Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Sejarah Perkembangan PT. PERTAMINA (Persero) RU III


PT. Pertamina (Persero) adalah badan usaha milik negara (BUMN) yang
bergerak dibidang penambangan minyak dan gas bumi (MIGAS) di Indonesia.
Pertamina berkomitmen mendorong proses transformasi internal dan
pengembangan yang berkelanjutan guna mencapai standar internasional dalam
pelaksanaan operasional dan manajemen lingkungan yang lebih baik, serta
peningkatan kinerja perusahaan sebagai sasaran bersama.
Upaya pencarian (eksplorasi) sumber minyak bumi di Indonesia pertama
kali dilakukan oleh Jhon Reenik (Belanda) pada tahun 1871 di kaki Gunung
Ceremai, sedangkan eksploitasi minyak bumi pertama kali dilakukan di Telaga
Tunggal pada tahun 1885, sumur ini merupakan sumur pertama dikawasan
Hindia-Belanda yang berproduksi secara komersial. Seiring dengan semakin
banyaknya sumber minyak mentah yang sudah ditemukan, pada akhir abad ke-18 mulai
didirikan beberapa perusahaan-perusahaan minyak asing, seperti Shell, Stanvac,
Royal Dutch Company, dll yang melakukan pengeboran di Indonesia. Setelah
Indonesia merdeka pada tahun 1945, usaha untuk mengambil alih kekuasaan
sektor industry minyak dan gas bumi mulai dilakukan.
Berdasarkan Undang-Undang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi, UU
No.44/1961, dibentuklah tiga perusahaan negara (PN) di sektor minyak dan gas
bumi, yaitu :
a. PN. PERTAMIN, Perusahaan Negara Pertambangan Minyak Indonesia
(disahkan berdasarkan PP No. 3/1961). Perusahaan ini bermula dari
perusahaan Nederlandsche Indische Aardolie Maatschappij (NIAM) yang
didirikan tahun 1921. Pada tanggal 1 Januari 1959 namanya berubah
menjadi PT. Pertambangan Minyak Indonesia (PT. PERMINDO).
Kemudian pada tahun 1965 PN. ini mengambil alih semua kekayaan PT.
Shell Indonesia termasuk di dalamnya kilang Plaju, Balikpapan, dan
Wonokromo.
b. PN. PERMINA, Perusahaan Negara Perusahaan Minyak Nasional
(disahkan berdasarkan PP No. 198/1961). Perusahaan ini merupakan
peralihan nama dari PT. ETMSU. Sejak tahun 1961 PN. inilah yang

1
2

melakukan operasi penyediaan dan pelayanan bahan bakar minyak dalam


negeri.
c. PN. PERMIGAN, Perusahaan Negara Pertambangan Minyak dan Gas
Nasional (disahkan berdasarkan PP No. 199/1961). Perusahaan ini semula
berasal dari Perusahaan Tambang Minyak Rakyat Indonesia (PTMRI)
yang berlokasi di Sumatera Utara, namanya berubah menjadi PN.
PERMIGAN pada tahun 1961. Pada tanggal 6 April 1962, pemerintah
Indonesia membeli semua fasilitas penyulingan dan produksi PT. Shell di
Jawa Tengah. Namun karena kinerjanya yang semakin memburuk, PN.ini
dibubarkan pada tahun 1965 melalui SK Menteri Urusan Minyak dan Gas
Bumi No. 6/M/MIGAS/ 66. Kekayaan yang dimilikinya berupa sumur
minyak dan penyulingan di Cepu dijadikan pusat pendidikan dengan
dibukanya Akademi Minyak dan Gas Bumi. Fasilitas pemasarannya
diserahkan pada PN. PERTAMIN sedangkan fasilitas produksinya
diserahkan pada PN. PERMINA.
Pada tanggal 20 Agustus 1968 dalam rangka mempertegas struktur dan
prosedur kerja demi memperlancar usaha peningkatan produksi minyak dan gas
bumi, dibentuk Perusahaan Negara Pertambangan minyak dan Gas Bumi Nasional
(PN.PERTAMINA) yang melebur PN.PERMINA dan PN.PERTAMIN.Tujuan
peleburan ini adalah agar dapat meningkatkan produktivitas, efektivitas, dan
efisiensi di bidang perminyakan nasional di dalam wadah suatu Integrated Oil
Company dengan satu manajemen yang sempurna.
Tahun 2001 diterbitkan UU Migas No 22 tahun 2001 yang akhirnya
mengantar Pertamina menjadi PT. Pertamina (Persero). Selanjutnya pada tahun
2003 Pertamina berubah status menjadi PT. Pertamina (Persero). Perubahan
mendasar ada pada peran regulator menjadi player.
Berdasarkan UU No.8 tahun 1971, PT. Pertamina memiliki tugas utama
sebagai berikut :
1. Melaksanakan pengusahaan migas, guna memperoleh hasil sebesar-besarnya
untuk kemakmuran rakyat dan negara.
2. Menyediakan dan melayani kebutuhan bahan-bahan minyak dan gas bumi dalam
negeri yang pelaksanaannya telah diatur oleh peraturan pemerintah
(KEPPRES No. 11 Tahun 1990). Dalam melaksanakan tugas tersebut, PT.
Pertamina memiliki empat kegiatan utama, yaitu :
3

