Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN 2014 KELOMPOK 7 1

Respirasi
Miftahur Rohmah (1511100061)
Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: miftahur11@mhs.bio.its.ac.id
Abstrak Sistem respirasi memiliki fungsi utama untuk berupa CO2 dan air, yang harus segera dikeluarkan dari sel
memasok oksigen ke dalam tubuh serta membuang CO 2 dari [1]. Secara sederhana, reaksi yang terjadi dalam proses
dalam tubuh. Oksigen dimanfaatkan oleh organisme perairan respirasi adalah sebagai berikut :
untuk proses respirasi dan untuk menguraikan zat organik oleh
mikroorganisme. Praktikum ini dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui jumlah oksigen yang digunakan dalam pernafasan C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O + Energi
Carassius auratus dan Gryllus sp. Metode yang digunakan
adalah metode Winkler dan mikro Winkler untuk mengukur Oksigen adalah salah satu unsur kimia penunjang utama
penggunaan oksigen pada Carassius auratus. Sedangkan untuk kehidupan. Dalam air laut, oksigen dimanfaatkan oleh
mengukur penggunaan oksigen pada Gryllus sp. menggunakan organisme perairan untuk proses respirasi dan untuk
respirometer. Prinsip kerja dari metode Winkler adalah titrasi menguraikan zat organik oleh mikroorganisme. Ketiadaan
iodometri. Prinsip kerja dari respirometer adalah pertukaran
oksigen dan karbondioksida. Hasil yang diperoleh adalah pada oksigen dalam suatu perairan akan menyebabkan organisme
metode Winkler dibutuhkan titrasi Na2S2O3 sebanyak 18 tetes dalam perairan tersebut tidak dapat hidup dalam waktu yang
untuk wadah tanpa ikan dan 17 tetes untuk wadah berisi ikan lama [4].
sedangkan mikro Winkler membutuhkan 7 tetes pada wadah Praktikum ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
tanpa ikan dan 6 tetes pada wadah berisi ikan. Penggunaan jumlah oksigen yang digunakan dalam pernafasan Carassius
oksigen pada Carassius auratus sebanyak 0,025 mg/L setiap jam auratus dan Gryllus sp. Pengkuran konsumsi oksigen pada
setiap berat gram tubuhnya. Sedangkan Gryllus sp. sebanyak
Carrasius auratus menggunakan metode Winkler dan mikro
1,340 ml setiap gram tubuhnya.
Winkler. Sedangkan pengukuran konsumsi oksigen pada
Kata KunciDissolved oxygen, respirasi, respirometer, Gryllus sp. menggunakan respirometer.
Winkler
II.METODOLOGI
I. PENDAHULUAN
A. Waktu dan Tempat Praktikum
S ISTEM respirasi memiliki fungsi utama untuk memasok
oksigen ke dalam tubuh serta membuang CO 2 dari dalam
tubuh [1]. Respirasi dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 23 April 2014
