi, pengemulsi (emulsifier), pengikat, pengendap, pemerkaya gizi, pengatur
elastisitas, dapat membentuk lapisan tipis yang elastis, membentuk film yang
transparan dan kuat, kemudian sifat penting lainnya yaitu daya cernanya yang
tinggi dan dapat diatur, sebagai pengawet, humektan, penstabil, dan lain-lain
kebutuhan gelatin (Hastuti, dkk, 2007). Selama ini pemenuhan kebutuhan gelatin
di Indosesia semakin meningkat. Berdasarkan data Kemenperin tahun 2012,
impor gelatin tahun 2007-2011 meningkat 20,26% dengan nilai impor tahun 2011
mencapai 25.036,10 (ribu US dollar). Sehingga impor gelatin diperkirakan akan
terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Gelatin merupakan salah satu bahan
yang prospektif karena bersifat biodegradable dan biokompatibel dalam
lingkungan fisiologis yang dapat digunakan sebagai bahan biomaterial. Pada
umumnya digunakan sebagai makanan, film, lem, pelembab dan alat medis.
Dalam bidang biomaterial, gelatin saat ini telah dimanfaatkan sebagai bahan
kapsul, pembalut luka dan scaffold dalam rekayasa jaringan (Dian dkk, 2012).
Gelatin dapat diproduksi dari berbagai sumber dengan mempertimbangkan
ketersediaan bahan, harga, agama dan lain lain. Pada saat ini sebagian besar
gelatin komersial diekstraksi dari babi dan sapi. Sehingga gelatin menjadi isu
penting diantara masyarakat muslim, yahudi, hindu, dan vegetarian. Sebagai
contohnya, masyarakat muslim dan yahudi dilarang untuk mengkonsumsi babi.
Sedangkan pemeluk agama hindu dilarang untuk mengkonsumsi sapi. Dan juga
vegetarian tidak mengkonsumsi produk makanan dari hewan (Cebi, dkk, 2014).
Menurut Setiawati (2009) sumber utama lain yang sangat potensial sebagai bahan
baku gelatin adalah kolagen yang berasal dari ikan sehingga hal ini memicu
pengembangan sumber baru untuk ekstraksi gelatin, salah satunya adalah limbah
perikanan yaitu sisik ikan kakap.
Tulang dan kulit ikan sangat potensial sebagai bahan pembuatan gelatin
karena mencakup 10-20% dari berat tubuh ikan. Kulit ikan umumnya terdiri dari
dua lapisan utama yaitu epidermis dan dermis. Lapisan dermis merupakan
jaringan pengikat yang cukup tebal dan mengandung sejumlah serat-serat kolagen.
Lapisan dermis adalah bagian pokok tenunan kulit yang diperlukan dalam
pembuatan gelatin, karena lapisan ini sebagian besar (berkisar 80%) terdiri atas
jaringan serat kolagen yang dibangun oleh tenunan pengikat. Kulit ikan
mengandung air 69,6%, protein 26,9%, abu 2,5% dan lemak 0,7% (Setiawati,
2009).
Pada penelitian oleh (Setiawati, 2009) dengan judul karakterisasi mutu fisika
kimia gelatin kulit ikan kakap merah (Lutjanu sp.) hasil proses perlakuan asam
memiliki rendemen yang cukup tinggi. Pada penelitian ini menggunakan larutan
2