a. Eksplorasi dan Produksi


Kegiatan ini meliputi pencarian lokasi yang memiliki potensi
ketersediaan minyak dan gas bumi, kemungkinan penambangannya, serta proses
produksi menjadi bahan baku unit pengolahan.
b. Pengolahan
Kegiatan ini meliputi proses distilasi, pemurnian, dan reaksi kimia
tertentu untuk mengolah crude menjadi produk yang diinginkan seperti
premium, solar, kerosin, LPG, dll.
c. Pembekalan dan Pendistribusian
Kegiatan pembekalan meliputi impor crude sebagai bahan baku unit
pengolahan melalui sistem perpipaan sedangkan kegiatan
pendistribusian meliputi pengapalan.
d. Penunjang
Contohnya rumah sakit dan penginapan.

Dahulu PT. Pertamina (PERSERO) memiliki tujuh unit pengolahan, akan


tetapi Unit Pengolahan I di Pangkalan Brandan (Sumatera Utara) yang
berkapasitas 5 Million Barrel Stream Day (MBSD) berhenti beroperasi. Kilang
minyak tertua di Indonesia ini berhenti beroperasi pada tahun 2007 karena
permasalahan pasokan umpan. Penutupan terkait tidak tersedianya stok minyak
dan gas yang akan diolah.

Untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak yang ada dalam
negeri, PT. Pertamina hingga saat ini masih mengoperasikan enam refinery unit
(RU) dari tujuh refinery unit (RU) yang tersebar di Indonesia. RU I yang berada
di Pangkalan Brandan sudah ditutup dan enam refinery unit yang masih beroperasi
seperti yang ditampilkan pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Unit Pengolahan PT. Pertamina

Kapasitas
Refinery Unit (RU) Unit Provinsi
(Barel / hari)

RU II Dumai Riau 170


4

RU III Plaju (Musi) Sumatera Selatan 127


RU IV Cilacap Jawa Barat 348
RU V Balikpapan Kalimantan Timur 260
RU VI Balongan Jawa Barat 125
RU VII Kasim/Sorong Papua Barat 10
Total 997
Sumber : Pedoman BPST Angkatan XIV. Penerbit PERTAMINA, Palembang, 2015

Adapun peta ke 6 Refinery Unit saat ini dari PT.PERTAMINA (PERSERO)


seperti yang ditampilkan pada Gambar 1.1 .

Sumber: Pedoman BPST Angkatan XIV.Penerbit Pertamina, Palembang, 2015


Gambar 1.1 Peta Refinery Unit PT.PERTAMINA (PERSERO) di Indonesia

PT. Pertamina RU III Plaju-Sungai Gerong merupakan satu dari refinery


unit yang dimiliki oleh PT. Pertamina. Daerah operasi PT. Pertamina RU III ini
meliputi kilang Plaju dan Sungai Gerong serta terminal Pulau Sambu dan Tanjung
Uban.
Kilang minyak Plaju dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1903,
kilang ini mengolah minyak mentah dari Prabumulih dan Jambi. Pada tahun 1957,
kilang ini diambil oleh PT. Shell Indonesia dan pada tahun 1965 pemerintah
Indonesia mengambil alih kilang Plaju dari PT. Shell Indonesia. Kilang
mempunyai kapasitas produksi 100 Million Barrel Calender Day (MBCD).
Kilang Sungai Gerong dibangun oleh Stanvac pada tahun 1926. Kilang yang
berkapasitas produk 70 MBCD ini kemudian dibeli PT. Pertamina pada tahun
1970, sekarang kapasitasnya tinggal 25 MBCD sesuai dengan unit yang ada.
5

