Anda di halaman 1dari 17

Nama Fariska Vera Imanda

NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

TIKET MASUK
BAB III
ASIDI ALKALIMETRI

A. PRELAB
1. Apa yang dimaksud dengan analisis volumetri?

Analisis volumetri merupakan teknik analisis kuantitatif yang mendasarkan pada volume
larutan standar, untuk menentukan banyaknya suatu zat dalam volume tertentu dengan
mengukur banyaknya volume larutan standar yang dapar bereaksi secara kuantitatif dengan
zat yang akan ditentukan. Prosesnya disebut titrasi, yaitu penambahan larutan standar pada
larutan sampel. Dalam setiap metode analisis volumetri selalu terjadi reaksi kimia antara
komponen analit dengan zat pendeteksi yang disebut titran. Reaksi dasar antara komponen
analit dengan titran dinyatakan dengan persamaan umum Analit + Titran Hasil reaksi
(Suhanda, 2009).
2. Apa yang dimaksud dengan asidi-alkalimetri?

Asidimetri berarti pengukuran konsentrasi basa dengan larutan baku asam, sedangkan
alkalimetri berarti pengukuran konsentrasi asam dengan larutan baku basa. Titrasi asidimetri-
alkalimetri merupakan titrasi yang berhubungan dengan asam-basa. Berdasarkan reaksinya
dengan pelarut, asam dan basa diklasifikasikan menjadi asam-basa kuat dan lemah sehingga
titrasi asam-basa meliputi titrasi asam kuat dengan basa kuat, asam kuat dengan basa lemah,
asam lemah dengan basa kuat, asam kuat dengan garam dari asam lemah, dan basa kuat
dengan garam dari basa lemah (Padmaningrum, 2011).
3. Apa yang dimaksud dengan larutan standar primer?

Suatu larutan dapat digunakan sebagai larutan standar bila memenuhi persyaratan antara
lain mempunyai kemurnian yang tinggi ,mempunyai rumus molekul yang pasti, tidak bersifat
higroskopis dan mudah ditimbang, larutannya harus bersifat stabil ,mempunyai berat ekivalen
(BE) yang tinggi Suatu larutan yang memenuhi persyaratan tersebut diatas disebut larutan
standar primer (Wiryawan, 2007).
4. Apa yang dimaksud dengan larutan standar sekunder?

Larutan standar sekunder adalah larutan standar yang bila akan digunakan untuk
standarisasi harus distandarisasi lebih dahulu dengan larutan standar primer (Wiryawan,
2007).
5. Apa yang dimaksud dengan standarisasi/pembakuan larutan?

Larutan baku (standar) adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti, dan
konsentrasinya biasa dinyatakan dalam satuan N (normalitas) atau M (molaritas). Senyawa
yang digunakan untuk membuat larutan baku dinamakan senyawa baku (Rohman, 2007).
6. Larutan apa yang digunakan untuk menstandarisasi larutan NaOH? Tuliskan
persamaan reaksinya!

Standarisasi larutan NaOH dapat menggunakan asam oksalat dan juga asam asetat
dengan reaksi sebagai berikut:
Nama Fariska Vera Imanda
NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

- Asam Oksalat
C2H4.2H2O(aq) + 2NaOH(aq) Na2C2O4(aq) + 4H2O(l)

- Asam Asetat
CH3COOH(aq) + NaOH(aq) CH3COOH(aq) + H2O(aq)

(Sumardjo, 2009).
7. Larutan apa yang digunakan untuk menstandarisasi HCl? Tuliskan persamaan
reaksinya!

Standarisasi untuk HCl dapat menggunakan boraks (Na2B4O7.10H2O), dengan bantuan


indikator metil orange. Adapun reaksinya sebagai berikut:

Na2B4O7.10H2O + 2H2O 4B(OH)3 + 2NaCl + 5H2O

(Sumardjo, 2009).
8. Jenis asam apa yang dominan terdapat pada asam cuka perdagangan? Tuliskan
persamaan reaksinya dengan NaOH!