pada pukul 07.30-selesai di Laboratorium Zoologi jurusan
respirasi eksternal dan respirasi internal. Respirasi eksternal Biologi ITS.
adalah proses pertukaran gas antara darah dan atmosfer B. Alat dan Bahan
sedangkan respirasi internal adalah proses pertukaran gas Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu 2
antara darah sirkulasi dan sel jaringan tubuh yang wadah untuk penentuan konsumsi oksigen, 2 botol Winkler, 2
berlangsung di dalam seuruh sistem tubuh [2]. Erlenmeyer 250 ml, 2 gelas beaker, neraca analitik, 4 pipet
Fungsi dari sistem pernapasan adalah untuk mengambil tetes, 1 buah statif, aliminium foil secukupnya, 2 syringe 10
oksigen dari atmosfer ke dalam sel-sel tubuh dan untuk ml, 2 syringe 1 ml, 1 buah respirometer, stopwatch dan kapas
mentranspor karbon dioksida yang dihasilkan sel-sel tubuh secukupnya.
kembali ke atmosfer. Organ-organ respiratorik juga berfungsi Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam praktikum ini yaitu 1
dalam produksi wicara dan berperan dalam keseimbangan ekor ikan komet (Carassius auratus), 5 ekor jangkrik
asam basa, pertahanan tubuh melawan benda asing, dan (Gryllus sp.), larutan MnSO4, larutan alkali iodide, H2SO4
pengaturan hormonal tekanan darah [3]. pekat, larutan Na2S2O3, larutan amilum 1%, KOH 1%, eosin
Oksigen yang diperoleh hewan dari lingkungannya dan air.
digunakan dalam proses fosforilasi oksidatif untuk C.Cara Kerja
menghasilkan ATP. Sebenarnya, hewan dapat menghasilkan
ATP tanpa oksigen. Proses semacam itu disebut respirasi 1. Penentuan konsumsi oksigen ikan
Disiapkan 2 toples kaca berisi air dengan volume dan
anaerob. Akan tetapi, proses tersebut tidak dapat
dari sumber yang sama. Ikan yang akan diukur
menghasilkan ATP dalam jumlah banyak. Respirasi yang konsumsi oksigennya ditimbang kemudian dimasukkan
dapat menghasilkan ATP dalam jumlah banyak ialah respirasi kedalam salah satu toples kaca. Toples kaca kemudian
aerob. Dalam proses anaerob, sebuah molekul glukosa hanya ditutup rapat menggunakan aluminium foil, dihindari
menghasilkan 2 molekul ATP, sementara dalam proses aerob, adanya gelembung pada kedua toples kaca tersebut.
molekul yang sama akan menghasilkan 36 atau 38 molekul Kemudian dibiarkan hingga 1 jam.
ATP. Oleh karena itu, hamper semua hewan sangat 2. Pengambilan sampel air yang akan diukur konsentrasi
bergantung pada proses respirasi (pembentukan ATP) secara oksigennya dengan metode Winkler
aerob. Respirasi sel (internal) akan menghasilkan zat sisa
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN 2014 KELOMPOK 7 2

