Anda di halaman 1dari 27

BAB I

STATUS PASIEN

I. Identifikasi
Nama : An. KR
Jenis kelamin : Perempuan
Usia : 2 Tahun
Alamat : Gunung Ibul, Prabumulih
Pendidikan : Belum Sekolah
Pekerjaan : -
Agama : Islam
Suku : Palembang
Bangsa : Indonesia
No. Rekam medis/registrasi : 12.49.50

II. Anamnesis
(Alloanamnesis pada tanggal 10 September 2017 pukul 16.40 WIB)
Keluhan utama
Kemasukan benda asing pada hidung sebelah kanan
Keluhan tambahan
-
Riwayat perjalanan penyakit
1 jam yang lalu pasien menangis dan mengelus-ngelus
hidungnya. Pasien bersin-bersin dan keluar cairan bening dari hidung
kanan pasien, bau (-), mimisan (-), hidung kanan tersumbat (+), sesak
nafas (-), demam (-), batuk (-). Keluhan nyeri telinga dan tenggorokan
disangkal. Paman pasien melihat adanya benda asing berwarna hijau di
hidung kanan pasien. Pasien dibawa ke IGD RSUD Prabumulih.

Riwayat penyakit dahulu


Keluar cairan dari telinga : disangkal

1
Hipertensi : disangkal
Penyakit Jantung : disangkal
Penyakit Ginjal : disangkal
Penyakit Kelamin : disangkal
Diabetes Melitus : disangkal
Tuberkulosis : disangkal
Asma : disangkal
Alergi : disangkal
Sakit gigi : disangkal
Nyeri menelan berulang : disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


Hipertensi : disangkal
Penyakit Jantung : disangkal
Penyakit Ginjal : disangkal
Penyakit Kelamin : disangkal
Diabetes Melitus : disangkal
Tuberkulosis : disangkal
Asma : disangkal
Alergi : disangkal

Riwayat Kebiasaan
Tidak ada

III. Pemeriksaan Fisik


a. Status presens
1) Pemeriksaan umum
Keadaan umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : Tidak dilakukan
Nadi : 91 x/menit

2
Pernapasan : 20x/menit
Suhu : 36,5C
Berat badan : 12 kg
Tinggi badan : 80 cm
IMT : Normoweight

2) Pemeriksaan Khusus
Kepala : Konjungtiva palpebra OS dan OD tidak
anemis, sklera tidak ikterik.
Leher : Pembesaran KGB (-), massa (-)
Thoraks : Simetris, tidak tampak kelainan pada
dinding dada.
Cor: BJ I dan II (+) normal, batas jantung
normal, murmur tidak ada,gallop tidak
ada.
Pulmo: sonor dikedua lapangan paru,
vesikuler (+) normal, ronkhi (-),
wheezing (-).
Abdomen : Simetris, datar, nyeri tekan (-), timpani,
bising usus (+) normal
Ekstremitas : Bentuk normal
Kulit : Tidak tampak kelainan

3
b. Status Lokalis
Telinga

I. TelingaLuar Kanan Kiri


RegioRetroaurikula
Abses - -
Sikatrik - -
Pembengkakan - -

Fistula - -

Jaringan granulasi - -

RegioZigomatikus
Kista Brankial Klep - -
- -
Fistula
- -
Lobulus Aksesorius
Aurikula
- -
Mikrotia
- -
Efusi perikondrium
- -
Keloid
- -
Nyeri tarik aurikula
- -
Nyeri tekan tragus
Meatus AkustikusEksternus
Lapang/sempit
Lapang Lapang
Oedema
- -
Hiperemis
- -
Pembengkakan - -
Erosi - -
Krusta - -
Sekret (serous/seromukus/mukopus/pus) - -
Perdarahan - -
Bekuandarah - -

4
Cerumen plug - -
Epithelial plug - -
Jaringangranulasi - -

Debris - -

Benda asing - -

Sagging - -
- -
Exostosis
- -
II.Membran Timpani
Warna (putih/suram/hiperemis/hematoma) Putih Putih
Bentuk (oval/bulat) Bulat Bulat
Pembuluhdarah Normal Normal

