Anda di halaman 1dari 36

TUGAS BESAR

MATA KULIAH MODEL DAN KOMPUTASI PROSES

SIMULASI DAN PERANCANGAN REAKTOR BATCH NON ADIABATIS


UNTUK REAKSI PEMBUATAN ETER DARI PROSES DEHIDRASI ETANOL
MENGGUNAKAN PROGRAM SCILAB 5.1.1

Oleh:
Maharani Dwisetia Sri Rezeki NIM: 21030114130176
Naufarrel Kaviandhika NIM: 21030114120036

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016
Reaktor Batch Non Adiabatis

HALAMAN PENGESAHAN

Jenis Reaktor : SIMULASI DAN PERANCANGAN REAKTOR BATCH NON


ADIABATIS UNTUK REAKSI PEMBUATAN DIETIL ETER DARI
PROSES DEHIDRASI ETANOL MENGGUNAKAN PROGRAM
SCILAB 5.1.1
Kelompok : 5/Rabu Siang

Anggota : 1. Maharani Dwisetia Sri Rezeki NIM: 21030114130176


2. Naufarrel Kaviandhika NIM: 21030114120036

Semarang, November 2016


Mengesahkan,
Asisten

Mohammad Farkhan Hekmatyar Dwinanda


NIM. 21030112170001

Model dan Komputasi Proses ii


Reaktor Batch Non Adiabatis

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena berkat dan rahmat-Nya, tugas besar
Praktikum Komputasi Proses yang berjudul Simulasi Dan Perancangan Reaktor Batch Non
Adiabatis Untuk Reaksi Pembuatan Dietil Eter Dari Proses Dehidrasi Etanol Menggunakan
Program Scilab 5.1.1 ini dapat diselesaikan.
Dalam penulisan tugas besar ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik pada
teknis maupun materi. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan
demi penyempurnaan laporan resmi ini.
Dalam penulisan laporan resmi ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada
pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan laporan resmi ini, khususnya kepada:
1. Kedua orang tua kami yang selalu mendoakan dan menjadi penyemangat kami
2. Dr. Ir. Budi Sasongko, DEA. selaku dosen pembimbing Laboratorium
Komputasi Proses
3. Seluruh asisten Laboratorium Komputasi Proses tahun 2016
yang telah membimbing kami
4. Teman-teman Teknik Kimia yang dapat bekerjasama dengan baik

Akhir kata penulis berharap semoga laporan resmi ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca dengan menambah ilmu pengetahuan yang baru bagi pembaca.

Semarang, November 2016

Penulis

Model dan Komputasi Proses iii


Reaktor Batch Non Adiabatis

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................................... ii


KATA PENGANTAR .............................................................................................................. iii
DAFTAR ISI..............................................................................................................................iv
DAFTAR TABEL ....................................................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR .................................................................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ iii
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................... iii

1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................................................iv

1.3 Tujuan .............................................................................................................................iv

1.4 Manfaat ...........................................................................................................................iv

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................ v


2.1 Dasar Teori ....................................................................................................................... v

2.1.1 Pembuatan Dietil Eter dari Etanol ..................................................................................... v


2.1.2 Jenis Reaktor .....................................................................................................................vi
2.1.3 Reaktor Batch.......................................................................................................................... ix

2.1.4 Reaksi Monomolekuler ........................................................................................................... ix

2.1.5 Reaksi Paralel........................................................................................................................... x

2.1.6 Reaksi Reversibel..................................................................................................................... x

2.1.7 Reaksi Eksotermis ................................................................................................................... xi

2.1.8 Reaksi Non Adiabatis.............................................................................................................. xi

2.2 Studi Kasus......................................................................................................................xi

2.2.1 Deskripsi Proses ...................................................................................................................... xi

2.2.2 Tinjauan Termodinamika .......................................................... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... xviii


LAMPIRAN
LEMBAR ASISTENSI

Model dan Komputasi Proses iv


Reaktor Batch Non Adiabatis

DAFTAR TABEL

Model dan Komputasi Proses v


Reaktor Batch Non Adiabatis

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Reaktor Alir Tangki Berpengaduk...4


Gambar 2.2 Reaktor Alir Pipa..5
Gambar 2.3 Reaktor Batch...6
Gambar 2.4 Perbedaan reaksi endotermis dan eksotermis...9
Gambar 3.1 Permodelan Reaktor Alir Pipa....16