Asam etanoat (asam asetat) merupakan jenis asam yang paling dominan pada asam
cuka perdagangan. Asam asetat juga dikenal sebagai senyawa kimia asam organik pemberi
aroma dan rasa asam pada makanan. Adapun persamaan reaksinya dengan NaOH sebagai
berikut:

NaOH(aq) + CH3COOH(aq) CH3COONa(aq) + H2O(l)

(Sumardjo, 2009).
Nama Fariska Vera Imanda
NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

B. TINJAUAN PUSTAKA
1. Prinsip Dasar Titrasi
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titran. Kadar
larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa atau sebaliknya. Titran
ditambahkan titer tetes demi tetes sampai mencapai keadaan ekuivalen yang artinya secara
stoikiometri titran dan titer tepat habis bereaksi.. Dalam hal ini biasanya ditandai dengan
berubahnya warna indicator. Keadaan ini disebut sebagai titikekuivalen, yaitu titik dimana
konsentrasi asam sama dengan basa atau titik dimana jumlah basa yang ditambahkan sama
dengan jumlah asam yang dinetralkan : [H+] = [OH-]. Sedangkan keadaan dimana titrasi
dihentikan dengan cara melihat perubahan warna akhir indicator disebut sebagai titik akhir
titrasi. Titik akhir titrasi ini mendekati titik ekuivalen, tapi biasanya titik akhir titrasi melewati
titik ekuivalen. Olehkarena itu, titik akhir titrasi sering disebut juga sebagai titik ekuivalen
(Istiqomah, 2012).

2. Pengertian Asidi Alkalimetri


Asidimetri adalah penentuan konsentrasi suatu larutan basa dengan menggunakan
larutan asam sebagai standarnya. Sebaliknya, Alkalimetri adalah penentuan konsentrasi
suatu larutan asam dengan menggunakan larutan basa sebagai standarnya (Suyatno, 2007).

3. Pengertian larutan standar primer dan sekunder beserta contohnya


Larutan standar primer adalah larutan standar yang dipersiapkan dengan menimbang dan
melarutkan suatu zat tertentu dengan kemurnian tinggi (konsentrasi diketahui dari massa -
volum larutan) yang langsung dapat digunakan dalam titrasi sehingga dapat menentukan
jumlah zat yang dianalisa. Contohnya H2C2O4, Na2C2O4, KBrO3, KIO3, NaCl, Boraks, dan
Na2CO3. Larutan standar sekunder adalah larutan standar yang dipersiapkan dengan
menimbang dan melarutkan suatu zat tertentu dengan kemurnian relatif rendah sehingga
konsentrasi diketahui setelah disantardisasikan dengan larutan standar primer. Contoh larutan
standar sekunder diantaranya NaOH, KOH, KMnO4, HCl, H2SO4 (Padmaningrum, 2011).

4. Fungsi Bahan Dalam Praktikum


Fungsi dari bahan bahan dalam praktikum asidi dan alkalimetri diantaranya NaOH
pemberi suasana asam, HCl sebagai larutan sampel keadaan normal, asam cuka
perdagangan sebagai larutan yang diuji. Indicator metil orange sebagai penentu titik akhir
titrasi yang jika berwarna kuning menandakan keadaan netral dengan pH 3,1 4,4. Indicator
PP atau Fenolftalein sebagai penentu titik akhir dalam titrasi yang jika tidak berwarna berarti
menunjukkan netral sedangkan warna merah muda menunjukkan keadaan basa dengan pH
8 10. Borak berfungsi sebagai larutan yang diuji. Asam oksalat sebagai larutan yang diuji
atau penitrat. Aquades sebagai pelarut Kristal (Istiqomah, 2012).

5. Aplikasi Titrasi Asam Basa Dalam Bidang Teknologi Pertanian


Aplikasi dari titrasi Asam Basa dapat diterapkan di berbagai bidang, salah satunya di
bidang teknologi pertanian. Contohnya penggunaan dalam bidang teknologi pertanian dan
pertanian yaitu untuk pembuatan pupuk kalium klorida dimana dalam pembentukannya
Nama Fariska Vera Imanda
NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

diperlukan MgO yang dihitung kadarnya sebagai penguji dengan proses titrasi (Syamsuni,
2007).