Reflekscahaya (+) arah jam 5 (+) arah jam 7

Retraksi - -

Bulging - -
- -
Bulla
- -
Ruptur
- -
Perforasi
- -
(sentral/perifer/marginal/attic)
- -
(kecil/besar/ subtotal/ total)
- -
Pulsasi
- -
Sekret (serous/ seromukus/ mukopus/ pus)
Tidak terlihat Tidak terlihat
Tulangpendengaran
- -
Kolesteatoma
- -
Polip
- -
Jaringangranulasi

5
Gambar Membran Timpani

Hidung
I. TesFungsiHidung Kanan Kiri
Tes aliran udara Terhambat Cukup
Tes penciuman Tidak Tidak
Teh dilakukan dilakukan
Kopi
Tembakau
II. Hidung Luar
Dorsum nasi Normal Normal
Akar hidung Normal Normal
Puncak hidung Normal Normal
Sisi hidung Normal Normal
Alanasi Normal Normal
Deformitas - -
Hematoma - -
Pembengkakan - -
Krepitasi - -
Hiperemis - -
Erosi kulit - -

6
Vulnus - -
Ulkus - -
Tumor - -
Duktus nasolakrimalis (tersumbat/tidak tersumbat) Tidak Tidak
tersumbat tersumbat
III. Hidung Dalam
1. Rinoskopi Anterior
a. Vestibulum nasi
Sikatrik - -
Stenosis - -
Atresia - -

Furunkel - -

Krusta - -

Sekret (serous/seromukus/mukopus/pus) (+) -


(+) -
Benda Asing
Utuh Utuh
b. Kolumela
- -
Utuh/tidakutuh
- -
Sikatrik
Lapang Lapang
Ulkus
- -
c. Kavum nasi
- -
Luasnya (lapang/cukup/sempit)
- -
Sekret (serous/seromukus/mukopus/pus)
- -
Krusta
- -
Bekuandarah
- -
Perdarahan
- -
Benda asing
(+) -
Rinolit
- -
Polip - -
Tumor - -

7
d. Konka Inferior Tidak dapat
Mukosa dinilai Eutropi
(erutopi/ hipertropi/atropi) Basah
(basah/kering) licin
(licin/taklicin) Merah muda
Warna (merahmuda/hiperemis/pucat/livide)
Tumor
e. Konka media Tidak dapat Tidak dapat

Mukosa dinilai dinilai

(erutopi/ hipertropi/atropi)
(basah/kering)
(licin/taklicin)
Warna (merahmuda/hiperemis/pucat/livide)
Tumor
f. Konka superior Tidak dapat Tidak dapat
dinilai dinilai
Mukosa
(erutopi/ hipertropi/atropi)
(basah/kering)
(licin/taklicin)
Warna (merahmuda/hiperemis/pucat/livide)
Tumor
Tidak dapat Tidak dapat
g. Meatus Medius
dinilai dinilai
Lapang/ sempit
Sekret (serous/seromukus/mukopus/pus)
Polip
Tumor
h. Meatus inferior
Tidak dapat Lapang
Lapang/ sempit
dinilai -
Sekret (serous/seromukus/mukopus/pus)
-
Polip
-

8
Tumor -
i. Septum Nasi
Mukosa Tidak dapat Eutropi
(erutopi/ hipertropi/atropi) dinilai Basah
(basah/kering) Licin
(licin/taklicin)
Warna (merahmuda/hiperemis/pucat/livide) Merah muda

Tumor -

Deviasi -

(ringan/sedang/berat)
(kanan/kiri)
(superior/inferior)
(anterior/posterior)
(bentuk C/bentuk S)
Krista -
-
Spina
-
Abses
-
Hematoma
-
Perforasi
-
Erosi septum anterior

9
GambarDinding Lateral HidungDalam

GambarHidungDalamPotongan Frontal

2. Rinoskopi Posterior Kanan Kiri


Postnasal drip Tidak Tidak
Mukosa Dilakukan dilakukan
(licin/taklicin)
(merahmuda/hiperemis)
Adenoid
Tumor
Koana (sempit/lapang)
Fossa Russenmullery (tumor/tidak)