Model dan Komputasi Proses vi


Reaktor Batch Non Adiabatis

RINGKASAN

Model dan Komputasi Proses vii


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dietil eter merupakan sebuah pelarut laboratorium yang umum dan memiliki
kelarutan terbatas di dalam air, sehingga sering digunakan untuk ekstrasi cair-cair. Karena
kurang rapat bila dibandingkan dengan air, lapisan eter biasanya berada paling atas. Dalam
industri salah satu anggota senyawa eter ini mempunyai kegunaan yang sangat penting.
Kegunaan dari dietil eter yaitu sebagai bahan penunjang industri lain di antaranya sebagai
pelarut untuk minyak, lemak, getah, resin, mikroselulosa, parfum, alkaloid, dan sebagian
kecil dipakai dalam butadiena. Kegunaan lainnya yaitu sebagai media ekstraksi untuk
memisahkan asam asetat maupun asam organik. Dietil eter juga banyak digunakan pada
industri obat-obatan, selain itu dietil eter juga digunakan sebagai pelarut untuk bahan yang
mempunyai titik didih rendah. Dalam produksinya, dietil eter tersedia dalam berbagai
tingkatan yaitu untuk bahan baku produk lain, pelarut, ataupununtuk obat bius.
Reaktor merupakan alat utama pada industri yang digunakan untuk proses kimia yaitu
untuk mengubah bahan baku menjadi produk. Proses konversi dari bahan baku menjadi
produk sangat ditentukan oleh desain reaktor yang telah dibuat. Dalam perancangan
reaktor diperlukan banyak pertimbangan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan
keinginan dan proses yang digunakan dan efisien. Pertimbangan-pertimbangan tersebut
antara lain adalah pertimbangan proses dan pertimbangan ekonomi. Selain itu diperlukan
perhitungan-perhitungan yang sangat kompleks dalam perancangan reaktor. Perhitungan-
perhitungan perancangan sangat berpengaruh terhadap efisiensi proses dan spesifikasi
produk yang dihasilkan. Untuk itu, dalam perancangan reaktor harus dilakukan
perhitungan-perhitungan yang sangat akurat dan menghindari kesalahan seminimal
mungkin.
Sebagai sarjana Teknik Kimia sangat perlu untuk belajar tentang reaktor kimia agar
mampu merancang reaktor yang melibatkan perhitungan yang rumit dan panjang,
Perhitungan perancangan reaktor dapat dilakukan secara manual oleh manusia. Namun
untuk reaktor yang kompleks, perhitungan secara manual sangat tidak disarankan karena
terlalu rumit dan tidak efisien. Software-software perancangan telah banyak
dikembangkan untuk membantu pekerjaan manusia dalam merancang reaktor, dintaranya
adalah hysis, matlab, dan scilab. Dengan menggunakan software perancangan, diharapkan
perhitungan perancangan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat sehingga lebih efisien.
Scilab merupakan software perancangan tidak berbayar dan sederhana sehingga dapat
dengan mudah diaplikasikan dalam perancangan reaktor yang memungkinkan untuk
menyelesaikan masalah perhitungan, khususnya yang melibatkan matriks dan vector
dengan waktu yang lebih cepat dan efisien.
1.2 Rumusan Masalah
Dietil eter dapat diperoleh dari etanol dengan proses dehidrasi dengan menggunakan
alumina (Al2O3) sebagai katalisnya dengan kondisi operasi pada suhu 120 oC dan tekanan
4 atm. Sementara itu, reaksi dehidrasi etanol merupakan reaksi pararel monomolekuler,
eksotermis, dan reversible yang byproductnya berupa etilen. Untuk merancang reaktor
dengan berbagai spesifikasinya tersebut diperlukan perhitungan neraca massa dan neraca
energi yang dapat disimulasikan dengan memanfaatkan program Scilab 5.1.1.
1.3 Tujuan
1. Merancang reaktor Batch Non Adiabatis untuk reaksi pembentukan Dietil Eter dari
proses Dehidrasi Etanol dengan menggunakan program Scilab 5.1.1.
2. Membuat algoritma pemodelan dari neraca massa dan neraca komponen pada
perancangan reaktor Batch Non Adiabatis dengan menggunakan program scilab 5.1.1
3. Membuat analisa hasil algoritma pengaruh waktu tinggal terhadap konsentrasi masing
masing zat dan konversinya dengan menggunakan software scilab 5.1.1.
1.4 Manfaat
1. Mahasiswa dapat merancang reaktor Batch Non Adiabatis untuk reaksi pembentukan
Dietil Eter dari proses Dehidrasi Etanol dengan menggunakan program Scilab 5.1.1.
2. Mahasiswa mampu membuat algoritma pemodelan dari neraca massa dan neraca
komponen pada perancangan reaktor Batch Non Adiabatis dengan menggunakan
program scilab 5.1.1
3. Mahasiswa mampu membuat analisa hasil algoritma pengaruh waktu tinggal terhadap
konsentrasi masing masing zat dan konversinya dengan menggunakan software scilab
5.1.1.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
2.1.1 Pembuatan Dietil Eter dari Etanol
Dietil eter dapat diperoleh dengan proses dehidrasi etanol. Etanol sendiri dapat
diproduksi secara petrokimia melalui hidrasi etilena ataupun
secara biologis melalaui fermentasi gula dengan ragi. Salah satu contoh industri
yang memproduksi etanol ialah PT.Indo Lampung Distillerie dengan kapasitas total
pabrik tersebut adalah 108.000 kiloliter. Dietil eter merupakan
sebuah pelarut laboratorium yang umum dan memiliki kelarutan terbatas di dalam
air, sehingga sering digunakan untuk ekstrasi cair-cair. Karena kurang rapat bila
dibandingkan dengan air, lapisan eter biasanya berada paling atas. Dalam industri
salah satu anggota senyawa eter ini mempunyai kegunaan yang sangat penting.
Kegunaan dari dietil eter yaitu sebagai bahan penunjang industri lain di antaranya
sebagai pelarut untuk minyak, lemak, getah, resin, mikroselulosa, parfum, alkaloid,
dan sebagian kecil dipakai dalam butadiena. Kegunaan lainnya yaitu sebagai media
ekstraksi untuk memisahkan asam asetat maupun asam organik. Dietil eter juga
banyak digunakan pada industri obat-obatan, selain itu dietil eter juga digunakan
sebagai pelarut untuk bahan yang mempunyai titik didih rendah. Dalam
produksinya, dietil eter tersedia dalam berbagai tingkatan yaitu untuk bahan baku
produk lain, pelarut, ataupununtuk obat bius (Simoehch, 2012).
Proses sintesis dietil eter dilakukan dengan proses dehidrasi etanol yang
merupakan proses penghilangan air dari suatu senyawa. Proses dehidrasi ini pada
umumnya dilakukan pada alkohol untuk membentuk dietil eter. Dalam kimia, reaksi
dehidarsi biasanya didefinisikan sebagai reaksi yang melibatkan pelepasan air dari
molekul yang bereaksi. Reaksi dehidrasi merupakan subset dari reaksi eliminasi.
Karena gugus hidroksil (-OH) adalah gugus lepas yang buruk, pemberian
katalis asam Brnsted sering kali membantu protonasi gugus hidroksil,
menjadikannya gugus lepas yang baik, -OH2+. Agen dehidrasi yang umum
meliputi asam sulfat pekat, asam fosfat pekat, aluminium oksida panas, keramik
panas. Pembentukan dietil eter dengan metode dehidrasi etanol dapat dilakukan
dengan reaksi berkatalis alumina (Al2O3) dan silika (SiO2) (Fadhil, 2014).
2.1.2 Jenis Reaktor
Reaktor kimia adalah suatu tempat berlangsungnya reaksi kimia untuk mengubah
suatu bahan menjadi bahan lain yang mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi.
Rancangan dari reaktor ini tergantung dari banyak variabel yang dapat dipelajari di
teknik kimia. Perancangan suatu reaktor kimia harus mengutamakan efisiensi kinerja
reaktor, sehingga didapatkan hasil produk dibandingkan masukan (input) yang besar
dengan biaya yang minimum, baik itu biaya modal maupun operasi. Adapun jenis-
jenis reaktor yang biasa digunakan dalam industri berdasarkan prosesnya, yaitu :
a) Reaktor Alir (Continous Flow)
Dalam industry terdapat 2 jenis Reaktor Alir, yaitu:
1) Reaktor Alir Tangki Berpengaduk (RATB)
RATB adalah salah satu reaktor ideal yang berbentuk tangki alir
berpengaduk atau suatu reaktor yang paling sederhana terdiri dari suatu
tangki untuk reaksi yang menyederhanakan liquid. RATB sering disebut juga
dengan Continuousn stirred Tank Reactor (CSTR) atau Mixed Flow Reactor.
RATB digunakan untuk reaksi cair dan dijalankan secara batch ,semi batch/
kontinyu. RATB sering atau biasa digunakan untuk reaksi homogen (reaksi
yang berlangsung dalam satu fase saja) (Yahdi, 2013).