Dua botol Wonkler disiapkan dan dibersihkan. antara tabung respirometer dan pipa skala diolesi
Kemudian sampel air dalam toples kaca tanpa ikan dan dengan vaselin. Selanjutnya, eosin disuntikkan ke
sampel air dalam toples kaca berisi ikan diambil dengan dalam pipa skala respirometer pada bagian ujungnya
cara memasukkan seluruh botol Winkler ke dalam menggunakan jarum suntik skala 0 ml. Disiapkan
toples dan diusahakan agar tidak ada gelembung yang stopwatch untuk menghitung waktu yang dibutuhkan.
masuk. Botol Winkler ditutup didalam air. Botol Pergerakan eosin tiap menitnya dan volume udara yang
Winkler kemudian dibolak-balik sambil diamati dikonsumsi berdasarkan pergerakan eosin tersebut tiap
ada/tidaknya gelembung udara didalam botol. menitnya dicatat. Kemudian dihitung penggunaan
Kandungan oksigen didalam botol kemudian diukur. oksigen Gryllus sp. Gambar 1 merupakan ilustrasi
Sampel air tanpa ikan dianggap sebagai t1, sedangkan pengukuran konsumsi oksigen menggunakan
sampel air berisi ikan dianggap t2. Kemudian dihitung respirometer. Namun, contoh pada gambar yang
penggunaan oksigen oleh ikan dengan rumus digunakan adalah belalang.
penggunaan oksigen.
3. Pengukuran kandungan oksigen dengan metode makro
Winkler
Tutup botol Winkler dibuka kemudian ditambahkan 1
ml (20 tetes) MnSO 4 dengan menggunakan pipet tetes.
Setelah itu, ditambahkan dengan alkali iodide sebanyak
1 ml menggunakan pipet tetes. Botol Winkler ditutup
kemudian dibolak-balik selama 5 menit. Setelah itu,
botol Winkler dibiarkan selama 10 menit hingga timbul
endapan didasar botol. Kemudian ditambahkan 1 ml Gambar 1. Pengukuran oksigen menggunakan respirometer [5]
H2SO4 dengan cara yang sama. Tutup botol Winkler
ditutup kemudian dibolak-balik hingga endapan larut
dan larutan berwarna kuning kecoklatan. Kemudian III. HASIL DAN PEMBAHASAN
larutan dituangkan dari botol Winkler ke dalam 3.1. Tabel Perlakuan dan Pengamatan
Erlenmeyer 250 ml. Masing-masing sebanyak 150 ml.
Lima tetes amilum 1% kemudian ditambahkan ke N Perlakuan Pengamatan
dalam Erlenmeyer. Larutan didalam Erlenmeyer o
kemudian dititrasi dengan Na 2S2O3 hingga larutan
berwarna bening kemudian volume Na 2S2O3 yang Pengukuran DO dengan metode Winkler
digunakan dicatat. Kemudian dihitung kadar oksigen 1 Disiapkan 2 wadah bersi air Kedua toples
yang digunakan. Sampel air tanpa ikan dianggap dari sumber yang sama dan berisi air dengan
sebagai t1 sedangkan sampel air berisi ikan dianggap volume yang sama. Salah satu sumber yang sama
t2. Kemudian dihitung penggunaan oksigen oleh ikan toples diisi dengan ikan yang namun salah satu
dengan rumus penggunaan oksigen. telah ditimbang beratnya. toples berisi 1
4. Pengukuran kandungan oksigen dengan metode mikro Lalu ditutup dengan ekor ikan.
Winkler alumunium foil dan dibiarkan
Sampel air diambil dari kedua wadah menggunakan selama 1 jam.
Syringe 10 ml hingga Syringe berisi air dengan volume 2 Diambil air dari kedua wadah Kedua botol
10 ml. Kemudian volume air dikurangi hingga 9,4 ml. dengan botol Winkler dengan Winkler terisi
Dihindari adanya gelembung dalam Syringe. Kemudian cara memasukkan seluruh penuh dan tidak
diambil 0,2 ml MnSO 4 menggunakan Syringe 1 ml lalu botol Winkler kedalam wadah terdapat
dimasukkan ke dalam Syringe 10 ml. Diambil 0,2 ml agar tidak terdapat gelembung.
alkali iodide dengan cara yang sama seperti diatas. gelembung.
Dibiarkan sejenak dan ditunggu hingga terjadi endapan.
Ditambah 0,2 ml H2SO4 dengan cara yang sama
kemudian dibiarkan hingga endapan menghilang.
Larutan dituangkan ke dalam Erlenmeyer 50 ml.
Ditambahkan 1 tetes amilum ke dalam larutan
menggunakan pipet tetes. Larutan kemudian dititrasi 3 Botol Winkler ditutup dan Botol winkler
dengan Na2S2O3 menggunakan Syringe 1 ml hingga dibolak-balik tidak terdapat
larutan dalam Erlenmeyer berubah warna menjadi gelembung
bening dan dicatat berapa ml larutan Na 2S2O3 yang Ditetesi 1 ml MnSO 4
4
digunakan untuk titrasi. Kemudian dihitung kadar
oksigen (DO). Sampel air tanpa ikan dianggap sebagai
t1 sedangkan sampel air berisi ikan dianggap t2.
5. Pengukuran konsumsi oksigen pada jangkrik
Gryllus sp. sebanyak 5 ekor ditimbang dan dicatat
beratnya. Kemudian dimasukkan ke dalam botol
respirometer yang awalnya sudah diberi kapas yang
telah dicelup dalam larutan KOH 1%. Sambungan
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN 2014 KELOMPOK 7 3