10
Torus tobarius (licin/taklicin)
Muara tuba
(tertutup/terbuka)
(sekret/tidak)

Gambar Hidung Bagian Posterior

IV. Pemeriksaan Sinus Paranasal Kanan Kiri


Nyeritekan/ketok
Infraorbitalis - -
Frontalis - -
Kantus medialis - -
Pembengkakan - -
Transiluminasi Tidak Tidak
Regioinfraorbitalis dilakukan dilakukan
Regio palatum durum

I.RonggaMulut Kanan Kiri


1. Lidah
(hiperemis/udem/ulkus/fissura) Normal Normal
(mikroglosia/makroglosia)

11
(leukoplakia/gumma)
(papilloma/kista/ulkus)
2. Gusi (hiperemis/udem/ulkus) Normal Normal
3. Bukal Normal Normal
(hiperemis/udem)
(vesikel/ulkus/mukokel)
4. Palatum durum Normal Normal
(utuh/terbelah/fistel)
(hiperemis/ulkus)
(pembengkakan/abses/tumor)
(rata/tonus palatinus)
5. Kelenjarludah Normal Normal
(pembengkakan/litiasis)
(striktur/ranula)
6. Gigi geligi Normal Normal
(mikrodontia/makrodontia)
(anodontia/supernumeri)
(kalkulus/karies)
II.Faring Kanan Kiri
1. Palatummolle (hiperemis/udem/asimetris/ulkus) Normal Normal
2. Uvula (udem/asimetris/bifida/elongating) Tengah Tengah
3. Pilar anterior Normal Normal
(hiperemis/udem/perlengketan)(pembengkakan/u
lkus) Normal Normal
4. Pilar posterior
(hiperemis/udem/perlengketan)(pembengkakan/u Tenang Tenang
lkus)
5. Dindingbelakang faring Normal Normal
(hiperemis/udem)(granuler/ulkus)(secret/membra
n) T1 T1

12
6. Lateral band (menebal/tidak) Rata Rata
7. Tonsil Palatina Kenyal Kenyal
(derajatpembesaran) Lekat Lekat
(permukaan rata/tidak) Tidak lebar Tidak lebar
(konsistensi kenyal/tidak) - -
(lekat/tidak) - -
(kripta lebar/tidak) - -
(dentritus/membran)
(hiperemis/udem)
(ulkus/tumor)

Gambarronggamulutdan faring

Rumusgigi-geligi

13
III.Laring Kanan Kiri
Laringoskopi tidak langsung (indirect)
Dasar lidah (tumor/kista) - -
Tonsila lingualis (eutropi/hipertropi) Eutropi Eutropi
Valekula (benda asing/tumor) - -

Fosa piriformis (benda asing/tumor) - -

Epiglotis (hiperemis/udem/ulkus/membran) Normal Normal

Aritenoid (hiperemis/udem/ulkus/membran) Normal Normal

Pita suara
(hiperemis/udem/menebal)
Normal Normal
(nodus/polip/tumor)
(geraksimetris/asimetris)
Normal Normal
Pita suarapalsu (hiperemis/udem)
Lapang Lapang
Rima glottis (lapang/sempit)
Normal Normal
Trakea
Laringoskopi langsung (direct) Tidak dilakukan