C. DIAGRAM ALIR

1. Pembuatan Larutan Standar HCl 0,1 M

HCl Pekat

Dihitung konsentrasinya

Dimasukkan dalam labu ukur 100 ml


Aquades secukupnya
Dihomogenisasi

Hasil
Nama Fariska Vera Imanda
NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

2. Standarisasi Larutan HCl

Na2B4O. 10H2O

Ditimbang sebanyak 1,9 gram

Diletakan dalam beaker glass


Aquades secukupnya

Dilarutkan

Dipindahkan ke dalam labu ukur ukuran 100mL


Aquades

Ditambahkan hingga tanda batas

Dihomogenisasi

Diambil 10 ml

Dimasukkan ke dalam erlenmeyer


Indikator metil

Ditambahkan 1-2 tetes metil orange

Dititrasi dengan HCl

Diamati perubahan warna yang terjadi

Dilakukan Duplo

Dihitung M HCl
Nama Fariska Vera Imanda
NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

Hasil

3. Pembuatan Larutan Standar NaOH 0,1 M

NaOH

Ditimbang sebanyak 0,4 gram dengan timbangan analitik

Diletakan dalam beaker glass


Aquades secukupnya

Dilarutkan

Dipindahkan ke dalam labu ukur ukuran 100mL


Aquades

Ditambahkan hingga tanda batas

Dihomogenisasi

Hasil
Nama Fariska Vera Imanda
NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

4. Standarisasi Larutan NaOH

Asam Oksalat 0,05 M

Diambil 10 ml ke dalam erlenmeyer


Indikator PP

Ditambahkan 1 2 tetes indikator

Dititrasi dengan NaOH

Diamati hingga terjadi perubahan warna

Dilakukan duplo

Dihitung M NaOH

Hasil
Nama Fariska Vera Imanda
NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

5. Penggunaan Larutan Standar Asam dan Basa Untuk Menetapkan Kadar Asam
Asetat pada Cuka

Asam Cuka

Diambil sebanyak 10 ml

Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml


Aquades secukupnya
Ditambah hingga tanda batas

Dihomogenkan

Diambil sebanyak 10 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer

Indikator PP
Ditambah 2 3 tetes

Dititrasi dengan larutan NaOH dalam buret

Diamati perubahan warna yang terjadi pada erlenmeyer

Dilakukan duplo

Dihitung kadar asetat

Hasil
Nama Fariska Vera Imanda
NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

D. DATA HASIL PRAKTIKUM

1. Pembuatan larutan standar HCl 0,1 M


BJ HCl : 1, 19 g/L
Kadar HCl : 32%
Volume HCl yang dibutuhkan : 0,96 ml
Perhitungan:
% 10
6. M =

1,19 32 10
= 36,5

= 10,43 M
7. Pengenceran :
MHCl pekat . VHCl pekat = MHCl . VHCl

10,43 . V = 0,1 . 100


V = 0,96 ml

Mengapa dalam pembuatan larutan standar HCl, BJ HCl harus diperhitungkan?


Dalam pembuatan larutan standar HCl, berat jenis dari HCl harus diperhatikan
dikarenakan berat jenis dapat mempengaruhi konsentrasi pada pembuatan larutan HCl,
kaitannya jika berat jenis yang digunakan tidak sama, menyebabkan ketidak akuratan pada
saat berlangsung proses titrasi (Khopkar, 2008).

2. Standarisasi larutan HCl 0,1 M


Volume HCl : V1 = 13,4 ml V2 = 12,2 ml
Molaritas HCl : 0,1 M
Berat boraks : 1,9 gram
BM boraks : 381 gr/ mol
Molaritas larutan HCl hasil : 0,078 M
standarisai
Perhitungan : Na2B4O7.10H2O + 2HCl NaCl + 4H3BO3 + 5H2
8. M1 . V1 = M2 . V2 . 2 10. M1 . V1 = M2 . V2 . 2
M1 . 13,4 = 0,05 . 10 . 2 M1 . 12,2 = 0,05 . 10 . 2
M1 = 0,037 . 2 M1 = 0,041 . 2
Nama Fariska Vera Imanda
NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

