Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN KASUS ORAL MEDICINE

TORUS PALATINUS

Disusun Oleh :

Nama : SULVI ANGGRAINI, S.KG

NIM : 2017-16-114

Dosen Pembimbing :

drg. Manuel DHL, Sp.PM


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)

JAKARTA

2017

LAPORAN KASUS

TORUS PALATINUS

Sulvi Anggraini, S.KG

2017-16-114

Mahasiswa Kedokteran Gigi, Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Bagian Penyakit Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

PENDAHULUAN

Torus palatinus merupakan variasi normal dalam rongga mulut yang cukup sering

ditemukan dalam pemeriksaan rutin oleh dokter gigi. Tori yang berarti tonjolan dalam

bahasa latin tidak dianggap sebagai kondisi patologis, namun merupakan variasi

anatomis dengan prevalensi rata-rata pada populasi dunia yaitu 26,9%. Castro Reino

dkk mengartikan torus atau eksostosis sebagai penonjolan tulang kongenital dengan

karakter jinak mengarah pada osteoblas yang berlebihan sehingga tulang menjadi

menumpuk sepanjang garis dari fusi palatum atau badan mandibula.1

Penyebab dari torus belum diketahui secara pasti. Beberapa teori meyakini bahwa

faktor genetik cukup berperan besar disertai faktor lokal seperti stres dan trauma.1,2,3
Kemungkinan lain yang dapat menyebabkan terjadinya torus yaitu makanan,

defisiensi vitamin atau suplemen kaya kalsium serta diet.4 Dalam studi Eggen dkk dan

Al-Bayaty dkk menyebutkan bahwa konsumsi dari ikan berhubungan dengan

kemunculan torus karena ikan mengandung omega 3, asam lemak tidak jenuh dan

vitamin D yang dapat mendorong pertumbuhan tulang.5

Torus palatinus biasanya berukuran diameter kurang dari 2 cm, namun terkadang

perlahan-lahan dapat bertambah besar dan memenuhi seluruh langit-langit.

Kebanyakan torus tidak menyebabkan gejala.5 Bila tidak ada keluhan, torus palatinus

tidak memerlukan perawatan. Namun pada pasien yang memakai gigi tiruan, torus

palatinus dapat mengganjal basis gigi tiruan sehingga harus dihilangkan dengan

pembedahan. Pada kebanyakan kasus, torus ditemukan tidak sengaja dan ditemukan

saat pemeriksaan. Hal ini disebabkan karena asimptomatik dan pasien tidak sadar

akan adanya torus tersebut.4

Diagnosis ditegakan berdasarkan pemeriksaan klinis serta pemeriksaan x-ray.

Dalam pemeriksaan x-ray menunjukkan densitas yang sedikit lebih tinggi dibanding

tulang sekitarnya. Diagnosis banding torus palatinus adalah eksostosis dan abses

palatal. Eksostosis biasanya terletak dibagian bukal sedangkan torus palatinus terletak

di midline palatum. Pada abses palatal biasanya ditemukan faktor iritasi seperti plak,

kalkulus atau gigi yang mengalami karies. Warna mukosa terlihat merah seperti

meradang sedangkan torus memiliki warna yang sama dengan jaringan sekitarnya.

Biasanya juga ditemukan pus pada abses palatal.4

LAPORAN KASUS
Seorang pasien wanita berusia 22 tahun datang ke laboratorium penyakit mulut

RSGM FKG UPDM (B) dengan keluhan adanya tonjolan pada langit-langit rongga

mulut. Berdasarkan hasil anamnesis, pasien baru menyadari adanya tonjolan

dilangit-langit rongga mulutnya sekitar satu bulan yang lalu saat dilakukan

pemeriksaan gigi, tonjolan tidak terasa sakit dan tidak membesar (Gambar 1). Pasien

juga mengatakan bahwa memiliki riwayat keluarga serupa.

Pada riwayat perawatan gigi, pasien menyikat gigi 2 kali sehari tanpa memakai

obat kumur. Pasien menggunakan alat ortodonti cekat dan terakhir ke dokter gigi satu

bulan lalu untuk dilakukan kontrol alat ortodonti cekat.

Pada pemeriksaan ekstra oral pasien tampak baik. Pada pemeriksaan intra

oral terdapat tonjolan kecil dengan ukuran < 2 cm pada median palatum durum, 1

lobus dengan konsistensi keras, tidak sakit dan sewarna dengan jaringan sekitar.

Diketahui oral hygiene pasien baik.

