Anda di halaman 1dari 12

Politeknik Negeri Sriwijaya

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pengolahan minyak bumi berupa senyawa hydrocarbon secara kimia


atau fisika dengan menghasilkan produk yang dikehendaki dan dengan batas-
batas ekonomi merupakan serangkaian proses yang terdapat dalam sebuah
unit kilang pengolahan. PT PERTAMINA RU III Plaju adalah salah satu unit
pengolahan minyak dan gas bumi yang terletak di kota Palembang, dalam
operasionalnya terbagi atas beberapa bagian.
High Vacuum Unit II (HVU II) merupakan proses awal (Primary
process) pengolahan minyak bumi dengan prinsip kerja distilasi hampa,
menghasilkan komponen-komponen produk yang akan diproses lebih lanjut
untuk mendapatkan produk berupa Light Vacuum Gas Oil (LVGO) sebagai
komponen blending solar. Middle Vacuum Gas Oil (MVGO) dan High
Vacuum Gas Oil (HVGO) sebagai feed pada cracking unit. Vacuum residue/
short residue sebagai komponen pada Low Sulphur Wax Residue (LSWR)
sebagai fuel oil. High Vacuum Unit II (HVU II) merupakan unit yang
mengolah Low Sulphur Wax Residue (LSWR) dari CD-II, CD-III, CD-IV, CD-
V, dan CD-VI yang berfungsi untuk menghasilkan produk LVGO dengan
Cetane Number yang tinggi, dan menghasilkan produk MVGO dan HVGO
sebagai komponen utama feed catalytic cracking unit.
Salah satu peralatan utama dalam High Vacuum Unit II adalah dapur
(furnace), yang berfungsi sebagai penyedia energi utama untuk memanaskan
feed agar mencapai pemanasan tertentu sebelum masuk flash zone kolom
sesuai yang diinginkan. Furnace 14-F -001 memiliki tipe double cabin dengan
material carbon steel. Setiap cabin dilengkapi dengan 8 buah burner dengan

Laporan Kerja Praktik 1


Politeknik Negeri Sriwijaya

tube horizontal pada dinding furnace. Furnace 14-F-001 menggunakan bahan


bakar fuel gas/ fuel oil dengan system draft bertipe balanced draft. Pada
proses tersebut menggunakan bahan bakar minyak dan gas (fuel oil dan fuel
gas). Mengingat bahan bakar tersebut adalah bahan bakar fosil yang kondisi
saat ini mulai menipis jumlahnya, maka operasi furnace selalu dijalankan
seefisien mungkin.
Untuk mengetahui efisiensi alat furnace ini, perlu dilakukan
perhitungan efisiensi furnace dengan menggunakan data-data yang di ambil
dari Morning Report HVU II dan melakukan pengamatan langsung di
lapangan. Oleh karena itu penulis mengambil judul Perhitungan Efisiensi
Furnace F-14-001 di HVU II unit CD&L PT PERTAMINA RU 3 Plaju-
Sungai Gerong .

1.2. Tujuan dan Manfaat

1.2.1. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan laporan praktek kerja praktek adalah


sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui serta memahami proses-proses dan prinsip kerja


peralatan pengolahan migas di PT PERTAMINA RU III Plaju Sungai
Gerong, khususnya pada unit CD&L.
2. Untuk memahami proses pengolahan migas di Unit CD&L khususnya
unit HVU II.
3. Untuk menentukan dan mengetahui efesiensi kerja Furnace F-14-001 di
HVU II unit CD&L.

Laporan Kerja Praktik 2


Politeknik Negeri Sriwijaya

1.2.2. Manfaat Penulisan


Adapun manfaat dari penulisan ini adalah :
1. Mahasiswa dapat memahami proses-proses dan prinsip kerja peralatan
pengolahan migas di PT PERTAMINA RU III Plaju Sungai Gerong,
khususnya pada unit CD&L.
2. Mahasiswa dapat memahami proses pengolahan migas di Unit CD&L
khususnya pada unit HVU II.
4. Mahasiswa menentukan dan mengetahui efesiensi kerja Furnace F-14-
001 di HVU II unit CD&L.

1.3. Batasan Masalah


Sesuai dengan judul Perhitungan Efisiensi Furnace F-14-001 di
HVU II unit CD&L PT PERTAMINA RU 3 Plaju-Sungai Gerong , maka
penulis membatasi laporan kerja praktek ini meliputi jenis, konstruksi, bagian-
bagian furnace, bahan bakar pada furnace, dan efisiensi Furnace F-14-001 di
HVU II.