MA = 0,074 M MB = 0,082 M

MA + MB
9. M = 2
0,074 + 0,082
= 2

= 0,078 M
Mengapa asam boraks digunakan untuk menstandarisasi larutan HCl?
Dalam proses standarisasi larutan HCl dipilih menggunakan asam boraks karena
antara HCl dan boraks terjadi reaksi sempurna. HCl ( asam kuat ) akan bereaksi dengan
boraks (basa lemah ) sehingga akan membentuk garam yang bersifat asam. Adapun
reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut :
Na2B4O7.10H2O + 2HCl ===> 2NaCl + 4H3BO3 +5H2O
Disisi lain, boraks juga merupakan sebuah basa lemah yang mudah larut dalam air, tidak
bersifat korosif serta mudah larut dalam air sehingga boraks digunakan untuk menetralisir
larutan HCl agar dapat netral dan stabil (Khopkar, 2008).
3. Pembuatan larutan standar NaOH
Berat NaOH : 0,4085 gram
Volume larutan NaOH : 100 ml
Molaritas larutan NaOH : 0,1 M
Perhitungan:
1000
MNaOH =
1000
0,1 = 40 100
0,1 . 40 . 100
gr = 1000

gr = 0,4 gram
Mengapa larutan NaOH harus distandarisasi?
Larutan NaOH harus disandarisasi dikarenakan Na merupakan logam yang sangat
reaktif sehingga apabila langsung terkena air dingin dapat mengakibatkan perubahan tekanan.
Di sisi lain, NaOh juga masih berbentuk padatan sehingga harus dilakukan standarisasi
terlebih dahulu. Sehingga, standarisasi larutan NaOH perlu diakukan untuk memastikan
keakuratan konsentrasi NaOH yang nantinya akan digunakan sebagai larutan standar
(Sukarti, 2008).

4. Standarisasi larutan standar NaOH


Berat Na-oksalat : 0,63 gram
BM Na-oksalat : 126 g/mol
Volume akuades : 100 ml
Nama Fariska Vera Imanda
NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

Volume larutan NaOH 0,1 M : V1 = 12,3 ml V2 = 11,6 ml


Molaritas larutan NaOH : 0,0836 M
Perhitungan:
11. M1 . V1 = M2 . V2 . 2
M1 . 12,3 = 0,05 . 10 . 2
1
M1 =
12,3

MA = 0,0813 M

12. M1 . V1 = M2 . V2 . 2
M1 . 11,6 = 0,05 . 10 . 2
1
M1 = 11,6

MB = 0,086 M

MA + MB
13. M = 2
0,0813 + 0,086
=
2

= 0,0836 M

a. Mengapa standarisasi larutan NaOH menggunakan Na-oksalat?

Standarisasi larutan NaOH menggunakan Na-oksalat karena antara NaOH dan asam
oksalat terjadi reaksi sempurna yang disebabkan karena NaOH merupakan basa kuat
sehingga akan bereaksi dengan asam oksalat yang bersifat asam lemah untuk membentuk
garam yang bersifat basa. Adapun reaksi sebagai berikut :
2NaOH + H2C2O4 Na2C2O4 + 2H2O
Karena Na-oksalat dan NaOH dapat bereaksi sempurna, menyebabkan reaksi tersebut
akan lebih mudah untuk diamati titik akhirnya dan juga Na-oksalat merupakan unsur yang
stabil dan tidak mudah menguap (Tim Asisten, 2011).

b. Mengapa indikator yang digunakan adalah pp (fenolftalein)?

Indikator yang digunakan adalah indikator pp, karena indikator pp memiliki jarak pH
antara 8,5-10, dimana pada kisaran pH tersebut mendekati range pH garam basa yang
dihasilkan, maka dengan indikator ini dapat menunjukkan titik akhir titrasi yang terbentuk
dengan perubahan warna (Tim Asisten, 2011).

5. Penetapan kadar asam asetat pada cuka


Volume larutan asam cuka : 10 ml
Volume NaOH (titrasi) : V1 = 2 ml V2 = 1,5 ml
Molaritas NaOH : 0,0836 M
Nama Fariska Vera Imanda
NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

BM asam organik dominan : 60 g/mol


Persamaan reaksi : NaOH + CH3COOH CH3COONa + H2O
Kadar total asam (% b/v) :
Perhitungan:
14. M1 . V1 = M2 . V2 . Fp
M1 . 10 = 0,0836 . 2 . 100
M1 = 1,672 M