Gambar 2.1 Reaktor Alir Tangki Berpengaduk


Persamaan umum yang menggambarkan RATB adalah sebagai berikut :
kecepatan kecepatan kecepatan akumulasi
aliran A perubahan A aliran A reaktan A
[ masuk ] + [ karena ] [ keluar ] = [ dalam ]
sistem reaksi sistem sistem

2) Reaktor Alir Pipa (RAP)


Reaktor alir pipa merupakan reaktor di mana cairan bereaksi dan mengalir
dengan cara melewati tube (tabung) dengan kecepatan tinggi, tanpa terjadi
pembentukan arus putar pada aliran cepat. Reaktor alir pipa pada hakekatnya
hampir sama dengan pipa dan relatif cukup mudah dalam
perancangannya.Reaktor alir pipa desebut ideal jika zat-zat pereaksi dan hasil
reaksi mengalir dengan kecepatan yang sama diseluruh pemampang pipa. Di
reaktor komposisi , suhu dan tekanan diseluruh penampang reaktor selalu
sama. Perbedaan komposisi, suhu dan tekanan hanya terjadi di sepanjang
dinding reaktor. Reaktor jenis ini banyak digunakan dalam industri dengan
zat pereaksi atau reaktan berupa fase gas atau cair dengan kapasitas produksi
yang cukup besar (Nima, 2015).

Gambar 2.2 Reaktor Alir Pipa


Persamaan umum untuk menggambarkan RAP adalah sebagai berikut :
kecepatan kecepatan kecepatan akumulasi
aliran A perubahan A aliran A reaktan A
[ masuk ] + [ karena ] [ keluar ] = [ dalam ]
sistem reaksi sistem sistem

Tidak ada akumulasi pada reaktor ini, sehingga:


kecepatan kecepatan kecepatan
perubahan A
[ aliran A
masuk ] + [ karena ] [ aliran A
keluar ] =0
sistem reaksi sistem

Berdasarkan perubahan kenaikan volume maka neraca massa menjadi:


FAV - FAIV+V + rAV = 0
Dengan mengintegrasikan persamaan didapatkan volume reaktor:
X
dX A
V FAo
0
rA
b.) Reaktor Batch
Reaktor Batch merupakan reaktor dimana saat terjadinya reaksi tidak ada
reaktan yang masuk dan produk yang keluar, reaksinya terjadi dalam sekali
proses. Mekanisme kerja reator batch adalah reaktan dimasukkan kedalam
reaktor, terjadi reaksi dalam waktu tertentu, setelah itu produk (hasil) akan
dikeluarkan dari reaktor. Pada saat reaksi berlangsung tidak ada reaktan yang
masuk dan produk yang keluar.didalam reaktor terjadi pengadukan yang
sempurna,sehingga konsentrasi disetiap titik dalam reaktor sama pada waktu
yang sama (Winda, 2010).

Gambar 2.3 Reaktor Batch


Persamaan umum untuk menggambarkan RAP adalah sebagai berikut :
kecepatan kecepatan kecepatan akumulasi
aliran A perubahan A aliran A reaktan A
[ masuk ] + [ karena ] [ keluar ] = [ dalam ]
sistem reaksi sistem sistem

Lalu berdasarkan bentuknya, jenis-jenis reaktor bisa dibedakan menjadi 2, yaitu:


a) Reaktor Tangki
Dikatakan reaktor tangki ideal bila pengadukannya sempurna, sehingga
komposisi dan suhu didalam reaktor setiap saat selalu uniform. Dapat dipakai
untuk proses batch maupun proses alir (Ardianshyah, 2016).

b) Reaktor Pipa
Biasanya digunakan tanpa pengaduk sehingga disebut Reaktor Alir Pipa.
Dikatakan ideal bila zat pereaksi yang berupa gas atau cairan, mengalir didalam
pipa dengan arah sejajar sumbu pipa. Biasanya digunakan untuk proses alir
(Ardianshyah, 2016).
Sedangkan jenis-jenis reaktor yang biasa digunakan dalam industri berdasarkan
keadaan operasinya, yaitu:
a.) Reaktor isotermal.
Dikatakan isotermal jika umpan yang masuk, campuran dalam reaktor, aliran
yang keluar dari reaktor selalu seragam dan bersuhu sama (Ardianshyah, 2016).
b.) Reaktor Non-Isotermal
Berkebalikan dengan Reaktor Isotermal, yaitu ada perubahan suhu pada
umpan masuk, di dalam, maupun keluar reactor (Ardianshyah, 2016).
c.) Reaktor adiabatis.
Dikatakan adiabatis jika tidak ada perpindahan panas antara reaktor dan
sekelilingnya. Jika reaksinya eksotermis, maka panas yang terjadi karena reaksi
dapat dipakai untuk menaikkan suhu campuran di reaktor. ( K naik dan rA besar
sehingga waktu reaksi menjadi lebih pendek) (Ardianshyah, 2016).
d.) Reaktor Non-Adiabatis
Berkebalikan dari reactor adiabatis, yaitu ada panas yang masuk dari pemanas
atau keluar ke pendingin (Ardianshyah, 2016).
2.1.3 Reaktor Batch
Reaktor Batch merupakan reaktor dimana saat terjadinya reaksi tidak ada reaktan yang
masuk dan produk yang keluar, reaksinya terjadi dalam sekali proses. Mekanisme kerja
reator batch adalah reaktan dimasukkan kedalam reaktor, terjadi reaksi dalam waktu
tertentu, setelah itu produk (hasil) akan dikeluarkan dari reaktor. Pada saat reaksi
berlangsung tidak ada reaktan yang masuk dan produk yang keluar.didalam reaktor
terjadi pengadukan yang sempurna,sehingga konsentrasi disetiap titik dalam reaktor
sama pada waktu yang sama (Winda, 2010).
Untuk kasus ini reaksi yang terjadi adalah reaksi monomolekuler reversibel yang
terjadi dalam reactor batch, sehingga untuk reaksi :

Dengan perbandingan konsentrasi awal M = CRO / CAO persamaan laju reaksinya adalah:

2.1.4 Reaksi Monomolekuler


Kemolekularan Reaksi adalah jumlah molekul pereaksi pada tahap penentu laju
reaksi. Kemolekulan reaksi sama dengan orde reaksi untuk tahap tersebut dan dapat
dibedakan menjadi monomolekuler dan bimolekuler. Reaksi bimolekuler bisa terdiri dari
dua molekul, namun Reaksi monomolekuler atau unimolekuler hanya terdiri dari satu
molekul yang terbentuk dari transformasi atau diasosiasi satu atau beberapa molekul
lain.. Didalam reaksi unimolekuler, molekul reaktan tunggal terisomerisasi atau
terdekomposisi untuk menghasilkan satu atau lebih produk. Sebuah contoh dari reaksi
monomolekuler adalah isomerisasi cistrans, di mana sebuah senyawa bentuk cis akan
berubah menjadi bentuk trans (Sarman, 2009). Reaksi monomolekular dapat berupa:
reaksi isomerasi
A B
atau reaksi dekomposisi
A B + C
2.1.5 Reaksi Paralel
Mekanisme suatu reaksi rumit dapat tersusun dari dua atau lebih reaksi sederhana.
Terdapat dua cara penggabungan dua reaksi sederhana, yaitu: 1) reaksi sederhana disusun
secara paralel (sejajar); 2) reaksi sederhana disusun secara seri (berurutan). . Susunan
reaksi dikatakan seri (berurutan) jika salah satu produk dari reaksi sederhana menjadi
pereaksi bagi reaksi sederhana lainnya. Sedangkan susunan reaksi dikatakan paralel jika
terdapat dua reaksi sederhana atau lebih memiliki pereaksi yang sama atau memiliki
produk yang sama.Contoh dari reaksi yang terusun parallel adalah sebagai berikut :