1.4 Metode Penulisan


Teknik pengumpulan data dalam mendapatkan data-data yang berhubungan
dengan objek yang dibahas, penulis menggunakan teknik pengumpulan data
sebagai berikut :

1. Pengamatan di Lapangan (Field Research)


Yaitu pengambilan data secara langsung, yang dilakukan oleh penulis dengan
mendatangi lokasi pengambilan data di P TPERTAMINA RU III Plaju Sungai
Gerong.
2. Wawancara (Interview)
Yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan komunikasi secara langsung
dengan pembimbing lapangan di PT PERTAMINA RU III Plaju Sungai

Laporan Kerja Praktik 3


Politeknik Negeri Sriwijaya

Gerong yang berwenang memberikan informasi dan data-data yang dibutuhkan


dalam pembuatan laporan praktek kerja lapangan ini.
3. Pengumpulan Data Tertulis
Yaitu dengan melihat dan mengutip catatan-catatan, dokumen serta buku-buku
yang berhubungan dengan objek penelitian yang akan digunakan sebagai data
penunjang.
4. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Yaitu dengan mempelajari literatur serta segala sesuatu yang ada kaitannya
dengan objek yang diteliti dan dapat menunujang pembuatan laporan praktek
kerja lapangan. Sehingga penelitian dapat mengetahui secara pasti dan jelas
mengenai permasalahan-permasalahan yang ada.

1.5 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan laporan kerja praktek dibagi menjadi beberapa bab, hal
ini dimaksudkan agar mengetahui tahapan dan maksud bahasannya, yaitu :
BAB I : Pendahuluan
Berisi tentang Latar Belakang, Tujuan, Batasan Masalah dan Sistematika
Penulisan.
BAB II : Orientasi Umum
Berisi tentang sejarah singkat PT. Pertamina (persero) RU-III Plaju. Tugas
dan Fungsi unit-unit CD&L, Struktur Organisasi dan uraian Proses kilang
High Vacuum Unit II.
BAB III: Tinjauan Pustaka
Definisi Furnace, Klasifikasi Furnace, Sistem Pembakaran, Perpindahan
Panas, Sistem Draft, Effisiensi Furnace, Kehilangan Panas.
BAB IV: Data Pengamatan dan Pembahasan
Berisi data pengamatan Furnace F-14-001 dan perhitungan efisiensi
furnace.
BAB V : Penutup (Berisi Simpulan dan Saran).

Laporan Kerja Praktik 4


Politeknik Negeri Sriwijaya

BAB II
ORIENTASI UMUM

2.1 Sejarah Perkembangan PT. PERTAMINA (Persero) RU III

PT. Pertamina (Persero) adalah badan usaha milik negara (BUMN) yang
bergerak dibidang penambangan minyak dan gas bumi (MIGAS) di Indonesia.
Pertamina berkomitmen mendorong proses transformasi internal dan pengembangan
yang berkelanjutan guna mencapai standar internasional dalam pelaksanaan
operasional dan manajemen lingkungan yang lebih baik, serta peningkatan kinerja
perusahaan sebagai sasaran bersama.
Upaya pencarian (eksplorasi) sumber minyak bumi di Indonesia pertama kali
dilakukan oleh Jhon Reenik (Belanda) pada tahun 1871 di kaki Gunung Ceremai,
sedangkan eksploitasi minyak bumi pertama kali dilakukan di Telaga Tunggal pada
tahun 1885, sumur ini merupakan sumur pertama dikawasan Hindia-Belanda yang
berproduksi secara komersial. Seiring dengan semakin banyaknya sumber minyak mentah
yang sudah ditemukan, pada akhir abad ke-18 mulai didirikan beberapa perusahaan-
perusahaan minyak asing, seperti Shell, Stanvac, Royal Dutch Company, dll yang
melakukan pengeboran di Indonesia. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945,
usaha untuk mengambil alih kekuasaan sektor industry minyak dan gas bumi
mulai dilakukan. Berdasarkan Undang-Undang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi,
UU No.44/1961, dibentuklah tiga perusahaan negara (PN) di sektor minyak dan gas
bumi, yaitu :
a. PN PERTAMIN berdasarkan PP No.3/1961
b. PN PERMINA berdasarkan PP No.198/1961
c. PN PERMIGAN berdasarkan PP No.199/1961