15. M1 . V1 = M2 . V2 . Fp
M1 . 10 = 0,0836 . 1,5 . 100
M1 = 1, 254 M

+
16. M = 2
1,672+1,254
M = 2

M = 1,463 M

1000
17. M =

1000
1, 463 = 60 10
1,463 6
gr =
10

gr = 0,878 gram


18. % (b/v) = 0,01 x 100%
0,878
= 10 x 100%

= 8, 78 %

Apakah prinsip analisis kadar total asam bisa digunakan untuk menentukan keasaman produk
pangan yang lain? Jelaskan contoh aplikasinya!
Prinsip analisis kadar total asam dapat digunakan untuk menentukan keasaman suatu
produk pangan. Untuk aplikasinya dapat diambil contoh pada produk kefir. Kefir memiliki rasa
yang sangat asam. Dengan prinsip kadar total asam, kita dapat menentukan kadar asamnya
(Hong, 2016).
Nama Fariska Vera Imanda
NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

E. PEMBAHASAN

1. Analisa Prosedur

a. Membuat Larutan Standar HCl 0,1 M


Dalam membuat larutan standar HCl 0,1 M yang pertama kali dilakukan adalah
% 10
mencari konsentrasi HCl pekat menggunakan rumus M =
sehingga akan ditemukan
jika konsentrasi HCl tersebut 10, 43 mol. Setelah konsentrasi diketahui kemudian dilanjutkan
mencari volume Hcl pekat yang dibutuhkan menggunakan rumus pengenceran M1 . V1 = M2 .
V2 sehingga akan ditemukan besarnya volume HCl pekat yang dibutuhkan sebanyak 0,96 ml.
kamudian mengambil 0,96 ml HCl pekat menggunakan pipet ukur dan memasukkannya ke
dalam labu ukur 100 ml yang telah diberi sedikit aquades sebelumnya. Kemudian
menambahkan aquades sampai tanda batas garis pada labu ukur. Lalu labu ukur ditutup, dan
larutan HCl 0,1 M dihomogenkan. Terakhir, akan didapatkan larutan standar HCl 0,1 M ke
dalam buret.

b. Standarisasi larutan HCl dengan boraks (Na2B4O7.10H2O)


Pertama yang dilakukan untuk standarisasi larutan HCl dengan boraks adalah
menentukan massa boraks yang dibutuhkan dengan menggunakan rumus Molaritas,
sehingga akan didapatkan massa borak sebesar 1,9 gram. Lalu menimbang boraks
menggunakan timbangan analitik. Kemudian memasukkan boraks ke dalam gelas beker untuk
dilarutkan dengan aquades. Setelah itu larutan boraks dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml
dilanjutkan dengan menambahkan aquades sampai tanda batas pada labu ukur. Kemudian
labu ukur ditutup dan larutan boraks dihomogenkan. Dari larutan boraks yang telah homogeny
diambil 10 ml untuk dimasukkan ke dalam Erlenmeyer dan menambahkan 1-2 tetes indicator
metil orange. Setelah itu menitrasilarutan boraks menggunakan HCl 0,1 M. mengamati
perubahan warna dari bening orange menjadi merah muda. Setelah didapat kemudian
mencatat volume HCl yang digunakan dalam titrasi tersebut. Untuk mendapatkan volume rata
rata HCl yang dibutuhkan dengan melakukan duplo. Dilanjutkan menghitung konsentrasi
HCl. Terakhir akan didapatkan hasil berupa larutan HCl yang telah tersandardisasi.

c. Membuat larutan standar NaOH 0,1 M


Untuk membuat larutan standar NaOH 0,1 M yang pertama menentukan massa NaOH
yang dibutuhkan dengan menggunakan rumus Molaritas, sehingga akan didapatkan massa
NaOH sebesar 0,4 gram. Lalu menimbang NaoH menggunakan timbangan analitik. Kemudian
memasukkan NaOH ke dalam gelas beker untuk dilarutkan dengan aquades. Setelah itu
larutan boraks dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml dilanjutkan dengan menambahkan
aquades sampai tanda batas pada labu ukur. Kemudian labu ukur ditutup dan larutan boraks
dihomogenkan. Setelah didapatkan hasil berupa larutan standar NaOH sebesar 0,1 M
kemudian memasukkan larutan standar NaOH 0,1 M ke dalam buret untuk menitrasi asam
oksalat.

d. Standarisasi larutan NaOH 0,1 M dengan asam oksalat (H2C2O4.2H2O)