5 Ditetesi 1 ml alkali iodida Warna larutan 11 Ditetesi 5 tetes amilum 1%. Dasar Erlenmeyer
dengan pipet tetes menjadi kuning terdapat sedikit
endapan berwarna
hitam setelah
diberi amilum

6 Dibolak-balik botol Winkler Warna larutan 12 Dititrasi dengan Terjadi perubahan


selama 5 menit. menjadi kuning menambahkan larutan larutan pada
keruh Na2S2O3 kedua
Erlenmeyer.
Untuk Erlenmeyer
t1 membutuhkan
Na2S2O3 18 tetes
sedangkan untuk
t2 membutuhkan
Na2S2O3 17 tetes.

7 Botol Winkler didiamkan Terbentuk


selama 10 menit endapan di kedua
dasar botol
Winkler. Botol t1
endapannya lebih
banyak dari pada
t2
Pengukuran DO dengan metode mikro Winkler
Ditambahkan 1 ml H2SO4 Larutan menjadi 1 Diambil air dari kedua wadah Kedua Syringe
8
dengan pipet tetes. kuning kecoklatan dengan Syringe dengan cara berisi air yang
memasukkan seluruh syringe berasal dari
kedalam wadah agar tidak wadah.
terdapat gelembung.

9 Dibolak-balik hingga endapan Endapan larut dan


larut. warna larutan
menjadi kuning 2 Ditetesi 1 ml MnSO 4 dengan
kecoklatan syringe 10 ml.
bening. Warna Ditetesi 1 ml alkali iodida Warna larutan
3
dari botol t1 lebih dengan syringe 10 ml. kuning keruh
pekat daripada
botol t2
10 Dipindahkan pada erlenmayer Erlenmayer berisi
250 ml sebanyak 150 ml. larutan berwarna
kuning kecoklatan
bening dari botol
Winkler.
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN 2014 KELOMPOK 7 4

4 Ditambahkan 1 ml H2SO4 Warna larutan Kadar oksigen terlarut pada sampel air tanpa ikan adalah
dengan syringe 10 ml. kuning kecoklatan 4,41 mg/L sedangkan kadar oksigen terlarut pada sampel air
bening berisi ikan Carrasius auratus adalah 4,17 mg/L. Selisih dari
kedua nilai tersebut menunjukkan bahwa ikan Carrasius
auratus menggunakan oksigen dalam sampel air untuk
melakukan respirasi. Penggunaan oksigen oleh Carrasius
auratus pada metode makro Winkler adalah 0,025
mg/L/jam.gram. Jadi, ikan Carrasius auratus menggunakan
oksigen terlarut sebesar 0,025 mg/L setiap jam setiap gram
berat tubuhnya.
Sedangkan pada metode mikro Winkler didapatkan hasil
5 Dipindahkan pada gelas baker kadar oksigen terlarut pada sampel air tanpa ikan adalah
lalu ditetesi 1 tetes amilum 29,785 mg/L sedangkan kadar oksigen terlarut pada sampel
1%. air berisi ikan Carrasius auratus adalah 25,53 mg/L. Selisih
6 Dititrasi dengan Terjadi perubahan dari kedua nilai tersebut menunjukkan bahwa ikan Carrasius
menambahkan larutan larutan pada auratus menggunakan oksigen dalam sampel air untuk
Na2S2O3 kedua gelas melakukan respirasi. Penggunaan oksigen oleh Carrasius
beaker menjadi auratus pada metode mikro Winkler adalah 0,45
bening. Untuk mg/L/jam.gram. Jadi, ikan Carrasius auratus menggunakan
gelas beaker t1 oksigen terlarut sebesar 0,45 mg/L setiap jam setiap gram
membutuhkan berat tubuhnya.
Na2S2O3 18 tetes Oksigen terlarut (dissolved oxygen = DO) dapat berasal
sedangkan untuk dari proses fotosintesis tanaman air dimana jumlahnya tidak
t2 membutuhkan tetap tergantung dari jumlah tanamannya dan dari atmosfer
Na2S2O3 17 tetes. (udara) yang masuk ke dalam air dengan kecepatan terbatas.
Konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan jenuh bervariasi
Pengukuran konsumsi oksigen pada jangkrik tergantung dari suhu dan tekanan atmosfer [6]. Oksigen
1 Dimasukkan kapas yang telah Kapas menjadi terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk
dibasahi dengan KOH 1% basah. pernapasan, proses metabolisme, atau pertukaran zat yang
pada tabung respirometer. kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan
pembiakan [7].
2 Dimasukkan 5 ekor jangkrk Botol respirometer Berbagai cara dapat dilakukan untuk menentukan kadar
(Gryllus sp.) pada tabung berisi 5 ekor oksigen dalam air laut, misalnya dengan metode mikro-
respirometer. jangkrik. gasometrik, spektrometrik massa, kromatografi gas, metode
Winkler dan lain-lain. Namun metode yang paling sering
dipakai untukmenentukan kadar oksigen dalam air laut
adalah metode Winkler [4].
Metode titrasi dengan cara Winkler secara umum banyak
digunakan untuk menentukan kadar oksigen terlarut.
Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri. Sampel
yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan
MnSO4 dan NaOH-KI, sehingga akan terjadi endapan MnO 2.
Dengan menambahkan H2SO4 maka endapan yang terjadi
akan larut kembali dan juga membebaskan molekul iodium
3 Diberi vaselin antara pipa dan Terdapat vaselin (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iodium yang
tabung respirometer. pada penghubung dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar
pipa dan tabung natrium tiosulfat (Na 2S2O3) dan menggunakan indikator
respirometer. amilum (kanji). Reaksi kimia yang terjadi adalah sebagai
berikut [7]:

MnSO4 + NaOH Mn(OH)2 + 2 NaSO4


5 Diberi eosin dengan syring Terdapat eosin 2 Mn(OH)2 + O2 2 MnO2 + 2 H2O
pada pipa respirometer pada pipa MnO2 + 2 KI + 2 H2O Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH
hingga skala 0. respirometer.
I2 + 2 Na2S2O3 Na2S4O6 + 2 NaI
6 Diamati pergerakan eosin Terdapat
setiap menit selama 5 menit. pergerakan eosin Sebelum percobaan dilakukan, ikan Carassius auratus
setiap menitnya. ditimbang terlebih dahulu. Tujuannya adalah untuk
mengetahui berat tubuh dari ikan tersebut karena berat badan
3.2. Metode Winkler merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi laju
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN 2014 KELOMPOK 7 5

konsumsi oksigen [8]. Disiapkan dua wadah berisi air dengan menegaskan bahwa kadar DO minimum yang harus ada
volume dan sumber yang sama. Kemudian ikan diletakkan pada air adalah >2 mg O2/lt. Idealnya, kandungan oksigen
pada salah satu wadah yang sudah diisi dengan air dan terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama waktu 8
ditutup rapat selama satu jam. Tujuannya adalah untuk jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70%
membandingkan kadar oksigen pada wadah berisi ikan dan [9].
yang tidak ada ikan. Ditutup selama 1 jam bertujuan agar Oksigen terlarut yang diperoleh dari yaitu 4,41 mg/L
ikan melakukan respirasi sehingga dapat diketahui jumlah melebihi kadar oksigen terlarut minimum pada air. Menurut
oksigen yang digunakan oleh ikan. literature yang didapat, kadar oksigen pada air yang
Sampel air diambil dengan cara botol Winkler dan Syringe digunakan dapat dikatakan baik. Semakin banyak jumlah
dimasukkan ke dalam wadah sampel air hingga ke dasar DO (dissolved oxygen), maka kualitas air semakin baik.
wadah kemudian ditutup di dalam wadah. Hal ini bertujuan Jika kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan
untuk menghindari adanya gelembung dan terkontaminasi menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi
dari udara diluar sampel air. Begitu pula, pengambilan anaerobik yang mungkin saja terjadi [10].
sampel air metode mikro Winkler, Syringe terendam dalam Kelebihan metode Winkler dalam menganalisis oksigen
sampel air dan dihindari adanya gelembung udara pada terlarut (DO) adalah dimana dengan cara titrasi berdasarkan
Syringe. metode Winkler lebih analitis, teliti dan akurat apabila
Setelah diberi MnSO4 dan alkali iodide, botol Winkler dan dibandingkan dengan cara DO meter. Hal yang perlu
Syringedibolak-balik selama 5 menit. Hal ini bertujuan untuk diperhatikan dalam titrasi iodometri ialah penentuan titik
menghomogenkan sampel air dan reagen. MnSO 4 jika akhir titrasinya, standarisasi larutan tiosulfat secara analitis,
bereaksi dengan basa (OH-) akan membentuk endapan dan penambahan indikator amilumnya. Dengan mengikuti
Mn(OH)2 [4]. MnSO4 ini berfungsi untuk mengikat O2 dalam prosedur yang tepat dan standarisasi tiosulfat secara analitis
larutan. Alkali iodide (NaOH + KI) berfungsi untuk mengikat akan diperoleh hasil penentuan oksigen terlarut yang lebih
oksigen sehingga terbentuk endapan berwarna kuning. akurat. Sedangkan ara DO meter harus diperhatikan suhu
Kemudian botol Winkler dan Syringe didiamkan selama 10 dan salinitas sampel yang akan diperiksa. Peranan suhu dan
menit. Tujuannya agar oksigen terikat dengan sempurna yang salinitas ini sangat vital terhadap akuransi penentuan
ditandai dengan timbulnya endapan didasar botol. Endapan oksigen terlarut dengan cara DO meter. Disamping itu,
ini merupakan hasil dari proses oksidasi antara sampel air peranan kalibrasi alat sangat menentukan akurasinya hasil
