Anda di halaman 1dari 9

BAB II

PEMBAHASAN

Pada tanggal 23 November 2015 praktikan melakukan praktikum


Makropaleontologi acara Vertebrata. Dalam praktikum ini diperkenalkan materi
tentang filum Vertebrata. Mulai dari definisi Vertebrata, ciri-cirinya dan
pembagian taksonominya. Setelah penyampaian materi selesai dilanjutkan
deskripsi fosil dalam acara ini dilakukan pendeskripsian 4 fosil, berikut
merupakan pembahasan dari deskripsi fosil yang telah diamati

2.1 Fosil peraga 1


Fosil Peraga 1 merupakan fossil dengan jenis
pengawetan bagian keras. Ini dibuktikan dengan Fossil
dengan bagian tubuh yang masih utuh . Fosil ini terlihat
masih utuh seluruhnya yang tersusun oleh senyawa kalsium.
Diperkirakan fosil ini termasuk kedalam phylum Vertebrata
dengan kelas Mamalia ordo Bovidae . Hewan ini termasuk kedalam
jenis Ruminansia dimana Ruminansia merupakan suatu kelompok hewan
pemamah biak.
Fossil ini terbentuk dengan mekanisme terkubur dalam
sedimen. Jadi sesaat organisme ini mati kemudian mulai
tertutup sedimen-sedimen yang sedang bekerja hingga
menutup seluruh bagian tubuhnya. Diperkirakan sedimen
yang menutupi berasal dari sungai karena kehidupan hewan
ini terjadi di 2 tempat yaitu air dan darat, sehingga
kemungkinan hewan ini saat mati berada didekat disungai.
Setelah tertutup sedimen yang anaerob , bakteri-bakteri
pembusuk akan mati sehingga tidak akan terjadi pembusukan
pada badan fosil ini. Dengan penimbunan yang cukup lama
dan terkena proses diagenesis fosil ini lama kelamaan akan
berubah menjadi kompak dan membatu pada bagian keras
dari fosil ini.

4
Tapi terdapat kejanggalan, karena ditemukan bagian
kepalanya saja. Ini bisa diterangkan dengan sifat sungai yang
selalu mengerosi, mentransportasi dan mendeposisi suatu
material yang dilaluinya. Jadi setelah proses pemfosilan
selesai, bagian-bagian dari fosil-fosil ini tertransport ke
tempat lain dengan tempat deposisi yang berbeda-beda.
Sehingga saat ditemukan hanya terdapat fosil kepala ini saja,
kemungkinan bagian lain juga terendapkan di sungai yang
sama tapi tempat pengendapannya berbeda bisa
kemungkinan jauh ataupun dekat. Karena terbentuk dengan
proses fosilisasi yang baik sehingga fosil ini masih terlihat
utuh

Gambar Fossil 1
Fosil ini diperkirakan hidup sejak zaman Holosen karena
sesuai penemuannya dilapisan yang telah di Dating dan
didapatkan penanggalan zaman Holosen. Fosil ini dulunya
hidup didarat, ini diketahui dari morfologi giginya yang
merupakan gigi penghancur/penggilas makanan.

5
Gambar Susunan Gigi Bovidae

Fosil ini memiliki morfologi tubuh yang terdiri dari Tanduk, Lacrimal
Canal, Post Orbital Bar, dll.. Dapat diketahui juga cara hidupnya bergerak
pada daratan. Jenis makananya berupa tumbuh tumbuhan. Dari
data diatas dapat diinterpretasikan bahwa, nama fossil yang
sedang dideskripsi adalah Fosil Kepala Bovidae.
2.2 Fosil peraga 2
Fosil Peraga 2 merupakan fossil dengan jenis
pengawetan bagian keras. Ini dibuktikan dengan Fossil
dengan bagian tubuh yang masih utuh . Fosil ini terlihat
masih utuh seluruhnya yang tersusun oleh senyawa fosfor.
Diperkirakan fosil ini termasuk kedalam phylum Vertebrata
dengan kelas Mamalia ordo Bovidae . Hewan ini termasuk kedalam
jenis Ruminansia dimana Ruminansia merupakan suatu kelompok hewan
pemamah biak.
Fossil ini terbentuk dengan mekanisme terkubur dalam
sedimen. Jadi sesaat organisme ini mati kemudian mulai
tertutup sedimen-sedimen yang sedang bekerja hingga
menutup seluruh bagian tubuhnya. Diperkirakan sedimen
yang menutupi berasal dari sungai karena kehidupan hewan
ini terjadi di 1 tempat darat, sehingga kemungkinan hewan ini
saat mati berada di dekat aliran disungai. Setelah tertutup
sedimen yang anaerob , bakteri-bakteri pembusuk akan mati