14
Gambar laring (laringoskopi tidak langsung)

IV. Pemeriksaan Penunjang


-

V. Diagnosis Banding
-

VI. Diagnosis Kerja


Corpus Alienum Kavum Nasi Dextra

VII. Tatalaksana
- Extraksi corpus alienum
- Kontrol ulang jika ada keluhan

VIII. Prognosis
Quo ad Vitam : Bonam
Quo ad Functionam : Dubia ad Bonam

15
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi Hidung


Untuk mengetahui penyakit dan kelainan hidung, perlu diingat kembali
tentang anatomi hidung. Anatomi dan fisiologis normal harus diketahui dan
diingat kembali sebelum terjadi perubahan anatomi dan fisiologi yang dapat
berlanjut menjadi suatu penyakit atau kelainan.1
Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung bagian dalam. Hidung bagian
luar menonjol pada garis tengah diantara pipi dan bibir atas, sedangkan struktur
hidung luar dibedakan atas tiga bagian yaitu bagian paling atas adalah kubah
tulang yang tak dapat digerakkan, dibawahnya terdapat kubah kartilago yang
sedikit dapat digerakkan dan yang paling bawah adalah lobulus hidung yang
mudah digerakkan. Bentuk hidung luar seperti piramid dengan bagian-bagiannya
dari atas ke bawah adalah pangkal hidung (bridge), batang hidung (dorsum nasi),
puncak hidung (hip), ala nasi, kolumela dan lubang hidung (nares anterior).
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi
oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan
atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari tulang hidung (os
nasal), prosesus frontalis os maksila dan prosesus nasalis os frontal. Sedangkan
kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di
bagian bawah hidung, yaitu sepasang kartilago nasalis lateralis superior, sepasang
kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai kartilago ala mayor
dan tepi anterior kartilago septum.1,2

16
Gambar 1. Anatomi Hidung1

Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari os


internum di sebelah anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan rongga
hidung dari nasofaring. Kavum nasi dibagi oleh septum, dinding lateral terdapat
konka superior, konka media, dan konka inferior. Celah antara konka inferior
dengan dasar hidung dinamakan meatus inferior, berikutnya celah antara konka
media dan inferior disebut meatus media dan sebelah atas konka media disebut
meatus superior. Septum membagi kavum nasi menjadi dua ruang kanan dan kiri.
Bagian posterior dibentuk oleh lamina perpendikularis os etmoid, bagian anterior
oleh kartilago septum (kuadrilateral), premaksila dan kolumela membranosa,
bagian posterior dan inferior oleh os vomer, krista maksila, krista palatine serta
krista sfenoid.2

Gambar 2. Anatomi Hidung Dalam1

17
Kompleks ostiomeatal (KOM) adalah bagian dari sinus etmoid anterior
yang berupa celah pada dinding lateral hidung. Pada potongan koronal sinus
paranasal gambaran KOM terlihat jelas yaitu suatu rongga di antara konka media
dan lamina papirasea. Struktur anatomi penting yang membentuk KOM adalah
prosesus unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus semilunaris, bula etmoid, agger
nasi dan ressus frontal. Serambi depan dari sinus maksila dibentuk oleh
infundibulum karena sekret yang keluar dari ostium sinus maksila akan dialirkan
dulu ke celah sempit infundibulum sebelum masuk ke rongga hidung. Sedangkan
pada sinus frontal sekret akan keluar melalui celah sempit resesus frontal yang
disebut sebagai serambi depan sinus frontal. Dari resesus frontal drainase sekret
dapat langsung menuju ke infundibulum etmoid atau ke dalam celah di antara
prosesus unsinatus dan konka media.2

Gambar 3. Kompleks Ostiomeatal1

Suplai darah cavum nasi berasal dari sistem karotis yaitu arteri karotis
eksterna dan karotis interna. Arteri korotis interna bercabang menjadi arteri
etmoid anterior dan posterior. Arteri karotis eksterna memberikan suplai darah
terbanyak pada cavum nasi melalui arteri sphenopalatina yang merupakan cabang
terminal arteri maksilaris yang berjalan melalui foramen sphenopalatina,
memperdarahi septum tiga perempat posterior dan dinding lateral
hidung.Sedangkan arteri palatina desenden memberikan cabang arteri palatina
mayor yang berjalan melalui kanalis incisivus palatum durum dan menyuplai
bagian inferoanterior septum nasi. Sistem karotis interna melalui arteri oftalmika

18
mempercabangkan arteri ethmoid anterior dan posterior yang memperdarahi
septum dan dinding lateral superior.1,2

Gambar 4. Anatomi Vaskularisasi Hidung1

3.2 Corpus Alienum Hidung


3.2.1 Definisi Corpus Alienum Hidung
Corpus alienum di hidung adalah benda asing yang berasal dari luar tubuh
atau dalam tubuh yang pada keadaan normal tidak terdapat pada hidung.3