Pada tahun 1973, kedua kilang mengalami proses integrasi. Kedua kilang
ini disebut dengan Kilang Musi yang ada dalam pengawasan PT. Pertamina RU
III dan bertanggung jawab dalam pengadaan BBM untuk wilayah Jambi,
Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung.
Sebagian besar peralatan di Kilang Plaju menggunakan teknologi lama
sehingga sudah tidak efisien lagi. Normalnya umur pabrik ini adalah 20 tahun dan
sampai sekarang ini, pabrik tersebut masih beroperasi melebihi umurnya.
Berdasarkan pertimbangan tersebut direncanakanlah pembuatan kilang
minyak baru yang disebut Proyek Kilang Musi (PKM). Sesuai dengan kebijakan
pemerintah yang tertuang dalam Inpres Nomor 12 dan 13 tahun 1983 tentang
penjadwalan kembali PKM, maka pelaksanaan PKM dilakukan secara bertahap.
PKM tahap pertama dijalankan pada tahun 1982 dengan menitikberatkan pada
konservasi energi dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi unit-unit proses.
Hal ini diwujudkan dengan melakukan revamping dan pembangunan unit
baru. Upaya yang telah dilakukan pada PKM tahap I adalah sebagai berikut:
1. Revamping dapur dan beberapa peralatan Crude Distillation (CD) Plaju
untuk menurunkan pemakaian bahan bakar.
2. Revamping pada Riser-Fluidized Catalytic Cracking Unit (RFCCU) dan
Unit Light End Sungai Gerong.
3. Pembangunan unit distilasi bertekanan hampa New Vacuum Distilation
Unit (NVDU) di Sungai Gerong dengan kapasitas produksi 48 MBCD
Long Residue.
4. Mengganti koil pemanas tangki.
5. Melengkapi fasilitas transfer produk kilang Plaju dan Sungai Gerong.
6. Memanfaatkan semaksimal mungkin.
Proyek kilang Musi Tahap I telah selesai bulan September 1986.
Kemudian Tahap II dari PKM dijalankan tahun 1991 dengan melakukan
pembaruan sebagai berikut:
1. Peningkatan kapasitas produksi-produksi kilang Polypropylene menjadi
45.000 ton/tahun.
2. Revamping pada Riser-Fluidized Catalytic Cracking Unit (RFCCU) dan
unit alkilasi.
3. Redesign siklon pada Riser-Fluidized Catalytic Cracking Unit (RFCCU)
Sungai Gerong.
4. Modifikasi unit Redistiller I/II Plaju.
5. Pemanasan gas turbin generator complex (GTGC) dan perubahan
frekuensi listrik dari 60 Hz ke 50 Hz.
6. Pembangunan Water Treatment Unit (WTU) dan Sulphur Acid Recovery
Unit (SARU).
6

Secara umum beberapa sejarah, perkembangan dan perubahan perubahan


yang terjadi dari PT. PERTAMINA RU III plaju sungai-gerong untuk
mengupayakan peningkatan serta memaksimalkan kapasitas produksi dapat dilihat
pada Tabel 1.2

1.1.1 Visi dan Misi


a. Visi
Menjadi Perusahaan yang Unggul dan terpandang (To be a respected
leading company)

b. Misi
1. Melakukan usaha dalam bidang energi dan petrokimia
2. Merupakan identitas bisnis yang dikelola secara provesional, kompetitif,
dan berdasar tata nilai unggulan
3. Memberikan nilai tambah lebih bagi pemegang saham, pelanggan, pekerja,
dan masyarakat, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Tabel 1.2 Sejarah PT. Pertamina RU III Plaju-Sungai Gerong


Tahun Sejarah
1903 Pembangunan Kilang Minyak di Plaju oleh Shell (Belanda)
1926 Kilang Sungai Gerong dibangun oleh STANVAC (AS)
1957 Kilang Plaju diambil alih oleh PT Shell Indonesia
1965 Kilang Plaju/Shell dengan kapasitas 100 MBCD dibeli oleh
negara/PERTAMINA
1970 Kilang Sungai Gerong/STANVAC dibeli oleh negara/PERTAMINA
1971 Pendirian kilang Polypropylene untuk memproduksi Pellet Polytam
dengan kapasitas 20.000 ton/th
1973 Integrasi operasi kilang Plaju Sungai Gerong
1982 Pendirian Plaju Aromatic Center (PAC) dan Proyek Kilang Musi (PKM
I) yang berkapasitas 98 MBSD
1982 Pembangunan High Vacuum Unit Sungai Gerong dan revamping Crude
Distillation Unit
1984 Proyek pembangunan kilang TA/PTA dengan kapasitas produksi 150.000
ton/th
1986 Kilang Purified Terephtalic Acid (PTA) mulai berproduksi dengan
kapasitas 150.000 ton/th
1987 Proyek pengembangan konservasi energi/Energy Conservation
Improvemant
7