6
sehingga tidak akan terjadi pembusukan pada badan fosil ini.
Dengan penimbunan yang cukup lama dan terkena proses
diagenesis fosil ini lama kelamaan akan berubah menjadi
kompak dan membatu pada bagian keras dari fosil ini.
Tapi terdapat kejanggalan, karena ditemukan bagian
giginya saja. Ini bisa diterangkan dengan sifat sungai yang
selalu mengerosi, mentransportasi dan mendeposisi suatu
material yang dilaluinya. Jadi setelah proses pemfosilan
selesai, bagian-bagian dari fosil-fosil ini tertransport ke
tempat lain dengan tempat deposisi yang berbeda-beda.
Sehingga saat ditemukan hanya terdapat fosil gigi ini saja,
kemungkinan bagian lain juga terendapkan di sungai yang
sama tapi tempat pengendapannya berbeda bisa
kemungkinan jauh ataupun dekat. Karena terbentuk dengan
proses fosilisasi yang baik sehingga fosil ini masih terlihat
utuh.

Gambar Fossil 2

Fosil ini diperkirakan hidup sejak zaman Holosen karena


sesuai penemuannya dilapisan yang telah di Dating dan
didapatkan penanggalan zaman Holosen. Fosil ini dulunya

7
hidup didarat, ini diketahui dari morfologi giginya yang
merupakan gigi penghancur/penggilas makanan. Fosil ini
memiliki morfologi tubuh yang terdiri dari Protocone, Metacone, Email,
Mahkota, Akar Gigi dan Dentine. Dapat diketahui juga cara hidupnya
bergerak pada daratan. Jenis makananya berupa tumbuh
tumbuhan. Dari data diatas dapat diinterpretasikan bahwa,
nama fossil yang sedang dideskripsi adalah Fosil Rahang
Bovidae.

2.3 Fosil peraga 3

Dimensi fosil peraga yaitu 5,5 cm x 5 cm x 2,5 cm..dengan


bentuk kubus dan berwarna coklat keabu-abuan. Fosil ini merupakan fragmen
dari suatu tubuh organisme.
Fosil ini memiliki morfologi tubuh yang terdiri dari akar gigi, Wrinkle
dan Lamela. Terdapat ciri khusus yang didapat dari bentukan gigi yaitu jika
kenampakan gigi semakin aus/halus maka dapat di interpretasikan bahwa
hewan tersebut telah memiliki umur yang tua. Apabila jarak antar wrinkle
(Lamela) semakin dekat dapat di interpretasikan bahwa menunjukkan bahwa
rganisme ini semakin modern dan semakin jauh antar wringkle maka
termasuk gaja yang semakin tua atau purba dan makanan yang di makan
semakin keras.

Gambar Fosil 3
Fosil ini diperkirakan hidup sejak zaman Pleosen-
Plistosen karena sesuai penemuannya dilapisan yang telah di
Dating dan didapatkan penanggalan zaman Pleosen-

8
Plistosen. Fosil ini dulunya hidup didarat, ini diketahui dari
morfologi giginya yang merupakan gigi penghancur/penggilas
makanan. Awalnya gajah purba ini hidup pada daerah Benua Asia
kemudian saat muka air laut mengalami penurunan, gajah purba ini
melakukan migrasi ke Indonesia dengan cara berenang. model paleogeografi
Sulawesi dan sekitarnya yang dibuat oleh Moss dan Wilson (1998) serta
fluktuasi muka laut di pulau-pulau Indonesia Timur dari Tjia (1996) pada
Pliosen-Holosen, lalu menggunakannya untuk meneliti konsep Hooijer (1957)
tentang Stegoland. Beberapa citra satelit yang dalam zaman Hooijer (1957)
jembatan daratan antara Timor-Sumba-Flores-Jawa-Sulawesi-Sangihe pada
sekitar Pliosen-Plistosen Holosen. Dari model-model dan data satelit itu
dapat diketahui bahwa kemungkinan jembatan seperti yang dimaksud Hooijer
(1957) ada walaupun memang sekarang sudah tenggelam. Berdasarkan hal
ini, bisa diduga bahwa Stegodon telah bermigrasi sepanjang Stegoland.
Stegodon bisa berenang, tetapi ia berenang tak lebih dari 30 km (Monk et
al.1997). Bila sekarang ada fosil Stegodon ditemukan di suatu pulau, dan
pulau-pulau di sekitarnya jauhnya lebih dari 30 km, maka bisa diduga bahwa
dulu Stegodon tersebut pindah ke pulau tempat fosilnya ditemukan kemudian
adalah melalui jembatan daratan, bukan berenang.Stegodon telah ditemukan
di Sulawesi dan Nusa Tenggara. Sulawesi dihubungkan oleh jembatan daratan
sekitar Doang-Tanah Jampea-Salayar dengan Sundaland atau Nusa Tenggara.
Ke arah Sulawesi Selatan itulah, tepatnya Lembah Walanae, pada Pleistosen,
beberapa fauna dari Sundaland dan Nusa Tenggara bermigrasi, dan kini di
dunia paleontologi vertebrata kumpulan migrated fauna di lembah ini disebut
Kelompok Cabenge, Sulawesi Selatan.
Peraga ini merupakan fosil dengan jenis pengawetan bagian keras.
Bagian dari fosil ini tersusun oleh senyawa fosfor. Saat hewan ini mati, pada
bagian yang resisten seperti yang mengandung senyawa fosfor dan kalsium
akan terawetkan oleh material sedimen yang diendapkan. Selanjutnya akan
terlithifikasi dan terdiagenesis. Sehingga bagian kerasnya akan mengalami