3.2.2 Epidemiologi Corpus Alienum Hidung


Kasus benda asing di hidung paling sering terjadi pada anak, terutama
pada usia 1 - 4 tahun. Pada usia ini anak cenderung mengeksplorasi tubuhnya
terutama daerah yang berlubang termasuk hidung. Mereka dapat pula
memasukkan benda asing sebagai upaya mengeluarkan sekret atau benda asing
yang sebelumnya ada di hidung atau untuk mengurangi rasa gatal dan perih akibat
iritasi yang sebelumnya sudah terjadi.
Benda asing yang tersering ditemukan yaitu sisa makanan, permen, manik-
manik dan kertas. Benda asing seperti plastik dapat pula bertahan lama karena
sukar didiagnosis akibat sifatnya yang noniritatif dan radiolusen sehingga tidak
tampak dari pemeriksaan radiologik.Benda asing, meskipun tampak sebagai
masalah yang tidak serius, juga dapat menimbulkan morbiditas bahkan mortalitas

19
bila masuk ke saluran nafas bawah. Pada usia dibawah 1 tahun, aspirasi benda
asing merupakan penyebab utama kematian.3

3.2.3 Faktor Predisposisi Corpus Alienum Hidung


Faktor yang mempermudah terjadinya aspirasi benda asing di hidung
antara lain faktor personal (umur, jenis kelamin, pekerjaan, kondisi sosial dan
tempat tinggal), kegagalan mekanisme proteksi normal (keadaan tidur, kesadaran
menurun, alkoholisme dan epilepsi), ukuran, bentuk serta sifat benda asing serta
faktor kecerobohan.3,4

3.2.4Klasifikasi Corpus Alienum Hidung


Berdasarkan asalnya, benda asing digolongkan menjadi dua golongan,
yaitu benda asing eksogen atau benda asing yang berasal dari luar tubuh biasanya
masuk melalui hidung atau mulut. Benda asing eksogen terdiri dari benda padat,
cair atau gas. Benda asing eksogen padat terdiri dari zat organik seperti kacang-
kacangan (yang berasal dari tumbuhan-tumbuhan), tulang (yang berasal dari
kerangka binatang) dan zat anorganik seperti paku, jarum, peniti, batu, kapur
barus (naftalen) dan lain-lain. Benda asing eksogen cair dibagi dalam benda cair
yang bersifat iritatif, seperti zat kimia, dan benda cair noniritatif, yaitu cairan
dengan pH 7,4. Benda asing endogen yaitu yang berasal dari dalam tubuh. Benda
asing endogen dapat berupa sekret kental, darah atau bekuan darah, nanah, krusta,
perkijuan. Cairan amnion, mekonium dapat masuk ke dalam saluran napas bayi
pada saat proses persalinan.4
Berdasarkan konsistensinya benda asing dapat juga digolongkan menjadi
benda asing yang lunak seperti kertas, kain, penghapus, sayuran, dan yang keras
seperti kancing baju, manik-manik, baterai dan lain-lain.4 Pembagian yang lainnya
seperti benda asing mati, yang tersering yaitu manik-manik, baterai logam,
kancing baju. Kapur barus merupakan kasus yang jarang namun mengandung
naftalen yang bersifat sangat mengiritasi. Kasus baterai logam di hidung juga
harus diperlakukan sebagai kasus gawat darurat yang harus dikeluarkan segera,
karena kandungan zat kimianya yang dapat bereaksi terhadap mukosa hidung.4

20
Benda hidup, yang paling sering ditemukan adalah larva lalat, lintah, dan
cacing.Beberapa kasus miasis hidung yang pernah ditemukan di hidung manusia
disebabkan oleh larva lalat dari spesies Chryssomya bezziana.Chrysomya
bezziana adalah serangga yang termasuk dalam famili Calliphoridae, ordo
diptera, subordo Cyclorrapha, kelas Insecta. Lalat dewasa berukuran sedang
berwarna biru atau biru kehijauan dan berukuran 8-10 mm, bergaris gelap pada
toraks dan pada abdomen bergaris melintang. Larva mempunyai kait-kait di
bagian mulutnya berwarna coklat tua atau coklat orange.Lintah(Hirudinaria
javanica) merupakan spesies dari kelas hirudinae. Hirudinea adalah kelas dari
anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filumannelida.
Anggota jenis cacing ini tidak mempunyai rambut, parapodia, dan seta. Tempat
hidup hewan ini ada yang berada di air tawar, air laut, dan di darat. Lintah
merupakan hewan pengisap darah. Pada tubuhnya terdapat alat pengisap di kedua
ujungnya yang digunakan untuk menempel pada tubuh inangnya. Pada saat
mengisap, lintah ini mengeluarkan zat penghilang rasa sakit dan mengeluarkan zat
anti pembekuan darah sehingga darah korban tidak akan membeku. Setelah
kenyang mengisap darah, lintah itu akan menjatuhkan dirinya ke dalam air.
Bentuk tubuh lintah ini pipih, bersegmen, mempunyai warna kecokelatan, dan
bersifat hemaprodit.5