dengan MnSO4 dan alkali iodide. penentuan.
Fungsi dari penambahan H2SO4 adalah untuk melarutkan Penentuan kadar oksigen dalam air laut dengan metode
dan melepaskan Mn. Ion Mn 2+ yang dilepaskan ini bersifat Winkler ternyata banyak mendapat gangguan analisis, baik
oksidator kuat sehingga akan mengoksidasi ion iodide yang bersifat positif maupun negative. Gangguan negative
menjadi I2 bebas. I2 yang dibebaskan dari garam NaI atau KI dapat disebabkan oleh adanya zat yang bersifat reduktor
ini dititrasi oleh dengan natrium tiosulfat (Na 2S2O3) yang dalam sampel air, misalnya garam-garam Fe2+. Reduktor-
berfungsi sebagai titran. Larutan tiosulfat dioksidasi menjadi reduktor ini akan dioksidasi oleh oksigen yang terdapat
tetrationat dan I2 direduksi menjadi I-. Untuk menentukan dalam sampel air sehingga kadar oksigen yang diperoleh
titik akhir titrasi digunakan indikator amilum sebagai akan lebih rendah dari kadar yang sebenarnya. Adanya
indikator suasana basa. Iodium (I2) bereaksi dengan amilum aktivitas mikroorganisme yang membutuhkan oksigen untuk
membentuk senyawa kompleks. Ikatan antara I 2 dengan menguraikan zat organik juga akan memberikan gangguan
amilum tidak begitu kuat, I2 mudah lepas dan bereaksi negative. Fitoplankton yang terdapat dalam sampel air,
dengan tiosulfat. Titrasi dihentikan pada saat warna larutan dengan bantuan sinar matahari akan berfotosintesis
berubah menjadi tidak berwarna. Banyaknya O 2 adalah menghasilkan oksigen, sehingga adanya fitoplankton dan
ekivalen dengan banyaknya I2 yang dilepaskan. Banyaknya I2 sinar matahari akan memberikan gangguan positif (kadar
yang dilepaskan adalah ekivalen dengan banyaknya larutan oksigen yang diperoleh lebih tinggi dari kadar yang
baku Na2S2O3 yang diperlukan untuk titrasi. Oleh karena itu, sebenarnya). Adanya gangguan-gangguan tersebut
kadar oksigen dalam sample air dapat dihitung dari mengakibatkan data yang diperoleh kurang tepat. Data yang
banyaknya larutan baku tiosulfat yang terpakai untuk titrasi kurang tepat akan menyebabkan kesimpulan yang diambil
[4]. dari suatu penelitian, kurang menggambarkan keadaan yang
sebenarnya dari perairan yang diteliti [4].
3.3 Perbedaan Metode Makro Winkler dan Mikro Winkler Keperluan organisme terhadap oksigen relatif bervariasi
Perbedaan metode mikro Winkler dan makro Winkler tergantung pada jenis, stadium dan aktifitasnya. Kebutuhan
adalah pada volume sampel air yang digunakan, dimana oksigen untuk ikan dalam keadaan diam relatif lebih sedikit
pada metode mikro Winkler digunakan sampel air pada apabila dibandingkan dengan ikan pada saat bergerak atau
volume lebih kecil sehingga menggunakan Syringe bukan memijah. Jenis-jenis ikan tertentu yang dapat menggunakan
botol Winkler. Keakuratan metode mikro Winkler lebih oksigen dari udara bebas memiliki daya tahan lebih terhadap
tinggi dibandingkan keakuratan metode makro Winkler perairan yang kekurangan oksigen terlarut [7]. Beberapa
karena volume sampel air yang digunakan pada mikro faktor yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen antara lain
Winkler kecil sehingga tingkat kesalahan lebih kecil. temperatur, spesies hewan, ukuran badan dan aktivitas [8].
Kandungan Dissolved Oxygen (DO) minimum adalah 2
ppm dalam keadaan nornal dan tidak tercemar oleh 3.4. Respirasi pada Gryllus sp.
senyawa beracun (toksik) atau berdasarkan Peraturan Alatalat yang digunakan pada praktikum ini adalah
Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan respirometer, kapas, neraca analitik dan stopwatch.
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN 2014 KELOMPOK 7 6

Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu berat tubuh, ukuran tubuh, kadar oksigen dak aktivitas.
adalah Gryllus sp. KOH 1% dan eosin. Semakin berat tubuh suatu organisme, maka semakin banyak
Pertama-tama ditimbang 5 ekor Gryllus sp. Kemudian oksigen yang dibutuhkan dan semakin cepat proses
dicatat berat tubuhnya dalam satuan gram. Berat badan respirasinya. Bila kadar oksigen rendah, maka frekuensi
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi respirasi respirasi akan meningkat sebagai kompensasi untuk
pada serangga [5]. Semakin berat tubuh suatu organisme, meningkatkan pengambilan oksigen. Makhluk hidup yang
maka semakin banyak oksigen yang dibutuhkan dan semakin melakukan aktivitas memerlukan energi. Jadi, semakin tinggi
cepat proses respirasinya. Hal ini dikarenakan organisme aktivitasnya, maka semakin banyak kebutuhan energinya
yang memiliki ukuran serta berat lebih besar, metabolisme sehingga pernafasannya semakin cepat.
yang dilakukan juga relatif besar sehingga oksigen yang
dibutuhkan juga relatif besar. Kemudian botol respirometer
diberi kapas yang sudah dicelupkan dalam larutan KOH 1%. DAFTAR PUSTAKA
Fungsi dari KOH yaitu sebagai pengikat CO2 agar tekanan [1] W. Isnaeni. Fisiologi Hewan. Kanisius: Yogyakarta (2006).
dalam respirometer menurun. Jika tidak diikat, maka tekanan [2] D. Djojodibroto. Respirologi (Respiratory Medicine). Buku Kedokteran
parsial gas dalam respirometer akan tetap dan eosin tidak EGC: Jakarta (2009).
[3] E. Sloane. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Buku Kedokteran EGC:
dapat bergerak. Hal ini dapat mengakibatkan oksigen yang Jakarta (2004).
dihirup serangga tidak dapat terukur. Reaksi antara KOH dan [4] H. P. Hutagalung, A. Rozak, dan I. Lutan. Beberapa Catatan Tentang
CO2 adalah sebagai berikut [5] : Penentuan Kadar Oksigen Dalam Air Laut Berdasarkan Metode Winkler.
Oseana, Volume X, Nomor 4: 138-149 (1985).
[5] D. S. Isahi. Praktikum Respirasi pada Serangga. Diambil dari
KOH + CO2 KHCO3 .. (1) http://www.praktikumbiologi.com/2013/02/praktikum-respirasi-pada-
KHCO3 + KOH K2CO3 + H2O ... (2) serangga.html pada tanggal 25 April 2014 pukul 8.36 (2013).
[6] S. Fardiaz. Polusi Air dan Udara. Kanisius: Yogyakarta (1992).
[7] Salmin. Oksigen Terlarut (DO) dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD)
Kemudian, kelima Gryllus sp. di masukkan ke dalam Sebagai Salah Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas Perairan.
tabung respirometer. Sambungan antara tabung dan pipa Oseana Volume XXX Nomor 3 21-26 (2005).
skala diolesi dengan vaselin agar tidak ada udara yang masuk [8] A. J. Tobin. Asking About Life. Thomson Brooks: Cole, Canada (2005).