1988 Proyek Usaha Peningkatan Efisiensi dan Produksi Kilang (UPEK)


1990 Debottlenecking kapasitas kilang PTA menjadi 225.000 ton/th
1994 PKM II: Pembangunan unit Polypropylene baru dengan kapasitas 45.200
ton/th, revamping RFCCU Sungai Gerong dan unit alkilasi, redesign
siklon RFCCU Sungai Gerong, modifikasi unit Redistilling I/II Plaju,
pemasangan GTGCdan perubahan frekuensi listrik dari 60 Hz ke 50 Hz,
dan pembangunan WTU dan SARU
2002 Pembangunan jembatan integrasi Kilang Musi
2003 Jembatan integrasi Kilang Musi yang menghubungkan Kilang Plaju
dengan Sungai Gerong diresmikan
2007 Kilang TA/PTA berhenti beroperasi
Sumber : Pedoman BPST Angkatan XIV. Penerbit PERTAMINA, Palembang

1.1.2 Logo dan Slogan


Sudah selama 37 tahun (20 Agustus 1968 - 1 Desember 2005) orang
mengenal logo kuda laut sebagai identitas PERTAMINA. Pemikiran perubahan
logo sudah dimulai sejak 1976 setelah terjadi krisis PERTAMINA. Pemikiran
tersebut dilanjutkan pada tahun tahun berikutnya dan diperkuat melalui tim
restrukturisasi PERTAMINA tahun 2000 (Tim Citra) termasuk kajian yang
mendalam dan komprehensif sampai pada pembuatan TOR dan perhitungan biaya.
Akan tetapi program tersebut sempat tidak terlaksana karena adanya perubahan
kebijakan atau pergantian direksi. Wacana perubahan logo tetap berlangsung
sampai dengan terbentuknya PT. PERTAMINA (PERSERO) pada tahun 2003.
Adapun pertimbangan pergantian logo yaitu agar dapat membangnun ssemangat
baru, mendorong perubahan corporate culture bagi seluruh pekerja, mendapatkan
image yang lebih baik diantara global oil dan gas kompanis serta mendorong daya
saing perusahaan dalam menghadapi perubahan perubahan yang terjadi, antara
lain :
a. Perubahan peran dan status hukum perusahaan menjadi perseroan
b. Perubahan strategi perusaan untuk menghadapi persaingan pasca PSO dan
semakin banyak terbentuknya entitas bisnis baru bidang hulu dan hilir.
Logo baru PERTAMINA seperti yang ditampilkan Gambar 1.2 sebagai
identitas perusahaan dikukuhkan dan diberlakukan terhitung mulai tanggal 10
Desember 2005. Selama masa transisi, lambang/tanda pengenal PERTAMINA
masih dapat dipergunakan.
8

Sumber : PT. PERTAMINA ( PERSERO ) RU III Plaju Sei. Gerong


Gambar 1.2 Logo PT. PERTAMINA (PERSERO)

Arti makna Logo :


1. Elemen logo membentuk huruf P yang secara keseluruhan yang
merupakan representasi bentuk panah, dimaksudkan sebagai PERTAMINA
yang bergerak maju dan progresif
2. Warna-warna yang berani menunjukkan langkah besar yang diambil
PERTAMINA dan aspirasi perusahaan akan masa depan yang lebih positif
dan dinamis dimana :
a. Biru : mencerminkan andal, dapat dipercaya, dan bertanggung
jawab,
b. Hijau : mencerminkan sumber daya energi yang berwawasan
lingkungan,
c. Merah : mencerminkan keuletan dan ketegasan serta keberanian
dalam menghadapi berbagai macam kesulitan.
Peranan PT. PERTAMINA (PERSERO) dalam pembangunan adalah:
1. Menyediakan dan menjamin pemenuhan akan kebutuhan BBM.
2. Sebagai sumber devisa negara.
3. Menyediakan kesempatan kerja sekaligus pelaksana alih teknologi dan
pengetahuan.

Ketika PERTAMINA membeli kilang minyak Sei.Gerong dari PT Stanvac


tahun 1970, pada saat itu tumbuh tekad untuk melaksanakan kemandirian bangsa
di bidang energi dengan mengoperasikan kilang minyak sendiri untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri.