Gambar 5. Benda Asing Hidung5

21
3.2.5 Patofisiologi Corpus Alienum Hidung
Benda asing hidung lebih sering terjadi pada anak-anak terutama kisaran
umur 2-4 tahun. Anak-anak cenderung memasukkan benda-benda yang ditemukan
dan dapat dijangkaunya ke dalam lubang hidung, mulut atau dimasukkan oleh
anak lain.4 Benda yang dimasukkan ke dalam hidung anak biasanya benda yang
lembut. Benda tersebut masuk ke hidung saat anak mencoba untuk mencium
sesuatu. Anak sering menaruh benda ke dalam hidung karena perasaan bosan,
ingin tahu atau meniru anak lain.5
Benda asing hidung dapat ditemukan di setiap bagian rongga hidung,
sebagian besar ditemukan di dasar hidung tepat dibawah konka inferior. Lokasi
lainnya ada di depan dari konka media. Benda-benda kecil yang masuk kebagian
anterior rongga hidung dapat dengan mudah dikeluarkan dari hidung. Benda asing
yang berada di rongga hidung dalam waktu yang cukup lama serta benda hidup
dapat menimbulkan berbagai kesulitan dalam mengeluarkan benda asing.5

Gambar 6. Lokasi benda asing yang masuk ke rongga hidung (IT= inferior turbinate,
MT= middle turbinate, SS= sphenoid sinus, ST= superior turbinate)5

Benda asing yang masuk ke rongga postnasal dapat teraspirasi dan


terdorong ke belakang saat usaha pengeluaran sehingga menimbulkan obstruksi
jalan nafas akut. Benda asing di hidung juga berpengaruh dalam membawa
organisme penyebab penyakit difteri dan penyakit infeksi lainnya. Oleh karena

22
itu, benda asing hidung dapat menyebabkan masalah yang nyata dan jangan
dianggap remeh.4
Beberapa benda asing yang masuk kedalam rongga hidung dapat bertahan
bertahun-tahun tanpa adanya perubahan mukosa, namun sebagian besar benda
mati yang masuk ke hidung dapat menimbulkan pembengkakan mukosa hidung
dengan kemungkinan menjadi nekrosis, ulserasi, erosi mukosa, dan epistaksis.
Tertahannya sekresi mukus, benda asing yang membusuk serta ulserasi dapat
menyebabkan sekret berbau busuk.5
Sebuah benda asing dapat menjadi inti peradangan yang nyata bila
terbenam di jaringan granulasi dengan menerima lapisan kalsium, magnesium
fosfat dan karbonat yang demikian akan menjadi sebuah rhinolith. Terkadang
proses ini dapat terjadi di area mukopus bahkan bekuan darah yang sering disebut
nidus. Rhinolith endogen yang terbentuk dari inti darah atau mukus jarang terjadi
pasa usia dibawah 4 tahun, sedangkan rhinolith eksogen yang terbentuk dari
benda asing yang diselimuti oleh garam dapat terjadi pada usia berapapun.
Rhinolith umumnya terletak di dasar hidung bersifat radioopak, single, sferis
ireguler namun dapat menunjukkan pemanjangan sesuai dengan arah tumbuh di
rongga hidung.6
Benda-benda erosif seperti baterai dapat mengakibatkan kerusakan parah
dari septum hidung. Hal ini dapat terjadi karena benda erosif ini mengandung
berbagai jenis logam berat seperti merkuri, seng, perak, nikel, kadmium, dan
lithium. Pembebasan zat ini menyebabkan berbagai jenis lesi tergantung pada
lokalisasi dengan reaksi jaringan lokal serta nekrosis. Sebagai hasilnya terbentuk
perforasi septum, sinekia, penyempitan dan stenosis dari rongga hidung.5