9
proses pemfosilan dalam waktu yang sangat lama dan akhirnya menjadi Fosil
Gigi Stegodon.

2.4 Fosil Peraga 4

Fosil peraga memiliki dimensi 3 x 2,5 x 2,5 dengan bentuk kubus dan
berwarna abu-abu. Fosil ini merupakan fragmen dari suatu tubuh organisme.
Fosil ini memiliki morfologi tubuh yang terdiri dari akar gigi, Wrinkle
dan Lamela. Terdapat ciri khusus yang didapat dari bentukan gigi yaitu jika
kenampakan gigi semakin aus/halus maka dapat di interpretasikan bahwa
hewan tersebut telah memiliki umur yang tua. Apabila jarak antar wrinkle
(Lamela) semakin dekat dapat di interpretasikan bahwa menunjukkan bahwa
organisme ini semakin modern dan semakin jauh antar wringkle maka
termasuk gajah yang semakin tua atau purba dan makanan yang di makan
semakin keras.

Gambar Fosil 4

Fosil ini diperkirakan hidup sejak zaman Pleosen-


Plistosen karena sesuai penemuannya dilapisan yang telah di
Dating dan didapatkan penanggalan zaman Pleosen-
Plistosen. Awalnya gajah purba ini hidup pada daerah Benua Asia
kemudian saat muka air laut mengalami penurunan, gajah purba ini
melakukan migrasi ke Indonesia dengan cara berenang. model paleogeografi
Sulawesi dan sekitarnya yang dibuat oleh Moss dan Wilson (1998) serta
fluktuasi muka laut di pulau-pulau Indonesia Timur dari Tjia (1996) pada
Pliosen-Holosen, lalu menggunakannya untuk meneliti konsep Hooijer (1957)

10
tentang Stegoland. Beberapa citra satelit yang dalam zaman Hooijer (1957)
jembatan daratan antara Timor-Sumba-Flores-Jawa-Sulawesi-Sangihe pada
sekitar Pliosen-Plistosen Holosen. Dari model-model dan data satelit itu
dapat diketahui bahwa kemungkinan jembatan seperti yang dimaksud Hooijer
(1957) ada walaupun memang sekarang sudah tenggelam. Berdasarkan hal
ini, bisa diduga bahwa Stegodon telah bermigrasi sepanjang Stegoland.
Stegodon bisa berenang, tetapi ia berenang tak lebih dari 30 km (Monk et
al.1997). Bila sekarang ada fosil Stegodon ditemukan di suatu pulau, dan
pulau-pulau di sekitarnya jauhnya lebih dari 30 km, maka bisa diduga bahwa
dulu Stegodon tersebut pindah ke pulau tempat fosilnya ditemukan kemudian
adalah melalui jembatan daratan, bukan berenang.Stegodon telah ditemukan
di Sulawesi dan Nusa Tenggara. Sulawesi dihubungkan oleh jembatan daratan
sekitar Doang-Tanah Jampea-Salayar dengan Sundaland atau Nusa Tenggara.
Ke arah Sulawesi Selatan itulah, tepatnya Lembah Walanae, pada Pleistosen,
beberapa fauna dari Sundaland dan Nusa Tenggara bermigrasi, dan kini di
dunia paleontologi vertebrata kumpulan migrated fauna di lembah ini disebut
Kelompok Cabenge, Sulawesi Selatan.
Peraga ini merupakan fosil dengan jenis pengawetan bagian keras.
Bagian dari fosil ini tersusun oleh senyawa fosfor. Saat hewan ini mati, pada
bagian yang resisten seperti yang mengandung senyawa fosfor dan kalsium
akan terawetkan oleh material sedimen yang diendapkan. Selanjutnya akan
terlithifikasi dan terdiagenesis. Sehingga bagian kerasnya akan mengalami
proses pemfosilan dalam waktu yang sangat lama dan akhirnya menjadi Fosil
Gigi Stegodon.

11
DAFTAR PUSTAKA
http://tecnologhi.blogspot.com/2012_05_01_archive.html Di akses pada hari
Senin 30 November 2015 pukul 13.00 WIB
http://en.wikipedia.org/wiki/Stegodon Di akses pada hari Senin 30 November
2015 pukul 13.00 WIB

12