Tahun 1965 PN PERMIGAN dibubarkan, semua fasilitas produksinya


diserahkan kepada PN PERMINA dan fasilitas pemasarannya diserahkan kepada PN

Laporan Kerja Praktik 5


Politeknik Negeri Sriwijaya

PERTAMIN. Pada tahun 1968 didirikan PN PERTAMINA yang merupakan gabungan dari
PN PERMINA dan PERTAMIN dan pada tanggal 17 September 2003 PN PERTAMINA berubah
nama menjadi PT. PERTAMINA (Persero).
Berdasarkan UU No.8 tahun 1971, PT. Pertamina memiliki tugas utama sebagai
berikut :
1. Melaksanakan pengusahaan migas, guna memperoleh hasil sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat dan negara.
2. Menyediakan dan melayani kebutuhan bahan-bahan minyak dan gas bumi dalam negeri
yang pelaksanaannya telah diatur oleh peraturan pemerintah (KEPPRES No.
11 Tahun 1990). Dalam melaksanakan tugas tersebut, PT. Pertamina memiliki
empat kegiatan utama, yaitu :
a. Eksplorasi dan Produksi
Kegiatan ini meliputi pencarian lokasi yang memiliki potensi ketersediaan
minyak dan gas bumi, kemungkinan penambangannya, serta proses produksi menjadi
bahan baku unit pengolahan.
b. Pengolahan
Kegiatan ini meliputi proses distilasi, pemurnian, dan reaksi kimia tertentu
untuk mengolah crude menjadi produk yang diinginkan seperti premium,
solar, kerosin, LPG, dll.
c. Pembekalan dan Pendistribusian
Kegiatan pembekalan meliputi impor crude sebagai bahan baku unit
pengolahan melalui sistem perpipaan sedangkan kegiatan pendistribusian
meliputi pengapalan.
d. Penunjang
Contohnya rumah sakit dan penginapan.
Tahun 2001 diterbitkan UU Migas No 22 tahun 2001 yang akhirnya mengantar
Pertamina menjadi PT. Pertamina (Persero). Selanjutnya pada tahun 2003 Pertamina
berubah status menjadi PT. Pertamina (Persero). Perubahan mendasar ada pada
peran regulator menjadi player.

Laporan Kerja Praktik 6


Politeknik Negeri Sriwijaya

Dahulu PT. Pertamina (PERSERO) memiliki tujuh unit pengolahan, akan tetapi
Unit Pengolahan I di Pangkalan Brandan yang berkapasitas 5 Million Barrel Stream
Day (MBSD) berhenti beroperasi pada tahun 2007 karena permasalahan pasokan
umpan, dan pada tahun 2012 adanya alat baru yaitu Project UU 32 mengenai
pengolahan limbah.

Untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak yang ada dalam negeri,
PT. Pertamina hingga saat ini masih mengoperasikan enam refinery unit (RU) dari
tujuh refinery unit (RU) yang tersebar di Indonesia. RU I yang berada di Pangkalan
Brandan sudah ditutup dan enam refinery unit yang masih beroperasi.

Tabel 2 Unit Pengolahan PT. Pertamina

Capacity Thou
Refinery Unit (RU) Unit Province
BPD

RU II Dumai Riau 127


RU III Plaju (Musi) South Sumatra 127
RU IV Cilacap West Java 348
RU V Balikpapan East Kalimantan 260
RU VI Balongan West Java 125
RU VII Kasim/Sorong West Papua 10
Total 997
Sumber : Pedoman BPST Angkatan XIV. Penerbit PERTAMINA, Palembang, 2007

PT. Pertamina RU III Plaju-Sungai Gerong merupakan satu dari refinery unit
yang dimiliki oleh PT. Pertamina. Daerah operasi PT. Pertamina RU III ini meliputi
kilang Plaju dan Sungai Gerong serta terminal Pulau Sambu dan Tanjung Uban.
Kilang minyak Plaju dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1903, kilang
ini mengolah minyak mentah dari Prabumulih dan Jambi. Pada tahun 1957, kilang ini
diambil oleh PT. Shell Indonesia dan pada tahun 1965 pemerintah Indonesia