Nama Fariska Vera Imanda
NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

Untuk melakukan standarisasi larutan NaOH 0,1 M dengan asam oksalat terlebih
dahulu mengambil 10 ml asam oksalat 0,05 M dan memasukkannya ke dalam Erlenmeyer.
Kemudian menambahkan 1-2 tetes indicator pp. lalu menitrasi asam oksalat dengan NaOH.
Dilanjutkan dengan mengamati perubahan warna yang terjadi dari bening menjadi merah
muda. Lalu mencatat volume NaOH yang digunakan untuk menitrasi asam oksalat. Melakukan
duplo, dilanjutkan menghitung M NaOH dan terakhir akan didapatkan hasil berupa larutan
NaOH yang telah terstandarisasi.

e. Penggunaan larutan standar asam dan basa untuk menetapkan kadar asam asetat
pada cuka
Terlebih dahulu mengambil cuka sebanyak 10 ml menggunakan pipet ukur atau pipet
volume kemudian memasukannya ke dalam labu ukur 100 ml. Lalu menambahkan aquades
hingga tanda batas pada labu ukur kemudian menghomogenkan larutan cuka. Setelah larutan
cuka telah homogeny kemudian mengambil sebanyak 10 ml larutan cuka dan
memasukkannya ke dalam Erlenmeyer. Dilanjutkan menambahkan indicator pp sebanyak 2-3
tetes kemudian menitrasi larutan cuka dengan menggunakan larutan NaOH yang berada di
dalam buret. Mengamati perubahan warna yang terjadi dari jernih menjadi merah muda. Lalu
mencatat volume NaOH yang digunakan untuk melakukan titrasi dilanjutkan melakukan duplo.
Menghitung kadar asam asetat yang terkandung di dalam cuka.

2. Analisa Hasil

a. Membuat larutan standar HCl 0,1 M

Dalam membuat larutan standar HCl 0,1 M yang pertama dilakukan mencari volume
HCl 32% yang akan diencerkan dalam pembuatan 100 ml larutan HCl 32% dengan rumus
molaritas dan rumus pengenceran sebagai berikut :
% 10
M=

32% 10 1,19
M= 36,5
M = 10,43 M

Setelah konsentrasi didapat kemudian mencari volume yang dibutuhkan menggunakan rumus
pengenceran sebagai berikut :

M1 . V1 = M2 . V2
10,43 . V1 = 0,1 . 100
0,1 . 100
V1 = = 0,96 ml
10,43
Maka diketahui volume HCl yang dibutuhkan sebesar 0,96 ml (Suhanda, 2009).

b. Standarisasi larutan HCl dengan boraks (Na2B4O7.10H2O)

Persamaan reaksi :
Na2B4O7.10H2O + 2 HCl 2 NaCl + 4H3BO3 + 5H2
1 grammol HCl = 2 x grammol Na2B4O7.10H2O
Nama Fariska Vera Imanda
NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

Sehingga larutan HCl 0,1 M (0,1N) distandarisasi dengan larutan boraks 0,05 M (0,1N).
Titrasi dilakukan secara duplo. Pada percobaan pertama membutuhkan 13,4 ml HCl. Dan pada
percobaan ke dua dibutuhkan 12,2 ml HCl. Sebelum dilakukan standarisasi, perlu di tambahkan
indicator metil orange pada boraks. Perbedaan volume HCl yang di butuhkan untuk proses titrasi
dapat dipengaruhi oleh beberapa factor. Salah satunya adalah banyak nya tetesan indicator
dalam proses titrasi. Konsentrasi HCl didapat dari konsentrasi rata rata percobaan yang
dilakukan secara duplo, sehingga akan didapat hasil sebagai berikut:
19. M1 . V1 = M2 . V2 . 2
M1 . 13,4 = 0,05 . 10 . 2
M1 = 0,037 . 2
M = 0,074 M

20. M1 . V1 = M2 . V2 . 2
M1 . 12,2 = 0,05 . 10 . 2
M1 = 0,041 . 2
M = 0,082 M

M1 + M2
21. M = 2
0,074 + 0,082
= 2
= 0,078 M

Sehingga, konsentrasi larutan HCl hasil standarisasi adalah 0,078 M (Tim Pengampu Mata
Kuliah Kimia Dasar, 2017).