1.2 Lokasi dan Tata Letak Pabrik

PT. Pertamina RU III Plaju dan Sungai Gerong berlokasi di Palembang,


Sumsel. Di lingkungan RU III Plaju-Sungai Gerong selain terdapat kilang-kilang
9

proses beserta sarana penunjangnya, juga terdapat sarana perkantoran, perumahan,


rumah sakit, sarana ibadah (masjid dan gereja), sarana olahraga, sarana
pendidikan, serta penunjang lainnya
PT. Pertamina RU III memiliki 2 buah kilang yang terintegrasi, yaitu :
a. Kilang pertama, yaitu kilang minyak Plaju,
yang berbatasan dengan Sungai Musi di sebelah selatan dan Sungai
Komering di sebelah barat
b. Kilang Kedua, yaitu kilang minyak Sungai
Gerong, yang terletak di persimpangan Sungai Musi dan Sungai
Komering.

Kilang RU-III Plaju/Sungai Gerong mempunyai 2 unit produksi yaitu :


a. Unit Produksi I (Kilang BBM/Petroleum) yang mengolah minyak
mentah. Kilang BBM/Petroleum terdiri dari primary proses dan secondary
proses
b. Unit Produksi II (Kilang Petrokimia)
Kilang petrokimia yang terdiri dari kilang Polypropylene.

PERTAMINA RU III memiliki dermaga Plaju dan dermaga Sungai Gerong


sebagai transportasi bahan baku dan produk.Untuk lebih jelasnya, lokasi PT.
PERTAMINA (PERSERO) RU III ditampilkan pada Gambar 1.3.

Sumber: Pedoman BPST Angkatan XIV.Penerbit Pertamina,Palembang,2015


Gambar 1.3 Denah PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III Plaju-Sungai Gerong
10

Total luas wilayah PT. Pertamina seperti yang ditampilkan pada Tabel 1.3
yaitu seluas 921,02 Ha yang terletak pada 7 tempat lokasi meliputi area
pekantoran dan kilang Plaju (229,6 Ha), area kilang Sungai Gerong (153,9 Ha),
Pusdiklat Fire and Safety, Rumah Dinas Perusahaan (RDP) dan Lapangan Golf
Bagus kuning (51,4 Ha), Rumah Dinas Perusahaan (RDP) Kenten (21,1 Ha),
Lapangan Golf kenten (80,6), serta rumah dinas pegawai Plaju, Sungai Gerong
dan 3 ilir seluas 349,37 Ha.

Tabel 1.3 Luas Wilayah PT. Pertamina Plaju Sungai Gerong


No Tempat Luas (Ha)
1 Area Perkantoran dan Kilang Plaju 229,6
2 Area kilang Sungai Gerong 153,9
3 Pusdiklat fire dan safety 34.95
4 RDP dan Lap Golf Bagus Kuning 51,4
5 RDP Kenten 21,1
6 Lapangan Golf Kenten 80,6
7 RDP Plaju, Sungai Gerong dan 3 Ilir 349,37
Total 921,02
Sumber: Pedoman BPST Angkatan XIV.Penerbit PERTAMINA, Palembang, 2015

1.3 Stuktur Organisasi dan Manajemen Perusahaan


Dalam menata dan mengelolah perusahaannya, PT. Pertamina memiliki
berbagai macam struktur organisasi dan manajemen perusahaan.
General Manager juga langsung membawahi kilang PT. Pertamina RU III
sekarang ini sudah menjadi perusahaan stabil data yang sesuai dengan standar
internasional. Struktur Organisasi Pertamina RU III Plaju berbentuk line staff,
dipimpin oleh seorang General Manager yang bertanggung jawab langsung
kepada Director Refinery PT. Pertamina (Persero) Pusat di Jakarta.

1.3.1 Struktur Organisasi PT. Pertamina (Persero) RU-III


Berdasarkan surat keputusan No. Kpst-004/E3000/2000-50 pada tanggal
18 Februari 2000 struktur organisasi di PT. Pertamina (Persero) RU III diubah.
General Manager RU (GM RU III) membawahi beberapa manager.
Struktur Organisasi Pertamina RU III Plaju berbentuk line staff, Struktur
organisai dipimpin oleh seorang General Manager yang bertanggung jawab
langsung kepada Direktur Pengolahan Pertamina Pusat di Jakarta, Struktur
11