Laporan Kerja Praktik 7


Politeknik Negeri Sriwijaya

mengambil alih kilang Plaju dari PT. Shell Indonesia. Kilang mempunyai kapasitas
produksi 100 Million Barrel Calender Day (MBCD). Kilang Sungai Gerong
dibangun oleh Stanvac pada tahun 1926. Kilang yang berkapasitas produk 70 MBCD
ini kemudian dibeli PT. Pertamina pada tahun 1970, sekarang kapasitasnya tinggal 25
MBCD sesuai dengan unit yang ada.
Pada tahun 1973, kedua kilang mengalami proses integrasi. Kedua kilang ini
disebut dengan Kilang Musi yang ada dalam pengawasan PT. Pertamina RU III dan
bertanggung jawab dalam pengadaan BBM untuk wilayah Jambi, Sumatera Selatan,
Bengkulu, Lampung.
Sebagian besar peralatan di Kilang Plaju menggunakan teknologi lama sehingga
sudah tidak efisien lagi. Normalnya umur pabrik ini adalah 20 tahun dan sampai
sekarang ini, pabrik tersebut masih beroperasi melebihi umurnya.
Berdasarkan pertimbangan tersebut direncanakanlah pembuatan kilang minyak
baru yang disebut Proyek Kilang Musi (PKM). Sesuai dengan kebijakan pemerintah
yang tertuang dalam Inpres Nomor 12 dan 13 tahun 1983 tentang penjadwalan
kembali PKM, maka pelaksanaan PKM dilakukan secara bertahap. PKM tahap
pertama dijalankan pada tahun 1982 dengan menitikberatkan pada konservasi energi
dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi unit-unit proses.

Hal ini diwujudkan dengan melakukan revamping dan pembangunan unit baru.
Upaya yang telah dilakukan pada PKM tahap I adalah sebagai berikut:
1. Revamping dapur dan beberapa peralatan Crude Distillation (CD) Plaju untuk
menurunkan pemakaian bahan bakar.
2. Revamping pada Riser-Fluidized Catalytic Cracking Unit (RFCCU) dan Unit
Light End Sungai Gerong.
3. Pembangunan unit distilasi bertekanan hampa New Vacuum Distilation Unit
(NVDU) di Sungai Gerong dengan kapasitas produksi 48 MBCD Long
Residue.
4. Mengganti koil pemanas tangki.

Laporan Kerja Praktik 8


Politeknik Negeri Sriwijaya

5. Melengkapi fasilitas transfer produk kilang Plaju dan Sungai Gerong.


6. Memanfaatkan semaksimal mungkin.
Proyek kilang Musi Tahap I telah selesai bulan September 1986. Tahap II dari
PKM dijalankan tahun 1991 dengan melakukan pembaruan sebagai berikut:
1. Peningkatan kapasitas produksi-produksi kilang Polypropylene menjadi
45.000 ton/tahun.
2. Revamping pada Riser-Fluidized Catalytic Cracking Unit (RFCCU) dan unit
alkilasi.
3. Redesign siklon pada Riser-Fluidized Catalytic Cracking Unit (RFCCU)
Sungai Gerong.
4. Modifikasi unit Redistiller I/II Plaju.
5. Pemanasan gas turbin generator complex (GTGC) dan perubahan frekuensi
listrik dari 60 Hz ke 50 Hz.
6. Pembangunan Water Treatment Unit (WTU) dan Sulphur Acid Recovery Unit
(SARU).

Tabel 2.1 Sejarah PT. Pertamina RU III Plaju-Sungai Gerong


Tahun Sejarah
1903 Pembangunan Kilang Minyak di Plaju oleh Shell (Belanda)
1926 Kilang Sungai Gerong dibangun oleh STANVAC (AS)
1957 Kilang Plaju diambil alih oleh PT Shell Indonesia
1965 Kilang Plaju/Shell dengan kapasitas 100 MBCD dibeli oleh
negara/PERTAMINA
1970 Kilang Sungai Gerong/STANVAC dibeli oleh negara/PERTAMINA
1971 Pendirian kilang Polypropylene untuk memproduksi Pellet Polytam
dengan kapasitas 20.000 ton/th
1973 Integrasi operasi kilang Plaju Sungai Gerong
1982 Pendirian Plaju Aromatic Center (PAC) dan Proyek Kilang Musi (PKM

