Anda di halaman 1dari 11

PERCOBAAN 5

APLIKASI PENGUAT SATU TRANSISTOR DAN


PENGUAT BERTINGKAT

5.1 Tujuan Percobaan


Setelah melakukan percobaan ini, anda diharapkan dapat:

1. Mengukur penguatan tegangan penguat transistor.


2. Menjelaskan fungsi pemberian bias pada transistor.
3. Menjelaskan fungsi kapasitor by pass dan pengaruhnya terhadap penguatan
sinyal.
4. Menyelidiki fungsi kapasitor kopling pada penguat dua tingkat.
5. Mengukur fungsi respon dari penguat.

5.2 Dasar Teori

Transistor dapat berfungsi sebagai penguat sinyal. Jika sinyal AC dipasang


pada masukan akan mengakibatkan perubahan arus pada keluarannya, jika
resistor beban dipasang. Sinyal keluaran yang dihasilkan dapat lebih besar dari
sinyal masukannya. Pembesaran sinyal ini disebut sebagai penguatan. Hal ini
tentunya terjadi jika transistor diberi bias (tegangan DC) dengan benar.

Dalam percobaan ini, akan dilakukan pengukuran terhadap penguat transistor


dengan konfigurasi emitor bersama, sehingga base sebagai masukan sedangkan
kolektor sebagai keluaran(Gambar 10.1). Dalam pembahasan perlu diperhatikan
komponen yang dapat mempengaruhi sinyal AC untuk itu rangkaian penguat
dapat digambarkan sebagai berikut.
Q1

R1 R2
1K 1K

Untuk sinyal AC sumber tegangan dan kapasitor dianggap hubung singkat


(diganti dengan tahanan dalamnya). Tegangan AC dasar pada penguat adalah
tegangan kolektor terhadap ground (VC), tegangan emitor (VE), dan tegangan
basis (VB).

Menentukan penguatan tegangan

Tegangan keluaran (VC) adalah:

VC =Ic.Rc

=Ie.Re(Ic.Ie)

Tegangan masukan (VB) adalah:

Vb =Vbe+Ie.Re

=Ie.re+Ie.Re

=Ie(re+Re)re<<Re

Vb Ie.Re

Penguat tegangan untuk transistor

Konfigurasi common enmitor dapat dihitung secara pendekatan

Av =vc/vb

=ie.rc/ie.re

=Rc/Re
Untuk rangkaian penguat AC, pada umumnya dipasang kapasitor langsung
pada resistor emitor yang berfungsi untuk memperbesar penguat tegangan.
Dalam pemakaian secara umum, diperlukan suatu penguat sinyal dengan
penguat yang cukup besar sehingga diperlukan beberapa penguat diskrit yang
dihubungkan. Untuk penggabungan penguat-penguat ini diperlukan komponen
penghubung yang disebut kopling. Kopling yang banyak dijumpai untuk
penguat sinyal dengan frekuensi di atas 10 Hz adalah jenis kopling RC
(resistance kapasitance kopling). Kapasitor kopling mempunyai sifat
melewatkan sinyal AC tetapi menghalangi tegangan DC, ini perlu untuk
mencegah bergesernya titik kerja (Qpoint) transistor. Penguatan tegangan
penguat bertingkat ini merupakan perkalian antara tingkat pertama dan kedua.

Menentukan tanggapan frekuensi (frekuensi response)

Setiap perubahan frekuensi masukan penguatan transistor akan berubah. Ini


disebabkan faktor-faktor yang ada di dalam transistor (seperti kapasitor
sambungan) komponen-komponen pendukungnya. Untuk melakukan
pengukuran dapat dilakukan dengan mengukur tegangan masukan dan tegangan
keluaran untuk daerah frekuensi yang lebar. Sehingga diperoleh penguatan
tegangan yang turun sebesar 0,707 x penguatan maksimum. Pada frekuensi
yang penguatan turun sebesar 0,707 x Vmax adalah batas frekuensi yang diizin
lewat (frekuensi cut off).

5.3 Alat dan Bahan


1. Catu daya 1 buah
2. Generator fungsi 1 buah
3. Osiloskop 1 buah
4. Multimeter 1 buah
5. Transistor BC 550 2 buah
6. Kapasitor 4,7 F 2 buah
7. Resistor 10k, 47k, 150 1 buah
8. Resistor 1k dan 3k3 2 buah
9. Potensiometer 220 1 buah
10. Papan percobaan 1 buah
11. Kawat penghubung
12. Kapasitor 100 F 2 buah
13. Kapasitor 470 F 1 buah