Organisasi PT PERTAMINA (PERSERO) RU III terdapat pada Gambar 1.4


berikut:
SENIOR VICE
RECIDENT
REF. OPERATION

GM REFINERY UNIT

SEKRETARIS

ENGINEERING & RELIABILITY REF. PLANNING & PRODUCTION MAINTENANCE GENERAL


DEVILOPMENT MANAGER OPTIMIZATION MANAGER PLANNING & AFFAIRS
MANAGER MANAGER SUPPORT MANAGER
MANAGER

HSE MANAGER PROCUREMENT TURN AROUND COORDINATOR OPI MAINTENANCE


MANAGER MANAGER EXECUTION
MANAGER

Gambar 1.4 Struktur Organisasi PT. Pertamina (Persero) RU III


13

General Manager PT. PERTAMINA (PERSERO) RU-III langsung


membawahi beberapa manager yang memiliki tugas dan fungsi masing-masing,
dimana masih terdapat keterikatan diantara tugas-tugas manager tersebut. Adapun
bidang-bidang yang dipegang manager yang ada di bawah GM RU III antara lain:
1. Manager Engineering and Development
Bertugas untuk melakukan pengembangan kilang demi menghasilkan
produk yang bernilai jual dengan modifikasi pada proses sehingga
dihasilkan kondisi operasi yang lebih efisien dan ekonomis.
2. Manager Reliability
Bertugas untuk mengendalikan seluruh kegiatan bagian inspeksi Unit
Reliabilitas yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan
pengawasan kegiatan evaluasi pemeriksaan, penguji peralatan stationary,
memberikan saran/rekomendasi dalam rangka meyakinkan kondisi layak
operasi peralatan kilan dan peralatan penunjang lainnya.
3. Manager Refinery Planning and Optimization
Bertugas untuk merencanakan pengolahan untuk mencari gross-margin
sebesar-besarnya, menyiapkan dan menyajikan perspektif keekonomian
kilang, serta mengembangkan perencanaan yang dapat memaksimumkan
pendapatan berdasarkan pasar dan kondisi kilang yang ada.
4. Manager Production
Bertugas untuk menyelenggarakan (operator) pengolahan minyak mentah
(crude) menjadi produk BBM dengan biaya semurah-murahnya.
5. Manager Maintenance Planning and Support
Menjaga peralatan kilang yang tersedia dalam jangka waktu tertentu agar
proses pengolahan berjalan lancar dan target pengolahan dapat tercapai
dengan cara merawat memperbaiki secepat mungkin peralatan operasi.
6. Manager General Affairs and Legal
General affairs membidangi public relations yang mencakup external
relations, CSR, internal relations and protokoler, serta media
relations.Sedangkan fungsi Legal memiliki peran untuk pengamanan aset-
aset yang dimiliki kilang, perijinan, pengkajian Undang-Undang, serta
menganalisa peraturan.

7. Manager HSE (Healt, Savety and Enviroment)


14

PT. Pertamina RU-III melindungi keselamatan, kesehatan, dan lingkungan


kerja karyawan karyawannya melalui unit HSE.Selain itu HSE juga
berfungsi sebagai pengelola lingkungan hidup.
8. Manager Procurement
Kegiatan utama dari bidang Procurement adalah inventory controlling
(pengendalian persediaan), purchasing (pengadaan material), contract
officer (kontrak jasa), dan terakhir service and warehousing.
9. Manager Turn Arround
Turn Arround (TA) adalah kegiatan pemeliharaan yang berskala besar
(extraordinary maintenance activites) yang dilakukan secara berkala (3-4
tahun) yang hanya dapat dilaksanakan pada saat unit dalam keadaan stop
operasi.
10. Manager OPI (Operational Performance Improvement)
OPI diadakan untuk memberi pelatihan untuk meningkatkan performance
pekerja serta untuk merubah budaya kerja yang tidak baik, dan menjaga
sustainability dari improvement yang sudah terlaksana.
11. Manager Maintenance Execution
Maintenance execution berperan melaksanakan program pemeliharaan yang
telah direncanakan oleh MPS, Reliability, dan Turn/Aroundserta
mengeksekusi maintenance harian.

1.3.2 Process Engineering (PE)


Process Engineering (PE) berada dibawah pengawasan langsung Manager
Engineering & Development. Process
MANAGER,Engineering
EGINEERING dikepalai oleh Section Head
&DEVELOPMENT
Process Engineering. Struktur organisasi di PE dapat dilihat pada Gambar 1.5.
SECTION HEAD
PROCESS
ENGINEERING