Dengan mempelajari mekanisme reaksi, para kimiawan dapat mengetahui


tahapan-tahapan reaksi dari suatu proses kimia, serta mengetahui halangan-halangan
yang mungkin terjadi. Sehingga para kimiawan dapat menentukan kinetika reaksinya,
dan merancang teknik optimalisasi proses (Prianto, 2008)
2.1.6 Reaksi Reversibel
Arah reaksi dapat dibagi menjadi dua yaitu Reaksi irreversibel, atau reaksi yang
tidak dapat balik, artinya: zat-zat hasil reaksi tidak dapat kembali membentuk zat
pereaksi dan Reaksi Reversibel, artinya zat-zat hasil reaksi dapat kembali membentuk
zat pereaksi. Kesetimbangan dinamis dapat terjadi bila reaksi yang terjadi merupakan
reaksi bolak-balik. Untuk mengetahui arah reaksi dapat diketahui dengan tinajuan
termodinamika. Reaksi reversibel adalah reaksi di mana konversi reaktan ke produk dan
konversi produk untuk reaktan terjadi secara bersamaan. Sehingga harga K (konstanta
keseimbangan reaksi) reaksi akan mendekati 1 (Mutia, 2012).
2.1.7 Reaksi Eksotermis
Reaksi eksotermis merupakan reaksi yang disertai perpindahan kalor dari sistem ke
lingkungan. Pada reaksi eksotermis ini akan membebaskan energi sehingga entalpi
sistem akan berkurang dan perubahan entalpinya akan bertanda negatif (H < 0).
Sehingga pada lingkungan yang menerima kalor akan terasa panas. Sedangkan reaksi
endotermis adalah reaksi yang berlangsung di mana perpindahan kalor terjadi dari
lingkungan ke sistem sehingga perubahan entalpinya akan bertanda positif (H > 0).
(Suryaningsih, 2008).
2.1.8 Reaksi Non Adiabatis
Bila proses adiabatik merupakan proses yang terjadi pada sistem yang terisolasi,
maka berbeda dengan proses Non Adiabatis. Proses Non Adiabatis merupakan proses
yang terjadi pada sistem yang terjadi pertukaran kalor antara sistem dan lingkungan.
Reaksi Non adiabatis adalah reaksi yang dijalankan dalam suatu tempat dimana terdapat
panas yang ditambahkan dari pemanas atau terdapat panas yang dihilangkan ke
pendingin. Menurut Levenspiel (1999) Jumlah panas yang hilang atau yang
ditambahkan dapat dihitung dengan persamaan berikut :

2.2 Studi Kasus


2.2.1 Deskripsi Proses
Dalam perancangan ini digunakan studi kasus yang telah dirancang oleh Fadhil
(2014) yaitu proses dehidrasi Etanol. Proses Dehidrasi Etanol merupakan reaksi paralel
monomolekuler yang terdiri dari 1 Reaksi Utama yang menghasilkan Dietil Eter dan 1
Reaksi Samping yang menghasilkan Etilen.
Reaksi Utama

Reaksi Samping

2.2.2 Spesifikasi Bahan Baku dan Produk


a. Bahan baku (etanol)
Etanol (methyl alcohol) dengan rumus molekul COH adalah zat kimia yang tidak
berwarna, berbentuk cair pada temperatur kamar, mudah menguap dan sedikit
berbau ringan.
Rumus molekul : C2H6O
Berat molekul : 46,068 g/mol
Titik beku :- 144,14 C
Titik didih (pada 760 mmHg) : 78,29C
Panas pembentukan standar, H0f 298 (25C) : - 234950 J/mol
Panas pembakaran, H0C : - 1235000 J/mol
Energi Gibbs Gas Ideal, G0f 298 (250C) : - 167850 J/mol
Entropi Gas Ideal, S : 280,64 J/mol K
Kapasitas panas Minimum, Cpmin (-73C) : 52,24 J/mol K
Kapasitas panas, Cp (25C) : 111,46 J/mol K
Kapasitas panas Maksimum, Cpmax (1227C) : 165,76 J/mol K

b. Produk (dietil eter)


Dietil eter dibuat dengan proses dehidrasi etanol dengan katalisator asam sulfat atau
silika alumina.
Rumus molekul : C4H10O
Berat molekul : 74,12 g/mol
Titik beku : - 117,4C
Titik didih (pada 760 mmHg) : 34,5C
Panas pembentukan standar, H0f 298 (25C) : 252100 J/mol
Panas pembakaran, H0C : - 2503500 J/mol
Energi Gibbs Gas Ideal, G0f 298 (250C) : 122100 J/mol
Entropi Gas Ideal, S : 342,3 J/mol K
Kapasitas panas Minimum, Cpmin (-73C) : 93,16 J/mol K
Kapasitas panas, Cp (25C) : 35,425 J/mol K
Kapasitas panas Maksimum, Cpmax (1227C) : 292,44 J/mol K

2.2.3 Kondisi Operasi


Pembentukan dietil eter dengan metode dehidrasi etanol dilakukan dengan reaksi
berkatalis alumina (Al2O3) dan silika (SiO2) dengan suhu operasi 120C dan tekanan
4 atm. Hal ini diupayakan agar reaksi memiliki selektivitas yang tinggi karena
produk samping akan lebih banyak terbentuk pada suhu 180C (Fadhil, 2014).
2.2.4 Tinjauan Termodinamika
Berdasarkan tinjauan termodinamika, dapat diketahui apakah reaksi tersebut
bersifat eksotermis atau endotermis dengan menggunakan panas pembentukan
standar pada 1 atm dan 298 K (H0f 298) dari reaktan dan produk. Diketahui data
H0f298 (Perry, 2008):
2CH3CH2OH CH3CH2OCH2CH3 + H2O
H0f 298 CH3CH2OH = -234950 J/mol
H0f 298 CH3CH2OCH2CH3 = - 252100 J/mol
H0f 298 H2O = -241814 J/mol
H0f reaksi = H0f produk - H0f reaktan
H0298 = (H0f 298 CH3CH2OCH2CH3 + H0f 298 H2O) - (2 x H0f 298

CH3CH2OH)
= (-252100 + (-241814)) (2 x -234950)
= -24014 J/mol
Diketahui data H0f 298 standar (Perry, 2008) pada reaksi samping:
CH3CH2OH CH2=CH2 + H2O
H0f 298 CH3CH2OH = -234950 J/mol
H0f 298 CH2=CH2 = 52510 J/mol
H0f 298 H2O = -241814 J/mol
H0f reaksi = H0f produk - H0f reaktan
H0298 = (H0f 298 CH2=CH2 + H0f 298 H2O) - (H0f 298 CH3CH2OH)