asam asetat dengan konsentrasi 1%-5% dengan variabel waktu perendaman 12


jam dan 24 jam. Rendemen tertinggi didapatkan dari hasil perendaman 12 jam
dengan konsentrasi asam 4% yaitu sekitar 13,3%. Tetapi pada penelitian ini, hasil
gelatin yang didapat masih berbau amis sehingga tidak cocok untuk dipasarkan
secara umum. Pada penelitian (Rensi, dkk, 2014) dalam proses pengolahan gelatin
menggunakan proses hidrolisis parsial. Proses hidrolisis terdapat 2 macam proses
yaitu hidrolisis asam dan hidrolisis basa dengan HCl sebagai pelarut asam dan
NaOH sebagai pelarut basa menggunakan konsentrasi masing-masing 5% dengan
variabel waktu perendaman yaitu 1 hari, 3 hari dan 5 hari serta 3 hari dan 5 hari
untuk larutan basa. Dari penelitian tersebut didapatkan hasil rendemen berturut-
turut 0,232%, 0,238%, dan 0,241% pada hidrolisa menggunakan larutan asam.
Sedangkan pada larutan basa rendemen berturut-turut adalah 0,163%, 0,188%.
Pada penelitian ini rendemen yang di dapatkan tidak cukup banyak. Pada
penelitian (Hanandyta, dkk, 2016) Hasil uji FTIR, spektra yang pada hasil analisa
ini menunjukkan gugus fungsi yang terdapat pada gelatin komersial. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa senyawa pada penelitian ini adalah gelatin hasil
hidrolisis paling optimal yaitu pada pelarut asam fosfat konsentrasi 5% dengan
lama perendaman 3 hari yaitu diperoleh rendemen sebesar 11,7448 %.
Namun, pada percobaan sebelumnya masih ada kekurangan yaitu, rendemen
yang masih belum maksimal dan menyebabkan gelatin tersebut tidak berbentuk
gel sehingga tidak dapat diaplikasikan dalam pembuatan suatu produk. Oleh
karena itu diperlukan analisa untuk mengetahui pengaruh konsentrasi asam fosfat
dan pengaruh temperatur hidrolisis pada produksi gelatin ikan kakap.
1.2 Perumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh konsentrasi asam fosfat pada produksi gelatin ikan
kakap
2. Bagaimana pengaruh temperatur hidrolisis pada produksi gelatin ikan
kakap
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebaga berikut:
1. Mengetahui pengaruh konsentrasi asam fosfat pada produksi gelatin ikan
kakap
2. Mengetahui pengaruh temperatur hidrolisis pada produksi gelatin ikan
kakap
1.4 Luaran yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dari pelaksanaan program kreatifitas mahasiswa
bidang penelitian ini adalah adanya publikasi ilmiah melalui seminar-seminar
nasional.
3

1.5 Manfaat Program


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam upaya
pengembangan produksi gelatin yang dapat dikonsumsi seluruh lapisan
masyarakat.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ikan Kakap Merah
Ikan kakap merah memiliki habitat luas, ikan ini dapat hidup di perairan
tropis dan subtropis, pada kedalaman sekitar 100 meter dengan habitat terumbu
karang dan juga dasar perairan berpasir. Juvenilnya dapat ditemui pada perairan
teluk yang dangkal, laguna atau terumbu karang dan kadang-kadang dapat pula
ditemui pada perairan payau (Melianawati, dkk, 2012).
Kulit merupakan hasil samping dari pemotongan hewan yang berupa organ
tubuh pada saat proses pengulitan. Kulit hewan, berupa tenunan dari tubuh hewan
yang terbentuk dari sel-sel hidup. Struktur dasar kulit hewan terdiri dari tenunan
serat protein yang disebut serat kolagen, komponen yang berfungsi sebagai
kerangka penguat.Kulit ikan umumnya terdiri dari dua lapisan utama yaitu
epidermis dan dermis. Lapisan dermis merupakan jaringan pengikat yang cukup
tebal dan mengandung sejumlah serat-serat kolagen. Lapisan dermis adalah
bagian pokok tenunan kulit yang diperlukan dalam pembuatan gelatin, karena
lapisan ini sebagian besar (berkisar 80%) terdiri atas jaringan serat kolagen yang
dibangun oleh tenunan pengikat. Protein pada kulit dapat dibagi dalam dua
golongan besar, yaitu (1) protein yang tergolong fibrous protein meliputi kolagen
(yang terpenting), keratin, dan elastin; (2) protein yang tergolong globular protein
meliputi albumin dan globulin. Kulit, tulang, dan gelembung renang ikan
merupakan limbah yang secara komersial dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku
industri gelatin karena bahan-bahan tersebut dihasilkan dalam jumlah banyak
sehingga dapat memberikan keuntungan dan menambah penghasilan secara
ekonomi bagi pengelola limbah industri perikanan (Setiawati, 2009).