maupun yang keluar. Eosin lalu disuntikkan di bagian ujung [9] Siswanto. Bahan Ajar Fisiologi. Laboratorium Fisiologi Universitas
Udayana: Denpasar (2008).
pipa skala. Eosin disini sebagai indikator oksigen yang [10] Department of Primary Industries and Resources of South Australia. Water
dihirup oleh Gryllus sp. pada respirometer. Saat Gryllus sp. Quality in Fresh A q u a c u l t u r e P o n d s . Diambil dari
menghirup oksigen makan terjadi penurunan tekanan gas http://www.pir.sa.gov.au/data/assets/pdf_file /0008/34001/watqual.pdf.
dalam respirometer sehingga eosin bergerak masuk kearah 22/08/09. p3. Pada tanggal 24 April 204 pukul 13.22 (2003).
respirometer [5]. Respirometer bekerja atas prinsip
pertukaran oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2). LAMPIRAN
Penggunaan oksigen oleh 5 Gryllus sp. pada tabung 1. Perhitungan Metode Makro Winkler
respirometer adalah 1,340 ml.gr/jam. Jadi, Gryllus sp. T1(tanpa ikan) = 18 tetes = 0,9 ml
mengkonsumsi oksigen dalam respirometer sebanyak 1,340
ml setiap gram tubuhnya. Gryllus sp. dengan ukuran dan T2 (ada ikan) = 17 tetes = 0,85 ml
berat bada yang lebih besar akan mengkonsumsi lebih banyak Berat ikan = 9,33 gram
oksigen. Berat tubuh dan ukuran tubuh merupakan faktor-
faktor yang mempengaruhi laju respirasi pada serangga.
Semakin berat tubuh suatu organisme, maka semakin banyak
oksigen yang dibutuhkan dan semakin cepat proses
respirasinya. Hal ini dikarenakan organisme yang memiliki
ukuran serta berat lebih besar, metabolisme yang dilakukan
juga relatif besar sehingga oksigen yang dibutuhkan juag
relatif besar.
Penggunaan oksigen dalam proses metabolisme tubuh
jangkrik (Gryllus sp.) dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain berat tubuh, ukuran tubuh, kadar O 2 dan aktivitas.
Bila kadar oksigen rendah, maka frekuensi respirasi akan
meningkat sebagai kompensasi untuk meningkatkan
pengambilan oksigen. Makhluk hidup yang melakukan
aktivitas memerlukan energi. Jadi, semakin tinggi
aktivitasnya, maka semakin banyak kebutuhan energinya
sehingga pernafasannya semakin cepat.

IV. KESIMPULAN
Penggunaan oksigen pada Carassius auratus sebanyak
0,025 mg/L setiap jam setiap berat gram tubuhnya.
Sedangkan Gryllus sp. sebanyak 1,340 ml setiap gram
tubuhnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju respirasi
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN 2014 KELOMPOK 7 7

mg/l jam gram

2. Perhitungan Metode Mikro Winkler


T1(tanpa ikan) = 7 tetes = 0,35 ml
T2 (ada ikan) = 6 tetes = 0,3 ml
Berat ikan = 9,33 gram

mg/l jam gram

3. Perhitungan Penggunaan Oksigen pada Jangkrik


Berat jangkrik:
1 = 0,30 gram
2 = 0,37 gram
3 = 0,32 gram
4 = 0,30 gram
5 = 0,29 gram
= 1,58 gram
Menit Skala Volume
1 0 -0,03 0,03
2 0,03 0,06 0,03
3 0,06 0,09 0,03
4 0,09 0,14 0,05
5 0,14 0,19 0,04