SENIOR SENIOR SENIOR EXPERTENVIRO


SUPERVISOR SUPERVISOR SUPERVISOR NMENT
PRIMARY SECONDARY PROCESS
PROCESS PROCESS CONTROL

PROCESS ENGINEER PROCESS ENGINEER ENGINEERING EXPERT


CDU POLYPROPYLENE PROCESS SAFETY
CONTROL & LMI3 DC3

PROCESS ENGINEER PROCESS ENGINEER EXPERT


GAS PLANT FCC CDU, OFFSITE,
UTL

PROCESS ENGINEER PROCESS ENGINEER EXPERT


OFFSITE & PRODUCT UTILITIES FCC, GAS
DISTRIBUTION PLANT, PP

ASSISTANT
ENGINEERING
JUNIOR JUNIOR ENGINEER
DATA &
ENGINEER SECONDARY
LIBRARY
PRIMARY PROCESS
PROCESS
15

Sumber: Pedoman BPST Angkatan XIV.Penerbit PERTAMINA, Palembang, 2015

Gambar 1.5. Struktur Organisasi di Proses Engineering (PE)


Tugas Process Engineering (PE) di PT. PERTAMINA (PERSERO) adalah
sebagai berikut :
1. Melakukan studi-studi untuk pengembangan kilang RU-III.
2. Melakukan sourcing bahan-bahan kimia dan katalis-katalis baru.
3. Bekerja sama dengan bagian operasi dalam menyelesaikan masalah
teknis.
Masalah teknis yang biasa diselesaikan bukan yang bersifat harian
melainkan masalah harian yang bersifat kontinu.
4. Memberikan saran kepada bagian operasi untuk melakukan perbaikan atau
perubahan agar dapat mencapai kondisi proses yang optimum.
5. Melakukan modifikasi pada proses sehingga dihasilkan kondisi operasi
yang lebih efisien dan ekonomis.

1.3.3 Laboratorium Kilang BBM dan Petrokimia


Laboratorium di Pertamina dibagi menjadi laboratorium kilang BBM dan
laboratorium Petrokimia. Fungsi laboratorium secara keseluruhan adalah
16

menunjang operasional kilang dari segi pengendalian mutu mulai dari bahan
baku, bahan- bahan ketika diolah, produk dalam kilang, hingga produk yang telah
dikemas dan dikapalkan. Menurut fungsinya, laboratorium terbagi menjadi :
1. Laboratorium Penelitian dan Pengembangan
2. Laboratorium Analisis
3. Laboratorium Pengamatan
4. Laboratorium Petrokimia

1.3.4 Laboratorium Penelitian dan Pengembangan ( Lab Lit & Bang)


Laboratorium ini berfungsi untuk menganalisa sifat fisik bahan baku yang
akan digunakan dalam proses. Bahan baku yang dianalisa antara lain crude oil,
dan bahan aditif yang digunakan dalam proses pengolahan. Selain itu, Lab Lit&
Bang ini juga melakukan plant pre&post Turn Around.
Untuk menunjang evaluasi sifat fisik bahan baku dan produk, laboratorium
ini dilengkapi dengan alat- alat sebagai berikut :
1. Adiabatic Calorimeter yaitu alat yang digunakan untuk pengukuran
kandungan kalori bahan bakar.
2. Kinematic Viscometer yaitu alat untuk mengukur kekentalan minyak.
3. Furnace
4. Color ASTM/Lovibond yaitu alat yang digunakan untuk pengukuran kadar
warna solar dan cerosene.
5. Specific Gravimeter.
6. Copper strip test untuk mengukur korosivitas minyak terhadap tembaga.
7. Alat pengukur titik beku.
8. PONA Analysis yaitu alat yang digunakan untuk mengetahui komposisi
hidrokarbon.
9. Dephentanizer, alat ini menggunakan prinsip destilasi, untuk
menghilangkan fraksi ringan minyak bumi.
10. Alat pengukur smoke point minyak mentah.
11. Reid Vapor Pressure yaitu alat yang digunakan untuk pengukuran tekanan
uap premium, nafta dan avigas.
12. Centrifuge
13. Alat pengukur flash point
14. Alat pengukur sedimen dengan prinsip ekstraksi
15. Alat untuk memeriksa kadar wax dalam sampel
16. Distiller untuk mengetahui TBP ( True Boiling Point ) dari minyak mentah.
Alat ini menyerupai crude distiller di pabrik, yang dapat memisahkan
minyak mentah menjadi fraksi-fraksinya.
17. Alat pengukur pour point.
18. Alat pengukur kadar aromatik yang terdapat dalam bahan baku.