= (52510 + (-241818)) (-234950)

= 45646 J/mol

Karena H reaksi utama bernilai negatif maka reaksi yang berlangsung adalah
reaksi eksotermis yang menghasilkan panas.
Untuk menentukan sifat reaksi apakah berjalan searah atau bolak balik dapat
diketahui dari nilai konstanta keseimbangan reaksi. Karena suhu operasi reaksi
dehidrasi etanol pada 120oC (393 K), maka nilai K443 perlu dihitung dengan
persamaan:
298 0
298 1 1
ln = ( ) (Levenspiel, 1957)

Diketahui data G0f 298 standar (Perry, 2008) pada reaksi utama:
2CH3CH2OH CH3CH2OCH2CH3 + H2O
G0f 298 CH3CH2OH = -167850 J/mol
G0f 298 CH3CH2OCH2CH3 = -122100 J/mol
G0f 298 H2O = -228590 J/mol
G0f reaksi = G0f produk - G0f reaktan
G0298 = (G0f 298 CH3CH2OCH2CH3 + G0f 298 H2O) - (2
x G0f 298 CH3CH2OH)
= (-122100 + -228590) (2 x -167850)
= -14990 J/mol
G 14990
298 = = 8,3144 .298 = 6,0499
0
298 298 1 1
ln = ( )

6,0499 24014 1 1
ln = (298 393) = 2888,242 . 8,111757 . 10-4 = 2,343
8,314

6,0499
= 2,343

= 0,581

Diketahui data G0f 298 standar (Perry, 2008) pada reaksi samping:
CH3CH2OH CH2=CH2 + H2O
G0f 298 CH3CH2OH = -167850 J/mol
G0f 298 CH2=CH2 = 68440 J/mol
G0f 298 H2O = -228590 J/mol
G0f reaksi = G0f produk - G0f reaktan
G0298 = (G0f 298 CH2=CH2 + G0f 298 H2O) - (G0f 298

CH3CH2OH)
= (68440 + -228590) (-167850)
= 7700 J/mol
G 7700
298 = = 8,3144 .298 = 0,0447
0
298 298 1 1
ln = ( )

0,0447 45646 1 1
ln = ( 393) = -5489,993265 . 8,111757 . 10-4 = -4,4533
8,314 298

0,0447
= 4,4533

= 3,84

Karena harga konstanta kesetimbangan reaksi utama mendekati 1, maka reaksi


berlangsung bolak-balik (reversible).

2.2.5 Tinjauan Kinetika


Persamaan Arhenius menyatakan hubungan antara energi aktivasi dan laju
reaksi. Dari persamaan Arrhenius, laju reaksi dapat dinyatakan sebagai :

=

Dimana:
k = koefisien laju reaksi
A = faktor frekuensi untuk reaksi
Ea = energi aktivasi
R = konstanta gas universal
T = suhu
Harga k untuk reaksi 1 didapat dari perhitungan dengan menggunakan rumus
berikut :

0 = ln

-14990 joule/mol = -8,314 joule/mol/K x 298 K x ln (K)


k = 6,049
Didapatkan nilai konstanta kecepatan reaksi 1 dan dimasukkan ke rumus Arrhenius:


6,049 =
Sedangkan harga k untuk reaksi 2 didapat dari perhitungan dengan
menggunakan rumus berikut :
0 = ln

7700 joule/mol = -8,314 joule/mol/K x 298 K x ln (K)


k = 0,047
Didapatkan nilai konstanta kecepatan reaksi 1 dan dimasukkan ke rumus Arrhenius:


0,047 =

Harga A, E, dan R tetap. Harga k dipengaruhi oleh temperatur reaksi.


Berdasarkan persamaan diatas jika harga T besar maka k besar. Namun menurut
Cameron et al (2012) setelah dilakukan penelitian dalam skala laboratorium untuk
suhu yang makin tinggi tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap
kecepatan reaksi. Di sisi lain byproduct akan lebih banyak terbentuk pada suhu
1800C. Sehingga suhu 1200C merupakan suhu operasi yang sesuai. Sedangkan untuk
pengaruh tekanan terhadap kinetika reaksi menurut Asas Le Chatelier, pada tekanan
rendah reaksi cenderung bergeser ke kanan mengingat jumlah mol gas diruas kanan
lebih besar dibanding ruas kiri. Diharapkan terbentuk produk lebih banyak.
Sebaliknya pada tekanan besar reaksi cenderung bergeser ke kiri, akibatnya produk
yang terbentuk tidak sebanyak reaksi pada tekanan rendah. Oleh sebab itu dipilih
tekanan operasi rendah pada 4 atm (Fadhil, 2014).

2.2.6 Kasus yang akan dirancang


Sebuah pabrik dietil eter menggunakan proses dehidrasi etanol untuk
menghasilkan produknya. Etanol 95%, dimasukkan ke dalam reaktor batch non
adiabatis bersama dengan alumina (Al2O3) sebagai katalisnya. Dalam reaktor yang
di atur agar beroperasi pada suhu 120 oC dan tekanan 4 atm ini akan memproduksi
dietil eter menurut reaksi:
2CH3CH2OH CH3CH2OCH2CH3 + H2O

Disamping reaksi utama di atas, dalam reaksi dehidrasi etanol menjadi dietil
eter juga terjadi reaksi samping dehidrasi etanol menjadi etilen yaitu:
CH3CH2OH CH2=CH2 + H2O

Profil konsentrasi masing-masing komponen pada berbagai waktu tinggal,


serta profil konversi terhadap waktu tinggal sangatlah diperlukan dalam
permasalahan tersebut. Hal ini dapat diselesaikan dengan menggunakan program
simulasi Scilab sebagai dasar pertimbangan dalam perancangan pabrik dietil eter
sesuai dengan masalah yang telah dikemukakan, (Data-data terkait reaksi utama
maupun reaksi samping tersedia pada subbab sebelumnya).
DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah. 2016. Jenis Jenis Reaktor. Diakses dari


https://www.scribd.com/doc/314687835/Jenis-Jenis-Reaktor pada 5 November 2016.
Bayu, Priyanto. 2008. Peran Kimia Komputasi dalam Mempelajari Mekanisme Reaksi Proses
Elektrolisis NaCl menjadi NaClO4. Peneliti Bidang Dirgantara :LAPAN
Fogler, H. S. (1999). Elements of Chemical Reaction Engineering, 3rd edition. New Delhi,
India: Prentice-Hall, Inc.
Levenspiel, O. (1972). Chemical reaction engineering. Chemical Engineering Science (Vol.
19). http://doi.org/10.1016/0009-2509(64)85017-X
Nima. 2015. Jenis Reaktor. Diakses dari http://www.academia.edu/5479938/Reaktor pada 5
November 2016.
Nirmala, Yahdi. 2013. Reaktor Alir Pipa. Diakses dari
http://nirmalayahdi.co.id/2013/05/reaktor-alir-pipa.html. pada 5 November 2016.
Perry, R.H., and Green, D.W., 1984, Perrys Chemical Engineers Hand Book, 6th. ed. Mc.
Graw Hill Co., International Student edition, Kogakusha, Tokyo.
Sagala, Sarman. 2009. Kinetika Kimia. Diakses dari http://garasi.in/kinetika-kimia.html pada
5 November 2016
Sasongko, Budi Setia. 2010. Metode Numerik dengan Scilab.Yogyakarta : ANDIYogyakarta
Simoehch. 2012. Manufacture of Diethyl Ether from Ethanol, (Pembuatan Dietil Eter dari
Ethanol). Diakses dari http://simoehch.blogspot.co.id/2012/12/judul-skripsi-
manufacture-of-diethyl.html pada 9 November 2016
Smith, J.M., and Van Ness,H.C., 1975, Introduction to Chemical Engineering
Thermodynamics , 3 rd. Ed. Mc. Graw Hill, kogakusha, Tokyo.