3.2.6 Manifestasi Klinis Corpus Alienum Hidung

Hidung tersumbat oleh secret mukopurulen yang banyak dan berbau di


salah satu rongga hidung tempat adanya benda asing. Kadang disertai nyeri,
demam, epistaksis dan bersin. Pada pemeriksaan tampak mukosa edema dengan
inflamasi mukosa hidung unilateral, serta dapat juga terjadi ulserasi.Bila benda
asing berupa lintah, terdapat epistaksis berulang yang sulit berhenti meskipun

23
sudah diberikan koagulan. Pada rinoskopi posterior tampak benda asing berwarna
coklat tua, lunak, dan melekat erat pada mukosa hidung atau nasofaring.6

3.2.7Diagnosis Corpus Alienum Hidung


Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Gejala yang timbul pada anak akibat adanya benda asing
di hidung adalah hidung tersumbat, rinore unilateral yang kental dan berbau.
Dapat disertai demam dan nyeri. Gejala lain bervariasi sesuai patogenesisnya.
Misalnya benda asing seperti karet busa, sangat cepat menimbulkan secret yang
berbau busuk. Baterai logam di dalam hidung dapat menimbulkan keluhan rasa
terbakar atau panas di hidung.Benda asing hidup yang terdapat di dalam hidung
kebanyakan menimbulkan sensasi benda yang bergerak-gerak. Epitaksis tanpa
rasa nyeri sering menjadi keluhan utama pada pasien dengan lintah di dalam
hidungnya.5
Pada pemeriksaan rinoskopi anterior, selain benda asing yang dapat dilihat
langsung, akan tampak edema dengan inflamasi mukosa hidung unilateral, dan
dapat terjadi ulserasi. Benda asing biasanya tertutup mukous sehingga disangka
sinusitis. Lintahbiasanya sulit dilihat dengan rinoskopi anterior, sehingga kadang
memerlukan pemeriksaan endoskopi. Bila terlihat, maka akan tampak benda asing
berwarna coklat tua dengan perabaan lunak dan melekat pada mukosa. Pada
miasis, hidung tampak bengkak, kemerahan di sekita mata dan sebagian muka
atas. Mukosa hidung nekrotik, kadang-kadang perforasi septum nasi, serta hidung
berbau busuk.5,8

3.2.8 Penatalaksanaan
Benda asing pada hidung yang harus diperlakukan sebagai kasus gawat
sehingga harus dikeluarkan secepatnya antara lain adalah baterai. Cara
mengeluarkan benda asing di hidung ialah memakai pengait (hook) yang
dimasukkan ke dalam hidung bagian atas, menyusuri atap kavum nasi sampai
menyentuh nasofaring. Setelah itu pengait diturunkan sedikit dan ditarik ke depan.
Dengan cara ini benda asing akan ikut terbawa keluar. Dapat juga menggunakan

24
forsep alligator, cunam Nortman atau wire loop. Bila benda asing berbentuk bulat,
maka sebaiknya digunakan pengait yang ujungnya tumpul.7,8
Cara lain yaitu dengan menggunakan kateter dengan balon ukuran 5F atau
6F yang dimasukkan ke dalam hidung melewati benda asing yang terperangkap,
kemudian balon dikembangkan, sehingga benda asing diharapkan akan keluar ke
nares anterior dan mudah diekstraksi. Sebelum tindakan dilakukan, terlebih
dahulu diberikan fenilefrin 0,5% untuk mengurangi edema mukosa dan lidokain
topikal atau spray sebagai analgetik. Hindari mendorong benda asing dari hidung
kearah nasofaring karena akan menyebabkan masuknya benda asing tersebut ke
dalam laring sehingga menyebabkan sumbatan saluran nafas.7,8
Benda asing hidup sebaiknya dimatikan terlebih dahulu dengan tetes minyak
parafin atau alkohol sebelum diangkat. Untuk lintah dapat diteteskan tembakau.
Pada miasis hidung, dianjurkan pemberian reagen tertentu misalnya kloroform,
premium yang dapat melemahkan larva, kemudian larva tersebut diambil satu per
satu. Tindakan operatif dengan melakukan nekrotomi merupakan tindakan
alternatif lain yang dilakukan dengan cara memberikan tetes kloroform terlebih
dahulu.Pemberian antibiotik sistemik selama 5-7 hari hanya diberikan pada kasus
benda asing di hidung yang telah menimbulkan infeksi pada hidung maupun
sinus.7,8