Gambar 1. Ikan Kakap Merah


merupakan dimer dan trimer yang dibentuk dari ikatan silang (Setiawati,
2009).
2.2 Gelatin
Gelatin adalah produk alami yang diperoleh dari hidrolisis parsial kolagen.
Gelatin merupakan protein yang larut yang bisa bersifat sebagai gelling agent
(bahan pembuat gel) atau sebagai non gelling agent. Sumber bahan baku
4

gelatin dapat berasal dari sapi (tulang dan kulit jangat), babi (hanya kulit)
dan ikan (kulit). Karena gelatin merupakan produk alami, maka
diklasifikasikan sebagai bahan pangan bukan bahan tambahan pangan
(Hastuti, dkk, 2007). Gelatin merupakan protein yang unik karena kedua
kemampuannya untuk membentuk gel termo-reversible dengan suhu leleh dekat
dengan tubuh suhu dan kelarutannya dalam air. Gelatin diproduksi oleh hidrolisis
parsial kolagen. Meskipun sifat unik gelatin ini, berbagai fungsi potensial adalah
karena struktur spesifik yang terdiri dari dua puluh asam amino. Ikan gelatin
berbeda dari gelatin mamalia dalam sifat mereka seperti mencair dan pembentuk
gel suhu dan kekuatan gel. Perbedaan dihormati dengan komposisi asam amino
yang berbeda terutama prolin dan hidroksiprolin konten. Hidroksiprolin
merupakan asam imino berasal dari prolin. Keduanya bertanggung jawab untuk
stabilitas kolagen struktur. Mereka membentuk ikatan hidrogen yang
menstabilkan triple helix-struktur dengan memutar tajam dari struktur kolagen
(Norziah, dkk, 2008).
Gelatin merupakan protein yang larut air yang memiliki teknologi penting
sifat yang melibatkan gelasi, stabilisasi, texturization, emulsifikasi, kelengketan,
sedimentasi, dan enkapsulasi. Oleh karena itu, gelatin banyak digunakan dalam
makanan, farmasi, kosmetik dan industri. Dalam industri makanan, gelatin
memiliki berbagai aplikasi termasuk pembentukan gel, pembentukan busa dan
stabilisasi es krim, emulsi stabilisasi dalam produk daging, sineresis stabilisasi
dalam yoghurt, dan lain-lain (Cebi, dkk, 2014).
2.3 Hidrolis
Pada pembuatan gelatin menggunakan proses hidrolisis, yaitu proses penguaraian
zat dengan cara penambahan H2O sehingga terjadi reaksi hidrolisis dimana ion-
ion hasil penguraian H2O diikat oleh kolagen sehinnga terbentuk gelatin.
C102H149N31O38 + H2O C102H151N31O39
Kolagen Air Gelatin
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses hidrolisis menurut (Groggins,1958),
antara lain :
- Temperatur Pada temperature hidrolisis yang rendah 60C umumnya diperoleh
gelatin dengan sifat-sifat fisik yang baik, sehingga pada temperature yang
tinggi > 100C sifat-sifat gelatin akan menurun
- Waktu Untuk hidrolisis pada temperature yang lebih rendah biasanya
dibutuhkan waktu yang lama. Dengan waktu yang semakin lama maka
hidrolisis akan semakin rata dan luas kontak permukaan antara partikel dengan
liquid semakin tinggi, tetapi apabila waktu terlalu lama maka hal itu tidak
efektif.
- Air yang digunakan Sifat-sifat air yang digunakan untuk hidrolisis ini sesuai
produk yang diinginkan. Jumlah optimum perbandingan antara air dan kolagen
untuk proses ini adalah terbatas, mengingat sulitnya proses penguapan kembali
air untuk pengeringan gelatin yang akan diperoleh.
5