GAMBARAN KLINIS

GAMBAR 1
Terdapat tonjolan kecil dengan ukuran < 2 cm pada median palatum durum, 1 lobus dengan konsistensi
keras, tidak sakit dan sewarna dengan jaringan sekitar.
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan klinis, diagnosis yang dapat ditegakkan

dari kasus ini adalah Torus Palatinus sebagai variasi normal dalam rongga mulut.

Perawatan yang dilakukan adalah KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi)

yaitu penjelasan mengenai torus palatinus yang merupakan variasi normal dalam

rongga mulut agar pasien mengerti. Diberikan informasi juga kepada pasien bahwa

penyebab dari torus tidak diketahui dengan pasti namun pada kasus ini diduga

berkaitan dengan faktor genetik. Kemudian dapat dilakukan observasi untuk melihat

apakah adanya pembesaran ukuran serta perlu dilakukan pembedahan jika nantinya

pasien ingin memakai gigi tiruan rahang atas yang dapat mengganggu kecekatan dari

plat.

PEMBAHASAN

Pada laporan kasus ini, pasien adalah seorang wanita berusia 22 tahun mengeluh

adanya tonjolan pada langit-langit rongga mulut. Berdasarkan anamnesis dan

pemeriksaan klinis, dapat ditarik kesimpulan bahwa diagnosis dari keluhan pasien

tersebut adalah Torus Palatinus. Kriteria torus palatinus yang sesuai dengan laporan

kasus ini adalah pasien memiliki tonjolan dilangit-langit rongga mulutnya, tidak

terasa sakit dan tidak membesar. Pada riwayat perawatan gigi, pasien menyikat gigi 2

kali sehari tanpa memakai obat kumur. Pasien menggunakan alat ortodonti cekat dan

terakhir ke dokter gigi satu bulan lalu untuk dilakukan kontrol alat ortodonti cekat.

Pada pemeriksaan ekstra oral pasien tampak baik. Pada pemeriksaan intra oral

terdapat tonjolan kecil dengan ukuran < 2 cm pada median palatum durum, 1 lobus

dengan konsistensi keras, tidak sakit dan sewarna dengan jaringan sekitar. Diketahui

oral hygiene pasien baik.


Dari anamnesis, diketahui pasien memiliki riwayat keluarga yang serupa. Dalam

hal ini dikaitkan adanya kemungkinan keterlibatan faktor genetik yang berperan

sebagai faktor predisposisi dari timbulnya torus palatinus.

Hal ini dibuktikan dalam penelitian Curran dkk yang menganalisis sebuah kasus

dimana anak perempuan, ibu dan neneknya memiliki sifat osteosklerosis dominan

autosom, torus mandibularis dan torus palatinus, dimana ketiganya ditemukan

mempunyai hal yang sama.6

KESIMPULAN

Torus palatinus merupakan suatu variasi normal dalam rongga mulut. Diagnosa

didapat dari anamnesis yang tepat serta pada pemeriksaan klinis ditemukannya nodul

pada palatum. Faktor penyebab belum dapat ditentukan, tetapi faktor genetik dapat

dikaitkan dalam kasus ini. Dalam penatalaksanaan torus perlu dilakukan observasi

untuk mengetahui apakah adanya pembesaran ukuran dan dilakukan pembedahan jika

mengganggu kecekatan gigi tiruan rahang atas nantinya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Garcia-Garcia AS, Martinez-Gonzales JM, Gomez-Font R, Soto-Rivadeneira A,

Oviedo-Roldan L. Current status of the torus palatinus and torus mandibularis.

Med Oral Patol Oral Cir Bucal. 2010; 15(2):353-360.

2. Morrison MD, Tamimi F. Oral local tori are associated with mechanical and

systemic factors: a case-control study. J Oral Maxillofac Surg. 2013; 71(1):14-22.

3. Vaduganathan M, Marciscano AE, Olson KR. Torus palatinus. Proc (Bayl Univ

Med Cent). 2014; 27(3):259.


4. Al-Bayaty HF, Murti PR, Matthews R, Gupta PC. An epidemiological study of

tori among 667 dental outpatients in trinidad & tobago, west indies. Int Dent J.

2001; 51(4):300-4.

5. MacInnis EL, Hardie J, Baig M, Al-Sanea RA. Gigantiform torus palatinus:

review of the literature and report of a case. Int Dent J. 1998; 48(1):40-3.

6. Curran AE, Pfeffle RC, Miller E. Autosomal dominant osteosclerosis: report of a

kindred. Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod. 1999;

87(5):600-604.