3.2.9 Komplikasi
Perdarahan merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada corpus
alienum di hidung. Edema pada mukosa dapat menyebabkan obstruksi pada
drainase sinus dan tuba eustachius sehingga mengakibatkan sinusitis dan otitis
media akut. Rinolith dapat timbul bila benda asing bertahan selama bertahun-
tahun. Infeksi struktur jaringan di sekitar hidung juga dapat terjadi, seperti
selulitis periorbital, meningitis, epiglositis, difteri, dan tetanus.8

25
BAB II
ANALISIS KASUS

Anak perempuan berusia 2 tahun datang ke IGD RSUD Prabumulih


karena kemasukan benda asing di dalam hidung sebelah kanan. Pasien menangis
dan mengelus-ngelus hidungnya. Pasien bersin-bersin dan keluar cairan bening
yang tidak berbau dari hidung kanan pasien. Hidung kanan terasa tersumbat, sesak
nafas dan demam tidak ada. Jika ditinjau dari manifestasi klinis benda asing pada
hidung adalah hidung tersumbat, keluarnya sekret, dapat berbau, disertai gejala
nyeri, bersin-bersin, epistaksis, hingga demam. Berdasarkan epidemiologi, benda
asing pada hidung paling sering terjadi pada anak-anak terutama pada usia 1-4
tahun.
Pada pemeriksaan rinoskopi anterior, selain benda asing yang dapat dilihat
langsung, akan tampak edema dengan inflamasi mukosa hidung unilateral, dan
dapat terjadi ulserasi. Pemeriksaan fisik pada pasien didapatkan tes aliran hidung
kanan terhambat, pemeriksaan rinoskopi anterior pada vestibulum nasi dextra
didapatkan sekret berwarna jernih dan tampak benda asing utuh berwarna hijau.
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis korpus alienum
pada kavum nasi dextra dapat ditegakkan. Tatalaksana yang dapat dilakukan
adalah ekstraksi korpus alienum dengan menggunakan pengait (hook). Pasien
dipeluk oleh orang tuanya dan dilakukan fiksasi, lalu pengait dimasukkan ke
dalam hidung bagian atas, menyusuri atap kavum nasi. Setelah itu pengait
diturunkan sedikit dan ditarik ke depan. Dengan cara ini benda asing akan ikut
terbawa keluar. Ditemukan benda asing berupa buah seri berwarna hijau,
konsistensi keras berukuran 0,4 cm.

26
DAFTAR PUSTAKA
1. Elsie K, Vincent I, Nolan J. Epistaksis, Vaskular Anatomy, Origins and
EndovaskularTreatment, 1999. In
:http://www.ajonline.org/cgi/contents.html
2. Soetjipto D, Mangunkusumo E, Wardani RS. Hidung. In: Soepardi EA,
Iskandar N (eds). Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok
kepala leher. Edisi 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2007.
3. Ballenger J. Penyakit Telinga Hidung Tenggorok dan Kepala Leher. Edisi
13. Jilid II.Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2002.
4. Junizaf, MH. 2008. Benda Asing di Saluran Napas. Dalam: Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi 6.
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
5. Heim SW, Maughan KL. Foreign Body in the Ear, Nose, and
Throat. University of Virginia School of Medicine, Charlottesville,
virginia. Am Fam Phisician 2007, oct 15; 76 (8).
6. Mansjoer A. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia: 2007.
7. Adams GL. BOEIS: Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok.
Edisi 6. Jakarta: EGC: 1997.
8. Fischer JI. Nasal Foreign Bodies. 2013. In http:
http://emedicine.medscape.com/article/763767

27