c. Membuat larutan standar NaOH 0,1 M


Dalam pembuatan larutan standar NaOH, massa NaOH dicari dengan rumus :
1000
MNaOH =
1000
0,1 = 40 100
0,1 . 40 . 100
gr = 1000
gr = 0,4 gram
Setelah massa yang dibutukan diketahui, kemudian dilakukan pelarutan 0,4 gram NaOH
dengan 100 ml aquades untuk mendapatkan 100 ml larutan NaOH 0,1 M (Suhanda, 2009).

d. Standarisasi larutan NaOH 0,1 M dengan asam oksalat H2C2O4.2H2O


Pada standarisasi larutan NaOH, larutan NaOH sebagai larutan standar sekunder
sedangkan asam oksalat sebagai larutan standar primer. Pada percobaan pertama
membutuhkan 12,3 ml NaOH sedangkan pada percobaan kedua membutuhkan 11,6 ml
NaOH. Pada proses ini perlu menggunakan indicator pp yang ditambahkan pada larutan
standar primer. Sebelum dilakukan titrasi, perlu dicari besarnya konsentrasi NaOH dengan
cara sebagai berikut :
22. M1 . V1 = M2 . V2 . 2
M1 . 12,3 = 0,05 . 10 . 2
1
M1 = 12,3
Nama Fariska Vera Imanda
NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

M = 0,0813 M

23. M1 . V1 = M2 . V2 . 2
M1 . 11,6 = 0,05 . 10 . 2
1
M1 = 11,6
M = 0,086 M

M1 + M2
24. M = 2
0,0813 + 0,086
= 2

= 0,0836 M
Sehingga, besar konsentrasi larutan NaOH setelah standarisasi adalah 0,0836 M(Khopkar,
2008).

e. Penetapan Kadar asam asetat pada cuka


Pada percobaan pertama, membutuhkan 2 ml NaOH, sedangkan pada percobaan
kedua membutuhkan 1,5 ml NaOH. Yang pertama dilakukan adalah mencarikonsentrasi dari
tiap larutan yang sudah dititrasi dengan rumus pengenceran sebagai berikut :
25. M1 . V1 = M2 . V2 . Fp
M1 . 10 = 0,0836 . 2 . 100
M1 = 1,672 M

26. M1 . V1 = M2 . V2 . Fp
M1 . 10 = 0,0836 . 1,5 . 100
M1 = 1, 254 M

Setelah konsentrasi dari masing-masing larutan hasil konsentrasi diketahui, kamudian dicari
molaritas rata-rata dengan cara sebagai berikut:
1+2
27. M = 2
1,672+1,254
M = 2
M = 1,463 M

Setelah besarnya molaritas diketahui, karena yang ditanyakan adalah kadar % (b/v) maka
perlu untuk mencari massa yang dapat dicari menggunakan rumus molaritas berikut :
1000
28. M =

1000
1, 463 = 60 10
1,463 6
gr = 10
gr = 0,878 gram
Jika besar massa telah diketahui, maka kadar %(b/v) dapat diketahui dengan menggunakan
rumus %(b/v)

29. % (b/v) = 0,01 x 100%
0,878
= 10 x 100%
Nama Fariska Vera Imanda
NIM 175100907111026
Kelas Y
Kelompok Y3

= 8, 78 % (Khopkar, 2008).

F. KESIMPULAN

Pada praktikum materi aside alkalimetri dapat ditarik kesimpulan jika titrasi yaitu
memperoleh larutan baru dengan cara mereaksikan sejumlah volume larutan standar primer
yang diketahui konsentrasinya ke larutan standar sekunder dengan bantuan indicator untuk
mempermudah melihat hasilnya (Khopkar, 2008).
Tujuan dari praktikum aside alkalimetri adalah membuat larutan standar HCl 0,1 M,
membuat larutan standar sekunder NaOH 0,1 M dan standar primer H2C2O4, melakukan
standarisasi larutan HCl 0,1 M dan NaOH 0,1 M serta menentukan kadar asam asetat cuka
perdagangan menggunakan larutan standar NaOH.
Berdasarkan hasil percobaan didapat larutan standar HCl 0,1 M dengan volume 0,96
ml. Besar konsentrasi boraks yang distandarisasi dengan HCl sebesar 0,078 M. Pembuatan
larutan standar NaOH diperoleh massa 0,4 gram. Standarisasi larutan NaOH diperoleh
konsentrasi 0,0836 M dan untuk kadar asam asetat pada cuka sebesar 8,78%.