- Pengadukan Dengan adanya pengadukan maka akan mempercepat terjadinya


homogenitas antara partikel dan liquid. Selain itu pengadukan mencegah
terjadinya pengendapan.
- Viskositas Viskositas dipengaruhi oleh temperature, semakin besar suhu
operasi semakin kecil viskositas yang didapat.( Imeson,1992)
2.4 Penelitian Sebelumnya
Pada penelitian oleh (Setiawati, 2009) dengan judul karakterisasi mutu fisika
kimia gelatin kulit ikan kakap merah (Lutjanu sp.) hasil proses perlakuan asam
memiliki rendemen yang cukup tinggi. Pada penelitian ini menggunakan larutan
asam asetat dengan konsentrasi 1%-5% dengan variabel waktu perendaman 12
jam dan 24 jam. Rendemen tertinggi didapatkan dari hasil perendaman 12 jam
dengan konsentrasi asam 4% yaitu sekitar 13,3%.
Berdasarkan penelitian sebelumnya oleh (Rensi, dkk, 2014) dengan judul
pengolahan dan pemanfaatan limbah sisik ikan kakap (Lutjanu sp.) menjadi
gelatin dengan metode hidrolisis menggunakan proses hidrolisis parsial dalam
pengolahan gelatin. Dalam penelitian ini proses hidrolisis terdapat 2 macam
proses yaitu hidrolisis asam dan hidrolisis basa dengan HCl sebagai pelarut asam
dan NaOH sebagai pelarut basa menggunakan konsentrasi masing-masing 5%
dengan variabel waktu perendaman yaitu 1 hari, 3 hari dan 5 hari . Dilakukan
tahap degreassing pada proses awal dilanjutkan dengan demineralisasi kemudian
tahap penetralan dan hidrolisis. Dari penelitian tersebut didapatkan hasil
rendemen berturut-turut 0,232%, 0,238%, dan 0,241% pada hidrolisa
menggunakan larutan asam. Sedangkan pada larutan basa rendemen berturut-turut
adalah 0,163%, 0,188% sehingga dapat disimpulkan bahwa hidrolisa
menggunakan larutan asam dengan waktu perendaman 5 hari menghasilkan
rendemen yang lebih tinggi .
Sedangkan pada penelitian lain oleh (Hanandyta, dkk, 2016) dengan judul
studi eksperimental jenis pelarut asam pada produksi gelatin dengan
memanfaatkan limbah sisik ikan. Menyatakan pada Uji FTIR, spektra yang
didapatkan pada hasil analisa ini merupakan gugus fungsi yang terdapat pada
gelatin komersial. Sehingga dapat disimpulkan bahwa senyawa pada penelitian ini
adalah gelatin dan pada penelitian ini juga didapatkan hasil hidrolisis paling
optimal yaitu pada pelarut asam fosfat konsentrasi 5% dengan lama perendaman 3
hari yaitu diperoleh rendemen sebesar 11,7448 %.
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1 Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Pelarut Asam : Asam Fosfat
b. Konsentrasi Asam : 3%, 4%, 5%, 6%
c. Kecepatan Pengadukan : 300 rpm
d. Lama Perendaman : 3 hari
e. Suhu Hidrolisis : 60 oC,70 oC, 80 oC dan 90 oC
6

3.2 Bahan Penelitian


Pada penelitian ini menggunakan bahan yaitu: Asam Fosfat dan kakap
merah
3.3Peralatan Penelitian
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: Beaker glass;
Blender; Cawan; Erlenmeyer; Gelas Ukur; Heater; Labu Distilat; Labu Ukur;
Magnet stirer; Oven; Pipet; Spatula; Termometer; Timbangan Digital; Waterbath.

Gambar 2. Skema Alat Hidrolisis


3.4Prosedur Penelitian

Mulai

Tahap Persiapan:

- Persiapan Bahan
- Persiapan Tangki Hidrolisis
- Persiapan Pengujian
Kualitas Produk
-
Perancangan Alat

Persiapan Pengujian
Kualitas produk

A
7

Pembuatan Gelatin :

- Tahap Degreassing
- Tahap Demineralisasi
- Tahap Penetralan
- Tahap Degreassing
-

Uji FTIR Tidak


Ya

Analisa Gelatin (Rendemen, kadar,


Gambar pH,
3. Diagram Alir Penelitian
organoleptik, abu)

Selesai

3.4.1 Tahap Persiapan Pembuatan Gelatin


1. Persiapan Bahan
2. Persiapan Tangki Hidrolisis
Tangki hidrolisis yang digunakan berupa panci yang dilengkap dengan
agitator sebagai pengaduk dan termocopel sebagai sensor pengatur suhu.
3. Persiapan Pengujian Kualitas Produk
Pengujian meliputi rendemen, viskositas, pH, organoleptik, analisa
proksimat (kadar air, kadar abu).
3.4.2 Prosedur Pembuatan Gelatin
1. Tahap Degreassing
a. Merendam sisik ikan kakap dalam air selama 30 menit pada 100C.
Untuk menghilangkan kandungan lemak
b. Didiamkan selama 5 menit. Untuk mengurangi kadar air hasil pencucian
2. Tahap Demineralisasi
Merendam sisik ikan kakap ke dalam larutan asam fosfat dengan
konsentrasi 3%, 4%, 5% dan 6% selama 3 hari disebut ossein. Memisahkan
ossein dengan cara filtrasi.
1. Tahap Penetralan
Menambahkan larutan NaOH dengan konsentrasi 1 N pada ossein sampai
pH netral.
2. Tahap Degreassing
8