Speight, James. 2002. Chemical Process and Design Handbook. New York: McGraw-Hill
Book Company
Sungkar, Fadhil Muhammad. 2014. Prarancangan Pabrik Dietil Eter dari Etanol dengan
Proses Dehidrasi Kapasitas 35.000 Ton/Tahun. Surakarta : Teknik Kimia UMS.
Winda. 2010 Macam-Macam Reakto Rheterogen. Diakses dari http://migasnet11-
winda8010.co.id /2010/01/macam-macam-reaktor-heterogen.html pada 5 November
2016
LAMPIRAN
Jenis-jenis, Dimensi dan Perancangan

Reaktor

Bab 1
Reactor
Dalam teknik kimia, Reaktor adalah suatu bejana tempat berlangsungnya reaksi kimia.
Rancangan dari reaktor ini tergantung dari banyak variabel yang dapat dipelajari di teknik
kimia. Perancangan suatu reaktor kimia harus mengutamakan efisiensi kinerja reaktor,
sehingga didapatkan hasil produk dibandingkan masukan (input) yang besar dengan biaya yang
minimum, baik itu biaya modal maupun operasi. Tentu saja faktor keselamatan pun tidak boleh
dikesampingkan. Biaya operasi biasanya termasuk besarnya energi yang akan diberikan atau
diambil, harga bahan baku, upah operator, dll. Perubahan energi dalam suatu reaktor kimia bisa
karena adanya suatu pemanasan atau pendinginan, penambahan atau pengurangan tekanan,
gaya gesekan (pengaduk dan cairan), dll.
Dalam reaktor alir pipa atau plug flow reactor, campuran reaktan dan produk mengalir
dengan profil kecepatan yang benar-benar rata. Kecepatan alir dan konsentrasi adalah seragam
di seluruh jari-jari pada setiap penempang reaktor dan tidak ada difusi longitudinal baik dari
reaktan maupun produknya. Dalam bab-bab terdahulu telah dibahas cara-cara perhitungan
untuk mendesain suatu reaktor, baik untuk reaktor tertutup (reaktor batch), reaktor alir tangki
berpengaduk (RATB) dan Reaktor Aliran Sumbat (Plug Flow Reaktor). Perhitungan-
perhitungan tersebut dilakukan dengan anggapan bahwa temperature reaksi adalah tetap selama
operasi. Sehingga analisisnya relatif sederhana karena hanya ada satu variabel saja yang
berubah, yaitu konsentrasi reaktan.
Di dalam praktek hipotesa aliran dalam reaktor alir pipa ini biasanya cocok untuk
reaktor-reaktor berbentuk tabung dimana aliran fluidanya betul-betul turbulen atau untuk jenis
reaktor fixed bed yang berisi packing. Jika dalam reaktor alir pipa diisi dengan katalis padat
disebut reaktor fixed bed atau fluidized bed.
Reaktor alir pipa desebut ideal jika zat-zat pereaksi dan hasil reaksi mengalir dengan
kecepatan yang sama diseluruh pemampang pipa. Di reaktor komposisi , suhu dan tekanan
diseluruh penampang reaktor selalu sama. Perbedaan komposisi, suhu dan tekanan hanya
terjadi di sepanjang dinding reaktor. Reaktor jenis ini banyak digunakan dalam industri dengan
zat pereaksi atau reaktan berupa fase gas atau cair dengan kapasitas produksi yang cukup besar.
Apabila pada saat reaksi reaksi berlangsung, efek panas turut diperhitungkan, maka
ada kemungkinan bahwa temperatur reaksi juga akan turut berubah dengan waktu (waktu
reaksi untuk reaktor batch atau waktu tinggal untuk reaktor alir kontinyu).
Reaktor merupakan peralatan utama atau peralatan yang terintegrasi, baik dalam
jaringan sistem distribusi maupun transmisi. Dikatakan bahwa reaktor merupakan peralatan
utama jika pemasangannya tidak menjadi bagian dari paralatan dasar lainnya, misalnya reaktor
pembatas arus (current liminting reactors), reaktor paralel (shunt reactor/steady-state reactive
compensation) dll. Dikatakan bahwa reaktor merupakan peralatan terintegrasi jika reaktor
tersebut merupakan bagian dari suatu peralatan dengan unjuk kerja tertentu, misalnya reaktor
surja hubung kapasitor paralel (shunt-capacitor-switching reactor), reaktor peluah kapasitor
(capacitor discharge reactor), reaktor penyaring (filter reactor) dan lain-lain.

Bab 2
Jenis-jenis Reaktor dan dimensinya

Secara garis beras reaktor terbagi menjadi 2 yaitu :

a. Reaktor nuklir, ada perubahan massa yang berubah jadi energi yang sangat besar.
b. Reaktor kimia, tidak ada perubahan massa selama reaksi dan hanya berubah dari satu
bahan ke bahan lain.

Reaktor Nuklir
Reaktor nuklir adalah suatu alat untuk mengendalikan reaksi fisi berantai dan sekaligus
menjaga kesinambungan reaksi itu. Reaktor nuklir ditetapkan sebagai "alat yang menggunakan
materi nuklir sebagai bahan bakarnya Materi fisi yang digunakan sebagai bahan bakar misalnya
uranium, plutonium dan lain-lain. Untuk uranium digunakan uranium alam atau uranium
diperkaya. Jadi secara umum reaktor nuklir adalah tempat berlangsungnya reaksi nuklir yang
terkendali. Untuk mengendalikan operasi dan menghentikannya digunakan bahan penyerap
neutron yang disebut batang kendali.
Jenis reaktor nuklir dibedakan berdasarkan besarnya energi kinetik neutron yang
merupakan faktor utama dalam reaksi fisi berantai, yaitu reaktor neutron panas, reaktor neutron
cepat dan lain-lain. Berdasarkan jenis materi yang digunakan sebagai moderator dan pendingin,
reaktor diklasifikasikan menjadi reaktor air ringan, reaktor air berat, reaktor grafit dan lain-
lain. Berdasarkan tujuannya, diklasifikasikan menjadi reaktor riset, reaktor uji material, reaktor
daya dan lain-lain

Klasifikasi Reaktor
a. Macam reaktor dibedakan berdasarkan kegunaan, tenaga neutron dan nama komponen
serta parameter operasinya. Menurut kegunaan:
i. Reaktor daya
ii. Reaktor riset termasuk uji material dan latihan
iii. Reaktor produksi isotop yang kadang-kadang digolongkan juga
kedalam reaktor riset.

b. Ditinjau dari tenaga neutron yang melangsungkan reaksi pembelahan, reaktor


dibedakan menjadi:
I. Reaktor cepat: GCFBR, LMFBR, SCFBR
II. Reaktor thermal: PWR, BWR, PHWR, GCR.