Gambar Rangkaian

R1 R3
1K 1K
10 uF

10 uF
Q1

R2 R4
1K 1K 100 uF

Gambar 5.2
R5 R7
R1 R3
4,7K 1K
10K 1K 4,7 uF
4,7uF

4,7 uF

Q1
Q1

R2 R4 R6 R8
3,3K 470K 100uF 15K 100 uF
470

Vcc

Gambar 5.3

B. Penguatan RC dua tingkat


1. Rakitlah rangkaian seperti 5.3.
2. Atur tegangan catu daya 12 V, hubungkan dengan rangkaian.
3. Pasang generator fungsi pada masukan, atur pada frekuensi 1 kHz dengan
amplitudo 100 mVpp.
4. Ukur tegangan masukan, keluaran TR1 dan tegangan keluaran TR2.
Vin =V
Vout1 =V
Vout2 =V

5. Hitung penguatan dari TR1 dan TR2 dan penguat bertingkat.


Av1 =V
Av2 =V
Av =V
6. Dengan menggunakan multimeter ukurlah tegangan DC pada base, emiter
dan kolektor emiter masing-masing transistor.
VCE1= V ;VCE2= V
VBE1= V ;VBE2= V
7. Gantilah R15K (pada base TR2) dengan R 3K3.
8. Amati gambar keluaran dengan osiloscope, gambarkan.
9. Ulangi pengukuran pada langkah 6.
VCE1= V ;VCE2= V
VBE1= V ;VBE2=
10. Kembalikan lagi R15K sehingga tegangan keluaran menjadi tidak distorsi.
11. Ukurlah frekuensi respon penguat dengan mengukur tegangan keluaran
sebagai fungsi dari frekuensi untuk tegangan masukan konstan. Isikan
dalam tabel berikut.
Frekuensi (Hz) Vin Vout Av
10
30
50
100
300
500
1K
3K
5K
10K
30K
50K
100K
300K
5.4 Keselamatan Kerja
1. Dalam merangkai usahakan yang rapi, sehingga apabila terjadi kesalahan
mudah melacaknya.
2. Perhatikan untuk setiap langkah pengukuran sehingga diperoleh hasil yang
akurat dan sesuai dengan tujuan.

5.5 Tugas dan Pertanyaan


1. Apabila hasil pengukuran penguatan tegangan pada penguat satu tingkat
sesuai dengan teori, berilah penjelasan!
2. Apa pengaruh kapasitor emiter (Ce) terhadap penguatan tegangannya!
3. Pada saat amplitudo masukan dinaikkan, tegangan keluaran akan terpotong.
Jelaskan!
4. Pada penguat RC2 tingkat, apakah terjadi perbedaan penguatan antara TR1
dan TR2?
5. Pada saat resistansi base 15K diganti, gelombang keluaran menjadi
cacat(distorsi), mengapa?
6. Gambarkan grafik frekuensi respon dan tentukan batas-batas frekuensi cut
off nya?

Jawaban:

1. Pada rangkaian penguat, umumnya menghubungkan penguat dengan sinyal


input dan output digunakan komponen penggandeng dan salah satunya
kapasitor. Jika dibuat tanggapan amplitudo penguat maka pada daerah
frekuensi rendah dan tinggi. Penguatan berubah terhadap perubahan
frekuensi.
2. Kapasitor emiter berpengaruh sebagai penguat, kapasitor emiter (bay pass)
kapasitor ketika terhubung, cabang emiter terhubung ke ground seperti short
circuit dan arus tidak melewati Re. Ketika Ce ini dilepas menyebabkan
pengurangan tegangan yang besarnya sama dengan penambahan resistansi
masukan.
3. Ketika amplitudo dinaikkan, otomatis tegangan akan terpotong karena
tegangan akan ikut naik ketika amplitudo dinaikkan sehingga terpotong dan
tidak terbaca di osiloskop.
4. Terjadi perbedaan karena pada saat TR1 masih terjadi 1 penguatan tetapi
pada saat TR2 itu sudah menjadi 2 penguatan karena dipengaruhi harga R.
5. Ketika R15K diganti, otomatis keluaran akan cacat karena tidak sesuai, jika
R15K diganti maka R yang diserikan harus diganti agar dapat keluaran yang
sempurna.

6. Gambar Grafik frekuensi respon

Vo

Jalur dilewatkan Jalur Jalur dilewatkan


ditahan

Frekuensi
5.6 Data Percobaan

Penguat RC Dua Tingkat

Vin Vout1 Vout2 Av1 Av2 Av


12 V 12 V 12,5 V 12,5 V 9V
Pada saat R15K (pada base TR2)

VCE1 VBE1 VCE2 VBE2


8V 8,5 V 12,5 V 9V
Pada saat R3K3 (pada base TR2)

VCE1 VBE1 VCE2 VBE2


12 V 7V 12 V 8V

Pada saat R15K untuk mengukur frekuensi respon penguat.

Frekuensi (Hz) Vin Vout Av


10 6 11,5
30 11 11,5
50 11 12
100 9,9 11,5
300 11 11,7
500 11 11,7
1K 11 11,5
3K 9,5 11,8
5K 11 11,5
10K 11 11,5
30K 10 11,8
50K 10 11,5
100K 11 11,7
300K 11 11,8
Gambar
Pada keadaan

VBE 1

VBE 2

VCE 1

VCE 2

Vin
Vout