a. Ossein direndam dalam air bersuhu 60 C, 70 C, 80C dan 90 C. Diaduk


dengan kecepatan 300 rpm selama 3 jam. Memasukkan larutan gelatin ke
dalam botol.
b. Mendinginkan larutan gelatin yang masih dalam keadaan encer ke dalam
lemari pendingin dengan tujuan memadatkan larutan gelatin. Gelatin
yang berbentuk padat (gel) selanjutnya dipisahkan dengan menggunakan
sentrige lalu ditimbang dan dikeringkan. Pengeringan dilakukan dengan
menggunakan oven pada temperatur 50C selama 24 jam.
7 Uji FTIR (Fourier Transform Infra Red)
Untuk mengidentifikasi gelatin yang didapat dari masing-masing variabel
3.4.3 Prosedur Analisa
1. Analisa Rendemen
a. Menimbang gelatin basah
b. Menimbang gelatin kering
c. Menghitung perbandingan berat kering gelatin yang dihasilkan dengan
berat bahan besar
2. Analisa pH
a. Memasukkan larutan gelatin sisik ikan dalam beaker glass
b. Mengukur pH dari gelatin dengan menggunakan pH meter
3. Analisa Kadar Air Gelatin
a. Menimbang cawan kosong
b. Memasukkan gelatin padat dalam cawan
c. Menimbang cawan yang berisi gelatin padat
d. Memasukkan cawan yang yang telah berisi gelatin padat dalam oven pada
suhu 50C selama 24 jam
e. Setelah di oven, menimbang cawan tersebut.
f. Menghitung kadar air pada gelatin
4. Analisa Viskositas
a. Memasukkan larutan gelatin kedalam viscometer oswalt
b. Mencacat waktu larutan gelatin cair ketika mulai turun sampai melewati
garis yang telah ditentukan pada viscometer oswalt tersebut
c. Menghitung viskositas
5. Analisa Kadar Abu
a. Menimbang sampel sebanyak 5 gram dalam cawan.
b. Memasukkan sampel dalam furnace pada suhu 500C selama 1 jam
c. Menghitung kadar abu
6. Analisa Organoleptik
a. Menganalisa warna
b. Menganalisa bau
BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
4.1 Anggaran Biaya
9

Berikut ini adalah anggaran biaya yang digunakan untuk pelaksanaan


kegiatan :
Tabel 1. Rancangan Biaya
No Jenis Pengeluaran Biaya (Rp)
1 Peralatan Penunjang 3.160.000
2 Bahan habis pakai 2.871.000
3 Perjalanan (antar kota/dalam kota) 3.450.000
4 Lain lain 2.010.000
Jumlah 11.491.000

4.2 Jadwal Kegiatan


Berikut ini adalah jadwal kegiatan pelaksanaan penilitian :
Tabel 2. Jadwal Kegiatan Penelitian

Bulan ke-1 Bulan ke-2 Bulan ke-3 Bulan ke-4 Bulan ke-5
No. Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pengembangan
1.
Ide
Survey Alat
2.
Praktikum
Perancangan
3
Alat
Penyiapan
4.
Bahan Baku
Melakukan
5. Trial (dasar
hipotesa)
Pengambilan
6. Data
Penelitian
Pengujian
7. Hasil
Penelitian
Evaluasi
8.
Penelitian
Penyusunan
9.
laporan Akhir
10. Pembimbingan
10

DAFTAR PUSTAKA
Cebi, N., Durak, M., Toker, O., Sagdic, O., Arici, M., (2014), An evaluation of
Fourier transforms infrared spectroscopy method for the classification and
discrimination of bovine, porcine and fish gelatins, Food Chemistry.
Dian, P., Darmawan, Erizal, Tjahyono,(2012), Isolasi dan sintesis gelatin sisik
ikan kakap putih (Lates calcarifer) berikatan silang dengan teknik induksi
iradiasi gamma, Indonesian journal of materials science.
Hastuti, D., Sumpe, I., (2007), Pengenalan dan proses pembuatan gelatin, Jurnal
ilmu-ilmu pertanian.
Melianawati, R., Aryati, R.,(2012), Budidaya ikan kakap merah (Lutjanus sebae),
Jurnal ilmu dan teknologi kelautan tropis.
Norziah, M., Al-Hasan, A., Khairulnizam, A., Mordi, M., Norita, M., (2008),
Characterization of fish gelatin from surimi processing wastes: Thermal
analysis and effect of transglutaminase on gel properties, Food
Hydrocolloids.
Setiawati, I.H., (2009), Karakterisasi Mutu Fisika Kimia gelatin Kulit Ikan Kakap
Merah (Lutjanus Sp.) Hasil Proses Perlakuan Asam, Skripsi Institut
Pertanian Bogor.
11
12
13
14
15
16
17

Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan


1. Biaya Habis Pakai
Justifikasi Harga
Material Kuantitas Keterangan
Peralatan Satuan (Rp)

Tempat
Botol Suntik Penyimpanan 35 buah Rp 600 Rp 21.000
gelatin

Sisik Ikan Kakap Bahan Dasar 10 kg Rp 20.000 Rp 200.000

Asam Fosfat Pelarut 5L Rp 700.000 Rp 1.400.000

Menyaring hasil
Kertas Saring 5 Buah Rp 20.000 Rp 100.000
hidrolisis

Menutup labu
Aluminium Foil pada proses 10 Lembar Rp 18.000 Rp 180.000
hidrolisis

Tisu 3 lembar Rp 30.000 Rp 90.000

Aquadest Pelarut 50 L Rp 2.000 Rp 100.000

Mengidentifikasi
Indikator pH 2 pc Rp 100.000 Rp 200.000
pH pada sampel

Sub Total Biaya Rp 2.291.000

2. Peralatan Penunjang
Justifikasi Harga
Material Kuantitas Keterangan
Pemakaian satuan
Alat
Labu Leher Tiga 1 buah Rp 550.000 Rp 550.000
Hidrolisis
Mengukur
Gelas Ukur volume 3 buah Rp 100.000 Rp 300.000
solvent
Tempat
Beaker Glass 12 buah Rp 90.000 Rp 1.080.000
perendaman
Menuangkan
Corong 4 buah Rp 45.000 Rp 180.000
hasil hidrolisis
Membuat
Labu Ukur 3 buah Rp 150.000 Rp 450.000
Pelarut
Uji FTIR Uji Gelatin 12 sampel Rp 50.000 Rp 600.000
Sub Total Biaya Rp 3.160.000
18

3. Perjalanan
Justifikasi Harga
Material Kuantitas Keterangan
Peralatan Satuan (Rp)
Biaya
Perjalanan
Transportasi
Publikasi 3 orang x 3 Rp 300.000 Rp 2.700.000
Seminar
ilmiah atau
jurnal
Penginapan
Akomodasi untuk 3 orang Rp 250.000 Rp 750.000
seminar
Sub Total Biaya Rp 3.450.000

4. Lain-Lain (Administrasi dan Seminar/Lokakarya)


Administrasi
Material Justifikasi Kuantitas Harga Satuan Keterangan
Peralatan (Rp)
Kertas Penulisan Laporan 1 rim Rp 40.000 Rp 40.000

Map dan Perlengkapan ATK - - Rp 35.000


Alat Tulis
Fotokopi Fotokopi Literatur, - - Rp 35.000
Proposal dan
Pengeluaran
Flash Disk Penyimpan Data 1 Rp 100.000 Rp 100.000

Sub Total Biaya Rp 210.000

Seminar/Lokakarya

Justifikasi Harga Satuan


Material Kuantitas Keterangan
Peralatan (Rp)

Seminar/ Biaya Publikasi


3 Rp 400.000 Rp 1.200.000
Lokakarya ilmiah atau jurnal

Biaya Pendaftaran
seminar dan 3 Rp 200.000 Rp 600.000
conferance
Sub Total Biaya Rp 1.800.000
Total Biaya Keseluruhan Rp 10.911.000
19

Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Kegiatan dan Pembagian Tugas

Program Bidang Alokasi Waktu


No Nama/NRP Uraian Tugas
Studi Ilmu (Jam/Minggu)
Pengawas
pelaksana
Laela Inayatus D3 Teknik dan
1 Hidrolisis 5 Jam/Minggu
Sholikha Kimia penanganan
bidang
hidrolisis
Penanganan
Hanandyta D3 Teknik
2 Variabel 5 Jam/Minggu bidang
Faradiella Kimia
variabel
Penanganan
D3 Teknik
3 Rengganis Ela Variabel 5 Jam/Minggu bidang
Kimia
variabel
Penanganan
D3 Teknik Kimia
4 Debi Wulandari 5 Jam/Minggu bidang kimia
Kimia Organik
organik
Penanganan
D3 Teknik Kimia
5. Faiza Amalia 5 Jam/Minggu bidang kimia
Kimia Organik
organik
20