Berdasarkan parameter yang lain dapat disebut: *


I. Reaktor berreflektor grafit: GCR, AGCR
II. Reaktor berpendingin air ringan: PWR, BWR
III. Reaktor suhu tinggi: HTGR Demikian seterusnya masih banyak
terdapat nama atau jenis reaktor.

Reaktor Fisi
Reaktor fisi merupakan instalasi yang menghasilkan daya panas secara konstan dengan
memanfaatkan reaksi fisi berantai. Istilah ini dibedakan dengan reaktor fusi yang
memanfaatkan panas dari reaksi fusi, Dimungkinkan adanya reaktor yang memadukan kedua
jenis tersebut (reaktor hibrid).

Reaktor Fusi
Reaktor fusi adalah suatu instalasi untuk mengubah energi yang terjadi pada reaksi fusi
menjadi energi panas atau listrik yang mudah dimanfaatkan. Reaksi fusi merupakan reaksi
penggabungan inti atom ringan, misalnya reaksi antara deuterium dan tritium. Deutrium sangat
melimpah di alam, namun tritium tidak ada di alam ini. Oleh karena itu, bahan yang
mengandung Li-6 digunakan sebagai selimut, selanjutnya direaksikan dengan neutron yang
terjadi dari reaksi fusi untuk menghasilkan tritium, sehingga diperoleh siklus bahan bakar.
Sistem reaktor fusi terdiri dari bagian plasma teras, selimut, bejana vakum, magnet
superkonduktor, dan lain-lain.
Dibandingkan dengan reaktor fisi, reaktor fusi tidak akan mengalami lepas kendali, dan
sedikit menghasilkan produk radioaktif, sehingga memiliki tingkat keselamatan yang tinggi.
Reaktor Penelitian Reaktor riset/penelitian adalah suatu reaktor yang dimanfaatkan untuk
berbagai macam tujuan penelitian. Misalnya reaktor uji material yang digunakan secara khusus
untuk uji iradiasi, reaktor untuk eksperimen fisika reaktor, reaktor riset untuk penelitian dengan
menggunakan berkas neutron dan alat eksperimen kekritisan, reaktor untuk pendidikan dan
pelatihan. Di antara reaktor-reaktor tersebut, yang disebut reaktor riset pun terdiri dari berbagai
macam, misalnya reaktor untuk eksperimen berkas neutron dan uji iradiasi material, reaktor
untuk eksperimen perisai, reaktor untuk uji pulsa dan lain-lain.
Tipe-tipe reaktor riset antara lain tipe kolam berpendingin dan bermoderator air berat,
tipe kolam berpendingin dan bermoderator air ringan dan tipe kolam berpendingin air ringan
dan bermoderator air berat.

Komponen-komponen Reaktor
Untuk dapat memngendalikan laju pembelahan, suatu reaktor nuklir harus didukug
dengan beberapa fasilitas yang disebut sebagai KOMPONEN REAKTOR .
komponen-komponen utama tersebut dapat diterangkan melalui diagram seperti terlihat pada
gambar 1 berikut:
1. Bahan bakar nuklir/bahan dapat belah
2. Bahan moderator
3. Pendingin reaktor
4. Perangkat batang kendali
5. Perangkat detektor
6. Reflektor
7. Perangkat bejana dan perisai reactor
8. Perangkat penukar panas Komponen
No. 1 s/d 6 berada pada suatu lokasi yang disebut sebagai teras reaktor, yaitu suatu
tempat dimana reaksi berantai tersebut berlangsung.

Bahan Bakar Nuklir


Terdapat dua jenis bahan bakar nuklir yaitu BAHAN FISIL dan BAHAN FERTIL.
Bahan Fisil
ialah : suatu unsur/atom yang langsung dapat memberikan reaksi pembelahan apabila dirinya
menangkap neutron. Contoh: 92U233, 92U235, 94PU239, 94PU241
Bahan Fertil
ialah : suatu unsur /atom yang setelah menangkap neutron tidak dapat langsung membelah,
tetapi membentuk bahan fisil. Contoh: 90TH232, 92U238
Pada kenyataannya sebagian besar bahan bakar nuklir yang berada di alam adalah
bahan fertil, sebaai contoh isotop Thorium di alam adalah 100% Th-232, sedangkan isotop
Uranium hanya 0,7% saja yang merupakan bahan fisil (U-235), selebihnya sebesar 99,35
adalah bahan fertil (U-238). Karena alasan fisis, elemen bakar suatu reaktor dibuat dengan
kadar isotop fisilnya lebih besar dari kondisi alamnya, isotop yang demikian disebut sebagai
isotop yang diperkaya, sedangkan sebaliknya untuk kadar isotop fisil yang lebih kecil dari
kondisi alamnya disebut sebagai isotop yang susut kadar, biasanya ditemui pada elemen bakar
bekas. Selain perubahan kadar bahan fisilnya, elemen bakar biasanya dibuat dalam bentuk
oksida atau paduan logam dan bahkan pada dasa warsa terakhir ini sudah banyak
dikembangkan dalam bentuk silisida. Contoh komposisi elemen bakar yang banyak dipakai:
UO2, U3O8-Al, UzrH, U3Si2-Al dan lain-lain. Tujuan utama dibuatnya campuran tersebut
adalah agar diperoleh elemen bakar yang nilai bakarnya tinggi, titik lelehnya tinggi,
penghantaran panasnya baik, tahan korosi, tidak mudah retak serta mampu menahan produk
fisi yang terlepas
Dalam reaksi fisi, neutron yang dapat menyebabkan reaksi pembelahan adalah neutron
thermal. Neutron tersebut memiliki energi sekitar 0,025 eV pada suhu 27oC. sementara neutron
yang lahir dari reaksi pembelahan memiliki energi rata-rata 2 MeV, yang sangat jauh lebih
besar dari energi thermalnya. Syarat bahan moderator adalah atom dengan nomor massa kecil.
Namun demikian syarat lain yang harus dipenuhi adalah: memiliki tampang lintang serapan
neutron (keboleh-jadian menyerap neutron) yang kecil, memiliki tampang lintang hamburan
yang besar dan memiliki daya hantara panas yang baik, serta tidak korosif. Contoh H2O, D2O
(Grafit), Berilium (Be) dan lain-lain.