1.3.5 Laboratorium Analisis


17

Laboratorium ini berfungsi untuk menganalisis sifat kimia produk


minyak, limbah, dan perairan lingkungan dimana PERTAMINA membuang
limbahnya. Untuk fungsi tersebut, maka laboratorium ini dilengkapi dengan alat-
alat sebagai berikut :
1. Atomic Adsorber Spectrophotometry untuk menganalisa logam dalam
sampel.
2. Sinar UV untuk menganalisa kandungan bahan non logam dalam sampel.
3. X-Ray test untuk menganalisa kandungan sulfur dalam minyak mentah dan
produk.
4. pH meter
5. Gas Cromatography.
6. Pengukur BOD konvensional.
7. Pengukur kadar garam konvensional.
8. Penganalisa TEL konvensional.

1.3.6 Laboratorium Pengamatan


Laboratorium ini untuk mengamati sifat penampakan produk, dan
membandingkan hasilnya dengan spesifikasi produk. Jenis analisa yang dilakukan
sama dengan yang dilakukan pada laboratorium Lit&Bang tetapi dengan
menggunakan sampel produk. Analisa lain yang digunakan di dalam laboratorium
ini yang tidak dilakukan dalam laboratorium Lit&Bang adalah analisa Octane
Number dan Cetane Number, dan juga doctor test dengan menggunakan Pb untuk
mengetahui kandungan merkaptan.

1.3.7 Laboratorium Petrokimia


Laboratorium ini menganalisa bahan baku dan produk PP dan PTA.
Analisa dilakukan pada MFR, Ash Content, Isolatic index, Volatile Loss, Bulk
Density, warna, pH, kadar air, dan penampakan luar bahan. Alat yang digunakan
untuk melakukan analisa tersebut antara lain GC, AAS,Spectrophotometer
Polarograph, dan Color LC.

PT. Pertamina RU III memiliki karyawan yang terbagi menjadi dua yaitu
yang telibat langsung dengan proses produksi dan karyawan reguler. Jam kerja
karyawan yang terlibat lansung dengan proses produksi terbagi atas 3 shift dengan
sistem 3 hari kerja dan 1 hari libur. Pembagian shift karyawan PT. Pertamina RU
III dapat dilihat sebagai berikut :
1. Shift pagi, pukul 07.00-15.00
2. Shift sore, pukul 15.00-23.00
3. Shift malam, pukul 23.00-07.00
18

Sedangkan karyawan reguler menggunakan sistem 5 hari kerja (Senin-


Jumat), jam karyawan reguler dapat dilihat sebagai berikut :
1. Senin-Kamis, pukul 07.00-15.00, istirahat pukul 12.00-13.00
2. Jumat pukul 07.00-15.30, istirahat pukul 11.30-13.00

Untuk menjalankan operasinya, PT. Pertamina mempekerjakan pegawai-


pegawai yang secara garis besar terbagi menjadi:
1. Pegawai Pembina : pegawai dengan golongan 2 ke atas
2. Pegawai Utama : pegawai dengan golongan 5-3
3. Pegawai Madya : pegawai dengan golongan 9-6
4. Pegawai Biasa : pegawai dengan golongan 16-10

1.4 Pemasaran
Refinery Unit III PT. Pertamina (Persero) bergerak disektor hilir yang
mengoperasikan Kilang BBM dan Petrokimia. Bahan baku crude oil yang diolah
berasal dari daerah Prabumulih, Pendopo dan Jambi yang disalurkan melalui pipa
dan kapal. Sedangkan produk bahan bakar minyak (BBM), Non BBM, bahan
bakar khusus dan petrokimia didistribusikan dan dipasarkan untuk memenuhi
kebutuhan di Indonesia khususnya di Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu,
Lampung, Pangkal Pinang, Medan, Pontianak, Jakarta dan diekspor.
Pemasaran produk Pertamina (Persero) RU-III seperti yang ditampilkan
pada Tabel 1.4 dilakukan oleh Unit Pemasaran dan Pembekalan Dalam Negeri
(UPPDN)
Tabel 1.4 Kapasitas Produksi Kilang RU III
No Produksi Kapasitas Satuan
1 Premium 1.006.875,40 kiloliter
2 Kerosine 405.989,50 kiloliter
3 Solar 1.544.189,90 kiloliter
4 Avtur 93.224,70 kiloliter
5 LPG 132.623,20 ton
6 Solvent 65.596,70 kiloliter
7 Musicool 794,4 ton
8 Polytam 47.988,20 ton
Sumber : PERTAMINA RU III Plaju, 2015
19

Pendistribusian produk PT. Pertamina (Persero) RU-III yang mencakup 4


provinsi yaitu Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, dan Bandar Lampung. RU-III
dilakukan melalui pipa-pipa , kapal kapal tanker, mobil mobil pendistribusian.