Laporan Kerja Praktik 9


Politeknik Negeri Sriwijaya

I) yang berkapasitas 98 MBSD

1982 Pembangunan High Vacuum Unit Sungai Gerong dan revamping Crude
Distillation Unit
1984 Proyek pembangunan kilang TA/PTA dengan kapasitas produksi
150.000 ton/th
1986 Kilang Purified Terephtalic Acid (PTA) mulai berproduksi dengan
kapasitas 150.000 ton/th
1987 Proyek pengembangan konservasi energi/Energy Conservation
Improvemant
1988 Proyek Usaha Peningkatan Efisiensi dan Produksi Kilang (UPEK)
1990 Debottlenecking kapasitas kilang PTA menjadi 225.000 ton/th
1994 PKM II: Pembangunan unit Polypropylene baru dengan kapasitas 45.200
ton/th, revamping RFCCU Sungai Gerong dan unit alkilasi, redesign
siklon RFCCU Sungai Gerong, modifikasi unit Redistilling I/II Plaju,
pemasangan GTGCdan perubahan frekuensi listrik dari 60 Hz ke 50 Hz,
dan pembangunan WTU dan SARU
2002 Pembangunan jembatan integrasi Kilang Musi
2003 Jembatan integrasi Kilang Musi yang menghubungkan Kilang Plaju
dengan Sungai Gerong diresmikan
2007 Kilang TA/PTA berhenti beroperasi
Sumber : Pedoman BPST Angkatan XIV. Penerbit PERTAMINA, Palembang

2.2 Lokasi dan Tata Letak Pabrik

PT. Pertamina RU III Plaju dan Sungai Gerong berlokasi di Palembang, Sumsel.
Di lingkungan RU III Plaju-Sungai Gerong selain terdapat kilang-kilang proses
beserta sarana penunjangnya, juga terdapat sarana perkantoran, perumahan, rumah

Laporan Kerja Praktik 10


Politeknik Negeri Sriwijaya

sakit, sarana ibadah (masjid dan gereja), sarana olahraga, sarana pendidikan, serta
penunjang lainnya.
PT. Pertamina RU III memiliki 2 buah kilang, yaitu :
a. Kilang minyak Plaju, yang berbatasan dengan Sungai Musi di sebelah selatan
dan Sungai Komering di sebelah barat
b. Kilang minyak Sungai Gerong, yang terletak di persimpangan Sungai Musi
dan Sungai Komering.

Kilang RU-III Plaju/Sungai Gerong mempunyai 2 unit produksi yaitu :


a. Unit Produksi I (Kilang BBM/Petroleum) yang mengolah minyak mentah. Kilang
BBM/Petroleum terdiri dari primary proses dan secondary proses
b. Unit Produksi II (Kilang Petrokimia)
Kilang petrokimia yang terdiri dari kilang Polypropylene

Pertamina RU III memiliki dermaga Plaju dan dermaga Sungai Gerong


sebagai transportasi bahan baku dan produk. Untuk lebih jelasnya, lokasi PT.
Pertamina (Persero) RU III.

Sumber: Pedoman BPST Angkatan XIV. Penerbit Pertamina, Palembang, 2007


Gambar 1.1 Denah PT. Pertamina (Persero) RU III Plaju-Sungai Gerong

Laporan Kerja Praktik 11


Politeknik Negeri Sriwijaya

Total luas wilayah PT. Pertamina seluas 921,02 Ha yang terletak pada 7 tempat
lokasi meliputi area pekantoran dan kilang Plaju (229,6 Ha), area kilang Sungai
Gerong (153,9 Ha), Pusdiklat Fire and Safety, Rumah Dinas Perusahaan (RDP) dan
Lapangan Golf Bagus kuning (51,4 Ha), Rumah Dinas Perusahaan (RDP) Kenten
(21,1 Ha), Lapangan Golf kenten (80,6), serta rumah dinas pegawai Plaju, Sungai
Gerong dan 3 ilir seluas 349,37 Ha.

Tabel 2.2 Luas Wilayah PT. Pertamina Plaju Sungai Gerong


No Tempat Luas (Ha)
1 Area Perkantoran dan Kilang Plaju 229,6
2 Area kilang Sungai Gerong 153,9
3 Pusdiklat fire dan safety 34.95
4 RDP dan Lap Golf Bagus Kuning 51,4
5 RDP Kenten 21,1
6 Lapangan Golf Kenten 80,6
7 RDP Plaju, Sungai Gerong dan 3 Ilir 349,37
Total 921,02
Sumber: Pedoman BPST Angkatan XIV.Penerbit PERTAMINA, Palembang, 2007

2.3 Stuktur Organisasi dan Manajemen Perusahaan


Dalam menata dan mengelolah perusahaannya, PT. Pertamina memiliki berbagai
macam struktur organisasi dan manajemen perusahaan.
General Manager juga langsung membawahi kilang PT. Pertamina RU III
sekarang ini sudah menjadi perusahaan stabil data yang sesuai dengan standar
internasional. Struktur Organisasi Pertamina RU III Plaju berbentuk line staff,
dipimpin oleh seorang General Manager yang bertanggung jawab langsung kepada
Director Refinery PT. Pertamina (Persero) Pusat di Jakarta.

Laporan Kerja Praktik 12