Pendingin Reaktor
Pendingin reaktor berfungsi sebagai sarana pengambilan panas hasil fisi dari dalam
elemen bakar untuk dipindahkan/dibuang ke tempat lain/lingkungan melalui perangkat
penukar penukar panas (H.E.). Sesuai dengan fungsinya maka bahan yang baik sebagai
pendingin adalah fluida yang koefisien perpindahan panasnya sangat bagus. Persyaratan lain
yang harus dipenuhi agar tidak mengganggu kelancaran proses fisi pada elemen bakar adalah
pendingin juga harus memiliki tampang lintan serapan neutron yang kecil, dan tampang lintang
hamburan yang besar serta tidak korosif. Contoh fluida-fluida yang biasa dipakai sebagai
pendingin adalah: H2O, D2O, Na cair. Gas He dan lain-lain.

Batang Kendali Reaktor


Batang kendali berfungsi sebagai pengendali jalannya operasi reaktor agar laju
pembelahan/populasi neutron di dalam teras reaktor dapat diatur sesuai dengan kondisi operasi
yang dikehendaki. Selain hal tersebut, batang kendali juga berfungsi untuk memadamkan
reaktor/menghentikan reaksi pembelahan. Sesuai dengan fungsinya, bahan batang kendali
adalah material yang mempunyai tampang lintang serapan neutron yang sangat besar, dan
tampang lintang hamburan yang kecil. Bahan-bahan yang sering dipakai adalah: Boron,
cadmium, gadolinium dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut biasanya dicampur dengan bahan
lain agar diperoleh sifat yang tahan radiasi, titik leleh yang tinggi dan tidak korosif. Prinsip
kerja pengaturan operasi adalah dengan jalan memasukkan dan mengeluarkan batang kendali
ke dan dari teras reaktor. Jika batang kendali dimasukkan, maka sebagian besar neutron akan
tertangkap olehnya, yang berarti populasi neutron di dalam reaktor akan berkurang dan
kemudian padam. Sebaliknya jika batang kendali dikeluarkan dari teras, maka populasi neutron
akan bertambah, dan akan mencapai tingkat jumlah tertentu. Pertambahan/penurunan populasi
neutron berkait langsung dengan perubahan daya reaktor.

Perangkat Detector
Detektor adalah komponen penunjang yang mutlak diperlukan di dalam reaktor nuklir.
Semua insformasi tentang kejadian fisis di dalam teras reaktor, yang meliputi popularitas
neutron, laju pembelahan, suhu dan lain-lain hanya dapat dilihat melalui detektor yang
dipasang dalam di dalam teras. Secara detail mengenai masalah tersebut akan dibicarakan
dalam pelajaran instrumentasi reaktor.

Reflektor
Neutron yang keluar dari pembelahan bahan fisil, berjalan dengan kecepatan tinggi ke
segala arah. Karena sifatnya yag tidak bermuatan listrik maka gerakannya bebas menembus
medium dan tidak berkurang bila tidak menumbuk suatu inti atom medium. Karena sifat
tersebut, sebagian neutron tersebut dapat lolos keluar teras reaktor, atau hilang dari sistem.
Keadaan ini secara ekonomi berati kerugian, karena netron tersebut tidak dapat digunakan
untuk proses fisi berikutnya. Untuk mengurangi kejadian ini, maka sekeliling teras reaktor
dipasang bahan pemantul neutron yang disebut reflektor, sehingga nutron-neutron yang lolos
akan bertahan dan dikembalikan ke dalam teras untuk dimanfaatkan lagi pada proses fisi
berikutnya.
Bahan-bahan reflektor yang baik adalah unsur-unsur yang mempunyai tampang lintang
hamburan neutron yang besar, dan tampang lintang serapan yang sekecil mungkin serta tidak
korosif. Bahan-bahan yang sering digunakan antara lain: Berilium, Grafit, Parafin, Air, D2O.

Bejana dan Perisai Reaktor


Bejana/tangki raktor berfungsi untuk menampung fluida pendingin agar teras reaktor
selalu terendam di dalamnya. Bejana tersebut selain harus kuat menahan beban, maka harus
pula tidak korosif bila berinteraksi dengan pendingin atau benda lain di dalam teras. Bahan
yang bisa digunakan adalah: alumunium, dan stainless stell. Perisai reaktor berfungsi untuk
menahan/menghambat/menyerap radiasi yang lolos dari teras reaktor agar tidak menerobos
keluar sistem reaktor.
Karena reaktor adalah sumber radiasi yang sangat potensial, maka diperlukan suatu
sistem perisai yang mampu menahan semua jenis radiasi tersebut pada umumnya perisai yang
digunakan adalah lapisan beton berat.

Perangkat penukar Panas


Perangkat penukar panas (Heat exchanger) merupakan komponen penunjang yang
berfungsi sebagai sarana pengalihan panas dari pendingin primer, yang menerima panas dari
elemen bakar, untuk diberikan pada fluida pendingin yang lain (sekunder). Dengan sistem
pengambilan panas tersebut maka integritas komponen teras akan selalu terjamin. Pada jenis
reaktor tertentu, terutama jenis PLTN, H.E. juga berfungsi sebgai fasilitas pembangkit uap.

Menentukan diameter dan tinggi reaktor


a. Diameter dalam shell (Di)
Pemilihan head

Untuk menentukan bentuk-bentuk head ada 3 pilihan :


- Flanged and Standar Dished Head

Digunakan untuk vesel proses vertikal bertekanan rendah, terutama digunakam untuk tangki
penyimpan horizontal, serta untuk menyimpan fluida yang volatil. F 13
- Torispherical Flanged and Dished Head

Digunakan untuk tangki dengan tekanan dalam rentang 15 psig (1,020689 atm) 200 psig
(13,60919 atm).
- Elliptical Flanged and Dished Head

Digunakan untuk tangki dengan tekanan tinggi dalam rentang 100 psig dan tekanan diatas 200
psig ( Brownell and Young, 1959).
Oleh karena tekanan operasi reaktor yaitu 20 atm, maka digunakan Elliptical Flanged and
Dished Head .
.
b. Diameter Dalam Shell (Di)

VL, total = + + 0,000076 4 HD L 2i 42 sf D i 3i D


Keterangan :
Di = Diameter dalam shell,ft
HL = Tinggi cairan, ft
Diambil perbandingan tinggi cairan terhadap diameter dalam shell`standar dan tinggi sf adalah
:
HL = Di (Geankoplis, 1993)
sf = 2 in = 0,167 ft
Vtotal = 4D 3i 4 D 2i sf 3i D 000076 ,0
Diperoleh Di = 4,994 ft = 59,934 in F 14
DIPERIKSA TANDA
NO TANGGAL KETERANGAN TANGAN
1. 4 November Acc Judul
2016

2. 9 November Perbaiki Bab 1 2 dan Header


2016
3. 11 November 2016 Tambahkan skema monomolekuler,
perbaiki tujuan, hitung nilai k, dan kasus
yang akan dirancang
LEMBAR ASISTENSI

Anda mungkin juga menyukai